
Apakah dari kita manusia bisa menebak bagaimana jalan kehidupan selanjutnya ? Sekalipun seorang indigo mereka tak bisa menebak dengan benar bagaimana setiap jalan kehidupan. Terlebih seorang manusia biasa tak akan bisa mengerti apa yang terjadi pada hari lalu tanpa kita melihat kejadian itu sendiri. Dan juga tak dapat menebak apakah yang akan terjadi kedepannya apakah sesuai rencana kita atau tidak.
Akhir-akhir ini entah mengapa Jordi merasa disekelilingnya penuh dengan hal-hal tersembunyi. Banyak hal yang membuat dirinya penasaran, rasa gereget untuk bisa menemukan secara utuh apa hal yang disembunyikan dari mereka selalu saja muncul.
Perlahan semua yang membuatnya penasaran kini sedikit demi sedikit mulai terungkap. Fakta-fakta mengejutkan bagi dirinya terlebih bagi seorang Satya nantinya. Hanya saja belum ada waktu yang tepat baginya untuk membongkar semua fakta-fakta mengejutkan itu.
Sembari menunggu hasil dari penyelidikan yang dikerjakannya. Jordi terus menggali bukti-bukti yang ada. Semua butuh waktu, tak mudah baginya untuk menyisir satu persatu fakta-fakta yang ada. Meski dirinya sudah mengerahkan anak buahnya tapi seorang Jordi harus bermain cantik. Semakin lama dirinya membongkar fakta semakin banyak pula fakta yang akan dia dapatkan.
"Bagaimana apa sudah bisa ?" Tanya Jordi.
"Bisa. Meski cukup sulit ternyata mereka benar-benar menggunakan pengaman yang cukup kuat."
"Tapi saya memakluminya. Keluarga Balakosa sudah pasti akan melakukan hal itu demi keamanan mereka." Ucap anak buah Jordi.
"Apa yang bisa kita temukan ?" Tanya Jordi tak sabar.
"Anda bisa lihat sendiri Tuan."
Laptop itu digeser oleh anak buah Jordi agar menghadap pada Jordi. Pria itu mencari rekaman sesuai tanggal yang disebut oleh Jordi. Dua hal yang yang sedang dicari oleh asisten Satya itu.
Pada rekaman pertama Jordi tak terkejut, memang dia sudah menduga hal itu dengan banyak bukti yang sudah dikantongi nya. Namun, pada rekaman kedua Jordi membelalakkan mata. Antara percaya atau tidak dengan apa yang dia lihat.
"Salin dua rekaman dengan tanggal yang kita cari tadi pada flashdisk terpisah. Selebihnya tetap berikan saja padaku."
"Baik Tuan."
Kini barang bukti sudah berada ditangannya. Tinggal menunggu barang bukti yang lain. Selesai dengan hal itu anak buah Jordi keluar dari apartemen Jordi.
"Sepertinya dugaanku benar adanya. Oke, aku tinggal menunggu saja bukti pendukung yang lain." Ucap Jordi.
Selama ini dengan siapa lagi Jordi harus berkeluh kesah membagi semua cerita dan bebannya ? Tidak ada ! Bekerja dengan Satya, maka pria itu harus bisa pintar-pintar menutup rapat masalah yang sedang Tuannya itu hadapi.
Mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah sangat dibutuhkan untuk Jordi agar kesehatannya tetap stabil. Pekerjaan masih banyak menantinya tentu dengan tekanan yang tinggi dan gaji yang juga cukup tinggi.
"Selamat pagi Tuan. Anda sudah siap ?" Ucap Jordi yang pagi-pagi sudah tiba di rumah Satya.
"Pagi. Kita berangkat sekarang." Jawab Satya.
"Dad, kamu tak sarapan dulu ?" Tanya Sonia.
"Aku buru-buru." Ujar Satya datar.
Satya berjalan keluar rumah dengan diikuti oleh Jordi. Asisten Satya itu pun tak berpamitan pada Sonia. Mulutnya terlalu berat untuk membuka suara pada istri bos-nya itu.
Sonia tak perduli jika suaminya tak mau sarapan. Toh urusan perut adalah urusan masing-masing menurut Sonia. Wanita itu justru dengan santai dan asik menikmati sarapan sendirian di rumah. Alya kemana ? Gadis itu tak pernah berubah sejak dulu. Selalu bangun siang jika tidak ada yang membangunkannya. Sonia pin tak perduli, ia sudah lelah memberitahu Alya untuk setidaknya bangun lebih pagi pada saat Satya masih berada di rumah. Tapi tak dihiraukan oleh Alya sendiri.
