Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 137. Permintaan Maaf


__ADS_3

Permasalahan Satya dan Belva benar-benar clear, selesai tanpa ada bantahan apapun lagi. Berkaca pada permasalahan pertama yang terjadi di dalam pernikahan mereka maka Satya maupun Belva harus bersikap hati-hati. Mereka berjanji dalam diri masing-masing untuk saling terbuka dan lebih banyak berpikir positif dalam menanggapi berbagai macam permasalahan rumah tangga.


Selama beberapa jam Belva masih harus menunggu suaminya bekerja dengan dirinya yang mau tak mau meneruskan pekerjaannya sendiri di kantor suaminya. Pukul sebelas waktunya kedua anak mereka pulang, mengingat janji yang sudah mereka berikan maka mereka pun harus menepatinya.


"Mas, sudah waktunya menjemput anak-anak."


Belva mengingatkan sang suami. Satya yang sibuk dengan pekerjaannya langsung mendongak ke arah sang istri dan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oke tunggu mas bereskan pekerjaan mas dulu."


Belva juga membereskan pekerjaan nya sebelum mereka pergi menjemput Duo Kay. Satya berdiri dengan menyampirkan jas miliknya pada lengan tangan nya, lengan kemejanya yang panjang di gulung hingga siku menampilkan otot lengan yang menonjol.


"Ayo sayang." Ajak Satya yang sudah berdiri di depan Belva. Wanita itu berdiri Satya langsung meraih pinggang Belva dan mereka berdua keluar dari ruangan Satya.


"Grace, saya keluar dulu. Jordi yang akan menghandle semuanya." Pamit Satya pada sekertarisnya.


"Baik, Tuan." Ucap Grace.


"Permisi, Nona." Pamit Belva dengan senyum ramahnya. Grace membalas senyuman Belva dengan tak kalah ramah.


Pasangan itu masuk ke dalam lift hingga lift tertutup Grace masih memperhatikan keduanya, semakin besar pertanyaan yang ada di kepala Grace. Jika itu adalah putri dari Satya tapi mengapa sikap Satya terlihat mesra.


Satya dan Belva, mereka lebih memilih turun langsung menuju basement daripada di lobi kantor karena untuk mempercepat waktu. Seperti biasa Satya selalu membukakan pintu mobil dan melindungi kepala sang istri saat memasuki mobil.


Mereka langsung pergi menuju sekolah Duo Kay untuk menjemput mereka terlebih dahulu sebelum nanti saat makan siang bertemu dengan Azura dan Marko.


"Kita nanti makan siang dimana, Mam?" Tanya Satya pada Belva.


"Sekalian nanti makan siang bersama Nona Azura dan Marko saja."


"Oke." Ucap Satya singkat lalu mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya dengan lembut. Beberapa kali tangan sang istri diciumnya dengan sayang.


"Mam, besok kan ulang tahun anak-anak, mau merayakan nya dimana?"


"Terserah mereka saja, Dad. Nanti kita tanyakan saja ke mereka mau di rayakan dimana atau seperti apa. Tapi kalau aku sih kalau bisa bagus kita rayakan di panti saja."


"Kenapa Mami suka merayakan acara di panti?"


"Mas, di panti itu banyak anak-anak yang kurang beruntung, dengan kita merayakan di panti kita berbagi kebahagiaan dan rejeki buat mereka."


Satya tersenyum, saat berhenti di lampu merah Satya memperhatikan istrinya. Wajah cantik itu pun berbalik tersenyum pada Satya.


"Mami, tahu? Daddy bersyukur sekali karena beruntung mendapatkan istri seperti Mami. Sudah cantik, baik dan sayang keluarga. Benar-benar istri idaman Daddy."


Satya mencium punggung tangan Belva lalu menarik tubuh istrinya untuk dipeluknya erat. Satya pun melayangkan beberapa kali kecupan pada kepala Belva.


"Apakah benar seperti itu? Mas buat aku malu ih." Belva masih membalas pelukan suaminya.


"Masa Mas bohong sama kamu. Sejak dulu mas menginginkan istri yang seperti dirimu. Yang baik dan sayang keluarga, kalau untuk fisik mas sebenarnya tidak terlalu memandang. Tapi kali ini mas benar-benar harus bersyukur dapat paket komplit sekalian bonus-bonus nya." Satya terkekeh.


