Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 43. Fitnah Pelakor


__ADS_3

Belva kini tak berdaya saat berhadapan dengan Sonia. Wanita matang itu mengeluarkan seluruh amarahnya yang dulu sempat terhenti karena Alya dan Pak Jajak menyeretnya menjauhi Belva.


Sumpah serapah, makian dan hinaan dilontarkan Sonia pada wanita muda malang itu. Belva, wanita itu sebenarnya tak tahu apa yang terjadi padanya dulu. Kejadian itu terjadi tanpa sadar dari Belva sendiri.


Alya tersenyum puas, senyum sinis dan mengejek saat melihat Belva di permalukan seperti itu oleh Mommy nya. Bahkan gadis itu ikut memaki Belva, ia juga turut meluapkan emosi dan kekesalannya yang sejak dulu ditahannya.


"Lihatlah ini... !! Wanita ini adalah wanita penggoda. Beberapa tahun yang lalu dia menggoda suami saya ketika dia ketahuan hamil oleh saya lalu dia menghilang pura-pura meninggal tapi sekarang dia kembali lagi. Betapa liciknya wanita ini." Ucap Sonia dengan lantang.


"Pasti dia sekarang bisa hidup lebih enak juga hasil dari menggoda suami orang. Padahal dulu dia hanya seorang pembantu." Ucap Alya dengan wajah mengejek.


Pengunjung dan pegawai butik berbisik saat mendengar penuturan ibu dan anak itu. Para pegawai bahkan tak menyangka jika pemilik butik adalah seorang wanita penggoda. Mereka juga jarang melihat suami dari pemilik butik bahkan diusia yang masih muda sudah memiliki anak.


"Dan apa kalian yang mengenalnya pernah melihat wanita ini bersama suaminya ? Dia tak memiliki suami tapi memiliki anak. Pasti anak itu adalah anak hasil berselingkuh dengan suami orang." Ucap Alya dengan teganya memfitnah Belva tanpa tahu kebenarannya.


Entah gadis itu tahu kebenarannya atau tidak yang jelas kata-katanya sungguh sengaja dilontarkan agar Belva merasa malu dan juga diremehkan oleh orang lain. Dengan tuduhan itu pasti orang-orang akan menganggap remeh seorang Belva karena telah dicap sebagai penggoda suami orang.


"Alya !!! Jaga ucapan mu, jangan kamu bawa anak-anakku." Ucap Belva sembari terisak menangis dihadapan beberapa orang.


"Diam kamu wanita penggoda. Kamu masih muda tadi sudah belajar menjadi pelakor. Tidak pernah mendapatkan didikan kamu huh ?!!" Bentak Sonia.


Sakit... Sungguh sakit hati Belva, semua kehidupannya direndahkan oleh dua orang yang pernah dihormatinya. Dua orang yang pernah dianggapnya sebagai orang yang baik meski derajat mereka tak sama.


"Cukup Nyonya !!!" Teriak Bella dengan lantang. Ia tak tega melihat Belva majikan dan orang yang sudah dianggap sebagai keluarganya itu diperlakukan dengan tak baik.


"Anda orang yang cukup terpandang saya kira anda juga orang yang bijaksana dan pintar tapi kelakuan Anda sungguh tidak mencerminkan seseorang yang terpandang dan bijaksana. Apakah seperti ini perilaku wanita yang high class ?? Penampilan high class tapi perilaku low class." Ucap Bella tanpa merasa takut pada Sonia.


Bella memang tipe perempuan yang lemah lembut sama seperti Belva tapi ia juga wanita yang bisa berubah menjadi lebih tegas jika sesuatu yang dianggapnya sudah melenceng dari kebaikan.


"Untuk gaun anda kami akan mengganti rugi atau jika perlu kami akan mengembalikan uangnya pada anda. Tak perlu berbuat hal murahan seperti ini. Silahkan pintu keluar ada disana." Ucap Bella tegas.


Matanya menatap tajam ke arah Sonia dan juga Alya. Kedua wanita berhati buruk itu menatap kesal dan marah pada Bella. Sonia bersiap mengangkat tangannya yang akan dilayangkan pada Bella.


"Stop !! Ada apa ini ?"


Tangan Sonia tergantung di udara. Mereka semua menatap ke arah orang itu. Kembali mereka terdiam, mereka cukup tahu siapa yang datang di butik itu.


