Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 47. Kemarahan Kaili


__ADS_3

Hari ini Duo Kay kembali beraktivitas seperti biasa. Mereka kembali berangkat ke sekolah dengan perasaan yang riang dan gembira. Kemarin mereka baru saja jalan-jalan bersama Roichi yang kini dipanggilnya dengan sebutan Papi.


Belva tak ikut jalan-jalan karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Hingga sampai saat ini ia masih bekerja dari rumah. Masih merasa takut jika tiba-tiba Sonia atau Alya datang menghampirinya.


Kabar mengejutkan Belva dengar dari Budhe Rohimah, Budhe nya itu dalam waktu yang tak bisa dipastikan tidak kembali ke Jakarta karena harus mengurus salah satu keluarga suaminya yang sedang sakit. Ia diminta untuk menjaga dan mengurus selagi ditinggal bekerja.


Belva tak keberatan karena itu lebih baik untuk saat ini ketimbang harus berada di rumahnya dengan permasalahan yang masih memanas. Tak ingin wanita yang telah dianggapnya ibu itu harus ikut terbebani oleh masalahnya.


Jika tidak ada yang darurat maka Bella lah yang mengantar dan menjemput Duo Kay. Atau terkadang Farah atau Okta yang membantunya mengantar jemput Duo Kay. Sebenarnya Belva merasa tidak enak dan tidak nyaman tapi kedua temannya itu memaksa untuk tetap membantu.


Seperti saat ini Okta yang menjemput Duo Kay. Rumah Belva yang memang dekat dengan sekolah Duo Kay sama sekali tak membuat Farah dan Okta repot, karena mereka bisa melewati jalan rumah Belva sebelum ke sekolah.


"Kak Okta terima kasih ya maaf merepotkan."


"Merepotkan apa-apaan kamu Bel ? Diantar kita tidak ada kata repot. Harus saling bantu. Sudah ah kita berangkat dulu nanti anak-anak terlambat. Kamu hati-hati di rumah."


"Iya kak, hati-hati ya. Sekali lagi terima kasih."


"Iya... Iya... Kamu dari tadi terima kasih terus."


"Anak-anak salam dulu dengan Mami Kay." Ucap Okta menyuruh para bocah itu berpamitan dan bersalaman dengan Belva.


Satu persatu mereka berpamitan, diantara mereka memang jarang sekali membahasakan anak-anak mereka untuk menyebutkan kata Tante atau aunty.


Okta dan anak-anak pergi menggunakan mobil mewahnya. Tak heran karena rata-rata anak-anak yang bersekolah di TK Seven Blue School adalah mereka.dari kalangan menengah ke atas. Biaya sekolah yang cukup tinggi karena fasilitas yang mereka dapatkan juga sepadan dengan biayanya.


Celoteh riang dari anak-anak tak terelakkan lagi saat berada di dalam mobil. Jika beberapa waktu lalu mobil Okta akan terasa sedikit sepi kini justru menjadi heboh dengan celotehan dan gelak tawa para bocah. Hingga sampai di sekolah mereka turun dengan bergandengan tangan bertiga. Terlihat menggemaskan sekali, Okta bahkan tersenyum menggelengkan kepala. Anak-anak itu sudah sangat akrab sekali, meski Donny tak satu kelas dengan Duo Kay dan Farel namun tetap saja kedekatan mereka tetap berjalan.


"Mama Donny kita masuk ya. Terima kasih tumpangannya." Ucap Kaila.


"Astaga... Belva bahkan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik seperti ini meski tanpa seorang suami." Batin Okta.


Ya Okta dan Farah terkadang memang dibuat kagum oleh Duo Kay akan sikap keduanya yang beberapa hal tak dimiliki oleh anak-anak yang lain.


"Iya sayang sama-sama. Kalian belajar yang rajin ya. Jangan nakal dan harus menjaga satu sama lain. Oke." Nasehat yang selalu Okta berikan pada Duo Kay, Donny dan juga Farel.


