
Satya dan Belva telah masuk ke apartemen. Belva masuk lebih dulu ke kamar sedangkan Satya ke dapur untuk mengambil air minum. Sebelum nya Belva yang ingin mengambilkan air minum tapi Satya menolak. Dia menyuruh Belva untuk mandi saja lebih dulu.
Selesai menuntaskan rasa dahaganya, Satya segera masuk ke dalam kamar. Dia menengok kiri dan kanan memindai sekeliling kamarnya. Dirasa aman karena Belva masih berada di dalam kamar mandi. Satya segera meletakkan kotak cincin yang tadi dibelinya ke dalam tas kerja miliknya. Tas itu sangat jarang sekali disentuh oleh Belva, tempat paling aman di apartemen ini.
"Mas..." Panggil Belva.
"Eh... Iya yank ?" Jawab Satya terkejut.
Belva mengernyitkan dahinya. "Kok kaget ? Kamu lagi apa mas ?"
"Ah... Itu... Mas lihat video serem yank makanya kaget saat kamu panggil." Satya berdalih.
"Video ? Coba lihat." Belva penasaran.
Semakin bingung lah Satya dalam beralasan. Otak nya dengan cepat berpikir untuk mencari alasan.
"Videonya... Sudah terhapus sayang. Tadi saat mas kaget tidak sengaja menyentuh tombol delete."
"Kamu tidak berbohong kan mas ?" Tanya Belva menyelidik dengan mata menyipit berjalan semakin mendekat Satya.
"Bohong ? Siapa yang berbohong. Mas tidak berbohong sayang."
"Tidak. Sepertinya aku mencium aroma-aroma kebohongan." Belva berhenti tepat di depan Satya.
Masih memakai jubah bathrobe dengan handuk tergulung di atas kepala. Belva memasang wajah menyelidik pada Satya.
Cup...
Satya mencium bibir Belva dengan sedikit melu**mat.
"Ini yang namanya mencium." Ujar Satya setelah mengecup bibir Belva.
Plak...
Belva langsung membalas ciuman berdebu dengan sebuah pukulan pada dada Satya.
"Aoww..." Pekik Satya.
"Mandi sana, suka cari kesempatan dalam kesempitan kamu." Ujar Belva.
"Mana ada cari kesempatan dalam kesempitan. Itu namanya kesempatan di depan mata yank."
Belva memutar bola matanya malas. "Beda ya... Kalau kamu suka ambil kesempatan dalam kesempitan."
"Loh memang kamu dalam keadaan terdesak, tertekan atau sejenisnya ?" Tanya Satya.
"Iya terdesak, tertekan selama bersama mu." Celetuk Belva secara sembarang. Lalu wanita itu melangkahkan menjauhi Satya menghindari tatapan yang pasti akan ada tatapan tajam yabg diberikan oleh Satya.
"Kamu yank berani bilang seperti itu hemm...Awas kamu ya."
Satya mencoba meraih Belva tapi wanita itu berlari menghindari Satya. Ia tertawa terkekeh melihat Satya yang kesal seperti itu. Satya merasa dikerjai dan di ledek oleh Belva, terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam kamar apartemen.
"Jangan lari kamu yank." Ucap Satya berusaha menangkap Belva.
Belva justru semakin meledek Satya dengan menjulurkan lidahnya. Seakan meremehkan pria itu karena tidak bisa menangkap dirinya.
Hap...
Akhirnya tubuh sintal Belva tertangkap oleh Satya. Membalas semua aksi jahil wanitanya, Satya menggelitiki Belva. Wanita itu tertawa terbahak-bahak dengan wajah memerah. Bahkan hingga Belva terjatuh di atas ranjang demikian juga Satya yang ikut tertarik jatuh di atas ranjang dan menindih Belva.
Satya langsung menghujani ciuman-ciuman kecil di wajah Belva. Semua tak luput dari sapuan bibir Satya. Hingga yang terakhir Satya mencium bibir Belva kembali dengan waktu yang cukup lama dengan lum**atan-lummatan kecil. Belva membalas apa yang Satya lakukan, sudah tak canggung, malu ataupun kaku lagi.
