Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 81. Potret Keluarga Harmonis


__ADS_3

"Awas... Menyingkirlah." Ucap Satya lembut.


Belva dengan sigap menyingkir dari depan pintu. Ia bernapas lega apa yang Kaila ucapkan tak dilakukan oleh Satya. Belva tak melihat apa yang sedang Satya lakukan saat itu tapi ia mendengar suara yang tak asing dari arah pintu. Dua kali bunyi pertanda pintu dikunci oleh Satya.


"Tuan apa yang anda lakukan ? Kenapa mengunci pintu itu."


"Saya ingin turun ke bawah bersama anak-anak. Jika tidak seperti ini pasti kamu akan membawa mereka keluar."


Belva mencebikkan bibirnya tipis, pagi ini kenapa tiba-tiba rasanya kesal sekali dengan tingkah Satya. Pria itu dengan percaya diri tanpa menggunakan kaosnya dengan kedua tangan yang kembali dimasukkan ke dalam saku celananya. Mendekati Belva hingga wanita itu berusaha menjauhkan kepalanya dari Satya. Belva kembali merasakan jantungnya berdegup kencang, grogi dan canggung.


"Duduklah temani anak-anak sampai saya selesai mandi." Bisik Satya pada telinga Belva.


Suara lirih Satya membuat Belva bergidik geli dan ngeri. Wanita itu terdiam kaku seperti disiram air es dengan derajat paling rendah. Hanya manik matanya saja yang sesekali bergerak kesana-kemari.


Satya tersenyum tipis melihat wajah canggung milik Belva. Dalam hatinya sangat bahagia bisa menggoda wanita dambaan hatinya. Abaikan Belva yang telah menjadi istri pria lain. Satya benar-benar memanfaatkan situasi sekali. Mumpung hanya ada mereka yang Satya harapkan suatu saat nanti menjadi keluarga kecilnya.


Pria itu berlalu ke kamar mandi dengan langkah santai, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Meski tubuh Belva terpaku diam, tapi manik mata Belva terus menatap Satya dari arah belakang. Tak bisa dipungkiri memang jika pesona pria duda berusia matang itu mampu memikat Belva tanpa sadar. Bukan hanya Belva tapi mungkin banyak sekali wanita di luar sana yang yang terpikat tapi diabaikan begitu saja oleh pria tampan itu.


Satya telah menghilang dari pandangan Belva. Wanita itu lalu mendekati anak kembarnya yang masih asik loncat-loncatan di atas ranjang Satya. Bahkan ranjang itu semakin terlihat berantakan akibat ulah Kaili dan Kaila.


"Sstt... Eh... Eh... Kaili... Kaila... Stop. Jangan seperti itu dong sayang. Lihat ini ranjangnya jadi berantakan seperti ini. Ayo duduk yang benar."


"Tapi ini enak sekali Mami... Nanti kita main ke Timezone ya. Main trampolin." Ucap Kaili.


"Sayang, kan Kaila masih harus istirahat batu kemarin pulang dari rumah sakit. Kita pulang ke rumah saja ya. Pasti Uti Imah senang sekali Kaila sudah boleh pulang." Ucap Belva.


Saat ini Belva dan Duo Kay tengah duduk di ranjang besar milik Satya. Para bocah itu sudah duduk tenang bersama Belva. Wanita itu terus saja mengobrol dan bernegosiasi serta membujuk Duo Kay agar mau segera pulang.


"Tapi Kaila masih ingin tidur di rumah Daddy." Ucap Kaila.


"Iya aku juga Mi. Besok-besok saja ya pulangnya." Ujar Kaili menambahkan.


"Sayang, kasihan Uti sama aunty nanti mereka pikir Kaila masih sakit. Kita pulang ya setelah ini." Bujuk Belva.


Kaila dan Kaili terlihat murung dan cemberut. Mereka masih belum ingi kembali pulang ke rumah minimalis mereka. Beberapa jam hingga tidur satu malam di rumah besar Daddy mereka membuat kedua anak itu betah. Terlebih banyaknya mainan yang ada di kamar baru mereka.


