Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 58. Bukti Nyata


__ADS_3

Bagi pasangan yang sudah tak lagi memiliki visi misi yang sama dan tak bisa lagi diperbaiki maka berpisah adalah jalan yang akan mereka ambil. Meski terkadang mereka terpaksa melakukan itu ada pula yang sangat ikhlas atas perpisahan tersebut.


Keputusan Satya yang sudah sangat bulat tak dapat diganggu gugat. Bahkan dengan menggunakan kekuasaannya Satya mempercepat keputusan pengadilan atas status dirinya dan juga Sonia. Kini Satya telah resmi menjadi seorang duda diusianya yang matang.


Sudah cukup sabar Satya mempertahankan rumah tangganya dengan beristrikan Sonia. Meski tak ada kenyamanan di dalam hatinya tapi semua itu Satya jalanan dengan santai. Pria itu tak akan bisa menerima sebuah pengkhianatan sekecil apapun. Maka dari itu dirinya sendiri tak pernah mencoba mengkhianati Sonia meski tak ada kata cinta.


Sejak dulu Satya telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi orang yang setia. Dia berkaca pada pengalaman teman-temannya sejak jaman masih muda jaman masih berpacaran. Pengkhianatan dapat membuat seseorang merasakan sakit yang luar biasa hingga berakibat fatal. Salah satu teman sekolahnya memutuskan bunuh diri hanya karena sebuah pengkhianatan. Sungguh mengerikan bukan ?


Mendapatkan keputusan jika dirinya sudah bebas dari hubungannya dengan Sonia. Pria itu kembali ke rumahnya setelah beberapa hari tak menampakkan batang hidungnya.


"Mbok. Barang-barang wanita itu sudah dibereskan ?"


"Maksud Tuan Nyonya Sonia ?"


"Siapa lagi memang ?"


"Maaf Tuan, Nyonya Sonia masih berada di rumah ini. Seperti biasa bersantai dan kadang keluar bertemu teman-temannya mungkin."


"Panggilkan ART yang lain sekarang."


"Baik Tuan."


Mbok Yati sudah melihat wajah Satya yang tak biasa. Ada kemarahan dalam mata pria itu. Dengan gerak cepat wanita tua itu memanggil para ART yang lain.


"Kalian ikut saya."


Para ART yang berjumlah empat orang termasuk Mbok Yati itu mengikuti Tuan mereka.


Langkah kaki Satya tampak ringan menaiki tangga. Saat ini wanita itu entah kemana Satya tak tahu, dia pun tak perduli dengan wanita itu lagi. Bukan tanggung jawab dan urusannya lagi. Mereka sudah berpisah secara sah di mata hukum dan agama.


"Kalian masuk dan kemasi semua barang-barang nya." Perintah Satya.


"Baik Tuan." Jawab para ART dengan serempak.


Empat orang wanita itu mulai bergerak melakukan semua tugas mereka masing-masing. Mengemasi semua barang-barang Sonia mantan istri Tuan mereka yang juga otomatis menjadi mantan majikan mereka.


Satya menunggu para ART membereskan barang-barang itu hingga selesai dari dalam ruang kerjanya. Hari ini sudah mulai petang, tak perduli nanti Sonia akan pergi kemana. Mobil sport yang digunakan Sonia pun itu milik Satya karena uang yang digunakan membeli mobil itu adalah uang Satya. Kartu kredit yang dibawa oleh Sonia semua sudah diblokir oleh Satya.


Satya sudah benar-benar tak menyisakan untuk Sonia. Pengkhianatan Sonia sudah membuatnya marah besar. Apa yang dicuri Sonia akan diambilnya kembali. Sudah untung Satya tak melaporkannya atas tuduhan penggelap dana dan pencurian data.


Membutuhkan waktu selama satu setengah jam bagi para ART untuk membereskan barang-barang Sonia. Mbok Yati mengetuk pintu ruang kerja Satya. Pria itu keluar dari ruangan.


"Sudah beres ?"


"Beberapa sudah Tuan. Tapi ada beberapa barang seperti tas dan juga sepatu Nyonya belum kami bereskan karena kopernya kurang."


"Tas dan sepatu itu kalian ambil dan bagi-bagi saja dengan ART yang lain. Perhiasan tetap tinggalkan di tempatnya."


"Tuan yakin ?" Tanya Mbok Yati takut salah pendengaran.


"Ya. Tapi pakaian sudah keluar semua kan ?"


Mbok Yati antara tak percaya tapi juga senang. Pasalnya tas dan sepatu Sonia berharga mahal dan bermerek.


Bagi Satya lebih baik uang yang digunakan Sonia untuk berfoya-foya dengan berbelanja itu diberikan pada ART nya yang sudah membantu dirinya mengurus rumahnya.


"Sudah semua Tuan."


"Bagus. Panggil Pak Jajak dan Pak Mijan untuk mengangkat semuanya ke luar."


