
Kesibukan Belva dan anak-anaknya tak bisa dianggap remeh. Ibu dan anak itu memiliki jadwal padat yang berkualitas. Belva dengan pekerjaannya di butik sedangkan si kembar sibuk dengan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler lainnya.
Sudah hingga berminggu-minggu, permasalahan gaun pesanan atas nama Winda Hara itu masih saja tidak menemukan titik terang. Orang itu tak bisa dihubungi, nomornya tidak aktif sama sekali bahkan sudah tidak terdaftar. Apalagi muncuk memperlihatkan batang hidungnya sungguh sangat mustahil.
Belva sudah pasti bahkan dengan jelas mengalami kerugian hingga puluhan juta. Sungguh ini adalah permasalahan pertama yang ia alami sendiri dalam bisnisnya. Stress itu sudah pasti ibu muda itu rasakan.
"Bella, ini sudah benar-benar penipuan. Orang itu tidak ada tanggung jawab dan itikad baik untuk mengkonfirmasi terkait pemesanan ini."
"Iya Nona, dari masalah ini kita mendapatkan kerugian yang lumayan besar untuk ukuran kita yang masih memulai bisnis baru. Apa kita perlu melaporkan hal ini ke pihak kepolisian ?"
" Entahlah aku bingung, aku masih fokus mendampingi Kaili dalam persiapan perlombaannya. Jika kita melaporkan ini ke pihak kepolisian tentu akan menyita waktu untuk bolak-balik ke kantor polisi."
"Biar saya saja yang mengurus hal ini. Nona, fokus saja dengan Kaili. Kapan perlombaannya dimulai ?"
"Minggu depan, aku rasa kita tunda saja untuk rencanamu melaporkan permasalahan ini. Karena nanti pasti Kaili juga menginginkanmu menghadiri pertandingannya besok."
Bella mengangguk, tentu saja Kaili ingin Bella juga hadir. Walau bagaimanapun gadis itu yang sejak dulu menemani mereka saat sang ibu sibuk di bekerja untuk mereka.
Bocah kecil berparas tampan kebule-bulean itu tampaknya sudah sangat siap. Seminggu berlalu Belva mempersiapkan segala keperluan Kaili. Pria kecil itu tampak tenang sekali duduk dengan gadget yang ada di tangannya. Kaila tampak lebih sibuk dari Kaili, gadis kecil itu heboh membawa banyak barang dalam tasnya membuat Belva geleng-geleng kepala. Di sini yang akan bertanding saja terlihat sangat santai, tapi Kaila heboh sendiri. Banyak makanan yang dibawa Kaila, ia berdalih jika nanti Kaili pasti akan kelaparan setelah bertanding.
Latihan dan kerja keras Kaili akan dipertunjukkan dihadapan orang banyak pada hari ini. Mereka berangkat bersama Budhe Rohimah dan juga Bella. Guna mendukung penghuni rumah minimalis yang paling tampan. Bagaimana tidak tampan dalam rumah itu hanya Kaili lah lelaki satu-satunya diantara penghuni yang lain.
Sampai di tempat pertandingan, di sebuah gor terbesar di Jakarta. Ternyata sudah banyak sekali penonton yang datang untuk menyaksikan pertandingan. Kaili dan rombongan dihampiri oleh Hiro sang pelatih.
"Selamat pagi Nyonya." Sapa Hiro.
"Selamat pagi Tuan. Maaf kami sedikit terlambat." Belva mengucapkan kata terlambat sembari melirik Kaila dan tersenyum.
Hiro sudah paham dengan maksud Belva, sedikit banyak Hiro memahami karakter gadis kecil yang menjadi anak didiknya.
"Tidak masalah Nyonya. Mari Kaili biar bersama dengan saya untuk melakukan persiapan."
"Baiklah saya titip Kaili." Belva memberikan tas milik Kaili pada Hiro.
