Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 33. Perlombaan Bela Diri


__ADS_3

Tak ingin berlarut-larut dalam satu masalah yang baru saja menghampiri bisnisnya. Kini Belva mencoba kembali menfokuskan diri pada pekerjaannya kembali. Setelah mendapatkan panggilan dari sang Mama yang meminta tolong untuk membantunya kembali mendesain beberapa gaun untuk butik de'La Hector.


Bila kemarin Belva meminta untuk menyerahkan banyak desain kepada Fransy. Itu dikarenakan Belva ingin fokus mengerjakan gaun pesanan dari customernya Winda Hara yang kini justru tidak jelas dimana customernya itu berada.


Sungguh malang yang tidak bisa ditepis. Ia rela mengesampingkan customer yang lebih jelas hanya untuk customer yang tidak jelas seperti Winda Hara.


"Bella, bisa minta tolong buatkan aku coklat panas ?"


Pikirannya sedang kacau akibat ulang orang tak bertanggung jawab. Minuman itu menjadi minuman favoritnya kala mengalami keresahan dalam hatinya. Semenjak tinggal bersama keluarga Hector dengan mudah Belva mendapatkan secangkir coklat panas. Berbeda saat dirinya masih menyandang status sebagai seorang pembantu, untuk menikmati minuman itu saja ia harus meminta ijin terlebih dahulu pada sang majikan.


"Oke Nona. Tunggu sebentar. Nona mau di sini saja atau ke atas ?" Tanya Bella memastikan di mana ia harus mengantar minuman.


"Atas saja. Jika tidak ada yang terlalu penting kamu handle customer sendiri. Tidak apa-apa kan Bella ?"


"Tidak masalah Nona, sudah tugas saya menghandle customer."


Belva mengangguk, tas dan kunci mobilnya kembali ia ambil lalu berjalan menuju ruangan khusus miliknya sendiri. Di ruangan itu terasa lebih nyaman. Wilayah privasinya untuk dirinya mengeluarkan segala ekspresi kala pekerjaan terasa melelahkan untuknya. Tanpa harus khawatir sewaktu-waktu terlihat oleh customer atau orang di luar sana. Hanya Bella dan juga Duo Kay yang bisa masuk ke dalam ruangan khusus milik Belva.


Saat duduk di kursi miliknya, ia melihat setumpuk desain gaun yang kini tengah bermasalah. Diperhatikan dengan lekat gambaran desain itu. Senyumnya bercampur dengan kesedihan dan kekecewaan.


"Putriku sangat berbakat. Hasil desainnya sangat bagus. Bahkan hasil gaun yang sudah jadi secara nyata saja sangat terlihat cantik. Tapi mengapa orang itu bisa setega itu melakukan hal seperti ini." Gumam Belva.


Masih menatap hasil karyanya dan juga putri cantiknya. Mereka berdua sudah bekerja keras mendesain gaun pesanan itu. Bahkan Belva sempat melihat Kaila tertidur saat mendesain gaun tersebut. Gadis kecil itu memaksakan ingin menyelesaikan gambarannya setelah pulang sekolah.


Seusia Kaila sudah bisa berpikir untuk membantu pekerjaan Maminya dengan kemampuan yang ia miliki. Sudut bibir Belva tanpa sadar mampu tertarik sedikit lebar saat mengingat kegigihan putrinya. Memang Kaila dan Kaili adalah kehidupannya, dunianya dan semangatnya. Dua bocah kabar itu adalah segalanya bagi Belva.


Diletakkan kembali tumpukan kertas itu dan berganti dengan lembaran kertas yang masih putih bersih. Kini ia harus mengerjakan beberapa desain dari de'La Hector butik. Tangan lentiknya dengan lincah menggores kertas bersih itu dengan pensil yang tajam dan runcing miliknya.


Ia mendesain sesuai dengan konsep yang diinginkan oleh customernya. Tak jarang ia menambahkan beberapa hal sesuai imajinasinya yang kreatif jika memang terlihat masih ada yang kurang dari desain gaun tersebut.


Tok... Tok... Tok...


"Nona, ini minuman anda." Bella meletakkan secangkir coklat panas di atas meja kerja Belva.


"Terima kasih Bella."


"Oh iya, jika ada beberapa pesanan yang masuk. Untuk mencegah hal yang serupa terjadi. Kita mau tidak mau harus menambah aturan baru." Ucap Belva kembali.