Aktivitas anak itu hanya main, keluyuran bersama teman-teman, pulang malam bahkan tak pulang. Jika pulang ke rumah selalu seperti itu.
Sampai di kantor Satya dan Jordi selalu mendapatkan sapaan demi sapaan Dani para karyawan. Dan Satya tetap setia diam tanpa suara bahkan menatap pun jika tak penting pria itu tak akan menoleh. Hanya Jordi yang masih bisa membalas sapaan dengan sebuah anggukan.
Lantai dua puluh adalah lantai khusus untuk ruangan Satya, Grace dan juga Jordi. Lift yang digunakan pun khusus bagi karyawan dan bagi para para petinggi perusahaan.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Grace dengan ramah dan lembut.
"Pagi Grace." Jawab Satya membuka pintu dan masuk ke dalam ruangannya.
"Woi kamu tak mengucapkan selamat pagi untukku ?" Tanya Jordi.
"Aku bisa dapat apa ?" Tanya Grace.
"Maksudnya ?" Tanya Jordi bingung.
"Aku harus menyapa mu aku bisa dapat apa ? Jika menyapa Tuan Satya itu memang sebuah keharusan karena aku dapat uang darinya." Ucap Grace cuek.
"Iishh... Wanita matre."
"Maaf pawang demo, bukan matre tapi realistis." Ucap Grace.
Malas dengan jawaban Grace, Jordi masuk ke dalam ruangannya. Memang benar bukan ? Jika perempuan itu tak semua matre tapi harus realistis. Hidup membutuhkan uang, buang air di toilet umum pun sudah bayar dua ribu.
Sebagai wanita yang bisa dikatakan matre adalah ketika dia tak bisa mengelola uang dengan baik. Hidup hedonis dan diperbudak oleh uang sehingga tak bisa menerima sebuah kekurangan. Yang ada dalam dirinya adalah selalu kurang tapi tak bisa menerima selalu menutut tanpa mau bekerja keras bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
Sedangkan wanita realitas adalah wanita yang melihat jika kehidupan itu pasti membutuhkan uang tapi bedanya ia bisa mengelola uang dengan baik. Bisa membedakan mana yang digunakan untuk kepentingan mana yang digunakan untuk kesenangan. Bisa mengontrol diri agar tak diperbudak oleh uang dan bisa menerima kekurangan sehingga bisa menggunakan uang sebagaimana mestinya meski dalam jumlah sedikit.
Apa yang dikatakan Grace memang benar adanya jika dirinya digaji oleh Satya bukan Jordi. Perihal mau menyapa atau tidak itu bukan jadi masalah bagi Grace atau Jordi. Meski mereka saling ketus, cuek dan terkadang terlihat tak akur tapi tetap mereka adalah partner paket komplit untuk Satya. Tak jarang mereka saling menolong satu sama lain.
Jordi kembali masuk ke dalam ruangan Satya tanpa menyapa Grace, itupun sudah hal biasa bagi Grace.
"Ada apa Tuan memanggil saya ?" Tanya Jordi.
"Duduk." Ucap Satya.
Jordi menurut pria itu lebih memilih duduk di sofa. Satya beranjak dari kursi kebesarannya dan mengikuti Jordi duduk di sofa.
"Kamu ingat pria yang ada di tempat lelang itu ?" Tanya Satya.
"Maaf yang mana maksud Tuan ?"
"Pria yang mengalahkan kita di tender Surabaya. Apa kamu masih mengingatnya ?"
"Tentu saja Tuan. Anda ingin menanyakan perkembangan penyelidikan itu ?"
"Ya kamu benar... bagaimana apakah sudah ada kemajuan ?" Tanya Satya.
"Untuk hal itu anda tak perlu khawatir. Ini berkas hasil penyelidikan saya dengan anak buah saya."
Satu amplop coklat besar diberikan Jordi pada Satya. Di atas meja Satya masih menatap amplop itu.
"Apa ini akurat ?" Tanya Satya.
"Tentu saja dengan berbagai macam bukti." Jordi sangat percaya diri dalam menjawab.
