Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 97. Private Room


__ADS_3

Demi melengkapi rasa penasarannya Belva nekat masuk ke dalam restoran private room yang Satya gunakan. Tapi benar saja, saat akan melangsungkan mendekati private room seorang pelayan datang menghampiri Belva.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa kamu bantu ? Maaf ruangan ini sudah digunakan oleh tamu penting kami."


"Selamat siang Mbak, maaf saya juga ada urusan penting di dalam ruangan ini."


"Tapi maaf anda tidak bisa masuk. Reservasi hanya untuk dua orang saja atas nama Tuan Satya dan juga Nyonya Rania."


"Rania ? Jadi wanita itu namanya Rania ?" Batin Belva.


Belva merasa kesal kali ini karena pelayan itu menghalangi dirinya untuk masuk ke dalam. Perasaan tidak nyamannya semakin menjadi-jadi.


"Mbak, saya itu ada kepentingan disini kalau tidak mana mungkin saya masuk ke tempat ini. Saya mau bicara sebentar sama suami saya di dalam urusan pribadi rumah tangga jadi tidak bisa diwakilkan oleh siapapun."


"Tapi Nona... Peraturan di restoran ini tamu di ruangan private room tidak boleh diganggu dengan keluar masuk sembarangan."


"Ohh begitu ? Istri ketiga mertua saya sedang sekarat jadi kalau saya tidak nekat masuk dan membicarakan urusan pribadi kami yang berhubungan dengan mertua saya lalu mertua saya go go melayang. Emh... Anda orang pertama yang saya cari dan berurusan dengan polisi."


Belva dengan lancar mencari alasan dengan kebohongan-kebohongan yang diciptakannya. Ia sudah terlanjur kesal pada pelayan restoran itu. Mengaku jika Satya adalah suaminya dan memiliki mertua yang beristri tiga. Sembarang yang penting bisa mengalahkan sang pelayan restoran dan bisa masuk ke dalam ruangan private room itu.


Benar saja, pelayan itu merasa bingung harus mengijinkan atau tidak. Mendengar cerita Belva yang sangat urgent membuatnya semakin takut saja jika sampai urusan ini menyeretnya ke dalam lingkaran hukum. Tapi jika dirinya membiarkan Belva masuk takutnya pelanggan penting restoran nya akan marah.


"Aduh bagaimana ini ? Ijinkan saja kali ya ? Toh Nona ini kan istrinya mana mungkin Tuan Satya akan marah." Gumam pelayan itu.


Sebagian orang tak tahu siapa istri dari Satya. Pria itu memang pebisnis terkenal tapi bukan seorang selebriti yang sebagian kehidupan pribadinya bisa diketahui banyak orang.


"Maaf Nona, silahkan masuk Nona. Tapi jika terjadi apa-apa saya mohon jangan bawa-bawa saya. Saya tidak ingin dipecat dari pekerjaan saya ini." Ucap pelayan itu dengan wajah memelas.


"Tenang jika kamu dipecat kamu bisa kerja di butik saya." Ucap Belva dengan santai. Menjamin pekerjaan si pelayan restoran tak lupa dirinya juga memberikan kartu nama butik nya.


Kartu nama yang bertuliskan Evankay boutique itu dipegang oleh si pelayan. Lalu pelayan itu pergi karena takut jika si pelanggan akan marah nanti jika Belva masuk.


Belva benar-benar melangkahkan kakinya mendekati privet room. Saat semakin dekat dengan beberapa ruangan private room Belva mendengar suara yang aneh di pendengarannya.


"Eh suara apa itu ?" Batin Belva.


Suaranya semakin terdengar jelas, suara itu adalah suara sakral penuh kenikmatan. Belva memang belum menikah dan belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi dia juga bukan wanita yang teramat polos. Tentu saja ia tahu itu suara apa, bahkan di beberapa film atau cerita-cerita novel yang pernah dibacanya menyisipkan suara sakral itu pada karya-karya si pencipta novel dan film.


Dada Belva semakin bergemuruh, rasa penasaran nya semakin meninggi saja. Entah dorongan dari mana dirinya bisa melangkah lebih cepat untuk menghampiri private room Satya.