"Baiklah aturan seperti apa yang harus kita terapkan dalam pemesanan ?"


"Kita minta DP desain untuk mengikat mereka agar sepakat dalam pemesanan. Lalu jika desain sudah sepakat mereka harus menambah DP kembali untuk proses selanjutnya. Terlebih untuk customer baru karena kita tak mengenal mereka dengan pasti."


"Saya setuju untuk peraturan tersebut Nona. Hal yang baru saja terjadi saya rasa bisa menjadi pengalaman dan juga perbaikan untuk butik kita." Ucap Bella.


"Iya, aku tak menduga akan seperti ini. Selama bekerjasama di butik Mama hal seperti ini nyaris saja tidak pernah terjadi."


"Kita tunggu saja dulu etikat baik dari yang bersangkutan dalam waktu satu minggu kedepan. Semoga saja dugaan kita salah, mungkin dia memiliki kendala sehingga menghilang seperti ini." Belva masih terus berusaha berpikir positif meski dalam hatinya sudah merasa resah.


Bila memang orang tersebut tak bertanggung jawab. Tentu saja keraguan yang didapatkan Belva sangat besar. Ditaksir mencapai puluhan juta kerugian yang didapatkan Belva. Bahan yang digunakan adalah bahan berkualitas premium sehingga harga bahannya pasti sangat mahal.


"Baiklah Nona, kalau begitu saya permisi turun ke bawah dulu."


Bella turun kembali ke ruangannya. Baru saja turun ternyata di bawah sudah ada beberapa orang yang datang. Bella menyambut mereka dengan sangat ramah. Mereka adalah para calon customer dan customer yang hendak mengambil pesanan.


Waktu terus berjalan, Belva menyempatkan diri mengantar serta menjemput kedua anaknya. Sepulang sekolah Belva mengantar Duo Kay ke tempat pelatihan bela diri. Belva tersenyum melihat kedua anaknya menggunakan seragam bela diri. Terlihat imut dan juga lucu. Terlebih Kaila kini gadis kecil itu dapat tersenyum lebar dan bersemangat setiap berangkat berlatih. Bagaimana tidak, keinginannya menggunakan seragam warna pink kini tercapai berkat bantuan dari pelatih mereka.


Hiro sang pelatih yang mau membantu Kaila memperjuangkan keinginannya menggunakan seragam warna pink. Jadi, dalam perkumpulan mereka hanya Kaila yang mwngguny seragam warna pink. Meski terkadang ada yang protes dan banyak anak lain yang ingin berganti warna tapi ada beberapa alasan yang mampu membungkam peserta didik yang lain.


Sesuai dengan pengamatan yang dilakukan oleh Hiro, Kaila mengalami peningkatan dalam berlatih karena suasana hati bocah itu yang sangat baik dan bersemangat. Jika Kaili, pria kecil itu memang sedari awal sudah tertarik untum berlatih. Jadi, kemampuan mereka meningkat dengan cukup cepat apabila dilihat dari usia mereka.


Karena kemampuan yang dimiliki Kaili lebih baik dari Kaila. Maka Hiro mengajukan Kaili untuk mengikuti perlombaan bela diri yang diselenggarakan oleh pihak perusahaan yang bergerak di bidang olahraga. Kemampuan Kaila bukan tidak baik, hanya saja Kaili adalah anak laki-laki yang fisiknya pasti lah lebih kuat dari Kaila. Bila dibandingkan dengan anak-anak perempuan seusia nya yang lain kemampuan Kaila terlihat paling menonjol.


"Permisi Nyonya. Bisa kita bicara sebentar sebelum latihan anak-anak dimulai." Ucap Hiro pelatih dari Duo Kay.


"Oh iya bisa. Ada apa ya Tuan pelatih ?" Tanya Belva.


"Mami, kami mau ke sana dulu ya." Pamit Kaili pada Maminya.


"Iya sayang. Semangat berlatih. Nanti setelah berbicara dengan Om pelatih Mami langsung pulang ya. Nanti Mami jemput lagi."


