
Disaat Alya tengah kesulitan dalam hidupnya, berusaha keras mencari pekerjaan demi menyambung hidup. Berkali-kali melamar pekerjaan namun ditolak dengan alasan kehamilan tapi kini sedikit keberuntungan berpihak pada Alya, ia bertemu dengan orang baik. Di dunia ini meski kesulitan lebih terasa dibandingkan kebahagiaan hingga merasa hidup itu kejam tapi percayalah masih ada segelintir orang baik yang masih memiliki hati nurani.
Alya bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang bernama Vera. Usianya mungkin sepuluh tahun di atasnya, mereka bertemu saat Alya tengah diusir oleh pemilik warung makan kecil karena tak mampu membayar sepiring nasi yang telah dimakannya.
Merasa iba wanita cantik berkulit putih bermata sipit khas sekali wanita Asia. Ia bertanya asal mula Alya bisa diusir hingga Alya menceritakan sedikit keluh kesahnya yang tak mampu membayar makanan karena tak memiliki uang dan pekerjaan. Akhirnya Vera memberikannya pekerjaan untuk Alya meski tahu wanita yang akan ditolongnya itu tengah hamil. Justru kehamilan Alya membuat Vera merasa iba hingga tak tega membiarkan wanita itu berada dalam kesusahan. Vera memberikan pekerjaan menjaga butik milik Vera yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Jakarta.
Kembali bisa menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan hati Alya merasa sangat bahagia. Dulu dirinya hampir setiap hari bisa mengelilingi tempat itu dengan berbelanja, makan hingga nongkrong bersama teman-teman nya.
Di gedung yang sama tapi di tempat yang berbeda, Alya menjaga butik sedangkan di salah satu cafe beberapa gadis berkumpul bersama dengan wajah ceria dan bahagia seperti biasanya mereka mengobrol bersama dengan topik yang tak jauh dari fashion dan kecantikan. Mereka semua adalah Kristal, Gwen dan Noella. Teman-teman Alya yang sampai saat ini masih sering berkumpul bersama tanpa Alya.
Gwen sudah jelas sampai detik ini masih merasa tak suka dengan sikap Alya yang dulu sempat membuatnya merugi hingga mendapatkan amukan serta hukuman dari orang tuanya tanpa ada permintaan maaf dari Alya nyatanya membuat Gwen begitu tak menyukai Alya, benih kebencian sedikit terselip dalam hati Gwen untuk Alya.
Kristal dan Noella yang masih bersikap baik pada Alya perlahan mulai menghilang ketika Alya mencari. Khususnya Kristal yang sempat menampung Alya di rumahnya saat di usir oleh Satya. Noella sejak perempuan itu pergi menghilang saat keadaan Alya masih baik-baik saja hingga detik ini hanya sesekali saja menanyakan keberadaan Alya yang dirasa tak begitu penting untuknya meski mereka sempat sangat dekat dulu.
Entah apa yang membuat mereka bertiga pergi menjauh dari Alya yang jelas dari masing-masing mereka bertiga memiliki alasan tersendiri yang berbeda. Kristal dan Gwen memang sering pergi bersama hanya berdua saja karena Noella baru saja datang kembali satu minggu terakhir.
Sudah hampir dua jam mereka berkumpul bersama. Kini saatnya mereka akan berpisah karena Noella memiliki janji lain untuk pergi ke suatu tempat.
"Guys... Aku harus pergi ada janji pertemuan dengan keluarga." Ujar Noella.
"Keluarga kamu juga ada disini?" Tanya Gwen.
"Iya mereka baru saja datang." Jawab Noella.
"Oke hati-hati. Oh iya kamu masih di apartemen yang lama kan?" Tanya Kristal.
"Tidak aku sudah pindah. Di jalan xxx."
"Bukan kah itu area perumahan yang dekat dengan perumahan elit Gold Land?" Tanya Kristal memastikan.
