Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 148. Prestasi


__ADS_3

Dengan wajah yang sama-sama sumringah dari arah berbeda kedua wanita itu berjalan mengarah pada Satya. Jordi pun mendapatkan prioritas saat memesan makanan pria itu pun sedang berjalan menghampiri bos-nya.


"Tuan in..." Ucap Jordi terpotong oleh suara panggilan yang terdengar secara bersamaan.


"Mas..." Panggil Belva dan Gladys secara bersamaan.


Jordi menoleh begitu pula Satya dan beberapa pasang mata mereka pun turut memandang siapa gerangan yang bersuara tersebut.


"Kamu!" Ucap Gladys.


"Anda..." Ucap Belva


Keduanya saling memandang dan kembali bersuara secara bersamaan.


Satya langsung berdiri dari duduknya, pria itu memperhatikan sekelilingnya yang menatap ke arahnya yang di mana ada Gladys dan Belva yang tengah menggandeng Kaila putrinya.


"Kamu mau apa di sini?" Tanya Gladys tak tahu malu. Entah dirinya sengaja atau memang amnesia karena belum lama ini mereka sudah saling bertemu bahkan berkenalan.


"Suka-suka saya mau apa di sini. Apa urusannya dengan anda." Ujar Belva menahan kesal karena kehadiran perempuan itu.


Grace mendekat ke arah Jordi yang masih berdiri dengan nampan yang dibawanya tadi dari penjual di kantin.


"Jordi, bawa anak-anak ke dalam ruangan ku bersama Grace." Titah Satya lirih pada Jordi.


"Baik Tuan." Jordi mengangguk dan memahami perintah Tuan nya. Dibujuknya Duo Kay untuk ikut ke ruangan Satya.


Dengan bujuk rayu yang juga dibantu oleh Satya tanpa kesulitan keduanya dapat dibawa oleh Jordi dan Grace.


Satya tahu pasti akan terjadi hal yang memalukan jika dirinya dan Belva masih berada di kantin. Langkah Satya berjalan cepat menggandeng lengan Belva menjauh dari kantin. Tentu saja hal itu disaksikan oleh banyak pasang mata dari para karyawan Bala Corp. Gladys pun sangat jelas terlihat kesal saat Satya pergi meninggalkannya begitu saja.


"Mas!!!" Panggil Gladys dengan suara yang kencang dan keras hingga menimbulkan bisik-bisik dari para karyawan.


Mereka semua merasa penasaran dan berasumsi sendiri-sendiri mengenai apa yang mereka lihat baru saja.


Mengetahui Gladys yang masih terus memanggil dan membuntuti dirinya dan Belva tidak mungkin jika Satya pergi ke ruangannya karena di sana terdapat kedua anaknya.


Belva tentu saja juga merasa kesal atas kondisi seperti ini. Raut wajahnya sudah tak sedap dipandang, Satya pun sudah turut merasa ketar-ketir saat tahu istrinya sedang dalam suasana hati yang tak baik-baik saja.


Ruang rapat menjadi sasaran Satya karena ruangan tersebut dipastikannya tengah sepi dan tak dipergunakan. Pasangan suami istri itu masuk ke dalam ruang rapat. Belva melepaskan genggaman tangan Satya dengan cukup kencang.


"Kenapa harus tarik-tarik aku ke sini." Ucap Belva kesal.


"Sayang, kamu tahu sendiri kan ada Gladys. Di kantin banyak orang, apa kamu tidak malu jika ribut di kantin dengan wanita itu?"


"Lagian untuk apa perempuan itu datang ke kantor? Kalian ada janji?!" Tanya Belva dengan nada tak menyenangkan.


"Tidak sayang, mana mungkin mas membuat janji temu dengannya. Sudah jelas-jelas di sini ada Kaili juga, mas menjaganya dan menunggu kedatangan mu."


"Jadi jika tidak ada Kaili mas akan membuat janji temu dengan perempuan gatal itu huh?!"


