
Setiap kalimat yang Satya lontarkan untuknya tam lantas masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ucapan Satya yang panjang lebar itu ternyata bisa Belva simpan dan berusaha mengolah di dalam kepalanya.
Dipejamkan matanya, dan ditariknya napas dalam-dalam lalu di keluarkan dengan perlahan. Menenangkan hati dan pikiran yang tiba-tiba saja kalut dan los control. Berteriak-teriak di rumah orang, membuat Belva merasa semakin kurang nyaman karena rasa malu.
"Tuan, maafkan saya bersikap tak sopan di rumah anda. Saya rasa kami harus segera pulang. Permisi."
Belva berusaha untuk turun dari ranjang berukuran sedang milik satya itu. Tangan usahanya dihentikan oleh Satya. Tangannya dicekal oleh pria itu agar tak keluar dari ruang kerjanya.
"Apa kamu tega membuat anak-anak bersedih ? Mereka terlihat sangat bahagia saat datang ke rumah ini terlebih melihat kamar baru mereka."
"Tapi saya tidak bisa berada disini Tuan." Ujar Belva.
Satya menarik tangan Belva hingga wanita itu kini sudah berada dalam dekapan Satya. Kembali sikap Satya terasa lembut dan hangat. Pria itu tak bisa menahan perasaannya saat ini. Berusaha menenangkan Belva membuatnya tak bisa bersikap dingin yang akhirnya tak bisa menahan perasaannya.
"Saya tahu kamu trauma di rumah ini. Banyak sekali kejadian menyakitkan untukmu. Tapi bisakah kamu belajar untuk menghilangkannya ? Demi anak-anak. Ini juga rumah mereka yang otomatis kamu pasti juga mau tak mau harus menginjakkan kakiku di rumah ini." Ucap Satya lembut.
"Demi anak-anak Belva. Kaili dan kaila." Imbuh Satya.
Saat ini senjata yang ampuh untuk membantu menenangkan Belva agar tak lagi terbelenggu dengan masa lalu menyakitkan bagi wanita itu adalah Duo Kay.
Belva berpikir kembali, berusaha menggunakan pikiran tenangnya. Jika demi anak-anaknya tentu Belva akan melakukan segalanya. Tak perduli harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Dalam dekapan Satya, Belva tak memberontak sekalipun. Perasaannya saat ini tak bisa ia jelaskan seperti apa. Ia hanya bisa mengangguk saat mendengar ada nama anak-anaknya yang disebut.
Satya bernapas lega saat merasakan gerakan anggukan kepala Belva. Bibirnya tersenyum tipis, tetap terus ada jalan baginya mendekati Duo Kay sekaligus perlahan mendekati Belva.
Tak ada lagi pembicaraan tapi Satya tak melepaskan pelukan pada Belva. Wanita itu bahkan tak membalas pelukannya tapi Satya tak perduli. Bisa mendekap ibu dari anak-anaknya saja sudah beruntung bagi Satya.
Ingin egois Satya untuk kali ini. Melupakan jika Belva adalah istri dari rekan kerjanya, Roichi. Bukan ingin menjadi seorang pembinor tapi rasanya keinginannya tak bisa dicegah saat ini.
Mengertilah tentang bagaimana perasaan seseorang yang sedang mendambakan lawab jenis. Pasti rasanya hanya ingin terus berdekatan bahkan ingin terus dekat setiap saat setiap waktu.
Usapan lembut mampu Belva rasakan pada kepala dan punggungnya. Terasa nyaman bagi wanita itu hingga ia tak melepaskan pelukan yang seharusnya ia coba lepaskan.
Hingga beberapa menit mereka berdua masih saja menempel erat dalam sebuah pelukan. Satya sudah jelas seakan enggan untuk melepaskan Belva.
"Tuan..." Lirih Belva.
"Hem..." Gumam Satya. Pria itu terlalu nyaman.
"Bisakah lepaskan saya ?" Ucap Belva.
"Bisakah seperti ini sebentar lagi ?" Tawar Satya.
Sungguh, Satya masih belum rela jika melepaskan pelukan itu. Satya pun merasa nyaman dengan memeluk Belva. Hatinya merasa bahagia dan tenang saat itu.