Maria, dia adalah putri dari Tuan Maxim teman Belva. Ia melihat keributan terjadi di dalam butik temannya itu. Niatnya ingin mengunjungi karena telah lama tak pernah bertemu sekaligus akan melihat-lihat koleksi pakaian di butik itu.


Tapi nyatanya ia melihat perdebatan dan melihat temannya telah tersimpuh dilantai dengan wajah yang kacau dan berderai air mata.


"Anda ? Bukankah Anda istri Tuan Satya ?" Tanya Maria memastikan.


"Jika memang benar Anda istri Tuan Satya, saya tak menyangka sungguh memalukan sekali perilaku istri Tuan Satya."


Sonia terdiam, kesal masih jelas ia rasakan. Marah tentu masih ada dan tak bisa hilang begitu saja. Tapi ia tak bisa berkata-kata saat ini, melihat wanita yang ada dihadapannya. Yang dirasakan saat ini bertambah yaitu khawatir. Maria adalah putri dari rekan bisnis suaminya, ia memang mengenal Maria karena beberapa kali mereka bertemu dala pertemuan keluarga para pebisnis. Maria dilatih sejak awal untuk terjun dalam dunia bisnis oleh ayahnya berbeda dengan Alya yang susah diatur dan Satya memang tak mengharapkan lebih pada putrinya itu.


"Kamu berani..."


"Alya..." Sonia menginterupsi ucapan putrinya agar tak melanjutkan kalimatnya.


"Alya kita pergi." Putus Sonia.


Wanita itu menggandeng lengan putrinya untuk keluar dari butik. Langkah cepatnya membuat Alya merasa bingung kenapa Mommy nya bisa bersikap seperti itu saat wanita yang tak dikenalnya muncul.


"Mom apa-apaan sih ? Harusnya kita tidak bisa biarkan Belva begitu saja. Kita harus mempermalukan perempuan kampung itu sampai ke dasar bumi. Kenapa hanya karena wanita tak jelas itu kita harus pergi."


"Diam kamu Alya. Wanita itu adalah putri rekan bisnis Daddy mu. Bisa gawat kita kalau Daddy mu tahu apa yang kita lakukan sekarang." Ucap Sonia.


Kemungkinan terburuk jika Maria membicarakan permasalahan ini pada Ayahnya maka bisa jadi akan mencoreng nama baik Satya dan berujung pada memburuknya kerjasama antara Tuan Maxim dengan Satya.


****


Jalanan ibukota memang selalu macet, hanya saat tengah malam saja akan sedikit lengang namun tak benar-benar sepi dari kendaraan yang melintas.


Seperti saat ini Satya dan Jordi yang terjebak macet saat pulang dari meninjau proyek lapangan. Mereka harus segera pulang ke kantor sebelum makan siang.


"Apa tidak bisa kamu jalan lebih cepat Jordi." Protes Satya.


"Tuan ini macet sekali."


"Tidak bisakah kamu cari jalan pintas ?"


"Sebentar di depan sana kita bisa belok ambil jalan pintas."


"Hemm.." sesingkat itu tanggapan Satya.


Jordi menunggu dengan mobil yang bergerak pelan akibat kemacetan. Memang jika menggunakan mobil maka tidak akan bisa bebas selap selip sana sini. Mereka yang menggunakan motor akan lebih mudah lolos dari jebakan kemacetan jalanan ibukota.


Tepat di pertigaan jalan Jordi membelokkan arah mobilnya. Dan benar saja jalanan itu cukup lengang dan bisa digunakan untuk jalan dengan kecepatan tinggi.


"Jordi, ini bukannya jalan area rumah Bi Imah ya ?"


"Iya Tuan."


"Oh ya bagaimana kamu sudah tahu dimana Bi Imah tinggal ?"


"Sudah Tuan, anda mau lihat rumahnya ? Dari informasi yang saya dengar saat itu Bi Imah tinggal bersama cucunya karena seringkali menjaga dan bermain bersama anak kecil dan mereka baru saja tinggal di rumah itu baru beberapa bulan saat itu."


"Cucu ? Tapi dia bilang saat ini tinggal bersama saudara jauh. Dan setahuku Bi Imah tak memiliki keluarga. Aku masih penasaran karena menurut Mbok Yati bahkan Bi Imah tak datang sama sekali setelah keluar dari rumah sakit."