Duo Kay mengangguk semangat kemudian merek berlari bergabung bersama teman-teman yang lain. Di dalam perkumpulan itu mereka menyambut duo Kay dengan baik. Tidak ada dari mereka yang memperlakukan Duo Kay dengan buruk. Para peserta didik yang lebih dewasa bahkan bisa menjaga peserta didik yang usianya dibawah mereka dengan baik. Perkumpulan itu sudah seperti keluarga saling menjaga satu sama lain. Dan memang itulah yang diajarkan oleh para pelatih mereka.


"Bagaimana Tuan apa yang ingin anda bicarakan ?" Tanya Belva.


"Sebaiknya mari ikut saya. Kita duduk di sana."


Mereka berjalan menghampiri bangku yang disiapkan oleh tempat pelatihan.


"Begini Nyonya. Beberapa minggu lagi ada perlombaan bela diri yang diadakan pihak perusahaan yang bergerak di bidang olahraga. Maka dari itu beberapa hari terakhir anak-anak berlatih dengan cukup keras agar kami bisa menyeleksi kemampuan anak-anak."


"Dan saya melihat kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak Nyonya. Terlebih Kaili, dia memiliki potensi yang cukup kuat. Jadi, saya mengajukannya untuk menjadi peserta lomba. Apakah dari Nyonya mengijinkannya ? Kami harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari orang tua wali." Ucap Hiro panjang lebar menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Saya merasa senang jika mengetahui anak-anak saya memiliki kemampuan yang baik. Sebenarnya berlatih bela diri memang keinginan Kaili sendiri. Saya menyetujui mereka ikut berlatih semata-mata agar mereka memiliki pegangan untuk menjaga diri mereka sendiri nantinya. Bisakah saya meminta waktu untuk memikirkannya Tuan ?"


Belva tak bisa langsung mengambil keputusan begitu saja, dia harus benar-benar memikirkan secara matang baik dan buruknya bagi Kaili nanti. Secara usia, Kaili masih seorang anak balita. Meski anak itu memiliki kecerdasan tersendiri dan memiliki cara berpikir cukup dewasa diusia belianya.


"Baiklah tidak apa Nyonya, masih ada waktu tiga hari untuk mengambil keputusan. Namun, saya harap Kaili bisa mengikuti perlombaan ini. Sayang sekali jika potensi Kaili tidak bisa dikembangkan secara maksimal Nyonya."


Hiro memang sangat berharap bisa membawa Kaili dalam perlombaan tersebut. Menurutnya jika ada peserta didiknya yang berpotensi, memang harus didukung penuh agar anak merasa memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam kepemilikan potensi.


Bahkan sudah beberapa bulan berlatih Kaili mampu mengikuti gerakan yang sulit. Gerakan yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah memegang sabuk hitam.


"Tentu saya selalu mendukung kemampuan yang anak-anak saya miliki. Tapi saya tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat."


Hiro mengangguk paham, memang sebagai orang tua pasti harus memikirkan kondisi anak-anak mereka nanti. Tak jarang ada orang tua yang merasa keberatan mengijinkan anak-anak mereka ikut perlombaan dengan beberapa alasan. Terkadang alasan yang tidak masuk akal pun ada tapi Hiro harus menghormati setiap keputusan yang diberikan oleh orang tua wali.


Belva pun harus berdiskusi dengan Kaili dalam hal ini. Jika Kaili tak keberatan dan mau mengikuti tanpa ada keterpaksaan maka tidak menutup kemungkinan Belva bisa mengijinkannya. Tapi ibu dan anak itu tetap harus berbicara dari hati ke hati mengenai kesiapan dari Kaili sendiri.


Pembicaraan yang penting menurut Hiro itu sudah selesai. Belva berpamitan untuk pulang. Di butiknya sudah menunggu seseorang yang hendak bertemu Belva. Sampai di butik, nyatanya Belva tak menemukan siapapun. Apakah customernya sudah pergi karena terlalu lama menunggu. Belva merasa bersalah, tapi nanti ia akan menanyakan kembali pada Bella. Barangkali ada pesan yang ditinggalkan untuknya. Ia melangkah ke lantai dua, untuk masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu.


Saat masuk ia terkejut dengan seseorang yang berada di dalam ruangannya. Selama ini tidak ada yang boleh masuk selain orang terdekatnya.


"Om... Bikin kaget saja." Ucap Belva sedikit kesal. Ia buru-buru masuk ke dalam ruangannya untuk pergi ke toilet miliknya.


