Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 23. Bertemu Alya 1


__ADS_3

Hector Group tak kalah jauh besarnya dengan Bala Corp. Yang membedakan adalah pemimpinnya yang terkesan ramah dan baik hati. Tuan Hector selalu dengan senang hati menyambut sapaan para karyawannya. Menurutnya, mereka adalah orang-orang yang sama hebatnya dengan para petinggi yang lain. Jika tidak ada mereka apakah ia bisa berdiri di atas seperti saat ini ? Tentu saja tidak. Pemikiran yang begitu rendah hati, tidak membedakan dan merendahkan kemampuan orang lain.


Kebaikan hati pemilik Hector Group itu selalu terlihat di mata para karyawannya. Mereka semua merasakan bagaimana bos mereka itu bersikap baik terhadap mereka. Contohnya saja karyawan yang bisa dibilang oleh banyak orang dengan jenjang pekerjaan terendah di sebuah perusahaan besar seperti OB saja, pria tua itu tak risih dan sungkan untuk bercengkrama.


Seperti saat ini, setelah sampai di kantor ia lebih memilih untuk menatap taman kantornya yang ditata rapi sedemikian rupa agar para karyawan dan pengunjung kantor merasa nyaman.


"Sibuk mas ?" Sapa Tuan Hector pada seorang OB dengan usia yang masih sangat muda.


"Eh Tuan... Biasa ini pekerjaan setiap harinya." Jawab OB tersebut dengan senyumnya.


Semua karyawan yang ada di Hector Group tidak merasa canggung jika bercengkrama dengan bos besar itu. Tapi meski begitu mereka tetap menjaga jarak, kesadaran diri akan tingkat status mereka. Mereka tetap sopan dan menghormati atasan mereka.


Tuan Hector tersenyum menanggapi ucapan OB muda tersebut. "Sudah berapa bulan kerja di sini ?"


"Baru 6 bulan tuan." OB itu menghentikan pekerjaannya sejenak untuk menjawab pertanyaan bos besarnya.


"Masih lumayan baru. Kamu masih muda baru lulus sekolah ?"


"Iya Tuan, lulus SMA langsung daftar kerja di sini begitu ada lowongan."


"Tidak melanjutkan kuliah ?"


"Emm... Tidak. Mau membantu keluarga saja daripada uangnya digunakan untuk membayar kuliah." Senyum OB itu tertarik sedikit lebar saat mengatakan itu. Ia merasa sedikit malu karena lebih memilih bekerja ketimbang melanjutkan kuliah.


"Tapi ada keinginan untuk melanjutkan atau tidak ?"


"Sebenarnya ada keinginan tapi perekenomian tidak mendukung Tuan hehe."


"Hahaha... Kamu masih muda, jika punya keinginan, wujudkan saja tidak usah ragu dan takut. Selama ada keinginan dan niat pasti ada jalan." Nasehat yang diberikan Tuan Hector pada karyawan OB nya.


Baru asik bercengkrama dengan karyawan muda itu, Roichi datang untuk memanggil tuannya. Ada hal penting yang hendak disampaikan olehnya saat ini.


"Permisi Tuan, bisa kita bicara sebentar ?" Ijin Roichi yang merasa mengganggu pembicaraan tuannya. Tuan Hector menoleh ke arah asistennya demikian juga sang OB muda itu menatap sekilas pada Roichi.


"Baiklah kita ke ruangan." Jawab Tuan Hector. Roichi masih menunggu bosnya beranjak dari tempatnya berdiri.


"Bekerjalah dengan benar. Berikan yang terbaik atas pekerjaanmu. Perusahaan ini selalu menghargai mereka yang loyal kepada kami. Jika kinerjamu bagus, tidak menutup kemungkinan kamu bisa melanjutkan pendidikanmu Nak." Tepukan semangat diberikan pada bahu OB itu.


"Siap Tuan. Terimakasih atas nasehatnya." OB itu tersenyum, ia merasa senang dan bersemangat saat dukungan ia dapatkan dari seorang yang begitu besar di perusahaan tempatnya bekerja.


"Semangat !!" Tuang Hector mengangkat tangan seperti seseorang yang hendak menunjukkan otot bisepnya.


