
Malam ini Satya harus kembali berpuasa, dia tak tega jika melihat istrinya kelelahan seperti hari ini. Kali ini dirinya harus menahan diri setelah jarum pentul super nya mulai bergejolak setelah merasakan manisnya bi*bir sang istri.
Aliran arus yang timbul dari diri Belva dengan mudah menyalur pada diri Satya hingga pria itu dengan mudah bereaksi ketika bersama sang istri meski hanya dengan sentuhan kecil saja.
Pasangan suami istri itu kini sudah berbaring di ranjang setelah melakukan panggilan video dengan kedua anak mereka. Belva begitu merindukan kedua anak kembarnya tapi Satya belum mengijinkan untuk bertemu dengan dua bocah itu.
Satya masih membutuhkan waktu khusus bersama sang istri. Jika nanti sudah ada kedua anaknya maka waktu Belva akan terbagi untuk dirinya dan juga Duo Kay.
Dengan memeluk tubuh sang istri, Satya susah payah menahan pergerakan yang terjadi di tempat persembunyian nuklir nya. Satya berdeham demi menetralisir apa yang dirasakan nya. Beberapa kali Satya bergerak mencari posisi aman untuk dirinya tapi jika tak memeluk istrinya maka Satya pun juga tidak akan bisa tidur nanti.
"Mas, kamu kenapa sih dari tadi gerak-gerak terus."
"Ekhem... Tidak apa-apa. Sudah tidurlah, yank."
"Tapi aku tidak bisa tidur kalau mas gerak-gerak terus. Ini busanya jadi goyang-goyang, mas."
"Hah? Busa?" Lirih Satya.
"Maksudnya ranjangnya. Kenapa sih?" Ujar Belva.
Satya meraih tangan istrinya dan membawanya ke tempat persembunyian amunisi perangnya. Belva terkejut hingga menarik kembali tangannya. Amunisi itu telah aktif dan mungkin saja jika tidak bisa ditahan siap meluncur dan meledak.
"Mas, jorok deh." Gerutu Belva.
"Bukan jorok, yank. Masa kamu tidak tahu ini suami kamu sedang tidak nyaman seperti ini."
"Lah terus bagaimana?"
"Ya bantu dijinakkan lah, yank." Ucap Satya.
Satya kembali meraih tangan Belva. "Sini, di elus-elus sebentar, yank."
Belva memejamkan matanya dengan erat saat tangan nya menyentuh bom nuklir yang terasa keras tapi tak sekeras besi beton.
"Maass..." Rengek Belva yang ingin menyudahi tuntunan sang suami.
"Sebentar saja, yank. Daripada kamu kelelahan nanti mas tidak tega." Bisik Satya.
"Mas, seperti ini tidak sakit?" Belva sedikit melirik Satya dengan kening sedikit mengerut.
"Ya sakit yank kalau ditahan tapi mau bagaimana lagi." Lirih Satya.
Belva mengigit bibir bawahnya, ia pun tak tega pada suaminya. Tapi Belva malu jika membicarakan hal itu terlebih dahulu pada akhirnya Belva hanya terdiam dan mengikuti saja apa yang bisa membuat suaminya menjadi lebih nyaman.
Sudah beberapa menit Satya pun melepas genggaman tangan Belva, tapi istrinya itu masih saja bergerak tanpa sadar. Satya menikmati itu. Hingga akhirnya Satya merasa tak bisa menahan dirinya lagi.
"Yank, boleh? Janji tidak lama sampai mas merasa lebih nyaman saja." Bisik Satya.
Meski malu tapi Belva hanya mengangguk saja, ia sadar menolak keinginan suaminya bukanlah pilihan yang tepat. Terlebih mereka baru saja menikah, hal pribadi seperti itu sangatlah sensitif bagi keberlangsungan hubungan mereka sebagai suami istri.
"Terima kasih, Mami." Ucap Satya tersenyum.
Pria itu mengecup kecil beberapa kali wajah istrinya hingga Belva menghentikan pergerakan tangannya.
"Jangan berhenti, yank tangan mu harus terus bekerja. Mas menyukainya." Bisik Satya dengan nada yang sangat terdengar jelas bagi Belva jika suaminya itu sebagian besar sudah terkuasai oleh has*rat alamiahnya.