"Bonus apa?" Tanya Belva bingung.


"Kay. Mereka bonus untuk Mas, begitu menikah dengan mu Mas sudah langsung punya anak, dua lagi. Apalagi kalau bukan bonus namanya."


"Mas, itu bukan bonus. Kamu sudah DP lebih dulu ya jadi bukan bonus." Ucap Belva menyindir Satya.


Satya kembali terkekeh, "Kalau tidak begitu pasti mas tidak akan dapat istri seperti mu. Jadi, sepertinya tragedi itu bukan kejadian mengerikan tapi awal pembawa kebahagiaan untuk kita. Meski mas masih merasa bersalah padamu karena kamu begitu terpuruk atas kejadian itu. Mas tahu kamu kecewa saat itu tapi sekarang apa kamu menyesal?"


Lampu berubah menjadi hijau Satya kembali melajukan mobilnya. Pelukan itu harus terlepas karena Satya yang harus kembali mengemudi. Tapi kembali tangan mereka saling bertautan.


"Sekarang aku tidak menyesal karena Kaili dan Kaila merasa bahagia saat ini. Mereka memiliki keluarga yang utuh."


"Lalu bagaimana dengan mu apa merasa bahagia?"


"Tentu saja aku bahagia, punya suami yang sayang denganku, memiliki anak-anak yang tampan, cantik dan pintar. Aku bersyukur."


Belva bergelayut manja pada lengan suaminya, Satya mengusap kepala Belva dengan sayang secara sekilas.


Sampai di sekolah Duo Kay, kembali hanya Belva yang turun dari mobil untuk menjemput anak kembar nya. Satya lebih nyaman menunggu di dalam mobil kecuali dalam keadaan yang terdesak dan harus turun bertemu dengan dua anaknya.


"Mami." Panggil Kaili.


Kaila menoleh ke arah Maminya yang baru saja datang.


"Mami." Panggil Kaila.


"Hai sayang, ayo kita pulang. Daddy sudah tunggu di mobil."


Duo Kay mengangguk mereka lalu berjalan menghampiri Maminya. Belva menggandeng kedua tangan Duo Kay.


"Doni, Farel... Mama kalian belum menjemput?" Tanya Belva pada dua bocah teman dekat kedua anaknya.


"Belum, Mamaku belum sampai." Jawab Doni.


"Iya Mamaku juga." Farel ikut menjawab.


"Ya sudah kalau begitu, Kaila dan Kaili pulang dulu ya. Tidak apa-apa kan kami tinggal?" Tanya Belva.


"Tidak apa-apa aunty." Jawab Farel.


"Kaila... Kaili... Sampai bertemu besok." Ucap Doni.


"Iya." Jawab Kaili.


"Dadah Doni... Dadah Farel..." Kaila melambaikan tangannya pada kedua temannya.


Doni dan Farel membalas lambaian tangan Kaila. Belva dan anak-anak nya lalu pergi meninggalkan Doni dan Farel. Mereka berjalan menuju mobil Satya yang sudah menunggu.


"Mami, kita jadi jalan-jalan kan?" Lagi-lagi Kaila bertanya karena takut jika tidak jadi melakukan kegiatan yang menyenangkan itu.

__ADS_1


"Jadi sayang, tapi nanti kita juga harus bertemu dengan aunty Azura dan uncle Marko. Ayo masuk." Ucap Belva sembari membantu Duo Kay masuk ke dalam mobil. Begitu juga Belva langsung masuk ke mobil setelah selesai membantu Duo Kay.


"Uncle Marko? Uncle yang waktu itu datang ke rumah teman Mami itu?" Tanya Kaili.


Ingatan pria kecil itu cukup kuat karena beberapa kali memang Marko sering berkunjung hanya untuk melihat keadaan Duo Kay dan bermain bersama kedua bocah itu.


"Iya sayang, uncle Marko ada di Indonesia." Jawab Belva.


Satya langsung menoleh pada istrinya.


"Mereka mengenal pria itu?" Tanya Satya.


"Tentu saja, Marko sering berkunjung ke rumah kami."


Raut wajah Satya menjadi berubah aneh saat mendengar Marko ternyata sering mengunjungi istri dan anaknya. Ada rasa cemburu apalagi mengingat Belva berjalan bersama pria itu kemarin.