Belva mencerna kalimat tanya Satya. Entah kenapa Satya mengucapkan hal itu. Wanita itupun bingung, memilih diam karena masib merasa bingung dengan pertanyaan Satya.
"Saya ingin melihat Kaili dan Kaila. Lepaskan saya Tuan." Ucap Belva beberapa detik kemudian.
Mendengar nama Duo Kay, Satya pun juga tak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa terus menahan Belva untuk tetap berada di pelukannya.
Memang sudah menjadi takdir jika kehadiran Duo Kay rasanya bisa membuat Satya maupun Belva mampu mengalah satu sama lain. Dan bukan tidak mungkin jika karena Duo Kay mungkin mereka akan bisa bersatu.
Satya melepaskan Belva, dia menatap wanita dambaan nya itu. Dasar memang Satya saat ini tak mau melepaskan kesempatan yang baik untuknya. Aksinya sudah mulai gencar sepertinya untuk mendekatkan Belva.
"Kita temui anak-anak bersama." Ucap Satya dengan sangat lembut. Mungkin jika Belva sudah terpikat dengan Satya bisa saja wanita itu akan meleleh mendengar kalimat lembut dan hangat itu.
Tak hanya ucapan lembut tapi juga perlakuan Satya saat ini pun lembut pada Belva. Hilang sudah kesadaran pikiran Satya dan berganti dengan hasrat perasaan mendambanya pada Belva. Dikecupnya pelipis Belva oleh Satya membuat wanita itu terdiam membeku.
Saat perlakuan lembut itulah didapatkan dari Satya. Belva rasa sangat berbeda dengan perlakuan lembut dari Roichi. Dirinya merasa sedikit berdegup lebih kencang, grogi dan canggung.
"Ayo, anak-anak pasti mencari kita." Ajak Satya yang lagi-lagi masib terdengar lembut. Diraihnya telapak tangan Belva dan digenggamnya serta ditariknya keluar dari ruang kerjanya.
Belva hanya bisa memperhatikan tingkah Satya saat ini padanya. Berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap Satya yang bisanya dingin terhadap nya.
Wanita itu pasrah melangkahkan kaki mengikuti Satya yang berjalan lebih dulu. Jalannya menjadi tak fokus hingga Belva menubruk tubuh belakang Satya saat pria itu berhenti.
"Auuu..." Pekik Belva lirih.
Satya menoleh pada Belva sejenak. Lalu kembali menatap ke depan dimana Mbok Yati ada di hadapannya.
"Neng Belva sudah sadar ? Apa baik-baik saja Tuan ?" Tanya Mbok Yati.
"Dia baik-baik saja. Ada apa Mbok ?" Tanya Satya.
"Ah tidak Tuan... Saya kira masih belum sadar, saya khawatir pada Neng Belva."
Satya mengangguk menanggapi ucapan Mbok Yati. Kembali pada orang lain Satya bersikap dingin. Berbeda jika bersama Duo Kay dan Belva tadi.
"Saya baik-baik saja Mbok Yati tidak perlu khawatir." Ucap Belva menanggapi Mbok Yati.
"Sudah dengarkan Mbok ?" Tanya Satya dingin.
"Oh iya Tuan... Kalau begitu saya permisi." Ucap Mbok Yati yang tak enak pada Satya.
Mbok Yati pergi dari hadapan Satya dan Belva. Ia kembali lagi ke dapur dimana dirinya selalu menghabiskan sebagian banyak waktunya. Tapi manik mata Mbok Yati menangkap objek yang sangat menarik dan mengejutkan baginya. Tangan Satya dan Belva saling bertautan. Sedikit senyum tipis mengembang di bibir Mbok Yati.
"Tidak apa-apa ?" Tanya Satya lembut.
"Hah ? Maksud Tuan ?" Tanya Belva bingung.
"Menabrak tubuhku apa tidak ada yang sakit ?"
Belva menggeleng cepat. "Tidak."
"Ya sudah, ayo masuk kamar si kembar." Ajak Satya.
Kembali mereka berjalan menuju kamar Duo Kay. Dua anak itu tak mengerti dan tak mendengar apa yang terjadi pada salah satu orang tua mereka. Kamar para bocah itu sudah terpasang peredam suara agar kenyamanan istirahat mereka tetap terjaga.
