Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 46. Boleh kah ?


__ADS_3

Di dalam kelas Kaili sudah menangis, pria kecil itu tak bisa menemukan kembarannya. Dia merasa bersalah karena tak bisa menjaga kembarannya hingga hilang seperti itu.


Semua teman-temannya juga membantu mencari keberadaan Kaila tapi mereka tak menemukan. Hingga para guru menyadari jika para bocah itu mencari salah satu teman mereka.


"Kalian mencari apa ?" Tanya salah satu guru.


"Kaila hilang Miss." Ucap Yossy salah satu tan yang mengajak Kaila bermain tadi.


"Hilang ? Bagaimana bisa ?" Jelas guru langsung panik.


"Kita cari Kaila." Ucap salah satu guru.


Mereka mencari di area sekolah bertanya kepada beberapa orang yang ada di dalam lingkungan sekolah tapi nyatanya tak ada sama sekali. Hingga sampai mereka memutuskan untuk mencari di luar lingkungan sekolah. Benar saja salah satu diantara para guru melihat Kaila berada di taman bersama dua orang pria dewasa.


Kaila dibawa masuk kembali, salah satu guru yang lain menenangkan Kaili. Mengajak pria kecil itu ke ruangan guru. Hingga Kaila dibawa masuk ke dalam ruang guru. Kedua anak kembar itu bertemu, Kaili berlari memeluk Kaila. Dengan masih menangis, bocah itu memeluk dengan erat.


"Kaila... Hiks..."


"Kaili sakit, kamu terlalu erat peluknya." Ucap Kaila.


Salah satu guru kembali memisahkan pelukan Kaili yang terlalu kuat itu hingga membuat Kaila meringis.


"Kaili... Sudah ya jangan menangis. Kaila sudah ketemu. Kaila kesakitan itu nak, kamu terlalu erat memeluknya."


"Kaila, kenapa kabur dari sekolah sayang ?" Tanya guru kepala sekolah.


"Mereka nakal, aku tidak mau sekolah." Ucap Kaila lirih.


"Siapa yang nakal ?" Tanya guru.


"Teman-teman nakal terhadap ku."


Yossy gadis kecil yang mengikuti guru membawa Kaili pun masih terdiam melihat kedua teman. Farel dan Dony dua bocah lelaki itu juga ada disana. Mereka menemani Kaili sedari tadi, seperti orang dewasa mereka ikut menenangkan Kaili mengelus punggung Kaili.


"Ada apa Kaila ? Teman-teman nakal kenapa ? Kalian kan bisa main bersama." Ucap guru.


"Miss, tadi Kaila pergi setelah diledekin teman-teman." Ucap Yossy.


"Di ledekin bagaimana maksudnya Yossy ?"


"Teman-teman bilang kalau Kaila anak haram, tidak punya Ayah." Ucap Yossy dengan polosnya.


Para guru pun cukup terkejut, anak sekecil mereka bisa mengucapkan hal seperti itu pada teman mereka sendiri. Memang mereka juga mendengar selentingan gosip di kalangan para orang tua murid. Tapi sebagai guru di sekolah yang bonafit mereka harus bersikap profesional.


"Ya sudah. Anak-anak kalian kembali ke kelas ya, sebentar lagi sudah jam pulang sekolah."


Para bocah itu mengangguk kecuali Kaila dan Kaili. Keduanya tetap diam tak menjawab. Kaili masih sesenggukan menangis, Kaila pun wajahnya masih tampak murung meski sempat terlihat ceria.


"Kaila dan Kaili ikut masuk kelas ya ?" Tawar guru dengan membujuk lembut.


Sayang, kedua bocah itu menolak untuk masuk ke dalam kelas. Kaili melihat Kaila tak ingin masuk ke kelas jadi pria kecil itu juga mengikuti kembarannya.


Beberapa guru saling menatap, mereka agaknya paham dengan kondisi Kaila. Beberapa ada yang menatap iba kasihan pada bocah itu. Tak seharusnya anak yang masih kecil-kecil mendengar kata-kata kasar seperti itu.


