
Kontrak kerjasama antara Duo Kay dengan Ivalloth masih berjalan hingga sampai saat ini. Hasil pertemuan Belva kemarin adalah pertemuan mereka yang kesekian kali. Ivalloth meluncurkan produk baru yang lagi-lagi Duo Kay digunakan sebagai model utama dalam busana anak keluaran terbaru.
Hari ini adalah jadwal pemotretan Duo Kay yang memang sengaja dilakukan tepat disaat hari libur. Aktivitas Duo Kay semakin lama semakin padat. Tak hanya jadwal pemotretan saja melainkan kegiatan ekstrakurikuler yang mereka ikuti di luar jam sekolah mereka. Ditambah lagi dengan kontrak dan kerjasama mereka dengan beberapa perusahaan atau beberapa orang yang menggunakan jasa mereka.
Belva bersyukur meski jadwal kedua anaknya terasa padat tapi mereka masih bisa menikmati waktu mereka sebagai seorang anak-anak pada umumnya. Khusus di hari weekend Satya dan Belva mulai menerapkan untuk menjadi hari libur bagi Duo Kay. Pemotretan pun Belva hanya menerima dari pihak Ivalloth saja karena sudah sedari lama mereka bekerjasama. Banyak brand-brand lainnya yang ingin menggunakan Duo Kay sebagai model mereka tapi Belva menolak atas keputusan sang suami.
"Pemotretan anak-anak hanya hari ini saja kan?" Tanya Satya memastikan saat mengendarai mobilnya.
"Iya kan mas tidak mengijinkan mereka untuk mengambil job lagi di tempat lain."
"Untuk apa? Kebutuhan kalian tidak akan kekurangan, mas sudah bekerja dan apapun yang kalian inginkan mas masih sanggup memberikan untuk kalian sekalipun kalian memutuskan kontrak kerjasama dengan mereka."
"Memutuskan kerjasama dengan Ivalloth, aku masih belum bisa. Kami sudah kenal lama dan baik sejak dulu. Keputusan ku untuk menerima kontrak kerjasama itu adalah hanya untuk mengembangkan dan menyalurkan bakat dan minta yang anak-anak miliki saja."
"Baiklah, asal tidak membuatmu dan anak-anak kelelahan. Berapa jam pemotretan nanti? Tidak sampai sore kan?" Tanya Satya.
"Tidak, Iva sudah paham dengan jadwal yang harus dilakukan oleh Kaili dan Kaila. Mungkin maksimal tiga jam tapi aku rasa tidak akan selama itu jika mereka dalam keadaan suasana hati yang bagus."
Biasanya saat pemotretan Duo Kay tidak akan menghabiskan waktu yang lama karena jadwal yang sudah disepakati tidak akan membuat dua bocah kembar itu kelelahan. Saat mereka dalam keadaan suasana hati yang baik mereka akan lebih mudah untuk diarahkan dan hasil pemotretan pasti selalu memuaskan hingga pekerjaan mereka lebih cepat selesai.
Selama ini hampir tidak pernah pekerja mereka gagal. Seluruh tim kerja dan juga pemilik Ivalloth selalu merasa senang saat tiba pada jadwal pemotretan Duo Kay. Dari sekian banyak model Ivalloth yang menggunakan produk brand ternama tersebut, hanya Duo Kay lah yang paling menyedot perhatian para pelanggan Ivalloth. Hampir setiap produk yang digunakan oleh Kaili maupun Kaila selalu laris dipasaran dalam waktu yang cukup singkat.
Satya dan anak istrinya telah sampai di kantor Ivalloth. Gadis kecil itu selalu bersikap manja pada Daddy nya, Satya menggendong Kaila lalu tangan kirinya menggandeng Kaili yang juga tengah digandeng Belva. Keluarga kecil itu berjalan memasuki kantor Ivalloth, keharmonisan terlihat jelas dari keluarga kecil tersebut.
Kalo kedua Satya menginjakkan kaki secara langsung memasuki kantor Ivalloth. Dimana pun dia berada pasti selalu menarik perhatian dari para kaum hawa. Sudah terbiasa sehingga Satya bersikap cuek saja. Belva pun tak ingin ambil pusing dengan pesona yang dimiliki oleh suaminya, cemburu sudah pasti tapi sejujurnya dirinya cukup bangga memiliki suami yang tampan dan banyak diinginkan oleh para kaum hawa tapi dirinyalah pada akhirnya yang beruntun mendapatkan pria matang dan tampan itu.
