Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 116. Kabur


__ADS_3

"Ayo sayang kita naik." Ajak Satya


Pandangan Belva beralih kepada Satya, ia mengangguk dan tersenyum. Satya menuntun Belva kembali untuk naik ke lantai atas. Beberapa asisten rumah tangga masih memperhatikan langkah pasangan pengantin baru itu.


"Aku senang Nyonya baru kita seperti Nyonya Belva. Dia orang yang baik dan sopan." Ujar salah satu asisten rumah tangga.


"Kamu benar, aku juga sama seperti mu. Senang mendapatkan majikan yang baik seperti Nyonya baru kita ini. Kamu lihat wajah Tuan setelah menikah dengan Nyonya Belva?" Ucap Janis tersenyum.


"Iya tampak lebih bahagia." Sahut asisten rumah tangga yang lain.


Mbok Yati pun hanya menanggapi dengan senyumannya. Ia merasa bahagia atas bersatu nya Belva dan Satya. Mengetahui cukup jelas bagaimana kejadian yang menimpa Belva saat itu. Gadis yang malam itu kini saatnya menjadi wanita yang beruntung.


"Cih apa bagusnya itu perempuan, paling bersikap baik juga karena punya suatu tujuan." Ucap Tuti dengan nada berbisik dan sinis disamping Inah.


"Iya tentu saja benar seperti itu. Kita lihat saja nanti pasti borok nya kelihatan jika sudah menjadi Nyonya rumah ini." Inah menanggapi dengan tak kalah sinis.


"Kalian bisa kembali bekerja." Ucap Jordi setelah Satya dan Belva sudah menghilang di balik tangga.


Semua asisten rumah tangga Satya mengangguk lalu mulai membubarkan diri untuk kembali bekerja.


"Kalian dua orang yang berjajar dari kiri, diam di tempat kalian." Jordi menatap tajam pada dua orang yang dimaksud oleh pria itu.


Asisten rumah tangga yang lain tentu saja langsung melirik ke arah dua irang tersebut dengan pikiran bertanya-tanya. Tapi mereka tetap melanjutkan langkah mereka menuju ke tempat kerja masing-masing.


Dua orang yang dimaksud Jordi adalah Tuti dan Inah. Dua gadis itu cukup kaget saat Jordi menghentikan langkah mereka.


"Iya ada apa Tuan?" Tanya Tuti penasaran dan bingung.


Inah dan Tuti melihat Jordi yang berjalan mendekat dengan tatapan tajam dan wajah dingin.


"Saya peringatkan pada kalian, jangan berani berbuat macam-macam di rumah ini." Suara yang membuat Tuti dan Inah sulit menelan ludah mereka.


"Ma-maksud, Tuan?" Tanya Inah terbata.


"Gunakan otak kalian untuk berpikir jika masih ingin bekerja di rumah ini." Jawab Jordi, lalu pria itu pergi keluar rumah.


Tugasnya untuk mengantar Tuannya sudah selesai, Jordi harus pergi ke suatu tempat dimana dirinya seharusnya saat ini berada. Dengan mobilnya Jordi mengemudikan secara cepat.


Dua asisten rumah tangga Satya masih terdiam di tempat menatap kepergian asisten majikan nya.


Plak...


Tepukan kecil mendarat di lengan Inah hingga membuat gadis itu meringis kesal.


"Apa sih Tut. Sakit."


"Kenapa Tuan Jordi bisa berkata seperti itu kepada kita, nah ?"


"Tidak tahu... Memang apa salah kita ? Sepertinya kita tidak pernah melakukan kesalahan apapun atau berbuat macam-macam di rumah ini." Ujar Inah.


Mereka tidak sadar jika saat mereka menatap Belva dengan tatapan tidak suka dan sinis, Jordi sempat menangkap tatapan mereka berdua. Maka dari itu Jordi memberikan peringatan pada kedua asisten rumah tangga Satya.


"Sudahlah abaikan saja toh dia juga bukan majikan kita." Ucap Tuti tanpa takut sama sekali jika yang memperingatkan mereka adalah Jordi.


