
Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu membuat orang-orang yang kita sayangi bisa tersenyum dan benar-benar merasakan kebahagiaan yang kita harapkan.
Beruntung Belva hadir di dalam keluarga yang penuh cinta seperti keluarga Tuan Hector. Di mulai dari kebaikan hati pria tua itu kini Belva bisa mengenal Bella dan juga Roichi. Mereka berdua juga berjasa dalam hidupnya. Bella selalu membantunya menjaga Duo Kay dan Roichi yang selalu ikut memberikan perhatian dan kasih sayang pada si kembar.
Belva bukan perempuan licik yang menutup mata bukan perempuan bodoh yang tak bisa melihat kasih sayang yang dicurahkan oleh Roichi bagi kedua anaknya. Terkadang perilaku Roichi membuatnya sedikit menyesal. Mengapa anak-anaknya tak bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Tapi selalu saja pikiran itu ditepis oleh Belva, ia sadar bahwa memang seperti itulah takdir hidupnya.
Menurutnya tak perlu lagi memikirkan masa lalu, yang membuatnya mengingat siapa Ayah kandung si kembar. Baginya adanya dirinya, Budhe Rohimah, Bella serta seluruh keluarganya sudah cukup untuk mencurahkan kasih sayang terhadap Duo Kay. Mereka pasti tidak akan kekurangan kasih sayang karena mereka sudah melimpahkan begitu banyak perhatian dan kasih sayang.
Kedatangan Roichi memang selalu ditunggu oleh Duo Kay semenjak mereka menetap di Indonesia. Tapi setelah waktu yang dimiliki Roichi telah habis dan harus kembali pergi untuk bekerja. Dua bocah itu sudah paham tak menahan Roichi agar berada disamping mereka.
Di belahan dunia yang lain seorang wanita paruh baya datang mengunjungi butik de'La Hector. Butik itu sudah cukup terkenal dan menjadi langganan banyak orang dari kalangan menengah ke atas.
Wanita itu pengunjung setia de'La Hector. Setiap ada acara ataupun menambah koleksi busananya. Ia selalu datang ke butik milik Nyonya Hector. Hasil karya yabg memuaskan dan pelayanan yang ramah membuatnya ketagihan. Wanita itu adalah Nyonya Dimitri, pelanggan paling loyal terhadap butik de'La Hector.
Tapi sayang, kedatangannya ke butik itu menghasilkan sebuah kekecewaan. Tujuannya datang adalah ingin berkonsultasi secara langsung mengenai desain yang diinginkannya. Sungguh sayang, desainer kesayangannya tak berada di tempat.
"Nyonya Dimitri, anda datang ? Mari silahkan duduk." Ucap Fransy. Pria dengan wajah tampan dan tubuh yang sangat terjaga, tapi mau tak mau para wanita harus sedikti kecewa. Pria itu bergaya sedikti kemayu karena terbiasa berteman dengan banyak perempuan sejak kecil dan menyukai tata busana.
"Fransy... Tumben sekali kamu yang menyambutku. Di mana Nona Vanthe kesayanganku ?" Tanya Nyonya Dimitri.
"Nona Vanthe, ah wanita cantik itu sudah tidak di sini lagi Nyonya. Saya mendengar dia sekarang menetap di Indonesia."
Nyonya Dimitri cukup terkejut dengan informasi itu. Itu artinya ia tidak bisa lagi bertemu dengan bebas bersama Belva.
"Haish... Lalu bagaimana jika aku ingin membuat desain gaunku ? Aku sudah cocok dengannya. Semua desainnya sesuai seleraku." Nyonya Dimitri mengeluh.
Nyonya Hector yang baru saja datang ke butik, ia langsung masuk ke dalam ruangannya. Tapi matanya melihat seorang wanita paruh baya yang sangat ia kenal. Mau tak mau ia membelokkan arah untuk menghampirinya.
"Nyonya Dimitri ?" Panggil Nyonya Hector.