Tak ingin terlalu lama, Satya takut jika kebablasan dan membuat dirinya sendiri tersiksa. Saat ini saja salah anggota tubuhnya sudah mulai bereaksi. Dengan cepat Satya menghentikan aksinya. Pria itu mengakhiri dengan menggesekkan hidung mancungnya pada hidung mancung Belva. Belva dan Satya saling tersenyum manis dan lembut.
"Mas, beraatt..." Rengek Belva.
Satya langsung bergerak mengangkat tubuhnya menjauhi tubuh Belva.
Tanpa sengaja Satya pun melihat sebagian dari daging Belva yang menyembul di balik jubah bathrobe nya. Jakunnya naik turun, matanya terasa segar melihat hal itu. Sebagai seorang pria tulen tentu hal itu menjadi pemandangan menyenangkan baginya. Satya menarik kedua lengan Belva, agar wanita itu bangun dari tidurnya.
"Maaf sayang." Ucap Satya.
Satya memeluk Belva yang terduduk di ranjang sedangkan dirinya berdiri dihadapan wanita itu. Belva membalas pelukan Satya, saling merasakan rasa sayang dan cinta yang ada di dalam hati mereka masing-masing terhadap seseorang yang sedang mereka peluk.
"Yank.." Panggil Satya.
"Hem..." Jawab Belva.
"Mas sayang sama kamu.''
Belva mengangguk. "Sudah tahu."
"Tahu darimana ?" Tanya Satya.
"Kalau kamu tidak sayang denganku tidak mungkinkan mengajak ku menikah hingga beberapa kali." Ucap Belva.
Satya terkekeh. "Kamu tahu ? Mas begitu terpana saat melihat mu waktu itu."
Belva mengurai pelukannya dan mendongk ke atas. "Melihatku ? Kapan ? Jangan bilang saat aku pertama kali menjadi pembantu di rumah mu."
"Bukan... Justru saat kamu datang ke rumah mas bahkan tidak pernah memperhatikan mu secara khusus. Saat malam pesta pernikahan putri Tuan Maxim. Mas pernah tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita cantik. Apa kamu mengingatnya sayang ?"
"Jadi, mas tahu kalau saat itu wanita itu adalah aku ?" Tanya Belva.
"Belum... Mas belum tahu jika itu kamu. Hanya saja mas seakan familiar dengan wajah itu. Tapi saat itu juga wajah cantik itu selalu mengusik hati mas setiap saat. Mas begitu tertarik dengan mu."
"Benarkah ? Bukankah saat itu kamu masih bersama Nyonya Sonia ? Berarti kamu mendua hati darinya."
"Tidak... Mas bahkan tidak pernah mencintainya."
"Kenapa bisa begitu ?" Tanya Belva.
"Sayang, mas gerah, mas mandi dulu nanti lagi ya ceritanya. Kamu gantilah baju mu nanti sakit jika terlalu lama memakai jubah ini."
Satya menyudahi kegiatan bercerita mereka. Masih belum saatnya dirinya bercerita mengenai bagaimana masa lalunya. Saat ini fokusnya hanyalah mulai menata kembali kehidupan nya yang pernah kosong dan sepi dengan menikmati hidup bahagia bersama wanita yang sangat dicintainya saat ini.
"Hmm... Iya mandilah. Akan kusiapkan pakaian ganti untukmu." Ujar Belva.
"Terimakasih sayang." Satya melepaskan pelukannya dan mencium kepala Belva sebelum beranjak pergi.
Pasangan itu kini melakukan aktivitas masing-masing. Satya membersikan diri sedangkan Belva mengganti bajunya selagi Satya berada di dalam kamar mandi. Selesai mengganti baju Belva langsung menyiapkan baju untuk Satya.
Beberapa menit Satya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkari pinggangnya. Handuk kecil dipakainya untuk mengusap-usap rambutnya yang basah.
Belva duduk di depan meja rias, menggunakan beberapa produk kecantikan untuk merawat kulitnya.
"Sayang, mana baju mas ?"