Orang yang telah menunggu itu adalah Roichi. Siapa lagi yang dekat dengan keluarga Belva selain Roichi. Pria itu tersenyum menatap wajah Nonanya yang terlihat kesal.


"Nona, saya mengagetkanmu ?" Tanya Roichi kembali. Sudah jelas Belva mengatakan jika wanita itu terkejut dengan kehadirannya.


"Ada apa Om kemari ?" Tanya Belva. Tapi bukannya menunggu pertanyaan itu dijawab Belva justru nyelonong masuk ke dalam toilet. Ia sudah tak bisa menahan panggilan alam itu.


Roichi tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Belva. Ibu dua anak itu masih saja bertingkah sedikit konyol meski telah memiliki anak. Walau bagaimanapun memang Belva masih muda tentu sikapnya masih tak jauh dari sikap anak muda pada umumnya.


Pria bermata sedikit sipit itu menunggu Belva keluar dari toilet. Dia duduk di sofa dalam ruangan Belva. Hanya lima menit perempuan cantik itu keluar dari toilet.


"Om kenapa bisa ke butik ? Ada hal penting kah ?" Tanya Belva kembali setelah keluar dari toilet.


"Saya mencari Tuan kecil dan Nona kecil. Ternyata mereka tidak ada." Jawab Roichi.

__ADS_1


"Mereka ada jadwal latihan di Dojo. Aku baru saja mengantar mereka."


Roichi mengangguk paham. "Jam berapa mereka pulang ?"


"Mungkin dua jam lagi. Biasanya mereka masih ingin bermain bersama teman-temannya di sana."


"Apa mereka tidak nakal ?"


"Seperti biasa, tidak ada masalah dengan mereka."


Roichi memang perhatian sekali dengan Duo Kay. Sudah seperti seorang ayah yang menanyakan kondisi anaknya selama ditinggal pergi dalam waktu yang lama.


"Bagaimana kabar Nona ?" Tanya Roichi.


"Baik-baik saja, seperti yang Om lihat." Jawab Belva.


"Nona yakin ?" Tanya Roichi kembali.


Belva menatap tajam ke arah Roichi. Perempuan itu menelisik maksud pertanyaan Roichi. Apakah ada yang diketahui pria itu tentang dirinya. Atau ada masalah lain yang hendak menghampirinya.


"Kenapa ?" Tanya Belva dengan wajah kesalnya. Ia tak mau jika ada orang lain yang ikut campur permasalahannya tanpa ijin darinya.


"Tidak ada. Kenapa terlihat kesal ? Saya hanya bertanya Nona." Ucapan Roichi melembut karena melihat wajah yang sudah terlihat kesal kembali.


Diam-diam Belva menghela nafasnya. Jangan sampai permasalahan beberapa hari lalu Roichi mengetahui dan ikut campur. Ini adalah urusannya, ini adalah bisnisnya. Ia ingin semua bisa diselesaikannya sendiri tanpa bantuan orang lain yang bukan bagian dari butiknya.


"Aku baik-baik saja. Aku mau melanjutkan pekerjaanku. Om mau di sini atau di ruangan Bella."


"Oh iya sebaiknya saya di ruangan Bella saja. Silahkan melanjutkan pekerjaan Nona." Roichi bangkit berdiri, mengambil jasnya yang diletakkan di sandaran sofa.


"Eh kalau di ruangan Bella nanti Om Roi pasti akan banyak bertanya mengenai butik ini. Dan..."


Belum selesai membatin Belva sudah melihat Roichi membuka pintu ruangannya. Dengan gerakan refleknya, perempuan itu berdiri dari kursi kebesarannya dan berlari ke arah Roichi.


"Om... Om Roi... Om di sini saja ya." Belva tersenyum manis. Tangan dengan kulit bersih dan putih itu menarik lengan Roichi. Agar pria itu masuk kembali ke dalam ruangannya.


Roichi menatap aneh pada Nonanya itu. Pusat dahinya ia kerutkan saat melihat tingkah Belva yang tiba-tiba menahannya. Belva sedikit menggeret lengan Roichi, karena tubuh Roichi yang tinggi dan cukup kekar itu membuat Belva sedikit kesulitan. Meski tubuh Belva sudah terbilang tinggi tetap saja kekuatannya sama seperti kekuatan perempuan pada umumnya.