"Selamat pagi Nona." Sapa Risa asisten Ivanka Elizabeth.
"Uuhh tampan." Lirih Risa dengan gaya manja dan genitnya melirik Satya.
"Pagi Risa, bagaimana kabarmu?" Tanya Belva dengan ramah.
"Baik... Sangat baik sekali pagi ini hehe." Jawab Risa melirik sekilas pada Satya.
Bagi pria setengah matang itu paginya saat ini adalah pagi yang terlalu cerah dan indah karena kedatangan pria tampan dan gaga yang menggoda imanmya yang dangkal.
Belva tersenyum geli memperhatikan Risa yang terlihat tergoda oleh suaminya yang hanya diam tak banyak gaya maupun tingkah. Diam seperti itu saja sudah membuat banyak perempuan meleleh apalagi jika suaminya memiliki keahlian merayu. Tapi bersyukurnya Satya tak pernah melakukan hal itu sejauh yang Belva kenal membuat hatinya tenang.
"Oh ya? Itu sangat bagus untukmu semoga harimu menyenangkan dan pekerjaan mu lancar hari ini." Ujar Belva tersenyum manis.
"Tentu saja Nona, sering-sering datang kemari agar hariku selalu baik."
Belva tersenyum dan menggelengkan kepala sedangkan Satya meski cuek tetap mengangkat sedikit salah satu alisnya merespon ucapan pria setengah matang itu.
"Ya sudah sayang permisi dulu, Risa." Pamit Belva.
Risa mengangguk tersenyum, tatapan matanya tak pernah diloloskannya untuk suami Belva yang tampan secara mutlak meski sudah tak lagi muda.
Di dalam ruangannya Ivanka sudah menunggu kedatangan Belva dan Duo Kay. Ternyata mereka yang ditunggu tidak hanya datang bertiga saja melainkan diantar oleh sang kepala keluarga.
"Selamat pagi aunty." Sapa Kaila dengan riang.
"Hai selamat pagi, anak cantik." Sambut Iva dengan tak kalah riang dan semangat.
"Hai, boy selamat pagi." Sapa Iva pada Kaili yang selalu terlihat lebih pendiam.
"Pagi aunty." Jawab Kaili.
Terhadap Belva terlebih Satya pemilik Ivalloth itu mengangguk tanda menghormati dan menerima kedatangan mereka.
"Kita langsung saja ya ke studio, semua sudah siap agar tidak kesiangan nanti." Ajak Iva.
"Baiklah, kita ke sana sekarang." Belva menyetujuinya.
"Ayo sayang kita ke studio, mas mau ikut atau menunggu di sini?"
"Tidak apa jika mau menunggu di sini, anda bisa duduk di sofa ini atau bisa duduk di sofa depan dekat meja Risa." Ujar Iva.
Satya mengangguk, dia menatap istrinya. "Mas, di sini sebentar ada urusan pekerjaan yang harus mas urus. Nanti jika di dalam studio takut mengganggu pemotretan."
"Oh iya sudah tidak apa-apa, aku dan anak-anak ke studio dulu, mas."
Satya tersenyum tipis pada istrinya dan mengangguk. Kaila yang berada digendongnya pun diturunkan.
"Sayang, kalian ke studio bersama Mami dulu ya nanti Daddy menyusul."
Duo Kay mengangguk patuh, Kaili masih digandeng oleh Belva sedangkan Kaila selepas diturunkan oleh Satya dari gendongan langsung disambut oleh Iva yang menggandeng Kaila.
"Dadah Daddy." Ucap Duo Kay bersamaan.
Belva, Duo Kay dan Iva langsung keluar dari ruangan Iva. Satya punikut keluar karena dirinya lebih merasa nyaman duduk di sofa depan daripada duduk di sofa dalam ruangan Iva.
Beberapa kali ponselnya bergetar karena beberapa pesan masuk. Diraihnya ponsel yang berada di dalam saku celananya. Jordi mengira beberapa pesan untuknya.
From : Jordi
Tuan, berkas sudah siap dan baby sitter juga sudah saya dapatkan. Semua sudah beres.
