
Merasa kesal dengan ulah para pekerja rumah besar Satya, masih berada di dalam mobil setelah dirinya memutuskan untuk pergi karena diusir paksa kini Siwi memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Digenggamnya ponsel miliknya dan segera menghubungi Jordi asisten Satya yang juga tak diketahui oleh Siwi di mana keberadaannya.
Tuuutt... Tuuutt... Tuuutttt...
Menunggu dan menunggu yang kini Siwi lakukan, panggilan teleponnya tak kunjung diangkat oleh Jordi. Ia mencoba beberapa kali dengan perasaan kesal yang semakin menjadi-jadi. Akhirnya panggilan di angkat oleh sang asisten pemilik Bala Corp.
"Ya hallo.." Jawab Jordi dengan suara seraknya.
"Hallo!!! Jordi kenapa kamu lama sekali mengangkat panggilan dariku!!"
Diseberang sana Jordi mengernyit dan menyipitkan matanya, ditatapnya layar ponsel yang sempat menempel pada telinganya.
"Syiit... Wanita gila ini lagi." Gumam Jordi dalam hati.
"Hallo!!! Hallo!!! Jordi!! Kamu mendengarkan ku tidak sih huh?!!"
"Ck... Ada apa menghubungi ku?" Tanya Jordi dengan malas.
"Jordi sebenarnya kalian di mana? Katakan padaku di mana mas Satya sekarang?"
"Aku tidak tahu." Jawab Jordi.
"Bohong!! Kamu pasti sedang bersamanya kan?! Katakan padaku di mana kalian, asal kamu tahu Jordi anakku sangat merindukan Papanya."
"Cih... Apanya yang merindukan? Apakah uangmu habis heh? Atau obatmu yang habis? Sudahlah kamu mengganggu tidur ku."
Tut... Tut... Tut...
Panggilan tiba-tiba dimatikan secara sepihak oleh Jordi. Sangat tidak penting sekali menanggapi wanita seperti Siwi yang terlalu berkeinginan keras mendekati bahkan memiliki Satya yang jelas-jelas sudah memiliki keluarga.
"Ck... Siyalan kenapa wanita itu terus mengganggu ku? Dia selalu saja menghubungiku sebenarnya yang dia cari itu aku atau Tuan Satya. Ck..."
Jordi begitu kesal Siwi terus menghubungi nya perihal keberadaan Satya. Dia tahu jika bos-nya itu telah mengganti nomor ponsel setelah bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Di saat itulah ketenangan Jordi kembali terusik.
"Bonus belum dapat, ini lagi wanita gila ini masih saja terus mengganggu." Jordi terus menggerutu.
Pria itu mulai memikirkan cara bagaimana agar Siwi dapat segera disingkirkan demi ketenangan bos-nya terlebih dirinya sendiri. Dia tahu bagaimana watak dan sifat wanita seperti Siwi.
Rasa kantuknya berubah, waktu yang seharusnya dia gunakan untuk tidur terpaksa harus berganti. Jordi memutuskan untuk membersihkan diri lalu menyambangi rumah bos-nya.
Jordi telah bersiap untuk pergi ke rumah Tuan Hector. Sedangkan Satya sudah bersiap bersama Tuan Hector dan Roichi untuk pergi memancing.
Tepat saat ketiga pria itu akan berangkat, Jordi sudah sampai di rumah Tuan Hector. Dia melihat bos-nya telah bersiap pergi bersama yang lain maka rasa penasaran Jordi pun muncul.
"Tuan, anda mau ke mana?" Tanya Jordi pada Satya.
"Kita mau pergi memancing. Bos mu untuk menghibur bos mu yang sedang bersedih." Ucap Roichi.
Jordi menatap pada Satya yang hanya terdiam dengan wajah datarnya.
"Ada apa kamu ke sini." Tanya Satya.
"Emm... Tidak hanya ingin ke sini saja, Tuan." Ucap Jordi.
Dia merasa waktunya tidak tepat untuk membicarakan Siwi saat ini. Jordi memutuskan untuk ikut memancing saja. Pikirnya lumayan untuk hiburan sekali-kali terlebih dia pun masih merasa kesal karena ulah Siwi yang menggangu waktunya.
Akhirnya mereka berempat berangkat memancing. Roichi yang mengemudikan mobil karena pria itu yang lebih hafal tempat-tempat di negara tersebut.
Sampai di area yang di maksud mereka membawa semua peralatan memancing mereka termasuk kursi, payung dan lain-lain yang mereka butuhkan.
"Saya tahu kamu datang pasti ada hal yang penting." Ucap Satya.