"Jangan membuat anak-anak saya bersedih dengan keinginanmu sendiri." Ucap Satya yang tiba-tiba sudah muncul dari arah kamar mandi.


Belva menoleh ke arah samping belakang dimana Satya berada. Lagi-lagi Belva langsung berpaling dari Satya. Belva sedikit kesal pada pria itu.


"Itu si Tuan Satya kenapa harus seperti itu sih. Tidak sopan sekali." Gerutu Belva dalam hati.


Satya terus berjalan mendekati ranjangnya. Duo Kay dan Belva masih duduk di ranjangnya. Aroma sabun yang wangi maskulin dan segar itu semakin tercium dengan sangat jelas oleh indera penciuman Belva.


"Daddy... Harum sekali." Ucap Kaila tersenyum.


Satya tersenyum merespon ucapan putrinya. "Tentu saja, sini peluk Daddy." Satya mendekati putrinya lalu memeluk Kaila dengan sayang dan hangat.


"Iiihh... Daddy. Badan Daddy masih basah." Kaila memberontak dalam dekapan lembut Satya hingga terlepas. Gadis kecil itu memonyongkan bibirnya cemberut.


Lagi-lagi Satya tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah Kaila yang menggemaskan. Satya langsung mencium pipi Kaila bertubi-tubi. Hingga pipi chubby itu memerah karena kulit putihnya terus ditekan oleh bibir dan hidung Satya.


Belva memalingkan wajahnya ke arah lain agar tak menatap tubuh Satya yang bertelanjang dada dan hanya melilitkan handuk pada pinggangnya saja.


Pria itu tanpa rasa malu dihadapan Belva berpenampilan seperti itu. Saat ini Satya merasa seolah menjadikan Belva sebagai istrinya dan sedang melakukan quality time bersama keluarga kecilnya.


Kapan lagi bisa mendapatkan momen yang sangat diidam-idamkannya itu. Hidup bersama orang-orang yang disayanginya. Meski hanya bisa menikmati sekejap saja Satya akan benar-benar menikmatinya tanpa bersedia menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena dia tahu nanti entah beberapa jam lagi dirinya tidak akan mendapatkan momen membahagiakan itu.


Saat Satya terus menciumi pipi chubby Kaila, Kaili pria kecil itu tertawa terbahak-bahak melihat kembarannya menjadi sasaran kegemasan Daddy nya. Kaila lama-lama sebal karena ulah Satya.


"Stop Daddy !! Pipi Kaila sakit." Rengek Satya.


"Daddy, gemas denganmu." Ucap Satya.


"Daddy cium saja Kaili." Lempar Kaila saat sudah merasa tak mau dijadikan sasaran kegemasan Satya.


"Tidak !! Aku bukan akan perempuan. Yang banyak dicium itu anak perempuan." Ucap Kaili.


"Aku tak mau... Mami saja kan Mami perempuan." Ucap Kaila.


Belva sontak menatap Kaila, anaknya itu benar-benar menyebalkan pagi ini. Satya langsung menoleh ke arah Belva yang menatap Kaila.


Cup...


Satya mencium pelipis Belva dengan tangan melingkar pada kepala wanita itu. Belva menegang karena terkejut dengan apa yang diterimanya. Degup jantungnya kini kembali berdetak kencang.


"Tuan... Kenapa melakukan itu padaku ?!" Ucap Belva grogi, canggung dan kesal.


"Jangan cemberut. Anak-anak yang meminta bukan saya." Ujar Satya.


Bisa-bisanya pria itulah mengatakan jika bukan dirinya yang meminta padahal dalam hati dia sangat bahagia sekali. Rasa yang berbunga-bunga itu masih ditutupinya dengan wajah cueknya dan sedikit menahan senyum yang akan mengembang di bibirnya.