"Ya tentu saja tidak sayang. Untuk apa mas bertemu dengannya."


"Barangkali mau happy-happy kalian kan." Perasaan Belva kini sudah diliputi kekesalan dan rasa cemburu.


Brak!!!


Pintu di buka dengan kasar oleh Gladys.


"Mas, kamu menghindar dari ku?" Tanya Gladys. Ia berjalan mendekati Satya.


Belva langsung pasang badan untuk berdiri di depan Satya. Manik matanya menatap tak suka pada Gladys tapi dirinya berusaha bersikap tenang dan santai dihadapan perempuan yang gatal dengan suaminya.


"Ck... Minggir kamu." Usir Gladys dengan tangan mengibas-ngibaskan seperti mengusir seekor kucing.


"Siapa anda mengusir saya?" Tanya Belva dengan santainya.


"Kamu yang siapa? Aku tak percaya jika kamu istri dari mas Satya."


"Bukan urusan saya jika kamu tak percaya. Tapi jika ada ulat bulu yang mendekati suami saya tentu itu menjadi urusan saya."


"Apa maksud kamu?" Gladys semakin kesal.


"Maksud saya, saya tidak akan membiarkan suami saya di dekati oleh ulat bulu. Emm... Ulat bulu itu bisa dikatakan semacam seseorang yang memiliki jabatan 3P. Pelakor, pela*cur, penggoda seperti dirimu, Nona."


Belva berucap dengan santai, kedua tangan Belva pun dilipat di dada sembari melirik sinis dan remeh pada perempuan yang ada dihadapannya.


Gladys membulatkan matanya, langsung saja amarahnya memuncak kala durinya disebut dengan jabatan 3P tersebut. Rahangnya mengeras menatap sengit pada Belva dengan kilat amarah.


"Berani-beraninya kamu mengataiku seperti itu. Kamu tidak tahu siapa diriku huh?!"


Hap!!!


Tangan yang sudah diayunkan melambung ke udara itu langsung ditangkap oleh Belva dan dicekalnya dengan kuat. Belva tahu jika Gladys hendak menampar dirinya.


"Saya tidak perduli dengan siapa dirimu karena bagi saya manusia seperti mu adalah manusia sampah yang tidak penting."


"Beruntung tangan kotor ini langsung saya sentuh dengan lembut. Jika tidak maka saya pastikan wajah anda yang akan saya belai dengan lebih lembut lagi, Nona."


Belva mengatakannya dengan sangat tenang tanpa nada tinggi, keras ataupun membentak dan senyum kecil yang sesekali senyum itu dibarengi dengan tatapan penghinaan dari Belva untuk Gladys.


Sentuhan lembut yang dikatakan Belva nyatanya tak sesuai fakta. Justru Belva mencengkram dengan erat pergelangan tangan Gladys hingga pergelangan tangan itu memerah. Ada ringisan yang tercetak di wajah Gladys, berusaha melepaskan cengkraman itu tapi Belva sengaja tak melepaskannya.


Satya yang melihat sikap istrinya hanya diam dan menyaksikan saja tanpa melerai jika menurutnya masih dalam batas wajar dan berakibat nyawa seseorang melayang dalam detik itu juga.


"Astaga, Nyonya Aryasatya Balakosa. Memang seperti itu harusnya istriku tidak boleh lemah dan kalah." Batin Satya.


"Lepas!!!" Bentak Gladys dengan wajah meringis.


"Kenapa? Apa sentuhan saya tidak membuatmu nyaman?" Tanya Belva tersenyum.


"Dasar perempuan gila!!" Teriak Gladys.


"Ya lebih baik saya menjadi perempuan gila dari pada menjadi penggoda seperti dirimu."


Brak!!!


Belva mendorong Gladys mundur ke belakay membentur kursi hingga kursi terjatuh. Tatapan mata Belva kembali menaham dan senyum yang sedari tadi dikeluarkannya kini berubah menjadi wajah yang datar.