Tuti dan Inah berlalu ke dapur mengikuti teman-teman nya yang telah pergi lebih dahulu.


Satya dan Belva kini sudah berada di lantai tiga. Dimana lantai tersebut adalah lantai khusus untuk mereka mulai saat ini.


"Mas, kamu renovasi lantai tiga ini ?"


"Iya sayang, lantai tiga ini sekarang menjadi tempat khusus untuk kita. Kamar kita ada disini. Ayo masuk." Ajak Satya, tangan pria itu memegang erat pinggang Belva.


Mereka berjalan menuju sebuah pintu bercat putih. Tangan kekar Satya membuka dengan perlahan dan mereka masuk satu langkah ke dalam.


Mata Belva membelalak menatap ruangan yang cukup besar itu. Dua kali lipat dari kamar Satya sebelumnya. Jika kamar Satya sebelumnya saja sudah besar apalagi kamar baru mereka sekarang.


"Mas, ini kamar ?" Tanya Belva tak yakin depan pandangannya.


"Iya sayang, ini kamar kita berdua."


Pintu ditutup rapat oleh Satya. Dia mengajak istrinya berjalan mendekati ranjang berukuran king size mereka.


"Ini terlalu luas untuk kita berdua mas. Ini hampir sama luas nya dengan rumah ku."


"Mas sengaja sayang. Jadi jika nanti Kay tidak ingin tidur di kamar mereka, mereka bisa ikut tidur bersama kita. Mereka bisa bermain dengan leluasa disini."


Belva menatap Satya, ia tak menyangka jika Satya masih memikirkan anak-anak mereka meski kamar itu memang ditujukan khusus untuk mereka berdua.


"Sayang, mas adalah anak tunggal tidak punya saudara. Itu membuat mas merasa sepi."


Satya menjeda ucapannya sejenak, menatap manik mata Belva dengan lebih dalam lagi. Kini mereka duduk di bibir ranjang.


"Mas, berharap kita memiliki keluarga besar. Mas ingin saat kita tua nanti banyak anak dan cucu kita yang akan menemani kita. Mas juga ingin anak-anak saat dewasa nanti memiliki banyak saudara yang akan saling membutuhkan satu sama lain."

__ADS_1


Belva pun menatap Satya sekilas, ia tersenyum tipis kemudian menunduk dengan menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya dirinya masih merasa malu jika harus membahas mengenai rencana memiliki anak. Yang artinya Satya menginginkan memiliki banyak anak dari dirinya.


Satya menarik dagu Belva agar kembali menatap dirinya. "Apa kamu keberatan jika mas menginginkan banyak anak dari dirimu ?"


"Emm... Kita baru saja menikah mas, anak-anak juga masih kecil." Jawab Belva yang tidak membuat Satya puas dengan jawaban seperti itu.


"Mas tahu dan paham bahwa mereka masih membutuhkan perhatian kita. Tapi jawaban yang ingin mas dengar adalah apakah kamu keberatan jika mas ingin memiliki banyak anak dari mu ?"


"Maaf mas, aku belum memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan saat ini adalah keluarga yang baru saja akan mulai kita bina. Semua juga tak lepas dari Kaila dan Kaili yang sangat membutuhkan keberadaan kita."


Jawaban yang sejujurnya membuat Satya kecewa tapi dirinya mencoba memaklumi jawaban sang istri yang memang mereka baru saja akan memulai membina rumah tangga mereka.


Belva melihat ada raut wajah kecewa dari suaminya setelah jawaban itu keluar dari bibirnya. Bukan hanya malu tapi Belva pun masih belum memikirkan sejauh itu saat memutuskan menerima ajakan menikah dari Satya. Yang ada dipikiran nya adalah agar kedua anak kembar nya memiliki keluarga yang utuh dan merasa bahagia.


Mereka lalu sama-sama terdiam, saat itu juga ponsel Satya berdering. Jordi menghubunginya. Satya mencoba untuk merijek panggilan tersebut tapi Jordi menghubungi kembali. Artinya panggilan tersebut sangat penting, dirinya baru ingat jika sore tadi ada sedikit masalah.