"Sebaiknya kita lihat saja rumahnya Tuan. Atau Tuan mau mencari informasi lagi mengenai Bi Imah nanti saya akan bertanya pada tetangga rumah Bi Imah."


"Ya aku ingin melihat dimana rumahnya."


Jordi menuruti perintah Satya, mobil itu diarahkan pada jalanan menuju rumah Budhe Rohimah. Tak jauh dari jalanan yang mereka lalui mereka sampai ke rumah itu bersamaan dengan Budhe Rohimah yang keluar dari sebuah mobil.


"Bi Imah." Panggil Satya dari dalam mobil. Pria itu keluar dari mobil dan menghampiri Budhe Rohimah.


Wanita paruh baya itu lagi-lagi terkejut. Entah berapa kali hari ini ia merasa terkejut akan kehadiran seseorang yang ingin mereka hindari.


Secepat mungkin Budhe Rohimah menyuruh menyuruh Duo Kay untuk tetap di dalam mobil dan meminta sopir untuk tetap tinggal sampai urusan selesai meski Budhe Rohimah harus membayar ongkos lebih.


"Tu-tuan... Kenapa ada bisa ada disini lagi ?"


"Saya kebetulan lewat mencari jalan pintas. Jalan utama macet." Alasan yang sesuai fakta. Budhe Rohimah pun menyetujui alasan itu.


"Oh iya Tuan."


Entah bingung apalagi yang harus diucapkan oleh Budhe Rohimah saat ini. Ia tak memiliki topik pembicaraan lagi. Ia merasa urusannya dengan keluarga mantan majikannya itu sudah selesai.


"Bi Imah tinggal di rumah ini ?" Tanya Satya.


"Aamm... Iya sekitar sini saya tinggal." Jawaban yang tidak membantah ataupun menyetujui.

__ADS_1


"Boleh saya mampir Bi ?" Pertanyaan yang semakin membuat Bi Imah gugup dan bingung. Jantungnya yang telah tua itu kembali berdegup kencang.


"Bo-boleh Tuan. Tapi... Anu... Maaf."


"Haduh... Pakai alasan apa ya ?" Batin Budhe Rohimah menjerit. Ia tak pernah berada diposisi seperti ini sebelumnya.


"Kenapa Bi ?"


"Itu... Saya tidak enak dengan pemilik rumah Tuan. Dia sangat galak tidak suka menerima tamu. Jadi, lain kali saja Tuan saat pemilik rumah tidak ada di rumah."


Saat Budhe Rohimah berbincang dengan Satya. Duo Kay yang berada di dalam mobil membuka kaca mobil sebelah untuk membuang bungkus permen. Disaat itu Jordi juga berada tepat di dekat jendela mobil. Tangan kecil itu tak sengaja menyenggol lengan Jordi. Sontak Jordi menatap ke arah dalam mobil. Tangan Kaila lah yang menyenggol lengan Jordi.


Kaili fokus ke gadgetnya, sedangkan Kaila seperti biasa gadis kecil itu juga hobi dengan makan. Ia lebih sibuk dengan makanan-makanannya.


"Maaf, Kaila tidak sengaja Om eh Opa." Jawab Kaila.


"Opa ? Dia memanggilku Opa. Setua itukah aku ?" Gumam Jordi dalam hati.


"Bocah laki-laki itu bukankah dia yang waktu lalu bersama Tuan Hector dan Tuan Roichi ?"


Kaila yang tak mendapatkan jawaban atas permintaan maafnya. Jordi justru menatap tanpa menjawab membuat Kaila sedikit ketakutan. Gadis kecil itu lantas menutup jendela mobil dengan cepat.


"Tuan maaf... Ini sudah hampir makan siang." Ucap Jordi mengingatkan Satya.


Satya dan Budhe Rohimah sama-sama menoleh ke arah Jordi yang ada di sebelah mobil.


"Ya sudah lain kali saya akan mampir. Yang penting saya sudah tahu dimana Bi Imah tinggal. Saya duluan Bi." Pamit Satya.


"Iya Tuan... Iya silahkan. Hati-hati Tuan."


Saat Satya dan Jordi berjalan ke arah mobil mereka. Dengan cepat Budhe Rohimah menyuruh Duo Kay untuk segera turun dan masuk ke dalam rumah. Ia membayar uang lebih pada sang sopir.


