
"Saya yakin seratus persen, putri anda menjadi satu-satunya sebagai istri saya. Mohon ijinkan saya untuk menikahi nya. Mempertanggung jawabkan apa yang sudah terjadi. Saya tahu ini sudah terlambat tapi walau bagaimanapun Kaili dan Kaila adalah putra putri saya. Mereka berhak mendapatkan kebahagiaan dan keluarga yang utuh."
Tidak ada keraguan dalam diri pria itu saat mengungkapkan niatnya untuk mempersunting Belva. Menjadikan wanita cantik beranak dua itu menjadi istri sah nya.
Tuan dan Nyonya Hector mendengar dan memperhatikan. Terlihat memang kesungguhan dan keyakinan pria yang ada dihadapan mereka.
"Ekhem... Maaf, jika saya tidak setuju ? Saya berniat mendekatkan dan menjodohkan putri saya dengan Roichi." Ucap Nyonya Hector.
Belva sontak saja menoleh ke arah Mamanya, raut wajah yang sedikit tegang akibat rasa terkejut.
"Ma..." Panggil Belva tak percaya dengan ucapan Nyonya Hector.
Satya diam-diam mengepalkan tangan kiri nya di samping tubuhnya. Tapi hal itu dilihat oleh lirikan mata Tuan Hector. Satya ingin marah tak suka jika Belva akan bersanding dengan pria lain.
"Maaf Nyonya, apakah Belva sendiri setuju dengan keputusan yang Nyonya akan berikan padanya ?" Tanya Satya dengan wajah yang sebisa mungkin dikendalikannya agar tenang.
Tuan Hector hanya menyimak saja apa yang istrinya bicarakan. Pria paruh baya itu lebih fokus memperhatikan setiap ekspresi wajah Belva dan juga Satya.
"Sayang, bagaimana dengan Roichi ? Bukankah kalian sering bersama ?"
"Ma... Apa yang Mama katakan ? Aku dan Om Roi tidak pernah ada hubungan apapun."
"Tapi Mama lihat kalian serasi, sayang."
Ucapan Nyonya Hector semakin membuat hati Satya panas. Rahangnya sesekali mengeras, wajahnya perlahan mulai memerah. Wajah tegang yang tak terlihat santai.
Nyonya Hector hanya meilirik Satya sesekali, memperhatikan ekspresi Satya. Dalam hati Nyonya Hector tersenyum puas.
"Ma... Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Om Roi, bahkan memiliki perasaan pun tidak. Jangan membuat masalah baru untuk mu, Ma." Ucap Belva sedikit memohon dengan wajah mengiba namun juga terlihat kesal.
"Kamu, jika ingin menikah dengan putriku, penuhi syarat dari saya." Ucap Nyonya Hector pada Satya.
"Silahkan katakan Nyonya." Ucap Satya menahan kekesalan nya.
"Pertama, singkirkan mantan istri dan anakmu dari putri ku. Kedua, selama kami disini biarkan si kembar tinggal disini. Ketiga, jika tidak ingin didahului orang lain segeralah nikahi putri ku, kasihan dia menghidupi anak kembarmu sendiri." Ucap Nyonya Hector dengan enteng.
Belva dan Satya melongo, sejenak mereka terpaku belum konek dengan apa yang diucapkan oleh Nyonya Hector. Keduanya saling tatap kemudian kembali beralih menatap Nyonya Hector.
"Ma... Maksud Mama, Mama kasih ijin untuk kami menikah ?" Tanya Belva demi memperjelas apa yang ia dengar.
"Tergantung... Kamu mau menikah dengan pria yang jauh lebih tua dari mu ?" Tanya Nyonya Hector.
Mendadak wanita paruh baya itu menjadi orang yang menyebalkan kali ini. Satya dalam hati sebenarnya merasa kesal karena usianya dibawa-bawa dalam pembahasan ini tapi dia sadar sejak awal memang mengenai usianya pasti akan menjadi perbincangan bagi kedua orang tua Belva.
"Ma, bukankah menikah dengan seseorang tidak memandang usia asalkan sudah cukup umur. Mas Satya memang lebih tua tapi aku nyaman dengan nya." Ucap Belva.
