
Noella dan Jack akhirnya mereka memilih untuk pulang, mereka berpisah dengan Kristal dan Gwen. Setelah kepergian sepasang suami istri yang mengejutkan bagi mereka Gwen dan Kristal pergi melanjutkan acara mereka masing-masing mereka juga turut pergi meninggalkan pusat perbelanjaan itu.
Selama perjalanan untuk menuruni eskalator raut wajah Noella tampak biasa saja tapi perempuan itu memilih untuk lebih banyak diam. Jack yang beberapa kali berbicara pun diacuhkan oleh Noella membuat pria itu mengerutkan keningnya. Istrinya terlihat berbeda setelah melakukan pertemuan dengan teman-teman nya. Jack merasa pasti ada yang salah dengan pertemuan para perempuan itu, dirinya berpikir ini pasti ada kaitannya dengan hubungan pernikahannya, istrinya itu pasti sudah bercerita pada dua sahabatnya dan ada sesuatu yang membuat sang istri merasa tak baik-baik saja.
"Honey, kamu kenapa dari tadi aku bicara kamu diam saja?"
"Tidak hanya malas bicara saja, aku lelah." Jawab Noella tak menatap suaminya.
Noella berjalan menuju toko kue yang masih berada di area pusat perbelanjaan itu. Jack mengikuti langkah kaki istrinya, dia masih bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba saja berubah cuek pada dirinya. Jika sudah seperti itu pasti ada sesuatu yang salah pada dirinya yang tidak disadarinya.
"Honey, kamu mau makan kue?" Tanya Jack lembut pada Noella. Jika berhadapan dengan Noella pria itu tidak akan bisa berkata kasar karena Noella akan mengimbangi dirinya jika Jack berkata kasar istrinya.
"Bukan untukku." Jawab Noella singkat dan cuek.
"Lalu untuk siapa?" Tanya Jack kembali.
"Mertuaku. Kamu pikir aku akan pulang dengan tangan kosong mengetahui mertuaku berada disini." Ucap Noella kesal.
"Mbak, mau Red Velvet cake utuh." Pinta Noella pada pelayan toko kue.
"Baik Nona, ada lagi?" Tanya pelayan toko.
"Cukup itu saja." Jawab Noella.
"Baik. Totalnya dua ratus lima puluh ribu, Nona."
Noella mengangguk dan menerima kue yang telah di bungkus dengan box serta dimasukkan ke dalam paper bag berlogo toko kue tersebut.
"Bayar itu." Ucap Noella saat menyuruh suaminya untuk membayar kue yang dibelinya.
Jack melirik wajah sang istri yang tampak biasa saja tidak ada raut marah dan kesal pada dirinya tapi Jack tahu dari cara berbicara Noella. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan membayar kue milik istrinya dengan uang cash.
"Sudah? Mau beli apa lagi?" Tanya Jack.
"Pulang." Ajak Noella.
Perempuan itu berjalan lebih dulu dari Jack. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada yang memperhatikan mereka. Di jarak yang cukup jauh perempuan hamil yang tak lain adalah Alya memperhatikan sepasang manusia yang tengah keluar dari toko kue.
"Itu... Jack. Benar aku tidak salah lihat. Jadi, orang yang aku lihat tadi benar-benar Jack." Gumam Alya.
Hatinya merasa sedikit lega bisa menemukan pria yang masih menjadi kekasihnya sampai saat ini karena Jack belum pernah mengatakan jika mereka telah mengakhiri hubungan. Jack hanya pergi dan menghilang begitu saja tanpa kabar apapun setelah berpamitan menjenguk keluarga pada saat itu.
Sebelum melihat Jack dan Noella, Alya sempat melihat Jack saat pria itu akan berjalan menuju toilet. Alya hendak mencoba mengejar Jack tapi dirinya tadi sedang bekerja melayani tamu yang datang di butik. Ia tak mungkin pergi begitu saja dalam melayani tamunya. Mendapatkan pekerjaan sangat susah jadi Alya takut jika dirinya nekat maka Vera yang di panggilnya Miss Vera itu akan memecat dirinya jika pemilik butik itu tahu.
Terpaksa Alya hanya bisa diam di tempat meski dirinya sudah tak bisa lagi fokus melayani tamu butik. Arah pandangnya terus mencari sosok Jack tapi sayang sosok pria itu menghilang tanpa bayangan dan tanpa jejak.
Kini dirinya bisa melihat Jack dan Noella karena sudah waktunya ia istirahat. Alya menginginkan untuk makan kue di toko yang sama dengan toko dimana Noella membeli kue. Langkah kaki Alya terhenti untuk memastikan pandangannya. Ada sedikit rasa bingung dan sakit saat Alya melihat Jack sedang bersama Noella.
Saat Noella bersama Jack hendak melangkah menunggu eskalator, langkah kaki mereka terhenti oleh suara yang memanggil salah satu dari mereka.
"Jack!!" Panggil Alya.
Sang pemilik nama langsung berhenti dan menoleh ke belakang termasuk Noella, istri Jack yang juga sahabat dari Alya. Noella mengamati penampilan Alya terlebih perubahan secara fisik yang menonjol dibagian perut.