Baru Satya duduk di dalam mobil kedua netranya menatap dua sosok bocah kecil yang digandeng oleh mantan pembantunya itu. Merek bertiga masuk ke dalam pagar bercat hitam itu dan berjalan ke arah rumah.


"Siapa dua bocah kecil itu, apa itu yang dimaksud cucu Bi Imah ?" Gumam Satya lirih.


Mobil yang ditumpangi oleh kedua pria tampan dan gagah itu kembali bergerak meninggalkan jalanan area rumah Belva. Jordi, pikirannya masih melayang pada dua bocah kecil itu terutama pada sosok bocah lelaki yang fokus dengan gadget nya. Dia yakin jika bocah itu adalah bocah yang sama saat pertemuan bersama Tuan Hector dan Roichi.


"Apa hubungannya bocah itu dengan Bi Imah ? Bukankah waktu itu kalau aku tidak salah ingat Tuan Hector mengatakan jika bocah itu adalah cucunya." Batin Jordi bergumam. Pikirannya kini berpikir keras mengenai temuannya kali ini.


"Kenapa aku jadi penasaran sekali dan tertarik untuk menyelidiki semua ini." Gumam Jordi.


"Jordi ada apa denganmu ?"


"Ah tidak Tuan."


****


Tak disangka kejadian beberapa hari yang lalu di butik itu ternyata ada salah satu orang tua siswa sekolah TK Duo Kay yang berada disana saat itu. Datang mengunjungi butik itu karena mendengar akan koleksi pakaiannya yang bagus-bagus. Tapi siapa yang tahu justru kegiatan cuci matanya tergantikan dengan adegan istri sah melabrak seorang pelakor.


Apa yang dilihat dan didengarkannya pada saat itu kini menjadi konsumsi lezatnya saat berkumpul bersama orang tua siswa yang lain. Tugas seorang ibu-ibu yang memiliki anak TK pasti adalah menjemput atau mengantar anaknya di sekolah. Pertemuan dan perkumpulan saat di sekolah itu menjadi sumber yang sangat cepat bak api yang menyambar bensin.


Cerita mengenai kejadian rusuh di butik dengan topik istri sah melabrak seorang pelakor dengan cepat merebak dikalangan para orang tua siswa TK Seven Blue School. Mirisnya ada beberapa anak TK yang juga mendengar gosip tersebut. Gosip yang diperbincangkan diantara para orang tua tanpa menyadari jika anak mereka juga turut mendengarkan.


"Yang mana orangnya Bu ?"


"Itu yang suka antar anaknya pakai mobil warna putih. Yang anaknya kembar itu."


"Yang kembar cowok cewek itu ? Kalau yang itu bukannya satu kelas sama anakmu ya ?"


"Oh itu, dia Kaili sama Kaila Mah." Jawab bocah itu.


"Kemarin Mama Syarif cerita katanya pas berkunjung di butik itu malah melihat aksi labrak melabrak. Mamanya itu Kaili dan Kaila itu pemilik butiknya. Dia itu pelakor."


"Astaga yang benar kamu jangan sampai fitnah loh." Ada juga yang belum sepenuhnya percaya dengan cerita tersebut.


"Eh aslinya ya jujur saja aku tidak tahu tapi Mama Syarif lihat sendiri pakai mata kepalanya sendiri. Bahkan dia sampai cerita kalau si Kaili sama Kaila itu anak haram loh."


"Ya ampun. Kalau itu benar terjadi, justru aku kasihan sama anak-anaknya. Yang berkelakuan buruk Mama nya eh anaknya kena hujat juga kan."


"Iya benar. Aduh amit-amit semoga suami kita dijauhkan sama wanita seperti itu ya."


"Iya Bu. Pantas saja setiap acara keluarga tidak pernah lihat Papa nya si kembar. Ternyata tidak punya bapak toh."


"Eh shuutt... Diam itu orangnya datang. Bubar."


Para orang tua siswa yang tengah berkumpul itu membubarkan diri saat melihat Belva mengantar kedua anaknya. Selalu seperti biasa Belva yang ramah akan menyapa para orang tua siswa. Tapi ada yang berbeda untuk kali ini. Mereka ada yang balas tersenyum tapi lebih banyak senyum paksa dan tatapan sinis.