"Maksud Tuan di taruh di teras begitu ?" Mbok Yati memastikan.


"Yang penting bukan di sekitar kamar."


"Mau di halaman belakang, gudang juga boleh." Ucap Satya santai.


"Baik Tuan. Saya permisi." Pamit Mbok Yati.


"Ayo kita turun. Tugas selesai." Ajak Mbok Yati pada anak buahnya yang lain.


Di rumah itu, Mbok Yati adalah kepala ART otomatis yang lain menjadi anak buahnya. Kembali mereka melakukan aktivitas masing-masing. Mbok Yati memanggil Pak Jajak dan Pak Mijan sesuai perintah Satya.


"Jak... Jajak !!! Sini..."


"Ada apa Mbok ?" Tanya Pak Jajak.


"Mijan mana ?" Tanya Mbok Yati.


"Ada di pos sama saya. Ada apa ?"


"Kamu dan Mijan diminta untuk mengangkat barang-barang Nyonya Sonia. Semua sudah kita bereskan di dalam koper."


"Loh memang Nyonya Sonia mau kemana ?" Tanya Mijan.


"Sudah jangan banyak tanya nanti Tuan marah. Sana angkat barangnya." Ucap Mbok Yati.


Kedua pria itu berlalu naik ke lantai dua dimana barang-barang Sonia sudah berada di depan kamar.


"Ini barang-barangnya. Ayo angkat." Titah Mbok Yati.


"Mbok tidak bantu ?" Tanya Mijan.


Pertanyaan yang sukses mendapatkan pukulan dari Mbok Yati pada bahu Pak Mijan.


"Kamu mau tanggung jawab jika pinggangku patah ? Sudah cepat sana. Kamu banyak bicara Mijan."


"Aduh... Sakit Mbok. Mana bisa angkat ini kalau di pukul begini." Keluh Mijan.


"Ck... Kamu pakai rok saja." Ucap Mbok Yati kesal.


"Sudah lah Jan ayo cepat. Itu ada Tuan Satya." Ucap Pak Jajak.


Mereka mengangkat koper-koper besar itu menuruni tangga dan meletakkan nya di ruang tamu dengan dua kali angkat. Total koper ada empat yang Pak Jajak dan Pak Mijan angkat.


Alya yang baru datang, ia bingung dengan adanya beberapa koper di ruang tamu. Keningnya mengernyit, diliriknya Pak Jajak dan Pak Mijan.


"Ini koper siapa ? Loh ini kan koper Mommy. Kenapa ada di sini Pak Jajak ?" Tanya Alya.


"Iya Non itu milik Nyonya Sonia." Jawab Pak Jajak.


"Banyak sekali. Mommy akan pergi jalan-jalan ke mana dengan koper sebanyak ini ?"


Tak lama Sonia pun kembali ke rumah dengan mobil sport kebanggaannya. Penampilannya yang terlihat sangat glamor itu memang selalu mengesankan jika dirinya adalah seorang Nyonya dari kalangan atas.


Masih dengan santai wanita itu berjalan lenggak-lenggok dengan busana seksi dan high heels nya beserta tas mewahnya. Saat memasuki rumah barulah dirinya terdiam. Perasaannya mulai tak enak wajah santai itu kini sudah berubah tak bisa dijelaskan bagaimana ekspresi nya.


"Mom, kamu mau liburan kemana dengan banyak koper seperti ini ?" Tanya Alya.


Gadis itu tak mengetahui jika Sonia dan Satya sudah resmi bercerai. Tidak seperti yang lain sibuk mengikuti proses cerai di pengadilan. Satya dan Sonia justru terlihat adem ayem tak sibuk dengan urusan itu. Sonia pikir prosesnya juga masih lama lagipula dirinya belum menandatangani surat cerai tersebut.


"Mom... Jawab dong. Mommy mau pergi liburan kemana ?" Tanya Alya sekali lagi.


"Nyonya, maaf saya diperintahkan Tuan Satya untuk mengambil kunci mobil yang Nyonya gunakan." Ucap Mbok Yati.


Alya semakin tak mengerti, kenapa Satya melalui Mbok Yati meminta kunci mobil Mommy nya.


"Apa maksud kamu ?" Tanya Sonia ketus.


"Saya hanya sesuai perintah Tuan Satya saja Nyonya."


"Tidak !! Apa-apaan ini !! Kenapa koper saya juga di taruh disini ?" Suara Sonia sudah mulai meninggi.


"Kamu tak berhak lagi tinggal disini." Ucap Satya datar. Pria itu tiba-tiba berada di ruang tamu.


"Tak berhak bagaimana Dad ? Ini kan rumah kita. Apa yang terjadi ?" Tanya Alya.


"Aku dan Mommy mu sudah resmi bercerai."


Jedeeer !!!


Bagai tersambar petir, Alya mendengar apa yang dikatakan Daddy itu membuat dirinya begitu terkejut dan tak percaya.


"Daddy berbohong kan ?"