__ADS_1
"Di atas ranjang seperti biasa."
"Boleh ganti baju disini ?" Tanya Satya. Dia malas bolak-balik ke kamar mandi.
"Tidak... Ganti baju di kamar mandi. Eh sebentar kalau mau ganti baju disini tunggu aku sebentar lagi selesai."
Satya menunggu sembari masih terus mengeringkan rambutnya. Hingga Belva selesai memakai lotion untuk kulitnya.
"Sudah... Aku keluar dulu mau masak buat makan malam."
"Tidak usah masak sayang. Kamu sudah mandi begitu. Kita pesan makanan saja, tunggu sebentar."
"Ya sudah. Aku mau cek bahan makanan di kulkas saja. Sepertinya bahan makanan mulai menipis." Ucap Belva.
"Besok saja kita belanja, sekalian jalan-jalan sama anak-anak. Besok weekend kan ?" Ucap Satya yang berjalan menuju ranjangnya untuk mengambil pakaian gantinya.
Belva mengangguk lalu berlalu keluar kamar. Ia hendak mengecek kebutuhan dapur yang menurut ingatan nya mulai menipis. Satu persatu di cek oleh Belva, semua bahan yang habis dan menipis dicatatnya di ponsel miliknya. Mempermudah dirinya untuk berbelanja besok.
Satya selesai mengganti bajunya dengan pakaian santai. Tampan meski tak serapi menggunakan setelan jas. Aroma shampoo dan sabun yang menempel pada tubuh dan rambutnya menguar kemana-mana. Aroma wangi maskulin itu sangat kuat terlebih saat dirinya yang tiba-tiba memeluk Belva dari belakang.
"Sedang apa hemm ?" Satya meletakkan dagunya pada pundak Belva.
"Mencatat semua bahan makanan yang habis dan menipis."
"Banyak yang habis ?"
"Lumayan, besok sepertinya harus belanja lebih banyak." Jawab Belva.
"Tidak masalah, sekalian catat keperluan Kay dan diri mu."
"Sepertinya tidak ada keperluan kami yang habis. Besok pasti anak-anak bakalan meminta untuk dibelikan ini itu sendiri."
"Kebutuhan mu selama satu bulan ini apa tidak ada ? Hemm sekalian kita cari lisptick besok." Ujar Satya.
Belva mengerutkan keningnya. Ia merasa lisptick nya masih aman tidak habis ataupun rusak. Tidak ada keinginannya untuk membeli benda itu.
"Lisptick ku masih, tidak perlu beli."
"Perlu, biar kamu tidak marah-marah nanti karena lipstik mu yang berantakan." Ucap Satya yang mengingatkan kejadian kemarin saya dirinya menyerobot mencium Belva.
"Ck... Terserah..." Ujar Belva.
"Kenapa tak jauh-jauh dari hal seperti itu." Gumam Belva yang jelas bisa terdengar oleh Satya karena pria itu yang masih memeluk dirinya.
"Jangan bermimpi hal seperti itu akan hilang dari kehidupan kita sayang. Itu akan menjadi vitamin harian untuk mas."
Helaan napas terdengar dari Belva, jika Satya sudah berbicara mengenai hal itu mendebat nya pun tidak akan pernah menang dan selesai.
"Sudah pesan makanan atau belum mas. Mau makan malam atau tidak ini."
"Hemm... Apa istriku sudah lapar ? Mas sudah pesan tunggu saja sebentar."
"Pingin banget jadi suami aku. Belum nikah sudah ngaku-ngaku." Ucap Belva.
"Memang kamu tidak ingin jadi istri mas ? Tidak suka mas panggil seperti itu ?"
"Aku biasa saja tuh." Ucap Belva lagi. Dalam hatinya sebenarnya sangat berbunga-bunga Satya selalu mengakui dirinya sebagai istri. Hanya saja Belva terkadang masih gengsi.
"Masa ? Kalau begitu mas cari perempuan muda yang cantik lain nya saja ya yang suka dan bahagia kalau mas panggil seperti itu."
