
Hari ini Belva berniat untuk melakukan pertemuan dengan Nona Ivanka sesuai dengan pembicaraan mereka kemarin. Di kantor Ivalloth Belva datang tak hanya bersama Kaila saja melainkan bersama juga dengan Kaili. Sepulang menjemput kedua anak itu Belva melakukan janji temu. Akhir-akhir ini Belva selalu pergi menggunakan sopir karena Satya yang sering kali mengomel saat istrinya berpergian sendiri.
"Selamat siang, Nona Iva."
Selamat siang Nona Belva. Hai tampan kamu juga ikut? Hai cantiknya aunty sini duduk dulu kalian pasti lelah sepulang sekolah harus ikut Mami kalian ke sini kan."
Sambutan yang sangat ramah dari Nona Ivanka untuk tamu yang memang selalu ia anggap spesial. Belva dan Iva saling berpelukan dengan pipi bertaut kanan dan kiri. Duo Kay tentu saja menyalami Ivanka sesuai yang diajarkan oleh Belva selama ini harus menghormati orang yang lebih dewasa.
"Sayang, kalian boleh main di dalam ruangan ini. Terserah mau duduk di mana, aunty pinjam Mami kalian sebentar boleh?"
"Boleh Aunty." Jawab Kaili.
"Iya boleh." Jawab Kaila.
Kedua bocah langsung saja berhambur ke tempat mana saja yang mereka sukai. Tak lupa gadget selalu ada mendampingi mereka di saat waktu luang seperti ini. Tidak ada yang bisa mereka mainkan di ruangan Ivanka maka gadget mereka lah yang menjadi penghilang kebosanan bagi mereka.
"Ada pembicaraan apa, Nona?" Tanya Belva.
"Ini mengenai Kaila, salah satu brand ternama luar negeri ingin bertemu dengannya. Christina Diora, mereka tertarik pada kemampuan yang dimiliki Kaila."
"Christina Diora? Anda serius, Nona? Mengapa mereka bisa mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh putriku?"
"Saya serius, mereka mengetahui nya dari saya saat mereka melihat produk terbaru Ivalloth. Awalnya wajah cantik Kaila menarik perhatian mereka lalu mereka bertanya pada saya mengenai Kaila karena saya terlalu antusias maka saya terus menceritakan semua yang saya ketahui tentang Kaila. Maaf jika itu membuat anda tidak nyaman."
"Em... Tidak maksud saya, saya hanya penasaran saja bagaimana mereka bisa mengetahui kemampuan Kaila. Lalu apa yang mereka inginkan, Nona?" Tanya Belva.
"Ada kemungkinan mereka akan menjalin sebuah kerjasama dengan Kaila. Jika anda tidak keberatan, maka kita akan mengatur waktu untuk melakukan pertemuan dengan mereka. Saya rasa ini kesempatan bagus untuk kemampuan yang Kaila miliki. Seribu satu orang yang memiliki kesempatan langka seperti ini, putrimu dilirik oleh brand terkenal dan internasional merupakan sebuah kebanggaan tersendiri khususnya bagi Kaila nantinya saat dewasa."
"Anda pasti tahu Nona saya tidak bisa memutuskan ini secara sepihak. Saya harus berdiskusi dengan mereka dan Daddy mereka."
"Iya saya tahu dan saya akan menunggu. Saya harap anda memberikan keputusan yang terbaik tapi saran saya jangan lewatkan kesempatan emas ini." Ujar Nona Ivanka.
Belva mengangguk, dirinya pun sadar bahkan dirinya masih tak percaya jika putrinya mendapatkan kesempatan emas dilirik oleh brand ternama. Setelah Duo Kay yang secara sah menjadi model di kantor Ivalloth yang notabene nya juga merupakan salah satu brand ternama kini kembali prestasi menghampiri Kaila dengan brand yang lebih besar menginginkan gadis kecil itu.