"Tidak."


"Satya, apa maksudnya ini ? Aku bahkan belum menandatangani surat perceraian itu." Ucap Sonia tak terima.


"Mom ?? Jadi ini benar ? Mommy dan Daddy bercerai ?" Tanya Alya matanya sudah berkaca-kaca.


"Tidak sayang. Mommy menolak nya. Mommy tak mau menandatangani surat cerai itu."


Satya tersenyum sinis. "Tapi nyatanya kamu telah menanda tangani nya."


Flashback On.


Saat Sonia berada di rumah sakit saat itu dirinya sudah ingin segera pulang ke rumah. Tak betah bila terus berlama-lama di tempat itu. Sonia meminta untuk kembali ke rumah tapi dokter tak mengijinkan karena Sonia masih dalam masa observasi.


Dokter yang menangani Sonia adalah Andrew sahabat dari Jordi. Tahu jika yang ditanganinya adalah istri dari bos-nya Jordi maka pria itu mengabari Jordi.


"Hallo Jordi."


"Ya ada apa An ?"


"Sepertinya istri Tuan mu dirawat disini. Dan kebetulan aku yang menanganinya. Ada bekas cekikan dilehernya apa yang terjadi ?"


"Pertengkaran rumah tangga. Wanita itu adalah wanita yang kasar dan nekat. Dia yang lebih dulu melepar Tuan Satya dengan vas bunga hingga kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tentu Tuan Satya tak terima lalu mencekik leher nya." Ucap Jordi.


"Kejam sekali bos mu itu. Kenapa seperti itu pada istrinya sendiri."


"Sebabnya karena wanita itu tak terima diceraikan oleh Tuan Satya, maka dia emosi dan melempar vas bunga itu. Wanita itu sudah berkhianat dengan berselingkuh, penggelapan dana dan juga pencurian data terhadap Tuan Satya."


"Wah ternyata wanita itu lebih kejam dari bos mu tak heran jika sampai kalap seperti itu. Dia merengek ingin pulang tapi kami tak bisa melepaskannya. Masih dalam tahap observasi."

__ADS_1


"Kecuali kamu tahu sendiri dengan surat pernyataan yang akan ditandatangani oleh pasien agar nanti saat memilih untuk pulang, rumah sakit bebas dari tuntutan pasien." Imbuh Andrew.


"Benarkah ? Kesempatan bagus." Ucap Jordi.


"Apa maksud mu ?" Tanya Andrew.


Jordi menjelaskan kesempatan yang dapat digunakannya untuk memperlancar urusan perceraian Satya dan Sonia. Karena wanita itu tak ingin diceraikan sedangkan Satya kekeuh menceraikannya dengan cara apapun.


"Maaf bro... Itu menyalahi kode etik kedokteran. Aku tak bisa." Tolak Andrew.


"Ayolah Andrew... Hanya dengan cara ini Tuan Satya bisa segera bercerai dengannya. Setidaknya kamu sudah membantu melawan kejahatan yang dilakukan wanita itu." Bujuk Jordi.


Setelah beberapa lama Jordi terus membujuk akhirnya Andrew pun mau membantu Jordi. Demi persahabatannya dengan Jordi. Tapi dengan syarat Jordi harus bisa melindungi dirinya jika terjadi sesuatu atas apa yang dilakukannya untuk menolong Jordi dan Satya.


"Tenang saja. Kamu akan ku jamin aman. Lakukan saja tugas mu dengan benar." Ujar Jordi.


"Baiklah. Nanti saat pemeriksaan kembali akan ku pastikan lagi."


"Baiklah. Terima kasih bro."


Panggilan ditutup.


Saat Andrew kembali melakukan pemeriksaan. Bersama seorang perawat yang menjadi asistennya Andrew kembali menanyakan keinginan Sonia kemarin.


"Selama siang Nyonya. Bagaimana keadaan anda ?"


"Saya sudah baik-baik saja dokter. Saya mau pulang." Ujar Sonia.


"Sebenarnya anda masih dalam tahap observasi. Tapi jika anda sudah merasa baik-baik saja dan memaksa untuk kembali ke rumah. Bisa saja asalkan anda menanda tangani surat pernyataan dari saya."


Andrew sengaja mengatakan jika surat pernyataan itu dari dirinya bukan dari rumah sakit karena terselip surat persetujuan cerai di dalamnya.


"Baiklah, berikan surat itu padaku dokter." Ucap Sonia.


Perawat mengambilkan surat pernyataan yang sudah dijepit oleh alas tulis berbahan mika. Diberikan surat itu pada Sonia.


"Langsung saja tanda tangan surat persetujuan itu Nyonya. Ada dua rangkap." Ujar Andrew.


Lembar pertama memang surat pernyataan persetujuan keluar dari rumah sakit sebelum waktunya. Dan lembar kedua adalah lembar persetujuan surat cerai antara Sonia dan juga Satya.