"Tidak usah masam begitu muka nya, sudah ku katakan kemarin jika kami hanya berteman saja. Marko setiap datang yang dia cari hanya Kaili dan Kaila saja. Ada atau tidaknya aku tidak berpengaruh baginya." Ucap Belva yang tahu perubahan wajah sang suami.


"Tanyakan saja pada orangnya atau pada dua anak mu itu. Bahkan Marko sering berkunjung ke rumah saat aku sedang bekerja hanya untuk mengajak mereka bermain saja."


"Mami, apa uncle Marko akan lama berada di sini?" Tanya Kaila.


"Tidak tahu sayang nanti kamu tanyakan saja padanya. Setahu Mami uncle Marko datang hanya untuk menemani aunty Azura saja."


"Nanti aku harus bermain dengan uncle Marko." Ucap Kaili.


Satya hanya mendengarkan saja sembari mengemudikan mobilnya menuju restoran dimana Belva sudah melakukan janji temu dengan Azura dan Marko.


Sampai di restoran, mereka semua turun dengan Satya yang menggendong Kaila dan Belva menggendong Kaili. Keluarga kecil itu selalu mendapat perhatian dimana pun mereka berada, mungkin karena wajah mereka dan penampilan mereka yang terlihat bersih dan rapi.


Azura dan Marko ternyata sudah datang lebih dulu di restoran. Mereka duduk saling bersebelahan berbincang berdua sembari menunggu kedatangan Belva dan Satya.


"Selamat siang Nona Azura." Sapa Belva.


Azura dan Marko langsung menoleh ke arah Belva. Wanita itu tersenyum pada Belva.


"Selamat siang Nona Vanthe. Wah kalian datang rombongan." Ujar Azura yang langsung berdiri menautkan kedua pipinya pada Belva salam khas sesama perempuan.


Belva tertawa, "Sekalian tadi menjemput mereka karena sejak kemarin sudah mengajak untuk jalan-jalan tapi karena ada janji temu dengan anda maka kami ke sini lebih dulu saja."


Azura pun juga menyapa kedua bocah itu dengan senang hati dan juga menyapa Satya meski sedikit ada rasa canggung.


"Marko." Sapa Belva.


"Kamu datang dengan membawa anak-anak ku?" Ucap Marko yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Satya.


Tapi Marko cuek saja, Marko memang sudah menganggap Duo Kay seperti anak-anak nya karena sejak dulu sudah selalu bermain bersama dua bocah itu.


"Uncle Marko." Panggil Kaili.


"Hai boy, bagaimana kabar mu? Masih mengingat uncle?"


Berbeda dengan Satya yang masih memperhatikan interaksi istri dan anaknya pada pria yang pernah dipukulnya dan memukul dirinya.


"Van, apa dia kekasih mu?" Tanya Marko pada Belva dengan melirik Satya.


Belva langsung melirik Satya, "Iya dia kekasihku, kekasih halalku."


Satya diam-diam tersenyum tipis saat Belva mengatakan hal itu.


"Maksudmu?" Tanya Marko.


"Dia suamiku, ayah kandung Kaili dan Kaili."


"Bukankah dulu kamu mengatakan jika ayah mereka menghilang saat bekerja?" Tanya Marko dengan raut wajah penasaran dan penuh selidik.


Belva terkekeh, "Ceritanya panjang, dia sudah kembali bersama kami."


"Duduk dulu Nona, darling biarkan mereka duduk." Tegur Azura.


"Ah iya duduk dulu." Ucap Marko.


Belva dan Satya duduk di kursi sembari memangku Kaila dan Kaili.


"Ohh pantas saja dia begitu marah saat kamu bersama ku, rupanya dia suamimu."


"Iya Marko, maaf atas keributan yang terjadi kemarin." Ucap Belva merasa tidak enak saat mengingat kejadian kemarin.


"Mas." Ucap Belva menepuk paha suaminya.


Satya menghela napas, "Maafkan saya atas kejadian kemarin." Ucap Satya meminta maaf pada Marko.


"Tidak masalah, santai saja pasti hanya kesalah pahaman saja." Ucap Marko dengan santai.


Marko memang tipe pria yang santai dan cuek. Bukan pria pendendam yang akan mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti keributan kemarin.