Pelanggan setia de'La Hector itu menoleh, Nyonya Hector tersenyum padanya.
"Nyonya Hector, anda baru datang atau ingin pergi ?" Tanya Nyonya Dimitri yang melihat pemilik butik menentang tas mahalnya.
"Aku baru saja datang, anda sudah lama di sini ?"
"Baru saja, aku ingin bertemu dengan putrimu tapi dia tidak ada." Keluh Nyonya Dimitri dengan mimik wajah yang sedikit murung.
"Mari ikut ke ruangan ku." Ajak Nyonya Hector. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan mengekor Nyonya Hector.
"Vanthe, kini menetap di Indonesia." Ucap Nyonya Hector saat sudah sampai di ruangannya.
"Fransy baru saja mengatakannya. Bagaimana bisa seperti itu. Lalu nasib gaun-gaun ku nanti bagaimana ?"
Nyonya Hector tertawa lirih. "Masih ada Fransy. Anda bisa mengandalkannya."
"Aku kurang cocok dengannya. Hanya Vanthe yang mengerti bagaimana selera gaunku."
Nyonya Hector menghela nafas. "Kalau begitu anda bisa menghubunginya. Beberapa customer yang lain pun melakukan itu untuk meminta desain gaunnya."
"Haahh... Mengapa tiba-tiba kalian membuatku sulit. Beberapa bulan lagi anakku yang nomor dua melangsungkan pernikahan. Aku mau Vanthe yang membuatkan gaun itu dan tentu saja kami harus berkonsultasi secara langsung dengan nya."
"Vanthe memiliki butik di Indonesia. Butik baru, jadi dia saat ini fokus untuk mengembangkan butik itu."
Lagi-lagi Nyonya Dimitri mendesah kecewa, tapi ia ingin sekali semua gaun miliknya harus dibuat langsung dengan tangan Belva.
****
Dua hari setelah perlombaan, pelatih Duo Kay menginformasikan hadiah perlombaan yang diperoleh Kaili sebagai pemenang. Saat mengantarkan Duo Kay untuk kembali berlatih sesuai jadwal kegiatan mereka seusai sekolah.
Dikarenakan Kaili masih berusia balita maka untuk pengurusan semua diwakilkan oleh Hiro lalu kemudia diserahkan kepada orang tua wali. Medali, piagam, tropi dan juga uang tunai didapatkan oleh Kaili. Untuk tropi Hiro meminta ijin apakah diperbolehkan agar ditinggal untuk Dojo. Dan Kaili ataupun Belva tak menjadi masalah jika tropi itu disimpan untuk Dojonya.
"Nyonya, saya sangat bangga pada Kaili. Meski masib kecil dia memiliki kemampuan yang luar biasa. Pastinya anda juga sangat bangga dan bahagia memiliki Kaili." Ucap Hiro.
"Tentu saja Tuan. Tidak hanya Kaili tapi juga Kaila mereka bukan hanya kebanggaan saya tapi juga segalanya bagi saya." Ucap Belva tersenyum.
"Baiklah Nyonya. Nanti setelah ini saya akan mengurus hadiah yang didapatkan oleh Kaili. Harap anda meninggalkan nomor rekening untuk mengurus hal tersebut."
"Oh baik. Nanti saya akan kirim nomor rekeningnya. Kalau begitu saya permisi Tuan." Belva berpamitan setelah dirasa semua sudah selesai dibicarakan.
Ia kembali menuju butiknya, waktunya memang habis untuk di butik. Ia jarang sekali berada di rumah. Malam hari saja Belva bisa berada di rumah. Budhe Rohimah lah yang mengurus rumah dan menjaga rumah mereka.
Terkadang pula si kembar diurus oleh Budhe Rohimah jika mereka di tinggalkan di rumah. Baru saja sampai di butik, ponsel Belva sudah mendapatkan notifikasi dari aplikasi m-banking nya. Perempuan muda itu cukup terkejut hadiah dari perlombaan yang putranya ikuti cukup fantastis.