From : Jordi
Tuan, mengenai rencana yang sudah kita susun maka besok kita akan meninjau secara langsung tanah yang akan kita dirikan proyek.
From :
Berikut daftar beberapa karyawan yang mengikuti dan mengawasi proyek :
1. Siwi
2. Wahyu
3. Andi
4. David
5. Wulan
Anda, saya dan Tuan Roichi juga akan ikut meninjau lapangan.
To : Jordi.
Oke, besok siapkan beberapa keperluan yang harus kita bawa ke Bandung. Selama kita pergi, cari orang untuk menyiapkan kamar bayi.
Satya membalas tiga pesan dari Jordi hanya dengan satu kali balasan saja. Setelah itu Satya kembali mengecek email dan beberapa pesan yang lain dari rekan kerjanya.
Saat asik dengan ponselnya, tiba-tiba seseorang berjalan mendekatinya. Satya masih tampak tak memperdulikan orang tersebut karena pikirannya, mungkin akan memasuki ruangan Iva karena letak sofa juga dekat dengan pintu ruangan Iva.
Rupanya yang mendekat adalah makhluk jadi-jadian yang masih kasat mata. Pria setengah matang yang menjadi asisten Ivanka Elizabeth selama bertahun-tahun dari awal Iva mendirikan brandnya.
Risa panggilan akrabnya, tapi bagi sebagian teman-teman Iva mereka memanggil Risa dengan sebutan Kuncoro. Menggoda maklum bertulang lunak itu agar merasa kesal. Kali ini Risa cukup beruntung tak mendapati teman-teman Iva datang berkunjung melainkan seorang dewa yang berparas tampan dan terlihat menggoda.
"Astaga kenapa tampan seperti ini. Uuhhh otot-otot nya kereeeenn." Gumam Risa mengagumi fisik Satya yang terlihat gagah paripuna. Dengan tatapan mendamba dan merasa meleleh memperhatikan ketampanan suami Belva.
Satya hanya mengenakan kaos berwarna putih dengan celana jeans berwarna hitam. Duduk dengan kedua tangan menyangga di atas kedua lututnya sembari memegang ponselnya. Tatapan mata tajam pada layar ponsel, pikirannya fokus pada pekerjaan yang sedang dibahasnya bersama rekan kerjanya.
Gumam-gumam lirih itu terdengar samar di telinga Satya hingga mengusik pria matang dan tampan itu. Satya menolehkan arah pandangnya pada sosok bertulang lunak dengan gaya kemayu. Sedikit terkejut tapi Satya bisa menguasai ekspresi wajahnya.
'Kenapa orang ini di sini?' Batin Satya memperhatikan pria bernama Risa tersebut.
__ADS_1
"Hai... Om, sendirian saja di mana Nona Belva dan si kembar?" Tanya Rosa basa-basi. Tangan keritingnya melambai-lambai di hadapan Satya menyapa pria tampan dengan tubuh menggoda itu.
Satya melirik aneh dan sedikit ngeri melihat tingkah asisten Iva. "Mereka di studio, ada apa?"
"Sendirian saja. Mau saya temani, om?" Risa menawarkan diri.
Pria melambai itu hendak mengambil posisi duduk di samping Satya. Tak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Risa, Satya kembali fokus pada ponselnya.
Rupanya, Risa hari ini sedikit agresif saat melihat Satya yang begitu menggoda. Dia berusaha mengajak Satya berbicara meski hanya dijawab dengan singkat oleh Satya.
Jengah terus diajak berbicara oleh Risa yang mengganggu kesibukannya maka Satya menatap Risa tapi tak dia sangka Risa justru memberikan kedipan mata genitnya pada Satya. Manik mata Satya melebar terkejut dengan aksi menggelikan sekaligus mengerikan baginya.
'Gila. Tampangnya saja yang good looking tapi kenapa kelakuannya seperti ini.' Batin Satya kembali.
Satya tak habis pikir dengan asisten Iva. Wajah dan juga penampilan Risa terlihat cukup meyakinkan sebagai pria berwajah tampan tapi ketika melihat sikap dan tingkah laku Risa beberapa wanita mungkin akan syok dan down seketika termasuk Satya.
"Bagusnya kita ngopi-ngopi saja yuk, Om." Ajak Risa.