Tangan kekar itu mulai meraih dan membuka amplop tersebut. Jordi bahkan sudah menyusun bukti-bukti itu secara berurutan. Satu persatu Satya perhatikan. Matanya terbuka lebar Jordi bisa melihat jika mata itu kini melotot memandangi bukti-bukti itu.
"Ini bagaimana bisa terjadi seperti ini ?" Satya mengeraskan rahangnya.
"Tentu saja bisa Tuan. FF Group adalah milik Faris Fadilah. Mantan pacar Nyonya Sonia, tentu istri anda akan membantu bisnis mantan pacarnya yang tak pernah benar-benar ditinggalkan nya."
"Maksud mu ? Mereka masih menjalin hubungan ?" Tanya Satya.
"Iya tentu saja Tuan, jika mereka tak menjalin hubungan tentu saja hal ini tidak akan terjadi. Anda bisa lihat jika banyak bukti transaksi pada rekening Nyonya Sonia pada salah satu rekening atas nama Alya. Sebenarnya rekening itu sengaja dibuat Nyonya Sonia untuk Faris Fadilah. Agar semua bukti transaksi itu tak dicurigai oleh anda."
"Sonia... Wanita itu benar-benar membuat ku tak percaya. Pantas saja selalu merasa kurang dengan uang yang kuberikan. Rupanya untuk pria lain." Geram Satya.
"Dan jelas jika kekalahan kita saat itu memang sebuah pencurian file. Tentu anda sudah bisa menebak siapa pelakunya Tuan." Ucap Jordi.
"Ya... Sonia pelakunya. Aku tak menyangka jika istriku sendiri yang berniat menghancurkan bisnis ku."
"Iya Tuan, Nyonya Sonia telah berkhianat pada anda. Bahkan apakah anda tahu saat di acara lelang itu Nyonya Sonia pun datang ?"
Satya menatap Jordi dengan tatapan tajam. Tatapan penuh kemarahan akibat informasi yang dia dapatkan dari Jordi. Tahu akan sifat dan watak Satya, Jordi hanya menghela napas.
"Dia datang dengan Faris Fadilah. Selama ini mereka masih menjalin hubungan. Saat Nyonya Sonia pergi berlibur itu memang benar adanya tapi dia berlibur bersama pria itu." Ucap Jordi.
"Sudah cukup." Ucap Satya saat melihat Jordi akan membuka mulut.
Bagi Satya sudah terlalu banyak bukti penghianatan Sonia pada dirinya. Sonia mengkhianati rumah tangga mereka dan juga perusahaan Satya sendiri. Kesalahan fatal bagi Satya jika dirinya sudah berdampingan dengan seorang penghianat.
"Kamu boleh keluar sekarang. Saya ingin sendiri."
"Baik Tuan. Jika membutuhkan sesuatu Tuan bisa panggil saya kembali."
Jordi berlalu, dia tahu Satya membutuhkan waktu untuk sendiri. Merenung dan berpikir atas fakta mengejutkan ini. Jordi sudah menduga jika memang fakta-fakta itu akan membuat Satya terkejut. Bagaimana tidak pria itu hidup bersama musuh dalam selimut selama ini.
Tatapan tajam dengan sedikit bergetar, rahang yang semakin mengeras serta kepalan tangan tangan Satya menandakan jika dirinya saat ini benar-benar marah, kecewa bahkan masih tak menyangka pada Sonia. Wanita yabg sudah menyandang sebagai Nyonya Balakosa itu dengan tegas dan santainya melakukan pengkhianatan terhadap nya. Seolah-olah tak pernah terjadi apapun selama ini. Cukup pintar dan sangat licik sekali.
"Cih !! Hah !!..." Satya tersenyum sinis dan remeh.
__ADS_1
"Tak heran, kami bahkan menikah tanpa cinta. Wanita itu pasti memiliki kekasih sebelumnya sama seperti ku. Aku tak menyangka meninggalkan orang yang ku cintai demi menerima manusia licik seperti Sonia."
"Aargghh... !!!"
Brakk !!!
Prang !!!
Demi menyalurkan rasa amarahnya pria itu menggebrak meja dan membuang barang-barang yang ada di atas meja. Gelas berisi kopi miliknya pun sudah hancur berserakan di lantai.
Tarikan napasnya sudah tak teratur lebih dalam dan lebih cepat hingga menimbulkan pergerakan pada bahunya akibat tarikan napas tersebut.
