
Belva sudah selesai membersihkan diri, tinggal dirinya membangunkan suaminya. Tepukan lembut Belva berikan pada lengan Satya. Pria itu masih belum terusik dan masih lelap tertidur.
"Mas, bangun."
"Hmm..." Hanya deheman yang Satya berikan.
"Mas, bangun siap-siap ke kantor, kita harus jemput Kaili dan Kaila juga loh."
"Yank, mas masih mengantuk. Lima menit lagi."
"Tidak ada lima menit lagi, mas. Ayo dong bangun kasihan loh anak-anak pasti mereka mencari kita."
Saat Belva berusaha membangunkan suaminya, di luar pintu terdengar gedoran pintu.
Dur!!! Dur!! Dur!!!
"Mamiii!!!"
"Daddy!!!"
Samar-samar terdengar suara anak kecil dari kuat yang Belva kenal. Suara itu adalah suara kedua anaknya. Satya yang juga merasa terganggu karena istrinya sedari tadi menggoyangkan badannya di tambah suara samar-samar dari luar pun membuka sebelah matanya.
"Emm... Itu Ila sama Ken, yank." Satya membuka suaranya yang terdengar serak.
Belva yang semula menatap pintu kini beralih menatap sang suami.
"Mas, kok mereka sudah ada di sini, siapa yang antar mereka kesini?"
"Mas yang jemput mereka tadi malam."
"Tadi malam? Jam berapa? Kok aku tidak tahu."
"Iya lah Mami tidur tadi malam kelelahan kan?"
"Gara-gara kamu, mas." Belva mencebikkan bibirnya kesal.
"Kenapa tidak membangunkan aku kalau mau jemput anak-anak?"
"Mas, tidak tega jadi mas jemput sendiri saja. Buka pintu nya itu yank kasihan mereka cari Maminya masa tidak dibukakan pintu."
"Ya sudah aku buka pintu dulu, mas bangun deh mandi kita siap-siap berangkat."
"Oke, tapi jadi kan ikut ke kantor?" Tanya Satya yang sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Iya habis antar anak-anak sekolah kita ke kantor mas lalu siang nya jangan lupa ada janji bertemu dengan Nona Azura dan Marko."
"Iya mas ingat. Ya sudah mas mandi dulu."
Satya beranjak dari ranjang untuk menuju kamar mandi sedangkan Belva beranjak menuju pintu membukakan pintu kedua anaknya yang sedari tadi memanggil.
Setelah pintu dibuka kedua bocah itu langsung berhambur berlarian masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Mereka langsung sibuk sendiri, Kaila berlari kesana kemari dan berhenti untuk menghampiri apa saja yang menarik baginya sedangkan Kaili langsung naik ke atas ranjang, pria kecil itu melompat-lompat di atas ranjang dengan riang.
Belva hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya yang terkadang super aktif. Setelah anak-anak nya masuk ke dalam kamar, ia menutup pintu dan beralih menuju walk in closed menyiapkan pakaian suaminya.
Kaila yang melihat Maminya masuk ke dalam salah satu ruangan maka diam-diam gadis kecil itu mengikuti Maminya. Gadis kecil itu kagum dengan isi ruangan itu yang banyak terdapat pakaian, tas, sepatu dan barang-barang fashion yang lain.
"Wah, Mami punya toko di dalam kamar." Celetuk Kaila yang membuat Belva terkejut.
"Sayang, kapan kamu masuk? Kamu mengejutkan Mami."
Kaila hanya tersenyum memamerkan deretan gigi kecilnya.
"Tadi Mami masuk sini Kaila ikut dari belakang." Jawab Kaila.
Kaila tampak berjalan kesana kemari di dalam ruang walk in closed. Melihat semua barang-barang yang ada di dalam ruangan itu. Memang sejak tinggal di rumah Satya, dua bocah itu belum menjelajahi dengan tuntas kamar kedua orang tuanya Sementara Kaila sibuk sendiri Belva menyiapkan kebutuhan sang suami.
Kaili masih sibuk melompat-lompat di atas ranjang orang tuanya hingga Satya keluar kamar mandi dengan handuk terlilit dipinggangnya. Satya melihat kelakuan sang putra yang sibuk sendiri bermain di atas ranjang.
"Ken, sedang apa nak?"
"Daddy... Aku mau main di Time zone boleh?"
"Boleh, kapan?" Tanya Satya.
"Hari ini boleh tidak aku tidak sekolah, main saja di Time zone." Ujar Kaili.
Satya mendekati putranya, "Sini, Daddy belum peluk Ken sejak kemarin."