Mau tak mau wali kelas Duo Kay menghubungi orang tua mereka guna menjemput dua bocah itu. Panggilan tersambung ke nomor Belva. Wanita itu bingung atas pesan wali kelas Duo Kay yang mengatakan jika dua anaknya itu sudah bisa dijemput sekarang karena ada sesuatu hal yang penting.


Memang hal seperti ini harus dibicarakan kepada orang tua murid karena telah mengganggu minat belajar siswa. Belva yang mendengar jika itu penting. Ia dengan cepat memesan taksi online untuk datang ke sekolah anaknya.


Sembari menunggu datangnya taksi online, ia mempersiapkan diri dengan pakaian rapinya. Tak mungkin jika harus menyuruh Bella, pekerjaan di butik masih banyak dan lagi ini suatu yang penting.


Mobil yang telah dipesannya sudah tiba, Belva bergerak cepat mengunci rapat semua pintu dan masuk ke dalam mobil. Mobil itu bergerak perlahan dan melaju sesuai dengan kecepatan rata-rata pengemudi yang lain.


Tiba di sekolah, Belva turun dari mobil dan masuk ke dalam area sekolah. Beberapa pasang mata menatap ke arah dirinya. Kurang nyaman ditatap bak seorang narapidana yang memiliki kesalahan begitu data hingga menghilangkan nyawa orang.


Ia berusaha mengacuhkan tatapan mereka. Tak jarang terdengar suara bisik-bisik yang sebagian hatinya mengatakan jika mereka sedang menggosipkannya tapi sebagian dari hatinya yang lain mengatakan jika ia harus mengabaikan mereka belum tentu mereka menggosipkan dirinya.


Sesuai dengan pemberitahuan bahwa anak kembarnya berada di ruang guru, maka ia melangkahkan kakinya ke tempat tersebut.


"Permisi..."


"Nyonya Belva. Mari silahkan masuk."


"Terima kasih Miss." Netranya menatap dua anaknya yang duduk di sofa. Mereka terdiam, saat melihat kehadiran Belva. Kaila memeluk Maminya sedangkan Kaili dia masih terdiam.


"Silahkan duduk Nyonya. Maaf sebelumnya jika kami menghubungi anda secara tiba-tiba."


"Iya tidak apa-apa Miss, maaf ini sebenarnya ada apa ya ? Bukankah masih ada kelas bagi anak-anak ?" Tanya Belva.


"Mari ikut saya Nyonya, kita butuh berbicara tanpa adanya anak-anak."


Guru tersebut menyadari jika pembicaraan mereka memang tak seharusnya didengarkan oleh anak-anak. Belva mengangguk setuju. Ada perasaan yang sudah tidak nyaman, pasti berkaitan dengan gosip yang beredar.


"Sayang, kalian di sini dulu. Mami harus membahas sesuatu yang penting."


"Iya Mi." Jawab lirih Duo Kay.


Sekolah itu menyediakan satu ruangan yang khusus digunakan untuk pertemuan antar guru ataupun dengan orang tua siswa. Ruangan dengan kaca buram itu cukup kedap suara hingga tak ada yang bisa mendengar dari arah luar dan tak ada yang bisa melihat mereka.


"Nyonya Belva. Maaf jika masalah ini sangat sensitif bagi Anda. Saya selalu guru dari Kaila dan Kaili sebenarnya tidak tahu dengan jelas masalah apa yang terjadi. Hanya saja permasalahan yang terjadi saat ini melibatkan anak-anak juga."


Belva masih belum mengerti sepenuhnya, hingga tatapan yang menunjukkan jika guru tersebut harus menjelaskan lebih lanjut.


Guru itu menghela nafas sejenak, sejujurnya ia pun merasa sungkan untuk membahas yang menurutnya pasti sensitif.


"Gosip yang beredar di luar sana. Kami sangat menyayangkan. Sepertinya para orang tua siswa, mereka tak dapat menahan diri untuk membicarakannya hingga beberapa anak-anak terbawa akan gosip tersebut."