"Hah ? Yang benar saja. Perlombaan itu menghasilkan uang sebanyak ini. Apa tidak salah ?" Gumam Belva.
Perasaan terkejutnya memang masih ada, ia benar-benar tak menyangka akan apa yang baru saja dia lihat. Sungguh Belva memang harus benar-benar bersyukur dengan kehidupannya. Sang pemberi hidup memang selalu berlaku adil bagi setiap umatnya. Seperti pelangi sehabis hujan perumpamaan itulah yang saat ini menghampiri kehidupan Belva.
Disaat permasalahan butiknya yang belum lama ini terjadi hingga memberikan kerugian untuknya. Kini putranya yang sebenarnya tanpa Belva duga dan rencanakan seakan mengganti rugi kesedihannya dengan kebahagiaan.
"Nona, ada apa ? Sepertinya ada sesuatu yang anda rasaka." Tanya Bella.
"Bella, aku hanya cukup terkejut dengan hadiah perlombaan yang diberikan pada Kaili."
"Memang apa hadiah yang membuat Nona terkejut ?" Bella penasaran.
"Hadiah yang didapatkan Kaili cukup fantastis menurutku. Aku rasa penyelenggara perlombaan itu sedikit berlebihan untuk mengeluarkan dana mereka."
"Nona, saya rasa itu tidak berlebihan. Saya dengar perusahaan yang menyelenggarakan perlombaan itu sedang melakukan kerjasama dengan perusahaan asing dan mereka tengah memproduksi beberapa produk olahraga. Itu salah satu cara yang mereka gunakan untuk mempromosikan produk mereka. Pertandingan kemarin diliput oleh media asing. Cara mereka untuk menaikkan brand dengan citra yang tentu akan dipandang baik oleh masyarakat. Selain itu perusahaan itu juga akan memberikan fasilitas bagi tempat-tempat pelatihan olahraga yang pesertanya masuk tiga besar."
__ADS_1
"Waow... Seperti itu kah ? Pasti perusahaan besar yang mampu melakukan hal seperti itu." Belva cukup kagum dengan perusahaan tersebut.
"Tentunya Nona. Jadi, beruntung sekali jika Kaili memenangkan perlombaan itu. Karena secara tidak langsung Kaili ikut menyumbangkan fasilitas untuk Dojo tempatnya berlatih dengan kerja kerasnya."
Belva mengangguk, bangga ya memang sungguh bangga sekali ia memiliki putra putri yang bisa menjadi berkat bagi sesamanya. Itulah harapan Belva saat mengandung tanpa seorang suami. Ia berharap kelak anak-anaknya lahir dan tumbuh menjadi anak yang berguna bagi sesamanya. Hal itu kini seakan terwujud.
Kedua perempuan muda itu kini kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Mengecek bagian produksi, laporan dari karyawannya jika bahan kain ada beberapa yang sudah habis padahal masih ada beberapa gaun yang belum terselesaikan.
Beberapa kali Belva mendapatkan pesanan gaun Bridesmaids. Hal itu membuat Belva harus menggunakan bahawan serta warna yang sama. Meski model gaun bisa berbeda-beda. Setelah mendapatkan laporan ternyata Bella sudah menghubungi pihak toko kain. Tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Jadi Belva sendiri yang turun tangan untuk membelinya agar tak membuang waktu, hingga yang terjadi akan menduda deadline. Tentu customer akan merasa kecewa jika tak sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan.
"Bella, aku akan pergi untuk mengurus kain yang telah habis." Pamit Belva.
"Baiklah Nona, berhati-hatilah." Ucap Bella.
Dengan mobilnya Belva melakukan kegiatannya. Memiliki mobil sendiri membuat Belva merasa mudah dan bebas meski harus menyetir sendiri. Ia tumbuh menjadi perempuan yang mandiri karena sejak kecil memang kedua orang tuanya telah mendidiknya seperti itu.