"Maaf, mas harus pergi sekarang." Ujar Satya yang sudah berdiri di depan Belva.


"Mau kemana mas ?" Tanya Belva.


"Ada urusan penting."


Satya mengusap pipi Belva sekilas lalu pergi begitu saja. Belva menatap kepergian Satya yang terkesan buru-buru. Hatinya merasa sedih kala dirinya harus ditinggal pergi oleh sang suami. Saat ini baru saja mereka melangsungkan pernikahan dan Satya baru saja membawanya ke rumah ini, rumah yang menyimpan luka besar bagi dirinya.


"Urusan penting apa hingga pergi terburu-buru seperti itu. Apa dia merasa kecewa padaku." Lirih Belva karena tadi dirinya melihat ada raut kekecewaan di wajah suaminya meski tak tampak jelas.


Sepeninggal suaminya, Belva hanya menatap kamar baru nya yang sangat luas. Sendiri dan sepi yang kini Belva rasakan, biasanya dirinya merasa ramai dengan adanya kedua anaknya. Berbeda saat ini Duo Kay dibawa pulang ke rumah Tuan Hector.


Merasa dirinya sudah lelah dan merasa lengket serta gerah, Belva lalu memilih untuk membersihkan diri. Ia masuk ke dalam kamar mandi, kamar mandi itu pun juga cukup luas dengan fasilitas yang sama seperti hotel bintang lima. Tak membutuhkan waktu lama bagi Belva untuk membersihkan diri.


Menggunakan bathrobe warna putih Belva keluar dari kamar mandi. Di dalam kamarnya tidak ada lemari pakaian. Ia penasaran dimana letak lemari, ia ingin mencari setidaknya pakaian milik Satya agar bisa digunakan nya sebagai pakaian ganti. Dirinya tak membawa pakaian apapun selain kebaya yang dikenakannya sedari tadi di panti.


Satu pintu kaca menarik perhatian Belva, ditariknya handel pintu tapi tidak bisa terbuka.


"Kok tidak bisa dibuka, pintu apa ya ini ?" Gumam Belva lirih.


Wanita itu masih berusaha untuk membuka, tapi ternyata pintu itu bisa terbuka setelah digeser olehnya.


"Astaga... Ternyata digeser cara membuka pintu ini."


Pintu terbuka Belva masuk ke dalam nya, mata nya kembali membulat sempurna dengan mulut terbuka lebar.


Di dalam ruangan itu banyak terdapat susunan pakaian di dalam lemari kaca. Tidak hanya pakaian saja melainkan tas, sepatu, perhiasan serta jam tangan yang tersusun di tempat barang masing-masing.


"Ini pakaian siapa ? Cantik-cantik sekali."


Belva membuka dan menyentuh setiap kain yang tergantung dan terlipat di dalam lemari tersebut. Manik matanya menatap pada pakaian rumahan bermodel satu setel piyama berbahan katun bermotif tie die putih dan biru.


Diraihnya pakaian tersebut dan ternyata di bagian tengah lemari terdapat susuan pakaian dalam yang terlipat rapi. Semua pakaian dal*am tersebut memiliki ukuran yang sama dengan ukuran miliknya.


Tanpa pikir panjang lagi Belva mengambil semua yang dibutuhkan dan menarik bagi dirinya. Tak hanya itu saja ternyata di dalam ruangan itu juga terdapat satu meja khusus yang tertata rapi beberapa produk kecantikan. Semuanya lengkap mulai dari make up hingga skincare untuk menjaga dan merawat kulit wanita.


"Apa semua ini untukku? Mas Satya benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik." Lirih Belva.


Merasa bahwa semua itu benar-benar disiapkan untuk dirinya, maka tidak ada kata takut dan ragu lagi bagi Belva untuk menggunakan beberapa produk kecantikan itu.