Tak ingin terjebak terlalu jauh dengan makhluk melambai ini, Satya langsung berdiri dan bergegas pergi meninggalkan Risa. Bulu kuduknya berdiri ngeri kala Risa semakin bergerak mendekat saat duduk di sofa yang sama dengannya.
"Om, mau ke mana?"
"Maaf saya harus ke studio, anak dan istri saya menunggu." Ucap Satya menekankan kata anak dan istrinya.
Satya langsung pergi begitu saja saat selesai berbicara. Tak ingin terlalu lama berada di tempat itu yang ada akan membuatnya naik darah.
Studio berada di lantai bawah, Satya berjalan menuruni tangga saat tak sengaja melihat ke arah luar rupanya ada penjual balon dengan berbagai bentuk karakter anak-anak. Pikirannya beralih untuk menghampiri penjual balon tersebut karena Satya ingin membelikan balon tersebut untuk ke dua anaknya.
"Permisi, apakah ini di jual?" Tanya Satya terlebih dahulu agar tidak salah langkah.
"Eh iya, Tuan. Anda mau membeli balon ini?"
"Iya, berapa harganya?"
"Lima belas ribu, Tuan. Silahkan dipilih mau beli yang berbentuk apa?"
Satya memperhatikan beberapa bentuk balon helium tersebut. Saat fokus memilih lagi-lagi dirinya tiba-tiba terganggu dengan kehadiran seseorang. Satya menoleh ke arah orang tersebut, seoramg wanita cantik dan seksi tersenyum manis padanya.
"Kamu?"
"Iya, mas." Ucap wanita itu tersenyum manis pada Satya dan tanpa sadar memanggil Satya dengan sebutan "Mas".
Kening Satya mengerut mendengar wanita yang tak lain adalah Siwi karyawannya yang baru.
"Mas? Kamu memanggil saya apa tadi?" Tanya Satya.
Siwi langsung terbengong memikirkan kembali bagaimana dirinya memanggil Satya.
"Nona Siwi, maaf saya harus mengingatkan ini padamu. Saya adalah bos-mu, jika kamu lupa. Saya tidak ingin istri saya mendengarmu memanggil saya dengan sebutan itu."
Deg...
Hati Siwi terasa sedikit terluka saat Satya mengingatkan dirinya seperti itu. Demi keutuhan rumah tangga Satya bahkan menegur Siwi sedikit kasar menurut wanita cantik dan seksi itu.
"Ah mmm... I-iiya, Tuan. Maaf saya tidak sengaja." Ucap Siwi menundukkan pandangannya.
Satya menatap Siwi, memperhatikan penampilan Siwi yang terlihat sangat seksi dan menggoda dengan pakaian olahraga yang pres body. Ukuran da*da yang padat dengan tinggi tubuh yang standar membuat Siwi terlihat cukup menarik bagi kaum laki-laki.
Merasa dirinya harus segera kembali ke dalam, maka Satya cepat dalam memilih balon helium tersebut. Bentuk unicorn berwarna putih bercampur pink dan bentuk unicorn berwarna putih bercampur biru langsung menjadi pilihan Satya secara singkat. Satu lembar uang berwarna biru diberikan kepada penjual balon lalu Satya berlalu masuk ke dalam kantor Ivalloth.
Siwi terus memperhatikan Satya yang berlalu. Ia merasa kesal karena Satya bersikap mengacuhkan dirinya padahal dirinya berharap Satya bisa bersikap hangat padanya.
"Lihat saja nanti, pria tampan dan seksiku." Gumam Siwi dengan senyum terkembang sinis.
Siwi begitu mengagumi sosok Satya yang terlihat sempurna baginya. Dari segi fisik tak usah diragukan terlebih dari segi materi tentu sudah dapat dipastikan seseorang yang bisa dekat dengan pria itu akan bahagia sepanjang masa.
"Daddy! Daddy bawa apa?" Tanya Kaila.
Satya tersenyum, tali balon yang ada di genggaman tangannya itu dia goyang-goyangkan membuat balon yang terbang tertahan tali itu turut bergoyang.
Belva dan beberapa tim kerja Iva menoleh ke arah Satya. Kaila langsung berlari ke Raha Daddy nya meski saat ini masih berada di depan kamera.
"Sayang, kamu masih harus foto. Kasihan unclenya sudah siap." Ucap Belva.
"Aku mau balon yang di bawa Daddy."