"Iya aku sekarang tinggal disana."
Gwen dan Kristal mengerutkan kening, tinggal di perumahan bukanlah kebiasaan dan kesukaan Noella. Perempuan itu lebih suka tinggal di sebuah apartemen yang lebih privasi dan simpel menurutnya.
Kedua perempuan yang ada dihadapan Noella baru saja akan membuka mulut mereka untuk bertanya pada Noella tapi niat itu terhenti kala Noella tersenyum dan melambaikan tangan ke arah belakang Gwen dan Kristal.
Seorang pria berjalan mendekati mereka dengan gaya yang begitu santai. Pria itu tersenyum pada Noella. Mata Gwen dan Kristal menyipit saat melihat kedatangan pria itu. Pikiran mereka mulai kembali bertanya-tanya.
"Hai sayang." Sapa Noella dengan senyum manisnya pada pria itu.
Lagi-lagi Gwen dan Kristal kembali saling lirik. Mereka berdua memperhatikan interaksi kedua orang yang menjadi pusat perhatian mereka.
"Hai Honey." Sapa pria itu.
Noella berdiri menyambut kedatangan pria yang sangat dicintainya itu. Demikian pria itu langsung merangkul pinggang Noella dengan erat. Mengetahui dirinya ditatap dengan tatapan aneh oleh kedua sahabatnya, Noella melonggarkan rangkulan erat dari prianya.
"Noe??" Satu panggilan yang bernada sinis tapi penuh dengan tanda meminta penjelasan dari raut wajah Kristal.
"Ekhem... Guys maaf aku belum menjelaskan pada kalian." Ucap Noella merasa sedikit kurang nyaman dengan tatapan Kristal.
"Sayang..." Panggil Noella pada prianya.
Seakan paham dengan tatapan dan raut wajah Noella pria itu mengangguk.
"Aku ke toilet dulu, Honey." Pamit pria itu yang diangguki oleh Noella.
Pria itu berlalu, Noella kembali duduk dihadapan kedua sahabatnya.
"Bisa dijelaskan?" Tanya Kristal.
"Noe... Bukankah itu..." Ucap Gwen dengan mengangkat satu alisnya.
"Iya... Dia suamiku."
Deg!!!
Kristal dan Gwen menganga saat mendengar pengakuan dari Noella. Gwen berkali-kali mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya, dirinya seperti seseorang yang berusaha menghalau imajinasi buruk yang berada di hadapannya.
"Mm-mak-sud kamu?? Noe, aku benar-benar belum paham kamu bercanda?" Kristal tertawa sumbang tak percaya dengan pendengaran dan pandangan matanya tadi.
"Noe... Sejak kapan kamu jadi pelakor?" Tanya Gwen tanpa basa-basi dan suara yang lantang.
"Shi*ttt... Pelankan suaramu Gwen." Ucap Noella kesal dengan menatap tajam pada Gwen.
"Aku salah bicara? Bukankah itu benar?" Ucap Gwen tanpa rasa berdosa dengan melirik Kristal meminta dukungan dan jawaban.
Kristal tersenyum miring. "Cih... Benar temanku seperti ini?"
"Dengar dulu penjelasanku." Ucap Noella.
Perempuan itu tak suka jika dirinya dituduh sebagai perebutan lelaki milik orang lain karena dirinya bukanlah tipe wanita yang suka merebut hak orang lain.
Noella menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir tanpa ada yang harus ditutupi nya lagi. Kristal dan Gwen mendengarnya dengan sangat antusias.
Flashback On
Sudah beberapa bulan yang lalu gadis cantik dengan sorot mata yang tajam itu tak lagi menempati apartemen. Kedua orang tuanya menyuruhnya untuk kembali ke negara asal sang Ayah.
Amerika, negara itu menjadi negara yang jarang dikunjungi oleh gadis itu sejak memasuki bangku SMA. Ia lebih memilih untuk tinggal bersama sang nenek setelah Ayahnya menikah lagi.