"Om duduk di sini saja ya." Ucap Belva sembari sedikit mendorong Roichi agar kembali duduk di sofa nya. Pria itu hanya menurut saja saat ini.


"Ada apa Nona ? Bukankah Nona akan melanjutkan pekerjaan. Biar saya ke ruangan Bella saja, untuk mengobrol dengannya sembari menunggu si kembar." Roichi masih menatap aneh dan bingung pada Belva.


"Aaamm... Bella... Dia pasti sibuk dengan customer yang datang. Jadi, sebaiknya Om di sini saja bersamaku. Om mau minum ? Biar aku buatkan. Tunggu sebentar, duduk di sini. Diam jangan kemana-mana." Belva keluar dari ruangannya dengan cepat ia juga mengunci Roichi dari luar agar pria itu tak keluar dari ruangannya.


Roichi tersenyum melihat tingkah konyol Belva untuk kedua kalinya dalam hari ini. "Astaga kenapa tingkahnya menggemaskan sekali." Gumam Roichi lirih.


Hal pertama yang ingin Belva lakukan adalah menghampiri Bella yang saat ini sudah menjadi asistennya. Saat masuk ke ruangan Bella benar saja ada customer yang berada di dalam ruangan Bella. Ibu muda itu mengurungkan niatnya lalu pergi ke dapur kecil milik butik membuatkan kopi untuk Roichi.


Menunggu di dapur beberapa saat sampai customernya keluar dari ruangan Bella. Ia melanjutkan dengan membawa kopi masuk ke dalam ruangan Bella.


"Nona, ada apa ? Tumben minum kopi."


"Bukan untukku." Jawab Belva.


"Lalu untukku ? Aku tak meminum kopi Nona." Ucap Bella dengan percaya dirinya.


"Ck... Siapa yang bilang untukmu. Ini untuk Om Roi."


Jawaban Belva membuat Bella mengerutkan keningnya. Terlihat aneh mengapa Belva yang membuatkan kopi, kenapa tidak meminta dirinya saja yang membuatkan kopi untuk sang Ayah.


Bella mengangguk paham, jika Ayah nya tahu sudah pasti akan melapor pada Tuan dan Nyonya Hector. Dan jika sudah menyangkut nama Tuan dan Nyonya nya Bella harus patuh dan menurut.


"Oke terima kasih Bella. Aku harus mengantarkan kopi ini. Sogokkan untuk Om Roi agar tidak banyak pertanyaan yang keluar." Belva memamerkan deretan gigi putihnya pada Bella.


Saat Belva keluar dari ruangannya dengan membawa secangkir kopi ditangannya. Bella menggelengkan kepala hari ini ia melihat tingkah konyol bos-nya. Biasanya bos-nya itu selalu bersikap lembut dan anggun.


"Nona, kenapa pintunya di kunci. Saya tidak bisa keluar." Protes Roichi.


"Hah ? Masa terkunci ? Tidak pintunya baik-baik saja. Apa rusak ya ?" Ucap Belva yang berpura-pura perihal pintu ruangannya.


"Memang Om mau ke mana ? Ini sudah aku bawakan kopi untuk Om." Belva meletakkan kopi di atas meja tepat di depan Roichi.


"Saya mau mengambil tablet PC saya Nona."


"Biar aku ambilkan mana kunci mobilnya." Ucap Belva cepat.


Kembali Roichi mengerutkan keningnya. Hari ini tingkah Belva sangat aneh sekali. Mana sikap lembut dan anggunnya.


"Nona, ada apa denganmu ? Hari ini Nona terlihat..." Roichi tidak berani melanjutkan kalimatnya. Walau bagaimanapun perempuan muda dihadapannya adalah majikannya. Meski hanya sebagai anak angkat Tuan dan Nyonya nya.


"Apa ?" Tanya Belva memicingkan mata.


"Eeemm... Se-sedikit aneh." Roichi ragu untuk mengatakannya tapi dia tetap harus mengatakannya.


"Hah ? Mana ada seperti itu. Aku hanya ingin membantu saja. Ya sudah Om ambil saja sendiri." Belva berkilah atas tingkah konyolnya.


Ia kembali duduk di kursinya sendiri dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Berusaha bersikap biasa dan setenang mungkin. Rasanya akibat permasalahan beberapa hari lalu membuatnya seperti orang stress saja.