"Tak perlu anda melakukan itu karena bukan suatu keharusan." Ucap Belva kesal.


"Jangan marah." Ucap Satya lembut dengan mengusap kepala Belva.


"Ck... Minggir." Ucap Belva menepis tangan Satya dari kepalanya.

__ADS_1


Satya menghela napas, melihat Belva marah seperti itu membuatku harus berusaha keras lagi agar Belva tak marah padanya. Sudah seperti istri yang merajuk saja.


"Belva, jangan marah. Saya minta maaf, terlalu terbawa suasana yang menurut saya sangat membahagiakan untuk saya. Bisa bersama kalian, kamu sebagai ibu dari anak-anak saya dan juga si kembar yang jadi anak kandung saya."


Belva tak ingin terlalu lama di dalam kamar Satya. Menghela napas berusaha menenangkan kekesalan hatinya.


"Sebaiknya anda segera berpakaian Tuan. Seharusnya anda tahu penampilan anda tak sopan saat ini." Ucap Belva dengan nada sedikit ketus.


"Ya... Kalian tunggu disini." Ucap Satya.


Satya lebih memilih mengalah untuk saat ini agar Belva tak semakin marah padanya. Dia harus bisa membaca situasi, tarik ulur sangat diperlukan untuk Satya lakukan pada Belva.


Sedari tadi Duo Kay menyimak pembicaraan kedua orang dewasa itu. Mereka memang masih kecil tapi beberapa kosakata pembicaraan orang dewasa mampu mereka cerna.


Hingga Satya sudah selesai mengganti pakaiannya. Pria itu keluar lagi dari ruang walk in closed miliknya. Setelan santai yang saat ini Satya kenakan. Kembali menggunakan celana pendek selutut berwarna hitam dengan kaos berwarna putih. Rambutnya masih basah dibiarkan begitu saja tanpa disisinya sama sekali. Hanya dirapikan menggunakan jari-jari tangannya saja.


"Ayo kita keluar... Kita sarapan bersama." Ucap Satya menggendong Kaila. Gadis kecil itu langsung saja menempel pada Daddy nya.


Kaili, dia dituntun oleh Maminya turun dari ranjang. Satya mengambil remote kecil dari atas nakasnya dan membuka kunci pintu kamar yang canggih itu. Lalu berjalan lebih dulu dengan menggendong Kaila membuka kunci secara manual yang sempat dikuncinya tadi.


Mereka turun dari lantai dua secara bersamaan. Lagi-lagi Tuti dan Inah melihat majikannya menuruni anak tangga dengan menggendong gadis kecil diikuti oleh wanita yang mereka labeli dengan panggilan wanita penggoda tengah bergandengan tangan dengan bocah kecil.


Ditatap lekat keempat orang itu oleh Inah dan Tuti. Dalam hati mereka sibuk menebak dan menghubung-hubungkan apa yang mereka lihat.


"Tut, itu bocah-bocah kecil kalau dilihat kenapa wajahnya mirip Tuan ya ?"


"Iya nah... Hemm... Tak salah kan nah, pasti bocah-bocah itu anak Tuan dengan wanita penggoda itu. Tuan menyiapkan kamar itu untuk bocah-bocah kecil itu. Masih ingatkan beberapa hari yang lalu banyak barang-barang anak kecil yang masuk rumah ini."


"Betul. Wah keterlaluan itu perempuan lakor. Bisa-bisanya sampai punya anak sebesar itu dengan Tuan. Pasti sudah lama sekali mereka menjalin hubungan. Pantas saja Tuan dan Nyonya bercerai. Orang sudah sampai punya anak begitu." Ucap Tuti.


Mereka jika sudah membicarakan Belva sepertinya sangat menarik sekali bahkan semakin lama akan semakin banyak asumsi yang mereka keluarkan mengenai Belva. Bertambah lah rasa tidak suka Tuti dan Inah pada Belva.