Dengan perlahan Belva kembali menempatkan posisi tangannya dan memulai tugasnya kembali. Satya sesekali terpejam merasakan sensasi nikmat yang di berikan kepada istrinya.
"Aaakkhhh... Terus yank." Kini yang mengeluarkan suara khas peperangan adalah Satya sendiri.
Dengan malu-malu dan perlahan istrinya mencoba memanjakan sang suami yang membuat Satya terkesan terasa lembut.
"Mas..." Panggil Belva yang merasa geli dengan suara khas peperangan yang keluar dari bibir suaminya.
"Hemm..." Deham Satya yang masih sibuk terpejam menikmati kesenangan nya.
"Yank, gerakkan seperti ini." Satya kembali menuntun dan mengajari sang istri yang tidak hanya bergerak mengusap seperti mengusap kaca jendela menggunakan kanebo. Satya mengajari sang istri untuk bergerak sesuai keinginan nya naik turun tapi tidak berkelok-kelok seperti jalan di daerah pegunungan.
Semakin suka dan senang lah Satya saat istrinya tak menolak justru menurut saja. Diperhatikan wajah istrinya yang cantik dengan pandangan mata berkabut gai*rah.
"Mas, capek." Keluh Belva yang hingga beberapa menit setia dalam ajaran dan tuntunan Satya.
Yang entah sejak kapan pintalan benang di tubuh kekar Satya sudah terlepas. Kini Satya mulai terbangun dari posisinya berbaring, menyibakkan baju tidur istrinya yang bermodel daster mini. Setelah sah menjadi istrinya Satya memenuhi lemari pakaian sang istri dengan baju-baju yang cukup seksi agar dipergunakan Belva saat berada di rumah khususnya di dalam kamar bersama dirinya.
Sent*uhan lembut terasa pada kulit putih mulus Belva mulai dari bawah hingga ke atas. Seperti sebelumnya Belva pasti akan menahan diri dengan menggigit bibir bawahnya agar suara peperangan yang mungkin saja bisa lolos tanpa disadari nya tidak terjadi.
Sayang Satya tak membiarkan istrinya menahan suara itu agar teredam dalam ruangan kamarnya yang besar. Justru Satya ingin mendengar suara peperangan itu menggema di kamarnya yang luas. Pria itu menyukainya karena selalu mampu mendorong semangat nya untuk melancarkan aksi gencatan senjata.
Bi*bir manis bak madu itu kini telah diserang lebih dulu oleh Satya. Cara yang dilakukannya agar istrinya tak berusaha menutup mulut. Terbukti saat luma*tan itu terlepas Belva mampu mengeluarkan suara keramat saat peperangan.
"Akhh... Mas..."
Tangan Belva tanpa sadar mencengkram dan menyugar rambut suaminya mulai dari tengkuk menuju atas kepala. Seakan menahan kepala itu agar wajah suaminya tak menjauh kala menjelajahi bukit berkerikil.
Pemanasan telah dilakukan hingga keduanya merasa terbakar dan tak sabar. Satya pandai sekali membuat sang istri lemah dan tunduk atas siasat dan taktiknya.
"Tahan, sayang." Bisik Satya yang ingin memulai gencatan senjata utama. Pekikan istrinya membuat Satya kembali melu*mat bi*bir wanita cantik itu. Tangan kekarnya tak kalah mengusap lembut wajah hingga rambut sang istri agar merasa sedikit tenang.
"Sakit hemm??" Tanya Satya lembut yang diangguki oleh Belva.
"Sedikit, mas."
"Tidak apa tenanglah, mas akan bergerak perlahan jika tak nyaman katakan."
Pergerakan dimulai dengan perlahan, mencari titik target yang pas untuk meluncurkan senjata nuklir dengan lancar hingga meledakan nya di tempat dan di waktu tepat.
"Ssshh... Aaahh... Milikmu masih sempit sekali, Mam..." Bisik Satya.
"Emmhhh... Aaahh..." Suara keramat khas peperangan pada akhirnya tak pernah Belva tahan lagi, dibiarkan nya mengalir keluar dari bibirnya.
Sensasi yang didapatkan nya dari suaminya begitu hebat terasa. Beberapa kali dirinya mencengkram bahu sang suami serta mengusap lembut sesekali punggung kekar suaminya.