Belva tak pernah mengeluh dalam melakukan segala hal. Kecuali saat-saat terpuruknya beberapa tahun yang lalu. Tentu saja perempuan itu akan mengeluh. Dulu usianya masih sangat muda. Bahkan orang yang telah dewasa saja jika mendapatkan masalah yang berat pasti akan mengeluh. Tidak ada bedanya dengan keadaan Belva waktu itu.
Perjalanan hidup yang setapak demi setapak Belva lalui itu mampu menjadikannya perempuan yang semakin kuat dan tangguh. Demi buah hatinya ia rela melakukan apa saja. Beruntung Tuan Hector menyelamatkan hidupnya dan menampungnya hingga bisa seperti saat ini. Tapi hidup bersama keluarga kaya tak berarti Belva hidup seperti Tuan putri. Ia tak ingin menjadi manusia semacam benalu yang tahu nya hidup enak dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada.
Ya memang Belva memanfaatkan fasilitas itu, tapi itupun paksaan dari keluarga Hector. Dan tentu fasilitas itu ia gunakan untuk mengembangkan diri serta dianggapnya berhutang. Jadi, ketika ia telah memiliki tabungan yang cukup maka Belva akan mengembalikan fasilitas yang diberikan padanya.
Bukan dikembalikan dalam bentuk uang pada keluarga Hector karena Tuan dan Nyonya Hector tak akan menerimanya. Melainkan cara Belva mengembalikan hutangnya dengan mendonasikan hasil kerja kerasnya ke beberapa tempat seperti pantai jombo, panti asuhan dan lembaga-lembaga penyaluran dana bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dan donasi itu Belva berikan bukan atas nama dirinya sendiri melainkan atas nama Tuan atau Nyonya Hector.
Belva rasa itu cara yang tepat, karena orang tua angkatnya tentu tidak akan menolak dengan cara itu. Justru itulah alasan mereka tidak bisa menolak jika Belva mengatakan akan membayar hutangnya. Meski tanpa Belva melakukan hal itu, keluarga Hector memang sudah rutin memberikan donasi ke beberapa tempat.
Belva kembali dengan membawa apa yang butiknya butuhkan. Ternyata toko kain itu sedang full melayani customer sehingga pelayanan dalam bentuk online sedikit terhambat.
Baru saja sampai di butiknya, ia sudah kedatangan customer untuk konsultasi desain. Setiap hari selalu saja ada customer yang datang meski tak lebih dari 5 orang. Tapi Belva bersyukur akan hal itu, ia yakin lambat lain akan lebih banyak lagi customer yang datang ke butiknya.
"Mohon maaf untuk pembicaraan DP ataupun pembayaran yang lain bisa anda bicarakan langsung dengan asisten saya." Ucap Belva dengan ramah.
Segala rincian atas konsultasi desain beserta bahannya Belva berikan pada Bella. Segala hal beekaiy dengan harga, pembayaran dan sebagainya masalah keuangan dan jadwal semua di urus oleh Bella.
"Baiklah Nona, nanti saya akan bicarakan dengan Nona Bella. Terima kasih atas waktunya." Ucap customer tersebut.
"Sama-sama Nona. Jika ada perubahan bisa langsung menghubungi Nona Bella. Dia asisten saya yang stay di samping saya dua puluh empat jam." Belva memang selalu bersikap ramah dan mencairkan suasana jika berhadapan dengan customer nya.
Sifat yang sangat membuat nyaman, tidak heran jika banya customer di butik de'La Hector yang suka sekali berkonsultasi secara langsung dengan perempuan muda itu.
Ketika semua sudah diserahkan pada asistennya, Belva berpamitan untuk menjemput Duo Kay. Sudah saatnya mereka pulang dari latihan mereka. Hari-hari Belva sangat sibuk sekali semenjak berada di Indonesia. Urusan butik dan juga anak-anaknya Belva sendiri yang turun tangan. Untuk urusan rumah ia serahkan pada Budhe Rohimah. Terkadang jika waktu libur Belva juga membantu mengurus rumah.