Satya langsung menoleh ke arah Belva, sudah kesal ditambah pula dengan Belva yang ikut mengatakan nya tua. Meski memang fakta seperti itu tapi entah Satya merasa kurang nyaman apalagi bila disandingkan dengan wanitanya.
"Ya sudah kalau begitu Mama bisa apa kalau kamu sudah menerima dan lebih memilih Daddy nya si kembar. Tentu saja Mama pasti mendukung kalian."
Hati Belva dan Satya merasa lega saat Nyonya Hector memberikan mereka lampu hijau.
"Tapi tidak dengan Papa." Ucap Tuan Hector..
Kedua pasangan itu kembali beralih menatap pria paruh baya yang ada di depannya. Begitu juga Tuan Hector yang menatap ke arah Satya. Perasaan Satya dan Belva kembali dilandas kecemasan.
"Tidak menentang hubungan kalian. Tuan Satya jaga dengan benar putriku. Jika kamu tidak menginginkan nya lagi jangan usir atau kamu tinggalkan begitu saja. Tapi kembalikan putriku kepadaku."
Satya dan Belva bernapas lega kembali. Kedua orang tua Belva benar-benar menguji kecemasan mereka.
"Pa... Ma... Serius kalian benar-benar mengijinkan kami ?"
Tuan Hector mengangguk, Nyonya Hector tersenyum saat melihat wajah cemas bercampur tak percaya karena masih meragukan kalimat kedua orang tuanya.
"Iya sayang. Semua demi kebahagiaan kamu dan cucu-cucu Mama."
"Terimakasih kasih Ma... Pa..." Ucap Belva dengan raut wajah berubah secerah langit pagi dengan sinar matahari yang hangat menerpa kulit.
Belva mendekati Nyonya Hector mencium tangan Mama angkatnya dan memeluknya. Meski hanya Mama angkat tapi wanita paruh baya itu berjasa dalam hidupnya dan juga Duo Kay.
"Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah memberi ijin untuk hubungan kami lebih lanjut. Saya pastikan tidak akan mengembalikan Belva kepada kalian karena saya akan menjaganya sekuat dan semampu yang saya bisa." Ucap Satya dengan hati dan wajah yang sama cerah dan berbunga seperti Belva.
"Tidak perlu berterima kasih Tuan Satya. Ini adalah masa depan kalian, kalian lah yang menentukan nya. Saya selaku orang tua angkat Vanthe yang sudah saya anggap sebagai anak kandung saya tentu akan selalu mengupayakan kebahagiaan putri ku dan cucu-cucu ku. Saya percaya, anda pasti orang yang bertanggung jawab." Ucap Tuan Hector.
"Tuan, maaf saya rasa anda tidak harus memanggil saya dengan sebutan Tuan lagi. Saya merasa itu sedikit aneh. Anda adalah orang tua dari calon istri saya." Ujar Satya yang memang rasanya mejadi aneh saat Tuan Hector memanggil dirinya dengan sebutan Tuan.
Tuan Hector terkekeh, begitu pula Nyonya Hector dan Belva yang tersenyum menanggapi dan membayangkan seorang mertua yang memanggil menantunya dengan sebutan se-formal itu.
"Saya rasa memang terdengar aneh saat sebuah keluarga berbicara dengan bahasa yang terlalu formal. Kalau begitu jangan memanggilku dengan sebutan yang sama. Kamu akan menjadi menantu ku, itu artinya pria tua ini adalah Papa mu."
Satya mengangguk. "Iya Pa... Terimakasih sudah mengijinkan saya menikahi Belva."
"Kapan kalian akan menikah ?" Tanya Tuan Hector.
"Jika Papa mengijinkan mungkin minggu depan, tidak perlu mewah dulu yang penting sah dulu di mata hukum dan agama."
"Papa setuju. Bagaimana Ma ?" Tanya Tuan Hector pada istrinya.
"Mama setuju saja, apa Vanthe tidak masalah sayang ?" Tanya Nyonya Hector.
"Vanthe tidak masalah, Ma."
"Sebenarnya Belva sangat ingin sekali saat menikah nanti menggunakan gaun rancangan Mama. Tapi, bila menunggu gaun itu pasti akan sangat lama." Ucap Satya.
"Benarkah itu sayang ?" Tanya Nyonya Hector.
Belva mengangguk, wanita itu bergelayut pada lengan Mamanya dan menyadarkan kepalanya di pundak Nyonya Hector.