Banyak hal yang membuat Satya kecewa dengan Sonia meski tak memiliki cinta dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Setidaknya meski tanpa cinta tidak bisakah Sonia bersikap sebagai seorang istri yang benar-benar baik ? Mungkin dengan seperti itu akan tumbuh cinta di dalam hubungan mereka tapi nyatanya ketika Satya mencoba mengarahkan Sonia, wanita itu tak mau. Ia lebih keras pada pendiriannya dan itu sangat beralasan.
Dengan sambungan telepon yang ada di mejanya Satya hendak menghubungi Jordi. Sayang sekali, pria itu baru sadar jika telepon interkom nya telah tergeletak menyedihkan di lantai.
"Ck... Sial." Umpat Satya. Diraihnya ponselnya yang ada di sakunya.
Cukup beruntung nasib ponsel itu, tersembunyi aman di dalam saku. Jika saja berada di atas meja tentu ponsel itu akan sama menyedihkannya dengan benda-benda yang lain.
Tak menunggu lama karena memang ruangan Jordi tak sejauh itu dengan ruangan Satya. Jordi sudah berada di dalam ruangan Satya kembali.
"Ada yang bisa saya lakukan Tuan ?"
"Urus segera surat perceraian pada wanita licik itu."
"Baik Tuan akan segera saya urus."
"Pastikan surat itu selesai secepat mungkin. Saya tak mau lagi tinggal bersama seorang penghianat."
"Bain Tuan."
Cukup bagi Satya mempertahankan rumah tangga yang memang tak pernah ada kehangatan dan keharmonisan di dalamnya. Selama ini dirinya bertahan demi sebuah tanggung jawab terhadap anak dan istri. Meski sikapnya terkesan keras dan dingin terhadap keluarga nya. Itu semua karena banyak faktor yang terjadi sepanjang terjalinnya rumah tangga tersebut.
Sebuah kesabaran memang tak ada batasnya tapi bagi manusia biasa selalu memberikan batas. Tak ingin lelah sendiri, tak ingin sakit sendiri, dan menginginkan sebuah kebahagiaan membuat seseorang mampu melepaskan daripada bertahan.
Seorang Satya tak ingin tinggal diam jika dirinya mengalami sebuah permasalahan. Dia harus menyelesaikannya dengan tuntas. Apa penyebab terjadinya masalah tersebut harus segera di bereskannya tanpa sisa. Agra dikemudikan hari tak lagi tumbuh menjadi parasit atau bakteri yang merugikan orang lain.
Dalam keadaan marahnya tampak pria itu masih memiliki siswa kewarasan. Berkas penyelidikan yang diberikan Jordi dipungutnya dari lantai kembali. Bukti foto dan juga flashdisk yang berisi video yang belum selesai di tonton nya pun disingkirkan sejenak. Dua hal itu akan semakin membangkitkan emosinya. Memang Satya tak mencintai istrinya tapi dirinya tak pernah bisa menerima sebuah pengkhianatan.
Kembali diteliti informasi mengenai FF Group, perusahaan milik selingkuhan Sonia, istrinya. Wajah yang sehari-hari tampak dingin dan minim ekspresi itu, saat ini terlihat cukup menyeramkan. Menyeringai seakan iblis telah merasuk ke dalam jiwanya dan mengintip menampakkan diri melalu seringai wajahnya.
Hari ini juga Jordi sudah berada di pengadilan negeri Jakarta. Sesuai perintah Satya pagi tadi segala kebutuhan untuk pengajuan perceraian telah Jordi serahkan pada pihak pengadilan negeri selebihnya semua akan ditangani oleh pengacara Satuan.
Jordi sepertinya tampak bersemangat dalam mengurus perceraian Satya dan Sonia. Sudah lama sekali dirinya berharap jika Tuannya itu bisa berpisah dengan Satya. Kelakuan Sonia sebenarnya pun sudah diketahui oleh Jordi jika wanita itu telah berselingkuh. Beberapakali dia melihat Sonia pergi bersama pria lain berbelanja, makan bersama dan maupun jalan bersama.
Tak menyangka jika pria itu kini memang benar-benar menjadi musuh Satya. Berani bermain dengan Satya bahkan dengan cara licik.
****
Sebuah kendala memang tak pernah kita harapkan. Lancar tanpa hambatan selalu kita inginkan dalam melakukan segala hal kecuali hal tidak menyenangkan sebagai orang akan berdoa dalam hati agar tak dapat berjalan dengan lancar.