Satya dan keluar kecil harapannya itu kini tengah menikmati sarapan pagi mereka. Ruang makan Satya yang sejak dulu selalu sepi dan tenang itu kini berubah menjadi sedikit ramai karena adanya Duo Kay. Celoteh anak-anak itu menjadi perhatian yang menarik untuk Satya.


"Sayang, sudah dulu bercerita nya kita makan dulu nanti kalian tersedak." Ucap Satya dengan lembut tak lupa senyum manis Satya dikeluarkan untuk Duo Kay, putra dan putri tercintanya.


"Belva, makan lah." Ucap Satya.


"Iya Tuan." Ucap Belva.


Mereka tak sadar jika sedang berhadapan dengan Duo Kay. Anak-anak itu menyimak orang tua mereka. Saat makan, Kaila merasa kurang dengan lauk yang dimakannya.


"Belva, aku mau tambah udang goreng nya." Ucap Kaila.


Belva tersedak saat mendengar Kaila memanggil dirinya dengan sebutan namanya saja. Satya tak kalah terkejut, dia sontak menghentikan makannya. Meraih gelas berisi air putih miliknya lalu diberikannya pada Belva.


"Belva, minumlah. Pelan-pelan makannya." Ucap Satya.


"Ekhm... Terima kasih Tuan." Ucap Belva.


"Kaila... Kenapa manggil Mami mu seperti itu ?" Tanya Satya yang juga terkejut tadi mendengar panggilan Kaila untuk Belva.


"Daddy juga panggil seperti itu, Papi juga. memangnya kenapa Daddy ?" Tanya Kaila.


"Itu tidak sopan sayang. Jangan memanggil orang tua seperti itu." Ucap Satya.


Satya merasa bersalah memanggil Belva dengan nama saja di depan anak-anaknya. Secara tak langsung dia mengajarkan pada anaknya untuk memanggil orang tuanya dengan tak sopan.


"Kalau tidak sopan kenapa Daddy panggil Mami dengan Belva Belva begitu ?" Tanya Kaila.


Belva melirik percakapan antara ayah dan anak itu. Terlihat Satya menghela napas, memiliki anak yang masih kecil memang harus ekstra sabar. Terlebih Kaila dan Kaili mereka anak-anak yang pintar. Satya bisa melihat itu dari cara anak-anak nya yang selalu bertanya banyak hal padanya, ingin tahu lebih banyak sesuatu yang belum mereka mengerti.


"Maaf sayang... Daddy salah. Jangan ikuti apa yang Daddy lakukan. Oke." Ucap Satya meminta maaf pada anaknya.


"Kaila... Jangan diulangi lagi ya sayang. Itu tidak sopan memanggil yang lebih tua dengan sebutan nama saja. Mami tidak mengajari seperti itu." Ucap Belva.


"Iya Mami... Tapi Daddy juga tidak sopan." Ucap Kaila.


"Sayang, maksud Daddy tidak seperti itu Nak. Daddy hanya lupa saja tadi. Kita makan lagi ya." Ucap Satya.


"Tapi Mami kenapa panggil Daddy Tuan ?" Tanya Kaili.


"Teman-teman kita Mami mereka tidak panggil Daddy nya dengan sebutan Tuan." Imbuh Kaili.


Belva melirik Satya yang juga tengah melirik wanita itu. Kini Belva yang harus menghela napas. Anak-anak nya terkadang sangat kritis dalam beberapa hal.


"Kaila... Kaili... Kita lanjutkan makan. Kalau kita bicara terus kita tidak akan selesai makan. Nanti kita tidak akan pulang-pulang jika seperti ini." Ucap Belva.


"Aku tak mau pulang, aku mau di rumah Daddy." Ucap Kaili.


"Aku juga... Tidak mau pulang. Ini kan hari libur harusnya kita jalan-jalan sama-sama." Ucap Kaila.