Belva langsung menoleh ke arah wajah Satya. "Mau cari lagi ? Ya sudah sana... Awas tidak usah peluk-peluk."
"Yank, jangan marah. Mas, tidak akan cari-cari yang lain lagi." Ucap Satya yang kembali memeluk Belva dari belakang.
Wajah Belva masih cemberut. Satya merasa senang jika Belva merasa cemburu padanya. Itu artinya wanitanya benar-benar takut kehilangan dirinya.
"Terimakasih sayang." Ucap Satya mengecup pipi Belva.
"Terimakasih apa ?" Tanya Belva dengan nada dingin.
"Terimakasih sudah menempatkan mas di hati kamu, mas suka kalau kamu cemburu sama mas. Itu artinya kamu sayang sama mas, kamu takut kehilangan mas."
"Hem. Awas saja kalau berani macam-macam. Apalagi pergi pas sayang-sayangnya." Ucap Belva.
Satya terkekeh. "Tidak akan sayang. Mas mau kita bersama-sama selamanya sampai maut memisahkan. Mas pingin hidup bersama mu sebagai istri mas dan juga anak-anak kita."
Belva tersenyum, ia merasa senang dan bahagia akan kata-kata yang Satya ucapkan. Sebagai wanita yang memiliki hati lembut tentu saja akan merasa berbunga-bunga jika diberikan ucapan manis seperti itu.
"Begitu dong yank, senyum. Tambah cantik istri, mas."
Tak lama bel apartemen berbunyi. Pasangan itu tersadar, mereka yakin pasti yang datang adalah seorang pengirim makanan pesanan mereka.
"Itu pasti makanannya mas. Duduklah disitu biar aku buka pintunya."
"No... Tidak sayang. Lihat baju kamu, mas tidak mau mereka melihat mu seperti ini."
Belva mengenakan pakaian yang cukup minim. Beberapa pakaian rumahan yang Satya belikan memang bermodel minim. Hal itu Satya lakukan agar bisa memiliki pemandangan menyenangkan saat di rumah. Seperti membawa bekal sendiri yang lebih hemat dan higienis. Lebih terjamin dan lebih memuaskan daripada jajan di luar sana.
"Yaa... Baiklah. Biar aku siapakah saja piringnya." Ucap Belva.
Satya tersenyum dan mengusap kepala Belva. "Istri penurut disayang suami."
Satya berlalu mengambil makanan pesanan mereka. Keduanya lalu menikmati makan malam mereka. Hanya sedikit yang Satya pesan menimbulkan tanya dari Belva.
"Kenapa hanya sedikit begini ? Mana bisa kenyang mas." Protes Belva.
"Sayang, nanti mas mau ajak kamu ke suatu tempat. Mas mau ajak kamu makan malam jadi kita makan berdua sedikit saja. Oke..."
"Jam berapa mas ? Ini sudah jam tujuh loh."
"Kita berangkat jam sembilan sayang. Klien mas mengadakan acara pertunangan untuk putrinya."
"Kenapa acaranya semalam itu. Kenapa tidak sekarang saja ?" Ucap Belva.
"Entah lah... Kita hanya sebagai tamu undangan tinggal berangkat saja sayang."
"Tapi aku tidak mau makan nanti. Bisa-bisa berat badan ku naik kalau makan di jam seperti itu." Ucap Belva.
"Ya... Baiklah terserah kamu saja sayang. Sudah ayo makan."
Jam sudah mendekati jam sembilan, bel pintu apartemen Satya kembali berbunyi. Beberapa orang datang sesuai dengan panggilan klien mereka.
Dua orang wanita yang ditugaskan untuk merias wajah Belva. Belva mengerutkan keningnya. Saat kedua perias itu memperkenalkan diri untuk merias Belva atas permintaan Satya.
"Sayang, mereka akan melakukan tugasnya terhadap mu. Menurutlah saja." Ucap Satya pada Belva.
Belva hanya menurut saja, pikirnya mungkin ini memang harus dilakukan nya. Teringat bahwa Satya merupakan orang penting dalam dunia bisnis pastilah kliennya juga orang yang penting. Dirinya tidak boleh berpenampilan sembarangan.