Saat mereka hanya berdua saja sementara Roichi dan Tuan Hector berjalan lebih dulu ke pinggir sungai.
"Siwi kembali menghubungi saya mencari anda, Tuan."
"Huufft... Saya tidak mau tahu wanita itu jangan sampai mengganggu lagi. Hari kelahiran anak saya sudah sebentar lagi jangan sampai dia mengacaukan semuanya. Kamu paham maksud saya kan."
Jordi mengangguk, dia paham apa yang Satya katakan. Bos-nya itu sangat memperhatikan istri dan anak-anaknya.
"Semua akan kita selesaikan saat kita kembali ke Indonesia. Setelah Belva melahirkan kami akan kembali ke Indonesia."
"Baik, Tuan saya mengerti. Lalu bagaimana rencana selanjutnya?"
"Bereskan wanita gila itu beserta pria pecundang itu. Setelah kelahiran anak saya yang ketiga semua harus bersih dari para kuman-kuman itu."
"Baik, Tuan." Ucap Jordi.
Hari-hari terus berjalan, Satya masih saja mendapatkan perlakuan sinis dari Nyonya Hector mertuanya. Wanita paruh baya itu entah kenapa masih saja merasa kesal pada menantunya itu padahal sudah benar-benar dijelaskan bahwa bukan Satya lah yang menjadi ayah dari anak yang dikandung Siwi.
Belva yang mengetahui perilaku sinis sang mama terhadap suaminya pun merasa kasihan. Ia memberikan dukungan pada Satya agar sabar menghadapi mertuanya.
"Yang sabar ya mas, Mama tidak benar-benar membencimu. Mungkin hanya masih merasa tidak terima saja dengan apa yang pernah kamu lakukan."
"Iya, mas tahu nanti kalau baby kita sudah lahir semua akan mas selesaikan saat kita kembali ke Indonesia."
Satya mengusap lembut perut istrinya yang membuncit. Tinggal menghitung hari istri tercintanya itu akan melahirkan buah hati mereka.
"Apa perlengkapan untuk besok sudah lengkap?" Tanya Satya mengenai perihal perlengkapan melahirkan sang istri.
__ADS_1
"Sudah semua, mas besok tinggal membawa nya saja saat hari H."
"Semoga semua berjalan dengan lancar. Kamu dan baby kita sehat."
"Amin, mas."
Pasangan suami istri itu kini sedang menanti kelahiran buah hati mereka yang hanya hitungan hari. Hubungan keduanya sudah mulai membaik, Satya benar-benar mengesampingkan pekerjaan nya dan lebih fokus mengurus istri dan anak-anaknya. Semua Satya lakukan demi mengembalikan rasa percaya yang pernah pudar dari sang istri dan keluarga besar untuk dirinya.
Satya lebih merasa bahagia saat ini ketika benar-benar berada di samping keluarga kecilnya. Dia bisa melihat bagaimana senangnya putra putrinya saat menemani mereka bermain. Melihat senyum sang istri setiap hari saat dirinya berinsiatif membantu hal-hal kecil yang dilakukan oleh istrinya.
Satya hanya membutuhkan waktu untuk mengembalikan total kepercayaan sang mertua yang masih belum kembali pulih seperti dulu.
Setelah keputusan Satya untuk tetap tinggal menemani sang istri melahirkan buah hati mereka, diapun memberikan perintah pada Jordi untuk kembali lebih dulu ke Indonesia. Menghandel pekerjaan yang ada di kantor Bala Corp secara langsung selama Satya pergi pun dilakukan Jordi secara bersama-sama dengan Grace sekertaris Satya.
Hari-hari kesialan Jordi akhirnya dimulai sejak dia diperintahkan untuk kembali lebih dulu ke Indonesia memimpin perusahaan Satya untuk sementara waktu.
Ulah Siwi kembali Jordi saksikan saat wanita itu masih tetap bekerja di kantor Bala Corp. Rasa percaya diri masih melekat kuat pada Siwi, ia merasa bahwa sebentar lagi dirinya yang akan menjadi Nyonya besar di Bala Corp.
Byur... Prang!!!
Mata Siwi membuat dengan mulut yang terbuka lebar, ia merasa terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Seketika emosinya naik sampai ke ubun-ubun nya.
"Kamu!!! Kamu punya mata atau tidak huh!!" Tunjuk Siwi pada salah satu OB kantor Bala Corp.
OB tersebut tak sengaja menabrak Siwi yang berjalan secara terburu-buru karena hendak menemui Jordi. Ia tak mengabaikan orang-orang yang ada di sekelilingnya,. menurutnya ketika ia berjalan semua harus memberikan jalan untuknya.