Saat berhadapan dengan pintu ruangan Satya, Belva menjadi gugup dan ragu. Tangannya sudah mengambang akan meraih handel pintu.


"Buka tidak ya ? Kalau ganggu bagaimana ?" Belva mengigit bibir bawahnya, takut dan ragu.


Suara itu semakin terdengar jelas, Belva memberanikan diri untuk mendorong sedikit pintu ruangan itu. Mata Belva terbelalak dengan mulut yang sedikit melongo.


"Astaga..." Pekik Belva lirih lalu menutup mulutnya.


Dadanya bergemuruh, sesak dan rasanya ingin berteriak meneriaki apa yang Satya lakukan.


Satta menyadari jika pintu ruangannya terbuka, pria itu menolehkan wajahnya dengan jelas dia melihat Belva terbelalak dengan menutup mulut.


Belva langsung pergi begitu saja tanpa menyapa atau mengeluarkan suara. Ia sadar Satya bukanlah siapa-siapa untuknya. Meski dadanya terasa sesak Belva lebih memilih diam. Ia berjalan dengan cepat meninggalkan restoran itu dengan mata berkaca-kaca. Tak kembali ke cafe melainkan Belva memilih untuk masuk ke dalam toilet.


"Kenapa melihat itu rasanya seperti sakit seperti ini. Ada apa denganku." Gumam Belva lirih. Air matanya tanpa disadarinya sudah luruh. Belva menekan dadanya yang terasa sesak.


"Kendalikan dirimu Belva, jangan menangis. Bukankah dia bebas melakukan apa saja dengan siapa saja ? Kamu tak seharusnya merasa tak suka seperti ini."


Belva memperingatkan dirinya sendiri, tapi tetap saja rasa sesak dan tak sukanya masih menempel erat dalam hati dan pikirannya. Bayangan apa yang dilihatnya tadi membuatnya bisa sampai menangis seperti itu.


Setelah dirasa cukup bagi Belva menenangkan diri dan mengendalikan emosinya. Wanita cantik itu membasuh wajahnya dan merapikan penampilannya. Ia kemudian kembali menghampiri meja Nyonya Dimitri dan juga Azura.


"Nona Vanthe, anda baik-baik saja ?" Tanya Azura.


"Ah iya... Saya baik-baik saja. Mari kita lanjutkan pembahasan kita." Jawab Belva.


"Tapi wajah mu seperti sehabis menangis, benar tidak apa-apa ? Atau ada masalah ?" Tanya Nyonya Dimitri.


"Tidak Nyonya, saya baik-baik saja." Belva mencoba untuk tersenyum.


Tak lama Satya keluar bersama wanita yang diketahui Belva bernama Rania. Satya terlihat sangat menempel dan dekat sekali saat berjalan bersama Rania.


Fokus Belva terpecah, ia menatap sepasang pengunjung restoran yang sebelumnya singgah di private room. Demikian juga Satya, dia menatap Belva saat berjalan bersama Rania. Merasa ditatap oleh Satya, Belva membuang muka.


Ia kesal, beci dan juga marah saat melihat wajah Satya. Hal yang seharusnya tak patut ia lakukan karena Satya bukanlah siapa-siapa baginya.


Belva melanjutkan pekerjaannya membahas pekerjaan bersama klien istimewanya. Ia berusaha bersikap profesional dalam bekerja. Susah payah Belva membuat pikirannya fokus pada pekerjaannya.


Siang hari saat waktunya Duo Kay pulang sekolah, Belva buru-buru menjemput kedua anaknya agar Satya tak bisa menjemput Duo Kay. Ia tak ingin anaknya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Satya dan juga wanita yang bernama Rania. Belva tak rela jika anak-anak nya merasa lebih dekat dengan orang lain daripada dirinya.