Kaili berhenti melompat, napasnya ngos-ngosan akibat sejak tadi melipat terus menerus. Pria kecil itu mendekat Daddy yang sudah bediri di pinggir ranjang. Satya memeluk putranya dan mencium kepala Kaili.
"Belum mandi kan?" Tanya Satya kembali yang dijawab dengan gelengan kepala Kaili.
"Mandi dulu, nanti kita bicarakan dengan Mami."
Bertepatan dengan itu Belva keluar dari walk in closed dengan menggandeng tangan Kaila.
__ADS_1
"Membicarakan apa ini?" Tanya Belva.
Dua pria berbeda generasi itu langsung menoleh pada ratu tercantik mereka.
"Ken mau jalan-jalan, dia mau mani ke Time zone dan berniat untuk tidak berangkat sekolah hari ini." Jawab Satya.
"Sayang, sini peluk Daddy." Ucap Satya pada putrinya.
Dengan sedikit kesulitan Kaila naik ke atas ranjang. Satya tak melepaskan pelukannya pada Kaili, satu tangan nya terentang untuk menyambut pelukan putrinya.
"Sayang, ini belum waktunya libur. Kalian harus sekolah nanti siang baru kita jalan-jalan sama Daddy juga."
Belva tak ingin anaknya mengabaikan pendidikan hanya untuk hal yang kurang penting.
"Iya nanti siang Mami dan Daddy ada pertemuan di luar nanti kita sekalian jalan-jalan, oke?" Ucap Satya pada dua anaknya.
"Benar Daddy kita jalan-jalan?" Tanya Kaila. Ada binar bahagia di mata gadis kecik itu karena sejak beberapa waktu lalu memang sangat menginginkan untuk bisa jalan-jalan bersama keluarga nya.
"Iya sayang tapi kalian sekolah dulu." Ujar Satya mencium pipi Kaila.
"Mam, mereka belum mandi nih masih pada bau iler." Ujar Satya masih tetap mencium wajah kedua anaknya secara bergantian dan bertubi-tubi hingga kedua bocah itu tergelak dan merasa risih.
"Dad, nooo... Aku tidak mau di cium-cium terus." Ujar Kaili yang pasti akan selalu menolak jika di cium terus menerus.
Satya tertawa melihat respon putranya, Belva ikut tertawa dan menggeleng kepala melihat kelakuan suami dan anak-anak nya.
"Dad, sudah lepaskan nanti Kaili mengamuk. Ayo sayang kita mandi dulu." Ajak Belva pada dua anaknya.
Satya masih tertawa, dia merasa senang bisa menggoda kedua anaknya. Kehangatan tercipta pagi itu, hal yang selalu Satya rindukan setiap saat bisa berkumpul bercanda bersama keluarga kecilnya.
"Mau mandi disini saja, Mi." Pinta Kaila.
"Oke, sebentar Mami siapkan air untuk kalian dulu. Tunggu bersama Daddy ya."
Duo Kay mengangguk, Satya mau tak mau harus menemani kedua anaknya bermain lebih dulu sembari menunggu Belva kembali untuk memandikan anak-anak nya.
Rupanya pagi itu tak hanya Belva saja yang mengurus Duo Kay tapi Satya juga turun tangan mengurus dua bocah itu. Kepuasan tersendiri bisa membantu sang istri mengurus anak mereka.
Kini mereka semua telah siap, mereka pun sudah duduk di meja makan untuk melakukan sarapan. Tapi hal tak terduga mereka dapati saat akan memulai sarapan mereka.
Fitri, asisten rumah tangga Satya hampir saja terpeleset di dapur akibat lantai yang becek hingga perabot memasak dan piring yang ia bawa terjatuh dan menimbulkan suara nyaring yang mengganggu pendengaran Satya.
"Ada apa itu?" Tanya Satya.
Duo Kay hanya diam mendengarkan saja, Belva menatap sang suami.
Wanita itu beranjak ke dapur, melihat parabot dan piring berantakan di lantai.
"Ada apa mbak?" Tanya Belva.
"Anu Nyonya saya hampir terpeleset."
Belva langsung melihat lantai dapur mansih saja becek sesuai perintah nya tidak ada yang membersihkan. Tuti yang bertanggung jawab atas lantai itu pun tak ada inisiatif membersihkan lantai itu. Belva menghela napas, asisten rumah tangga Satya yang satu itu memang keterlaluan.
"Dari tadi belum di bersihkan?" Tanya Belva.
"Tadi kata Nyonya kami tidak boleh membersihkan nya." Ujar Fitri mengingatkan Belva.
"Iya saya tahu, maksud saya Mbak Tuti tidak mau membersihkan lantai ini?"