"Seperti nya kita belum saling mengenal, perkenalkan saya Marko teman dan kakak bagi Vanthe tapi jika dia menganggap ku." Ucap Marko mengulurkan tangannya pada Satya.


Belva dan Azura terkekeh. Satya pun menerima uluran tangan Marko, dia merasa pria yang bernama Marko bukan lah saingannya dari sikap dan pembawaan Marko yang cuek dan santai. Bahkan tidak ada pandangan-pandangan yang aneh dari Marko pada Belva menurut Satya.


"Satya, suami Belva. Sekali lagi saya meminta maaf atas kejadian kemarin. Saya pikir anda seseorang yang sedang mendekati istri saya"


Marko terkekeh setelah melepaskan jabatan tangan mereka. "Jika aku ingin mendekati nya itu sudah terjadi sejak dulu dan aku tidak akan berencana menikah dengan kekasihku."


"Apa Vanthe tidak meminta ijin pada anda saat menjemput saya di bandara?" Tanya Marko.


"Tidak, kemarin kami sedang sedikit bermasalah jadi komunikasi kami tidak terlalu lancar." Jawab Satya.


"Haaahh... Apa setelah menikah jika ada masalah juga akan terjadi seperti itu? Seperti orang yang sedang pacaran." Ujar Marko.

__ADS_1


"Bisa dibilang seperti itu. Setiap masalah terkadang membuat komunikasi menjadi tidak lancar, tidak hanya dalam hal percintaan saja tapi pertemanan juga saya rasa akan sama."


"Ya anda benar Tuan, komunikasi akan terganggu jika saat bermasalah. Sama halnya seperti ponsel jika jaringannya bermasalah maka komunikasi kita juga akan terganggu." Azura ikut menimbrung percakapan antara Satya dan Marko kekasihnya.


"Ya benar sekali, Nona. Seperti itulah contoh kecilnya." Ujar Satya.


"Jadi, saya rasa akibat komunikasi yang terganggu itu lah yang menimbulkan kesalahpahaman." Azura kembali memberikan tanggapan nya.


"Iya, kami sedang dalam masalah kesalahpahaman. Tapi saya bersyukur permasalahan kami sudah selesai dengan baik dan saya mengajak suami untuk bertemu kalian." Belva juga menanggapi.


"Oke... Oke... Meski wajahku masih merasa nyeri tapi it's oke." Ujar Marko terkekeh.


"Laki-laki hanya seperti itu saja tidak boleh mengeluh." Satya menanggapi.


"Ya... Ya... Anda benar. Aku juga minta maaf karena membalas pukulan anda kemarin pasti rasanya sama nyeri nya dengan wajahku."


"Tidak masalah, itu sebagai bentuk pertahanan diri. Jika anda tak membalas hanya di antara dua, anda takut atau anda memang mengalah saja."


"Mami, aku lapar." Rengek Kaila yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan orang dewasa.


Rengekan Kaila membuat keempat orang dewasa itu merasa gemas dan terkekeh.


"Oke... Oke... Kita mulai makan siang saja kasihan anak kecilku ini sudah kelaparan." Ujar Marko.


Satya tak lagi menatap tajam pada Marko, justru hanya tersenyum tipis saja.


Akhir nya mereka mulai memakan makan siang mereka yang telah di pesan oleh Azura dan Marko atas konfirmasi dari Belva saat menuju restoran.


Sikap Marko yang santai begitu mudah mencairkan suasana yang awalnya sedikit kaku. Bahkan Satya bisa merasa cocok dengan pria itu, mereka berbicara perihal bisnis. Sedangkan Belva dan Azura tetap membicarakan gaun pengantin yang sedang mereka garap.


Perihal permintaan maaf dari satya dan bekva diterima dengan baik oleh Marko dan juga Azura. Tidak ada lagi masalah diantara mereka, semua terselesaikan dengan baik dan secara kekeluargaan.


Selesai makan siang, Marko kembali membuka pembicaraan bukan dengan Satya melainkan dengan Kaili.


"Hei boy, bagaimana job mu, apakah masih berlangsung?" Tanya Marko dengan sedikit menggoda Kaili.


"Masih." Jawab Kaili dengan polosnya.


"Wah, kamu memang luar biasa. Uncle yakin kamu pasti akan menjadi orang sukses saat besar nanti. Kamu tahu gedung yang ada di dekat taman bermain mu itu, beberapa bulan yang lalu gedung itu di lelang dan terjual dengan harga yang fantastis karena arsitektur bangunan yang unik, kamu memang keren boy."