Untuk menyudahi aksi debat di meja makan yang berawal dari sebuah panggilan yang mengejutkan itu. Satya memilih untuk saat ini menuruti apa yang diinginkan kedua anaknya.


"Iya nanti kita jalan-jalan. Tapi kalian selesaikan makanan kalian dulu." Ucap Satya yang berhasil membuat Belva menatap Satya dengan meminta penjelasan.


"Benar Daddy ?" Tanya Kaila dan Kaili bersamaan.

__ADS_1


"Tentu saja... Asalkan kalian berhenti berbicara dan selesaikan makanan kalian. Iya kan Mam ?" Ucap Satya yang diakhiri dengan pertanyaan pada Belva.


Wanita itu mengerutkan dahinya, Satya memanggilnya apa ? Ada rasa sedikit kurang nyaman bagi Belva saat Satya memanggilnya seperti itu. Tapi wanita itu paham saat ini berada dihadapan Duo Kay.


"Ah... I-iiya. Habiskan makanan kalian." Belva tersenyum canggung dan terkesan memaksakan senyumannya.


Duo Kay menghabiskan sarapan dengan begitu lahapnya karena mendengar janji Satya yang akan membawa mereka jalan-jalan selepas sarapan pagi.


Selesai sarapan begitu kuat ingatan seorang anak kecil yang sudah dijanjikan untuk melakukan hal-hal menyenangkan. Duo Kay menagih janji Satya yang akan membawa mereka jalan-jalan.


"Daddy....ayo kita jalan." Ajak Kaili.


"Ayo Dad... Aku mau beli mainan masak-masakan ya nanti."


Satya tersenyum. "Iya... Ayo kita jalan." Satya kembali menggendong Kaila.


Tapi tunggu... Satya berhenti berjalan dan menoleh pada Belva. Diperhatikan Belva yang masih menggunakan pakaian rumahan yang terkesan seperti piyama itu.


"Mami, tidak ganti baju ?" Tanya Satya pada Belva.


Belva sedikit membulatkan matanya pada Satya. Satya menatap Belva lalu beralih melirik Kaila. Seakan mengatakan bahwa aku memanggil seperti itu karena ada Kaila disini.


"Tidak, semua pakaian saya masih kotor."


"Ya sudah ayo jalan." Satya menggandeng lengan Kaili dan menggendong Kaila.


Belva pun juga tengah menggandeng Kaili. Mereka berempat pergi keluar rumah tepatnya menuju garasi. Dengan mobil Satya, mereka jalan-jalan bersama sesuai keinginan Duo Kay.


Tidak menuju Timezone seperti apa yang Kaili inginkan melainkan Belva mengarahkan mereka kesebuah tempat yang khusus untuk bermain anak-anak yang di dalamnya juga terdapat trampolin, seluncuran dari sebuah plastik semi karet yang di dalamnya terdapat udara cukup banyak sehingga sangat empuk saat diinjak oleh kaki. Banyak bola-bola kecil yang mengisi area sekitar seluncuran itu. Serta beberapa permainan yang lain.


Satya dan Belva menjaga mereka saat bermain mandi bola dan seluncuran. Tak jarang Belva juga ikut dalam permainan tersebut bersama Kaila dan Kaili. Satya langsung mengambil momen bahagia yang terpancar dari wajah orang-orang yang disayanginya itu dengan mengabadikan menggunakan kamera ponselnya.


"Rasanya sangat bahagia sekali hatiku saat bersama mereka." Satya menatap hasil jepretan kamera ponselnya. Lalu beralih menatap wajah Belva dan Duo Kay yang nyata di depan matanya.


Sudah beberapa jam mereka bermain, hampir dua jam. Keringat membanjiri tubuh Kaila dan Kaili meski tempat itu terdapat pendingin ruangan.


"Sayang, sudah yuk... Istirahat dulu. Ini keringatnya sudah banyak." Ucap Belva.


"Kaila, tidak boleh terlalu lelah sayang, kamu baru saja sembuh." Imbuh Belva dengan suara lembut.