"Mama aku masuk ya." Ucap Donny.


"Iya sayang. Yang rajin belajarnya."


"Mama Donny." Kaili hanya mengulurkan tangan untuk bersalaman saja tapi dibarengi dengan senyuman dari Kaili.


Okta mengusap kepala Kaili dengan lembut. Setelah melihat ketiga bocah itu memasuki kelas Okta kembali pulang seperti biasa. Di area sekolah masih saja terdengar gosip itu yang masih eksis kala Farah atau Okta mengantar Duo Kay.


Bahkan kabar bullying yang terjadi pada Kaila kemarin juga terdengar oleh Farah dan Okta. Mereka merasa geram pada orang tua anak-anak tersebut yang tak bisa mendidik dan mengarahkan anak-anak mereka.


Untung hal itu langsung ditangani oleh pihak sekolah kemarin saat Duo Kay memilih tak masuk sekolah. Pihak sekolah langsung bertindak dengan memanggil orang tua siswa yang melakukan bullying. Teguran diberikan agar tak terjadi lagi hal serupa.


Aktivis sekolah berlangsung dengan lancar, tidak ada lagi lontaran kata-kata menyakitkan yang di dengar oleh Duo Kay selama kegiatan belajar berlangsung. Bahkan semua berbaur jadi satu meski masih ada beberapa anak yang tak ingin berdekatan dengan Duo Kay. Tapi dua anak kembar itu tak mau ambil pusing ketika teman yang di dekatinya tak mau maka mereka memilih untuk mendekatkan teman yang lain.


"Kaili ayo kita main." Ajak Farel.


"Ayo... Tapi ajal Kaila juga ya." Ucap Kaili.


Bocah kecil itu tak ingin kembaran nya kembali menghilang saat mereka tak main bersama.


"Iya ayo... Kita ke tempat Donny dulu tapi." Ucap Farel


"Oke... Kaila ayo kita cari Donny." Ajak Kaili.


"Boleh ajak Yossy ?" Tanya Kaila.


Kaili menatap Farel karena biasanya anak itu tak suka jika bermain dengan anak perempuan.


"Boleh. Ayo cepat." Ucap Farel.


Kaila menggandeng Yossy, anak perempuan itu satu-satunya murid yang sejak awal tak pernah membedakan teman bahkan saat Kaila di bully Yossy tak ikut mem-bully. Gadi kecil itu hanya diam, ingin membela tapi ia takut jika ia ikut di bully. Yossy sudah tak memiliki orang tua, ia anak yatim piatu yang kebetulan di asuh oleh keluarga orang tuanya. Anak yang pendiam dan ceria, keberadaannya memang tak mencolok dibandingkan teman-teman yang lain.


Mereka berlima main bersama di taman sekolah. Berbagai macam permainan yang di sediakan mereka coba satu persatu. Masih beruntung Kaila dan Kaili memiliki teman yang mau bermain dengan mereka.


Hingga kegiatan sekolah selesai, mereka semua pulang. Okta dan Farah kali ini tak membawa Duo Kay bersama mereka. Belva mengatakan jika Bella lah yang akan menjemput Duo Kay. Farel langsung pulang karena Mama nya harus segera ke rumah sakit nenek Farel masuk ke rumah sakit. Okta dan Donny harus mengantar Papa Donny yang akan bertugas ke luar kota.


Duo Kay menunggu di tempat biasa, tapi lagi-lagi bullying kembali terjadi oleh sekelompok anak laki-laki. Jika kemarin adalah anak perempuan yang mem-bully Kaila kini mereka berdua kembali menjadi korban bullying.


"Uuuu... Tidak punya Ayah... Tidak punya Ayah !!"


"Stop !!! Kami punya Papi." Ucap Kaila.


"Bohong... Bohong... Tukang bohong !!"