"Besok saya akan mengabarkan pada anda. Oh iya selain membicarakan hal itu ada juga yang ingin saya sampaikan ini mengenai jadwal pemotretan mereka minggu depan. Sepertinya harus dialihkan jadwalnya karena rencananya kami akan mengadakan acara perayaan ulang tahun mereka. Apakah bisa?" Tanya Belva.
"Oh ya? Kapan acaranya? Nanti saya akan atur ulang jadwal mereka. Biar Risa yang mengatur semuanya."
"Terima kasih, Nona Iva. Mungkin weekend untuk mencari sela waktu agar tak terlalu padat jadwal pekerjaan kami."
"Baiklah, saya juga akan mengosongkan jadwal untuk menghadirinya."
Belva mengangguk setuju, keduanya terus melanjutkan perbincangan mereka hingga ponsel Belva berdering. Satya menghubungi dirinya mengajaknya makan siang bersama. Setelah panggilan itu selesai Belva dan Ivanka kembalo berbincang hingga panggilan kedua kembali terjadi dari siapa lagi jika bukan dari suaminya.
"Nona, saya harus pamit dulu. Daddy nya anak-anak sudah menjemput." Pamit Belva pada Ivanka.
"Ah baiklah, jangan lupa berkabar nanti. Ini kesempatan bagus, tolong pikirkan dengan baik-baik."
"Iya tentu saja, kalau begitu saya duluan, Nona."
"Anak-anak ayo pulang, Daddy sudah menunggu di luar." Ajak Belva pada kedua anaknya.
"Ayo Mami." Ucap Kaili.
Belva menggandeng kedua anaknya setelah mereka berpamitan pada Ivanka. Mereka keluar dengan Ivanka yang mengantarkan sampai meja resepsionis.
Mobil Satya sudah menunggu di parkiran depan kantor Ivalloth. Melihat anak dan istrinya sudah keluar dari kantor tersebut Satya dengan sigap langsung keluar dari mobil hanya untuk membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya dan istrinya.
"Terima kasih mas." Ucap Satya setelah duduk di jok mobil. Satya hanya tersenyum dan menutup pintu mobilnya lalu berjalan memutar untuk masuk ke dalam belakang kemudi kembali.
"Kita makan siang dulu ya, kalian belum makan siang kan?" Tanya Satya.
"Belum, tadi sih rencana mau makan siang dengan Nona Iva tapi Daddy sudah telepon lebih dulu."
"Kita makan di rumah saja ya, Daddy juga ingin istirahat sebentar tidak apa-apa kan? Sayang kalian tidak apa-apa kan kalau kita makan siang nya di rumah saja?"
"Oke Dad, nanti aku mau minta dibuatkan sosis gurita goreng sama Budhe." Ucap Kaila.
__ADS_1
"Daddy nanti ke kantor lagi?" Tanya Kaili.
"Iya Daddy harus kembali ke kantor karena ada meeting nanti bersama uncle Jordi."
Duo Kay mengangguk paham. Belva hanya menyimaknya saja.
"Emm... Sayang, minggu depan kalian kan ulang tahun. Mau merayakan ulang tahun dimana?" Tanya Belva.
"Oh iya!! Kaila lupa..." Ucap Kaila sedikit keras membuat Satya dan Belva menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak ke panti lagi Mi buat ulang tahun?" Tanya Kaili.
"Kalian mau merayakan nya di panti lagi?" Tanya Belva.
"Iya di panti yang kemarin Mami menikah dengan Daddy saja ya." Ujar Kaili.
"Ila, bagaimana sayang? Kita rayakan di panti, mau kan?" Tanya Satya.
"Oke, di sana aku juga jadi banyak teman." Jawab Kaila.