Belva menepuk jidatnya, suaminya sedikit mengganggu pemotretan kedua anak mereka.
"Tidak apa-apa, Kaila dan Kaili bisa berfoto dengan membawa balon itu. Ini cukup bagus dengan konsep kita." Ucap sang fotografer.
Satya langsung memberikan balon tersebut pada Kaila. "Ambillah dan kembali berfoto. Satu untuk kakak Ken."
"Terima kasih, Daddy."
Kaila langsung kembali ke depan kamera saat sang fotografer dan juga orangu di sekitar nya menyuruhnya untuk kembali berfoto. Suasana hati Duo Kay bertambah kali lipat merasa sangat menyenangkan. Pemotretan berjalan dengan sangat lancar dengan hasil yang memuaskan. Sang fotografer mengacungkan jempolnya pada Duo Kay dengan memberikan senyum atas hasil yang memuaskan.
Pemotretan berakhir, keluarga kecil Satya langsung berpamitan untuk kembali. Sama seperti yang Belva katakan bahwa pemotretan tak sampai tiga jam. Duo Kay dapat melakukan tugas mereka dengan sangat baik karena suasana hati mereka yang sangat bagus.
Bertepatan hari libur dan ini dalah kesempatan bagi mereka untuk menikmati waktu bersama keluarga maka Satya mengajak kelurga kecilnya bermain di taman. Kedua orang tua itu mendampingi Duo Kay yang tengah bermain beberapa permainan yang disediakan di taman.
Ayunan, jungkat-jungkit, prosotan dan masih ada beberapa lagi yang mereka coba satu persatu. Satya dan Belva setia menemani kedua anak mereka. Duo Kay merasa sangat bahagia saat ini harapan mereka berkumpul bersama keluarga yang utuh kini sudah terwujud. Dulu bahkan mereka sempat dibully dicap sebagai anak haram hingga membuat mereka trauma. Perlahan semua menghilang dengan bergantinya kebahagiaan yang mereka terima. Satya selalu melimpahkan kasih sayang dan memanjakan mereka.
"Sayang, kita pulang yuk. Kalian pasti sudah lelah." Ajak Satya.
"No, Daddy. Kita masih mau main." Ucap Kaili.
"Sayang, lihat Mami. Mami sedari tadi menemani kalian pasti kelelahan nanti kasihan adik bayi yang ada di perut Mami pasti ikut kelelahan menemani kakak-kakaknya."
Satya menggunakan Belva sebagai alasan karena memang terlihat Belva sudah kelelahan. Dia takut istri dan calon bayinya kenapa-kenapa.
"Mami lelah?" Tanya Kaili.
"Sedikit, sayang." Ucap Belva.
"Mam, kita istirahat dulu ya kalau Kay masih ingin bermain." Ujar Satya.
Belva mengangguk, ia memang sudah merasa kelelahan dan tak kuat lagi untuk menemani Duo Kay.
"Daddy, kita pulang saja." Ujar Kaila.
"Kalian yakin?" Tanya Satya.
Kaila mengangguk demikian juga Kaili.
"Kasihan Mami nanti sakit kalau kelelahan." Ujar Kaila.
"Oke, kita pulang ya. Besok saat libur kita akan kembali bermain di sini." Ucap Satya.
Akhirnya kelurga kecil itu pulang ke rumah mereka tepat saat makan siang. Mbok Yati dan para asisten rumah tangga yang lain sudah menyiapy makan siang untjk keluarga sang majikan.
Merasa telah lapar, mereka membersihkan diri sejenak lalu menikmati makan siang bersama. Meski lelah Belva tetap melayani suami dan anak-anaknya di meja makan. Dirinya berusaha tetap baik-baik saja demi suami dan anak-anak tercintanya.
"Makanlah, sayang setelah ini kalian harus tidur siang." Ucap Belva.
"Iya Mami." Ucap Duo Kay.
Mereka semua makan dengan tenang untuk kali ini. Setelah selesai makan siang bersamaan Satya dan Belva menemani kedua anaknya untuk mengantar mereka tidur siang sampai mereka tertidur lelap.
__ADS_1
"Sayang, ada yang ingin mas bicarakan."
"Ada apa mas?" Ucap Belva selesai menyelimuti kedua anaknya.