Roichi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya dia salah berbicara tapi apa yang dilihat tidak salah. Nonanya memang bersikap aneh hari ini. Dia keluar dari ruangan Belva menuju mobilnya untuk mengambil tablet PC nya. Tidak mungkin dia harus duduk diam saja di ruangan Belva. Lebih baik waktu kosong itu digunakan untuk memantau pekerjaannya.


Hari ini adalah weekend, setelah beberapa minggu Roichi tak bisa berkunjung. Untuk minggu ini ada waktu longgar jadi dia menyempatkan diri mengunjungi Bella dan si kembar. Orang-orang yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Lagi pula di Indonesia siapa lagi keluarganya jika bukan mereka.


Roichi kembali ke dalam ruangan Belva, terlihat perempuan itu sudah fokus dengan pekerjaannya. Roichi menyruput kopi yang telah dibuatkan oleh Belva sebelum memulai membuka tablet PC nya.


"Rasanya enak sekali." Batin Roichi.


Memang untuk membuat kopi baru pertama kali Belva melakukannya untuk Roichi. Sangat jarang Belva membuatkan minuman untuk asisten Papanya. Kalau untuk melayani anggota keluarga para saat makan memang Belva sering melakukannya.


Kini keduanya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tak ada pembicaraan diantara keduanya. Pekerjaan mereka lebih menarik ketimbang sebuah obrolan. Hingga hampir dua jam, Belva merasakan pegal pada beberapa bagian tubuhnya. Perempuan itu meregangkan otot-ototnya tanpa menyadari jika saat ini ia berada satu ruangan dengan Roichi.


Dengan asik dan leganya Belva meregangkan otot-ototnya. Kegiatan itu sesekali mendapatkan lirikan dari Roichi. Hingga suara berat membuat Belva terkejut.


"Nona lelah ? Jika lelah beristirahalah biar saya yang menjemput si kembar."


"Eh... ? Jemput ? Tidak untuk si kembar tidak ada kata lelah. Lagian masih ada waktu cukup lama untuk menjemput mereka." Ucap Belva yang baru sadar dari dunianya sendiri.


"Aku lupa jika masih ada Om Roi di sini." Batin Belva.


"Apa Nona akan membiarkan mereka lebih lama lagi ? Ini sudah dua jam. Biar saya saja yang menjemput mereka jika Nona sibuk."


"Hah? Dua jam ?" Gumam Belva sembari melihat jam di pergelangan tangannya. Benar saja ternyata ia terlalu fokus sampai waktunya sudah berlalu dua jam saja ia tak menyadarinya.


"Tidak aku sudah berjanji pada mereka akan menjemput." Belva merapikan kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya.


"Oke sebaiknya kita jemput mereka sekarang." Belva mengangguk sembari masih membereskan barang-barangnya.


Roichi tidak terlalu repot seperti Belva karena pria itu hanya memegang tablet PC miliknya dan sibuk menyeruput kopi buatan Belva.

__ADS_1


"Sudah selesai Nona ?" Tanya Roichi.


"Sudah." Belva mengambil kunci mobilnya dan tas serta ponselnya.


Mereka berjalan beriringan keluar butik, Belva sudah siap membuka pintu mobil begitu juga dengan Roichi. Pria itu menyadari sesuatu lantas menghentikan pergerakannya.


"Apa kita akan menjemput menggunakan mobil masing-masing Nona ?" Tanya Roichi.


Belva yang sudah membuka pintu langsung berhenti saat mendengar pertanyaan Roichi. Ia menatap mobilnya lalu bergantian dengan mobil milik Roichi. Mobil itu selalu terparkir di rumah Tuan Hector, terkadang Roichi menggunakannya jika sedang ingin saja.


"Pakai mobil ini saja Nona." Roichi berjalan menuju pintu mobil sebelah kemudi dan membukakannya untuk Belva. "Masuklah, mereka sudah menunggu."


"Oke baiklah." Belva mengalah masuk ke dalam mobil Roichi.


"Tunggu aku belum berpamitan pada Bella." Belva baru sadar, reflek tangannya mencegah pintu mobil agar tidak tertutup.


"Nanti saya yang akan menghubunginya." Roichi menutup pintu mobil dan beralih berjalan ke pintu mobil kemudi.