"Kan hari istimewa Ma, aku mau menggunakan gaun terbaik rancangan Mama." Belva seakan mengadu pada Nyonya Hector tentang apa yang menjadi keinginan nya.
"Jika seperti itu bagaimana kalau menunggu Mama membuatkan gaun untuk mu baru kalian menikah ?"
"Berapa lama ?" Tanya Satya.
"Pembuatan gaun paling cepat mungkin sekitar 6 bulan. Itu pun gaun sederhana yang Mama buat." Ucap Nyonya Hector.
"Mas Satya pasti tidak akan mau menunggu selama itu, Ma." Ujar Belva.
"Apa kamu sudah tidak sabar menikahi putri Papa, Satya ?" Tanya Tuan Hector sedikit menggoda Satya.
Pria yang menjadi sasaran itu pun hanya bisa menggaruk tengkuknya. Tersenyum sedikit canggung. "Ini demi kebaikan Belva dan anak-anak, Pa. Kalian kan tidak akan lama berada di Indonesia, pasti harus kembali lagi ke Perancis. Siapa lagi yang akan menjaga mereka jika bukan saya, Pa."
__ADS_1
"Itu ada benarnya juga menurut Papa. Apalagi calon istri mu itu sangat tidak suka kalau ada yang nanya bodyguard di sekelilingnya." Ujar Tuan Hector melirik Belva.
"Ya sudah kalian menikah secara sederhana saja, dengan gaun seadanya. Setelah itu barulah kalian rayakan pernikahan kalian. Nanti Mama yang akan buatkan gaun saat acara pesta pernikahan kalian. Bagaimana ?" Saran Nyonya Hector.
"Papa juga setuju dengan saran Mama kalian."
"Bagaimana sayang ?" Tanya Satya pada Belva.
"Ya sudah, aku ikut saja bagaimana baiknya. Saran Mama bagus juga." Jawab Belva.
"Oke, pembahasan nanti kita lanjutkan lagi. Sekarang waktunya kita makan malam. Pasti Budhe mu dan Bella sudah menyiapkan semuanya." Ucap Tuan Hector.
"Loh, ibu ada disini juga ?" Tanya Satya.
"Iya mas, tadi aku yang bilang ke Bella untuk ajak Budhe. Pasti mereka datang bersama anak-anak tadi." Jawab Satya.
Akhirnya keempat orang itu berjalan menuju ruang makan. Satya berjalan bersama Tuan Hector dan Belva berjalan bersama bersama Mamanya.
Sifat dingin dan datar Satya berubah kala berkumpul bersama keluarga Belva. Tuan Hector seakan melihat sisi lain dari Satya. Pria yang saat pertama kali ditemui nya ketika rapat tender Mega proyek waktu itu. Terlihat sangat tenang, dingin dan juga datar. Bahkan tidak ada senyum dan bersikap sombong saat itu.
Tuan Hector hanya tersenyum dalam hati mengingat waktu itu. Pria tua itu bukanlah seorang yang pendendam dan murah hati terhadap siapapun. Tapi dibalik sikapnya, Tuan Hector pun memiliki sisi lain yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Makan malam berjalan dengan lancar dan penuh dengan kehangatan. Kebersamaan begitu terasa diantara mereka meski mereka tidak memiliki hubungan darah yang kental satu sama lain kecuali dua bocah kecil itu.
Selesai makan malam mereka kembali berkumpul, bercandaan bersama di ruang keluarga. Rumah besar itu saat ini terasa sangat ramai dengan kehadiran seluruh anggota keluarga.
"Malam ini kalian menginap saja disini. Besok pagi baru kalian pulang." Ujar Nyonya Hector.
"Tapi Mbak, nanti rumah kosong tidak ada yang jaga." Ucap Budhe Rohimah.
"Kamu tenang saja dek, biar nanti orang-orang kita yang datang ke sana jaga rumah, iya kan Pa ?" Nyonya Hector mencoba mencari dukungan.
"Iya, Zeta benar Imah. Nanti biar ku suruh orang untuk menjaga rumah kalian. Lagi pula ini sudah malam, kasihan juga nanti Bella kalau menyetir malam-malam."