"Sayang, bersama pelatih mu dulu ya. Mami dan yang lain akan duduk di belakang mu."
Kaili mengangguk patuh, Hiro berlalu bersama Kaili dengan menggandeng lengan kecil Kaili. Saat berada di tempatnya, ia duduk menantu pertandingan dimulai. Sesekali Hiro mengajak bocah kecil itu mengobrol mengenai pertandingan dengan candaannya. Hal itu Hiro lakukan agar bocah itu tidak bosan dan tetap bersemangat, motivasi dan semangat juga selalu Hiro selipkan dalam obrolan mereka.
Saat pertandingan akan dimulai. Kaili menengok kiri kanan. Matanya sibuk mencari sesuatu. Hal itu disadari oleh Hiro sang pelatih.
"Ada apa Kaili ?" Tanya Hiro.
Bocah itu menggeleng tapi matanya masih sibuk mengamati kesana-kemari. Iya bocah itu menunggu kehadiran Roichi. Pria dewasa yang selalu ada untuknya, dimana kehadiran pria itu membuatnya bisa sedikit merasakan sosok seorang Ayah.
"Kaili, sudah waktunya. Ayo maju Nak." Hiro mengingatkan serta menuntun Kaili.
Belva yang melihat ada sesuatu yang mengganjal bagi Kaili pun kini merasa sedikit khawatir. Apakah putranya sedang sakit ? Atau ada sesuatu yang lain.
Di tempat lain, Roichi sedang melakukan pertemuan dengan Satya. Mereka tengah membahas perkembangan proyek mereka. Tadi pagi-pagi sekali Roichi melakukan pertemuan itu, jadwalnya sudah diatur sedemikian rupa agar jadwal yang lain bisa terkejar.
"Proyek sudah berjalan sekitar empat puluh persen Tuan Satya." Ucap Roichi.
"Baiklah. Cukup cepat juga prosesnya. Saya suka dengan kinerja dari Hector Group. Saya harap nanti hasil akhir akan memuaskan."
"Tentu, kita akan bekerja semaksimal mungkin dalam pembangunan ini. Hanya saja ada beberapa material yang belum bisa turun. Itu laporan dari orang lapangan."
"Mengenai itu akan saya konfirmasi dengan orang-orang kami Tuan Roi."
"Kami tunggu, jika tidak bisa segeralah konfirmasi agar kami bisa membantu. Untuk desain bangunan yang baru sudah saya kirimkan ke email anda beberapa waktu lalu. Apakah sudah dicek ?" Tanya Roichi.
"Terima kasih Tuan Roi. Desain sudah saya terima, arsitek anda memang luar biasa. Saya berharap bisa bertemu secara langsung dengan seseorang yang sudah mendesain kan resort saya." Satya memang berharap bisa bertemu dengan arsitek andalan Hector Group. Itulah tujuan utamanya bekerjasama dengan Hector Group.
Roichi hanya tersenyum. Bagaimana bisa bertemu jika orang tua dan kakek bocah tampan itu saja tak mengijinkan bocah luar biasa itu bertemu secara langsung untuk urusan pekerjaan. Dunia bisnis cukup berbahaya untuk bocah seusia Kaili. Banyak persaingan secara halus maupun frontal. Demi keselamatan arsitek andalan Hector Group tidak pernah diijinkan muncul di depan publik.
Pria berwajah Asia itu tak menjawab mengenai keinginan partner bisnisnya untuk bertemu dengan arsitek andalan mereka. Dia justru lebih sibuk dengan jam yang melekat dipergelangan tangannya.
"Anda seperti terlihat gelisah Tuan. Apa ada masalah ?" Tanya Satya.
"Maafkan saya Tuan Satya. Bila saya tidak sopan. Tapi sepertinya saya harus undur diri untuk menyaksikan pertandingan bela diri yang diadakan hari ini." Jawab Roichi.