__ADS_1


Ingatan saat Satya membahas jika pria itu tak menikah dengan dirinya maka Duo Kay akan memiliki ibu tiri. Dua pilihan yang akan Belva dan Duo Kay dapatkan. Mendapatkan ibu tiri yang baik maka konsekuensinya adalah bisa jadi wanita itu lebih banyak mendapatkan kasih sayang dari Duo Kay. Belva tak ingin jika ada wanita lain yang menjadi ibu Duo Kay yang akan merebut kasih sayang anaknya. Pilihan kedua adalah ibu tiri yang jahat tentu Belva tahu kedua anaknya akan mendapat perlakuan yang buruk dan bisa jadi mereka perlahan akan kehilangan Daddy mereka karena memiliki keluarga baru.


Sampai di sekolah Belva melihat Jordi juga sudah sampai disana. Buru-buru wanita itu keluar dari mobil dan menghampiri dimana anak-anak nya selalu menunggu.


"Nona, anda kesini ?" Sapa Jordi.


"Tentu saja, saya mau menjemput Kaili dan Kaila." Ucap Belva santai dan tenang.


"Biar saya saja yang menjemput mereka Nona, ini perintah dari Tuan Satya."


"Tidak... Saya yang akan menjemput anak-anak saya. Lebih baik anda kembali saja ke kantor."


"Tapi Nona..."


"Saya bilang tidak ya tidak !! Ini anak-anak saya jadi saya yang jemput mereka." Bentak Belva pada Jordi.


Pria itu terkejut, baru kali ini melihat Belva bersikap kasar dihadapannya secara langsung.


"Astaga ! Wanita ini ternyata bisa marah-marah seperti ini juga." Batin Jordi.


Duo Kay keluar dari kelas, mereka meliha Mami dan juga asisten Daddy sudah menjemput. Mereka berlari menghampiri dua orang dewasa itu.


"Mami... Uncle... Kalian menjemput kami bersama ? Kenapa tidak Mami dan Daddy saja." Tanya Kaili.


"Ayo sayang kita pulang. Daddy mu sibuk dengan kegiatannya sendiri." Ucap Belva meski lembut tapi terdengar oleh Jordi seperti sedang merasa kesal.


Kedua lengan Duo Kay digandeng oleh Belva meninggalkan Jordi yang masih berdiri di sana. Pria itu hanya menatap kepergian Belva dan juga Duo Kay.


"Ada apa dengannya ? Sepertinya ada yang tidak beres." Gumam Jordi.


Jordi menyusul Belva tapi mobil wanita itu sudah berjalan meninggalkan sekolah. Sudah bisa Jordi pastikan jika Belva membawa si kembar ke butik. Pria itu memilih untuk kembali ke kantor.


"Jordi, bukankah kamu diperintahkan untuk menjemput dua bocah itu ?" Tanya Grace.


"Susah di jemput ibunya." Jawab Jordi sekenanya.


"Eh... Jordi... Jordi stop." Grace menghentikan pria itu karena ingin memberikan beberapa pertanyaan pada partner kerjanya itu.


"Apa ?"


"Sebenarnya dua bocah itu siapa ? Kenapa mereka memanggil Tuan Satya dengan sebutan Daddy ?" Grace mulai mengintrogasi Jordi.


"Kamu panggil bapak mu dengan sebutan apa ?" Tanya Jordi.


"Aku ? Kok malah tanya aku begitu ? Ya Papa lah." Ucap Grace.


"Nah itu kamu tahu. Sudah aku banyak pekerja." Jordi langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan Grace yang tengah memanggil dirinya.


"Iiisshh... Tidak nyambung. Ditanya A jawabnya B." Kesal Grace pada Jordi.


Tapi tak urung kata-kata Jordi tetap dipikirkannya. Mengulang pertanyaan itu berkali-kali.


"Tunggu... Maksudnya dua bocah itu anak Tuan Satya ? Tidak mungkin... Tapi wajah mereka memang mirip sih dengan Tuan Satya. Tapi bagaimana bisa Tuan Satya memiliki anak seusia dua bocah itu."


Grace terus berpikir, ia sangat penasaran dengan Duo Kay yang akhir-akhir ini sering sekali berkunjung ke kantor Satya. Bahkan Jordi setiap hari harus menjemput dua anak kecil itu disela-sela pekerjaannya yang padat.