Marko mengajak Kaili bertos ria, Marko seolah berbincang dengan rekan bisnisnya. Pria itu memang tahu kelebihan luar biasa yang Kaili dan Kaila miliki. Tak banyak yang tahu hanya orang-orang terdekat saja yang paham.


Ucapan Marko membuat Satya mengerutkan keningnya. Meski menjadi ayah kandung dari Duo Kay dan sudah tinggal bersama mereka untuk beberapa bulan tapi Satya masih belum mengetahui dengan jelas kelebihan dan kecerdasan yang dimiliki kedua anaknya.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Satya.


Marko langsung menatap Satya. "Kami membicarakan gedung yang waktu lalu didesain oleh Kaili. Gedung itu di lelang dengan harga yangbg sangat fantastis, desain arsitektur gedung itu sangat bagus dan mereka tidak akan menyangka siapa arsitektur gedung itu."


Satya cukup terkejut dengan penutur dari Marko yang mengatakan jika putranya mendesain sebuah gedung dan gedung itu bernilai fantastis. Pikirannya melayang saat beberapa bulan lalu ingin membuktikan sendiri jika Kaili memang memiliki bakat yang luar biasa tapi sayangnya dirinya belum melakukan pembuktian itu karena waktu yang banyak tersita untuk pekerjaan nya.


"Benarkah?" Tanya Satya memastikan.


"Apa anda tidak mengetahuinya? Ah pasti Vanthe tak bercerita pada anda mengenai betapa cerdasnya putra tampan kalian ini."


"Sayang?" Satya menghentikan obrolan dua wanita yang sedang asik membahas gaun pengantin.


"Ya? Ada apa?" Tanya Belva yang tak mengerti.


"Apa Kaili pernah mendesain sebuah bangunan di Paris dulu?" Tanya Satya.


Belva melirik ke arah Marko, pasti Marko telah bercerita pada suaminya.


"Emm Iya, beberapa kali memang Kaili membuat desain bangunan untuk gedung di sana." Jawab Belva.


"Kamu tidak bercerita pada, Mas."


"Mas, tidak bertanya. Dimana salahku?"


Helaan napas terdengar dari Satya, pria itu menghendikan bahunya. Ya memang ini juga bukan salah Belva, dia tak pernah bertanya lebih jauh tentang kedua anaknya.


Tak lama terdengar bunyi dering dari ponsel Belva. Rupanya Ivanka Elizabeth menghubungi Belva dan mengatakan jika mereka harus bertemu karena ada sesuatu hal yang penting yang harus dibicarakan dan hal penting itu mengenai Kaila.


"Baiklah Nona kita atur jadwal pertemuan besok saja bagaimana? Karena saat ini saya sedang ada acara bersama keluarga."


"Tidak apa-apa, Nona Belva. Besok pun tidak masalah tapi saya harap secepatnya. Ini sangat penting untuk Kaila juga."


"Ah baiklah, kita saling berkabar saja nanti. Terimakasih atas informasinya, sampai bertemu besok, Nona."


"Baiklah, sampai bertemu besok jangan lupa besok datanglah bersama Kiaila juga."


"Tentu, Nona. Sekali lagi terimakasih."


"Sama-sama."


Panggilan berakhir.


Satya menatap istrinya yang mengandung sebuah pertanyaan siapakah penelpon barusan.


"Nona Iva, mengajak bertemu karena ada sesuatu yang penting mengenai Kaila." Ujar Belva.


Satya hanya mengangguk, mereka kembali berbincang setelah selesai menikmati beberapa menu makan siang mereka.


****


To Be Continue...


Satu persatu masalah selesai yaa... Tapi yang namanya hidup mau di dunia nyata mau di novel tetap ada senang ada susahnya juga. Jadi, harap bersabar menghadapi masalah yang datang pasti bakalan dicari jalan keluarnya kok ☺️☺️


Thanks banget buat kalian yang masih setia support author sampai detik ini. Kalian masih menemani author dengan Like, Komen, Kembang setaman dan Vote. Terimakasih banyak.

__ADS_1


Semoga kalian terhibur. Sehat selalu dan bahagia selalu ❤️🙏🙏


__ADS_2