Perasaan Belva sudah mulai tidak enak dengan reaksi para ibu-ibu itu. Tapi ia tetap melakukan tugasnya mengantar Duo Kay hingga depan kelas.


"Anak-anak Mami, belajar yang pintar ya jangan nakal. Mami tinggal ya."


"Iya Mami." Ucap Duo Kay. Mereka mencium tangan Belva dan mencium wajah Mami mereka sebelum masuk kelas.


Kembali saat melintas para ibu-ibu yang mulai berhamburan menuju mobil atau ada juga yang menunggu di taman. Mereka semua menatap Belva dengan tatapan aneh. Penasaran tapi ada juga yang masih tak percaya.


"Yang mana sih orang yang kamu bilang pelakor katanya anak nya sekolah disini." Tanya orang tua siswa yang tak sadar akan kehadiran Belva.


"Katanya yang anaknya kembar cowok cewek. Sudah ah kamu kepo."


"Mamanya Kaili sama Kaila ya ?"


Deg...


Hati Belva rasanya begitu sakit. Ia mendengar gosip itu dari bibir orang tua siswa. Matanya berkaca-kaca, ia tahan sekuat mungkin lalu berjalan cepat menuju mobilnya.


"Heh... Mulut kalian tuh ya. Kalian tidak sadar orangnya baru saja lewat. Kalau mau bergosip jangan kencang-kencang." Protes orang tua siswa yang lain.


Tangis Belva tumpah saat berada dalam mobilnya. Tuduhan yang mereka tak tahu kebenarannya seperti apa. Belva sendiri ia tak merasa menggoda suami orang. Semua itu berawal dari kesalah-pahaman, lebih tepatnya jebakan dari orang yang justru dekat dengan mereka sendiri.


Belva berlalu dengan mobilnya, air mata masih saja menetes kala ia kembali menuju butiknya. Malu ? Iya ada rasa malu saat dirinya dipergunjingkan tanpa sesuai fakta. Sakit ? Sudah jelas sejak pertama kali beberapa tahun yang lalu tuduhan sebagai wanita penggoda itu muncul dari bibir Alya. Khawatir ? Tentu saja, ia khawatir jika gosip itu akan berpengaruh pada mental kedua anaknya jika mendengar gosip pedas itu.


Kabar akan gosip yang beredar itu nyatanya juga berpengaruh terhadap bisnis yang kini dikelolanya. Semua beberapa pesanan yang masuk tiba-tiba ada yang dibatalkan secara sepihak bahkan mereka sampai ada yang tak perduli dengan DP yang sudah masuk.


Hanya karena gosip yang mereka tak tahu kebenarannya itu mampu mencuci otak cerdas mereka untuk melanjutkan pemesanan. Mereka yang memesan itu adalah kebanyakan dari kalangan kelas atas. Sebegitu besarnya kah efek yang akan berpengaruh buruk terhadap citra mereka saat menggunakan pakaian hasil karya Belva. Hingga dengan mudahnya membatalkan pesanan.


Alya yang mendengar kabar itu tersenyum sangat puas. Sudah seperti orang gila yang kehilangan akal sehat bukan hanya senyum lagi tapi tertawa terbahak-bahak.


"Belva... Belva... Kamu mau lawan aku itu tidak akan mungkin terjadi. Kamu hanyalah orang rendahan, manusia dengan mental pembantu saja mau bergaya seperti seorang majikan." Alya lagi-lagi tertawa terbahak-bahak. Senyum mengejek dengan menyesap satu batang rokok.


Flashback On


Tapi bukan... Bukan koleksi itu yang kini menjadi tujuan Alya. Matanya mencari baju yang sudah diincarnya.

__ADS_1


"Ada yang bisa aku bantu Nona ?" Tanya pegawai itu.


"Ruangan di dalam itu bisa kulihat ? Koleksinya bagus-bagus."


"Tentu Nona, tapi maaf baju-baju itu tidak bisa dibeli lagi karena sudah ada yang memesan."


"Tidak masalah. Saya hanya ingin lihat-lihat saja."


Dengan didampingi oleh pegawai butik Alya memasukinya ruangan itu. Ruang kaca yang transparan sehingga bisa dilihat dari arah luar beberapa gaun yang terpasang di beberapa manekin. Memang ruangan itu khusus untuk pakaian-pakaian yang dipesan secara ekslusif. Tak sembarang orang bisa masuk karena harus didampingi oleh pegawai butik.