"Kami sebagai guru berusaha bersikap profesional tak ikut mencampuri berita yang beredar. Tapi maaf, kami tidak bisa mengendalikan para orang tua siswa. Hingga terjadi tindakan bullying yang menimpa Kaila hari ini. Saya rasa tidak hanya Kaila tapi juga Kaili. Bedanya Kaila adalah perempuan yang lebih mudah merasa dibandingkan Kaili. Tadi Kaila sempat kabur dari sekolah karena tindakan bullying yang dilakukan oleh teman-temannya. Sekali lagi kami mohon maaf karena telah lalai dalam menjaga Kaila."


Wajah Belva tampak terlihat murung saat mendengar penjelasan guru. Apa yang ditakutkannya kini terjadi. Gosip itu juga menyeret kedua anaknya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa mencegah lagi semua sudah terjadi.


"Iya Miss. Saya yang seharusnya minta maaf tapi gosip yang beredar dengan tuduhan tersebut, saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Saya juga tidak bisa memaksa orang lain untuk percaya kepada saya. Saya hanya berharap berita miring ini akan segera menghilang."


"Yang sabar Nyonya. Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya. Saya hanya khawatir nanti mengganggu minat belajar Kaila dan Kaili. Bahkan bisa juga mengganggu mental mereka. Untuk hari ini mereka kami ijinkan untuk pulang lebih awal. Agar mereka lebih tenang. Kami juga akan mengurus orang tua siswa yang anak-anaknya termasuk dalam pelaku bullying."


"Terima kasih Miss, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Belva.


Belva menjemput anak-anaknya di ruangan guru dan membawa mereka pulang. Tampak wajah dua anaknya yang murung dan lesu. Hatinya terasa sangat sakit melihat energi kehidupannya tak lagi menyorotkan sinarnya. Mereka masih kecil tak seharusnya merasakan hal semacam ini. Mereka termasuk Belva pun hanya korban dari kejahatan seseorang yang terselimuti dendam.


Di dalam mobil pun mereka lebih banyak diam. Belva mengelus lembut kepala kedua anaknya yang duduk di sisi kanan dan kirinya. Kaila memeluknya dengan erat, gadis kecil itu seakan meminta kekuatan pada Maminya yang selalu ada untuk dirinya.


Sampai rumah Belva menyuruh kedua anaknya untuk beristirahat. Tak lupa ia juga menyiapkan makanan kesukaan sang buah hati. Sosis mie gurita dengan cocolan saus tomat dengan kepedasan tingkat rendah.

__ADS_1


"Mami, teman-teman bilang aku anak haram. Aku tak punya Ayah. Tapi kan aku punya Papi kan Mi ?" Ucap Kaila dengan wajah murung.


Rupanya anak itu masih terngiang-ngiang perkataan teman-temannya. Memang tak bisa dipungkiri, sudah hampir satu minggu lebih mereka selalu mendapatkan seruan seperti itu.


"Sayang... Stop jangan bilang seperti itu. Jangan dengarkan omongan orang lain. Kaila dan Kaili anak Mami, Mami sangat sayang dengan kalian. Kalian punya Papi hanya saja Papi kalian tidak bisa kembali sayang." Ucap Belva dengan lembut. Sekuat tenaga ia menahan laju air matanya.


Sejujurnya ia tak kuat lagi dengan tuduhan miring yang dilayangkan padanya, belum lagi ancaman dari Sonia dan juga Alya kini harus ditambah lagi gosip itu berdampak untuk kedua anaknya. Butiknya bahkan sempat menurun dan hampir merugi tapi sekuat dan sebisa mungkin ia mempertahankan hingga kini perlahan mulai bangkit kembali dengan beberapa customer yang masih mau bertahan.


"Tapi Mi... Mereka selalu bilang aku tak punya Ayah. Aku pun tak pernah melihat foto Papi."


Kaila terus saja berceloteh mengenai keberadaan Ayahnya. Belva yang dalam keadaan hati yang terpuruk tak bisa menahan laju air matanya, bahkan emosinya tersulut.


"Stop Kaila !! Mami bilang berhenti membahas hal itu. Kamu tak punya Ayah iya itu benar... Papi kalian sudah pergi !! Papi kalian meninggal Kaila meninggal !!"