"Ah...auw..." Ringis Gladys kala pinggulnya hingga bagian belakang membentur kursi.


"Pergi dari sini, anda salah tempat. Ini kantor bukan tempat pel*acuran yang bebas merayu pria beristri."


"Sayang." Panggil Satya saat melihat Belva mendorong Gladys. Pria itu takut jika Belva berbuat lebih pada perempuan yang juga tak diinginkannya datang ke kantornya. Mengingat dulu saat Belva dan Sonia berseteru di butik, Satya merasa was-was.


"Dan anda Tuan Satya, bagaimana bisa kantor ini tak memiliki sensor untuk para perempuan tak bermoral seperti ini?"


Belva menoleh pada Satya saat mengatakan hal itu lalu kembali menatap Gladys yang masih meringis kesakitan.


"Pergi kamu, untuk apa masih di sini? Berharap suami saya mau menolong mu? Cih mimpi."


Belva langsung pergi keluar dari ruang rapat itu karena merasa sudah sesak dan geram pada Gladys jangan sampai dirinya akan merasa tidak puas untuk memberikan peringatan pada perempuan itu bisa-bisa Gladys harus menginap di rumah sakit. Urusan akan semakin rumit nanti.

__ADS_1


Melihat istrinya pergi Satya langsung berjalan cepat menyusul istrinya. Diabaikan Gladys begitu saja toh perempuan itu masih tetap baik-baik saja, Satya pun tak berniat untuk menolong atau apapun itu untuk menunjukan rasa perdulinya.


Gladys terduduk di atas kursi dengan perasaan yang campur aduk. Kesal, marah, malu untuk kedua kalinya dihadapan Satya yang tak berusaha membela dirinya. Entahlah perempuan itu berpikir seperti apa hingga tak menggunakan akal sehatnya untuk memikirkan pertemuan pertamanya dengan Belva yang sudah jelas di dengarnya bahwa Belva memperkenalkan diri sebagai istri Satya dan Satya pun tak menampik hal itu.


Langkah kaki Nyonya Balakosa itu melangkah cepat masuk ke dalam lift untuk beristirahat sejenak di ruangan suaminya. Tanpa kata Satya juga tak ingin tertinggal, dia tak mau mengeluarkan suara ketika berjalan menuju lift karena akan menarik perhatian dari para karyawannya kembali.


"Sayang." Panggil Satya saat berada di dalam lift.


"Yank." Kembali panggilan terdengar saat Belva tak kunjung menjawabnya.


"Sayang, suamimu memanggil mu jangan pura-pura tidak dengar."


"Aku dengar. Jangan memanggilku, aku masih kesal. Diamlah dahulu mas." Ucap Belva menoleh sekilas pada Satya.


Satya menghela napasnya, "Baiklah. Berbicaralah jika sudah tidak kesal."


Mengalah untuk sementara waktu Satya lakukan, diusapnya dengan lembut kepala sang istri. Tahu jika istrinya memang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja karena kejadian tadi.


Sampai di ruangan Satya, di dalamnya terlihat Duo Kay sedang bermain bersama Jordi dan Grace. Belva yang sudah membuka pintu langsung berjalan masuk.


"Mamiii!!" Panggil Kaila.


"Sayang. Sedang apa hemm?" Tanya Belva lembut. Dihadapan anak-anaknya ia tak ingin memperlihatkan perasaan kesal atau apapun itu yang dirasakannya tadi.


Duo Kay sudah seperti obat mujarab bagi Belva untuk sedikit melupakan ketegangan yang baru saja terjadi tadi.


"Tuan." Sapa Grace dan Jordi yang kini usdha berdiri dari duduk mereka di atas karpet.


Satya hanya mengangguk merespon salaan kedua karyawan terbaiknya.


"Main Uno balok berdama uncle Jordi dan aunty Grace."


"Sepertinya menyenangkan, boleh Mami ikut?"