Tak takut jika terjadi sesuatu nanti, Satya sudah memasang cctv tersembunyi di kamar Duo Kay. Jadi, dirinya bisa mengontrol sendiri bagaimana situasi dan kondisi kamar Duo Kay.
"Mamiii !!!" Teriak Kaila.
Gadis kecil itu berlari menghampiri sang Mami. Belva melihat Kaila yang bertingkat sangat antusias seperti itu pun tersenyum. Tanda bahwa Kaila saat ini sudah lebih baik. Pergerakan aktif Kaila selalu memberikan tandap bahwa energi bocah itu sudah kembali seperti semula. Sudah tak lemas lagi akibat rasa sakit yang di deritanya.
__ADS_1
"Iya sayang ?" Ucap Belva menyambut putrinya. Tangannya hendak dilepaskan dari gandengan Satya. Tapi pria itu masih menggenggam erat.
"Tuan..." Panggil Belva. Satya menatap Belva yang justru menatap dirinya bergantian pada tangan mereka yang masih bertautan.
Satya paham lalu melepaskan gandengannya pada Belva. Sudah bebas ibu dua anak itu langsung memeluk Kaila dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Benar apa kata Satya jika Kaila dan Kaili terlihat sangat bahagia sekali saat ini.
"Anak Mami sepertinya senang sekali." Ujar Belva.
"Iya dong Mami. Kamar Kaila bagus sekali, Kaila pasti betah sekali tinggal di rumah Daddy."
"Kaila boleh kok tinggal di rumah Daddy. Daddy pasti sangat senang sekali setiap hari bersama kalian." Ucap Satya menanggapi Kaila.
"Mami, kenapa kita tidak tinggal bersama Daddy saja ?" Tanya Kaila.
Senyum tipis Belva berikan pada Kaila. "Karena kita sudah punya rumah sendiri sayang bersama Uti dan aunty." Jawab Belva.
"Tapi rumah Daddy lebih besar. Uti dan aunty bisa tinggal juga disini. Iya kan Daddy ?" Ujar Kaila.
Satya hanya mengangguk tersenyum seraya mengusap lembut kepala Kaila. Pria itu menghampiri Kaili yang sibuk sendiri dengan mainan Legonya.
Disusun Lego itu yang sudah seperempat jadi mulai menyerupai sebuah benteng istana seperti yang ada di negeri dongeng.
"Jagoan Daddy sedang buat apa ?" Tanya Satya memperhatikan lego-lego Kaili.
"Daddy... Aku mau buat benteng istana. Nanti setelah itu aku mau buat istana kerjaan yang kaya gambar di buku-buku cerita itu."
"Oh ya ? Memang Kaili biasa ?" Tanya Satya.
Dirinya tak yakin jika putranya mampu menyusun sedemikian rupa hingga menyerupai apa yang dikatakan oleh Kaili.
"Bisa... Nanti Daddy lihat saja." Ujar Kaili singakt.
Pria kecil itu kembali fokus pada Legonya sendiri. Memfokuskan imajinasinya dengan saraf motorik pada tangannya. Satya tak ingin menganggu putranya, dia hanya terus memperhatikan apa yang Kaili lakukan.
"Daddy !!" Panggil Kaila.
"Ya sayang ?" Respon Satya..
"Daddy, aku lapar. Mami bilang harus tanya Daddy dulu."
Belva memang paham dengan semua sudut rumah Satya. Tapi kini keadaannya berbeda, dirinya bukan lagi bagian dari rumah Satya. Ketika Kaila mengatakan jika anak itu lapar, maka Belva harus mengajarkan pada Kaila untuk tetap berlaku sopan santun pada Satya sang pemilik rumah.
Satya berdiri dari sofa empuk dekat tempat bermain Kaili. Dia menghampiri putrinya dan Belva. "Lapar ? ila mau makan apa ?" Tanya Satya dengan lembut.
"Emmm ayam kuah kuning. Tapi mau Mami yang masak." Pinta Kaila.
"Sayang, kalua begitu kita pulang ke rumah yuk. Nanti Mami masak untu Kaila." Bujuk Belva.