Melihat Siwi yang tengah marah-marah dengan wajah menyeramkan, mata melotot dan raut wajah yang tak sedap dipandang membuat OB tersebut hanya terdiam karena takut pada Siwi.
"Kamu OB baru di sini huh?! Kamu tidak kenal dengan saya?!"
"Maaf... Saya tidak sengaja, maafkan saya." Ucap OB tersebut dengan menundukkan kepalanya. Dia sangat merasa bersalah sekali karena telah menumpahkan minuman ke baju karyawan Bala Corp.
"Maaf... Maaf... Kami tidak lihat baju saya kotor gara-gara kamu. Kami saya pecat!!" Ucap Siwi dengan percaya diri.
Seketika OB tersebut merasa terkejut dan menampakan raut wajah sedih. Dia tak percaya apa yang dia lakukan tanpa sengaja itu bisa membuatnya dipecat dari pekerjaannya yang baru satu tahun ini dia jalani.
"Nona... Maaf... Saya tidak sengaja tolong jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tolong Nona." Pinta OB. Dia memohon dengan sangat karena pekerjaan itu sangat dia butuhkan demi menyambung hidup nya. Kedua tangannya bahkan disatukan didepan dadanya.
Kejadian itu menjadi pusat perhatian bagi para karyawan Bala Corp. Mereka semua berhenti dari aktivitas mereka hanya untuk melihat aksi Siwi tengah memarahi OB dan memecatnya.
"OB itu dipecat. Jadi benar dia calon istri Tuan Satya?"
"Apa iya? Tuan Satya juga sedang tidak ada di kantor apa semua wewenang diberikan padanya. Wah kita harus hati-hati jangan membuat masalah dengannya."
Begitulah bisik-bisik yang dilakukan oleh beberapa karyawan Bala Corp yang mulai takut dengan Siwi. Semenjak kedekatannya dengan Satya dan mengetahui jika diirnya tengah mengandung, Siwi mulai menampakkan kekuasaannya pada semua orang yang dirasakannya lebih rendah dari dirinya.
"Ada apa ini?" Tanya Grace pada salah satu karyawan yang menyaksikan kejadian tak menyenangkan bagi salah satu OB di Bala Corp.
Kening Grace mengerut mendengar penjelasan dari salah satu karyawan di sana. Dalam hati Grace menahan tawa bagaimana bisa karyawan itu mengatakan jika wanita itu adalah calon istri bos-nya.
"Wanita yang pakai baju kurang bahan itu?" Tanya Grace.
"Iya, Nona. Jangan keras-keras nanti Nona bisa dipecat oleh nya."
"Ck... Ada-ada saja kamu. Itu hanya karyawan biasa di sini yang berhak memecat karyawan di sini hanya Tuan Satya dan Tuan Jordi yang diperintahkan oleh Tuan Satya." Ucap Grace.
Setelah mengatakan hal itu, Grace yang geregetan dengan tingkah Siwi pun mulai mendekati pusat perhatian karyawan. Di mana Siwi dan OB yang tengah bermasalah itu berdiri.
"Pak, bersihkan saja kaca yang ada di lantai, lanjutkan saja pekerja bapak." Ucap Grace.
Pandangan mata Siwi yang tengah melotot tajam pada OB tersebut beralih pada Grace.
"Hei apa maksudmu? Dia sudah ku pecat jadi dia tak dak boleh bekerja lagi di perusahaan ini." Siwi merasa marah pada Grace yang menentang keputusannya.
"Hei nona... Jabatan mu apa di perusahaan ini? Jabatan mu tidak berkepentingan untuk memecat sesama karyawan yang ada di sini." Ucap Grace dengan santai dihadapan Siwi.
Mendengar Grace berbicara seperti itu di hadapannya dan di hadapan orang banyak membuat Siwi merasa dipermalukan. Siwi naik pitam dan melayangkan tangannya ke wajah Grace tapi sekertaris Satya itu sudah membaca gerak tangan Siwi. Dengan cepat Grace menangkis tangan Siwi yang hendak mendarat mulus di wajahnya.
"Jangan bertindak seenaknya di sini, kita semua sama-sama karyawan. Sekalipun kita adalah orang terdekat Tuan Satya jika tanpa seijin Tuan Satya semua tidak akan sah di perusahaan ini. Mengerti kamu." Ucap Grace dengan menunjukkan jari telunjuknya pada Siwi.
"Kamu... Awas kamu ya." Ucap Siwi dengan nada tertahan namun tetap mengancam Grace.
Grace tak terpengaruh sedikitpun karena ia sudah tahu siapa sebenarnya Siwi bagi bos-nya. Apapun yang Siwi katakan hanya ditanggapi santai oleh Grace.