Air mata Belva sudahengakir deras, iat tak sanggup lagi membahas hal yang selama ini menjadi beban pikirannya. Kaila ketakutan melihat Maminya marah. Baru kali ini mereka melihat Maminya semarah itu.


Kaila ikut menangis, Kaili sedari tadi terdiam juga ikut terkejut dengan sikap Maminya. Ia pun ketakutan melihat Maminya marah.


Tangisan Kaila dan Belva terdengar saat Roichi masuk ke dalam rumah. Pria itu tak seharusnya datang ke Jakarta hanya saja, berkasnya sempat tertinggal di dalam kamar Duo Kay. Panik, pria itu berlari ke kamar Duo Kay.


"Ada apa ini ? Kaila ? Vanthe ?" Tanya Roichi yang telah membuka pintu kamar.


Mereka yang ada di dalam kamar menoleh kearah Roichi yang berada di ambang pintu. Pria itu berjalan mendekati mereka.


"Vanthe ada apa ? Kenapa kalian menangis ?"


Belva tak menjawab justru ia berlari keluar kamar Duo Kay dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Perasaan wanita itu kini campur aduk, ia kesal, marah, menyesal, sedih, kecewa semua menjadi satu.


Ia hanya kesal dan marah pada keadaan. Tak bermaksud memarahi kedua anaknya. Saat ini ia merasa tertekan dengan situasi seperti ini. Secara umur Belva masih tergolong sangat muda untuk menjadi seorang ibu dan single parents. Membesarkan anak tanpa seorang suami, selama ini berusaha keras membahagiakan anak-anaknya. Tapi mengapa kehidupannya harus dihantam gelombang yang besar kembali.


Roichi lebih memilih untuk menenangkan Kaila terlebih dahulu. Anak kecil itu menangis sesenggukan. Dipeluknya Duo Kay dalam dekapannya. Memberikan kelembutan dan kasih sayang tulus agar kedua anak itu lebih tenang.


"Opmud Mami marah pada Kaila hiks..." adu Kaila


"Marah kenapa ?"


"Kaila sedari tadi membahas Papi." Jawab Kaili yang sedari tadi diam.


"Teman-teman Kaila bilang Kaila tak punya Ayah. Mami bilang Kaila punya Papi tapi teman-teman tak percaya. Kaila ingin menanyakan foto Papi tapi Mami marah hiks..." Kaila menangis sesenggukan kembali.


Hari ini gadis itu sudah dua kali menangis perihal yang sama. Roichi menghela nafas, ia ikut merasakan kesedihan anak-anak itu. Tak tega, terlebih kenapa Belva harus marah-marah pada anaknya hingga Kaila menangis seperti seperti ini.


"Sudah jangan menangis lagi. Mungkin Mami kalian tidak sengaja marah karena sedang banyak pikiran banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."


Pria itu terus menenangkan hingga kaila merasa lelah menangis dan tidur dengan sendirinya. Kaili masih terjaga tapi Roichi menyuruhnya untuk ikut tidur, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.


Setelah kedua anak itu tenang dan tidur, Roichi mencari Belva. Melihat di dapur dan juga ruang keluarga bahkan ruang tamu serata halaman belakang tak ada berarti Belva berada di dalam kamarnya.


Dilepaskan jas miliknya, agar terasa lebih ringan dan bebas. Diketuknya pintu kamar Belva. Tapi tak ada jawaban, terpaksa Roichi meyakinkan diri untuk membuka kamar wanita itu. Pintu tak terkunci, ia melihat Belva menangis di atas tempat tidur. Dengan posisi miring dan tertutup selimut tebal.


"Vanthe..." Panggil Roichi, mendekat ke arah Belva.


"Ada masalah apa lagi ? Kenapa kamu memarahi Kaila ?"


Belva bangun dari posisinya berbaring di ranjang. "Aku tak bermaksud memarahinya." Ucap Belva menangis. Duduk di atas ranjang dengan pandangan yang tak fokus. Terlihat jelas di matanya penuh kesedihan dan kesakitan.


"Kenapa ? Kenapa mereka tak membiarkan ku hidup dengan tenang ? Kenapa hiks..."


Suara lirih dengan racauan yang keluar tanpa bisa dikendalikannya secara otomatis mengungkap apa yang kini sedang dirasakannya.