Wanita itu tak memperhatikan dengan benar karena Andrew membantu membukakan lembar demi lembar surat tersebut. Hingga kedua kertas tersebut sudah terisi oleh tanda tangan Sonia.


Flashback Off.


"Itu pasti tanda tangan palsu. Aku tak merasa menanda tangani surat itu."


"Nyatanya keputusan sudah bisa diberikan oleh pihak pengadilan jika kita sudah resmi bercerai." Satya menekankan kata resmi bercerai pada Sonia.


"Silahkan letakkan kunci mobil itu di atas meja dan keluar dari rumah ini sekarang juga."


"Dad !! Tidak !! Kalian tidak boleh bercerai." Teriak Alya.


"Sudahlah Alya. Kamu harus terima kenyataan ini." Ucap Satya.


Sonia masih diam tak bergeming hal itu membuat Satya geram. "Pak Jajak... Pak Mijan... Angkat koper itu keluar rumah."


"Baik Tuan." Jawab Pak Jajak dan Pak Mijan serempak.


Kini para pegawai rumah itu tahu jika majikan mereka sudah bercerai. Sebelumnya mereka tak tahu jika kedua majikan mereka bercerai. Bahkan saat kejadian kekerasan dalam rumah tangga itu terjadi para pegawai rumah tak tahu apa yang terjadi. Kecuali Jordi saja yang tahu. Koper sudah dibawa keluar oleh dua pria pegawai rumah Satya.


"Tunggu apalagi ??" Ucap Satya.


Sonia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kemudian ia melempar kunci mobil itu ke lantai dan pergi keluar.


"Mom... Jangan pergi. Mom !!!" Teriak Alya.


Gadis itu hendak mengejar Sonia, ia berhasil mencekal lengan Sonia agar tak pergi keluar rumah.


"Alya !! Diam di tempat mu." Ucap Satya dingin.


"Tidak !! Jika Mommy harus pergi dari sini, bagaimana dia akan pergi jika mobil saja Daddy ambil ?!!" Bentak Alya.


"Oke. Karena kamu sudah besar tentukan saja pilihan mu. Ikut dengan Mommy mu atau denganku. Jika ikut dengan Mommy mu pergilah dan tinggalkan semua barang-barang dari Daddy."


"Hah ??? Daddy bercanda ?" Tanya Alya meringis tak percaya.


"Tidak !!" Ucap Satya tegas.


"Sayang. Jangan... Lebih baik kamu ikut Daddy mu saja. Mommy baik-baik saja." Ucap Sonia.


Setidaknya jika Alya masih bersama dengan Satya maka dirinya masih bisa menikmati uang Satya melalui Alya putrinya. Tapi jika Alya ikut dengannya, ia tak mengerti lagi nanti akan seperti apa.


"Alya harus tetap tinggal disini. Dengan begitu aku masih bisa datang lagi ke rumah ini dengan alasan bertemu Alya. Aku masih bisa meminta uang pada Alya." Batin Sonia.


"Tapi Mom... Mommy bagaimana. Ini sudah malam Mom." Ucap Alya dengan wajah yang sangat sedih.


"Tenang saja, Mommy akan meminta teman Mommy untuk menjemput. Jangan khawatir."


Satya muak melihat adegan itu, pria itu beralih kembali menaiki tangga. Kunci mobil yang dilempar oleh Sonia sudah diambil oleh Mbok Yati.


Pak Jajak dan juga Pak Mijan keluar rumah. Mereka kembali ke pos satpam. Mbok Yati kembali ke belakang. Alya masih terdiam menangis di ruang tamu. Tapi tak ada yang perduli padanya. ART pun enggan mendekati nya.


Saat menangisi perceraian kedua orang tuanya, Alya teringat akan apa yang dilihatnya kemarin saat Satya mengantar Belva dan juga anak-anak Belva.


"Pasti ini semua karena perempuan kampung itu. Dia mencoba mendekati Daddy. Akan ku buat perhitungan pada mu perempuan kampung." Gumam Alya lirih. Sorot matanya bercampur antara kesedihan dan juga amarah.


****


Keributan kecil yang terjadi di rumah besar Satya tak meninggalkan sisa apapun bagi pikiran Satya. Kini dirinya tengah sarapan di meja besar itu sendirian. Sama saja menurutnya makan bersama Sonia dan Alya ataupun makan sendiri. Satya tetap merasa sepi meski berada di tengah-tengah mereka. Hatinya kosong sejak perpisahannya dengan sang kekasih cinta pertamanya.


Tak lama Jordi datang menjemput Satya. Dengan setia menunggu Satya sarapan, duduk tenang di meja makan. Selesai sarapan keduanya berangkat ke kantor.


Satya sudah seperti seorang bujangan saat ini. Tak ada lagi beban dan tanggung jawab terhadap pasangannya. Pasangan mana yang dimaksud ? Sonia bahkan sangat jarang pria itu mengajak mantan istrinya untuk pertemuan para pebisnis bila harus membawa pasangan pria itu akan lebih nyaman membawa Jordi asistennya.