__ADS_1
Satya memberikan gaun pemberian Nyonya Hector. Melalui salah satu perias itu, gaun dibawa masuk ke dalam kamar Duo Kay. Satya maupun Belva tak mengijinkan orang lain memasuki kamar mereka. Hal yang bersifat pribadi bagi mereka.
Butuh waktu sekitar satu jam untuk merias dan membantu merubah penampilan Belva menjadi sedikit berbeda dari biasanya. Gaun yang dibawakan Satya sudah dikenakan oleh Belva.
"Nona, anda sangat cantik sekali." Ucap salah satu perias.
"Oh ya ? Terima kasih." Ucap Belva dengan tersenyum ramah.
"Mari Nona kita keluar. Tuan Satya pasti sudha menunggu anda."
"Emm... Ya..." Belva mengangguk dan tersenyum.
Wanita itu keluar dari kamar Duo Kay, Satya sudah menunggu di ruang tamu sembari menunggu pria itu sibuk dengan ponselnya. Mengkondisikan keadaan dan waktu agar rencananya berjalan dengan lancar.
"Tuan... Nona sudah selesai." Ucap perias yang membuat Satya menolehkan pandangannya ke arah sumber suara.
Terlihat lah penampilan Belva di depan matanya. Wanitanya sangat cantik dengan riasannya yang tak terlalu tebal tapi terlihat elegan. Ditambah gaun yang dikenakan oleh Belva turut menambah kecantikan calon istrinya. Satya tersenyum melihat penampilan Belva, dia senang dengan hasil yang sangat memuaskan itu.
"Bagaimana Tuan, apa ada yang kurang ?" Tanya perias dengan hati-hati. Ia takut jika kinerjanya tidak memuaskan bagi Satya.
"Sangat bagus... Kalian boleh pergi." Ucap Satya.
Kedua perias itu tampak lega mendengar jawaban dari Satya. Mereka tersenyum dan berpamitan undur diri.
"Sayang, kamu sangat cantik sekali malam ini." Pujian Satya membuat Belva tersenyum malu-malu.
"Terimakasih mas." Ucap Belva. Ia juga memperhatikan penampilan Satya malam ini yang tampak sedikit berbeda. Lebih tampan dari biasanya.
"Astaga kenapa om-om ini sangat tampan sekali malam ini." Batin Belva.
"Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Satya. Pria itu menggenggam tangan Belva dan keluar dari apartemen.
Jangan lupakan penampilan Satya yang terlihat sangat tampan. Rupanya Nyonya Hector tidak hanya memberikan gaun yang cantik untuk Belva tapi juga memberikan satu stel jas dan perlengkapan lainnya untuk Satya. Mereka terlihat sangat serasi dengan wajah tampan dan cantik serta pakaian yang senada.
Seperti biasa Satya selalu memperlakukan Belva dengan sangat manis dan oenub perhatian. Membukakan pintu dan menjaga kepala wanitanya agar tidak terbentur atas mobil.
Dengan santai Satya mengemudikan mobilnya menuju villa yang disiapkan oleh Tuan dan Nyonya Hector. Lokasi villa cukup jauh dari apartemen Satya.
"Mas, tempatnya jauh ya ?"
"Lumayan sayang. Apa kamu sudah mulai mengantuk ?" Tanya Satya.
"Sedikit, ini seharusnya sudah menjadi jam istirahat mas. Kenapa klien mu membuat acara selarut ini."
"Entahlah... Memang sudah direncanakan seperti itu sayang. Jika kamu mengantuk tidurlah dulu sayang, nanti mas bangunkan jika sudah sampai."
"Nanti make up aku rusak mas, masa aku tidur sih."
"Tidak apa-apa sayang, mas sudah siapkan make up untukmu. Nanti kamu bisa benarkah sedikit riasan kamu."
Pria itu sengaja sekali membawa semua perlengkapan make up Belva sebagai antisipasi. Dirinya sudah memprediksi jika jam-jam seperti ini Belva pasti sudah mulai mengantuk. Mau bagaimana lagi, Satya dan yang lain sudah berencana akan memberikan kejutan untuk Belva tepat tengah malam nanti.