"Ck... Orang ini kenapa masih disini sih." Gumam Alya kesal dalam hati.


"Siapa perancang gaun-gaun ini ? Terlihat sangat cantik-cantik." Ucap Alya.


"Itu yang merancang pemilik butik ini Nona."


"Maaf Nona, apakah boleh saya tinggal sebentar, saya ingin kebelakang dulu. Kalau ada sesuatu bisa meminta bantuan pegawai yang ada di luar."


Pegawai itu sudah tak tahan karena panggil alam. Sejak tadi ia ingin ke toilet karena ada pelanggan masuk maka ia disuruh oleh teman-temannya mendampingi Alya.


"Tidak masalah. Santai saja." Ucap Alya yang biasanya kasar dan arogan kini berubah sedikit kalem agar pegawai itu tak sungkan untuk segera pergi.


"Terima kasih Nona saya permisi dulu."


Alya menatap kepergian pegawai itu dengan tersenyum tipis. Ia memperhatikan sekitar, dirasa aman lalu mendekat ke arah gaun milik Mommy nya.


"Uuuh... Gaun yang sangat bagus. Tapi mau bagaimana lagi. Nasibmu akan sama hancurnya dengan pegawai butik ini." Alya tersenyum licik.


Dengan semangat ia robek kain itu hingga terkoyak. Gaun yang indah itu kini berubah bila diamati dengan detail. Tapi jika dalam jarak yang jauh tidak akan terlihat koyak.


Selesai dengan apa yang dilakukannya, ia keluar secara diam-diam. Beberapa pegawai sebenarnya tak melihat jika dirinya dan pegawai yang tadi masuk ke dalam ruangan khusus pemesanan itu. Yang mereka tahu pegawai tadi mengantarkan Alya ke ruangan Bella.


Flashback off


"Jangan pernah coba-coba melawanku Belva. Ini belum seberapa. Aku akan benar-benar melenyapkanmu setelah ini." Alya masib bermonolog.


Beberapa hari kemudian, Sonia kembali menghampiri Belva di butik ibu muda itu. Teringat akan cerita Alya yang mengatakan jika Belva memiliki dua orang anak lelaki dan perempuan. Sonia takut jika anak itu benar-benar anak dari Satya karena saat Belva pergi wanita itu dalam keadaan hamil. Pengusiran yang dilakukannya semata-mata agar tidak ada keturan Satya yang berjenis kelamin laki-laki. Itu bisa mengancam posisinya dan juga Alya sebagai pewaris.


Sonia sampi di butik ia masuk begitu saja, dengan bahasa lain tanpa permisi. Sapaan para pegawai butik diabaikan oleh wanita angkuh itu.


"Mana Belva ? Belva... Keluar kamu !!"


"Ada apa lagi ini ?" Tanya bella yang keluar dari ruangannya karena mendengar teriakan.


"Mana Belva !! Suruh dia keluar."


"Nona tidak ada di tempat. Bukankah uang anda juga sudah kami kembalikan seluruhnya. Silahkan keluar dari sini jangan membuat keributan lagi disini."


"Heh siapa kamu berani mengusir saya huh !!"


"Lihat saja jika wanita itu tidak keluar, kalian tahu sendiri akibatnya. Aku bisa saja menghancurkan tempat ini dengan mudah."


"Siapa anda bisa seenaknya bertindak ? Anda bisa seenaknya hanya karena bersuamikan seorang pebisnis terkenal saja kan makanya anda banyak gaya." Ucap Bella tak kalah tajam.


Lagi-lagi keributan terjadi karena ulah Sonia kembali. Belva mendengar suara ribut pun mau tak mau keluar untuk memastikan keadaan.


Matanya terpejam sejenak saat melihat siapa yang datang dan membuat keributan kembali. Ia mendekat, ini tak bisa dibiarkan, orang itu datang karena bermasalah dengan dirinya. Ia tak mungkin menghindar atau bersembunyi di belakang orang lain.


"Nyonya ada apa anda datang ke sini lagi ?" Dengan memberanikan diri Belva bertanya dan memecah keributan yang terjadi.


"Oh akhirnya wanita penggoda ini muncul juga." Ucap Sonia sinis.