"Lanjutkan pekerjaanmu, semoga kita bertemu lagi di lain waktu."


OB muda itu mengangguk, Roichi tersenyum saat melihat interaksi tuanya dengan karyawannya. Ia bangga pada bosnya yang begitu baik terhadap semua orang. Tuan Hector berlalu dari tempat itu menuju ruangannya, di barengi oleh Roichi.


"Ada apa Roi ?" Tanya Tuan Hector saat sudah duduk di ruang kerjanya.


"Felix mengatakan jika ada perusahaan baru yang mengajukan kerjasama dengan kita tuan."


"Perusahaan baru ? Siapa ? Apa kamu sudah mengetahui perusahaan itu ?"


"Memang baru bagi perusahaan kita Tuan tapi kita pernah bertemu dengan mereka sebelumnya."


Penuturan Roichi membuat Tuan Hector mengerutkan pusat dahinya. Menuntun penjelasan lebih lanjut dari sang asisten, dan Roichi pun paham akan hal itu.


"Perusahaan itu adalah Bala Corp. Perusahaan yang waktu lalu pernah mengikuti tender Mega proyek waktu lalu. Bahkan CEO dari Bala Corp pun mengucapkan selamat pada Tuan tanpa berjabat tangan."


Tuan Hector sedikit berpikir dan mengingat-ingat pertemuan dalam tender Mega proyek beberapa waktu lalu.


"Oh iya... Iya... Roi aku mengingatnya. Pria yang tampak sekali ketegasannya."


"Berikan proposalnya padaku Roi."


"Baik Tuan, saya akan ambil proposal itu dari Felix."


Roichi berdiri lalu keluar ruangan mengambil proposal yang dimaksud dari Bala Corp. Ia pun tampak berpikir mengapa perusahaan itu melakukan kerjasama dengan mereka. Setahu mereka perusahaan itu juga bergerak di bidang yang sama. Apakah ada proyek yang membutuhkan dua perusahaan properti ? Atau ada hal yang lain, Roichi pun belum mengetahui dengan jelas.


****


Beberapa hari Belva menjaga dan menemani budhe Rohimah. Masih saja belum ada perubahan, doa ibu muda itu tak pernah putus untuk kesembuhan dan kepulihan orang tersayangnya. Berharap semua doa dan harapannya dikabulkan oleh sang pencipta.


Di waktu jam besuk, Belva masuk ke dalam ruangan budhe Rohimah. Karena wanita renta itu berada di ruangan ICU karena kondisinya yang masih belum sadarkan diri.


"Budhe... Ayo bangun, Belva rindu. Apa budhe tidak merindukanku ? Apa budhe tidak bisa mendengarkanku ? Duo Kay bahkan mereka selalu ikut mendoakan kesembuhan Uti mereka."


Air mata Belva mengalir setiap kali belum mendapatkan respon apapun dari keluarga kandung satu-satunya itu. Ia terus mencurahkan perasaannya melalui air mata.


Tak jarang mata itu selalu terlihat bengkak saat pulang ke rumah.


Ditatap lekat wajah budhe Rohimah, wajah pucat itu masih sama seperti hari-hari kemarin. Pergerakan kecil dari kelopak mata Budhe Rohimah tertangkap oleh tatapan mata Belva. Sontak wanita itu terkejut, sedikit melebarkan kelopak matanya untuk memastikan apakah yang dilihatnya benar atau tidak.


Jari kelingking Budhe Rohimah bergerak-gerak, Belva melihat itu dan ia semakin yakin jika memang budhenya menunjukkan perkembangan lebih baik. Harapan itu sepertinya akan terwujud atas kesadaran Budhenya.


"Budhe..." Lirih Belva bahkan suaranya hampir tak terdengar.


Ia masih melihat bagaimana perkembangan Budhenya. Pergerakan itu semakin lama semakin terlihat, kelopak mata itu perlahan mengerjap. Sayu menatap langit-langit, Belva merasa haru dan antusias atas kesadaran Budhenya.

__ADS_1


"Budhe sadar ? Tanya Belva tanpa sadar.