"No... Aku mau di rumah Daddy. Kaila mau tidur di sini."
"Kamu sudah tahu rumah ini. Kenapa tak mau memasak disini ?" Ucap Satya.
"Saya tak mungkin melakukan hal itu." Ujar Belva.
"Tuan, kenapa anda tak mengerti. Saya bukan lagi pembantu di rumah ini dan beberapa orang pun tak mengenal saya. Saya hanya merasa tak nyaman melakukan suatu hal yang bukan di rumah saya."
"Saya tahu, kamu memang bukan lagi pembantu di rumah ini tapi kamu Maminya anak-anak saya. Belajarlah memulai semuanya dari awal Belva. Tak perlu lagi saya jelaskan jika rumah ini adalah milik Kaili dan Kaila jadi otomatis kamu akan sering beraktivitas di rumah ini untuk mereka."
"Mamiii..." Rengek Kaila.
Demi Kaila... Belva menghela napas. "Oke sayang, baiklah." Lirih Belva.
"Sayang, ila tunggu disini sama kakak ya. Daddy mau ganti baju dulu." Kaila mengangguk.
"Ayo ikut. Kamu pasti tak nyaman ke dapur sendirian." Ajak Satya.
Belva menuruti ajakan Satya. Benar jika dirinya merasa tak nyaman jika tiba-tiba harus turun ke dapur dan bertemu dengan orang-orang baru yang tak dikenalnya. Hanya Mbok Yati yang masih dikenalnya saat ini. Akibat ulah Sonia dan Alya, beberapa asisten rumah tangga yang baru-baru tak betah bekerja di rumah itu. Padahal gajinyang diberikan Satya cukup tinggi.
"Kamu tunggu disini. Saya mau ganti baju dulu." Ucap Satya.
Belva menunggu di sofa ruang keluarga yang ada di lantai dua. Satya menuju kamarnya untuk mengganti bajunya dengan baju rumahan yang lebih santai.
Tak butuh waktu lama, Satya sudah keluar menghampiri Belva kembaki dengan kaos oblong yang pas pada tubuhnya tapi tidak juga press body. Kaos oblong hitam yang kontras dengan kulit putihnya dan juga celana pendek selutut berwarna cream.
"Ayo kita turun." Ajak satuan Belva berdiri beranjak dari sofa mengikuti Satya.
"Jangan berjalan di belakang saya. Jika saya berhenti mendadak kamu akan menabrak saya lagi. Sini." Satya meraih tangan Belva. Wanita itu saat ini berjajar di samping Satya.
Mereka berjalan berdampingan menuruni anak tangga satu persatu. Belva lebih banyak diam saja, tapi ia terus mengamati perubahan sikap Satya.
Tentu tak lupa dimana jalan menuju dapur karena tak ada yang berubah sedikit pun saat terakhir kali ditinggalkannya. Keduanya sampai di dapur. Para asisten rumah tangga yang berada di dapur mereka menyadari kedatangan majikan mereka.
"Tuan ada yang bisa kami bantu ?" Tanya Janis.
Satya berdeham. "Tidak ada. Mbok Yati mana ?" Tanya Satya. Tentu pria itu membuat wanita paruh baya yang ada di rumahnya itu.
Dia mencari untuk Belva, pasti Belva akan membutuhkan bantuan Mbok Yati. Seorang yang sudah dikenalnya pasti akan terasa lebih nyaman untuk Belva. Satya tahu akan hal itu.
"Saya Tuan... Ada apa ?" Tanya Mbok Yati.
"Mbok, temani Belva memasak." Ujar Satya.
"Baik Tuan. Neng ayo sini." Ajak Mbok Yati.
Beberapa asisten rumah tangga menatap ke arah Belva dengan tatapan penasaran dan kebingungan. Sedari tadi mereka masih terus bertanya-tanya bahwa siapa wanita yang sedang bersama Tuan nya itu.
Mereka tak berani bertanya pada Satya. Bertanya pada Mbok Yati pun percuma karena wanita itu tak mau memberitahukan pada mereka. Bukan kapasitas Mbok Yati mengatakan yang sejujurnya pada mereka, biarkan Satya sendiri saja yang mengatakan siapa sebenarnya Belva pada mereka.