"Tidak Nyonya, Tuti tadi malah menyuruh saya untuk membersihkan nya tapi saya ingat pesan Nyonya."
Kembali Belva menghela napas, "Ya sudah, piring yang pecah minta tolong di bersihkan. Tapi untuk lantai itu tetap biarkan saja."
Fitri mengangguk patuh, Belva kembali ke meja makan. Satya dan kedua anaknya belum juga memulai sarapan mereka.
"Ada apa, Mam?" Tanya Satya
"Mbak Fitri hampir terpeleset, perabotan dan piring jatuh." Ucap Belva dengan santai.
"Bagaimana bisa? Apa dia tidak berhati-hati dalam bekerja. Tidak becus." Ucap Satya. Pria itu memang tidak suka memiliki pekerja yang tidak berhati-hati dalam bekerja.
"Lantai dapur becek, maka nya hampir terpeleset." Ujar Belva kembali.
"Kenapa tidak di bersihkan, bagaimana cara mereka bekerja. Mas, sudah menggaji mereka dengan mahal tapi bekerja tidak beres."
"Mbok Yati!!!" Panggil Satya pada kepala asisten rumah tangga nya.
Mbok Yati yang berada di depan langsung tergopoh-gopoh berlari menghampiri Tuannya.
"Iya Tuan, anda memanggil saya?"
"Fitri hampir terpeleset barang-barang di dapur jatuh berantakan karena hampir terpeleset. Lantai dapur becek kenapa tidak di bersihkan?" Tanya Satya dengan menahan emosinya.
Mbok Yati sudah ketakutan karena cara bicara Satya yang berbeda. Wanita tua itu melirik Belva dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Dad, ini bukan salah Mbok Yati. Jangan marah padanya." Ucap Belva menyentuh punggung tangan suaminya dengan lembut.
Satya menghela napas, "Tapi Mbok Yati yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan disini."
"Ya memang semua tanggung jawba Mbok Yati. Tapi ingat yang bekerja disini bukan hanya Mbok Yati seorang, Mbok Yati sudah mengarahkan para asisten rumah tangga disini dengan sangat baik hanya saja kita tahu karakter dan sikap setiap orang berbeda-beda ada yang mau diarahkan dan ada yang tidak mau diarahkan. Jadi, semua bukan salah Mbok Yati." Ujar bva dengan lembut dan bijaksana dihadapan Satya.
"Maksud kamu apa ada pekerja yang tidak bekerja sesuai dengan tugasnya?" Tanya Satya.
"Sepertinya begitu, coba panggil semua para asisten rumah tangga saja tanyakan pada mereka untuk tugas membersihkan dapur hari ini siapa, kenapa dia tak melakukan tugasnya dengan baik." Saran Belva.
"Mbok, panggil semua anak buah mu kesini setelah saya selesai sarapan bersama istri dan anak-anak saya." Titah Satya pada Mbok Yati.
"Baik Tuan." Jawba Mbok Yati.
Tanpa menunggu waktu lama Mbok Yati segera beranjak dan memanggil semua asisten rumah tangga yang berada di bawah pengawasan nya. Dalam waktu singkat semua sudah berkumpul di dapur guna menunggu waktu menghadap Satya. Mbok Yati tak memberitahu prihal masalah apa yang membuat mereka harus berkumpul menghadap majikan mereka. Semua saling berpikir ada apa gerangan sampai Tuan mereka menyuruh untuk berkumpul seperti ini.
Satya dan keluarga kecilnya selesai sarapan, Belva benar-benar melayani snag suami dengan baik hingga suasana hati Satya saat sarapan kembali membaik seperti semula. Belva menyuruh Janis untuk membawa anak-anak nya menuju kamar mereka sejenak dengan alasan mempersiapkan barang-barang yang harus mereka bawa.
Di ruang makan semau sudah berkumpul, asisten rumah tangga Satya berdiri berjajar menghadap Satya dengan pikiran bermacam-macam. Satya menatap mereka dengan tatapan tajam dan itu sukses membuat mereka keringat dingin dengan perasaan tak nyaman.
"Kalian tahu kenapa saya suruh berkumpul disini?" Tanya Satya dengan nada tegas dan dingin.
Mereka semua menggelengkan kepala pelan dan tertunduk. Beruntung bagi Janis tidak menghadapi situasi seperti ini.
"Fitri, apa yang terjadi padamu tadi?" Tanya Satya.
"Saya hampir terpeleset, Tuan." Jawab Fitri lirih.
"Karena apa?" Tanya Satya kembali.
"Lantai dapur licin dan becek." Jawba Fitri kembali dengan lirih.