"Kami tidak berbohong kami punya Papi !!" Ucap Kaila kekeuh.


"Kaila ayo kita tunggu di dekat gerbang saja." Ajak Kaili.


Dia tak ingin mendengar kalimat bully-an itu lagi. Lebih baik menghindar daripada nanti Kaila menangis. Kaili sungguh protektif pada keluarganya. Meski masih kecil keadaan dan juga kecerdasannya yang mampu membuatnya berpikir dewasa. Tidak setiap saat karena dia juga masih anak-anak tapi sesekali pemikiran dewasa itu hadir begitu saja.


Digandeng tangan Kaila menuju gerbang tapi segerombolan anak laki-laki itu tetap mengikuti mereka hingga Kaili memilih menunggu di depan gerbang. Duo Kay duduk di trotoar dekat gerbang.


Beberapa kendaraan melewati sekolah itu. Mereka tak tahu jika dua bocah itu mendapatkan bullying. Siapa yang peduli toh mereka hanya sekedar melewati jalanan saja.


Berbeda dengan satu mobil mewah yang berhenti di seberang jalan. Mobil milik Satya berhenti, dia ingin sekali melihat gadis kecil yang selalu melekat dalam pikirannya.


"Tuan mencari gadis kecil itu ?" Tanya Jordi.


"Aku penasaran saja. Seperti tak asing dengan wajahnya."


Mereka menunggu sedari tadi, tak lama melihat dua orang bocah keluar gerbang bergandengan tangan dan duduk di trotoar. Gadis kecil yang dinanti itulah yang keluar bersama bocah laki-laki.


"Siapa bocah laki-laki itu ? Masih kecil tapi sudah tahu berduaan." Gumam Satya, ia sedikit terkekeh geli dengan pemandangan itu.


"Loh... Itu bocah yang sama yang dibawa Tuan Hector dan Tuan Roichi. Bocah itu juga yang ada di dalam mobil bersama gadis kecil itu." Batin Jordi yang lekat mengamati Duo Kay.


Di seberang jalan, tiba-tiba kembali Duo Kay dihampiri oleh segerombolan anak lelaki. Mereka yang tadi mem-bully Duo Kay. Rupanya mereka tak puas untuk meledek Kaila dan Kaili.


"Anak haram... Anak haram... Tak punya Ayah."

__ADS_1


"Punya... Aku punya Papi. Kalian nakal hiks..." Teriak Kaila.


Bocah itu malah mendorong Kaila hingga terjatuh. Kaili langsung membantu Kaila berdiri tapi gadis itu menangis.


Melihat Kaila menangis, Kaili menjadi geram. Mereka sudah menghindar sedari tadi tapi kenapa masih saja diikuti.


"Kamu tidak boleh seperti itu. Itu namanya kalian nakal." Ucap Kaili.


Salah satu dari mereka ada yang berusaha menendang Kaili dengan kaki kecil mereka. Tendangan itu terkena pinggang Kaili. Bocah laki-laki itu meringis sakit.


Tak terima di tendang Kaili mendorong bocah yang menjadi lawannya itu.


Bruuk...


Bocah itu bangkit dari jatuhnya akibat di dorong oleh Kaili. "Dasar tidak punya Ayah !!" Ucapnya pada Kaili.


"Sudah Kaila katakan kami punya Papi." Bentak Kaili.


Bruuk....


Kembali kaili mendorong bocah berkulit sawo matang itu. Perkelahian antara bocah kecil itu terjadi, mereka saling membalas tapi juga saling menangis.


Satpam sekolah yang tadi pergi ke toilet pun merasa kaget dengan suara anak kecil menangis. Dilihatnya di luar gerbang sekolah tiga anak menangis. Duo Kay menangis dengan satu bocah lelaki yang menjadi lawan Kaili. Sedangkan bocah lelaki yang lain mereka tak menangis tapi mereka ikut serta memukul Kaili.