Satya sedikit mengerutkan keningnya. "Pertandingan bela diri ? Maksud anda perlombaan olahraga yang diadakan oleh perusahaan GinoSport itu ?" Tanya Satya.
"Anda tahu ? Saya pikir anda tidak akan mengetahui perlombaan seperti ini."
"Saya menyukai acara berita yang ada di televisi. Bahkan perlombaan itu akhir-akhir ini masuk dalam berita. Apakah anak anda mengikuti perlombaan tersebut ?" Tanya Satya.
"Begitulah Tuan, jadi saya harus segera pergi. Meski sudah ada keluarga yang menemani tapi sepertinya dia mengharapkan kehadiranku."
"Baiklah, silahkan temui anak anda pasti dia sudah menunggu."
Kedua pria tampan dengan usia sebaya itu saling berjabat tangan untuk mengakhiri pertemuan. Roichi berjalan dengan terburu-buru, dia berharap perjalanan tidak akan macet. Kaili pasti sudah menunggunya, kemarin Kaili meminta dirinya untuk datang ke Jakarta menyaksikan pertandingannya. Roichi menyanggupi karena memang weekend ini pekerjaannya tidak terlalu padat.
"Pertandingan dan keluarga ? Pasti wanita itu juga ada di sana." Gumam Satya dalam hati.
Satya keluar dari ruangannya, terlihat Jordi pun akan melangkah masuk. Tapi tertahan saat melihat bos-nya sudah lebih dulu keluar.
"Kita menonton pertandingan hari ini." Ujar Satya datar dan dingin.
Ucapan itu membuat Jordi melongo, pertandingan apa maksudnya. Tidak ada pembicaraan sebelumnya untuk menonton sebuah pertandingan. Satya berjalan dengan langkah kakinya yang panjang. Jordi dalam keadaan bingung tetap mengikuti lamgakh bos-nya.
"Tuan, kita akan ke mana ?" Tanya Jordi.
"GOR xxx, ada pertandingan di sana."
"Maksudnya pertandingan apa Tuan ?" Jordi masih belum mengerti seratus persen.
"Jalankan saja mobilnya. Ku rasa kaki dan tanganmu masih berfungsi dengan baik." Jawaban yang tak bisa dibantah.
Jordi mengemudikan mobilnya ke tempat yang dimaksud oleh Tuannya. Untung saja hari ini jadwal bertemu klien sedikit longgar. Jadi, Jordi tak perlu mengeluarkan kata-kata protes untuk mencegah keinginan Tuannya saat ini.
Beruntung hari ini tidak macet jadi Roichi bisa dengan lancar sampai ke tempat pertandingan Kaili. Pria itu berjalan dengan cepat saat sudah memarkirkan mobilnya. Terlihat sekali jika dirinya terburu-buru, bahkan ia sudah tak berjalan lagi melainkan sedikit berlari.
"Tuan, bukankah itu Tuan Roichi ?" Tanya Jordi yang melihat Roichi berjalan terburu-buru dari arah parkiran menuju dalam gedung.
"Ya. Anaknya mengikuti perlombaan di dalam." Satya keluar dari mobil begitu mobil berhenti.
__ADS_1
Dia berjalan santai untuk memasuki gedung besar itu. Matanya mengunci pergerakan Roichi yang sedang berlari kecil. Jordi mengikuti dari belakang.
Pengumuman pertandingan sudah menggema. Kaili sudah bersiap maju ke lapangan pertandingan dengan segala atribut yang telah digunakannya. Mata bulatnya menangkap kedatangan Roichi, pria yang sedari tadi ditunggunya. Mata Roichi mengarah ke tengah lapangan, ia melihat Kaili dengan tubuh kecilnya menggunakan seragam berwarna putih dengan atribut yang lain. Secara spontan Kaili berteriak gembira dan melompat-lompat bahkan melambaikan kedua tangannya ke atas. Hal tersebut membuat beberapa orang terheran kemudian tersenyum.