Budhe Rohimah akhirnya setuju dengan menganggukkan kepalanya. Tuan Hector juga mengatakan hal yang sama pada Belva dan Satya agar mereka juga ikut menginap di rumah besar Tuan Hector.
Satya dan Belva duduk bersebelahan, pria itu tak ingin jauh dari wanita tercintanya. Bella, Budhe Rohimah dan Duo Kay duduk di karpet bulu mereka menonton dan kedua orang dewasa itu juga menemani Duo Kay bermain puzzle.
Tuan dan Nyonya Hector jelas mereka berdua juga duduk bersebelahan sama seperti Satya dan Belva. Sesekali Tuan Hector mengobrol bersama Satya membahas perihal kerjsama mereka.
Jangan lupakan jika sampai saat ini Satya masih penasaran dengan arsitek andalan perusahaan Hector Group. Dirinya belum sempat membuktikan informasi yang diberikan oleh Jordi mengenai kehebatan putranya.
Waktu terus berjalan hingga larut malam, Duo Kay sudah mengantuk. Kaila sudah mendekat pada Belva karena menginginkan untuk di pangku oleh Maminya. Tak hanya Kaila tapi juga Kaili, kedua bocah itu ribut karena berebut untuk bisa di pangku oleh Belva. Hingga salah satu diantara mereka menangis tentu saka Kaila lah yang menangis.
"Sudah jangan berebut sayang, kasihan Mami itu. Sini ila sama Daddy, mau ?" Tawar Satya yang tak kuasa melihat kedua anaknya berebut dan Belva yang merasa kesulitan menenangkan dua anak kembarnya.
"Tidak mau, Kaila mau sama Mami hiks..." Wajah Kaila sudah basah dengan air mata bercampur dengan raut wajah mengantuk.
"Sini jaogan Daddy pangku sama Daddy saja, Nak." Satya mencoba membujuk Kaili.
"Tidak mau, mau sama Mami. Kaila minggir." Kaili berusaha menyingkirkan Kaila dari pangkuan Maminya.
"Tidak... Huaaa... Mamiii..." Jerit Kaila.
"Sayang, Ken... Dengarkan Daddy. Ken jagoannya Daddy. Ila kan adiknya kakak Ken, mengalah ya Nak, mengalah sama perempuan terlebih ila itu adiknya kakak Ken. Harus sayang dan mau mengalah sama adik ila." Satya membujuk dengan lembut agar putra nya bersedia mengalah.
Dengan Kaila, tentu Satya tidak akan membiarkan putranya menjadi egois. Kaila adalah saudara Kaili terlebih Kaila itu perempuan. Ken adalah panggilan kesayangan Satya untuk Kaili.
Dengan penuh kelembutan dan bujukan demi bujukan akhirnya Kaili mau mengalah. Pria kecil itu bersedia dipangku oleh Satya. Keduanya pada akhirnya tertidur di pangkuan Satya dan Belva.
"Sebaiknya tidurkan dulu si kembar di kamar mereka. Kasihan pasti tubuh mereka lelah jika tidur seperti itu." Ucap Tuan Hector.
Satya dan Belva mengangguk, mereka beranjak dari sofa dan menidurkan Duo Kay di kamar dua bocah kecil itu yang memang sedari dulu telah tersedia di rumah besar itu.
Setelah Duo Kay diletakkan di atas ranjang mereka. Satya dan Belva mencium kening anak-anaknya mereka secara bergantian.
"Ayo mas kita keluar, biarkan mereka tidur." Ajak Belva.
Satya menahan tangan Belva. "Disini sebentar sayang." Ucap Satya.
"Kenapa mas ?" Tanya Belva.
Satya langsung memeluk tubuh Belva dengan erat. "Sayang, mas lega, mas senang. Akhirnya Papa dan Mama mu mengijinkan kita untuk menikah."
"Iya mas, aku juga lega dan senang." Belva membalas pelukan Satya, tangan nya mengusap lembut punggung Satya.
Tak kalah Satya juga mengusap lembut punggung Belva. Tangan kekar pria itu tak hanya mengusap punggung Belva melainkan sudah merambat kemana-mana. Membuat Belva menggeliat geli.
"Mas... Iih tangannya kondisikan." Ucap Belva.
"Dada kamu yang dikondisikan, yank. Jangan gerak-gerak begitu." Ucap Satya frontal.
Plak...