"Tentu saja, ayo... Uncle... Aunty... Ayo kita lanjutkan."


"Maaf anak cantik, aunty harus kembali bekerja." Ucap Grace yang merasa dirinya harus kembali menjalankan tugas dan tanggungjawab nya sebagai sekertaris.


Melihat putrinya menunjukkan raut wajah bahagia dan sang istri yang ingin mengikuti permainan itu, Satya berpikir hal itu bisa digunakan untuk mengalihkan bahkan menetralisir perasaan kacau sang istri.


"Grace, tetaplah di tempat mu dan lanjutkan permainannya."


"Hah? Anda yakin Tuan?" Tanya Grace.


"Ya... Anggap ini sebagian dari tugas dan pekerjaanmu."


"Ah baiklah, Tuan."


"Jordi, kemarilah." Panggil Satya.


"Ya Tuan." Jordi langsung berjalan menghampiri Satya yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


Grace, Belva dan Duo Kay kini kembali melakukan permainan yang sejak tadi mereka mainkan. Grace sedikit merasa canggung karena bermain seperti itu dihadapan bos-nya. Tapi bersama Belva dan Duo Kay dirinya merasa santai.


"Duduklah, ada yang ingin saya bicarakan padamu."


"Ada apa, Tuan? Sepertinya serius sekali."


"Ini sangat serius, tolong perketat peraturan di kantor ini. Saya tidak ingin beberapa kejadian rusuh kembali terjadi di kantor ini. Tadi Gladys putri dari Tuan Susanto kembali datang dan kedua kalinya bersitegang dengan istri saya. Jadi, tambah peraturan baru bagi mereka yang tidak memiliki kepentingan di tempat ini suruh saja mereka untuk pergi meninggalkan kantor."


"Untuk kurir biarkan mereka menunggu di lobi dekat resepsionis. Untuk selanjutnya biarkan karyawan yang berkepentingan saja yang meneruskan pekerjaan kurir tersebut sampai pada tempatnya. Seperti kurir makanan misalnya, suruh mereka menunggu di meja resepsionis saja lalu biar nanti OB yang akan mengambil dan mengantarkan makanan tersebut ke ruangan dalam kantor ini."


"Baik Tuan, peraturan baru akan saya buat dan segera diberlakukan."


Jordi mengangguk, "Saya permisi, Tuan."


"Ya, silahkan." Jawab Satya. Pria itu kembali melanjutkan sedikit pekerjaannya. Makan siang belum terlaksana dirinya merasa lapar tapi untuk mengganggu kesenangan anak-anak dan istrinya sudah pasti Satya tidak akan melakukannya.


Canda tawa terdengar saat tumpukan balok itu runtuh ketika salah satu balok dipilih untuk ditarik. Hingga hampir tiga puluh menit lebih lamanya, rupanya ada seorang karyawan yang mencari Grace untuk keperluan pekerjaan.


"Permisi, Tuan. Maaf ada yang mencari Grace." Ucap Jordi yang berdiri di dekat pintu setelah masuk.


"Ah ada yang mencariku? Siapa?" Tanya Grace.


"Karyawan bagian keuangan." Jawab Jordi.


"Baiklah, tunggu sebentar."


"Ganteng dan cantik, aunty pamit bekerja dulu ya. Besok kita main lagi." Pamit Grace menyudahi keterlibatannya dalam permainan itu.


"Yaaahh... Kan masih main aunty kita belum selesai." Ujar Kaila kecewa.


"Iya ini kita baru mau mulai lagi." Imbuh Kaili.


"Sayang, aunty Grace harus bekerja. Kalian bermain bersama Mami saja ya. Besok kita ajak aunty Grace main lagi. Kalau aunty Grace tidak bekerja nanti aunty Grace akan mendapatkan nilai yang buruk dan bisa jadi potong gaji kalau tidak bekerja. Sama seperti Kaila dan Kaili kalau dapat nilai buruk nanti bisa tidak naik kelas." Ucap Belva memberikan pengertian.


