Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 163. Lalai


__ADS_3

Sejak awal manusia dibentuk mereka memang tak akan pernah tahu bagaimana takdir akan berpihak padanya. Seorang manusia tidak akan bisa memilih dari rahim mana dirinya dilahirkan. Semua memang tidak memiliki keinginan untuk bernasib buruk.


Bayi malang yang telah ditinggal pergi oleh seorang ibu untuk selama-lamanya dan kini seorang diri bertahan hidup, ingin merasakan bagaimana indahnya dunia. Berpikir untuk menyerah? Sepertinya seorang bayi tidak akan memiliki pikiran seperti itu. Mungkin bayi itu hanya mengikuti alur napas yang sang pencipta berikan untuknya.


Bagaimana bisa dibilang sendiri sedangkan bayi itu masih memiliki ayah. Ya... Dia sendiri, Jack sampai saat ini belum bisa menerima dengan penuh kelegaan, masih ada ganjalan di hatinya atas perasaan bersalah pada sang istri.


Noella yang meski merasa sakit hati tapi ia tak bisa menyalahkan Jack seratus persen. Dirinya mungkin saja ikut andil dalam sebuah kesalahan itu. Hubungan mereka tak tegas bagaimana harus berjalan tapi komitmen Noella pada sebuah hubungan dan perkataannya sangat tegas berbeda dengan Jack yang tak mampu memegang teguh janjinya untuk tidak melebihi batas hubungannya dengan wanita lain.


Rasa bersalah akan perilaku yang tak bertanggung jawab pada bayi mungil itu membuat Noella tak sampai hati mengabaikan bayi itu. Sebagai wanita yang kelak juga akan memiliki seorang ibu maka Noella menerima dengan ikhlas bayi yang telah dilahirkan Alya. Anak sang suami dengan wanita lain, Noella akan merawat nya.


Berbeda dengan Jack yang masih setengah hati menerima bayi itu. Terlebih kedua orang tua Jack dan Noella yang menolak mentah-mentah bayi malang itu. Entah atas dasar apa mereka menolak bayi itu, mungkin saja karena rasa kecewa mereka terhadap Jack, rasa malu orang tua Jack pada besan mereka atas perilaku anaknya. Sementara orang tua Noella khususnya Papa Noella merasa itu bukan kewajiban Noella merawat anak dari perempuan lain bersama perilaku bejat Jack.


Masalah menghampiri rumah tangga Noella dan Jack, merasa bingung harus bagaimana dan takut jika terjadi sesuatu pada bayi itu maka Noella membutuhkan bantuan Belva tapi nyatanya wanita yang tengah dicarinya itu sedang tidak berada di tempat.


"Seharusnya mereka tetap menerima bayi Alya, pria itu Ayah kandung dari bayi malang itu." Ucap Satya merespon berita dari istrinya.


"Iya tapi nyatanya mereka tetap menolak keberadaan bayi Alya. Kasihan bayi itu siapa lagi yang akan melindunginya jika ayahnya saja tidak bisa melindunginya." Ucap Belva.


Satya tampak berpikir dengan permasalahan bayi Alya. Dia tak bisa jika harus mengabaikan bayi itu, walau bagaimanapun tak bisa dipungkiri jika Satya masih merasa Alya adalah putrinya meski rasa sayangnya sudah pudar karena semua yang telah terjadi.


"Apa kita masih ada acara di sini?" Tanya Satya pada Belva.


Belva menoleh ke arah Satya dan menatap suaminya. "Seharusnya masih ada, pihak Christina Diora ingin melakukan pertemuan dengan Kaila."


"Kapan jadwal pertemuan kalian?"


"Besok siang, begitu mengetahui kita berada di Paris mereka langsung menghubungi untuk melakukan janji temu sekalian." Ujar Belva.


"Baiklah, besok mas yang akan menemanimu kalian."


"Memang mas sudah baikan? Aku bisa kok berangkat bersama Kaila saja."


"Tidak, mas tidak ijinkan kamu pergi sendiri. Ingat yank kamu itu sedang hamil, mana bisa pergi-pergi sendirian kalau terjadi sesuatu dijalan bagaimana? Kalau ada mas, mas langsung membantumu nanti."


"Baiklah... Baiklah... Terserah mas saja." Ucao Belva pasrah.