Satya mengecup kening kedua anaknya setelah itu menarik tangan istrinya dengan lembut agar mengikutinya duduk di sofa yang ada di kamar Duo Kay.
"Ada apa, mas?" Tanya Belva kembali.
"Semua dokumen baby As sudah selesai. Jordi juga sudah mencarikan baby sitter untjk baby As nanti agar kamu tidak kelelahan menjaga baby As, sayang."
Mata Belva berbinar bahagia mendengarkan bahwa semua kebutuhan baby As sudah selesai. Itu artinya mereka bisa membawa bayi mungil itu kembali ke rumah secepatnya.
"Serius, mas? Lalu kapan kita bawa pulang baby As?" Tanya Belva antusias.
"Kamu bersemangat sekali, sayang."
"Aku senang, baby As tidak perlu lagi tinggal di rumah sakit yang penuh dengan bau obat-obatan. Kasihan dia masih kecil, mas. Lagipula dokter dan suster mengatakan jika perkembangan baby As sangat baik dan cukup pesat bukan."
Antusiasme Belva sudah sama seperti menyambut anaknya yang baru saja lahir. Sejak pertama kali menatap baby As, Belva langsung teringat pada kedua anaknya saat bayi dulu yang tak memiliki keluarga utuh sama seperti baby As. Bedanya dulu Duo Kay diterima kehadirannya oleh dirinya dan juga keluarga Tuan Hector sedangkan baby As justru tak diinginkan oleh keluarganya sendiri. Itulah yang membuat Belva ingin sekali mendekap dan memberikan kasih sayang yang layak untuk bayi mungil yang malang itu.
"Iya mas tahu sebelum kita bawa baby As kita akan membuatkan kamar untuknya lebih dulu. Kita belum mempersiapkan semuanya, sayang. Mas masih terlalu sibuk."
"Iya mas, besok segera panggil tukang untuk renov kamar baby As nanti ya mas." Pinta Belva dengan nada memohon tapi sedikit manja.
Satya tersenyum, tangan kekarnya mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Mas sudah menyuru Jordi untuk mencari orang-orang yang bisa merenovasi kamar bayi. Tapi ada lagi yang ingin mas sampaikan."
"Apalagi mas?" Tanya Belva penasaran.
"Besok mas harus ke Bandung meninjau tanah yang akan kami bangun resort baru. Jadi, kita menjemput baby As nya besok setelah mas kembali. Bagaimana?"
"Oh kapan berangkat dan berapa lama di Bandung?" Tanya Belva.
"Mungkin tiga atau dua hati lagi. Mas hanya satu hari saja setelah itu kembali."
"Oke tidak apa-apa, mas. Ya sudah aku mau istri dulu, capek mas."
"Iya sayang, ayo kita ke kamar."
Satya dan Belva kembali ke kamar mereka, sedari tadi Satya mengusap lembut perut istrinya. Hal yang sudah sering sekali Satya lakukan sejak istrinya hamil. Sampai di kamar Belva langsung membaringkan tubuhnya karena sudah merasa sangat lelah. Satya pun ikut membaringkan diri di samping istrinya. Tangannya sedari tadi masih ingin terus mengusap perut istrinya, tapi yang namanya laki-laki pasti menjalar kemana-mana.
"Sayang, mas sudah tak tahan." Bisik Satya.
Belva yang sudah memejamkan mata berubah membuka matanya dan menoleh ke arah suaminya.
"Mas, tapi mas ingatkan kata dokter kemarin. Bisa bahaya untuk baby kita."
"Tapi mas sudah tak tahan, sebentar saja ya. Pelan-pelan saja, mau ya?"
"Mas, bisakah ditahan dulu sampai bulan depan. Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan bayi kita. Kita ikuti saja saran dokter Raiz ya."
Satya langsung kecewa, sudah lama dirinya ingin merasakan kelegaan yang luar biasa tapi harus terkendala. Istrinya begitu menjaga bayi mereka hingga bersikekeuh mengikuti saran dokter.
Setiap orang pasti berbeda dalam berpikiran dan menginginkan yang terbaik. Satya atau siapapun tak bisa menyalahkan karena semua demi kebaikan diri mereka sendiri. Hanya mereka yang tahu bagaimana kenyamanan dan kebaikan menurut porsi mereka.