Tanpa bisa di prediksi memang kendala selalu datang secara tiba-tiba. Saat ini Roichi mau tak mau harus berangkat menuju Jerman karena sebuah kendala yang terjadi di perusahaan Hector Group.
Asisten Tuan Hector selain Roichi memang ada tapi kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang berat masih berada di bawah Roichi. Maka dari itu saat mendengar kabar dari asisten Tuan Hector yang ada di Jerman, pria itu memutuskan untuk berangkat ke sana.
Meski ada Tuan Hector sendiri, tetap saja Roichi tak tega pada majikan yang juga sudah dianggapnya sebagai Ayahnya sendiri itu. Kinerja Roichi selama ini selalu totalitas selain menggunakan logika pria itu juga menggunakan hati. Diperkerjakan oleh Tuan Hector dan dianggap keluarga oleh pria tua itu membuat Roichi dapat bekerja lebih tulus padanya.
"Papi... Kami boleh ikut ?" Tanya Kaili.
"Maaf Nak... Kamu tak bisa ikut dengan Papi. Ini urusan pekerjaan yabg mendadak, lagi pula sekolahmu belum libur." Terang Roichi.
"Tapi nanti Papi kembali lagi ke sini kan ?"
Pria kecil itu tampak takut jika ditinggalkan oleh seseorang yang sudah dianggap sebagai Papi nya. Mereka sudah senang ada Roichi yang dipanggil nya Papi serta menyayangi mereka dengan tulus.
"Iya nanti jika urusan pekerjaan selesai Papi akan kembali lagi. Kamu dan Kaila tak boleh nakal dan jaga Mami hemm ?"
Kaili mengangguk, wajahnya tampak murung. Kedua pria itu saat ini berada di teras dan duduk di kursi teras.
"Sudah. Ayo." Jawab Roichi.
"Ayah... Hati-hati semoga sampai tujuan dengan selamat. Maaf tak bisa ikut mengantarmu."
"Iya. Tidak masalah, kamu bekerja dengan sungguh-sungguh sama seperti apa yang Ayah katakan. Ayah berangkat dulu." Roichi mengusap lembut kepala Bella.
Sopir keluarga Hector telah menunggu di luar pintu pagar. Koper Roichi pun sudah berada di dalam mobil. Mereka semua masuk ke dalam mobil. Berkejaran dengan waktu, meski sudah berangkat lebih awal tapi kemacetan terkadang tak bisa diprediksi. Jalan menuju bandara bukanlah jalan yang biasanya dilewati oleh Belva maupun Roichi.
Langkah kaki mereka cukup santai karena mereka sampai di bandara sedikit lebih awal dari boarding time. Roichi telah mempersiapkan semuanya sebelumya sehingga dirinya hanya tinggal menunggu panggilan memasuki pesawat saja.
"Hati-hati dan salam untuk Mama dan Papa." Ucap Belva.
"Tentu akan saya sampaikan. Kalian juga hati-hati di sini jika ada apa-apa segera hubungi saya."
Belva mengangguk. Roichi beralih menekuk kakinya untuk menyamakan tingginya dengan Duo Kay.
"Papi berangkat dulu. Ingat jangan nakal, menurutlah pada Mami dan jaga Mami kalian. Oke."
"Oke Papi." Jawab Kaila.
"Papi hati-hati ya." Ucap Kaili.
Ya... Kaili memang lebih dekat dengan Roichi ketimbang Kaila kerena memang sejak awal mereka selalu mengobrol bersama untuk membahas desain bangunan. Kaili juga merasa lebih nyaman berbicara dengan sesama laki-laki karena menurutnya lebih nyambung.
Roichi memeluk Duo Kay dengan erat tapi tetap terasa kelembutan dari seorang Ayah. Mata Kaili sudah berkaca-kaca, paham jika ayah angkatnya itu akan pergi ke tempat yang jauh dari rumahnya.
"Papi jangan lupa nanti kalau pulang bawakan oleh-oleh untukku." Ucap Kaila.
Roichi terkekeh lirih. "Tentu saja, untuk putri cantik ini pasti akan selalu ada oleh-oleh nanti." Roichi menjawil hidung mungil dan mancung itu.
Gadis kecil itu tersenyum senang. Selalu saat siapapun di sekelilingnya pergi anak itu selalu menantikan oleh-oleh.