Suara yang begitu menancap kuat pada hati dan pikiran Satya. Beruntung kedua anaknya memiliki ibu seperti Belva.


"Kaila... Kaili... Sini duduk dekat Daddy. Kita istirahat dulu. Nanti kita jalani lagi." Ucap Satya lembut penuh perhatian pada Duo Kay.


Tiga puluh menit beristirahat sembari bercerita. Kaila melihat ada boneka besar yang bergerak-gerak mengambil perhatian beberapa pengunjung. Boneka beruang icon tempat dimana mereka sedang bermain yang di cosplay oleh seseorang di dalamnya.


"Mami... Itu..." Tunjuk Kaila.


Satya, Belva dan Kaili menoleh pada arah jari telunjuk Kaila.


"Mau foto sama boneka besar itu." Pinta Kaila.


"Ayo Daddy antar." Respon Satya dengan cepat. Apapun yang membuat anak-anak nya bahagia akan dilakukannya. Sekaligus mumpung ada waktu bagi mereka bersama-sama.


Mereka mendekati boneka beruang besar itu. Kaila dan Kaili berfoto bersama.benda besar itu. Tak ada rasa takut mereka tersenyum manis dan menggemaskan. Satya mengambil gambar Duo Kay.


"Foto sama Daddy juga." Ucap Kaili.


"Tuan, saya bantu untuk mengambil foto kalian." Ucap salah satu karyawan tempat arena bermain itu.


Satya mengangguk dan memberikan ponselnya pada orang tersebut. Foto ayah dan anak itu sudah di dapatkan. Kini giliran Kaila merengek agar Maminya ikut berfoto tapi Belva tetap tak mau maju bergabung.


"Daddy.... Mami tidak mauuu..." Rengek Kaila.


"Mami, jangan membuat Kaila menangis. Cepatlah." Ucap Satya memerintah Belva.


"Ayo Maminya ikut bergabung, saya bantu ambil gambat." Ucap si karyawan. Boneka besar itu juga turut melambaikan tangan pada Belva agar ikut bergabung.


Mau tak mau Belva ikut maju bergabung daripada Kaila menangis. Mereka berpose berempat dengan posisi Duo Kay selalu di tengah. Hal itu sengaja Belva lakukan agar tak berdekatan dengan Satya. Tapi sayang sekali tak berjalan mulus. Kaila meminta digendong oleh Satya. Dan Kaili berdiri di depan antara dirinya dan Satya.


"Ayo Maminya lebih dekat lagi merapat pada suami dan anak. Tuan rangkul istri nya." Ucap si karyawan.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Satya bukan merangkul pundak Belva tapi merangkul pinggang Belva agar lebih dekat lagi dengannya dan Kaila.


"Jangan kaku tapi tersenyumlah." Ucap Satya lirih pada telinga Belva.


Tanpa mereka sadari si karyawan justru mengambil gambar saat Satya tengah berbisik lirih pada Belva. Terlihat sangat romantis dan harmonis pasangan itu bersama kedua anak mereka.


Meski sedikit risih dengan apa yang Satya lakukan tapi Belva berusaha bersikap profesional demi Duo Kay. Foto itu akan menjadi kenangan bagi Duo Kay saat besar nanti. Beberapa kali pose mereka berempat sudah terekam dalam potret kamera ponsel Satya.


"Wah fotonya bagus-bagus sekali Tuan. Ini foto keluarga idaman sekali. Kalian terlihat harmonis sekali." Ucap si karyawan.


"Terima kasih." Ucap Satya tersenyum tipis.


****


To Be Continue...

__ADS_1


Perlahan yaaaa... author kasih waktu buat Satya menikmati sedikit waktunya buat bareng-bareng sama Belva dan Duo Kay sebelum mereka pulang ke rumah minimalis. 🤭


Thankyou buat kalian yang masih support. Update ini memang selalu buat kalian 🤗🙏🙏


__ADS_2