Duo kay memilih untuk kembali ke butik mengikuti Maminya. Seperti biasa aktivis yang mereka lakukan saat berada di butin adalah sibuk dengan tablet PC masing-masing. Karena bosan Kaila berjalan-jalan sejenak mengelilingi ruangan Maminya. Mata bulatnya melihat beberapa paper bag tergeletak disamping lemari dan beberapa manekin. Gadis itu berjalan mendekat dan melihat isi dari paper bag itu. Tangan kecilnya berusaha mengangkat box didalamnya. Ia duduk di atas lantai dan membuka box tersebut. Ingatan gadis itu cukup kuat akan kain itu.
"Sayang, kaila ?" Panggil Belva yang melihat tidak ada putrinya di samping Kaili.
"Mamiii..." Jawab Kaila.
"Mami, ini gaun yang waktu itu Kaila gambar kan ?" Tanya Kaila.
Seketika ada wajah sendu dari Belva jika mengingat gaun tersebut.
"Bukankah ini sudah selesai sangat lama sekali. Kenapa masih di sini ?" Tanya Kaila.
"Iya sayang, tapi sayangnya. Orang itu tidak jadi mengambil gaun ini." Ucap Belva tersenyum kecut.
Gadis kecil itu paham, jika tidak diambil berarti Maminya tak mendapatkan uang.
"Mami tidak jadi dapat uang." Ucapan Kaila diangguki lemah oleh Belva.
"Jual saja Mami biar Mami dapat uang." Ujar Kaila dengan polosnya.
"Hmm... Jual ?" Gumam Belva lirih tapi masih didengar oleh Kaila.
"Iya dijual kaya yang di mall-mall itu Mami yang ada desikon nya itu."
"Desikon ?" Kali ini kosa kata terbalik lagi yang Kaila berikan. Terkadang memang bocah itu suka terpeleset dalam mengatakan suatu kata.
"Diskon maksud kamu Kaila ?" Belva membenarkan. Kaila mengangguk dengan gigi-gigi kecil nya yang ia pamerkan karena terkekeh malu.
Belva tampak berpikir dengan saran putrinya, sebelumnya ia sempat berpikir juga apakah gaun itu akan dijualnya atau tidak. Sebab semua desain-desainnya itu telah dibeli oleh customernya secara ekslusif sesuai keinginan klien yang di mix dengan imajinasinya jadi bukan gaun pasaran.
Bella sang asisten tentu tahu keuangan yang berkaitan dengan gaun-gaun itu. Gadis cantik itu dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan Belva. Mereka kembali membicarakan masalah gaun yang batal dipesan secara sepihak.
"Nona, jika dihitung Winda Hara hanya memberikan DP untuk beberapa desain saja. Karena kita terlalu antusias dengan pesanan yang banyak maka kita memberikan keringanan pada pemesanan ini. Jadi, jika kita menjual selebihnya dari DP tidak akan jadi masalah." Jelas Bella.
"Baiklah kalau begitu. Aku merasa lebih tenang. Kaila memberikan saran padaku untuk menjual gaun-gaun itu. Agar aku mendapatkan uangku kembali." Belva terkekeh-kekeh sembari melihat putrinya melanjutkan aktivitas menggambarnya.
Bella ikut memandang Kaila, ia yang telah ikut menjaga Kaila sejak usia mereka satu tahun tentu paham bagaimana sifat bocah itu. Memang awalnya Bella pun merasa terkejut dengan pola pikir dua bocah kecil itu yang selangkah lebih maju dari anak-anak seusianya.
Belva dengan menggunakan manekin miliknya mulai memotret hasil karyanya dan putrinya. Sejak memutuskan membuka butik itu Belva memang sudah mempersiapkan media sosial sendiri untuk butiknya. Hasil jepretan dari kamera ponselnya, di-edit nya sendiri lalu dimasukkan ke dalam media sosial Instagram.