Jordi sebenarnya mengetahui keributan seperti apa yang terjadi di lantai satu itu tapi pria itu sengaja diam saja. Jordi membiarkan Grace mengatasi masalah yang dianggapnya masalah kecil dan nyatanya Grace mampu untuk hal tersebut.
Keributan itu hanya disaksikan oleh Jordi melalui jendela kaca yang ada di sebuah ruangan salah satu divisi. Para karyawan yang ada di dalam ruangan tersebut ikut berhenti melakukan aktivitas mereka demi menyempatkan menengok apa yang sedang terjadi. Mereka tak berani bertanya pada Jordi, mereka memilih diam dan hanya melirik Jordi saja saat kejadian itu berlangsung.
Melihat Grace mampu menangani wanita yang begitu tergila-gila dengan bos-nya dan melihat wanita itu pergi, Jordi merasa lega. Dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
"Kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Kumpulkan laporan besok pagi tepat jam 08.00." Titah Jordi.
"Baik, Pak." Jawab kepala divisi ruangan tersebut.
"Bagus jika masih ada yang kurang jelas silahkan ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
Jordi mengangguk, lalu dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Merasa aman karena Siwi telah pergi dari kantor Bala Corp. Untung saja saat Siwi datang dia berada di salah satu ruangan kerja para karyawannya.
__ADS_1
Sial bagi Jordi beberapa menit dia duduk dan mengerjakan pekerjaannya pintu kantornya terbuka. Manusia yang ingin sekali dihindarinya tiba-tiba muncul di depan matanya.
"Jordi."
'Siyalan kupikir wanita gila ini sudah pergi.' Batin Jordi. Dia memejamkan matanya sejenak.
"Dengar nona Siwi anda adalah karyawan saya. Tolong gunakan sopan santun mu di kantor ini." Ucap Jordi.
"Ck... Berisik. Kamu pun karyawan di sini jangan berlebihan. Seharusnya kamu lah yang bersikap sopan pada calon istri bos mu." Ucap Siwi.
Siwi rupanya tak benar-benar pergi dari kantor Bala Corp. Tujuan awal ia memang ingin bertemu dengan Jordi untuk mengorek informasi keberadaan Satya.
Jordi sejujurnya malas mengahdapi wanita uang membuatnya stres. Dia memilih diam saja daripada terus merespon ucapan sisi yang oenuh dengan halusinasi.
"Lebih baik kamu keluar saya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu."
Bukannya pergi Siwi justru berjalan mendekati meja Jordi. Dengan santai duduk di depan meja Jordi.
"Sibuk menutupi keberadaan mas Satya hemm? Aku tak masalah jika kamu tak berkata jujur padaku akan ku cari sendiri dimana keberadaan papa dari anakku." Ucap Siwi dengan santai.
"Terserah. Jika kamu dan bayi masih ingin selamat." Jordi menatap Siwi dengan tatapan tajam.
Jordi sudah mulai muak dengan sikap Siwi yang terus berbuat seenaknya. Pria itu tak suka jika seseorang berusaha untuk merusak rencana yang telah disusunnya. Belum saatnya Siwi mengetahui dimana keberadaan Satya.
Menunggu waktu yang tepat maka Satya akan kembali bersama keluarga kecilnya. Kemunculan Siwi hanya akan membuat masalah bagi keluarga Satya terlebih saat ini adalah waktu yang hampir mendekati hari kelahiran anak ke tiga Satya dan Belva.
"Ku peringatkan padamu Nona Siwi. Dengarkan ucapan ku baik-baik, berhenti membuat masalah di sekitar kami. Gunakan waktumu dengan baik. Nikmati kehidupan mu saat ini sebelum semua berakhir." Ucap Jordi dengan pengucapan kalimat yang tegas dan jelas.
Siwi terdiam saat mendengar suara Jordi yang terdengar berbeda dari biasanya. Ia menatap Jordi, wajah pria itu terlihat serius saat ini.
"Apa maksudmu, Jordi?" Tanya Siwi.
"Gunakan saja waktumu dengan baik dan berhenti membuat masalah. Sekarang silahkan keluar. Klien kami akan datang dia dia lebih penting."
"Aku tidak akan keluar sebelum..."
"Sebelum ku panggil security untuk menyeretmu. Silahkan keluar." Jordi memotong kalimat Siwi.
Merasa kesal Siwi mengerutkan bibirnya hingga berkerut seperti pant*at ayam. Digenggamnya handel tas dengan erat karena menahan amarah. Saat Jordi sudah memegang telepon kantor hendak menghubungi security, Siwi langsung pergi keluar tanpa berpamitan pada Jordi. Bahkan pintu ruangan Jordi yang terbuat dari kaca itu di gebrak oleh Siwi meski tak terdengar suara yang keras.