Suara informasi dari pihak bandara telah terdengar, panggilan kepada para penumpang untuk segera memasuki pesawat.
"Saya berangkat. Boleh peluk ?" Ujar Roichi.
"Emm... Tentu."
Belva dan Roichi saling berpelukan sebelum berpisah. Tak lama Roichi melepaskan pelukannya untuk segera memasuki bandara lebih dalam. Lambaian tangan dari Belva dan Duo Kay mengiringi kepergian Roichi. Senyum pun diberikan pria itu saat menoleh kepada mereka.
Semakin jauh pria itu melangkah hingga punggungnya tak lagi dapat terjangkau oleh mata. Belva dan anak-anaknya kembali pulang bersama sopir keluarga Hector.
Mereka diantar langsung menuju butik, hari ini Duo Kay tak masuk sekolah karena mengantarkan Roichi. Keduanya terlebih Kaili begitu kekeuh untuk mengantarkan Papinya.
"Terima kasih Pak. Hati-hati ya pulang nya."
"Baik Nona. Saya langsung saja kalau begitu."
Sopir keluarga Hector berpamitan, Belva dan Duo Kay masuk ke dalam butik. Pemandangan yang membuatnya tersenyum kala melihat butik itu semakin hari semakin ramai.
Kehidupan itu seperti sebuah timbangan. Kadang seimbang kadang berat sebelah, entah lebih berat pada kebahagiaan atau lebih berat pada kesedihan. Tapi keduanya selalu beriringan datang silih berganti atau bisa juga datang secara bersamaan.
"Mami, aku boleh main di ruangan aunty Bella ?" Tanya Kaila.
"No. Ruangan aunty bukan untuk bermain. Kita ke ruangan Mami saja."
Aktivis butik dengan customer memang dilakukan di ruangan Bella maka dari itu Belva tak mengijinkan anak-anaknya untuk berada di ruangan Bella.
Di dalam ruangan Belva, mereka mengerjakan aktivitas masing-masing. Belva masih sibuk melanjutkan beberapa desain dan juga meneliti laporan butiknya.
Untuk sementara memang tugas penting dihandel oleh Bella dan Belva sendiri. Pegawai mereka hanya ditugaskan untuk menjaga butik dan untuk bagian produksi saja.
****
Banyak uang tak pernah kekurangan dan tak pernah dituntut untuk bekerja keras. Berbelanja apapun tinggal pilih dan tunjuk. Jalan-jalan kemanapun tak memikirkan apakah memiliki uang atau tidak. Habis tinggal merengek uang datang. Makan, nongkrong semua serba bisa. Berteman dengan kalangan yang sama-sama dari keluarga berada tidak mungkin mereka nongkrong di angkringan dan makan nasi kucing saja.
Masih siang club' malam tentu saja masih tutup. Alya dan teman-temannya memilih duduk-duduk santai, mengobrol sana sini tanpa tujuan penting. Hanya untuk menyenangkan hati dan mengisi waktu yang lebih banyak kosong bagi mereka.
__ADS_1
Diantara mereka hanya Alya yang dirasa paling menikmati hidup. Kristal meski anak orang kaya gadis itu memiliki bisnis kecil-kecilan, ajaran dari sang Mama karena seorang singel parents yang ditinggalkan sang suami untuk selamanya akibat kecelakaan. Sedangkan Gwen anak itu tak sebebas Alya, orang tuanya tak segan memberikan hukum ketika gadis itu sudah melampaui batas. Noella adalah teman yang sedikit tertutup, mandiri dan paling dekat dengan Alya. Untuk status sosial nya sangat terlihat dari kalangan orang berada dan itu tak diragukan lagi setiap kemanapun dan dimanapun gadis itu tak khawatir akan kehabisan uang.
"Ini si Noella kemana sih ? Kemarin Gwen sekarang anak itu yang menghilang." Ucap Alya.
"Heh !! Kamu tak sadar diri huh ? Ini semua gara-gara kamu. Papa ku jadi menghukum ku." Ucap Gwen kesal pada Alya.
"Apa maksud mu ? Kenapa jadi aku yang salah jika kamu dihukum Papa mu?" Ucap Alya tak kalah sinis dan kesal pada Gwen.