Sampai di lantai ruangannya. Sapaan ramah Grace selalu menyambutnya. Wanita itu apakah tahu jika Satya sudah bercerai ? Tidak, perceraian itu tak banyak yang tahu hanya orang-orang terdekat saja yang tahu. Masih banyak yang mengira jika Satya masih beristri meski istrinya sangat jarang tersorot jalan bersama dengan Satya.


"Bagaimana hasil penyelidikan yang ku minta ?"


"Silahkan Tuan periksa sendiri."


Jordi menyodorkan amplop berwarna coklat dihadapan Satya. Pria itu menerima amplop tersebut. Dari depan amplop tertulis sebuah rumah sakit swasta, Mitra Medika. Keningnya mengernyit tak mengerti kenapa asistennya justru memberikan amplop berlogo rumah sakit sedangkan yang ingin diketahui nya adalah maksud dari percakapan Alya dan Sonia waktu lalu.


Tak lagi bertanya Satya memilih membuka amplop itu. Bukankah dia akan tahu apa isinya nanti dari pada bertanya pada Jordi.


Dibacanya isi surat tersebut disana tertulis dengan huruf yang dicetak tebal Hasil Identifikasi DNA. Satya tak memahami dengan jelas berbagai macam ketikan medis tersebut hanya saja dia tetap membaca dan memahami dengan seksama tulisan yang dapat dimengerti oleh dirinya. Dan pada bagian bawah tulisan tertulis. Jika probabilitas Aryasatya Balakosa sebagai ayah biologis dari Kaila Kamala adalah 99,99%. Yang artinya hasil dari tes DNA tersebut menyimpulkan bahwa Satya adalah ayah biologis dari Kaila.


Mata Satya membelalak lalu menyipit kembali. Dia tak tahu kenapa Jordi memberikan hasil tes DNA itu dan nama Kaila Kamala dia tak tahu siapa anak itu.


"Kaila Kamala ? Apa maksudnya ini Jordi ? Siapa anak ini ?" Tanya Satya meminta penjelasan lebih lanjut.


Jordi tersenyum melihat keterkejutan bos-nya.


"Tuan ingat gadis kecil yang kita temukan di pinggir jalan, yang dengan keras nya Tuan berusaha memenangkan lelang sepatu anak hanya demi gadis kecil itu."


Satya menangguk. "Maksudmu gadis kecil itu namanya Kaila Kamala ?"


"Iya Tuan... Anda benar."


Beberapa kali Satya mungkin mendengar nama itu tapi tak benar-benar tersimpan di otaknya.


"Tidak !! Kamu yakin ?!! Dia anak Tuan Roichi, Jordi." Satya masih syok tak percaya.


"Jika anda masih tak percaya, anda bisa lihat rekaman ini Tuan." Jordi memutarkan rekaman cctv yang ada di rumah Satya.


Dimana dalam rekaman tersebut Belva membantu Satya memapah nya saat dalam keadaan mabuk hingga masuk ke dalam kamar. Tapi dalam cctv tersebut Belva tak kunjung keluar kamar Satya. Terlihat waktu yang tertulis di layar menunjukkan pukul tiga subuh Belva baru keluar dengan keadaan yang kacau dan membawa kain besar yang diduga kain sprei.


"Tidak, saya masih belum mengerti bagaimana maksudnya ini ? Saya tak mungkin meniduri wanita itu Jordi."


"Ya tentu saja karena saat itu anda sedang mabuk. Anda bisa lihat sendiri jika anda berjalan sempoyongan dengan dituntun oleh Belva. Pasti anda tak akan ingat saat itu. Tapi tolong anda ingat-ingat kembali lima tahun yang lalu apa terjadi sesuatu yang janggal dari diri anda saat itu Tuan." Ucap Jordi.


"Jika anda tak percaya, anda juga bisa bertanya pada Pak Jajak atau Bibi Imah. Saat pengusiran itu terjadi mereka ada disana. Kemarin saya menggali informasi dari Pak Jajak mengenai Belva bahwa dia diusir saat itu oleh Nyonya Sonia karena tengah mengandung. Dan berkali-kali Nyonya Sonia mengatakan jika Belva telah berani menggoda anda."


"Maka tidak heran jika anak-anak Belva terlihat mirip dengan anda Tuan. Apakah anda lupa terakhir saat acara lelang. Banyak orang-orang yang mengatakan jika anak-anak itu lebih cocok menjadi anak anda ?" Imbuh Jordi.


Satya lemas atas penjelasan panjang dan lebar yang diberikan oleh Jordi. Otaknya seakan berhenti bekerja saat itu juga. Manik matanya bergerak kesana kemari tak fokus.


Diam adalah satu-satunya sikap yang diambil Satya saat ini. Berusaha sekali mencerna apa yang Jordi katakan. Jordi masih setia menunggu respon dari Tuannya itu kembali.