Suara demi suara khas peperangan yang bukan hanya dari bibir mereka pun menggema di dalam kamar luas milik mereka. Untung saja kamar tersebut memang sudah disiapkan oleh si Tuan rumah dengan ruangan kedap suara sehingga apa yang mereka lakukan tidak terdengar oleh orang luar terkecuali pintu tak rapat ditutup.
"Teruslah bersuara merdu seperti itu, Mam. Daddy menyukai nya."
"Ahh Daaaddhh... Please hhhhh..."
Satya menatap wajah cantik istrinya yang kini sudah berbeda, penuh gai*rah dan menggoda.
"Hemm?? Mau lebih cepat?" Tawar Satya yang masih sibuk.
"He'emmhh..." Belva mengangguk cepat.
__ADS_1
"Oke... As you wish baby." Bisik Satya.
Semua bergerak sesuai irama yang semakin cepat. Ranjang berukuran king size mereka bergoyang seirama dengan kekuatan kecepatan nuklir yang terus meluncur.
"Maasshh..."
"Call me Daddy, baby... Hahhh... Mami suka?"
"Dadhh... Sukakhh... Mamih sukakhh..."
"Hentikan Dad, ada yang mau keluar." Ucap Belva di tengah rasa napasnya seperti kehabisan oksigen.
"Keluarkan saja, Daddy tidak akan mengurangi kecepatannya."
Senjata nuklir itu tetap terus meluncur, meski sang istri meminta menghentikannya. Entah beruntung atau tidak tapi belva memiliki suami yang begitu kuat secara fisik.
Sadar akan kelelahan yang istrinya rasakan, cukup tiga kali saja Satya mencapai puncak peperangan semuanya diledakkan di dalam lorong tersembunyi istrinya.
Kini wanita yang baru satu hari menjadi istrinya itu sudah tak bertenaga. Kembali Satya mengusap peruta rata Belva dengan bergumam dalam hatinya.
"Berlombalah, sayang."
Ribuan jentik-jentik berukuran tak kasat mata itu mungkin saja sudah berlarian sejauh mungkin untuk mencari tempat yang seharusnya mereka tuju. Berusaha memenangkan pertandingan untuk menjadi yang paling unggul dan berkembang menjadi bagian dari keluarga Balakosa.
Selesai dengan segala kegiatan penuh peluh, Belva sudah tertidur lebih dulu. Satya sebagai suami sangat memperhatikan sang istri semua yang dibutuhkan sang istri dirinya yang mengurus untuk membereskan segala kekacauan akibat peperangan untuk istrinya barulah dirinya membersihkan diri.
Pria itu kembali ke tempat tidur meraih istrinya agar tidur dalam pelukannya. Mereka tertidur begitu pulas karena tenaga yang terkuras. Dengkuran halus bahkan terdengar dari Satya, pria itu begitu menikmati hari pertama menikah dengan Belva. Bukan yang pertama dia bisa tertidur nyenyak, melainkan memang sejak bertemu dan berhasil mendekati Belva. Satya seakan mendapatkan obat tidur paling mujarab dalam hidupnya.
Kali ini Belva dapat bangun pagi meski tidak sepagi seperti biasanya ia terbangun. Rasa lelah sangat berpengaruh terhadap semangat bangun tidurnya. Pukul enam pagi Belva sudah terbangun karena tadi malam ia dan suaminya tidak tidur lebih dari jam dua belas.
Belva menggeliat karena tubuhnya berada dalam posisi kurang nyaman. Saat terbangun dirinya melihat dada bidang yang ia tahu itu adalah dada bidang milik suaminya. Belva tertidur dengan berbantalkan lengan kekar Satya, tangan Satya yang lain merangkul pinggang nya. Ia berusaha dengan perlahan mengangkat tangan sang suami agar dirinya bisa beranjak dari ranjang.
"Mau kemana?" Tiba-tiba suara khas bangun tidur Satya terdengar dan mengejutkan Belva.
"Mas, aku mau bangun."
Satya mempererat lilitan tangannya hingga Belva merasa tertarik lebih dekat dengan tubuh suaminya.
"Mas!" Rengek Belva dengan sedikit memekik.
"Hemm..." Gumam Satya.
"Lepas dong aku mau bangun, ini sudah pagi mas."
"Mau apa bangun sepagi ini? Mau sapu halaman rumah?"
"Iya kalau perlu, itu kewajiban seorang wanita dan ibu rumah tangga." Jawab Belva.