Belva menepuk punggung Satya dengan keras. Tangannya terasa perih saat menepuk punggung Satya yang keras. Meski tak terlalu sakit tapi rasa panas tetap saja sempat menyapa punggung Satya.
"Yank, kok mukul sih. Mas, saja usap-usap kamu loh."
"Awas ih..." Belva mendorong tubuh Satya tapi tetap saja tidak bisa karena Satya memeluknya dengan erat.
"Maaass... Awas ih jangan macam-macam kamu." Ucap Belva kesal.
Satya melepaskan pelukannya, dia menatap wajah kesal Belva. Senyum tersungging di bibir pria itu.
"Kenapa sih suka marah-marah yank. Dulu kamu pendiam dan menurut kalau sama mas."
"Dulu sama sekarang beda. Contoh nyatanya dulu kamu masih muda sekarang kamu gimana mas ?" Ucap Belva dengan wajah mengejek Satya.
"Sayang, kamu mengejek mas ? Iya mas memang sudah tua, tapi mas masih sama seperti seusia kamu." Ucap Satya.
"Mas, masih kuat yank." Bisik Satya menggoda Belva.
Godaan yang sengaja dibuat Satya untuk membalas Belva yang sudah mengejek dirinya yang telah berusia lebih tua.
Belva mendelik semaki kesal pada Satya. Ia memukul lengan Satya karena bisa-bisanya menggoda dirinya seperti itu. Lagi-lagi Satya menarik lengan Belva yang hendak berjalan keluar meninggal dirinya.
Cup...
Tak hanya menarik lengan Belva, tapi Satya juga menarik tengku Belva agar semakin dekat dengan dirinya. Hingga satya dengan mudah mencium bibir manis Belva. Perlahan Satya mulai ******* bibir wanitanya.
Bagian ciptaan sang maha agung yang kini menjadi bagian terfavorit Satya sejak pertama kali menaruh hati pada wanita itu.
__ADS_1
Mata keduanya terpejam menikmati keintiman yang tengah terjadi. Sebuah perilaku yang menunjukkan bahwa mereka saling menyayangi, mengasihi dan saling membutuhkan satu sama lain.
Dari ciuman tersebut baik Satya maupun Belva menunjukkan bahwa mereka saling terikat satu sama lain sebagai sepasang kekasih.
Ceklek...
"Ekhem... Maaf Mama tidak tahu."
Suara pintu terbuka dan suara seseorang yang tiba-tiba terdengar membuat kedua pasangan kekasih itu terlonjak kaget.
Keduanya merasa malu karena tertangkap basah sedang sibuk bertukar saliva. Satya berdeham menetralkan rasa canggung nya. Sedangkan Belva salah tingkah, pipi nya terasa panas dan pasti memerah akibat rasa malu nya.
"Ekhem Ma... Eee... Ada apa ya Ma ?" Tanya Belva salah tingkah, malu dan canggung.
"Tidak, Mama kira kalian menemui kesulitan jadi Mama menyusul untuk memastikan karena kalian lama sekali."
"Ah... I-iiya Ma... Tidak ada, anak-anak sudah tidur dengan nyenyak." Jawab Belva.
"Papa menunggu kalian, ada yang ingin dibicarakan dengan kalian." Ucap Nyonya Hector.
"Oh iya Ma... Kami akan turun."
"Ya sudah Mama duluan ya... Ingat Papa menunggu." Nyonya Hector mengingatkan sembari mengulum senyum lalu pergi meninggalkan sepasang kekasih yang sedang salah tingkah itu.
Belva mencubit pinggang Satya.
"Aow sakit ih yank."
"Gara-gara kamu jadi malu aku." Ucap Belva.
"Kok gara-gara mas, orang kamu mas sosor juga mau. Kamu nikmatin juga." Ucap Satya tak mau disalahkan.
"Iish... Bodo ah... Ayo keluar."
Belva berjalan lebih dulu, Satya mengikuti dari arah belakang Belva. Satu tangannya yang sebelah kiri dimasukkan ke dalam kantong celana. Sedangkan tangan kanannya terbebas hendak meraih pinggang Belva tapi selalu di tepis oleh Belva. Wanita itu tak mau jika nanti terlihat oleh keluarganya lagi. Rasa malunya belum hilang jangan sampai ada kejadian memalukan lainnya.