Di butik Belva mengurus segala kebutuhan Duo Kay sepulang sekolah. Tak melewatkan pekerjaan nya sebagai seorang ibu meski pekerjaan tak pernah ada habisnya.


Duo Kay seperti biasa jika berada di butik Mami mereka. Kaila akan membantu Maminya secara otomatis bak boneka yang sudah disetel oelh pabrik tanpa diminta sedangkan Kaili akan sibuk menggambar desain bangunan. Untuk akhir-akhir ini pria kecil itu jarang sekali mendapatkan job dari perusahaan sang kakek. Mengingat kejadian yang pernah menimpa Duo Kay beberapa waktu lalu hingga Kaila tak sadarkan diri. Tuan Hector tidak tega membuat cucunya terbebani dengan tugas dari kantor.


Mendekati waktu kepulangan para pekerja, Belva mengajak kedua anaknya berbicara. Ia ingin membujuk Duo Kay agar mau kembali ke rumah mereka.


"Sayang, dengarkan Mami. Bagaimana kalau kita hari ini pulang ke rumah saja ?" Bujuk Belva.


"Kenapa harus pulang, kan kita sudah tinggal bersama Daddy." Ucap Kaili.


"Kalian tidak rindu dengan Uti ?"


"Rindu... Tapi bagaimana kalau Uti saja yang ke apartemen Daddy ?" Ujar Kaila memberikan ide. Rupanya anak itu tak ingin meninggalkan apartemen Satya. Sudah cukup nyaman dan senang bisa tinggal bersama kedua orang tuanya.


"Nanti kalau Uti yang ke apartemen, aunty Bella akan sendirian sayang, kasihan aunty Bella nanti."


"Tapi kalau kita pulang ke rumah nanti Daddy juga sendirian, kasihan Daddy." Ujar Kaila.


Belva tiba-tiba kesal mendengar Kaila membela Satya. Mengingat apa yang sempat dilihatnya tadi pagi.


"Sendirian ? Bapakmu malah lagi keasikan berduaan sama calon Mami tiri kalian." Batin Belva merasa kesal.


"Sudah lebih baik kita kembali saja ke rumah kita. Mami merindukan Uti dan kamar Mami di rumah." Putus Belva tanpa mau dibantah atau ditolak oleh Duo Kay.

__ADS_1


Saat perbicangan antara ibu dan anak ibu belum selesai, Bella masuk ke dalam ruangan Belva.


"Nona... Anda jadi pulang ke rumah ?" Tanya Bella.


"Jadi, nanti kita pulang bersama."


"Sepertinya niat untuk kembali ke rumah terpaksa harus ditunda dulu." Ucap Bella dengan raut wajah cemas.


"Kenapa memangnya ?" Tanya Belva dengan kening mengerut karena penasaran.


"Karyawan butik melihat wanita itu di luar butik."


"Maksud mu ? Wanita siapa ?" Tanya Belva.


"Mantan istri Daddy nya si kembar." Jawab Bella.


Mata Belva membulat, khawatir jika Sonia akan melukai Kaili dan Kaila. Tak ingin terjadi sesuatu dengan sangat terpaksa Belva mengurungkan niatnya. Rencana ingin menghindari Satya tapi harus gagal karena Sonia yang mengintai butiknya.


"Bagaimana aku dan anak-anak nanti pulang nya kalau ada dia di sekitar butik ini ?" Belva mulai cemas dan berpikir keras.


"Bagaimana kalau Tuan Jordi saja yang menjemput kalian. Pasti wanita itu tidak akan macam-macam."


"Tidak jangan... Bisakah kami memesan taksi online saja. Pintu samping bagian ruangan produksi apa bisa dibuka ?" Tanya Belva.


"Pintu samping ? Ah iya... Ada... Bisa kita coba." Bella baru sadar jika selama ini memang ada pintu samping bagian ruang produksi.


"Bella, tolong beberapa karyawan jangan langsung pulang. Minta bantuan mereka untuk berjaga-jaga di butik. Aku takut jika wanita itu nekat masuk dan kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi."


Bella mengangguk paham, ia segera keluar ruangan Belva dan meminta tolong para karyawan yang sudah bersiap untuk pulang, berjaga sebentar sampai Belva dan Duo Kay benar-benar berhasil pergi dari butik tanpa diketahui boleh Sonia.