"Iya Budhe sadar. Dokter... Aku harus memanggil dokter." Gumam Belva.


Wanita cantik itu keluar dari ruangan khusus itu dan memanggil perawat dengan semangat.


"Suster... Suster... Budhe saya sudah sadar. Tolong periksa dia sus."


"Baik Nona tunggu sebentar saya panggil dokter terlebih dahulu."


Suster dengan gerak cepat memanggil dokter yang menangani Budhe Rohimah. Mereka berlari menuju ruangan khusus itu. Belva menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana dokter ?" Tanya Belva saat dokter keluar ruangan.


Dokter tersebut tersenyum menatap Belva. Tampaknya kabar baik yang akan Belva dengar.


"Pasien sudah sadar, kami akan memindahkannya ke ruangan rawat."


"Haahh... Syukurlah. Semua baik-baik saja kan dok ?"


"Kita akan lihat nanti lebih lanjut, bagaimana reaksi pasien setelah sadar nanti. Kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja."


Dokter tahu apa yang dipikirkan oleh Belva. Sakit yang dialami Budhe Rohimah membuat Belva memiliki kekhawatiran tersendiri.


Dalam hati kembali dilanda rasa khawatir. Takut jika benturan di kepala budhe membuatnya hilang ingatan. Sungguh Belva tak menginginkan itu, ia baru saja bertemu dengan budhenya. Tak mau jika pertemuan itu akan membuat budhenya syok kembali dalam keadaan budhenya yang baru saja sadar.


Brangkar yang menampung tubuh lemah itu sudah didorong oleh para perawat. Belva mengikuti mereka hingga ke ruangan rawat. Budhe Rohimah masih terbaring lemah, beberapa hari tertidur membuatnya belum bisa bergerak dengan bebas. Tubuhnya terasa tak nyaman.


"Budhe..." Panggil Belva dengan lembut.


Wanita yang masih terbaring lemah itu menatap Belva dengan pandangan lemah. Ia belum mengeluarkan suaranya saat dirinya dipanggil.


Hati Belva merasa cemas, jantungnya berdebar menunggu reaksi budhenya. Dokter dan perawat pun masih berdiri di dekat budhe Rohimah dan menanti respon pasiennya mereka itu.


"Nduk..." Jawab Budhe Rohimah lirih.


Mata Belva melebar dan berkaca-kaca, senyum di bibirnya tertarik semakin lebar. Budhenya baik-baik saja setelah sadar. Itu yang diharapkan oleh Belva.


Dokter dan perawat yang mendengar respon pasiennya masih terdiam untuk memantau lebih lanjut.


"Nyonya... Apa yang anda rasakan ? Anda bisa mengingat siapa nona ini ?" Tanya dokter untuk memastikan.


Budhe Rohimah mengangguk lemah serta menjawab apa yang ia rasakan. "Pusing."


"Budhe... Budhe ingat denganku ?" Belva kembali memastikan agar dirinya benar-benar yakin.


"Budhe... Terimakasih." Hati Belva sangat bahagia. Ia menghambur memeluk Budhenya. Matanya yang telah berkaca-kaca sudah melelahkan air mata yang sudah terbendung sejak tadi.


Dokter dan perawat, mereka merasa lega. Mereka pun ikut tersenyum melihat pasien baik-baik saja.


"Maaf Nona, pasien masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat." Dokter memberikan peringatan dengan sopan dan lembut.


"Ah iya... Maaf dokter. Lalu kira-kira kapan budhe saya bisa sembuh total dan bisa pulang ?"


"Itu tergantung dari semangat yang dimiliki pasien. Jika dia memiliki semangat untuk sembuh, maka secepatnya bisa pulih kembali dan bisa segera pulang. Lukanya juga sudah mulai mengering. Nanti mungkin hanya perlu sering kontrol saja untuk lukanya." Dokter menjelaskan karena memang budhe Rohimah sudah tidak terlalu parah lagi. Kesadarannya sudah kembali, bahkan selama dalam keadaan koma saja wanita tua itu kesehatannya masih stabil.


"Baiklah. Terima kasih dokter atas bantuannya." Senyum lembut Belva berikan pada dokter tampan itu.


Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki ketertarikan pada wanita tentu dia merasa senang dengan senyum yang Belva berikan. Perempuan itu masih muda dan cantik, dia belum mengetahui saja jika Belva sudah memiliki dua ekor saat ini.


"Emm... Ya sama-sama Nona. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu." Ucap dokter tersebut dengan sedikit grogi. Belva hanya tersenyum menanggapi pamitan sang dokter.


Setelah kepergian dokter dan perawat. Belva menggeret kursi untuk duduk di samping ranjang budhe Rohimah. Ia mengusap lembut lengan budhenya dengan lembut dan sayang. Merasa bersyukur akan harapan yang selalu dipanjatkan dalam setiap doanya agar budhenya segera sadar.


"Budhe.... Istirahatlah. Segeralah pulih agar budhe bisa pulang, bisa sehat kembali. Sudah terlalu lama budhe tinggal di tempat ini."


"Iya Nduk."


Belva membiarkan Budhenya berisitirahat meski wanita paruh baya itu merasa tubuhnya tak nyaman. Tulang-tulangnya berasa remuk karena tertidur beberapa hari. Ia bergerak lemah dan terlihat tidak nyaman. Belva menyadari itu dan pertanyaan yang diberikan pada Budhenya berakhir dengan pijatan lembut untuk budhe Rohimah agar wanita yang mulai renta itu bisa beristirahat dengan nyaman.


Belva sangat telaten dalam merawat budhe Rohimah. Bahkan ia sering menghabiskan waktunya untuk menjaga di rumah sakit. Pekerjaannya di kerjakan di dalam ruang perawatan agar bisa sekalian menjaga Budhenya.


Kabar sadarnya budhe Rohimah diketahui oleh Pak Jajak dan Mbok Yati. Mereka bergantian datang menjenguk saat Alya pergi. Mereka harus pintar-pintar memanfaatkan waktu dan saling bekerjasama agar bisa menjenguk Budhe Rohimah.


Keluarga angkat Belva pun juga mendengar kabar baik itu. Mereka juga turut membantu Belva dalam menjaga keluarga kandung satu-satunya milik Belva.


Beberapa hari berlalu, kini Pak Jajak memiliki kesempatan lebih lama untuk mengunjungi teman kerjanya itu. Dengan bantuan Mbok Yati, ia bisa berada di rumah sakit karena Alya sedang pergi bersama Jack pria yang menjadi kekasihnya. Selama budhe Rohimah sakit hingga beberapa minggu saja perempuan itu tampak tak perduli sama sekali. Menjengkuk pun tidak pernah, benar-benar hatinya sangat jahat.


"Bi Imah... Bagaimana keadaanmu saat ini. Apa masih ada yang sakit ?" Tanya Pak Jajak.


"Jak... Aku sudah membaik. Hanya kepalaku saja yang masih terasa sakit dan terkadang pusing."


"Banyak-banyaklah berisitirahat agar cepat sembuh dan cepat kembali. Kita bisa bekerja bersama kembali Bi."


"Aku tidak tahu Jak, masih melanjutkan bekerja di sana atau tidak." Budhe Rohimah tampak murung. Ia mengingat bagaimana kelakuan Alya dan sikap perempuan itu padanya.


Pak Jajak mengernyitkan dahinya, sudah lama dia ingin menanyakan hal ini pada teman kerjanya itu.

__ADS_1


"Bi... Sebenarnya apa yang terjadi ? Ceritakan padaku, kita sudah berteman sangat lama."


"Kecelakaan Bi Imah apa ada hubungannya dengan Non Alya ? Aku curiga jika ada yang tidak beres Bi." Imbuh Pak Jajak yang hendak mengorek informasi dari budhe Rohimah atas kecelakaan yang terjadi pada wanita tua itu.


"Jak, apa kamu bisa kupercaya ?" Tanya Bi Imah dengan serius.


"Tentu saja bisa. Apa yang terjadi katakan padaku."


"Jangan katakan pada siapapun Jak apalagi pada Belva. Aku tak ingin semua jadi lebih kacau." Pak Jajak hanya mengangguk saat budhe Rohimah mengatakan itu.