Marah karena ayahnya telah menikah lagi ? Tidak, bahkan gadis itu terkesan cuek dengan Ayahnya. Kesibukan sang Ayah yang membuatnya tak dekat dengan ayahnya. Tapi walau begitu semua kebutuhannya selalu disiapkan tanpa kekurangan.
Hubungan dengan Ayah dan Ibu tirinya memang tak sedekat keluarga yang lainnya. Dirinya hanya dekat dengan sang ibu kandung dan neneknya saja yang berada di Indonesia.
Meski begitu, beruntung ibu tirinya bukanlah ibu tiri yang jahat. Selalu memperhatikan anak sambungnya walau tak mendapatkan respon yang ramah karena memang sikap gadis itu yang tak mudah ramah pada siapapun. Tapi itu tak menyurutkan rasa sayang sang ibu tiri padanya.
"Sayang bagaimana kabar mu ?" Tanya seorang wanita yang masih terlihat muda dan cantik.
"Baik seperti yang Mama lihat."
"Maaf menyuruhmu kembali ke Amerika. Papamu entahlah sudah tak sabar untuk bertemu denganmu. Tapi dia tak bisa mengunjungi mu tahu sendiri Papa mu sangat sibuk. Mama saja kesepian di rumah."
Gadis itu memutar bola matanya jengah.
"Siapa suruh mau menikah dengan Papa. Aku saja malas tinggal dengannya."
Wanita itu tersenyum lembut. "Jika kamu tak keberatan tinggalah disini bersama Mama."
"Ma, sudah ku bilang bukan ? Aku tak mau disini." Ucap gadis itu ketus.
"Baiklah... Mama mengerti." Wanita itu mengusap lembut punggung gadis itu.
"Beristirahat lah. Hari ini Papa mu pulang lebih cepat nanti kita makan malam bersama."
"Hmm... Aku ke kamar."
"Iya sayang pergilah."
Sore tiba, sama seperti perkataan ibu tirinya. Papanya pulang lebih cepat dari kantor. Entah ada hal apa yang membuat pria itu mau pulang lebih awal.
Mereka makan malam bersama. Masakan ibu tirinya itu memang lezat. Pas di lidah seluruh penghuni rumah. Mereka semua makan dengan tenang, tak ada pembicaraan apapun. Tapi, tiba-tiba sang kepala keluarga membuka suara.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kabar mu." Tanya Papa gadis itu.
"Baik."
"Apa harus Papa desak agar kamu mau pulang ke sini ?"
"Disini tidak ada yang menyenangkan."
"Apa di Indonesia banyak hal menyenangkan ?"
"Tentu. Apa yang ingin Papa katakan ?" Ujar gadis itu. Ia seakan tahu jika Papa nya hanya sekedar basa-basi saja.
Sedangkan pria itu tahu jika putrinya memang tak suka dengan yang namanya basa-basi. Dia menghela napas.
"Papa ingin menjodohkan mu."
Klunting !!! Sendok diletakkan secara kasar oleh gadis itu di atas piringnya.
"Apa maksud Papa ingin menjodohkan ku ? Aku sudah punya kekasih."
"Sayang dengar. Ini sudah kesepakatan Papa dengan sahabat Papa dulu saat kalian masih berada di dalam kandungan."
"Itu kesepakatan konyol dan sudah berlalu cukup lama. Aku tak mau." Tolak gadis itu dengan keras.
"Papa tidak mau tahu. Besok malam kita makan malam bersama dengan mereka. Jika kamu menolak setidaknya berkenalan saja dulu tak masalah selebihnya Papa tak ikut campur."
Pria itu tahu hubungan nya dengan sang putri memang tak cukup dekat. Jadi, diapun tak ingin memaksa putrinya yang membuatnya semakin jauh dengan putranya nanti.