Tangannya mencengkram erat lengan Belva dan menariknya dengan kasar untuk memasuki mobilnya. Bella dan yang lain berteriak mencoba untuk menghilangkan tapi didorong dengan kasar oleh Sonia.


"Nyonya, hentikan jangan berbuat kasar pada mereka. Aku akan mengikutimu." Ucap Belva yang tak tega orang-orang disekitarnya terluka karena dirinya.


"Awas kalian !!" Bentak Sonia.


Kasar Sonia mendorong Belva memasuki mobilnya. Wanita yang kini bisa dibilang sudah gila itu mengunci mobilnya sendiri agar tak ada yang bisa masuk dan tak ada yang bisa keluar dari dalam mobilnya.


Kedua pipi Belva di tarik dan ditekan oleh Sonia, hingga terasa sakit bagi Belva. "Katakan. Dimana anak itu ?"


"Ma-maksud Nyonya ?" Wajah ketakutan itu sangat terlihat jelas di wajah cantik Mami Duo Kay.


"Anak yang kamu kandung, benih dari Satya. Dimana anak itu huh ?!! Anak itu tak pantas hidup." Ucap Sonia dengan kejam tanpa memikirkan Belva yang terasa sakit mendengarnya.


Sonia adalah seorang ibu tapi bagaimana bisa ia ingin mengatakan hal seperti itu. Tak pantas untuk hidup bagaimana ? Jika.sang pemberi hidup saja nyatanya masih mengijinkan anak-anaknya hidup meski mereka terombang-ambing di sungai beberapa tahun yang lalu. Duo Kay yang masih berbentuk janin itu masih bisa bertahan hingga detik ini. Itu artinya mereka pantas untuk hidup bahkan ketika mau menghampiri mereka.


"Katakan dimana !!! Satya tak akan mengakui anak haram di luar pernikahan. Jadi, lebih baik aku akan melenyapkan anak itu daripada menjadi duri bagi kami suatu saat nanti."


"Anak apa maksud Nyonya. Apakah Nyonya ingat... saat saya pergi berapa usia kandunganku... di saat Nyonya mengusir ku aku bahkan sudah berniat bunuh diri hingga hanyut di sungai. Bagaimana bisa... ka-kandungan yang masih sangat kecil itu bisa bertahan hidup Nyonya." Isakan dan air mata keluar dengan deras. Suara Belva tak bisa lancar dalam menceritakan masa lalunya itu.


Belva mencoba memberanikan diri, ia harus menutupi keberadaan kedua anaknya. Itu semua demi kebaikan dan keselamatan kedua anaknya. Sudah bertahun-tahun lamanya, Sonia masih saja kekeuh untuk melenyapkan benih Satya yang dikandung oleh Belva.


Wanita gila itu terdiam dan berpikir, ia melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar hingga wajah Belva berpaling.


"Nyonya... Saya mohon ampuni saya. Saya tak pernah berniat seperti itu. Itu hanya salah paham."


"Cih salah paham kamu bilang ? Aku tak percaya padamu. Dasar anak tidak tahu diri kamu. Hingga kamu hamil itu salah paham ?"


Meski Sonia tahu kebenarannya seperti apa, tapi ia tetap mengintimidasi Belva. Semua itu semata-mata untuk mencari anak yang dikandung Belva.


"Ya... Ya memang aku hamil. Tapi anak itu bagaimana mungkin bisa bertahan saat aku hanyut di sungai beberapa hari. Nyonya tak perlu khawatir, anak itu telah tiada."


"Alya tak mungkin membohongiku, kamu punya anak." Ucap Sonia dengan tatapan tajam.


"Ya Alya tak berbohong, itu anak ku tapi bersama pria lain. Pria yang menyelamatkanku saat hanyut di sungai."


"Apa setelah pengusiran itu aku tak berhak menjalin hubungan dengan pria lain Nyonya ? Sejak saat itu aku tak pernah lagi mengganggu kehidupan kalian bukan ?" Ucap Belva kembali dengan pandangan yang menatap iba pada Sonia.


Sonia masih saja menatap tajam.pada Belva. Tapi otaknya sudah mulai berpikir akan apa yang dikatakan oleh Belva. Semua itu tidak salah dan masuk akal.


"Keluar kamu dari mobilku." Usir Sonia. Dengan cepat Belva keluar dari dalam mobil dan berlari masuk ke dalam butik.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2