Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 174. Dendam Pribadi


__ADS_3

Selesai menjenguk bayi Alya, Satya langsung mengantar anak dan istrinya ke butik. Jordi sang asisten sudah menghubungi dirinya sejak tadi karena ada masalah yang penting dan harus segera memerlukan Satya. Mengerti dengan kesibukan suaminya Belva pun tak masalah jika Satya harus buru-buru pergi setelah mengantar dirinya.


"Sayang, mas ke kantor dulu maaf tidak bisa mampir di butik."


"Iya, mas tidak masalah. Hati-hati di jalan ya, mas kalau sudah sampai kasih kabar."


"Iya, sayang." Ucap Satya pada istrinya.


"Anak-anak Daddy, Daddy berangkat dulu ya nanti sore Daddy jemput kalian lagi, oke." Pamit Satya pada anaknya.


"Oke Daddy, hati-hati di jalan ya, Dad." Ucap Kaila.


"Pasti, sayang. Boy Daddy titip Mami dan adik-adikmu ya." Ujar Satya pada Kaili.


"Siap Daddy, aku kan laki-laki pasti jaga Mami dan Kaila." Ucap Kaili mantap.


"Jangan lupa di perut Mami juga ada adikmu jaga juga dia, okee."


"Oke Daddy." Ucap Kaili mengacungkan jempolnya.


Satya mengecup kening Belva dan anak-anaknya sebelum dirinya benar-benar pergi. Kelembutan selalu terasa dari seorang pria yang datar dan dingin di luar tapi terasa lembut dan hangat ketika bersama keluarganya.


Satya pergi mengemudikan mobilnya menuju kantornya di mana Jordi sudah menunggu sesrai tadi. Di jalan, jordi kembali menghubungi Satya.


"Hallo Jordi ada apa? Saya sudah di jalan menuju kantor." Jawab Satya mengangkat panggilan Jordi.


"Hallo, Tuan. Baiklah hati-hati di jalan, kami tetap menunggu anda."


Satya mengerutku keningnya, mendengar Jordi mengatakan kami. Itu artinya tidak hanya Jordi yang menunggu diirnya di kantor.


"Oke tunggu lima belas sampai dua puluh menit lagi."


"Baik, Tuan." Jawab Jordi.


Sambungan telepon terputus, Satya meletakkan ponselnya ke dalam saku jas nya. Kembali pandangan matany fokus ke jalan raya tapi pikirannya masih memikirkan ucapan Jordi.


"Apa ada klien penting hari ini? Tapi Grace maupun Jordi tidak mengatakan jika hari ini ada jadwal bertemu klien." Gumam Satya.


Di butik, Duo Kay seperti biasa selalu menemani Mami mereka saat bekerja hingga sore hari. Tentu saja mereka juga sibuk dengan kegiatan masing-masing yang berbeda dari anak-anak kecil pada umumnya.


Kaila saat ini sibuk dengan selembar kertas dan juga pensil yang sedari kemarin mengisi waktunya. Kaila mulai menggambar desain sebuah gaun yang diandalkannya untuk maju saat acara fashion show yang akan di selenggarakan oleh pihak Christina Diora. Meski masih belia tapi Belva sudah memberikan pengertian jika gadis kecil itu sudah memiliki tanggung jawab menjalankan tugasnya yang selalu Belva sebut dengan PR. Selama ini Kaila tidak pernah merasa keberatan, jikapun lelah dirinya akan mengatakan pada Belva dan Belva pun tidak akan memaksa putrinya. Semua berjalan sesuai dengan keadaan bagaimana Kaila merasa baik disitu gadis kecil itu bisa bekerjasama dengan baik pula.


"Mami, di mana pensil warnaku?" Tanya Kaila yang tengah mencari pensil warnanya. Biasanya pensil warna itu diletakkan di dalam tas nya tapi kini tidak ada pada tempatnya.


"Di dalam tas tidak ada?" Tanya Belva.


"Tidak ada, sudah aku cari."


"Tadi pagi kamu membawanya ke sekolah?" Tanya Belva kembali.

__ADS_1


Kaila menepuk dahinya, "Oh iya lupa pensil warna nya tidak aku masukkan ke dalam tas. Masih di atas meja di kamar."


Belva menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya.