"Hem, oke." Jawab Kaili singkat.


"Ya sudah, bye aunty kita main lagi besok ya." Ucal Kaila.


"Tentu saja, sayang. Besok kita main lagi. Aunty keluar dulu ya."


Duo Kay mengangguk setuju. Garce berpamitan pada Belva dan juga Satya dengan sopan serta ramah seperti biasanya. Saat Grace dan Jordi keluar ruangan Satya, Belva Kemabli melanjutkan permainan bersama Duo Kay.


Satya pun pada akhirnya mengikuti permainan itu hingga mengabaikan pekerjaannya. Dia merasa senang hati ini bisa bekerja dengan di temani oleh keluarga kecilnya. Tawa canda kembali terdengar, bva tak lagi mengingat kedatangan Gladys yang membuatnya naik darah.


"Mam, Daddy lapar apa tidak sebaiknya kita makan dulu. Kaili tadi juga belum sempat makan siang."


Belva langsung menoleh pada Satya lalu menatap putranya. "Sayang, kamu belum makan?" Tanya Belva pada Kaili.


"Belum kan tadi uncle dan aunty langsung ajak kita ke ruangan Daddy." Ucap Kaili.


"Oh astaga. Maaf sayang." Ucap Belva menyesal. Tapi semua juga bukan salahnya, tidak diinginkan jika Gladys datang mengacaukan makan siang mereka.


"Kaila tadi juga cuma makan cemilan saja, sebaiknya kita makan siang dulu, Dad ini sudah hampir sore." Ucap Belva.


"Daddy, pesan makanan saja. Kita tunggu di sini sambil bermain."


Saran dari Satya disetujui oleh anak dan istrinya. Pria itu memesan makanan melalui ponselnya. Mereka menunggu sambil bermain dan tak lama pesanan datang. Seorang karyawan OB mengantarkan makanan pesanan dari Satya. Rupanya Jordi bergerak cepat yang memberikan kabar terdahulu pada bagian resepsionis.


"Permisi Tuan, ini pesanan anda."


"Ya letakan saja di meja." Ucap satya.


Selesai mengantarkan makanan, OB tersebut langsung keluar dari ruangan Satya. Keluarga kecil Satya memulai untuk makan siang mereka yang sudah terlambat karena kejadian yang tak diinginkan. Belva melayani suami dan anak-anaknya untuk makan siang. Menyuapi Duo Kay pun Belva lakukay agar kedua anaknya dapat makan lebih banyak dan bersemangat kala Belva yang menyuapi mereka.


"Mami kenyang." Ucap Kaili.


"Oke, minum dulu sayang."


Satya dengan sigap memberikan minum pada putranya kala istrinya mengarahkan Kaili untuk minum.

__ADS_1


"Bilang terima kasih pada Daddy, sayang." Ucap Belva.


"Terima kasih, Daddy."


"Hoeeiikk." Kaili bersendawa pertanda dirinya kenyang. Itu justru membuat Belva dan Satya terkekeh. Begitu juga Kaila.


"Sama-sama. Kamu kenyang, boy?" Tanya Satya.


"Kenyang sekali Daddy."


"Baiklah, duduklah diam di situ atau mau main lagi?" Tawar Satya. Kaili menggelengkan kepalanya, rasanya lebih nyaman duduk diam setelah makan saat ini.


Kaila masih saja makan karena putri Satya dan Belva itu memang hobi makan. Tubuhnya lebih besar dari Kaili namun dengan tinggi badan yang sama.


Hingga Kaila selesai makan dan beres semua, kini Belva bergantian makan setelahnya membereskan bekas makanan mereka. Kaili rupanya sudah tertidur lebih dulu dengan posisi terduduk di sofa.


"Kaili tidur, Mam."


"Eh? Rupanya setelah kekenyangan dia mengantuk." Ucap Belva.


"Mami, Kaila juga mengantuk." Rengek Kaila.