Banyak orang mengira jika bocah tersebut menyapa Ayahnya yang baru saja datang. Karena Roichi juga membalas lambaian tangan Kaili. Suara tepuk tangan menggema melihat aksi Kaili mereka merasa haru dan menggemaskan.
"Astaga mereka manis sekali. Rupanya anak itu menunggu Ayahnya. Pantas saja sejak tadi dipanggil untuk maju lama sekali." Gumam para penonton yang berkasak-kusuk membicarakan aksi tersebut.
"Ya ampun Nak. Kamu menunggu Om Roi." Lirih Belva.
Kini matanya sedikit berkaca-kaca, terlebih mendengar kasak-kusuk yang mengira Roichi adalah Ayah Kaili. Dadanya sedikit sesak bila mengingat sosok seseorang yang seharusnya begitu penting bagi kedua anak-anaknya. Penting untuk menghadiri acara-acara seperti ini, memberikan dukungan dan semangat.
Tapi Belva menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran yang tak mungkin terjadi. Sejak kejadian pengusiran dan ancaman yang membahayakan dirinya serta kandungannya dulu. Ia bertekad menghindari orang-orang itu dari kedua anaknya. Demi keselamatan si kembar yang kini menjadi hidupnya dan segalanya bagi seorang Belva.
Mata Roichi mencari di mana keluarganya duduk memberikan dukungan untuk Kaili. Tepat di belakang Kaili mereka semua berkumpul. Roichi berjalan menuju mereka dan duduk tepat di samping Belva yang masih kosong.
"Maaf Nona, saya terlambat pasti Kaili sudah menunggu sedari tadi."
"Sepertinya begitu Om. Dia sudah mendapatkan panggilan tapi masih saja ragu untuk maju. Ternyata menunggu kedatanganmu." Ucap Belva tersenyum menghadap Roichi.
Dari arah yang cukup jauh Satya duduk bersama Jordi. Memperhatikan Roichi dan juga Belva. Tapi tatapannya fokus pada wanita yang diduganya adalah istri Roichi. Dia tak memperhatikan orang-orang yang lainnya. Pertandingan dimulai Kaili bersiap melawan seorang anak kecil yang ada dihadapannya. Tepuk tangan dan juga semangat diberikan para penonton untuk keduanya.
"Ayo sayang semangat !" Teriak Belva bertepuk tangan.
Belva, Bella dan juga Roichi berdiri menyemangati Kaili. Sedangkan Budhe Rohimah hanya duduk saja, tubuhnya tak sekuat dulu sejak terjadi kecelakaan itu. Lebih mudah lelah dan juga pusing di kepalanya. Kaili ikut duduk menemani Utinya sembari menikmati makanan ringan yang dibawanya penuh di dalam tas. Gadis kecil itu berteriak-teriak tak jelas menyemangati Kaili.
"Maju Nak... Maju... Semangat... !" Roichi berteriak menyemangati Kaili.
Bocah kecil itu melihat orang-orang tersayangnya begitu bersemangat memberikan dukungan membuat dia juga ikut bersemangat. Semua yang pernah dilakukannya saat berlatih dikeluarkan secara maksimal. Kemampuannya dikerahkan untuk memenangkan pertandingan saat ini.
Satya melihat dengan jelas kedua orang berbeda jenis kelamin itu menyemangati anak kecil yang sedang bertanding. Bocah kecil itu tak terlihat dengan jelas wajahnya. Karena tertutup pelindung kepala. Pria itu bisa melihat memang kemampuan yang dimiliki bocah itu cukup bagus. Pantas saja anak itu maju dalam perlombaan.
"Beruntung sekali Tuan Roichi. Memiliki anak yang berbakat dan istri yang cantik." Batin Satya bergumam.