"Ya sudah, pakai pensil warna Mami saja."


Belva mengulurkan tangannya untuk mengambil pensil warnanya di dalam laci. Hobi dan bakat yang sama diantara kedua wanita berbeda usia itu membuat mereka tak merasa kesulitan di saya seperti ini.


"Terima kasih, Mami. Untung Mami punya pensil warna hahaha." Kekeh Kaila mengambil pensil warna dari tangan Maminya.


"Tentu saja sayang kita sama-sama suka menggambar tidak mungkin Mami tidak simpan pensil warna."


Kaila tersenyum ceria, ia kembali melanjutkan kegiatannya untuk memberikan warna pada gambar desain gaun miliknya. Kali ini Belva akan lebih banyak membiarkan putrinya mengeksplorasi kreativitasnya sendiri. Tidak dilepaskan begitu saja tapi Belva tetap memantau mana kala Kaila membutuhkan bantuan dirinya.


Kaili, putra dari Belva dan Satya lebih banyak diam tak menggubris Mami dan juga adiknya karena pria kecil itu juga memilih kesibukan sendiri. Dia menjalankan tugas dari Daddy nya untuk menggambarkan desian bangunan resoy yang baru. Dengan serius pria kecil itu menatap kertas yang berukuran cukup besar itu, goresan-goresan pensil hitam telah memenuhi sebagian dari kertas putih tersebut.


Belva pun kemudian teralihkan fokusnya pada putranya yang anteng sejak tadi. Di dekati sang putra yang duduk cukup jauh dari mejanya. Kaili membutuhkan tempat yang cukup luas untuk meletakkan kertas yang cukup besar miliknya.


"Sayang, kamu sedang menggambar apa? Beberapa hari ini kami Mami perhatian kertas ini yang selalu kamu kerjakan." Ucap Belva.


"Gambar desain resort kata Daddy." Respon Kaili.


"Resort? Daddy mu meminta mu untuk menggambar bangunan miliknya? Sejak kapan?"


"Waktu itu Daddy memintaku untuk menggambarkan nya karena resort Daddy yang satunya berhenti bangunannya."


"Maksud kamu bagaimana sayang? Mami belum mengerti."


"Oh begitu, oke. Kerjakanlah dengan baik, nanti jika lelah beristirahatlah, sayang."


"Oke Mami." Jawab Kaili.


Melihat kedua anaknya sibuk dengan kegiatan masing-masing maka Belva pun ikut menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang memiliki beberapa pekerjaan menumpuk. Desain dari beberapa kliennya belum dikerjakan sama sekali.


Sesekay Belva berhenti sejenak hanya untuk mengontrol kedua anaknya yang tengah sibuk dengan bakat dan penghasil pundi-pundi uang mereka. Masih belia tapi mereka mampu menghasilkan uang yang cukup fantastis selama ini dengan bakat yang mereka miliki.


Di kantor, Satya sudah sampai, dia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam kantor. Selalu saja pemilik Bala Corp itu menjadi pusat perhatian para karyawatinya. Beberapa karyawan menunduk hormat dan menyapa dirinya. Satya sesekali menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Beberapa hari terakhir memang sifat Satya sedikit berubah-ubah membuat para karyawan juga merasa aneh tapi juga senang dengan perubahan sikap Satya.


"Grace, Jordi di mana?" Tanya Satya yang sudah sampai di lantai khusus miliknya di perusahaan tersebut.


"Tuan, Jordi berada di ruangan anda bersama Tuan Roichi." Jawab Grace.


"Roichi? Karyawan Hector Group?" Tanya Satya memastikan.


"Benar, Tuan." Jawab Grace kembali.


"Roichi, kapan dia kembali ke sini?" Gumam Satya dalam hatinya.


Baru saja dirinya dan juga keluarga kecilnya sampai di Indonesia belum lama ini. Roichi sudah menyusul mereka ke Indonesia. Satya langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Benar saja Jordi dan Roichi sedang duduk di sofa yang berbeda. Keduanya berbincang entah membahas apa Satya juga tak tahu itu.

__ADS_1


"Tuan, anda sudah datang." Sapa Jordi saya melihat Satya membuka pintu.


"Ya, ada apa menghubungi sedari tadi?" Tanya Satya.