"Sayang, maaf jika Mama ikut campur. Kamu ikut makan malam nya saja dulu nanti setelah itu terserah padamu."
"Yayaya baiklah. Aku selesai." Gadis itu sudah tidak berselera makan lagi.
Dalam hatinya begitu kesal, masalahnya dengan sang kekasih saja masih belum selesai. Ini sudah ditambah dengan perjodohan, membuat kepalanya pusing. Untung saja dirinya masih bisa mengontrol emosi.
Pertemuan antara dua keluarga benar-benar direalisasikan. Janji temu untuk makan malam keluarga yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari saat ini berjalan dengan lancar.
"Matthew bagaimana kabar mu ? Akhirnya kita bisa kumpul keluarga juga."
"Allan, kamu lihat kami sangat baik. Aku senang rencana kita untuk makan bersama keluarga terwujud juga. Mana putra mu."
"Masih di mobil terima telepon dari temannya. Nanti menyusul." Ucap Allan.
"Ayo masuk... Masuk Allan, Felicia. Donna sudah menunggu di dalam bersama putri ku."
Sampai di dalam mereka berbincang-bincang sejenak. Perkenalan antara sepasang suami-istri Allan Felicia dan putri dari Matthew.
"Wah anak mu cantik sekali, sudah lama tak bertemu sudah sebesar ini." Ucap Felicia.
"Iya begitulah. Bagaimana mau bertemu dia tak mau tinggal di sini. Lebih memilih untuk tinggal di Indonesia." Ucap Mattew melirik putrinya.
"Ayo kita mulai makan malam saja, sudah semakin malam." Ucap Donna. Suara wanita itu selalu terdengar lembut. Sikapnya yang lembut dan keibuan itulah yang membuat Mattew jatuh cinta pada Donna.
Saat makan malam akan dimulai, barulah putra Allan dan Felicia datang.
"Maaf sudah menunggu lama." Ucap pria itu.
Putri Mattew mendongak saat suara itu membuyarkan rasa malasnya. Mata itu membulat sempurna.
"Jack ?"
"Noella ?"
Keduanya sama-sama terkejut. Mereka adalah Jack dan Noella, kekasih dan juga sahabat dari Alya.
Jack dan Noella mengangguk bersama.
"Wah kebetulan sekali ini Allan kita tak perlu susah-susah mengenalkan mereka berdua." Ucap Mattew.
Yang tadinya Noella malas mengikuti makan malam ini kini berubah kesal saat melihat wajah Jack. Ia berdiri dari duduknya dengan wajah yang sudah tak sedap di pandang.
Jack bingung harus bagaimana, ingin mengejar tapi tak sopan jika meninggalkan orang tua Noella.
"Kalian ada apa ?" Tanya Mattew.
"Jack, bisa jelaskan pada Papa ?" Ucap Allan.
"Emm... Papa bisa kah aku pergi. Aku harus kejar Noella dia sebenarnya kekasih ku, Pa."
Orang tua Jack dan Noella terkejut mendengar itu tak menyangka jika mereka bahkan sudah menjalin hubungan sebelum perjodohan dilakukan.
"Kejar lah. Jika ada masalah selesaikan dengan cepat." Ucap Mattew.
Jack dengan cepat mengejar Noella yang tadi sudah berjalan ke arah kamar gadis itu. Jack bingung harus mengetuk pintu yang mana saat sudah berada di lantai dua. Tapi satu pintu yang terlihat berbeda dari yang lain, pria itu yakin jika itu adalah kamar kekasihnya.
Pintu diketuk cukup lama baru Noella mau membuka pintu kamarnya. Tatapan tajam Noella berikan pada Jack.
"Mau apa kamu kesini ?" Ujar Noella ketus dengan tatapan tajam.
"Sayang dengarkan aku. Aku minta maaf, aku tak bermaksud mengabaikan mu."
"Tak bermaksud tapi kamu sudah mengabaikanku. Pergi sana." Usir Noella..