Satya dan Jordi terkejut dengan kejadian itu, mereka langsung turun dari mobil. Awalnya mereka hanya melihat sepasang bocah berbicara dengan segerombolan anak kecil itu. Tapi teriakan Kaili di akhir mampu Satya dengar cukup jelas. Karena pada saat Kaila di dorong Satya sudah turun dari mobil. Kejadian perkelahian itu terjadi cukup cepat karena satpam sekolah langsung keluar.


Tapi wajah Kaili yang putih itu terlihat jelas jika ada bekas pukulan dan cakaran. Satya geram mengapa bisa terjadi perkelahian seperti itu di depan sekolah elit.


"Astaga sudah... Sudah kalian kenapa berkelahi ?" Tanya Pak satpam.


Beberapa para orang tua siswa yang sedang menjemput dan juga orang tua segerombolan anak itu datang menghampiri tempat perkelahian para anak kecil itu


"Dia mendorong Roki." Ucap salah satu gerombolan anak kecil itu.


"Dia mendorong Kaila lebih dulu hiks..." Ucap Kaili.


"Mereka nakal sudah kubilang aku punya Papi hiks... "


"Heh !!! Kamu mendorong anakku ? Berani sekali kamu !!" Ibu Roki memarahi Kaili.


"Pantas saja anak ini nakal. Ibunya saja seperti itu, pasti tidak bisa mendidik dengan benar. Sibuk sendiri sih..." Ucap seorang ibu yang lain.


"Kalau kalian memang tidak punya Ayah ya sudah diam saja tidak perlu mendorong Roki. Memang benar kan yang Roki bilang kalian tidak punya Ayah." Ucap ibu Roki.


"Hentikan... !" Suara bariton itu terdengar hingga membuat mereka semua berpaling.


Suara dari Jordi menghentikan ibu-ibu itu dalam memarahi Kaili.


"Maaf Tuan jangan ikut campur. Dia memang anak yang nakal tak mendapatkan didikan yang benar dari ibunya." Ucap ibu Roki.


"Lalu apakah anda sudah benar dalam mendidik anak anda sendiri ?"


"Apa maksud anda tuan ? Tentu saya sudah mendidik anak saya dengan benar. Anak itu saja yang memang nakal. Dia sudah memukul anak saya."


"Jika seperti itu laporkan saja pada pihak sekolah." Ucap Jordi.


Mereka semua masuk kembali ke dalam sekolah. Duo Kay di tuntun oleh satpam dan Jordi. Satya, pria itu sudah masuk ke dalam sekolah sejak tadi. Dia menyuruh Jordi untuk mengurus permasalahan itu. Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih baik dia langsung masuk ke dalam sekolah.


Para anak kecil itu berserta para orang tuanya kini sudah ada di ruang guru. Kembali duo Kay masuk ke ruangan itu setelah beberapa hari kemarin mereka baru saja duduk di sofa ruangan itu.


"Ada apa ini ? Loh ini anak-anak kenapa menangis dan lecet seperti ini ?" Tanya guru.


"Ini gara-gara anak nakal ini. Anak saya jadi seperti ini, lihat bibirnya berdarah gara-gara kelakuannya." Ibu Roki marah dalam ruangan itu merasa tak terima.


Duo Kay sejujurnya sedari tadi sudah ketakutan saat ibu Roki terus memarahi Kaili. Bocah itu hanya membela diri saja atas apa yang menimpa mereka. Tapi kenapa malah disalahkan. Duo Kay masih menangis sedari tadi.


Tak lama Bella datang menjemput, ia terlambat karena ada customer yang datang. Pikir Bella jika dia terlambat maka biasanya masih ada Donny dan Farel yang menemani.


Saat sampai sekolah, ia mendapatkan informasi dari satpam jika Duo Kay ada di ruang guru karena tadi berkelahi. Perasaan Bella sudah cemas dan khawatir. Selama hidup Duo Kay, dua bocah itu tak pernah yang namanya berkelahi dengan siapapun. Jika berdebat kecil antara Duo Kay itu sudah biasa. Tapi jika berkelahi dengan anak lain rasanya Bella tak percaya.