Belva tersenyum lega, dirinya memang menginginkan untuk merayakan pesta ulang tahun anak-anaknya di panti asuhan saja. Berbagai adalah cara Belva sebagai tindakan syukur atas apa yang dimilikinya saat ini.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah, kembali Satya turun lebih dulu membukakan pintu bagi anak dan istrinya. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah tapi sepertinya Duo Kay jika sudah berada di rumah sudah merasa bebas hingga mereka memilih untuk melepaskan diri dari gandengan kedua orangtuanya. Mereka berlari menuju dalam rumah karena Mbok Yati sudah membukakan pintu bagi mereka.
"Hai Uti." Sapa Kaila dengan suara cempreng nya lada Mbok Yati.
"Hallo Nona kecil, baru pulang sekolah?" Mbok Yati tersenyum pada Kaila.
"Iya sudah dari tadi tapi ikut Mami dulu ke kantor aunty Iva." Jelas Kaila pada Mbok Yati.
Satya berjalan merangkul pinggang istrinya, mereka tersenyum melihat Kaila yang tampak menggemaskan.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya." Sapa Mbok Yati.
"Siang Mbok." Jawab Satya.
"Mbok, sudah pada makan siang belum?" Tanya Belva.
"Yang belum sebaiknya makan siang dulu Mbok ini waktunya istirahat."
"Baik Nyonya. Tuan dan Nyonya apakah akan langsung makan siang?"
"Belva mau gantikan pakaian anak-anak dulu, Mbok. Mbok Yati istirahat saja biar nanti makan siang kami Belva yang siapkan sendiri tidak apa-apa." Ucap Belva.
Bagi wanita itu yang dulu pernah bekerja sebagai pembantu tentu saja pekerjaan itu bukan pekerjaan yang sepele justru pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mulia dan menguras banyak tenaga. Saatnya waktu istirahat maka harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik agar tidak kelelahan dalam bekerja.
"Tapi Nyonya..."
"Mbok, perintah istri saya juga mutlak di rumah ini jadi tolong ikuti saja. Mbok bisa istirahat gunakan waktu istirahat siang ini dengan baik." Satya yang sedari tadi diam pun ikut membuka suara.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi ke belakang. Mari Nyonya."
"Iya Mbok." Bva tersenyum.
"Sayang, ayo kita ganti baju dulu." Ajak Belva pada Duo Kay.
Meski sangat aktif tapi Duo Kay juga patuh pada Belva. Mereka naik ke lantai dua menuju kamar Duo Kay menggunakan lift..
"Mam, Daddy ke atas dulu, Daddy tunggu di kamar."
"Iya Dad. Aku urus anak-anak dulu."
Satya mengangguk, lift menuju lantai dua sudah terbuka anak dan istrinya Satya keluar tinggallah Satya yang masih melanjutkan menuju lantai tiga.
Belva membantu Duo Kay berganti pakaian selama tinggal di rumah Satya kedua anak itu tak memiliki baby sitter khusus untuk mereka karena semua kebutuhan Duo Kay di urus sendiri oleh Belva hanya sesekali asisten rumah tangga Satya membantu dirinya jika dirinya sedikit kerepotan.
"Sayang, tinggu di sini dulu, Mami mau ke kamar dulu."
__ADS_1
"Oke Mi." Jawab Kaila.
Belva menuju kamarnya menggunakan tangga biasa. Meski sedikit melelahkan tidak seenak naik lift tapi Belva tak ingin terlalu ketergantungan pada bendam kotak itu.
Satya duduk di sofa dengan menghadap tablet PC nya. Apalagi jika bukan memantau pekerjaannya, disaat istirahat begini tetap saja Satya tak sesantai itu. Ada saatnya dirinya benar-benar santai melepaskan pekerjaan ada pula saatnya dirinya tetap teguh pada pekerjaannya.
"Mas, tidak ganti baju?"
"Sayang? Sini dulu."
Bva mendekat pada Satya, ia duduk di samping suaminya.
"Ada apa?" Tanya Belva.
"Tidak. Mas hanya kangen sama kamu, mau peluk kamu." Satya sudah memeluk istrinya dan menghirup aroma tubuh Belva yang selalu menjadi candu baginya.