**
Pagi harinya Satya sudah berada di kantor membahas pekerjaan bersama Jordi. Tapi tampak Satya kurang bersemangat karena tidak bisa merasakan kelegaan bersama sang istri tercinta.
"Tuan, anda sakit?"
"Tidak, saya baik-baik saja."
"Apa terjadi permasalahan antara anda dan Nyonya?" Tanya Jordi kembali dengan rasa penasarannya.
Biasanya bos-nya itu selalu terlihat bersemangat semenjak menikah dengan Belva tapi kali ini tampak berbeda.
"Iya memang sedikit bermasalah."
Jordi terkejut, rupanya Tuannya tengah memilik masalah rumah tangga.
"Sebesar apa hingga Tuan terlihat kurang bersemangat. Pasti ada jalan keluarnya, Tuan harus bersabar mungkin karena Nyonya masih muda jadi sedikit labil."
"Bukan itu, Jordi. Ini permasalahan pribadi bukan masalah yang... Haahhh."
Satya merasa bingung harus berkata seperti apa. Tidak mungkin jika dirinya menceritakan hal itu pada Jordi yang masih betah melajang hingga saat ini.
"Haahh, sudahlah kamu kembali saja ke ruanganmu. Saya masu sendiri dulu."
Melihat wajah kusut bos-nya Jordi tak berani membantah bisa jadi barang-barang akan melayang seperti berada diluar angkasa. Jordi keluar ruangan Satya, tapi dirinya di kejutkan oleh seseorang yang berada di depan pintu.
"Kamu, ada apa kamu ke sini?" Tanya Jordi pada Siwi.
"Eh... Tu-tuan, maaf saya ingin meminta tanda tangan Tu-tuan Satya."
"Sebaiknya besok saja, Tuan sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Kembalilah ke ruanganmu." Titah Jordi.
Setelah itu Jordi segera masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Siwi yang masih berdiri di depan pintu yang tak tertutup rapat. Grace sedang tidak berada di tempat karena ijin mengenai urusan keluarganya.
Wanita itu nekat masuk ke dalam ruangan Satya, ia melihat Satya frustasi dengan rambut acak-acakan.
"Haahhh... Ini tidak lucu, apa-apa dokter itu melarangku berhubungan dengan istriku sendiri, masa aku harus menahannya sampai berbulan-bulan. Bisa karatan jagoanku." Ucap Satya lirih dengan nada frustasi tapi terdengar oleh Siwi yang sudah masuk ke dalam ruangan.
Siwi berjalan mendekati meja Satya, pria itu tertunduk dengan memgang kepalanya.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Siwi.
Satya terkejut mendengar suara wanita di hadapannya. Kembali matany terbuka lebar saat Siwi berada dihadapannya.
"Kamu? Ada apa kamu ke sini?"
"Meminta tanda tangan, Tuan. Tuan baik-baik saja? Saya bisa membantu Tuan jika Tuan sedang tak baik-baik saja."
"Membantu? Kamu memang mau membantu apa?" Tanya Satya memastikan.
'Apa dia mendengar ucapanku?' Batin Satya.
Siwi berjalan lebih mendekati Satya, pakiao sungguh seksi untuk ukuran pakaian kantoran.
"Saya bisa membantu Tuan merasakan kembali apa yang seharusnya Tuan rasakan." Ucap Siwi dengan berani sembari melirik ke arah bawah Satya.
"Siwi!!! Jaga ucapanmu. Ini di kantor, pandailah menempatkannya diri. Keluar kamu dari sini." Usir Satya.
"Saya rasa ruangan anda cukup privasi, Tuan. Anda yakin tidak ingin? Baiklah tidak masalah, sebagai karyawan yang baik saya hanya ingin membantu saja. Perintah bos adalah kewajiban dan tugas karyawan bukan?"
Satya menatap Siwi dengan tatapan tajam, "Mana file mu." Ucap Satya.
"Ini silahkan anda tanda tangani, Tuan."
Siwi memberikan file yang dibawanya kehadapan Satya. Dengan cepat Satya menandatangani file tersebut. Siwi langsung berpamitan keluar kala melihat tatapan tajam bos-nya.
"Siwi." Panggil Satya saat wanita itu hendak keluar.
****
To Be Continue...
__ADS_1
Terima kasih banyak buat kalian yang masih support sampai saat ini. Thank buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya 🙏🙏🙏