Satya menonton pertandingan hinggap durasi itu habis. Pertandingan dimenangkan oleh Kaili. Suara tepuk tangan menggema riuh di dalam gedung olahraga itu. Keluarga Kaili begitu terkejut tak percaya jika bocah tampan itu memenangkan pertandingan. Belva reflek memeluk Bella yang berdiri di sampingnya setelah pelukan itu terlepas. Entah karena begitu bahagia dan meluapkan keriuhan Roichi dan Belva saling berpelukan.
Mereka terawa senang Kaili bocah itu tak sia-sia mengikuti latihan dengan giat. Aksi itu masih disaksikan oleh Satya dan Jordi. "Apakah yang bertanding itu anak dari Tuan Roichi ? Sepertinya Tuan Roichi begitu bahagia."
Pertanyaan Jordi hanya diangguki oleh Satya. Pria itu sebetulnya merasa iri dalam hatinya. Dia bisa melihat sebuah keluarga yang begitu harmonis dan bahagia. Sepanjang pernikahannya bersama Sonia hingga memiliki anak yang kini sudah dewasa, tak sedikitpun merasakan kebahagiaan yang sebegitu besarnya.
Memang terkadang orang lain hanya bisa memandang segala sesuatunya dari luar tanpa mengetahui isi di dalamnya seperti apa. Apakah itu sesuai dengan yang terlihat atau tidak.
"Tuan, sebentar lagi kita ada pertemuan dengan klien dari perusahaan A. Kita harus segera pergi." Ucap Jordi mengingat.
Satya menangguk sudah cukup baginya bisa melihat wajah cantik istri dari rekan kerjanya. Memang tujuan Satya menonton pertandingan itu adalah agar dia bisa melihat Belva yang sampai sekarang belum juga disadarinya jika itu adalah mantan pembantunya dulu. Perubahan Belva yang seratus delapan puluh derajat itu membuat Satya tak bisa dengan mudah mengenali. Terlebih dulu Satya jarang sekali menatap wajah cantik Belva saat masih menjadi asisten rumah tangganya.
Saat hendak berjalan meninggalkan tempat duduknya. Pria itu menyempatkan diri untuk terakhir menatap wajah cantik itu. Tapi matanya menyipit dia seperti melihat seseorang yang sekilas berdiri lalu duduk kembali. Seperti tak asing dengan orang tersebut tapi asistennya sudah memanggilnya hingga pandangan itu teralihkan.
Setelah pertandingan itu berakhir. Belva bersama yang lain segera turun ke bawah menghampiri bocah kecil itu. Hiro menuntun Kaili untuk mendekati keluarganya.
"Sayang. Anak Mami hebat." Belva memeluk Kaili dengan mengusap lembut punggung bocah kecil itu dan mencium kepala serta wajah Kaili secara bertubi-tubi.
"Mami... Gerah." Kaili sedikit protes dengan aksi Maminya.
Belva tersenyum lebar. "Maaf sayang. Mami terlalu senang karena kamu memenangkan pertandingan ini."
"Kaila lepas." Rengek Kaili karena Kaila terlalu erat memeluknya.
Sontak saja mereka orang dewasa tersenyum bahkan tertawa melihatnya.
"Selamat Nyonya, Kaili akhirnya sesuai prediksi saya. Dia bisa memenangkan pertandingan." Ucap Hiro mengulurkan tangan pada Belva.
"Ah iya terima kasih Tuan. Anda sudah melatih Kaili dengan keras. Ini semua berkat kesabaran anda dalam melatih Kaili." Belva menyambut uluran tangan Hiro.
Hiro menatap Belva dengan kekagumannya. Seorang ibu muda yang masih cantik dan memiliki anak yang berbakat. Sungguh ibu yang hebat bisa menurut Hiro.
"Selamat boy... Kamu hebat Nak." Roichi mengucapkan selamat pada Kaili. Suara beratnya membuyarkan tatapan kagum Hiro.
Kaili tersenyum senang "Terima kasih. Gendong." Bocah kecil itu mengulurkan tangannya pada Roichi.