Semua paham akan masalah ini kecuali Inah karena permasalahan lantai becek itu terjadi sejak subuh tadi dan beberapa kali memang hendak memakan korban.
"Lantai dapur becek. Apa tidak ada yang bertugas membersihkannya? Siapa yang bertugas memberikan dapur hari ini?" Tanya Satya.
Jantung Inah berdegup kencang, keringat dingin dan wajah nya pucat. Tugas membersihkan dapur dan mengepel lantai hari ini adalah tugasnya. Seingatnya semua sudah beres tidak ada yang terlupakan terlebih bagian dapur.
"Sa-saya Tuan." Jawab Inah gugup dan takut.
"Kamu!!! Kamu bertugas hari ini tapi kenapa kamu tidak menjalankan tugas mu dengan baik. Apa kamu sudah bosan bekerja disini?"
Deg!!!
Tuduhan yang membuat Inah begitu terkejut pasalnya tidak ada niat dirinya berhenti bekerja di rumah ini.
"Ma-maaf Tuan, sa-saya sudah membersihkan dapur dan mengepel semua lantai, sa-saya menyelesaikan semuanya tadi dengan baik." Ujar Inah sesuai fakta yang ada.
"Kamu buta? Lantai dapur becek dan licin. Fitri hampir terjatuh dan barang-barang dapur berantakan karena kerja kamu tidak becus!!" Ucap Satya marah.
Semua asisten rumah tangga terdiam tak vernai menatap Satya yang tengah marah. Tuti sedari tadi sudah pucat, nyalinya menciut saat Satya marah-marah seperti ini. Belva tampak santai saja menyaksikan kejadian pagi ini. Bukan ingin mengadu domba hanya saja apa yang dilakukannya itu semata-mata untuk membuat para asisten rumah tangga bertanggung jawab dan saling menghargai.
Air mata Inah sudah mengucur saat Satya begitu marah padanya. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun pagi ini.
"Tu-tuan, maaf saya menyela. Inah sudah membersihkan dapur dengan baik dan bersih. Saya melihatnya sendiri tapi sepertinya saat memasak tadi ada yang ceroboh menumpahkan air dan tidak membersihkan nya." Ucap Mbok Yati memberanikan diri. Ia tak tega melihat Inah yang sudah menangis akibat kesalahan yang tidak dibuatnya.
"Siapa orang ceroboh itu dan kenapa tidak ada dari kalian yang mau membersihkannya." Satya masih saja mengintrogasi para asisten rumah tangga.
"Maaf Tuan, Nyonya melarang kami membersihkannya karena alasan tersendiri." Ujar Mbok Yati.
Satya langsung menatap tajam pada istrinya akibat terbawa emosi, Belva melihat tatapan sang suami tapi Belva merasa santai saja.
"Apa maksudnya ini, sayang?" Tanya Satya.
"Maksudku adalah mengajarkan tanggung jawab dan saling menghargai. Bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri karena telah mengotori lantai yang sudah dibersihkan Mbak Inah dan menghargai setiap orang yang ada di rumah ini, menghargai pekerja orang lain jika mengotori ya berarti harus mau membersihkan nya bukan justru ditinggal begitu saja. Hanya itu saja, jika tidak seperti itu maka akan menjadi kebiasaan yang buruk." Ucap Belva tenang.
Tuti semakin diam membisu dengan wajah ya yang memucat. Dalam hati ia merasa takut dan juga kesal setengah mati berada di posisi tak menguntungkan seperti ini.
"Siyal kenapa jadi seperti ini." Gumam Tuti dalam hati merutuki kesialannya.
"Oke, mengakulah siapa yang membuat ulah pagi ini." Tanya Satya datar.
Semua diam, Tuti pun masih diam. Ia masih merasa ketakutan jika Satya benaro tahu jika dirinya yang membuat ulah pagi ini maka habislah nasibnya kali ini.
"Tidak ada yang mengaku? Baiklah, jika sampai istri saya mengucapkan satu nama jangan harap dia bisa melanjutkan pekerjaannya disini." Ujar Satya penuh dengan ancaman.
****
To Be Continue...
Hayoo... Kek mana masih si Tuti yaa ?? 🤭🤭
Terimakasih banyak atas support kalian yang masih setia sampai detik ini. Maaf part kali ini dikit yaa kita lanjutkan nanti karena author baru pulang dari acara 🙏🙏
Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa.
__ADS_1
Selamat Tahun Baru 2022. Semoga kalian sehat selalu, bahagia selalu dan menjadi lebih baik di tahun yang baru. Amiinn ❤️🤗🙏