"Kamu ingat ? Rencana konyolmu untuk memesan gaun itu ? Iishh membuatku malu saja, lain kali jika ingin menyuruhku, berikan dulu uang mu padaku. Uangku jatah jajan ku habis gara-gara untuk menutup rasa malu ku. Kamu tahu saat itu aku sedang dalam masa hukuman dari Papa ku gara-gara kamu hukuman ku bertambah karena menghabiskan uang yang begitu banyak." Ucap Gwen panjang lebat mengeluarkan kekesalannya.
Bukannya merasa bersalah dan iba, Alya justru tertawa terbahak-bahak. Ia menertawakan Gwen yang bodoh.
"Siapa suruh kamu mau membayarnya. Harusnya kamu tinggal pergi saja. Maka kamu akan terhindar dari hukuman." Ucap Alya dengan santai.
Gwen begitu kesal pada Alya, ia menatap Alya dengan tatapan tak suka. Kristal hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Noella, kembali ke Amerika. Papanya yang menyuruhnya." Ucap Kristal.
"Ada apa dia kembali ? Bukankah dia tak suka kembali ke negara itu ?" Tanya Alya.
"Mana ku tahu. Kamu yang lebih dekat dengannya. Kenapa tanya padaku." Ucap Kristal.
"Ck... Meski dekat dia itu tetap tertutup padaku." Ujar Alya.
"Dengan mu saja begitu apalagi denganku." Jawab Kristal cuek.
"Eh guys... Besok ada launching produk baru dari Ivalloth. Kita lihat yuk." Ucap Gwen.
"Serius ?" Tanya Kristal.
"Iya ini coba lihat di Instagram nya." Gwen menyodorkan ponselnya.
Terlihat pengumuman yang diberikan oleh pihak Ivalloth. Jika akan diadakan launching produk baru mereka. Beberapa model pakaian sudah diposting oleh pihak Ivalloth.
"Mereka ternyata meluncurkan pakaian untuk anak-anak juga tahun ini. Iihh anak-anak ini menggemaskan sekali." Ucap Gwen.
Alya yang melihat model cilik itu seketika menyipitkan matanya. Mengingat-ingat jika wajah itu pernah dilihatnya dulu.
"Itu... Bukankah anak perempuan kampung itu ya aku ingat gadis kecil yang dibawa perempuan kampung itu di mall waktu itu." Batin Alya.
"Anak lelaki ini wajahnya mirip sekali dengan Daddy. Aku tak salah kan jika memang mereka adalah anak Daddy. Tidak ini tidak bisa dibiarkan." Batin Alya kembali.
"Guys... Aku ke toilet dulu." Pamit Alya.
Gwen dan Kristal menatap datar Alya dan hanya berdeham untuk menjawabnya.
Alya segara pergi ke toilet. Ponselnya di dalam tas diambilnya guna menelpon Mommy nya.
"Mommy harus tahu... Dia harus lihat jika anak yang dikandung perempuan kampung itu masih hidup." Gumam Alya.
Beberapa kali Alya menghubungi Mommy nya tapi nomor itu tak aktif. Selalu gagal tidak bisa tersambung.
"Ck... Kemana sih ini Mommy. Lagi penting begini kenapa tidak aktif." Gumam Alya kesal.
Ia terus mencoba tapi hasilnya nihil. Alya kembali lagi bergabung dengan teman-temannya. Berlama-lama di toilet tak membuatnya nyaman dan pasti teman-temannya akan mempertanyakan nya.
Sedang sang Mommy yang saat ini tengah asik menghabiskan waktu bersama kekasih tercintanya. Faris Fadilah, pria itu begitu santai meluangkan waktu untuk sang pujaan hati.
Kini mereka tengah berada di sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Fasilitas yang memadai sudah seperti kamar untuk sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Keduanya berbincang mesra hingga terhenti saat ketukan pintu terdengar. Seorang pelayan masuk mendorong service stand trolley yang di atasnya terdapat banyak makanan.
"Makan dulu sayang ?" Tanya Sonia.
"Ayo kita makan, kamu harus buat aku kenyang." Jawab Faris dengan nada berbisik di telinga Sonia. Diji*latinya daun telinga Sonia.
Sonia, tahu persis bagaimana kekasihnya itu. Ia hanya tersenyum saat mendapatkan perlakuan seperti itu. Tangan Sonia pun merespon dengan mengusap lembut tengkuk dan rambut Faris.