Pria dewasa berwajah Asia itu terkekeh dan menggendong Kaili. Ciuman lembut diberikan Roichi pada kepala Kaili. Kepala dengan rambut hitam kecoklatan itu sebagai sudah basah oleh keringat. Tapi hal itu tak membuat Roichi risih. Justru bau keringat itu bercampur dengan harumnya minyak dan bedak bayi menimbulkan bau khas anak kecil.
"Apa Kaili masih ada urusan dan masih harus tinggal ?" Tanya Roichi pada Hiro. Meski yak menyebutkan nama tapi tatapan mata Roichi diberikan pada Hiro.
"Oh sudah selesai Tuan. Jika kalian ingin meninggalkan tempat ini, sudah diperbolehkan. Saya rasa Kaili juga sudah lelah." Ucap Hiro.
Roichi mengangguk. Kini Belva yang berpamitan pada Hiro dan pria muda itupun memberikan tas Kaili pada Belva. Mereka segera pergi dari ruangan besar itu. Tawa dan canda mengiringi langkah kaki mereka menuju tempat parkir.
"Loh Opmud tidak pulang bersama kita ?" Tanya Kaili.
"Opmud, membawa mobil sendiri boy. Kalian pulang bersama Mami kalian, aunty dan juga Uti. Opmud, mengikuti dari belakang." Jawab Roichi.
"Oke. Jangan pergi ya." Ucap Kaili lagi.
Roichi tersenyum dan mengangguk tak lupa mengusap kepala Kaili. Menurutnya Kaili jika Roichi sudah berada di Jakarta itu sudah waktunya Roichi bersama mereka. Kaili merasa senang saat bersama Roichi. Mereka seakan memiliki pemikiran yang sama dan juga hobi yang sama.
Saat bersama Maminya memang Kaili bahagia tapi anak itu tak bisa bermain bebas bersama Maminya sesuai dengan hobi laki-laki dan tak bisa bercerita dengan bebas karena terkadang Belva tidak nyambung dengan pembicaraan Kaili. Justru Kaila lah yang lebih cocok saat bersama Belva, mereka memiliki hobi yang sama.
Belva melakukan mobilnya bersama keluarga yang lain. Sedangkan Roichi mengikuti mereka dari belakang.
"Kaili, aku bawa banyak makan kamu pasti lapar." Kaila memberikan tasnya pada kakak kembarnya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mana ?" Kaili menarik tas Kaila dan membukanya.
Masih ada beberapa makanan di dalam sana tapi tak banyak seperti kata Kaila. Memang makanan yang dibawa gadis itu banyak tapi saat pertandingan berlangsung Kaili lebih sibuk makan dan berteriak-teriak tak jelas yang membuatnya haus dan lapar. Niat hati membawakan makanan untuk Kaili tapi justru hampir habis olehnya sendiri.
"Ini bukan banyak namanya." Protes Kaili.
"Aku tidak bohong tadi bawa banyak." Sesuai fakta jawaban yang diberikan Kaila.
"Hanya tiga bungkus snack kamu bilang banyak." Kaili masih protes.
"Kamu tidak bawa susu kotak ?" Tanya Kaili.
"Bawa." Jawab Kaila.
__ADS_1
"Mana, tidak ada."
"Iya tidak ada karena sudah habis." Jawab Kaila santai dengan wajah polosnya.
Kaili menghela nafas, kembarannya itu memang terkadang menyebalkan. Percakapan mereka membuat Belva, Bella dan juga Budhe Rohimah tertawa. Mereka bisa menjadi hiburan untuk para orang dewasa.
"Sudah... Jangan ribut. Uti sudah buatkan kue nastar untuk kalian kemarin." Budhe Rohimah melerai percakapan yang semakin lama akan menjadi perdebatan sengit hingga menimbulkan Kaila menangis pastinya.
"Benarkah Uti ?" Tanya Kaila semangat.