Hampir tiga puluh menit Satya baru bisa merespon Jordi. Mulutnya kembali mengeluarkan suara.


"Kita pulang sekarang." Titah Satya.


Jas yang tergantung di balik senderan kursi kebesarannya itu diambilnya tapi tak dikenakan oleh Satya. Hanya di sampirkan pada lengannya dan berjalan keluar. Surat hasil tes DNA itu diambil kembali oleh Jordi beserta flashdisk yang menancap di laptop Satya. Pria itu mengikuti langkah cepat Satya.


Pertanyaan Grace pun tak dijawab oleh mereka berdua. Terkesan buru-buru memasuki lift.


"Ada apa lagi mereka ? Kenapa akhir-akhir ini mereka selalu terburu-buru padahal tak ada jadwal dadakan bertemu klien." Grace bermonolog.


Dalam perjalanan pikiran Satya penuh dengan bukti-bukti yang baru saja Jordi berikan. Pria itu berpikir keras mengingat apa yang terjadi lima tahun yang lalu. Kepalanya berdenyut, diurut nya pangkal hidung miliknya yang tinggi itu.


"Jordi bawa mobil lebih cepat."


"Baik Tuan."


Bahkan Jordi mencari jalan pintas agar lebih capat sampai ke rumah Satya meski jalanan itu tak semulus jalan raya. Satya tak protes sama sekali saat ini karena pikirannya masih fokus pada hasil tes DNA dan rekaman video. Jika dalam keadaan normal sudah pasti pria itu akan protes keras pada Jordi.


Sampai di rumah, Pak Jajak membukakan gerbang tinggi itu. Mobil yang dikendarai Jordi masuk. Saat mobil berjalan pelan Satya sudah membuka pintu mobil. Tak sabar untuk turun dan menemui Pak Jajak.


"Jordi, panggil Pak Jajak masuk ke ruangan ku."


"Baik Tuan."


Satya melangkah masuk ke dalam rumah. Mbok Yati ternyata sedang beres-beres ruangan rumah besar itu.

__ADS_1


"Tuan ? Apa ada yang tertinggal ?"


"Tidak."


Hanya menoleh sebentar Satya menjawab pertanyaan Mbok Yati. Langkah kakinya terus melangkah ke arah tangga. Di tangga Satya bertemu dengan Alya, tatapannya terhadap Alya tampak berbeda dan aneh.


"Daddy, kenapa jam segini pulang ?"


"Hmm urus saja kegiatan mu."


Satya berlalu hingga sampai ke ruang kerjanya. Alya mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh dengan Daddy tapi ia tak perduli. Hari ini dirinya memiliki rencana sendiri jadi ia memilih melanjutkan acaranya.


Pak Jajak dan Jordi juga memasuki rumah dengan langkah yang tak santai tapi juga tak terburu-buru. Jordi hanya melirik sekilas pada Alya tanpa menyapanya. Memang pria itu tak pernah bertegur sapa dengan Alya sejak dulu jika tidak penting sekali.


"Permisi, Tuan panggil saya ?"


"Ya. Duduk Pak."


Pak Jajak duduk di sofa panjang ruang kerja Satya. Jordi sama duduk di samping Pak Jajak sedangkan Satya duduk di sofa single.


"Ada apa ya Tuan ?" Tanya Pak Jajak penasaran. Dilihat dari wajah Tuannya saat ini sangat serius sekali.


Sebelum bertanya Satya mengambil napas dalam-dalam. "Pak Jajak, sudah lama bekerja di rumah ini. Apa Pak Jajak nyaman ?"


"Ya nyaman Tuan." Jawab Pak Jajak. Dia merasa aneh dengan pertanyaan Satya. Jordi mengerutkan keningnya tumben sekali Satya berbasa-basi.


"Kalau tiba-tiba saya pecat bagaimana ?" Tanya Satya serius.


"Hah ? Saya di pecat Tuan ? Tapi apa salah salah saya Tuan ?" Wajah Pak Jajak sudah panik.


"Maksud saya kalau tiba-tiba saya pecat bagaimana Bapak mau ?"


"Oh... Ya tidaklah Tuan. Saya masih betah kerja disini. Kalau saya ada salah Tuan tegur saya biar saya perbaiki kesalahan saya asal jangan dipecat." Ucap Pak Jajak panjang.


Pria itu takut jika dipecat oleh Satya. Bekerja di rumah besar itu sudah suatu keberuntungan baginya. Gaji yang besar dan jaminan kesehatan serta jaminan untuk keluarga juga diberikan oleh Satya. Makan dan segala kebutuhannya selama tinggal di rumah itu juga ditanggung oleh Satya. Jadi, gaji miliknya tetap utuh. Dimana lagi dapat pekerjaan seenak itu jika dirinya dipecat.


"Oke. Jika masih mau bekerja disini. Saya bertanya serius jawab dengan jujur."