Ia tidak ingin ribut dan berdebat hanya karena masalah kecil saja. Jika Satya sudah berkehendak maka tidak bisa diganggu gugat. Belva tahu kehamilannya adalah seumber kebahagiaan Satya untuk saat ini, ia bisa melihat dari cara Satya memperlakukan dirinya yang semakin manis dan penuh kasih sayang. Beberapa kali pria itu mengusap-usap lembut perut Belva yang masih rata.


"Setelah pertemuan dengan pihak Christina Diora kita bisa langsung pulang kan?" Tanya Satya.


"Bisa... Setelah pertemuan itu kita langsung pulang, aku tahu mungkin mas masih lemas."


"Bukan itu, sayang. Maksud mas kita pulang kembali ke Indonesia, mas rasa kita harus segera mengurus bayi Alya."


Belva mengangguk, "Iya mas benar, kita harus pulang untuk mengurus masalah itu. Kasihan jika bayi Alya tak ada yang mau menerima."


"Jika memang mereka tak mau menerima bayi itu tidak apa-apa kan jika kita yang mengurusnya?"


Satya bertanya lebih dulu pada istrinya, mengambil keputusan untuk merawat bayi Alya tak bisa diputuskan secara sepihak karena saat ini dirinya tidak lagi hidup seorang diri melainkan telah hidup bersama istri dan anak-anaknya. Meski Satya tahu istrinya adalah orang yang baik tentu tidak akan membiarkan orang lain kesusahan. Pendapat istrinya tetaplah dibutuhkan agar setelah pengambilan keputusan tidak ada masalah lagi.


"Aku tidak masalah, mas. Aku akan sangat senang bisa mengurus bayi mungil itu." Ucao Belva tersenyum pada Satya.


Satya membalas senyuman sang istri dengan tak kalah lembut dan manis. Diusap kepala Belva dengan sayang dan dikecupnya sekilas.


"Terima kasih, sayang. Mas selalu merasa beruntung memiliki istri sepertimu. Kamu mau menerima bayi Alya, seseorang yang pernah berbuat jahat padamu."


"Mas, sudah jangan dibahas lagi kasihan Alya dia sudah tenang di sana kita doakan dan kita kenang hal-hal yang baik saja dari Alya." Ucap Belva.


"Mengenai bayi Alya tidak mungkin kan aku membiarkannya sendirian. Dia tak punya kesalahan apapun, mas. Aku seorang ibu dan sebentar lagi kita juga akan memiliki bayi, mana tega aku membiarkannya tanpa kasih sayang dan tanpa perhatian." Imbuh Belva.


Satya mengusap bahu Belva lalu turun ke perut rata Belva. Lega rasanya istrinya memiliki pemikiran yang dewasa tidak memendam kebencian pada orang yang telah berbuat jahat padanya. Bahkan Belva mau menerima bayi Alya dengan ikhlas.


"Iya kita akan merawat dan mengasuhnya tapi mas tetap akan menggunakan jasa baby sister untuk bayi Alya. Mas tidak mau kamu kelelahan nanti apalagi kondisimu sedang hamil muda."


"Itu kita pikirkan nanti saja mas yang penting kita harus memastikan apakah Noella dan Jack bisa mengurusnya atau tidak." Ucap Belva.


"Iya sayang kita harus pastikan itu. Apa mereka sudah memberikan nama untuk bayi Alya?" Tanya Satya.


"Sepertinya sampai saat ini belum, mas. Aku sempat menanyakannya tapi Noella masih belum memikirkan nama untuknya, dia masih fokus pada kesehatan bayi Alya."


Satya mengangguk, jika memang Noella maupun Jack belum memberikan nama untuk bayi itu maka dirinya dan sang istri lah yang akan memberikan nama nantinya.


Keputusan Satya dan Belva sudah benar-benar bulat untuk mengambil alih pengasuhan atas bayi Alya jika keluarga Jack dan Noella tak mau menerima.


***


Di tempat lain tepatnya di sebuah taman Roichi sedang menemani Duo Kay bermain. Berbagai macam permain disediakan di taman tersebut. Taman itu adalah taman yang dulu sering mereka kunjungi sebelum mereka pindah ke Indonesia bersama sang Mami. Roichi pun sering menemani mereka bermain di taman itu dulu saat dirinya memiliki waktu luang.