"Tidak !!" Jack menerobos masuk ke dalam kamar Noella. Pintu kamar itu di kuncinya agar tak ada yang mendengar percakapan mereka dan agar kekasihnya tak pergi keluar.
"Mau apa kamu ? Keluar aku tak ingin berbicara dengan mu." Noella semakin kesal pada Jack.
"Sayang, dengarkan aku. Aku menyayangimu jangan mengusir ku seperti ini."
"Cih sayang ? Tapi kamu bahkan bisa tidur dengan Alya." Ucap Noella sinis.
"Noella please, kamu tahu bagaimana aku ? Kita sudah berjanji bukan jika kita akan menerima satu sama lain."
"Ya aku akan menerima mu jika kamu meninggalkan Alya."
"Oke. Itu sudah pasti sayang. Bahkan saat ini saja aku sedang berusaha menjauh darinya." Ucap Jack.
Tak lama ponsel Jack berdering, panggilan dari Alya dan Noella melihat itu. Hatinya yang kesal bertambah kesal. Jack menolak panggilan itulah dan mematikan ponselnya.
"Sayang, jangan marah. Aku tak menerima panggilan darinya."
Jack tahu jika kekasihnya sedang marah, dikecupnya bibir Noella dan dilu*matnya dengan lembut. Noella yang semula diam karena kesal berakhir dengan membalas luma*tan tersebut. Mereka saling berbagi rasa manis dari bibir masing-masing.
Sikap Jack yang tak bisa menahan hasrat itu, tangannya tak tinggal diam saat pertemuan bibir itu berlangsung. Dua daging yang bertumpuk menjadi bulatan indah dan ideal itu menjadi sasaran tangan kekar Jack.
"Hhmmpph..." Noella mendorong dada bidang Jack hingga pagu*tan mereka terlepas.
"Jack... No..." Ucap Noella.
"Sayang Please... Sedikit saja." Ucap Jack dengan tatapan memohon dan memelas.
"Kita harus melanjutkan makan malam." Ucap Noella.
__ADS_1
"Oke tapi beri aku sedikit saja baru kita keluar. Please."
"Tak lebih ?" Tanya Noella.
"Ya aku janji tak lebih."
Gadis itu tahu jika kekasihnya itu memiliki libi*do yang tinggi. Tak sabar Jack melu*mat kembali bibir Noella sembari berjalan mengarahkan kekasihnya ke arah ranjang.
Seusai janji pria itu, dia hanya meminta sedikit saja pada Noella. Dengan lincah tangan Jack menurunkan resleting bagian belakang dress kekasihnya hingga bagian favorit nya terpampang jelas. Tangan itu bermain disana dan akhirnya memberikan kehangatan dengan sentuhan bibir dan lidahnya.
Dua manusia itu memang sudah dekat sebelum Jack menjalin hubungan dengan Alya. Bila dilihat secara fisik Noella memang lebih cantik dari Alya. Jack memang lebih tertarik pada Noella hingga di belakang Alya mereka menjalin hubungan.
Noella, dia bukan gadis lembut dan polos. Hidup bebas dari orang tuanya membuatnya menjadi gadis yang sedikit liar dan nakal. Hubungan mereka terjalin dengan sebuah perjanjian jika mereka akan menerima kekurangan satu sama lain. Bisa dibilang hubungan mereka itu sangat aneh. Noella bersedia menerima Jack yang dirinya tahu dengan jelas jika pria itu menjalin hubungan dengan beberapa wanita bahkan dengan sahabatnya sendiri.
Bagi Noella tak terlalu masalah jika Jack mau bermain wanita selama mereka belum terikat dengan sebuah ikatan yang sakral. Tapi ketika mereka telah terikat secara sakral dan sah di mata hukum dan agama maka Noella tidak akan tinggal diam dengan sikap Jack. Noella gadis yang terlampau santai dalam menjalani kehidupannya.