"Iya... Iya Tuan saya akan jawab dengan jujur."


Jordi hanya diam memperhatikan dan mendengarkan saja. Rupanya cara Satya untuk memastikan Pak Jajak agar pria itu mau menjawab pertanyaan nya dengan jujur.


"Sekarang Pak Jajak ceritakan dengan jujur bagaimana Belva bisa di usir lima tahun yang lalu."


Deg... !!!


Degup jantung Pak Jajak berdegup kencang. Antara takut dan ragu. Dirinya sudah berjanji pada Budhe Rohimah untuk merahasiakan cerita mengenai Belva agar wanita itu tetap dalam keadaan aman. Tapi dia ragu jika tak jujur maka dirinya akan dipecat. Pilihan yang sulit bagi Pak Jajak, antara kesetiakawanan nya atau kesejahteraan keluarganya.


"Aduh kenapa tiba-tiba tuan bertanya hal ini ? Aku harus bagaimana ini ?" Batin Pak Jajak. Pria itu dilema berat saat ini. Berkali-kali Pak Jajak menelan ludah nya membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


"Pak ? Kenapa diam ?"


"Hah ? Tidak Tuan." Ucap Pak Jajak. Wajahnya terlihat seakan menahan beban saat ini.


"Emm anu... Tuan kenapa bertanya hal itu pada saya ?"


"Jawab saja. Jordi sudah mengatakannya padaku. Saya ingin Pak Jajak mengatakannya langsung pada saya."


Sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jordi saat itu begitu pintar bermain kata hingga Pak Jajak tanpa sadar menceritakan kejadian Belva padanya.


"Terlanjur basah. Bi Imah maafkan aku meski kamu tak mendengarnya. Ini demi kesejahteraan keluarga besar Jajak Suparja." Batin Pak Jajak.


"Begini Tuan, saya bingung harus bercerita dari mana karena saya juga masih penasaran pada Tuan."


Ucapan Pak Jajak justru membuat satu alis Satya terangkat.


"Penasaran kenapa ?" Tanya Satya.


"Itu... Anu... Tapi Tuan jangan pecat saya."


"Katakan Pak."


Sedikit sulit bagi Pak Jajak untuk mengeluarkan suaranya. "Emm... Apa benar Tuan pernah tidur dengan neng Belva ?"


Pak Jajak sudah berkeringat saat berani bertanya seperti itu. Tatapan mata Satya menjadi tajam pada Pak Jajak.


"Aduh mati kamu Suparja." Batin Pak Jajak takut dengan tatapan tajam Satya. Dia merasa nasibnya kini sedang berada di tengah-tengah jembatan selebar satu helai rambut. Entah selamat atau malah gugur.


"Memang ada apa ? Apa ada hubungannya dengan pengusiran Belva ?" Tanya Satya.


"I-iiya Tu-tuan. Nyonya bilang jika neng Belva menggoda Tuan dan ti-tidur dengan Tuan." Susah payah Pak Jajak berbicara. Takut menyinggung hati Tuannya yang berakibat fatal bagi dirinya.


"Lalu ?" Tanya Satya.


"Lalu... Saya awalnya tidak percaya tapi... Tapi itu Tuan. Bi Imah mengatakan jika hal itu salah. Neng Belva tak menggoda Tuan tapi justru dia dijebak oleh Non Alya hingga Tuan dan neng Belva tidur bersama. Dan neng Belva difitnah dan diusir dalam keadaan hamil saat itu."


Deg... !!!


Dada Satya seakan sesak. Semakin banyak bukti yang mengarah jika dirinya dan Belva pernah tidur bersama. Rahangnya juga mengeras saat tahu semua itu adalah ulah Alya.


"Jadi, Alya yang melakukan semua itu dan Bi Imah tahu kejadian sebenarnya ?" Tanya Satya.


Jordi pun sama halnya, tertarik dengan pertanyaan Satya.


"Iya Tuan." Jawab Pak Jajak.


"Mengenai anak Belva, kamu juga tahu ?" Tanya Satya kembali.


"I-iiya Tuan. Kata Bi Imah anak neng Belva kembar. Maaf... Maafkan saya Tuan tolong jangan pecat saya."


Pak Jajak merasa bersalah karena menyimpan cerita itu dan tak jujur pada Satya. Takut jika setelah ini Satya akan memecatnya.


Satya menyenderkan tubuhnya disandaran sofa. Tangannya mengurut pangkal hidungnya. Masih tak percaya dan tak menyangka dengan fakta yang ada. Menyangkal tapi semua bukti mengarah pada fakta yang ada.


"Bagaimana bisa aku tidur bersamanya ?" Batin Satya.


Pikirannya terus berusaha keras memutar memori yang sudah begitu lama berlalu.


"Mabuk ? Ya aku pernah mabuk saat itu... Dan Sonia tengah pergi... Dan aku mengira dia adalah Sonia." Samar-samar memori itu mulai teringat kembali olehnya.