Dalam postingan tertera diskon yang diberikan untuk gaun-gaun tersebut. Hal itu dilakukan agar gaun itu tak terlalu lama berada di butiknya. Setidaknya modalnya bisa kembali untuk operasional, meski keuntungan yang didapatkan sangat kecil. Kini Belva tinggal menunggu saja siapa yang tertarik dengan gaun hasil rancangannya dengan Kaila.
"Semoga ada yang tertarik." Gumam Belva dalam hati sembari memperhatikan layar ponselnya yang menampilkan potret gaunnya.
****
Hari ini, Kaili dan Kaila libur karena seluruh guru dan staf karyawan sekolahnya mengadakan rapat intern yang setiap enam bulan sekali diadakan. Itu dilakukan untuk melihat perkembangan dan kekurangan pelayanan sekolah yang harus dibenahi.
__ADS_1
"Kalian yakin tidak ingin di rumah saja bersama Uti ?" Tanya Belva selesai sarapan dan bersiap berangkat ke butik.
"Yakin Mami, kami ingin bermain di sana." Jawab Kaila.
"Tapi kasihan Utinya sendirian di rumah sayang. Ini hari libur kalian temanilah Uti."
"Bagaimana kalau Uti ikut kita saja ke butik." Ide Kaila selintas muncul.
"Nanti Uti kelelahan sayang seharian di butik."
"Nanti siang kita pulang, biar Uti tidak kelelahan." Kali ini jawaban datang dari Kaili.
Belva menatap Budhe Rohimah, sebuah senyuman didapat oleh Belva serta anggukan. Budhenya setuju dengan ide Duo Kay, ia juga bosan jika terus berada di rumah.
"Tidak apa-apa. Sekalian Budhe yang jaga mereka. Budhe bosan di rumah." Ucap Budhe Rohimah.
"Baiklah, biar nanti siang Belva antar ke rumah lagi ya." Ucap Belva diangguki Budhe Rohimah.
Bella sibuk dengan persiapannya sendiri dan juga mempersiapkan kebutuhan Duo Kay. Saat semua sudah siap mereka semua berangkat ke butik. Benar saja sampai sana, Budhe Rohimah menjaga Duo Kay, mendampingi anak kembar itu dalam bermain dan juga menggambar.
Budhe Rohimah yang awalnya terkejut dengan kemampuan kedua cucunya, kini sudah mulai terbiasa. Hari ini mereka bebas tugas dari beberapa tugas yang harus dua bocah itu kerjakan. Desain bangunan dari kantor Tuan Hector belum ada yang diberikan untuk Kaili. Sedangkan Kaila, anak itu merasa hari ini ingin bebas untuk bermain dan menggambar apa saja yang diinginkan nya.
Tok... Tok... Tok... !!!
Ketukan pintu terdengar, setelahnya pintu terbuka. Sudah bisa ditebak oleh Belva jika yang melakukan hal itu hanyalah Bella.
"Ada apa Bella ?" Tanya Belva.
"Nona, di luar ada yang sedang mencari dan menunggu Anda."
"Oh oke. Tapi siapa ?"
"Beliau mengatakan customer lama Nona." Jawab Bella.
Jawaban itu membuat Belva berpikir cukup keras. Siapa orang tersebut, jika itu customer lama artinya bukan customer butik Evankay. Itu artinya dia pelanggan de'La Hector. Apa itu Maria yang datang, terkadang wanita itu juga selalu bertingkah jahil pada Belva.
"Baiklah. Aku akan ke bawah. Kamu turun duluan saja."
"Baik Nona." Bella keluar ruangan kembali.
Belva berpamitan pada dua anaknya dan juga Budhe Rohimah. Setelah itu ia pergi ke bawah menemui customer yang dimaksud oleh Bella.
Tampak di bawah ada beberapa orang yang melihat gaun yang terpajang di badan patung dengan pahatan proposional itu. Dilihat dari wajahnya bukanlah orang asli Indonesia. Apakah itu teman-teman Maria ? Mengingat Maria pernah tinggal lama di Jerman.