"Itu untuk ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan di luar. Kalau kamu kan ada kerja di butik, sayang."
"Mau kerja di butik atau tidak tetap saja aku seorang ibu rumah tangga, mas. Lepas ah."
"Tidak, kamu memang ibu rumah tangga tapi tugas mu di rumah ini hanya mengurus mas dan anak-anak saja. Pekerjaan rumah yang lain sudah di urus oleh Mbok Yati dan anak buahnya."
"Hah ? Mbok Yati disini punya anak buah?" Tanya Belva, ia baru tahu akan hal itu.
"Iya sejak kamu pergi dan ibu juga memutuskan keluar dari rumah ini. Semua pekerjaan rumah mas percayakan pada Mbok Yati. Beliau yang mengatur semuanya dan juga para asisten rumah tangga yang lainnya berada dalam pengawasan Mbok Yati." Jelas Satya pada istrinya.
"Oh aku baru tahu. Berarti Mbok Yati menjadi kepala asisten rumah tangga disini."
"Tidak enak dong, mas. Aku baru saja tinggal disini masa aku tidak membantu mereka. Paling tidak membantu sedikit saja. Toh anak-anak tidak ada disini. Jadi, aku memiliki waktu lebih luang."
"Tidak ada anak-anak bukan berarti waktu luang mu dipergunakan untuk melakukan pekerjaan rumah ini. Ingat baik-baik, masih ada suami kamu yang butuh kamu urus."
"Iya sudah karena ada kamu makanya aku mau memasak untuk mu. Tolong lepaskan."
Belva masih kekeuh untuk terlepas dari suaminya tapi pria itu tidak melepaskan atau melonggarkan sedikit pun lilitan tangan kekarnya.
"Untuk saat ini mas mau kamu temani. Memasak itu urusan Mbok Yati."
"Apa kamu tidak kelelahan tadi malam sudah mengeluarkan banyak tenaga dan pagi ini harus memasak?"
Ucapan Satya membuat Belva teringat akan peperangan mereka. Tiba-tiba saja pipi Belva merona malu.
"Tidak usah dibahas." Ucap Belva.
"Kenapa? Kamu tahu... Suaramu begitu merdu sayang tadi malam."
"Mas... Jangan dibahas ah." Belva menundukkan wajahnya semakin dalam hingga menempel pada dada bidang Satya yang tak pernah tertutup saat tidur.
"Padahal Mami suka tadi malam." Satya terus menggoda istrinya dengan mengingatkan kejadian menegangkan tadi malam se-menegangkan saat menjinakan bom. Alhasil bom itu meledak tepat waktu dan tepat sasaran.
"Mau mengulangnya lagi? Mumpung waktu masih berpihak pada kita."
"Tidak... Sudah mandi sana." Ucap Belva mengalihkan pembicaraan.
"Mandi bareng ya? Waktu kita bisa berduaan seperti ini hanya sampai besok loh, yank. Besok sudah ada anak-anak, pasti akan sulit bagi kita untuk menikmati waktu berdua seperti ini."
Belva terdiam, ia tak bisa berkata apapun. Menolak sang suami selalu menjadi pilihan yang tidak tepat menurut hati dan pikiran nya. Tapi jika mengiyakan ajakan suaminya, dirinya masih merasa kelelahan.
"Tapi aku masih capek, mas." Rengek Belva, ia tahu pasti suaminya tak hanya ingin membersihkan diri secara bersama-sama saja, melihat tatapan sang suami yang sudah berbeda.
"Pagi ini, kita pelan-pelan saja. Tadi malam kamu yang menginginkannya bukan?
Wanita itu langsung mendelik dan memukul dada bidang Satya. Kesal dan tak terima jika hal itu terjadi atas keinginannya. Padahal Satya lah yang menginginkannya hingga dirinya hanya bisa menuruti demi menyenangkan suaminya.
"Enak saja, itu mas juga yang mau." Ucap Belva kesal.
Satya terkekeh melihat kekesalan istrinya. Dia merasa gemas dengan istrinya, hingga suatu pergerakan yang tak diduga oleh Belva terjadi. Gigitan kecil nan lembut Belva terima pada bagian da*danya hingga terlihat merah seperti gigitan nyamuk tapi lebih besar dan lebih pekat warnanya di kulit putihnya.