Belva tersenyum, ada-ada saja suaminya itu. Mereka bahkan tidak pergi dan berpisah dengan jarak yang cukup jauh.
"Oh iya tadi di kantor Ivalloth membicarakan soal apa?" Tanya Satya yang masih memeluk tubuh istrinya.
"Kaila dilirik oleh Christina Diora. Nona Iva bilang jika mereka tertarik dengan kemampuan yang Kaila miliki."
Satya tentu tahu dengan brand terkenal satu itu. Keningnya berkerut belum paham dengan maksud istrinya.
"Bisa jelaskan lebih detail?" Ujar Satya.
"Mas tahu kan jika Kaili dan Kaila menjadi model untuk brand Ivalloth. Dan pihak Christina Diora melihat Kaila dan mereka awalnya tertarik dengan wajah Kaila yang menurut mereka cantik. Lalu Nona Iva bercerita semua yang ia ketahui mengenai Kaila jadi pihak Christina Diora menjadi semakin tertarik dan ingin menjalin kerjasama dengan Kaila." Jelas Belva.
"Putriku memang canti sama seperti Maminya." Ucap Satya yang membuat Belva tersenyum.
Wanita memang akan merasa senang jika mendapatkan pujian meski hanya pujian receh dan kecil.
"Tapi tunggu maksudnya mereka juga akan menggunakan putriku sebagai model mereka begitu kah?" Tanya Satya.
"Bukan, tapi mereka seperti ingin menggandeng Kaila untuk mendesain beberapa produk pakaian. Seperti itulah yang aku tangkap dari pembicaraan kami tadi."
"Sayang, kamu tidak bercanda kan? Apakah Kaila semahir itu dalam mendesain baju?" Tanya Satya masih tak percaya.
Sebagai seorang ayah kandung memang Satya belum benar-benar mengetahui lebih dalam bagaimana kedua anaknya.
"Hampir lima puluh persen produk butikku adalah hasil karya Kaila, mas. Butik Mama juga beberapa kali menggunakan jasa Kaila."
Satya melepaskan pelukannya dari Belva dan menatap sang istri.
"Sehebat itu putriku?"
Belva mengangguk, "Jangan terlalu sibuk pada pekerjaan saja tapi perhatikan lebih dalam anak-anak, mas."
"Aku rasa ini kesempatan bagus untuk Kaila dalam mengembangkan bakat nya. Aku tidka bisa memutuskan sendiri apakah menerima tawaran mereka tidak, jika mas tidak mengijinkan aku tidak bisa memaksa tapi sayang jika dilewatkan begitu saja."
"Nanti malam kita bicarakan lebih lanjut, kita makan dulu, sayang." Ujar Satya.
Setelah melalui berbagai kegiatan hari ini, Satya kembali ke rumah setelah seharian lelah mengurus pekerjaan di kantor. Berkumpul bersama istri dan anaknya menjadi obat tersendiri baginya untuk menghilangkan rasa lelah.
Kini Satya berada di dalam kamar Duo Kay, pria itu benar-benar ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh kedua anaknya. Saat ini Kaila sedang duduk anteng di atas kursi kecil menghadap.pada meja belajarnya. Satu lembar kertas serta pensil dan beberapa kebutuhan menggambar yang lain melengkapi kegiatannya saat ini.
Mengingat pembicaraannya tadi siang bersama sang istri membuat Satya ingin membuktikan sehebat apa bakat yang dimiliki putrinya. Sekaligus menjadi penentu apakah dirinya memberikan ijin untuk anaknya menerima tawaran itu atau tidak.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Bagaimana ini Om Satya kasih ijin enggak ya? Atau malah ditolak karena Kaila masih terlalu kecil untuk perihal kerjsama yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.
Semoga terhibur, bahagia selalu dan sehat selalu π€β€οΈ
__ADS_1
Terimakasih banyak atas support kalian ππ
Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa πβΊοΈ