Wajah cantik Sonia, tubuh seksi wanita yang tak lagi mudah itu tetap menjadi idola bagi seorang Faris. Sonia bahkan mengeluarkan banyak uang untuk merawat tubuhnya. Tubuh itu bak gitar spanyol yang besar pada bagian tertentu.
Sepasang kekasih itu mulai bercumbu, terus membakar diri meningkatkan hasrat masing-masing hingga tak bisa lagi terbendung. Semua mereka lakukan dengan keadaan suka sama suka.
Keduanya pun sudah lolos dari jeratan benang-benang yang sudah terajut dengan indah pun dengan harga yang mahal.
"Sonia... Kamu tak pernah berubah sayang. Justru lebih enak, membuatku ketagihan." Ucap Faris dengan tubuh yang masih bergerak.
Sonia merespon dengan senyuman dan kecupan pada bibir Faris.
"Apa kalian jarang melakukannya ?" Tanya Faris.
"Ya... Kami sama-sama sibuk. Dia sibuk bekerja dan aku sibuk dengan mu sayang. Aahh."
Faris tersenyum miring. "Bagaimana permainan ku dengan nya lebih bagus mana ?"
"Jujur atau bohong ?" Goda Sonia.
"Katakan sayang."
"Auhh... Satya tak kalah denganmu." Jawaban jujur dari Sonia. Memang permainan ranjang Satya jika Sonia mau lebih jujur lagi pria itu sungguh lebih baik dari Faris.
"Aahh... Sayang pelan-pelan." Ucap Sonia.
Faris bergerak dengan cepat dan mengejutkan Sonia setelah mendengar jawaban dari Sonia. Pria itu tak terima jika permainannya tak bisa mengalahkan Satya.
Cukup Satya berhasil merebut Sonia, meski pada kenyataannya Satya tak mencintai wanita itu menikah pun hanya terpaksa.
Ditambah perusahaan Satya yang jauh lebih maju daripada perusahaan milik Faris. Membuat pria itu seakan kalah pada seorang Satya. Maka dari itu dari segi permainan ranjang dirinya tak ingin kembali dikalahkan oleh Satya. Tapi mau bagaimana pada kenyataannya tetaplah Satya yang menang.
Tanpa mereka sadari service stand trolley yang berada di kamar mereka sudah dipasang kamera pengintai yang ukurannya cukup kecil hingga mereka tak mampu menyadarinya.
Keduanya sangat menikmati kebersamaan mereka dalam berbagai peluh. Suara yang mengalun indah itu semakin memberikan suntikan semangat bagi Faris dalam bergerak secara bebas dan berirama.
Sonia tak memikirkan bagaimana jika dirinya sampai ketahuan oleh Satya nantinya. Dirinya begitu menikmati kepuasan batin bersama Faris sedangkan selama ini Satya yang suaminya sendiri jarang sekali mendapatkan hal itu dari dirinya.
Berjam-jam mereka bergerak liar hingga tenaga mereka yang tak bisa lagi mendukung. Tubuh Faris tak sekuat Satya, tapi Sonia tetap menerima Faris karena rasa cintanya pada pria itu.
Napas mereka tersengal-sengal sesaat setelah selesai dengan senam zumba ala mereka dalam membakar lemak. Keduanya masih tak mau beranjak dari ranjang itu.
"Sayang, besok aku ada proyek dan kamu tahu besok juga pasti suamimu itu ikut dalam perebutan proyek itu."
"Kamu mau aku mengambil materi mereka lagi ?" Tanya Sonia.
"Kamu sangat pintar sayang." Ucap Faris mengecup bibir Sonia.
"Lakukan tugasmu kembali sayang. Ini semua demi kamu juga bukan ?"
"Tentu aku akan melakukannya sayang." Ucap Sonia.
Hingga hari mulai petang mereka masih berada di kamar hotel tersebut. Bahkan setelah makan mereka kembali berbagi peluh.
Berhari-hari Sonia tak kembali pulang. Satya pun sudah paham jika wanita itu tak kembali. Dia tak lagi mau ambil pusing dengan kelakuan Sonia. Keputusan nya membuang Sonia sudah bulat.
Tinggal menunggu surat cerai yang tengah di proses. Satya memberikan waktu kurang dari satu minggu agar surat cerai itu bisa diterimanya.
****
ππππππππππππππππ
Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. βΊοΈ
Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. βΊοΈπ€²π
_____________________________________________
Yok ramaikan biar ada bonus lagi hari ini βΊοΈ
_____________________________________________
__ADS_1