**
Waktu terus berlalu tanpa ada yang mampu menghentikan atau memutar kembali waktu yang telah berjalan.
Suasan malam hari terasa begitu dingin, Satya telah tertidur pulas di atas ranjangnya. Mungkin saja pria itu saat ini tengah sibuk dengan mimpi yang menemani tidur lelapnya. Hal berbeda tengah dirasakan oleh Belva, ia merasa tak nyaman sedari beberapa jam yang lalu.
"Astaga perutku... Sshhh..." Desis Belva saat merasakan perut nya yang terkadang terasa mulas.
"Astaga perutku sebentar sakit sebentar membaik sshhh..."
Belva yang sudah merasa tidak nyaman sedari tadi memilih duduk di sofa kamar. Bersandar pada sandaran sofa dann berkali-kali mengusap perut buncitnya. Titik-titik keringat sudah bermunculan sehak beberapa saat yang lalu, wajha cantik Belva pun sudah tak secerah sebelumnya karena tergantikan dengan wajah pucat menahan sakit.
Sekuat tenaga wanita itu berdiri untuk mebgamb minum yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Sayangnya air putih di dalam gelas itu telah habis diminumnya sejak tadi. Mau tak mau ia harus turun ke dapur untuk mengambil minum.
Kenapa tidak membangunkan Satya dan meminta tolong pada suaminya saja? Belva merasa masih sanggup meski harus menahan sakit. Kontraksi pada palsu sudah ia rasakan sejak kemarin dan mungkin masih berlanjut hingga saat ini.
Beruntung rumah orang tuanya yang saat ini ia tempati telah difasilitasi dengan lift sehingga ia tak perlu naik turun tangga dalam keadaan sakit perut. Sampai dapur ia mengambil air putih dan meneguknya hingga tandas.
Kontraksi yang ia tahan sejak tadi bukannya kembali menghilang justru semakin terasa. Kembali ia memutuskan untuk duduk di kursi ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Wajahnya meringis dengan keringat yang semakin banjir membasahi wajah dan tubuhnya.
"Astaga sakit sekali." Rintis Belva.
Untuk kembali ke kamar ia sudah merasa tak mampu karena diserang rasa sakit yang luar biasa.
"Tolooong!" Ucap Belva dengan nada sedikit lebih keras.
Sudah tak sanggup lagi ia menahan rasa sakit itu sendirian. Ia mencoba mengatur napasnya seperti yang diajarkan saat ia mengikuti kelas hamil. Mencoba untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi yang menyakitkan seperti ini.
"Tolooong! Akh!"
Kembali ia berterika meminta tolong, ia yakin pasti tidak ada yang mendengar suaranya karena rumah itu cukup besar dan keluarganya tengah tidur lelap.
Tak mungkin ia terus berteriak karena akan semakin menguras tenaganya dan rasa sakit itu terus bertambah. Belva berjalan kembali ke dapur meski harus merambat dan berpegangan pada tembok atau apapun yang dapat ia pegang.
Tujuannya saat ini adalah salah satu sisi tembok dapur yang terpasang khusus sebuah box menepel di tembok dapur. Box itu berisi tombol emergency sebagai alarm jika terjadi kebakaran di dapur.
Belva menekan tombol tersebut hingga berbunyi. Sudah dipastikan semua penghuni rumah akan terkejut dan bangun mengira jika sedang terjadi bahaya kebakaran di rumah mereka.
"Wiuw...!! Wiuw...!! Teeet...!! Teeet...!! Teeett...!!"
Suara alarm terus berbunyi dan benar saja seluruh penghuni rumah langsung terkejut dan bangun. Dengan wajah bantal, rambut acak-acakan mereka turun dari ranjang dan panik mencari pintu untuk berlari keluar.
****
Hai my dear para readers ku tersayang
Mohon maaf sekali karena luama buanget update nya terlalu sibuk di dunia nyata bnyak yg harus dikerjakan. βΊοΈπ
Terimakasih banyak buat para readers ku yang masih sangat setia sampai detik ini. Terimakasih yang masih menunggu updatenya dari author. Terimakasih buat yang masih mau kasih like, kasih komentar dan vote nya ππ
__ADS_1
Kira-kira gimana ini Siwi masih mau dilanjutkan atau di out saja hehehe kasih komen ya dear.
Semoga masih terhibur, tetap semangat, sehat selalu, lancar rejeki dan semakin bahagia buat para readers setia ku π€ππ