"Apa kalian senang bisa bermain kembali di taman ini?" Tanya Roichi.


"Senang sekali Papi, sudah lamaaa sekali Kaila tidak bermain di taman yang indah ini." Ujar Kaila dengan gembira.


"Apa sejak Papi tinggal kalian tidak bisa bermain-main lagi?"

__ADS_1


"Daddy sering mengajak kami bermain Time zone setiap saat jika kami memintanya. Daddy sangat baik sekali hanya saja kadang Mami yang mengomel karena kami sering bermain." Ujar Kaili.


Pria kecil itu akan bisa lebih banyak berbicara disaat dirinya bertemu dengan seseorang yang cocok dengannya atau saat bersama orang-orang yang begitu dekat dengannya.


"Oh ya? Pasti kalian juga senang tinggal di Indonesia."


"Senang Papi, sekarang sudah tidak ada lagi yang nakal dengan aku dan Kaila. Mereka takut dengan Daddy."


"Takut? Kenapa?" Tanya Roichi yang sengaja memancing pertanyaan demi pertanyaan agar mereka bisa terus saling bercerita.


Keberadaan Duo Kay sungguh mampu mengalihkan rasa sakit dan kecewanya pada keadaan yang tak berpihak padanya. Roichi sibuk berbincang dengan Duo Kay hingga dirinya tak sengaja mengabaikan keberadaan Jasmine yang juga berada di sana bersama mereka.


"Ekhem... Maaf Tuan, bolehkah saya ijin permisi dulu." Ucap Jasmine secara tiba-tiba.


Roichi yang sejak tadi tak ingat jika ada Jasmine pun langsung menoleh pada Jasmine.


"Eh iya? Ada apa?" Tanya Roichi.


"Maaf Tuan, bolehkah saya permisi dulu?" Tanya Jasmine untuk kedua kalinya.


"Mau ke mana?" Tanya Roichi.


"Saya mau beli minum, Tuan. Saya haus, Tuan mau sekalian dibelikan apa?"


"Aunty mau beli minum? Kaila juga haus. Papi boleh Kaila beli es krim?" Tanya Kaila.


"Iya Nona kecil." Jawab Jasmine.


"No, sayang. Papi tidak mau setelah kalian pulang kalian sakit nanti Mami dan Daddy kalian marah pada Papi." Ucap Roichi.


Wajah Kaila langsung merengut tak suka, keinginannya ditolak oleh Roichi. Padahal dirinya sudah berharap penuh saat berjalan-jalan dengan Roichi mereka bisa membeli apapun yang mereka mau karena selama ini Roichi tak pernah ragu dan pelit pada mereka.


"Kalian benar haus?" Tanya Roichi pada Kaila dan Kaili. Mereka mengangguk membenarkan pertanyaan Papi mereka.


"Baiklah, jika kalian benar-benar haus lebih baik beli susu coklat dingin saja bagaimana?" Tawar Roichi.


"Tapi Kaila mau es krim saja." Ucap Kaila kekeuh.


"Kaila nanti kalau sakit lalu Mami tahu kita makan es krim nanti Mami marah bagaimana?" Ucap Kaili.


Kaila terdiam, ia juga berpikir jika dirinya memaksa lalu Maminya mengetahui itu pasti akan marah.


"Beli susu dingin saja ya, makan es krimnya lain kali saja tadi saat kita pergi kalian juga belum meminta ijin untuk membeli es krim bukan?" Bujuk Roichi.


"Kita beli susunya di mana?" Tanya Kaili.


Roichi tersenyum berhasil membujuk dua bocah kembar itu dengan mudah.


"Kalian tunggu saja di sini biar Papi yang beli susunya." Ucao Roichi pada Duo Kay.


"Jasmine jaga anak-anak saya yang akan membeli minuman." Ujar Roichi pada Jasmine.


"Baik, Tuan saya akan menjaga mereka nanti setelah Tuan kembali baru saya yang akan pergi mencari minum." Ucap Jasmine. Ia merasa tak enak hati jika minuman untuk dirinya justru Roichi yang pergi membelinya.