"Memasak lah... Saya ke kamar anak-anak dulu." Ucap Satya lembut. Pria itu mengusap punggung Belva sekilas.
Grogi dan canggung, Belva menunduk lalu mengangguk. Satya pun melangkah pergi dari dapur. Mbok Yati tersenyum mendekati Belva.
"Ayo neng... Mau masak apa ?" Tanya Mbok Yati ramah seperti biasanya.
"Ayam kuah kuning, Mbok." Jawab Belva.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo Mbok bantu. Sebentar Mbok ambilkan daging ayamnya di kulkas." Belva mengangguk tersenyum.
"Nis, bantu ambilkan bumbu dapurnya ya." Titah Mbok Yati.
Janis menurut saja karena Mbok Yati merupakan kepala asisten rumah tangga. Janis sedari tadi terus menatap Belva dengan rasa penasaran. Pun dengan yang lain, mereka juga menatap Belva dengan rasa penasaran tapi ada beberapa juga yang menatap Belva seakan tak suka. Entah apa yang membuat beberapa dari mereka tak suka pada Belva.
"Itu perempuan siapa sih ?" Tanya Tuti menyenggol lengan Inah.
"Tidak tahu... Tapi Tuan kelihatan dekat dengan perempuan itu." Ucap Inah.
"Pasti perempuan gatel yang goda-godain Tuan. Masa baru saja Tuan cerai sudab dekat dengan perempuan lain. Pasti dia yang menjadi dalang hancurnya rumah tangga Tuan dan Nyonya." Ucap Tuti.
"Bisa jadi tuh Tut." Ucap Inah menyetujui.
Mbok Yati dan Janis membantu Belva memasak ayam kuah kuning. Semua bumbu Belva yang meraciknya. Mbok Yati dan Janis hanya membantu membersihkan dan memotong ayam saja menjadi beberapa bagian kecil.
Belva tipe orang yang ramah dan bisa beradaptasi dengan cukup cepat. Bersama Mbok Yati dan Janis ia bisa memasak dengan suasana yang menyenangkan. Mbok Yati memang sudah tahu sifat Belva sedangkan Janis perempuan itu merasa nyaman berinteraksi dengan Belva yang baik dan ramah.
"Ini sudah dicuci ayamnya neng." Ucap Janis yang memanggil Belva meniruan Mbok Yati.
"Terima kasih ya Mbak." Ujar Belva.
"Sama-sama. Lalu apalagi neng ?" Tanya Janis kembali.
"Emmm... Mbok, belum masak buat makan malam kan ?" Tanya Belva.
"Belum neng. Bagaimana ?"
"Kita lanjutkan masak buat makan malam yuk. Buat sekalian gerakannya." Ucap Belva.
"Apa tidak apa-apa neng ? Mbon takut nanti Tuan tidak berkenan." Ucap Mbok Yati.
"Apa sih Mbok. Sudah tidak apa-apa. Tidak berkenan bagaimana ? Saya kan ke sini juga buat masak. Sudah ayo."
Belva kembali melanjutkan memasak ayam kuah kuning. Mbok Yati dan Janis kembali melanjutkan memasak makanan yang lain untuk makan malam majikan mereka. Kali ini memasak dengan cukup banyak karena tak hanya untuk Satya seorang tapi juga untuk Duo Kay dan juga Belva.
"Neng, ini kok banyak banget masak nya ?" Tanya Mbok Yati yang melihat bahan-bahan makanan yang akan diolah cukup banyak.
"Iya kan yang makan banyak orang Mbok. Bukan buat Tuan Satya saja kan." Ucap Belva.
Mbok Yati dan Janis mengangguk. Benar tidak hanya Satya karena ada Belva dan Duo Kay. Begitulah pikir kedua asisten rumah tangga itu. Mereka kembali terus melanjutkan memasak. Hingga akhirnya semua sudah siap.
Beberapa makanan di dalam piring sudah disiapkan di atas meja oleh mereka bertiga. Beberapa asisten rumah tangga yang lain hanya sesekali memperhatikan saat merek melintasi dapur.