Selesai dengan semua urusannya Belva kembali keluar dari ruangan yang berisi banyak barang-barang fashion itu. Ruangan yang biasa disebut sebagai walk in closed bagi orang-orang berada yang memang sengaja memisahkan pakaian dan barang-barang fashion milik mereka.


Perutnya berbunyi, keroncongan akibat rasa lapar yang menyerang dirinya. Sedari siang dirinya memang belum makan nasi. Kue dan makanan ringan saja yang dimakannya saat acara pernikahannya.


Pintu tiba-tiba terketuk dari luar, bva berjalan mendekati pintu. Ternyata Janis yang mengetuk pintu kamar nya.


"Mbak Janis, ada apa mbak ?"


"Nyonya, makanan sudah siap, apakah Nyonya akan makan malam sekarang?" Tanya Janis dengan sopan.


"Mbak, kok aku jadi merasa aneh ya saat Mbak Janis memanggil ku seperti itu. Panggil saja seperti biasa mbak, itu terdengar lebih nyaman di telingaku."


"Maaf Nyonya, Tuan akan marah jika saya memanggil Nyonya dengan lancang."


"Mbak, tolong lah jangan panggil aku seperti itu. Dia tidak akan marah karena tidak mendengar." Ucap Belva memohon.


"Tapi Nyonya..."


"Mbak, panggil seperti biasa saja jika Tuan Satya tidak ada. Pasti aman kok." Ujar Belva.


Janis menatap Belva, wanita itu tersenyum saat ditatap oleh Janis membuat asisten rumah tangga Satya itu ikut tersenyum dan mengangguk.


"Ya sudah, ayo neng makan malam sudah siap. Nanti keburu dingin makanan nya."


"Tapi Mbak Janis temani aku makan ya. Tidak enak makan malam sendirian, biasanya ada anak-anak tapi mereka tidur di rumah Oma dan Opa nya."


"Tapi neng nanti kalau Tuan tahu bagaimana? Lebih baik jangan neng." .

__ADS_1


Belva lalu menutup pintu dan menarik lengan Janis hampir menuju tangga tapi Janis menghentikannya.


"Neng mau turun ini kita ?" Tanya Janis.


"Ya iya dong Mbak kan mau ke ruang makan."


"Lebih baik kita pakai lift saja neng lebih cepat dan tidak akan lelah naik turun tangga."


"Lift ? Memang ada ?" Tanya Belva.


"Iya lift, Tuan Satya merenovasi rumah ini dan menambahkan lift untuk mempermudah kita naik turun rumah ini. Khusus untuk neng Belva dan si kembar."


Belva memutar bola matanya malas. "Jika ada lift kenapa tadi harus mengajakku menaiki tangga yang banyak itu."


Belva terlihat sedikit kesal, Satya membawanya menaiki tangga satu persatu disaat dirinya tengah merasa lelah dan sedikit kesulitan berjalan akibat memakan kebaya dan kain jarik.


Janis tertawa melihat Belva yang kesal karena ulah suami wanita itu sendiri. Mereka berdua menggunakan lift untuk turun dari lantai tiga menuju lantai paling bawah.


Belva memaksa beberapa asisten rumah tangga yang ia lihat untuk menemani dirinya makan di meja makan. Mau tak mau dengan perasaan takut dan kurang nyaman mereka akhirnya menuruti keinginan Belva untuk makan bersama.


Berbeda dengan Belva yang tengah sibuk menikmati makan malam, Satya justru sibuk meluapkan emosinya pada anak buahnya yang tidak becus menjaga satu orang wanita saja.


"Apa yang kalian kerjakan hari ini ?" Tanya Satya dingin dan datar. Suaranya begitu menusuk meski tak mengandung nada yang tinggi.


"Ma-maaf Tuan kami lalai." Ucap anak buah Satya dan Jordi dengan perasaan takut yang mendominasi dirinya saat ini.


"Pertanyaan saya adalah apa yang kalian lakukan saat ini ?" Satya kembali mengulang pertanyaannya.


"Kami... Kam-kami... Bagong keluar mencari makan, saya pergi ke toilet dan Parji ketiduran Tuan."