Selesai dengan aktivitas kecil mereka. Kini mereka kembali bergabung dengan orang tua mereka untuk membahas perihal perjodohan. Tak lagi menolak keduanya menerima dengan senang hati.
Perjodohan itu berakhir dengan sebuah pernikahan karena Jack sudah tak sabar ingin menjadikan Noella miliknya seutuhnya.
Flashback Off.
"Sudah jelas? Ada yang mau kalian tanyakan lagi sebelum suamiku kembali." Ucap Noella dengan santai.
"Gila... Noe aku masih tak percaya ini. Kamu bisa membiarkan Jack menjalin hubungan dengan Alya secara terang-terangan dihadapan mu?" Ucap Gwen.
"Kalian tahu sendiri bagaimana aku bukan? Aku terlalu malas mengurusi sesuatu yang rumit. Selama kami belum terikat seperti sekarang ini aku membiarkannya bermain-main sepuasnya. Tapi jangan harap jika sudah menjadi suamiku dia akan bebas bermain-main di belakangku." Ucap Noella penuh ketegasan.
"Kamu gak kasihan dengan Alya?" Tanya Kristal.
"Kasihan? Kenapa? Aku tidak merebut Jack darinya justru dirinya yang merebut Jack dariku saat itu."
"Itu karena Alya tak tahu kalian berdua menjalin hubungan dengannya." Ucap Kristal seakan membela Alya.
"Sudah seberapa lama kalian mengenal Alya?" Tanya Noella menatap Kristal dan Gwen secara bergantian.
"Maksud mu?" Tanya Kristal.
"Bukankah kita semua tahu jika Alya tipe perempuan yang tidak bisa melepaskan dan selalu berusaha keras menginginkan apa yang dia mau bahkan dengan cara licik sekalipun." Ucap Noella yang sangat paham dengan sikap dan karakter Alya.
"Ya... Noella benar. Kalian tahu saat dirinya menyuruh ku untuk memesan beberapa gaun pada pemilik butik Evankay dan sengaja mengabaikan pesanan itu dengan tujuan agar pemilik butik itu merugi. Bukannya mereka yang rugi tapi aku yang dirugikan." Ucap Gwen mencurahkan isi hatinya.
"Itu kamu yang bo*doh." Kristal mengejek Gwen hingga membuat perempuan cantik berwajah Asia itu kesal dan cemberut.
"Dan kamu ingat Kris? Alya pernah membisikkan apa padamu saat di cafe waktu itu?" Tanya Gwen.
"Yang mana?" Tanya Kristal melupakan sesuatu.
"Saat kamu menolaknya dan dia marah lalu pergi meninggalkan kita." Gwen mengingatkan Kristal.
"Kapan? Alya selalu seperti itu saat kita menolak ajakannya." Ucap Kristal.
"Iya juga sih." Gwen membenarkan.
"Itu yang setelah kita dari cafe lalu kita pergi ke salon dan dua hari kemudian kita menonton launching nya produk Ivalloth itu loh masa kamu lupa." Ucap Gwen gemas.
"Ahh iya... Aku ingat. Noe, kamu tahu? Alya pernah mengajakku untuk melenyapkan seseorang." Ucap Kristal mengingat ajakan Alya yang paling parah.
"Oh ya?" Noella tersenyum miring.
"Kalian paham kan bagaimana Alya, seperti itulah dia. Itulah mengapa aku hanya diam saat itu, berusaha tak menimbulkan masalah yang akan mengganggu ketenangan hidupku sendiri." Sambung Noella kembali.
"Noe... Tapi kamu harus tahu, aku rasa ini sangat penting untukmu." Ucap Kristal.
"Apa? Serius sekali wajahmu." Tanya Noella.
Kristal menghela napas, ia menatap Noella dengan tatapan seriusnya.
"Alya... Alya hamil."
Noella sedikit terkejut tapi perempuan itu kembali menguasai diri.