"Tunggu sebentar, Mami buang bungkus ini dulu ke tempat sampah."


"Sini Daddy gendong, Mami baru saja makan sayang." Tawar Satya.


Mendapatkan anggukan persetujuan dari Kaila, Satya langsung menggendong putrinya. Mengusap lembut punggung Kaila agar putrinya yang bertubuh sedikit subur itu tertidur. Setelah yakin tertidur pulas maka Satya dan Belva membawa kedua anaknya ke dalam ruangan khusus milik Satya yang terdapat ranjang di dalamnya.


"Apa sebaiknya aku langsung pulang saja dengan anak-anak kasihan mereka kelelahan."


"Biarkan mereka tidur di sini saja dulu, sama saja dengan kamar mereka di rumah, Mam. Ayo sudah kita keluar biar mereka istirahat."


Satya meraih lengan istrinya untuk diajaknya keluar ruangan khusus tersebut dan duduk kbali di sofa. Satya tak ingin duduk berjauhan dari sang istri, keduanya duduk sangat mepet sekali tidak ada jarak sama sekali dengan tubuh yang menempel.


"Mami lelah?" Tanya Satya lembut mengusap dan membenahi rambut istrinya yang sedikit berantakan.


"Cukup melelahkan." Belva menghela napas.


"Sini sandarkan kepalamu, Mam." Satya menarik lembut kepala Belva untuk bersandar di dadanya.


"Daddy, kangen sekali sama Mami."


"Ck... Berlebihan. Mami kan tidak pergi jauh kemana-mana, Dad."


Satya terkekeh lirih, "Iya tapi Daddy kangen. Bagaimana tadi pertemuan nya dengan Christina Diora?"


"Lancar, kami sudah tanda tangan kontrak kerjasama. Ini prestasi bagi Kaila, aku bangga padanya."


"Daddy juga bangga pada putri kita. Kamu merawat mereka dengan baik hingga secerdas seperti sekarang ini." Satya mengecup kepala istrinya.


"Aku rasa apa yang mereka punya itu sudah anugrah yang Tuhan berikan untuk mereka. Disaat anak-anak seusia mereka belum bisa melakukan hal itu justru mereka sudah mampu melakukannya. Bahkan orang dewasa pun bisa kalah dengan mereka."


"Kamu benar, sayang. Mas juga heran Kaili bisa membuat desain rumah dengan sangat baik. Bagaimana itu bisa terjadi."


"Mereka sudah berlatih sejak kecil, jadi bukan hal yang sulit bagi Kaili maupun Kaila. Mereka juga cepat tanggap saat guru les mereka mengajari mereka, mas."


"Oh iya tadi Kaili sedang membuat desain yang katanya pesanan seseorang. Dia mau mengirim desain itu tapi tidak bisa lalu meminta tolong pada mas tapi mas juga tidak tahu harus dikirim kemana."


"Ah iya, dia sering mendapatkan pesanan dari orang-orang yang akan membuat rumah. Mereka melihat dari akun yang Kaili miliki."


Sepasang suami istri itu terus berbincang mengenai perkembangan dan kemamluan yang dimiliki oleh kedua anak mereka.


***


Berbagai macam kegiatan dan aktivitas banyak sekali dilakukan boleh penduduk bumi. Hari demi hari dengan rutinitas yang hampir sama. Kini Kaila, Belva dan Satya menemani Kaili dalam mengikuti pertandingan tingkat nasional.


Tak main-main meski masih berusia sangat belia Kaili sudah mendapatkan sabuk hitam. Dati seluruh rangkaian seleksi kedua kalinya Kaili mewakili Dojo dan provinsinya mengikuti pertandingan tingkat nasional.


"Semangat boy." Ucap Satya yang tak malu berteriak demi menyemangati putranya dalam pertandingan.


Beberapa orang menatap Satya merasa tak asing pada wajah tampan Satya. Beberapa diantara mereka pun mengenali Satya sebagai pebisnis handal dan pemilik Bala Corp.