Mereka pergi meninggalkan butik dengan mobil Roichi. Dalam perjalanan Roichi menghubungi Bella mengatakan jika mereka sedang menjemput Duo Kay. Bella mengerti jika memang Ayahnya datang berkunjung untuk menjenguknya dan juga si kembar.


Belva tampak terdiam, menjemput Duo Kay di Dojo mengingatkannya pada pembicaraan sebelumnya mengenai persetujuan lomba yang diminta oleh pelatih Duo Kay. Sebagai ibu ia memang menginginkan anak-anaknya berkembang. Tapi, kegiatan lomba bela diri juga membuat Belva khawatir. Takut jika anaknya akan terluka. Tidak mungkin kan jika dalam lomba itu lawan akan pura-pura menendang. Diamnya Belva disadari oleh Roichi.


"Ada apa Nona ? Apa ada masalah ?" Belva masih terdiam.


"Nona... Nona..." Tak ada tanggapan Roichi ingin menepuk bahu Belva tapi pria itu merasa canggung.


Puk...!


Roichi melempar satu kota tisu dengan lembut ke arah Belva hingga membuat perempuan itu terkejut dan otomatis tersadar dari lamunannya.


"Eh... Apa ini ? Om melemparku dengan ini ?" Tanya Belva serta menatapnya tajam.


"Eh tidak Nona, tadi ada polisi tidur jadi tisu itu mungkin terjatuh di depanmu." Roichi tak mau mengakui aksinya. Ia merasa dirinya sangatlah tidak sopan terhadap majikannya. Dan pasti akan malu jika Belva mengetahui tingkahnya tadi.


"Apa Nona ada masalah ?" Roichi mengalihkan pembicaraan serta kembali pada tujuan awal.


"Bukan masalah besar. Hanya saja aku bingung mengambil keputusan."


Roichi terdiam dan menatap Belva dengan tatapan meminta penjelasan lebih.


"Pelatih si kembar menginformasikan mengenai perlombaan bela diri. Dia meminta persetujuan dariku apakah Kaili boleh mengikutinya karena menurutnya Kaili memiliki kemampuan dibandingkan teman-temannya yang lain."


"Apa yang membuat Nona bingung ? Bukankah bagus jika tuan kecil bisa mengikutinya. Dia bisa menunjukkan kemampuannya pada banyak orang. Dia juga akan merasa bangga jika bisa mengikuti perlombaan itu. Anak seusia Kaili pasti akan merasakan hal seperti itu merasa senang dan bangga bisa mengikuti perlombaan terlebih jika dirinya bisa memenangkan perlombaan."


"Tapi aku khawatir akan keselamatan Kaili. Aku takut dia terluka nanti." Belva mengungkapkan kekhawatirannya.


"Nona, pertandingan anak seusia tuan kecil berbeda dengan pertandingan orang dewasa. Lagi pula dalam pertandingan akan ada alat pelindung tersendiri sehingga aman untuk Kaili."


"Benarkah seperti itu ? Om tahu dari mana ?"


Pertanyaan Belva membuat Roichi tersenyum. Bagaimana Roichi tidak tahu jika ilmu bela dirinya saja sudah sangat mumpuni.


"Coba tanyakan saja dengan pelatih si kembar. Atau kita nanti bisa melihat sesi latihan mereka. Biasanya jika ada perlombaan akan ada latihan lebih ekstra untuk mempersiapkan diri mengikuti perlombaan." Ujar Roichi.


Perjalanan mereka diisi dengan perbincangan mengenai rencana perlombaan yang kemungkinan akan diikuti oleh Kaili. Itupun jika Belva mengijinkannya.


Sampai di Dojo keduanya turun dari mobil. Sudah ada beberapa yang keluar di jemput oleh orang tua atau juga pulang sendiri menggunakan kendaraan sendiri. Tempat itu tidak hanya melatih anak seusia Duo Kay saja tapi semua usia ada di sana.


Melihat ke kanan dan ke kiri Kaili dan Kaila tidak ada di tempat biasa mereka menunggu. Mungkin merek masih bermain bersama teman-temannya yang lain pikir Belva. Ia memilih masuk ke area latihan. Roichi mengikuti dari belakang.


Terlihat di tengah lapangan masih ada beberapa yang berlatih. Mereka yang berlatih sudah berusia dewasa.