"Permisi... Maaf Kaila dan Kaili ada apa Miss ?" Tanya Bella


"Ohh kamu orang tua anak nakal ini ?" Sembur ibu Roki.


Bella terkejut tiba-tiba mendapatkan semburan dari naga betina seperti ibu Roki. Ia hanya diam saja tak mau menjawab, yang ia tunggu adalah jawaban dari guru Duo Kay.


"Nona Bella. Silahkan duduk. Kaili berkelahi dengan Roki dan kawan-kawan. Untuk penyebab nya belum diketahui. Kami baru akan menanyakannya." Ucap guru.


Guru menanyakan penyebab terjadinya perkelahian. Saling salah menyalahkan teekadi saat interogasi dilakukan. Interogasi disini dilakukan dengan lembut tanpa ada paksaan tapi atas kejujuran siswa. Namun, para orang tua siswa justru memperkeruh suasana interogasi.


Terjadi perdebatan antara para orang tua siswa melawan Bella seorang diri. Bella tentu tak terima dengan tuduhan-tuduhan yang diberikan untuk Duo Kay dan juga Belva.


"Sudah... Sudah... Nyonya... Nona... Jangan berdebat di depan anak-anak. Ini tidak akan selesai jika seperti ini." Guru mencoba melerai.


Ibu Roki tetap terus menyalahkan Kaili atas perkelahian yang terjadi. Bella geram karena Kaili terus disalahkan. Ia sangat paham bagaimana sikap Kaili.


"Maaf Miss saya tahu bagaimana sikap Kaili. Dia anak yang tidak suka berkelahi. Pasti ada yang memicu Kaili sehingga dia berani mendorong anak lain." Ucap Bella.


"Kaili, katakan sayang jangan takut, kenapa Kaili dorong teman Kaili ?"


"Aku bukan temannya. Aku tidak mau berteman dengan anak haram." Ucap Roki.


Deg... Hati Bella tersentak. Begitu juga dengan para orang tua yang lain mereka merasa terkejut mendengar ucapan Roki. Bella menatap Roki, miris bagaimana bisa anak itu berkata se-kasar itu dihadapan banyak orang.


"Roki... Tidak boleh berkata seperti itu sayang." Tegur guru.


Seketika wajah ibu Roki menjadi layu, ia merasa malu dengan ucapan anaknya yang mendapat teguran dari guru. Teguran dihadapan banyak orang.


"Mereka mengatakan kami tak punya Papi. Kaila sudah bilang jika kami punya Papi. Tapi dia mendorong Kaila lalu aku membalasnya. Dia juga menendangku. Mereka memukuliku." Ucap Kaili lirih. Ia takut karena sedari tadi ibu Roki memarahinya.


Tak pernah keluarganya sendiri memarahinya. Kecuali kemarin saat Kaila terus menanyakan Papi mereka.


Ibu Roki tak terima jika anaknya disalahkan. Tapi Jordi yang sedari tadi diam mendengar perdebatan kini angkat bicara.


"Apa yang dikatakan anak dari Nona ini memang benar. Para anak lelaki ini mereka yang memulai terlebih dahulu." Ucap Jordi yang menunjuk ke arah Roki dan kawan-kawan.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Jordi keluar dari ruangan. Satya mengirimkan pesan padanya. Tak lama Jordi masuk kembali dan meminta Bella dan Duo Kay menghadap ke ruangan kepala sekolah. Ibu Roki tersenyum, ia pikir Kaili akan dikeluarkan karena melakukan kekerasan pada anaknya.