Roichi mengabaikan perkataan Jasmine, dia justru pergi begitu saja setelah berpamitan pada Duo Kay dan juga Jasmine. Entah ke arah mana Roichi pergi untuk mencari barang yang dia inginkan.


Jasmin dan Duo Kay masih sibuk bercerita dengan duduk di atas rerumputan sintetik yang diperbolehkan oleh pihak pengelola taman untuk diduduki maupun diinjak oleh para pengunjung taman. Cukup lama mereka bercerita dan bercanda bersama hingga akhirnya Kaili merasa bosan dan ingin mencoba permainan yang lain lagi.


"Aunty, aku mau main di sana boleh?" Tunjuk Kaili pada salah satu wahana permainan di taman.


"Boleh, ayo aunty temani." Ucap Jasmine.


Kaili mengangguk, "Kaila, ayo kita mau di sana. Itu sepi kita bisa main di sana."


"Ayo." Ucap Kaila setuju.


Jasmine kembali menemani Duo Kay bermain. Kedua anak itu saat ini sedang sibuk bermain perosotan silih berganti menaiki tangga dan meluncur ke bawah dengan anak-anak lain yang juga berkunjung di taman itu.


Brak!!


Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh. Jasmine begitu terkejut saya melihat anak majikannya terjatuh. Ia panik dan khawatir, rasa takut menyerangnya saat ini.


"Kaili.!!!" Reflek Jasmine memanggil nama Kaili.


"Huaaaa!!!!" Suara tangis terdengar dan bukan hanya suara Kaili saja melainkan bada satu anak yang juga menangis.


"Astaga!! Ada apa ini kenapa bisa jatuh?" Tanya Jasmine dengan suara yang terdengar panik. Ia langsung berlari menghampiri Kaili yang sudah terbaring di atas rerumputan.


Beberapa anak yang sudah berada di atas perosotan langsung menghentikan permainan dan mereka sibuk menonton. Beberapa pengunjung juga datang untuk mengetahui apa yang sedang sedang terjadi.


Jasmine langsung menggendong Kaili yang tengah menangis. Sedangkan orang tua anak lain yang menangis juga sudah datang menghampiri anaknya yang juga sedang menangis.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Jasmine pada Kaili.

__ADS_1


"Hiks... Sakiit..." Ucap Kaili memegangi kepalanya. Rupanya kepala bocah itu mendarat lebih dulu saat terjatuh. Terasa pusing dan nyeri akibat terbentuk rumput. Untung saja dia tak jatuh di atas lantai beralas semen atau batu.


"Hai kamu juga tidak apa-apa?" Tanya Jasmine pada anak lain yang sama tengah menangis.


"Hei Nona, apa yang kamu lakukan pada putraku? Kamu memarahinya huh?!!" Tanya ibu dari anak itu dengan nada marah.


"Bu-bukan Nyonya, saya tidak memarahinya saya hanya bertanya." Ucap Jasmine.


"Mama sakit." Ucap anak itu mengeluh pada Mama nya.


Anak itu juga terjatuh bersamaan dengan Kaili.


"Sakit? Kenapa bisa seperti ini? Apa.yang terjadi?" Tanya ibu itu.


"Jatuh huhuhu." Ucap anak itu.


"Tadi mereka jatuh dari permain itu." Ucap salah satu anak perempuan yang ikut bermain bersama Duo Kay.


"Ada apa ini?" Tanya Roichi yang sudah datang.


Pria itu melihat dari kejauhan Kaili yang tengah di gendong oleh Jasmine. Kaila berdiri di samping Jasmine dengan wajah ketakutan karena melihat ibu-ibu tadi tengah marah-marah pada Jasmine. Mengetahui Kaila ketakutan Jasmine merangkul erat Kaila dengan satu tangan yang lain menggendong Kaili.


Mendengar suara Roichi, Jasmine semakin ketakutan. Ini adalah kesalahan nya karena lalai menjaga Kaili.


"Tu..." Belum selesai Jasmine memanggil Roichi ibu-ibu itu sudah kembali marah-marah pada Jasmine.


"Hei, Nona ini semua pasti salahmu karena kamu tak bisa menjaga putramu itu. Pasti mereka jatuh karena saling dorong tadi, iya kan." Ibu itu langsung main menuduh sembarangan pada Jasmine.