Wanita itu tertekan oleh keadaan yang tak diinginkannya. Sikapnya yang selalu berusaha menjadi orang baik terhadap orang lain hingga mendarah daging, kenapa mampu membuat orang lain berbuat jahat padanya.


Atas kejadian masa lalu yang menimpanya tak jarang ia mengintropeksi diri bagian sikap hidupnya yang mana yang salah.


"Menangis lah sepuas mu jika memang itu bisa meringankan bebanmu. Tapi tolong untuk tetap kendalikan dirimu. Anak-anak ketakutan dengan mu."


Roichi memeluk Belva, menenangkan wanita yang sedang merasakan kepiluan hati. Rupanya, permasalahannya belum juga usai setelah rencana yang kemarin sempat mereka bicarakan.


Ibu muda itu masih menangis sesenggukan. Mengeluarkan segala emosi yang dirasakannya melalu air matanya. Roichi, dia menunggu hingga wanita didekapnya selesai menangis.


Kecanggungan yang pernah terjadi kini entah pergi kemana. Masing-masing hanya fokus pada kondisi yang terasa menyedihkan. Hingga Belva lelah menangis dan suara tangisnya berubah lirih perlahan menghilang. Ia menatap lantai seakan tempat itu adalah titik fokusnya tapi pikirannya melayang pada permasalahan hidupnya.


"Sudah merasa tenang ?" Tanya Roichi lembut. Tangan kekarnya mengusap lembut rambut Belva berkali-kali.


"Bagaimana Kaila ?" Tanya Belva.


"Dia sudah tidur bersama Kaili."


"Apa yang terjadi hemm ?" Tanya Roichi.


Belva menghela napas kasar. "Aku tak tahu harus berbicara seperti apa. Aku sendiri bingung Om."


"Gosip itu juga berdampak bagi Kaila dan Kaili. Mereka mendapatkan bullying di sekolah."


Kembali Belva menghela napas dan melepas pelukan mereka.


"Kaila terus menanyakan keberadaan Papi nya, tapi aku tak bisa mengatakannya. Om sendiri sudah tahu kan jika keselamatan mereka dalam bahaya saat ini jika mereka bertemu dengan Papi mereka."


"Saya tahu, mungkin kamu juga tertekan dengan masalah ini. Lain kali jika ada apa-apa segera hubungi saya."


"Tak bisa seperti itu, Om terlalu sibuk bekerja memantau perusahaan Papa. Aku tak ingin mengganggu dan merepotkan orang lain."


"Kamu tak ingin merepotkan orang lain tapi ingin membuat si kembar ketakutan padamu ?" Ucap Roichi memicingkan matanya.


"Aku tak bermaksud seperti itu. Itu terjadi secara spontan saja." Belva membela diri karena memang sesungguhnya ia tak bermaksud membentak atau memarahi Kaila.


"Minta maaflah padanya setelah mereka bangun tidur." Ucap Roichi mengelus kepala Belva.


Entah sejak kemarin saat mereka membicarakan perihal rencana mereka dan Belva yang meminta agar Roichi tak lagi memanggilnya dengan sebutan Nona. Itu membuat mereka lebih santai dan jarak sebagai atasan dan bawahan itu kini tak lagi begitu kentara.


"Itu sudah pasti."


"Om, kenapa bisa tiba-tiba ada di sini ?" Tanya Belva.


"Ada berkas yang tertinggal di kamar si kembar. Untung saja selama satu minggu ini saya mengurus perusahaan yang di Jakarta."


Belva mengangguk lalu ia berdiri dari ranjang. Matanya terasa berat dan pedih, serta sudah dipastikan wajahnya kini terlihat kacau.


"Mau kemana ?"


"Cuci muka, mataku pedih."

__ADS_1


"Mau saya tiup matanya ?" Tanya Roichi dengan nada menggoda.


Melihat senyum Roichi yang terkesan menggoda dan mengejek itu serta mendengar kata-kata itu mengingatkannya pada alasan konyol Roichi kemarin.


"Ish... Om om genit." Belva mencibir Roichi dengan mata jengah.