Satya memejamkan matanya dan menarik napasnya dalam. Emosinya menguasai dirinya saat ini. Anak buah nya begitu lalai dalam menjaga seorang perempuan yang tak lain adalah Sonia.


Plak... !!!


Satu tamparan keras Satya daratkan pada anak buahnya. Pria yang menunduk ketakutan itu semakin merasa takut dan tertekan saat ini. Rasa panas pada pipinya memang terasa tapi rasa takutnya lebih mendominasi hingga sakitnya tamparan Satya tak begitu terasa baginya.


"Apa bayaran yang saya berikan pada kalian kurang ?"


Satya merasa bahwa anak buahnya mempermainkan pekerjaan sepenting ini. Mereka teledor hingga Sonia bisa kabur dari sekapan mereka.


"Ti-tidak Tuan, ini..."


"Ini kesalahan fatal." Satya memotong ucapan pria itu dengan menyambungkan dengan kalimat nya sendiri.


"Kamu tahu ? Wanita ular itu berbahaya bagi istri dan anak-anak saya. Dia kabur karena kalian dan jika anak dan istrinya saya dalam bahaya maka kalian yang akan menanggung perbuatan wanita ular itu."


Suara tegas Satya semakin membuat pria itu ketakutan dan semakin tertekan. Menanggung perbuatan Sonia itu artinya tanggung jawab Sonia beralih pada mereka dan pasti Satya tidak akan main-main membalas perbuatan yang mengusik ketenangan hidup nya.


"Sa-saya... Saya dan yang lain akan berusaha untuk mencari wanita itu Tuan. Anak-anak yang lain sudah menyebar untuk mencarinya."


Tidak mau menanggung suatu hal yang tidak diperbuatnya hingga merugikan dirinya sendiri dan bahkan keluarga nya, pria itu bertekad untuk menemukan Sonia sesegera mungkin.


"Jordi, kerahkan anak buah tambahan untuk menemukan wanita gila itu." Titah Satya pada Jordi.


"Baik Tuan, saya sudah mengerahkan beberapa anak buah tambahan untuk mencari Sonia sedari tadi sore, Tuan."


Satya mengurut batang hidungnya, pusing merasakan permasalahan yang selalu Sonia lakukan dalam hidupnya. Tangan Satya mengibas-ngibaskan pada anak buahnya yang masih tertunduk ketakutan. Pria itu hanya bisa terdiam membisu saking takutnya pada Satya.


Kursi sofa yang ada di ruangan itu Satya gunakan untuk meluruskan punggungnya yang terasa pegal dan lelah. Hembusan napas kasar terdengar oleh telinga Jordi.


"Anda tenang saja Tuan, Kuta pasti bisa menemukannya dengan cepat." Ucap Jordi.


"Ya saya harap seperti itu." Respon Satya.


"Apa kamu sudah menyelidiki siapa yang membantu Alya terbebas dari tuntutan penjara ?" Tanya Satya.


"Sudah Tuan, berkas akan saya kirim melalui email anda segera." Jawab Jordi.


"Oke... Satu lagi, saat wanita gila itu berhas kita temukan segera lakukan tindakan untuknya. Jangan sampai saya mendengar ada kata kabur lagi dari mulut kalian."


Nada tegas, dingin dan datar nya masih saja terasa. Ruangan itu terasa cukup mencekam tapi Jordi sedikit lega karena Satya tak sampai mengamuk seperti orang kesetanan.


Tidak bisa dibayangkan nya jika Satya mengamuk seperti orang kesetanan. Masalahnya akan bertanya banyak jika Satya mengamuk.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Tidak pernah lupa author berterima kasih sebanyak-banyaknya buat kalian para readers ku yang selalu setia menunggu Satya dan Belva. Terimakasih support nya, Like nya, Komennya, Kembang setaman kalian dan Vote nya. Semua itu adalah suntikan semangat buat author.


Jangan lupa setiap senin dan Sabtu kasih Vote buat Om Satya dan Belva ya 😁🤭🙏

__ADS_1


Terimakasih semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki 🤗🤗


__ADS_2