"Kamu tahu kejadian beberapa tahun yang lalu pada Belva ?" Kembali Pak Jajak mengangguk, memang pria paruh baya itu tahu bagaimana kejadian itu. Tapi dia tak tahu yang sebenarnya terjadi pada Belva yang dia tahu hanya keributan dan pengusiran karena Belva telah menggoda tuanya.


Pak Jajak pun tak menyangka jika Belva berani menggoda Satya bahkan dia sedikit tak percaya akan hal itu tapi mau bagaimana lagi itulah yang dia dengarkan dan ketahui.


"Yang neng Belva diusir karena telah menggoda tuan ?"


Budhe Rohimah menggelengkan kepala. "Tidak Jak... Aku tahu bagaimana keponakanku, aku percaya dia tidak pernah melakukan hal tak bermoral itu. Dan keyakinanku benar adanya. Belva tak pernah menggoda Tuan Satya. Non Alya lah yang menjebak Belva hingga semua itu terjadi. Kasihan keponakanku dia diperlakukan dengan buruk, dijebak hingga difitnah dan akhirnya diusir dari rumah."


Mata Budhe Rohimah berkaca-kaca hingga melelehkan air mata. Mengingat semua hal yang Belva alami hingga keponakannya yang sangat disayanginya itu harus menderita akibat ulah anak majikannya.


Pak Jajak melebarkan kelopak matanya hingga alisnya terangkat naik. Ia terkejut akan penuturan dari budhe Rohimah atas kejadian yang menimpa Belva.


"Apa benar itu Bi Imah ? Kenapa non Alya melakukan hal itu pada neng Belva." Pak Jajak masih merasa tak percaya jika Alya tega melakukan hal itu padanya.


"Aku tidak mengarang ataupun berbohong Jak. Aku mendengar semuanya sendiri dari pembicaraan Nyonya dan Non Alya waktu itu saat Belva dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Saat itu Nyonya mendapatkan panggilan pemeriksaan di kantor polisi atas kematian Belva saat itulah Nyonya yang membereskan segala permasalahan yang terjadi pada Belva hingga awal mula kejahatan Non Alya tak lagi tercium."


Budhe Rohimah menghela nafas dan terdiam sejenak. Begitupun Pak Jajak, pria itu mengolah setiap cerita yang disampaikan oleh teman kerjanya selama ini. Budhe Rohimah orang yang jujur dan baik untuk hal seperti ini apakah masih bisa dia meragukan kebenarannya.


"Waktu itu bukankah neng Belva diusir dalam keadaan hamil Bi ?" Tanya Pak Jajak.


"Iya itu benar. Nyonya tidak ingin jika Tuan Satya tahu kalau Belva sedang mengandung anaknya. Maka dari itu mereka mengusir Belva bahkan ingin membunuh keponakanku yang malang. Dan apa yang terjadi padaku itu karena non Alya mencurigaiku atas rencananya yang ingin mencelakai Belva. Ia tahu jika Belva masih hidup bersama anak-anaknya."


"Anak-anaknya ? Maksud Bibi ?" Tanya Pak Jajak masih belum memproses kata-kata itu.


"Belva memiliki anak kembar." Jawaban singkat budhe Rohimah membuat Pak Jajak kembali melebarkan matanya.


"Itu... Itu... Anak Tuan ?" Tanya Pak Jajak memastikan. Dan Budhe Rohimah mengangguk. "Tapi kamu jangan mengatakan pada siapapun Jak. Tolong bantu aku agar keponakanku tetap aman bersama anak-anaknya. Sepertinya Nyonya belum mengentahui hal ini. Aku mohon."


Wajah budhe Rohimah terlihat sangat memohon dan memelas. Ia takut jika nanti akan ada yang mengetahui posisi Belva dan akan semakin membahayakan keponakan yang telah dianggapnya anak dan kedua cucunya itu.


"Iya Bi... Pasti Bibi tenang saja aku akan merahasiakan ini. Kasihan sekali neng Belva kenapa Non Alya tega sekali berbuat keji seperti itu. Apa salah neng Belva bukannya mereka dulu berteman sangat dekat ?"