"Nona, lihatlah. Benda itu yang akan melindungi tubuh para pemain saya sedang bertanding. Jadi, akan lebih aman." Roichi menunjukkan dua orang yang tengah berlatih bersama menggunakan alat pelindung di tubuh serta kepala mereka dengan warna yang berbeda.


Belva memperhatikan dengan lekat, jika menggunakan hal seperti itu maka tentu saja Kaili cukup aman. Kini bola matanya beralih mencari keberadaan dua bocah kembarnya. Ia berhasil melihat Kaila yang tengah bermain kejar-kejaran bersa dua temannya yang lain. Sedangkan Kaili menyaksikan latihan pertandingan anak-anak seusianya.


Kaila melihat Maminya datang bersama Roichi langsung menghentikan permainannya. Gadis kecil itu menghampiri Maminya. Sedangkan Kaili masih serius memperhatikan latihan temannya.


"Sayang ayo kita pulang." Ajak Belva pada Kaila.


"Panggil kakakmu dulu. Mami tunggu di sini."


Kaila berlari menghampiri kembarannya. Melihat kehadiran Maminya, Kaili langsung beranjak menghampiri Belva.


"Mami... Opmud kapan datang ?" Tanya Kaili setelah menyapa Maminya, perhatiannya beralih pada Roichi.


"Hallo boy... Baru saja. Ayo kita pulang." Ajak Roichi.


Kaili mengangguk, kedatangan Roichi merupakan kesenangan bagi pria kecil itu. Karena sudah pasti akan ada yang menemaninya bermain bersama. Bocah itu merasa dapat merasakan kasih sayang seorang Ayah.


"Ambil barang-barang kalian sayang." Ucap Belva. Duo Kay mengambil tas mereka.


Saat yang sama sembari menunggu Duo Kay, Hiro pelatih Duo Kay menghampiri Belva.


"Nyonya, anda menjemput Kaila dan Kaili ? Mereka terlihat senang menyaksikan latihan tambahan hari ini. Mengenai pembicaraan tadi, saya tetap berharap anda mengijinkannya." Hiro sangat berharap anak didik pilihannya dapat maju dalam perlombaan.


"Tuan, masih saya pikirkan. Nanti akan saya bahas kembali bersama Kaili."


Hiro mengangguk tapi sedetik kemudian melirik keberadaan Roichi yabg berada di samping belakang Belva. Duo Kay datang dengan tas sudah berada di punggung. Tapi tidak dengan Kaila. Gadis kecil itu menyeret tasnya.


"Sayang kenapa membawa tas seperti itu ?" Tanya Belva yang membuat perhatian Hiro beralih pada Kaila.


"Aku lelah Mami... Tas ini berat." Keluh Kaila. Kaili melihat tingkah kembarannya hanya menghela nafas panjang dan menggeleng kepalanya. Sungguh terlihat lucu dan menggemaskan mereka.


Belva menggelengkan kepala, tingkah manja Kaila mulai kambuh. Roichi tersenyum melihatnya.


"Sini gendong. Biar Mami yang membawakan tasnya." Ucap Roichi tangannya mulai terulur pada Kaila dan tentu saja disambut dengan penuh semangat oleh Kaila.


Gadis kecil itu digendong oleh Roichi dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meraih lengan kecil Kaili. Setelah Belva permintaan pada Hiro mereka beranjak menuju parkiran mobil.


"Apa itu Ayah Kaila dan Kaili ?" Gumam Hiro.


Pria muda itu menatap kepergian empat orang yang tampak seperti keluarga kecil yang harmonis.


Hari terus berganti, Belva memikirkan keputusan apa yang akan diambilnya. Berbicara dengan Kaili pun sudah dilakukannya. Dukungan dari Roichi juga didapatkan, justru pria itu yang paling mendukung apabila Kaili mengikuti perlombaan itu. Sesama laki-laki pasti akan memiliki kebanggaan tersendiri jika mampu menekuni cabang olahraga yang satu itu.


Akhirnya Belva memberikan keputusan jika ia mengijinkan putranya mengikuti perlombaan. Ijin yang diberikan membuat sang pelatih merasa senang. Mulailah Kaili memiliki jadwal yang cukup padat untuk berlatih beberapa minggu kedepan. Sebagai persiapan untuk perlombaan, Belva pun harus mulai memberiku dukungan penuh. Diluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput Kaili dalam latihan bela diri.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


__ADS_2