Mabuk bukanlah kebiasaan Satya. Se-penat apapun, se-marah apapun Satya tak pernah mau melampiaskan pada minuman itu terkecuali saat menjamu para kliennya itupun dirinya tak pernah sampai mabuk.


Satya berdiri dari sofanya dan keluar dari ruangan itu. Jordi dan Pak Jajak saling menatap bingung tapi mereka masih saja terdiam. Belum jauh dari ruangan itu Satya melihat Mbok Yati.


"Mbok."


"Iya Tuan ?"


"Mana kunci kamar Belva ?"


"Kunci ? Eh sebentar Tuan saya ambilkan dulu."


Mbok Yati turun ke lantai bawah dengan diikuti oleh Satya. Mereka berjalan ke arah rumah bagian belakang dekat dapur.


"Ini Tuan."


Mbok Yati memberikan kunci kamar Belva yang kini sudah beralih menjadi tempat penyimpanan barang-barang bekas milik para ART. Satya menerima kunci itu dan membukanya.


Terasa pengap dan juga berdebu. Satya mengibaskan tangannya untuk mengusir debu yang mendekati hidungnya.


"Tunggu disini. Jangan masuk." Ucap Satya pada Mbok Yati dan wanita itu mengangguk.


Dibongkarnya oleh Satya lemari Belva. Hanya tumpuk pakaian bekas. Bagian paling bawah terdapat laci cukup lebar. Laci itu terkunci membuat Satya penasaran. Kepalanya menoleh ke sembarang arah untuk mencari benda yang bisa membantunya membuka laci itu.


"Ada barbel kecil yang terbuat dari semen berukuran kaleng kental manis. Entah milik siapa itu mungkin Pak Jajak atau Pak Mijan entah Satya tak memikirkan itu. Diraihnya benda itu dan digunakan untuk menjebol laci tersebut. Beruntung lemari itu tak terbuat dari kayu jati yang kokoh.


Berhasil... Laci itu berhasil dibobol oleh Satya. Hancur tapi tak masalah bagi Satya. Ditariknya laci itu....


"Ini... Ini milikku..."


Dibentangkannya kain lebar yang dilipat secara asal itu. Berdebu dan apek karena telah lama terkunci di dalam laci. Mata Satya kembali melebar melihat noda yang telah mengering ada pada kain itu. Kain sprei milik Satya, satu-satunya sprei milik mendiang Mamanya yang Satya minta. Di sprei itu juga ada tulisan Ny.Balakosa & Tn.Balakosa di pojok sprei.


Satya masih ingat, saat itu dirinya sendiri yang meminta pada Budhe Rohimah untuk mengganti ranjangnya dengan sprei itu karena sedang merindukan mendiang Mamanya. Dan hari itu juga Sonia pergi dengan alasan bersama teman-temannya.


Pantas saja jika sprei itu tak lagi terlihat. Satya pernah sampai mengamuk pada ART karena menghilangkan sprei itu. Ternyata disimpan oleh Belva dengan rapat di laci itu.


Sudah terbukti tanpa bisa mengelak lagi. Syok masih tak percaya tapi apalah daya. Kini ada perasaan bersalah menyelinap masuk ke dalam hati Satya. Membayangkan saat itu gadis yang masih sangat belia hancur masa depannya karena ulah keluarganya termasuk dirinya.


Dilipat kembali sprei itu secara asal. Dan mengambil paper bag bekas yang ada di dalam kamar itu guna menyimpan kain itu dan membawanya keluar.


Masih ada Mbok Yati di tambah Jordi dan juga Pak Jajak di depan kamar tersebut. Mereka terlihat khawatir saat mendengar suara benturan di dalam kamar tadi.


"Dimana Alya ?" Tanya Satya.


"Non Alya pergi Tuan."


"Jordi. Kita pergi temui Belva." Titah Satya dengan membawa paper bag dan disimpannya terlebih dahulu di kamarnya.


Entah apa yang akan dikatakan Satya nanti saat bertemu Belva dan juga dua anak-anak yang pernah ditemuinya itu. Pikiran dan perasaan Satya saat ini sudah campur aduk. Yang jelas masih ada rasa tak percaya sampai saat ini.


Kedua pria itu pergi ke rumah Belva, tapi sayang rumah itu kosong. Satya ingat jika kemarin menurunkan Belva di sebuah butik dan dia juga mengingat dari tetangga Belva jika wanita itu memiliki butik.


"Kita ke butik jalan Kenanga."


"Oke Tuan."


Mobil kembali melaju ke arah butik milik Belva. Tak butuh waktu lama hanya sepuluh sampai lima belas menit saja mereka sampai. Tapi saat mendekati arah butik, Satya dan Jordi melihat mobil Alya pun berjalan dengan arah berlawanan dari mobil mereka.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ini pasti bab yang kalian tunggu kaann ☺️

__ADS_1


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya.


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2