Dalam ruangan kepala sekolah sudah ada Satya yang duduk dengan tenang. Aura kepemimpinan memang selalu terlihat dengan jelas. Duo Kay dan Kaila duduk di sofa ruang kepala sekolah. Bella merasa permasalahan ini kenapa tidak selesai-selesai. Ia tidak bisa berlama-lama meninggalkan butik.


Kaila melihat sosok pria yang belum lama ini dilihatnya. Masih ingat dengan jelas pria itu. Saat Kaila akan membuka mulut, Satya meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, pertanda Kaila harus diam.


"Terima kasih Nona sudah datang ke sini."


"Iya Miss... Maaf ini ada apa kenapa kami disuruh ke sini ?"


"Maaf, apa Kaili tidak apa-apa ? Saya sudah mendengar permasalahan ini. Dan saksi mata sudah menghadap langsung kepada saya jika Kaili di keroyok oleh teman-temannya. Kami pihak sekolah meminta maaf atas kelalaian kami."


"Iya Miss, saya tahu bagaimana Kaili sejak kecil saya yang mengasuh merek sendiri. Jadi, saya yakin Kaili tidak akan memukul temannya jika tidak dimulai lebih dulu."


"Tapi saya harap ini terakhir kalinya terjadi di sekolah. Sejujurnya saya merasa kecewa sudah dua kali berturut-turut Kaila dan Kaili mendapatkan bullying dan perundungan." Ucap Bella.


"Dua kali kelalaian dari pihak sekolah secara berturut-turut ?" Tanya Satya yang mendadak menyadarkan Bella jika ada satu orang pria juga berada di dalam ruangan itu.


Bella tak mengenal pria itu, meski terkenal sebagai pengusaha sukses tapi bila mengingat Bella belum lama menetap di Indonesia maka itu hal yang wajar.


Pertanyaan Satya mampu membuat kepala sekolah merasa gugup dan takut. Bagi penduduk asli siapa yang tak mengenal Satya, tentu mereka mengenal sosok satu ini. Apapun bisa dilakukannya jika itu tak sesuai dengan pandangannya.


"Sekolah yang sengaja didirikan dengan berbagai macam fasilitas dan memiliki penilaian yang sangat bagus bisa lalai dalam waktu berturut-turut itu sungguh memalukan." Ucap Satya.


"Maaf Tuan, untuk permasalahan kemarin sudah kami tindak dengan berupa teguran kepada para orang tua siswa. Tapi kami tak menyangka jika kejadian seperti ini terulang kembali." Ucap kepala sekolah.


"Jika teguran take memberikan efek apapun saya harap sekolah bisa melakukan tindakan tegas."


"Atau citra buruk sekolah dipertaruhkan dan orang tua siswa berhak menuntut atas kelalaian pihak sekolah." Ucap Satya.


"Saya permisi. Harap pikirkan kata-kata saya." Ucap Satya yang berlalu setelah mengucapkan kalimatnya.


Kepala sekolah dan juga Bella hanya menatap kepergian Satya dari ruangan tersebut. Kepala sekolah merasa takut akan ucapan Satya karena hal itu memang benar adanya. Sedangkan Bella hanya menatap bingung tak mengerti dengan siapa pria itu.


"Nona Bella sekali lagi kami mohon maaf. Kami akan bertanggungjawab atas apa yang menimpa Kaila dan Kaili. Kami mengijinkan mereka untuk menenangkan diri sembari kami mengurus masalah ini."


"Terima kasih Miss. Kalau begitu kami permisi. Saya tidak bisa lama-lama meninggalkan butik."


"Silahkan Nona."


Bella, Kaila dan Kaili pulang, Bella menjemput dengan mobil milik Belva. Saat mereka menuju parkiran Satya dan Jordi menatap mereka dari dalam mobil.


Jordi sempat melihat Bella saat acara pernikahan putri Tuan Maxim. Memang saat itu wanita itu menggandeng Kaila dan Kaili. Namun lebih banyak menggandeng Kaila karena Kaili lebih memilih untuk ikut Roichi dan Tuan Hector.