Para karyawan serempak dengan kompak membantu Belva dan Duo Kay. Mobil pesanan sudah terparkir di tak jauh dari butik. Satu persatu Duo Kay digendong oleh karyawan pria yang ada di butik Belva. Hal itu dilakukan untuk mengelabuhi Sonia agar tak terlihat jika Duo Kay berjalan bersama.


"Terima kasih. Kalian boleh masuk dan sampaikan pada Bella untuk berhati-hati saat pulang nanti." Ucap Belva yang sudah berada di dalam mobil.


"Sama-sama Nona, hati-hati Nona. Iya nanti mungkin salah satu dari kami akan menemani Nona Bella. Kami masuk dulu."


Belva mengangguk, lalu mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan area butik. Ia tak berani mengambil resiko untuk pulang ke rumahnya. Takut jika saat mobilnya yang dibawa oleh Bella nanti Sonia akan membuntuti mobilnya.


Sampai di apartemen dengan rutinitas yang sama membersihkan diri dan mengurus anak-anak nya. Duo Kay kembali berjaga di depan televisi guna menunggu kepulangan sang Daddy.


"Mami, hari ini Daddy pulang malam lagi ?" Tanya Kaili.


"Mungkin... Kalian tidur saja nanti jika sudah mengantuk."


"Tidak... Aku mau tunggu Daddy pulang." Jawab Kaili.


"Kita nonton ini saja sampai Daddy pulang." Ujar Kaila yang tengah memilih film kartun dari tablet PC Belva.


Kali ini film yang diinginkan Kaila adalah film Barbie tapi film itu tak sepenuhnya menceritakan tentang kecantikan para boneka cantik itu tapi ada juga boneka pria yang terlihat tampan. Terlihat dari cover judul nya sang pria merupakan kesatria dalam sebuah kerajaan.


Duo Kay menonton dengan antusias tapi terlihat Kaili seperti kurang bersemangat. Memang terlihat sejak sore tadi Kaili tak seperti biasanya.


"Kaili ada apa ?" Tanya Belva.


Bocah itu hanya menggelengkan kepalanya. "Daddy kapan pulang ?"


Belva menghela napas. "Mungkin masih nanti, Kaili mengantuk ? Ayo kita tidur saja."


"Kaili mau tunggu Daddy, Kaili mau tidur dengan Daddy."


Kaila menatap sang kakak kembarannya itu. Dua bocah itu tetap bertahan meski sudah mengantuk. Yang namanya anak-anak seberapa kuat mereka bertahan menahan kantuk tetap saja tanpa sadar mereka tertidur.


Belva mengangkat Kaila terlebih dahulu baru mengangkat Kaili. Tubuh Kaili terasa hangat, pantas saja pria kecil tampan milik Belva itu sedari tadi tidak bersemangat.


"Astaga, badanmu hangat sayang." Gumam Belva menyentuh kening Kaili.


Diangkat tubuh kecil putranya itu untuk dibaringkannya di dalam kamar. Belva lalu berlalu mengambil baskom dan air untuk mengompres Kaili. Ia cemas dan sedih melihat putra nya yang jarang sakit kini sedang drop. Berharap agar suhu tubuh Kaili tidak meningkat.


Dirinya hendak membeli gel penurun panas yang bisa ditempelkan di kening Kaili. Ia keluar dari kamar anaknya dan masuk ke kamar Satya mengambil ponselnya. Dipesannya barang tersebut saat sudah memegang ponsel.


Selesai dengan apa yang harus dilakukannya Belva hendak beranjak keluar kamar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Satya kembali tepat pukul sebelas malam. Tak ingin melihat wajah pria itu Belva memilih keluar dari kamar.


****


To Be Continue...


Ngapain tuh si Om-om sampe bikin Belva nangis sedih begitu...


Hai my dear para readers ku...

__ADS_1


Terimakasih sekali buat kalian yang masih setia support author hingga detik ini. Semoga kita semua sehat selalu dan dilancarkan segala urusan masing-masing. Amiinn πŸ™πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2