"Entahlah aku juga tidak tahu kenapa Non Alya tega pada Belva." Sahut Budhe Rohimah.


"Jadi yang membuat Bi Imah kecelakaan seperti ini juga ulah Non Alya ?" Pertanya yang sangat diyakini oleh Pak Jajak jika memang semua itu terjadi karena ulah Alya karena pria itu curiga terhadap sikap Alya.


"Iya saat itu ia berniat akan mengurungku di gudang belakang. Aku takut Jak di sana kamu tahu banyak sekali ular dan hewan-hewan yang lain. Aku memberontak hingga terpeleset dan Non Alya juga sedikit mendorongku karena aku perpegangan padanya hingga aku terjatuh."


"Astaga... Jadi benar Bi Imah jatuh karena ulah Non Alya. Aku tak menyangka ia sejahat itu."


"Budhe... Benar yang kalian bicarakan ? Jika kecelakaan ini terjadi karena ulah Alya ?" Belva tiba-tiba masuk ke dalam ruangan budhe Rohimah. Ia mendengar pembicaraan kedua paruh baya tersebut saat akan memasuki ruangan rawat itu.


Pak Jajak dan Budhe Rohimah sama-sama menoleh pada Belva yang tiba-tiba saja bersuara mengagetkan keduanya.


"Nduk... Sejak kapan kamu datang ?" Tanya Budhe Rohimah. Ia terkejut, sebenarnya tak menginginkan jika hal ini diketahui oleh Belva karena ia tak mau jika akan membuat Belva bertemu dengan Alya.


"Katakan padaku Budhe. Benarkah itu ?" Raut wajah Belva terlihat sangat serius dan marah. Budhe Rohimah tak pernah melihat wajah keponakannya seperti itu.


"Bukan begitu Nduk... Budhe..." Kalimat budhe Rohimah terpotong oleh kalimat panjang lebar dari Belva.


"Budhe membela perempuan jahat itu ? Apa budhe tak tahu bagaimana aku mengkhawatirkan budhe. Sejak kejadian yang tak pernah aku lakukan dengan sadar itu aku sudah merasa bersalah pada budhe. Sejak aku pergi meninggalkan rumah itu aku selalu memikirkan budhe, hanya budhe keluargaku satu-satunya. Dan setelah kita bertemu kembali, belum lama budhe kecelakaan itu membuatku sangat sedih. Semua itu ulah Alya tapi budhe mau menutupinya dariku ?" Air mata Belva mengalir saking menahan emosinya karena ulah Alya. Suara yang biasa terdengar lembut itu kini sedikit meninggi.


"Tenang neng... Tenang. Budhemu baru saja sembuh jangan seperti ini." Pak Jajak menenangkan Belva yang terlihat meluapkan emosinya. Belva menghela nafas panjang, serta memejamkan matanya. Meredam luapan emosinya.


"Maaf Pak... Budhe maafkan aku. Aku hanya tak bisa lagi berdiam diri saat tahu wanita jahat itu tidak hanya menyakitiku tapi juga menyakiti Budhe." Suara Belva sedikit melunak.


"Budhe beristirahatlah. Aku membawakan makanan untukmu." Perintah Belva dengan lembut. Budhe Rohimah hanya mengangguk, ia merasa Belva sudah tak membahas lagi masalahnya dengan Alya.


"Ya sudah Bi... Aku harus pulang, besok Mbok Yati yang akan bergantian menjenguk. Cepatlah sembuh." Pak Jajak berpamitan pada budhe Rohimah.


Pria itu juga berpamitan pada Belva dan Belva mengantar Pak Jajak hingga depan pintu rawat inap.


"Budhe mau makan sekarang ?" Tanya Belva.


"Tidak, budhe masih kenyang. Budhe merindukan duo Kay Nduk."


"Sabar Budhe, cepatlah sembuh agar kalian bisa bertemu. Maaf aku tak bisa membawa duo Kay ke sini karena di sini banyak berbagai macam penyakit tidak baik untuk anak-anak."


"Iya Nduk... Budhe paham. Budhe tidur dulu."


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.

__ADS_1


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


__ADS_2