"Apa pekerjaan kantor tidam penting lagi bagi anda, Tuan Satya?" Tanya Roichi.


Satya langsung mengalihkan pandangannya pada Roichi.


"Tentu saja penting, tapi kelurga saya lebih penting terutama istri dan anak-anak saya." Jawab Satya.


Sebuah jawaban yang langsung membuat Roichi terdiam sejenak. Mengingat kata istri berarti dirinya mengingat wanita yang dicintainya tapi tak bisa digapainya.


"Saya dengar ada masalah di proyek pembangunan kita. Bagaimana perkembangan nya?" Tanya Roichi mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih serius dan tentunya tak akan menguras hatinya.


"Kami sedang menyelidiki pelaku utama. Rencana baru juga sudah kami buat untuk membuat pelaku utama muncul ke permukaan." Ujar Satya, dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, diikuti oleh Jordi dan juga Roichi.


"Apa sudah ada ciri-ciri yang kalian ketahui dari pelaku utama?"


"Belum, Tuan Roichi. Seperti yang saya katakan tadi bahwa karyawan kami yang menjadi saksi kunci berhasil kabur. Dan beberapa kali pelaku utama sengaja menghubungi saya dengan nomrl yang berbeda dan tak bisa terlacak." Ujar Jordi.


"Apa ada dendam pribadi? Tuan Satya, maaf apa anda memiliki musuh yang selama ini secara terang-terangan berusaha menjatuhkan anda?" Tanya Roichi.


"Mungkin bisa jadi dendam pribadi tapi saya tidak mengetahuinya. Jika untuk musuh yang ingin menjatuhkan saya, saya rasa banyak pebisnis yang merasa tersaingi oleh kemajuan perusahaan ini dan saya rasa mereka memang selalu berpikir bagaimana caranya mengalahkan kami." Ucap Satya.


"Yang saya takutkan adalah jika ini dendam pribadi maka kita harus berhati-hati. Bener kasus selalu mengarah pada keluarga atau orang terdekat. Saya sarankan perketat penjagaan terhadap istri dan anak-anak anda, Tuan Satya." Ucap Roichi.


Satya tampak berpikir atas ucapan Roichi, ada benarnya dan Satya sependapat dengan Roichi. Dirinya harus lebih ekstra hay dalam menjaga istri dan anak-anaknya teelnih saat ini istrinya tengah hamil muda.


"Saya akan memperketat penjagaan terhadap mereka." Ucap Satya.


"Saya percaya anda bisa menjaga mereka, tapi sebelum saya datang kemari saya dan Tuan Hector sudah membahas hal ini. Tuan Hector sendiri yang memerintahkan untuk memberikan pengawalan ketat pada Vanthe dan juga si kembar."


Roichi menjelaskan teelnih dahulu pada Satya agar suami Belva itu tidak berpikiran buruk pada dirinya. Roichi bukan orang yang bodoh dalam memperhatikan sikpa Satya pada dirinya karena dirinya juga menyadari bahwa Satya pun pasti mengetahui jika dia memiliki perasaan pada Belva.


Satya hanya mengangguk dan mau tak mau menyetujuinya jika sudah ada kata Tuan Hector yang turun tangan.


"Rencana apa yang ingin kalian lakukan untuk mengangkat pelaku utama ke permukaan?" Tanya Roichi.


"Membangun resort baru dan merekrut karyawan baru." Ucap Satya.


Satya mulai menceritakan bagaimana rencana yang akan dilakukannya untuk menjebak seseorang yang berani bermain-main dengan bisnisnya. Siapapun itu jika Satya sudah mengetahui pelakunya maka dirinya tidak akan tinggal diam begitu saja.


Balasan setimpal akan Satya berikan pada orang tersebut. Satya tak terbiasanya mengampuni seseorang yang telah mengganggu kehidupannya. Sikap keras dan arogannya akan muncul jika dirinya merasa tidak nyaman dan terancam bahaya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang

__ADS_1


Thanks buat support kalian sampai saat ini, thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa menyuntikkan semangat untuk author 🙏🙏🙏


Buat yang kemarin masuk peringkat 3 besar masih author tunggu sampai hari Sabtu besok yess... kecuali kak @brigita yang sudah terselesaikan 🙏🙏


__ADS_2