"Untuk ku saja. Kaila sudah makan banyak Uti." Kaili tak mau kalah langkah dari Kaila.
Selama ini perihal makanan Kaila selalu melangkah lebih cepat dari Kaili. Entah gadis itu jika berhubungan dengan makanan gerakannya sangat gesit. Suka sekali mengambil start terlebih dahulu agar bisa mendapatkan makanan lebih banyak.
"Uti buat banyak, bisa bagi rata nanti." Jawab Budhe Rohimah.
"Kita langsung pulang saja atau mampir makan dulu nih ?" Tanya Belva pada yang lain.
"Pulang saja kak, lagian Budhe sudah memasak banyak tadi pagi. Masih ada sisa. Iya kan Budhe." Ucap Bella.
Sejak permintaan Belva waktu lalu, Bella lebih memilih memanggilku bosnya itu dengan sebutan kakak karena Belva lebih tua beberapa bulan darinya.
Budhe Rohimah mengangguk dan membenarkan ucapan Bella. Tadi pagi mereka terburu-buru jadi hanya makan sedikit saja.
Jadi, mereka lebih memilih makan di rumah. Sayang bila membuang makanan. Hal itu tidak disukai oleh Belva. Menurutnya masih banyak orang di luar sana yang kesulitan makan. Jadi, ketika masih banyak makanan ia tak perlu lagi membeli makanan lain.
Hal itu juga diajarkannya pada anak-anaknya. Agar mereka tumbuh menjadi anak yang penuh syukur. Maka dari itu Kaila dan Kaili sangat jarang membuang makanan. Terlebih Kaila, anak itu hobi makan. Tubuhnya lebih gemuk dari pada Kaili saat ini. Ketika berada di Indonesia Kaila menemukan beragam makanan. Terlebih jajan tradisional yang dijual di pasar membuatnya memiliki hobi makan. Makanan yang tak pernah ditemuinya saat berada di Jerman dulu.
Sampai di rumah mereka membersihkan diri. Berteriak-teriak membuat energi mereka terkuras dan banyak berkeringat. Setelah itu Budhe Rohimah dan Belva menyiapkan makan untuk makan siang. Mereka makan bersama siang itu. Makan siang mereka tak sepi karena mereka mengobrolkan perlombaan tadi.
"Bagaimana kalau nanti malam kita merayakan kemenangan Kaili ?" Ide dari Bella tercetus saat makan siang berlangsung.
"Boleh. Mau mengadakan acara seperti apa ?" Tanya Belva.
"Makan malam bersama keluarga di luar tidak buruk Nona." Roichi mengikuti arah pembicaraan.
"Oke nanti malam kita makan malam di luar." Belva menyetujui ide ayah dan anak itu.
"Apa itu artinya kita jalan-jalan Mi ?" Tanya Kaila yang menyimak pembicaraan para orang dewasa.
"Kita hanya makan malam sayang." Ucap Belva.
"Apa kalian mau jalan-jalan ?" Tanya Roichi.
"Tentu saja, Kaila ingin jalan-jalan di mall." Jawab Kaila.
"Aku ingin bermain di Timezone." Jawab Kaili.
"Oke kita nanti akan ke sana juga." Roichi menyetujui keinginan Duo Kay.
Hal itulah yang membuat mereka sangat senang dengan Roichi. Pria itu bisa mengerti keinginan mereka.
"Om kita kan hanya makan malam saja." Protes Belva.
"Maaf Nona, jika saya lancang. Tapi..."
"Mami, jangan marah dengan Opmud. Kalau Mami tidak mau kami saja yang jalan-jalan, Mami tidak usah ikut. Iya kan Opmud." Ucap Kaila yang memotong pembicaraan Roichi. Gadis kecil itu tak ingin rencananya gagal.
Belva menghela nafas mau tak mau ia tak bisa mencegah keinginan anak-anaknya. Memang saat ada Roichi adalah waktu bagi para bocah itu bermain-main di luar sana.