"Sudah selesai neng. Tugas Mbok sama Janis jadi semakin ringan karena ada kamu hari ini."
Belva tersenyum manis. "Sudah lama ya Mbok kita tidak masak bersama seperti ini."
"Iya neng... Mbok senang sekali hari ini."
"Loh ? Mbok... Memang Mbok sudah kenal neng Belva sebelumnya ?" Tanya Janis yang memang penasaran.
"Iya Mbak... Saya sudah kenal dengan Mbok Yati karena memang saya dulu juga membantu di rumah ini." Ujar Belva.
"Neng..." Panggil Mbok Yati. Mbok Yati takut jika akan banyak pertanyaan dari Janis yang nanti akan membuat Belva tak nyaman.
Wanita paruh baya itu sudah tahu bagaimana masa lalu Belva. Dan sudah pasti akan merasa tak nyaman jika masa lalu itu dikorek-korek oleh orang lain.
"Ohh... Maksudnya neng Belva menjadi asisten rumah tangga disini begitu ?" Tanya Janis memperjelas. Belva mengangguk tersenyum tak masalah baginya jika harus mengakui masa lalunya sebagai seorang pembantu.
Entah sejak kapan Satya sudah berada di dapur. Pria itu mengambil air minum dari dispenser dan meminumnya. Dia melihat di meja makan sudah tersedia banyak makanan. Bibirnya tersenyum tipis, merasa bahagia atas apa yang dilihatnya saat ini.
"Sudah selesai ?" Tanya Satya mengejutkan ketiga perempuan yang ada di dapur.
"Eh... Sudah Tuan." Jawab Mbok Yati dan Janis bersamaan.
"Belva, mereka mencarimu. Naiklah ke atas." Ucap Satya.
Dengan cepat Belva melepaskan apron yang menempel di tubuhnya. "Mbok... Mbak... Saya tinggal dulu ya." Pamit Belva.
Wanita itu berjalan dengan cepat menghampiri Duo Kay. Dirinya lupa jika seharusnya Duo Kay mandi sore ini. Satya mengikuti Belva dari belakang. Belva berjalan dengan cepat menaiki anak tangga.
"Belva, tak usah terburu-buru. Mereka baik-baik saja."
"Mereka belum mandi." Belva semakin cepat meninggalkan Satya.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Langkah nya pun semakin cepat mengikuti Belva yang masuk ke dalam kamar Duo Kay. Tampak Duo Kay sudah kembali asik dengan mainan mereka dengan baju yang sudah berbeda. Belva mendekati anak-anaknya, tercium aroma yang harus khas anak-anak dengan aroma minyak telon.
"Loh ? Kalian kok sudah rapi ganti baju ?" Tanya Belva.
"Mereka sudah mandi." Sahut Satya. Belva menoleh ke belakang.
"Iya Mami kita sudah mandi. Tadi Daddy yang bantu kita mandi. Baju ini juga dari Daddy." Ucap Kaili.
"Mandilah. Saya sudah letakkan baju gantiu di ranjang Kaila." Ucap Satya.
"Mami sudah selesai masak ? Aku sudah lapar." Ujar Kaila.
"Sudah sayang. Biarkan Mami mandi dulu ya baru nanti temani Kaila makan." Bukan Belva yang menjawab tapi Satya.
"Cepat mandilah, kasihan anak-anak sudah lapar." Ujar Satya kembali. Belva mengangguk.
Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi Duo Kay. Semua sudab tersedia di dalam kamar mandi itu termasuk dengan handuk kimono untuk dirinya. Sebelum masuk ke kamar mandi Satya mengambil paper bag berisi pakaian untuk Belva.
"Tunggu... Kamu meninggalkan pakaian mu." Satya mengulurkan paper bag itu pada Belva.
Satya tersenyum saat Belva menerimanya dan langsung menutup kamar mandi. Perlahan hal-hal seperti ini akan Satya lakukan untuk meluluhkan hati Belva. Membuat gadis itu tak lagi takut dan terus mengingat masa lalunya yang kelam.
****
To Be Continue....
Maap up nya malam banget yak 🙏🙏
Semoga masih berkenan buat para reader setia ku. Terima kasih banyak yang masih support.
__ADS_1