"Mas, apa yang kamu lakukan."
"Kamu menggemaskan, mas tidak tahan melihatmu."
Tangan besar Satya bergerak-gerak pada perbukitan berkerikil seperti memainkan bola bekel hingga bola itu bergerak naik turun.
"Lagi ya yank. Sebentar dan pelan saja. Janji, tadi malam juga mas tidak bohong cuma sebentar."
Belva selalu tidak bisa menolak ajakan sang suami. Angannya memiliki rumah tangga yang harmonis dan bahagia tercipta saat dirinya memiliki Duo Kay. Kunci dari keharmonisan dirinya dan suaminya yang tertanam dalam pikiran Belva adalah berusaha menyenangkan hati suaminya.
Dirinya tidak ingin di jaman yang sudah maju dan banyak sekali bertebaran wanita gatal yang hobi merebut hak orang lain. Membiasakan sang suami agar tak merasa kekurangan terlebih kebutuhan alamiah seperti ini.
Yang sudah terjadi kembali terjadi, benar dan tidak berbohong. Satya menepati janjinya di pagi hari yang bisa dipastikan cerah akibat sinar matahari yang mulai menyelinap masuk di balik kaca jendelanya yang tak tertutup rapat tirai.
__ADS_1
Pelan dan santai, menikmati indahnya pagi dengan pergerakan kecil yang berefek besar bagi keduanya. Meski kian lama terbakar has*rat tapi keduanya bisa mengendalikan diri.
Justru mereka melakukan dengan sedikit obrolan ringan dan canda tawa. Perlakuan Satya begitu sangat lembut Belva rasakan. Ia merasa nyaman dengan suaminya yang tidak terkesan memaksa.
"Mas tidak ada kegiatan apapun hari ini?"
"Tidak, hanya menikmati waktu bersama istriku saja." Ucap Satya yang lalu mengecup pipi Belva.
Wanita itu tersenyum lembut sesekali memejamkan mata akibat pergerakan Satya.
"Apakah ini nyaman untuk mu, sayang?" Bisik Satya.
"Iya, seperti ini lebih baik, mas... Aaahh..."
"Call me Daddy, sayang saat kita melakukan nya."
"Yeshh Daddy..."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Dad?" Tanya Belva.
Satya terdiam, dia masih sibuk memejamkan mata menikmati pagi yang indah ini.
"Daddy akan bekerja di rumah bersama mu, baby."
"Aku akan menemanimu." Ucap Belva.
"Hari ini kita di kamar saja, ruangan ini sudah cukup untuk menikmati waktu bersama kita." Ucap Satya.
"Emmh... Aaahh... Tapi kita harus makan, Dad."
"Mami, tenang saja. Mereka akan mengantarkan untuk kita. Daddy hanya menginginkan untuk terus bersama seperti ini."
"Aaahh... Kenapa terasa mengigit seperti ini, Mam. Mami benar-benar menjaganya agar tetap sempit begini."
"Tentu saja, hanya untuk suamiku saja." Ucap Belva.
"Good baby... Aahh..." Satya mengeratkan pelukannya. Sedari tadi dirinya memeluk Belva dari belakang.
"Dad, kapan kita akan ke rumah Mama. Aku merindukan anak-anak."
"Apa Mami tidak ingin berlama-lama bersama Daddy dulu? Waktu kita tidak banyak untuk berdua seperti ini."
"Hemm... Iya juga ya, apa kita akan melakukan hal ini sepanjang hari sampai besok?" Tanya Belva mengi*git bib*ir bawahnya.
"Jika Mami menginginkan nya Daddy tidak keberatan."
"Daddy suamiku, apapun yang Daddy inginkan Mami akan menurut saja."
"Aaahh Dad..."
"Yess baby, enak?"
"Hem... Sangat terasa bahkan lebih." Jawab Belva memejamkan matanya.
"Inilah yang Daddy suka, Mami dapat merasakan milik Daddy aakhh..."
"I Love You baby" bisik Satya.
"Me too Dad."
Pagu*tan terjadi, mereka sangat menikmati momen romantis dan penuh keinti*man pada pagi hari ini. Awal yang sangat menyenangkan untuk menjalani aktivitas pada hari ini.