"Jordi... Bocah lelaki tadi sepertinya dia bocah yang waktu lalu dibawa oleh Tuan Hector dan juga Tuan Roichi. Dan sepertinya mereka berdua kembar karena wajah dan nama mereka hampir sama."


Jordi tak menyahut saat Satya mengucapkan kalimatnya. Pria itu masih sibuk dengan pikirannya sembari mengamati Bella dan juga Duo Kay.


"Jordi... Jordi...!!!" Panggil Satya dengan suara yang lebih keras.


"Hah ? Iya Tuan ada apa ?" Tanya Jordi yang terkejut.


"Kamu memperhatikan mereka atau kamu sibuk memperhatikan orang tuanya ?"


"Hah maksud Tuan ?"


"Sudahlah. Urus saja sekolah ini. Meski mereka masih kecil tapi aku tak suka cara orang tua mereka mendidik anak-anak mereka."


"Baik Tuan..."


Mobil Bella pergi dari parkiran sekolah. Demikian Jordi dan Satya mereka juga keluar dari area sekolah itu. Niat hati ingin melihat gadis kecil yang menarik perhatiannya tak disangkanya justru hal tak terduga disaksikannya.


Dia juga baru mengetahui jika gadis kecil itu sepertinya memiliki kembaran dan ibu yang masih sangat muda nan cantik.


Rasa penasarannya kini bertambah mencuat saat melihat kembali wajah Kaili. Wajah dua bocah itu terlihat banyak menyimpan pertanyaan di pikiran Satya.


Seakan merasa tak asing dengan wajah-wajah anak kecil itu. Tapi tetap sudah sangat lama pertemuannya dengan Kaili tak bisa menjawab rasa penasarannya. Ditambah kesibukannya dalam bekerja seakan rasa penasaran itu terpecah dengan fokus yang lain.


Dalam perjalanan, pikiran kedua pria itu masing-masing sibuk dengan kehadiran dua bocah yang mereka temui tadi.


"Apa hubungannya Bi Imah dengan Tuan Hector ?" Gumam Jordi dalam hati.


"Siapa bocah itu, kenapa aku tak asing dengan mereka. Dan hubungannya dengan Tuan Hector apa ?" Batin Satya. Ia merasa sedikit frustasi memikirkan itu.


Bella mengantarkan Duo Kay ke rumah. Gadis itu yakin jika ibu mereka akan syok saat melihat Duo Kay. Ia sendiri merasa terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Wajah Duo Kay masih terlihat jejak mereka yang sehabis menangis. Wajah putih mereka terlihat sedikit memerah di bagian hidung dan mata. Ada juga beberapa wajah Kaili yang memerah akibat pukulan dan cakaran.


Saat masuk ke dalam rumah, benar saja Belva terkejut melihat wajah anak-anaknya.


"Kaila... Kaili kalian kenapa ?"


"Mami..." Duo Kay langsung memeluk Mami mereka.


"Bella ada apa ini ? Kenapa mereka seperti habis menangis dan ini kenapa dengan wajah Kaili ?"


"Berkelahi dengan teman sekolahnya kak."


"Apa ? Kenapa bisa ?" Tanya Belva tak percaya.


"Nanti setelah pulang dari butik aku ceritakan. Sebaiknya jangan tanyakan apapun pada mereka, tenangkan dan suruh mereka beristirahat saja."


Belva mengangguk, paham jika memang tak tepat waktu untuk menanyakan apa yang terjadi pada mereka berdua, Bella sudah tahu akan apa yang terjadi, ia lebih memilih untuk menunggu Bella saja.


"Aku pergi dulu kak." Pamit Bella.


"Hati-hati. Terima kasih Bella."


Senyuman Bella menjadi jawaban. Setelah gadis itu pergi, Belva menggiring kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Membantu mereka mengganti baju dan beristirahat.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. ☺️

__ADS_1


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2