Satya tak peduli pandangan dan bisik-bisik dari orang-orang sekitar. Ia menggendong Kaila sembari memberikan semangat pada Kaili. Belva juga tak kalah menyemangati putranya, sesekali pasangan suami istri itu terlihat romantis dengan saling merangkul pinggang mereka satu sama lain.


Meski khawatir akan beberapa hal dalam pertandingan itu tapi Satya sering menenangkan sang istri dan mengatakan bahwa mereka harus percaya akan kemampuan Kaili. Benar saja dibabak terakhir Kaili lah yang menjadi pemenang pertandingan.


Pendukung Kaili bersorak gembira saat melihat pria kecil itu memenangkan pertandingan dengan tendangan terakhir yang dilayangkan pada lawannya. Skor yang tadinya seimbang kini dimenangkan oleh Kaili.


"Mas, Kaili menang!!!" Teriak Belva senang.


"Iya sayang, putra kita memang luar biasa, dia jagoan Daddy."


"Jagoan Mami juga, Dad. Aku yang mengandung dan melahirkan nya." Ucap Belva tak terima.


"Haha iya. Jagoan kita, Mam. Berkat Daddy juga itu ada si kembar." Satya tertawa.


Belva memukul lengan suaminya tapi tak urung dirinya pun memeluk suaminya dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Lagi-lagi anak-anaknya membuat dirinya bahagia dan bangga. Kini ditambah memiliki suami yang menyayangi mereka semakin lengkap kebahagiaan yang Belva miliki saat ini. Jika mengingat masa kelam dulu rasanya Belva tak menyangka kini bisa sebahagia ini.


Saat pertandingan selesai, Hiro pun menggendong Kaili dengan penuh bangga pada anak didiknya. Hiro dan Kaili menghampiri keluarga Satya yang sudah menunggu di pinggir lapangan dalam stadion.


"Tuan... Nyonya... Kalian pasti sangat bangga dengan Kaili sama seperti saya." Ucap Hiro.


"Tentu, putra kami yang terbaik." Ucap Satya membanggakan Kaili.


Hiro hanya tersenyum dan mengangguk, dia menurunkan Kaili di hadapan kedua orang tua bocah itu.


"Kaili kembali membuat Dojo semakin harum dihadapan banyak orang. Dojo pasti semakin dikenal karena prestasi yang ditorehkan Kaili."


"Terima kasih, Tuan Hiro. Anda sangat memuji Kaili. Ini semua juga berkat kerja keras anda dalam melatih Kaili dan Kaila." Ucap Belva.


"Baiklah kalau begitu sepertinya Kaili harus pulang acara sudah selesai, dia pasti lelah."


"Iya kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Satya.


"Silahkan Tuan dan Nyonya. Kaili kamu harus banyak-banyak beristirahat setelah ini."


"Oke uncle." Jawab Kaili.


"Kaila, besok giliran kamu. Oke." Ucap Hiro.


"Oke uncle." Jawab Kaila.


Kemenangan Kaili tidak langsung dirayakan karena sebagai orang tua Satya dan Belva tentu tahu jika putra mereka harus beristirahat. Mereka langsung kembali pulang dengan Satya menggendong Kaili di pundaknya. Kebanggaan Satya memiliki putra seperti Kaili. Tak menyangka jika dirinya ternyata memiliki seorang putra yang melebihi ekspektasinya dulu saat berharap memiliki anak laki-laki.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Terimakasih banyak kalian yang masih setia support author sampai saat ini. Terimakasih kalian yang mengerti bahwa membuat cerita meski receh pun itu susah gak segampang dan secepat pas baca. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terimakasih banyak lah pokoknya buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote yang kalian berikan buat author. Kalian yang selalu menunggu up dari author meski malamΒ². Thanks banget. Semoga menghibur, bahagia selalu dan sehat selalu yaa πŸ€—πŸ™πŸ™


__ADS_2