"Jangan dekat-dekat ya... Jaga jarak." Ucap Belva mengingatkan Satya.
Kedua nya telah sampai kembali di ruang keluarga. Ternyata Budhe Rohimah dan Bella sudah tidak ada. Mereka sudah masuk ke dalam kamar setelah melihat drama dua bicah kembar yang saling berebut pangkuan hingga tertidur.
"Besok kamu ke kantor Satya ?" Tanya Tuan Hector.
"Iya Pa... Saya ada meeting besok dengan klien."
"Besok setelah meeting bisa temani Papa ?"
"Kemana Pa ?"
"Besok kamu akan tahu sendiri." Jawab Tuan Hector.
"Baiklah besok setelah meeting, Satya akan menghubungi Papa."
Tuan Hector mengangguk. "Sayang, kamu besok pasti akan ke butik bukan ?"
"Iya Pa... Masih banyak pekerjaan Vanthe." Jawab Belva.
"Ya sudah kalian beristirahatlah. Ini sudah malam." Ujar Tuan Hector.
Satya dan Belva mengangguk, mereka hendak membubarkan diri menuju kamar.
"Satya... Kamar mu ada di sebelah kiri." Ujar Tuan Hector kembali.
Satya menatap Belva. "Aku antar." Ucap Belva.
"Antarlah calon suami mu tapi setelah itu kembali lah ke kamar mu, sayang. Ingat kembali ke kamar, kalian belum sah jadi tidak boleh tidur satu kamar." Ucao Nyonya Hector.
"Iya Ma..." jawab Belva dengan perasaan malu.
"Pa... Ma... Permisi." Pamit Satya.
Tuan dan Nyonya Hector menggelengkan kepala. Sebenarnya mereka paham karena mereka juga pernah muda. Tapi sebagai orang tua tak ingin membiarkan hal yang salah terjadi terus berlanjut.
Belva mengantar Satya ke kamar pria itu. Jarak kamar Satya dengan Belva cukup jauh karena letak kamar Satya berada di sebelah kiri sedangkan kamar Belva berada di sebelah kanan berjajar dengan kamar Duo Kay.
"Ini kamar mu mas masuk lah."
"Yank, ini beneran mas tidur sendiri ?"
"Ya iyalah, sudah masuk sana."
"Temani mas dong yank, masa tidur sendiri. Mas tidak bisa tidur kalau mas tidak peluk kamu."
"Halah... Dulu juga tidur nya sendiri. Tidak usah manja mas."
"Ck... Kok gitu sih yank."
"Sudah sana, aku mengantuk mau tidur."
Satya memegang lengan Belva, dia tak mau tidur sendirian. Terbiasa akhir-akhir ini tidur bersama Belva meski hanya sekedar memeluk saja tapi itu sudah menjadi candu dan kebiasaannya.
"Mas, lepas ih nanti Papa sama Mama lihat. Kamu tidak malu tadi Mama sudah melihat kita."
"Gimana tidurnya ini yank."
"Tidur ya tidur saja, gimana sih." Ucap Belva.
Cup...
Belva mengecup pipi Satya secara singkat. Hal itu dilakukannya agar Satya mau melepaskan tangannya.
"Itu sudah aku kasih bekal buat tidur. Masuklah, besok aku bangunkan. Kita cuma menginap satu malam ini saja sayang."
Belva melepaskan tangan Satya yang sedari tadi memegang lengannya. Dengan mudah cekalan itu dilepas oleh Belva. Satya terhipnotis oleh apa yang dilakukan oleh Belva. Se-ampuh itu sikap manis Belva yang selalu Satya idam-idamkan.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih banyak buat para reader setianya author yang masih setia support 🙏🙏
__ADS_1
Kalian luar biasa, maafkan author kalau jarang bisa balas komen dari kalian. Pulang kerja beres-beres lanjut cusss berhalu ria update buat kalian yang sudah menunggu. Dan berhalu ria itu ternyata tidak secepat tiga puluh menit jadi. Author masih penulis amatiran yang bisa sampe dua atau tiga jam buat berhalu ria sampe kelar satu part. Abis kelar udah keburu ngantuk guys 😅😅
Terimakasih Like, Komen, kembang setaman dan Vote dari kalian ❤️❤️🙏🙏