Pergerakan sudah cukup lama terjadi dengan diselingi obrolan dan canda tawa mereka. Berkali-kali Satya menghirup aroma tubuh istrinya. Hingga nuklir itu memiliki tanda-tanda untuk meledak.
"Maaf Mam, harus Daddy percepat sedikit."
Tanpa menunggu jawaban sang istri karena begitu urgent, Satya bergerak cepat. Suara khas peperangan terdengar dari Belva. Cengkraman erat tangan kekar itu pada daerah perbukitan seakan takut terjatuh dari perbukitan itu karena dirinya yang terus bergerak tak tenang.
Suara ledakan nuklir terdengar dari bibir Satya, mengalun lembut dan tegas. Ada rasa lega saat senjata utama Satya meledak tepat sasaran. Napas mereka tak terlalu memburu karena tidak terlalu ekstrim dalam berperang.
"Terima kasih. Ini pagi hari yang sangat berkesan untuk Daddy yang Mami berikan."
Belva tersenyum menghadapkan wajahnya pada Satya meski posisinya membelakangi Satya.
"Daddy senang?" Tanya Belva.
"Sangat... Bersama mu Daddy merasa lebih bahagia dan merasa lebih muda. Kamu telah membuktikan sendiri bukan?"
Belva membalikkan posisinya menghadap Satya. Ia mengusap lembut rahang Satya, pria itu memejamkan matanya menikmati usapan lembut sang istri.
"Ya Daddy seperti anak muda masih kuat dan tampan." Ucap Belva lirih seperti berbisik pada suaminya.
"Kamu mengakui itu sayang?" Ucap Satya membuka matanya, ia meraih tangan istrinya lalu mengecup tangan itu dengan penuh perasaan.
"Harus kuakui itu fakta bukan?" Ucap Belva.
Satya tersenyum memandangi wajah sang istri yang masih terdapat beberapa titik keringat. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Mas, sangat mencintai mu, sayang." Satya mengecup kening Belva dengan dalam. Hingga keduanya memejamkan mata.
"Aku juga sangat mencintaimu, Daddy Satya." Balas Belva.
Hangat rasanya, Satya mendengar secara langsung untuk beberapa kali istrinya mengatakan jika wanita itupun mencintai nya. Rasa cintanya terbalas, meski awal hubungan mereka terjalin karena sebuah insiden rupanya itu membawa mereka ke dalam sebuah hubungan yang saling merasakan satu sama lain.
Setelah membersihkan diri bersama-sama, tak lupa mereka pun berendam bersama dalam air hangat di dalam bathtub. Tidak ada lagi serangan yang terjadi, hanya aktivitas romantisme sepasang suami istri baru.
Tak perlu mereka berbulan madu keluar pulau bahkan keluar negeri. Cukup di dalam rumah saja dengan waktu yang bisa dibilang singkat tapi mereka berdua benar-benar memanfaatkan nya dengan baik.
Hari kedua sebagai pasangan suami istri benar-benar Satya nikmati. Dia tidak mau keluar dari kamar besar miliknya karena ingin menghabiskan waktu bersama sang istri. Satya menepati janjinya mengurung diri bahkan istrinya hanya untuk berdua saja.
Sarapan pagi, makan siang hingga makan malam Satya memberikan perintah pada para asisten rumah tangga nya untuk tak perlu menyiapkan di meja makan melainkan mengantarkan ke kamar nya langsung.
Mengantisipasi kegiatan bulan madu ala Satya dan Belva agar tak terganggu. Satya bahkan sudah memberikan himbauan pada Jordi untuk tak datang ke rumahnya. Jika ada suatu hal yang penting berkaitan dengan pekerjaan termasuk berkas-berkas, semua harus bisa Jordi handel sendiri sementara waktu. Pria itu tak ingin diganggu barang sedikit pun, dia bahkan mematikan ponselnya yang khusus untuk pekerjaan dan para kliennya. Ponsel pribadi nya saja yang dibiarkan menyala agar kedua anaknya masih bisa menghubungi dirinya maupun Belva.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Heemmm... waktu dan tempat dipersilahkan untuk para readers ku tersayang. Ini masih masa-masa pengantin baru ya guys harap maklum.
Terimakasih banyak atas support kalian yang luar biasa setia. Selalu kasih like, komentar, kembang setaman dan juga vote, terimakasih sekali. 🙏🙏
__ADS_1
Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki. 🤗🙏🙏