Benar saja, Belva perlahan tanpa sadar tertidur di kuris samping kemudi Satya. Senyum tipis tersungg di bibir Satya.
"Maaf sayang, mas harus melakukan ini. Mengganggu waktu tidur mu." Batin Satya.
Satya sedikit berputar jalan agar tak terlalu cepat sampai di villa. Sampai di villa tepat pukul setengah dua belas malam. Sungguh ide yang konyol dan gila serta mungkin kurang kerjaan bagi sebagian orang.
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai." Satya mencoba membangunkan Belva. Wanita itu masih saja terdiam menutup matanya.
"Pasti dia kelelahan seharian ini." Gumam Satya.
"Sayang... Bangun yank." Satya mengelus pipi Belva. Hingga wanita itu membuka matanya perlahan.
"Mas, ada apa ? Kita sudah sampai ?"
"Iya sayang... Kita sudah sampai."
Belva menengok ke luar mobil. Ia tak memahami tempat itu. Tempat baru baginya.
"Ayo kita turun, kamu tunggu dulu ya."
"Sebentar... Aku mau lihat make up ku dulu."
"Kamu masih cantik sayang. Tidak ada yang perlu dibenarkan lagi."
"Tidak... Tunggu dulu sebentar." Belva tetap kekeuh untuk memeriksa kedua make up nya. Pikirnya tidak lucu jika make up nya berantakan dihadapan klien Satya.
Satya hanya menggelengkan kepalanya saja. Mencoba memahami wanitanya, dibiarkan Belva mengecek riasan wajahnya. Masih tampak oke sama seperti yang Satya katakan.
"Sudah kan ? Tidak ada yang harus dibenarkan." Ucap Satya dan Belva hanya mengangguk.
Satya turun dari mobilnya memutari depan mobil dan membukakan pintu bagi wanitanya. Digandeng calon istri nya itu untuk memasuki villa.
Saat berjalan memasuki villa tampak aneh bagi Belva. Tempat itu sepi tidak seperti orang yang sedang mengadakan sebuah acara.
"Mas, kok sepi. Jangan-jangan kita terlambat. Mereka sudah pulang semua kali mas."
"Tidak mungkin sayang. Sudah ayo masuk."
"Sekarang jam berapa ?" Tanya Belva.
"Setengah dua belas" Jawab Satya.
Belva melebarkan matanya. "Mas, kita sudah terlambat. Sudah ayo pulang saja. Kamu bilang acaranya jam sembilan. Ini sudah jam sebelas."Belva berhenti berjalan dan menaham lengan Satya.
"Acaranya di undur sayang. Jadi kita tidak akan terlambat. Mungkin mereka belum datang, kita yang paling awal datang."
"Apa-apaan ini ? Tidak masuk akal melaksanakan acara di waktu yang selarut ini. Acara pertunangan macam apa seperti ini. Tidak menghargai waktu istirahat orang lain." Belva menggerutu dan mengomel.
Satya menahan tawanya, dia tersenyum dalam hatinya. Semua ini demi memberikan kejutan pada Belva.
Semakin mereka melangkah masuk ke dalam villa, tiba-tiba listrik mati. Semua lampu padam. Belva langsung mengeratkan genggaman tangan nya pada Satya.
"Mas... Kok mati listrik. Ini acara nya bagaimana sih. Klien mu tidak punya persiapan dengan matang atau bagaimana ini ? Buruk sekali."
"Tenang sayang, jangan takut. Ayo kita tetap jalan masuk." Satya menggunakan ponselnya untuk menerangi jalan nya.
"Apa-apaan ini, kenapa harus pakai acara mati listrik segala. Mereka tidak memberikan briefing padaku." Batin Satya.
Satya juga merasa ini di luar rencana yang dibicarakan padanya. Tapi Satya tetap berjalan sesuai dengan rencana yang dia ketahui.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
__ADS_1
Terimakasih banyak atas support kalian yang masih setia sampai saat ini. Maaf up nya malam banget 🙏🙏🙏