Bella dan Budhe Rohimah hanya diam menatap dan menyimak pembicaraan mereka. Selesai makan siang mereka beristirahat agar tubuh mereka tak kelelahan nanti malam.
Pukul tujuh malam mereka telah siap dengan pakaian rapi dan santai. Makan malam yang akan mereka lakukan sebagai perayaan kemenangan Kaili. Mereka memilih restoran yang beberapa kali digunakan oleh Tuan Hector bertemu dengan para kliennya. Restoran itu adalah pilihan Roichi, karena pria itu yang mengemudikan mobil.
Dengan penuh keceriaan mereka makan di tempat itu. Menu-menu yang sangat lezat menggugah selera makan mereka. Budhe Rohimah yang belum pernah makan di tempat semewah itu merasa sedikit canggung. Tapi Belva melayani Budhe Rohimah agar Budhenya itu tetap merasa nyaman dalam menikmati makan malam mereka.
Selesai dengan makan malam, mereka jalan-jalan di salah satu mall di Jakarta. Bella dan Budhe Rohimah memisahkan diri karena mereka berdua lebih tertarik melihat peralatan memasak yang sedang ada promo. Sedangkan Belva dan Roichi menemani Duo Kay bermain di Timezone tempat incaran mereka.
Seperti biasa Roichi ikut bermain mendampingi Kaili dan Belva bermain mendampingi Kaila. Hingga kebosanan melanda Kaila.
"Mami aku ingin beli boneka, boleh ?" Tanya Kaila dengan wajah polos dan mata penuh pengharapan tak lupa diselipkan wajah mengiba agar Maminya mau membelikannya.
"Ya ampun Kaila. Sudah banyak boneka kamu di rumah sayang." Ucap Belva.
Gadis kecil itu cemberut saat mengetahui arti dari ucapan Belva yang seperti itu akan berujung sebuah penolakan.
"Kaila kenapa ada apa cantik ?" Tanya Roichi.
"Kaila mau beli boneka Opmud tapi Mami pasti tidak mau." Adu Kaila pada Roichi.
"Nona..."
"Tidak Om. Jangan memanjakan mereka. Tolong deh ya karena Om terlalu sering memanjakan mereka akhir-akhir ini, jadi banyak maunya." Belva mengomel pada Roichi.
Kaila sudah berkaca-kaca, sedangkan Kaili hanya diam saja. Pria kecil itu tak banyak maunya seperti Kaila yang cenderung manja.
"Haahh... Baiklah... Baiklah... Beli saja apa mau mu sayang. Om Roi akan membayarkannya untuk mu." Jawab Belva dengan pasrah.
"Lah kok jadi saya ?" Gumam Roichi.
"Iya Om lah. Semua kan gara-gara Om yang menyetujui mereka jalan-jalan di sini kan." Ucap Belva dengan entengnya.
Roichi hanya bisa pasrah jika sudah seperti itu. Jika tidak dituruti nanti Kaila akan menangis di mall dan bisa saja mengadu pada Opa nya. Bisa berbahaya bagi Roichi.
"Oke sayang, jangan menangis kita akan membelinya." Ucap Roichi.
Mata yang berkaca-kaca itu kini berubah menjadi berbinar. Senyum mengembang di bibir Kaila. Mereka mampir ke toko mainan, di sana banyak sekali beraneka ragam mainan. Tak hanya Kaila tapi Kaili juga mendapatkan jatah dari Roichi.
Perayaan itu benar-benar membuat Duo Kay merasakan kebahagiaan. Begitu juga Belva ia merasa senang bisa melihat senyum dari kedua buah hatinya. Kesedihannya beberapa hari ini karena kerugian yang didapatkannya kini mampu dibayar oleh kemenangan Kaili hingga mereka bisa jalan-jalan bersama keluarga mereka.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
__ADS_1
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π