Roichi tertawa terbahak-bahak. "Om om begini masih ganteng dan gagah." Ucap Roichi dengan percaya diri.


"Astaga ketempelan penunggu mana dia ?" Gumam Belva.


Ia beru melihat sikap Roichi yang bisa narsis juga. Selama ini ia hanya bisa melihat Roichi yang penuh sopan santun dan berwibawa.


Roichi kembali tertawa mendengar Belva yang sedang bergumam.


"Sudah jangan sedih dan cemberut. Tersenyum lah seperti biasa agar tetap terlihat semakin cantik." Ucap Roichi lalu pria itu berlalu dari kamar Belva.


Belva tersenyum mendengar ucapan Roichi. Roichi pun sama tersenyum saat melihat wanita yang baru saja menangis itu kembali tersenyum. Tingkah yang tak biasa dimunculkannya itu semata hanya untuk menghibur Belva saja. Tak tega bila melihat anak majikannya itu bersedih hingga menangis sekacau tadi.


Roichi masuk kembali ke kamar si kembar untuk mengambil berkasnya. Saat masuk ia melihat Kaili sudah terbangun. Duduk menghadap meja belajarnya. Dipandangi buku gambarnya yang berisikan gambaran miliknya.


"Boy... Kamu sudah bangun ?" Tanya Roichi lembut, berjalan menghampiri Kaili dan netranya melihat gambaran Kaili yang cukup bagus di usianya karena memang sudah hobinya menggambar.


Kaili menoleh ke arah Roichi dan hanya mengangguk. Pancaran wajah bocah itu masih sama belum ada perubahan masih tampak murung. Pria dewasa itu paham terlebih Kaili sedari tadi menatap gambarnya.


"Gambaran mu selalu bagus boy." Roichi mengusak rambut Kaili dan tersenyum.


"Papi... Boleh kah aku memanggilmu Papi ?" Tanya Kaili dengan wajah sendunya, mata penuh pengharapan.


Bibir itu sedikit terangkat, tak ada rasa keterkejutan dari hatinya. Sangat paham akan keadaan mereka. Ibu dan anak yang terbelenggu masalah akan status seorang Ayah bagi anak-anak.


Roichi mengangguk, tak keberatan sama sekali. Toh dirinya merasa senang dengan dua bocah kembar itu. Kaili, pria kecil itu pancaran matanya berubah menjadi berbinar bahagia. Tanpa aba-aba, tangan kecilnya meraih bagian tubuh Roichi sekenanya untuk bisa dipeluk. Posisi Kaili yang duduk di kursi belajarlah dan Roichi yang sedikit membungkuk.


"Apa kamu senang ?" Pertanyaan yang tentu jawabannya sudah diketahuinya. Hanya saja dia ingin mendengar dari bibir mungil itu.


"Sangat... Aku punya Papi sekarang." Ucap Kaili riang.


Hanya bisa memanggil orang lain yang terasa dekat dengannya dengan sebutan Papi saja sudah mampu membuat Kaili merasa bahagia. Sosok Roichi yang selalu ada untuk mereka, perhatian dan juga kelembutannya membuat bocah kecil itu merasa nyaman dan merasakan disayang oleh seorang Ayah.


"Jangan bersedih lagi hemm. Kalian boleh memanggilku Papi jika itu membuat kalian tak bersedih lagi."


"Terima kasih Papi." Kaili tersenyum.


"Ya sudah, Opmud harus pergi dulu ya."


"No, bukan Opmud tapi Papi. Apa kamu keberatan ?" Tanya Kaili


"No... Iya maksudku Papi harus pergi dulu."


Kaili tampaknya tak ingin Roichi pergi saat ini. Saat pria itu mengambil berkas dan keluar dari kamar. Anak itu terus mengikuti langkah kaki Roichi. Matanya sudah berkaca-kaca tanpa berkata sedikitpun. Anak yang biasanya diam dan cuek itu saat ini tengah berada di masa terendah. Melupakan segala perasaan dan keinginan yang dipendamnya sejak dulu.


"Papi jangan pergi." Pinta Kaili saat Roichi sudah kembali memakai jas nya.