"Lalu?" Tanya Noella santai.
"Anak Jack." Ucap Kristal mencoba memperhatikan reaksi Noella.
Kini Noella yang menghela napas mendengar penuturan Kristal. Sakit sudah pasti Noella rasakan tapi ia tak terlalu terkejut karena itu suatu hal yang sangat mungkin mengingat suaminya sebelum menikah memang sering menjalin hubungan dengan banyak wanita bahkan melakukan hal yang lebih dari sekedar berpacaran biasa.
"Oke... Informasi yang cukup penting." Ucap Noella yang sangat pandai menguasai diri.
Kembali Kristal dan Gwen melongo dengan jawaban dan reaksi Noella yang tidak tampak syok karena pria yang kini menjadi suami Noella menghamili perempuan lain dan sebentar lagi akan memiliki anak dari perempuan lain.
"Noe... Kamu tidak marah? Syok atau apalah itu. Kenapa kamu setenang ini?" Tanya Gwen.
"Hanya sedikit terkejut tapi itu sudah ku pikirkan sejak dulu pasti akan ada permasalahan dalam hubungan pernikahan kami. Bukan masalah berat untukku."
Kristal hanya menggelengkan kepalanya saja, ia tahu memang bagaimana sifat Noella. Gwen hanya berdecak cukup merasa aneh dengan Noella tapi ia juga merasa masa bodoh karena itu urusan Alya dan juga Noella serta Jack.
"Terserah, tapi aku merasa kasihan padanya jika Jack tak mau bertanggung jawab." Ucap Kristal.
Noella menghendikan bahunya mengabaikan ungkapan Kristal. Menurutnya semua itu terjadi juga bukan sepenuhnya kesalahan Jack. Ia tahu jika Alya sangat mencintai suaminya hingga mau melakukan apapun agar tetap bisa bersama Jack. Seorang pria yang dirasa paling menyayangi dan memperhatikan Alya yang kurang kasih sayang dari kedua orang tua.
Jack memang pria berengsyek yang memanfaatkan perasaan dan kondisi Alya saat itu demi kesenangannya semata. Jack tak benar-benar mencintai Alya meski rasa sayang itu memang ada sedikit untuk Alya. Tapi sayang sekali rasa cinta dan sayang Jack lebih besar untuk Noella seorang.
Selesai bercerita dan menjelaskan semua yang terjadi pada kedua sahabatnya. Jack yang kini sudah menjadi suami Noella telah datang dari arah belakang Noella.
"Suami kamu sudah datang." Ucap Gwen.
Noella menoleh ke belakang, ia sedikit tersenyum pada Jack. Rasa kesal dan sakit hati tentu saja Noella rasakan sebagai seorang istri yang mengetahui jika suaminya memiliki anak dari wanita lain. Tapi bukan Noella namanya jika tidak menguasai diri di hadapan banyak orang.
"Honey..."
"Hemm... Mau minum dulu?" Tanya Noella pada Jack.
Jack melirik ke arah Kristal dan Gwen.
"Hai Kris... Gwen..." Sapa Jack.
Kristal hanya tersenyum sedangkan Gwen hanya mengangguk cuek pada Jack. Mereka memang saling mengenal sejak dulu karena sering nongkrong bersama saat Jack menjadi kekasih Alya.
"Kita langsung pulang saja. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita." Ajak Jack.
Sebenarnya pria itu merasa kurang nyaman, lama tak bertemu dengan dua perempuan yang menjadi teman istrinya itu. Rasa canggung menyerang, Jack tahu pasti kedua teman istrinya itu sudah berpikir buruk padanya terlebih mengetahui hubungannya dengan Noella.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih banyak kalian masih setia sama author. Author sangat menghargai kalian yang masih setia support author.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Hal yang mungkin menurut kalian tapi ini sangat berarti dan berharga untuk author. 🙏🙏🙏
Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki. Amin 🤗🙏