Belva masuk ke dalam ruangan Bella. Ada beberapa orang duduk di sofa yang ada di ruangan Bella. Mereka semua menatap kearah Belva yang baru saja membuka pintu.
"Nyonya Dimitri." Gumam Belva.
Nyonya Dimitri tersenyum mendapati Belva masuk ke ruangan. Tampak wajah sedikit terkejut dari wajah cantik sang desainer. Belva berjalan mendekat ke arah para wanita paruh baya yang duduk di sofa.
"Nyonya Dimitri, anda kenapa bisa ada di sini ?"
Saat Belva sudah mendekat Nyonya Dimitri memeluk Belva. "Tentu saja bisa, aku mencarimu Nona Vanthe. Fransy dan Nyonya Hector mengatakan jika kamu menetap di sini dan membuka butik yang baru."
Nyonya Dimitri memperkenalkan Belva pada teman-temannya yang lain. Dengan ramah Belva menjabat tangan satu persatu dari teman-teman Nyonya Dimitri.
"Bagaimana kabar anda Nyonya, lama kita tidak bertemu."
"Iya, kabarku seperti yang kamu lihat. Aku terlalu sibuk jadi sangat jarang mengunjungi de'La Hector. Sekalinya datang, justru orang yang kucari tidak ada. Sungguh membuatku kecewa." Raut wajah Nyonya Dimitri dibuat seakan sedih dan merajuk.
Belva tersenyum. " Apa Nyonya mencari saya ?" Tanya Belva yang diangguki Nyonya Dimitri.
"Ada apa mencari saya ? Sampai Nyonya datang ke sini." Tanya Belva.
"Memang ada hal penting sekalian liburan bersama yang lain. Apa Nona Vanthe ada waktu ? Aku ingin membicarakan masalah desain untuk gaun pengantin putriku."
"Tentu saja ada Nyonya. Anda jauh-jauh datang ke mari, maka saya harus meluangkan waktu untuk anda." Belva tersenyum ramah.
"Jadi, kapan pernikahan akan digelar ? Kita harus membicarakan dulu bagaimana konsepnya." Ucap Belva.
"Beberapa bulan lagi, kurang lebih 10 bulan lagi."
"Oke. Kita harus segera menentukan konsep dan segala macam yang berkaitan dengan gaunnya. Membuat gaun pengantin sebenarnya membutuhkan waktu yang lama karena biasanya harus beberapa kali fitting untuk melihat hasil yang pas." Jelas Belva.
"Iya maka dari itu aku segera ke mari, sekalian ada jadwal liburan di sini."
Saat pembicaraan mengenai gaun pengantin tersebut, beberapa teman Nyonya Dimitri merasa itu adalah pembicaraan pribadi diantar kedua wanita berbeda usia itu. Maka teman-teman Nyonya Dimitri memutuskan untuk keluar melihat beberapa gaun yang di pajang oleh Belva.
Pembicaraan terjadi diantara Belva dan juga Nyonya Dimitri. Kedua wanita itu tampak serius tapi sesekali mereka tertawa-tawa karena dalam pembicaraan pasti ada terselip candaan dari keduanya. Belva dan Nyonya Dimitri telah lama saling mengenal semenajk Belva memutuskan untuk bekerja di butik Mamanya.
Semua yang dikerjakan Belva selalu membuat customer terloyal nya itu puas. Bahkan ia rela terbang dari Jerman ke Indonesia hanya untuk menemui Belva meski memang sudah ada jadwal liburan bersama teman-temannya. Jikapun tak ada jadwal itu Nyonya Dimitri tetap akan menemui Belva sendiri.
Sedangkan Bella menemani para tamu yang datang di butiknya. Terlihat sekali mereka yang berjumlah sembilan orang itu sibuk mengomentari gaun yang sedang mereka lihat. Sesekali pertanyaan muncul dari mereka dan harus dijawab oleh Bella. Menggunakan bahasa Jerman yang tentu Bella sudah sangat fasih karena telah lama tinggal di negara menara Eiffel.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
__ADS_1
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π