Bertepatan dengan itu Belva keluar dari kamarnya. Ia melihat anak lelakinya sudah mengeluarkan air mata tapi tak menangis meraung-raung.


"Kaili kamu kenapa sayang ?" Tanya Belva.


"Mami, bilang pada Papi jangan pergi." Ucap Kaili. Seketika Belva merasa bingung. Ia yang tak ingin membahas hal itu lagi tapi kenapa saat ini justru bergantian anak lelakinya yang membahas hal itu.


"Kaili mami sudah bilang..." Ucapan Belva sudah mulai terbaca oleh Roichi. Tak ingin terjadi keributan lagi, dia menggendong Kaili dan mulai berbicara.


"Sayang, Papi hanya pergi sebentar ke kantor nanti pulang lagi. Karena masih banyak pekerjaan di kantor." Ucap Roichi yang selalu lembut saat berbicara pada Duo Kay.


Mata Belva membulat sempurna, ia mendengar kalimat Roichi membuatnya sedikit aneh. Ia menatap Roichi penuh tanda tanya.


"Maaf... Kaili memintanya. Jika keberatan jangan memarahinya kita beritahu dengan perlahan." Roichi tahu pandangan Belva padanya.


Deg... Mendengar Kaili yang memintanya, ia sendiri merasa bersalah. Sebegitu besarnya anak-anaknya sangat menginginkan seorang Ayah.


"Tidak apa-apa, aku tak keberatan Om. Maaf jika kami selalu membuatmu repot atau mungkin risih akan hal ini." Belva merasa tak enak hati.


Baru kemarin dirinya meminta tolong untuk berpura-pura menjadi ayah si kembar, tapi kini justru anaknya lah yang meminta memanggil Roichi dengan sebutan Papi.


"Menjaga kalian adalah tugas saya. Jika saya memang merasa kerepotan sudah sejak dulu saya mengajukan protes pada Tuan Hector." Ucap Roichi dengan sedikit bercanda. Belva hanya tersenyum.


"Kaili, sini sayang sama Mami. Om Roi harus bekerja nanti Opa marah kalau kantornya tidan dijaga Om Roi." Bujuk Belva.


"No, ini Papi ku bukan Om Roi. Papi tidak boleh pergi hiks..."


"Iya oke... Papinya Kaili harus kerja sayang. Ayo nak turun."


"Iya sama Mami dulu ya, Papi harus ke kantor Nak. Nanti pulang kita jalan-jalan mumpung Papi ada pekerjaan di Jakarta."


"Tidak mau... Eh Benar ya jalan-jalan ? Tidak bohong kan ? Janji ?" Kaili berusaha memastikan. Dia tak ingin ditinggal oleh seorang Ayah lagi.


Roichi dan Belva tertawa mendengar Kaili yang kekeuh tak mau ditinggal tapi seketika menanyakan perihal rencana jalan-jalan.


"Janji... Tidak bohong. Nanti Papi usahakan pulang cepat."


"Oke Papi." Satu ciuman diberikan Kaili pada pipi Roichi itu membuat pria itu tersenyum.


Saat ini Kaili berubah menjadi anak yang manja tak seperti biasa yang terlihat cuek dan dingin. Mungkin tekanan batin yang dirasakannya selama ini.


Kaili beralih dari gendongan Roichi ke gendongan Belva. Janji yang dilontarkan Roichi dengan mudahnya meluluhkan Kaili.


"Saya pergi dulu. Kalian hati-hati di rumah kalau ada apa-apa segera hubungi saya jangan diam-diam lalu kalian menangis lagi."


Belva hanya cemberut dengan sindiran dari Roichi. Itu membuat Roichi tersenyum melihat tingkah Belva.


"Jangan cemberut nanti saya tiup mata kamu." Ucap Roichi dengan menahan tawanya dan berlari begitu saja.


Belva mengantarkan anaknya masuk kembali ke kamar. Ditatapnya putra tampannya itu dengan lekat. Rasa bersalah muncul saat Kaili harus memanggil orang lain dengan sebutan Papi. Sebutan yang seharusnya di sematkan pada ayah kandung Kaili dan Kaila.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2