Tipe seorang ibu yang tak bisa menerima kesalahan orang lain dan suka bergosip pasi akan selalu menuduh tanpa bukti.


Jasmine terdiam, apa yang dikatakan ibu itu memang benar jika dirinya lalai dalam menjaga Kaili setidaknya itu yang menjadi pikiran Jasmine saat ini maka dari itu ia tak bisa menjawab tuduhan ibu-ibu tadi.


"Papi, sakiiit huhuhu." Keluh Kaili pada Roichi.


"Jadi anda ayah dari anak ini dan suami dari Nona ini? Kamu harus tanggy jawab, ini anak saya terluka dahinya tergores, jika terjadi apa-apa pada anak saya bagaimana karena infeksi."


Jasmine langsung mendongak menatap ibu-ibu tadi. Ia hendak meluruskan tuduhan yang baru saja terlontar dari bibir nyinyir wanita yang lebih tua darinya itu tapi dirinya tak memiliki kesempatan.


"Iya saya ayah dari anak-anak ini. Apa putramu terjatuh karena ulah putra ku?" Tanya Roichi pada ibu itu dengan wajah datar.


"Pasti karena ulah putramu dan istri mu yang lalai menjaga putramu." Ucao ibu itu dengan emosi yang masih membara.


Roichi menatap Jasmine membuat perempuan itu semakin ketakutan.


"Ma-maaf saya lalai menjaga mereka." Ucao Jasmine lirih karena ketakutan.


"Kaila, kamu baik-baik saja?" Tanya Roichi pada Kaila yang terlihat ketakutan.


Roichi mengabaikan pernyataan dari Jasmine. Fokusnya lebih penting pada Duo Kay.


"Takut Papi, aunty itu marah-marah terus. Kaili tadi jatuh di dorong oleh anak gendut itu." Ujar Kaila mengeluarkan pengakuannya sesuai dengan apa yang dilihatnya.


"Kemari, sayang. Jangan takut ada Papi." Ucap Roichi menenangkan Kaila.


Diabaikan ucapan ibu-ibu yang tengah marah-marah tadi oleh Roichi membuat wanita itu merasa geram dan kesal.


"Hai anda tuli, Tuan. Anda harus bertanggung jawab karena kelalaian istrimu. Jika tidak saya akan menghubungi piham keamanan atas kelalaian ini."


Roichi langsung menatap wanita itu, sesungguhnya ia dala keadaan yang tak baik-baik saja ditambah dengan sikap wanita tak dikenalnya yang menyebalkan.


"Mari kita hubungi pihak keamanan saja dan Kuta periksa kamera cctv. Saya yakin putraku tidak membuat putramu celaka, tuduhan anda tidak benar, Nyonya." Ucap Roichi.


"Tapi istri anda lalai dalam menjaga anak kalian." Kekeuh wanita itu.


"Jika dia yang lalai lalu anda bagaimana? Kenapa anda bisa tidak mengetahui kejadian ini jika anda tidak lalai maka anda pasti tahu dengan jelas peristiwa ini bahkan anda bisa mencegahnya jika anda benar-benar menjaga putramu." Ujar Roichi kembali mematahkan setiap tuduhan yang seakan-akan pihaknya yang salah.


"Kita ke pihak keamanan saja dan cek cctv sekarang." Putus Roichi.


"Ayo sayang Papi gendong. Jasmine ayo." Ajak Roichi.


Pria itu menggendong Kaila dan menarik tangan Jasmine untuk segera mengikutinya. Perempuan itu hanya menurut saja sambil menggendong Kaili. Ia masih merasa ketakutan karena dianggap lalai.


****


To Be Continue....


Hai my dear para readers ku tersayang


Masih semangat baca kah ?? Buat para readers yang tidak berkenan thanks sudah mampir dan thanks buat kritik nya yang luar biasa author tahu yg namanya kritik itu pasti pedas meski terkadang ada yang membangun ada juga yg yaaa begitulah 😅


Thanks ya buat kalian yang masih setia support, sabar mengikuti alur yang bertele-tele. Thanks buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa menyuntikkan semangat untuk author 🙏🙏


Tetap di pantau terus Rangking 3 besar kategori readers paling support author ❤️. Jika tembus 1jt view ada bonus buat kalian deretan paling atas 😁😁🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2