"Alya..." Lirih Jack menatap Alya. Tatapan mata Jack beralih pada perut Alya yang membuncit.
"Noella." Panggil Alya pada sahabatnya.
"Ya? Alya kamu disini?" Tanya Noella yang tatapan matanya lebih banyak mengarah pada perut Alya. Perut yang di dalamnya terdapat anak dari sang suami bersama wanita lain.
Alya mengangguk dan sedikit tersenyum kecut. Dalam pikirannya bertanya-tanya bagaimana bisa Jack dan Noella muncul secara bersamaan setelah sekian lama mereka tak ada kabar.
"Kalian... Kalian kenapa bisa bersama disini?" Tanya Alya.
Jack dan Noella saling pandang satu sama lain.
"Ekhem... Alya, kamu hamil? Kamu sudah menikah? Baguslah aku juga..." Ucap Jack dengan wajah tersenyum. Ia merasa tak perlu lagi berhubungan atau bersinggungan dengan perempuan yang sampai kini belum pernah di putuskan oleh dirinya.
"Apa maksudmu aku menikah? Aku menunggu mu, Jack." Ucap Alya dengan nada suara bergetar. Ia memotong kalimat yang akan Jack keluarkan. Tak sabar dengan ucapan Jack yang justru mengira bahwa dirinya sudah menikah padahal setengah mati dirinya menunggu pria itu muncul.
"Menunggu? Apa maksud mu? Ah ya... Kamu menunggu kata putus dari ku? Kenapa harus menunggu satu kata itu jika kamu sudah menikah dan mengandung. Aku tak masalah jika kamu sudah menikah justru aku ikut merasa bahagia." Ucap Jack dengan santainya karena memang dirinya tak mengetahui jika Alya sedang mengandung anaknya.
"Jack!!!" Teriak Alya.
Beberapa pengunjung yang terkejut dengan suara keras itu langsung menatap kearah tiga manusia itu.
"Kamu tahu kenapa aku menunggumu? Aku hamil Jack dan ini anak kamu!!!" Teriak Alya tanpa melihat kondisi di sekitarnya yang masih ramai.
Noella dan Jack membulatkan mata mereka terkejut dengan sikap Alya yang tak menjaga privasi. Kembali banyak pasang mata menatap mereka, hal itu membuat Noella malu. Jack terkejut atas pengakuan Alya, kini Noella menatap tajam pada Jack. Pria itu seakan tiba-tiba membeku atas pengakuan mantan kekasihnya dan mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.
"A-alya... M-maksud kamu apa?" Jack tiba-tiba menjadi gagap.
"Tidak mungkin, aku yakin jika kamu pasti tidur dengan beberapa pria." Ucap Jack menolak pengakuan Alya.
Plak!!!
Satu tamparan keras Alya berikan pada Jack hingga membuat pria itu mengeratkan rahangnya dan pipinya memerah.
Mereka menjadi tontonan beberapa pengunjung pusat perbelanjaan. Noella membulatkan matanya saat suaminya di tampar oleh Alya. Tapi Noella masih menatap tajam pada Jack, perempuan itu berjalan mendekati Alya.
"Alya, sebaiknya bicarakan ini di mobil saja jangan disini. Lihat... banyak yang menatapmu." Ujar Noella. Perempuan itu berusaha keras menetralkan sikap dan perasaannya yang tengah bergejolak menahan amarah. Ia bersikap sesantai mungkin.
"Ayo..." Ajak Noella meraih tangan Alya.
Alya sudah terisak dan emosi saat Jack menolak pengakuan nya bahkan menuduh dirinya yang tidak-tidak. Ia merasa seperti wanita mur*ahan yang bersedia tidur dengan siapa saja seperti yang Jack katakan.
Menghindari tatapan banyak pasang mata Noella membawa Alya masuk ke dalam lift agar lebih cepat sampai dan terhindar dari rasa penasaran banyak orang. Jack mengikuti dari belakang kedua wanita itu. Perasaan Jack menjadi tak tenang saat ini, dia sangat takut jika Noella mengamuk padanya hingga masalah ini terdengar oleh kedua orang tua mereka jika benar Alya mengandung anaknya.
Dalam lift Alya menangis terisak, ia memeluk Noella. Istri dari Jack itu mau tak mau berusaha membantu menenangkan Alya, sahabatnya. Jack tampak bingung harus berbuat apa sedangkan Noella masih saja dengan sikap cueknya. Sampai basement mereka langsung menuju mobil, Alya masih menangis terisak.
"Alya sudah tenanglah. Selesaikan semuanya jangan menangis terus seperti ini." Ucap Noella.
__ADS_1
Alya menoleh menatap Noella. "Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan, Noe. Aku hamil anak Jack tapi dia tidak mau mengakui itu. Jack justru menuduhku yang bukan-bukan, padahal selama ini hanya Jack yang dekat denganku. Hanya dia yang tidur denganku." Alya menekankan kalimat terakhirnya.
Noella diam-diam mengepalkan tangannya di samping. Ia mengatur napas sedemikian rupa agar terasa lega. Dihadapan Alya ia tak ingin terbawa emosi, Noella tipe perempuan yang keras karena kehidupannya yang bebas tanpa bimbingan orang tua. Ia terbiasa melindungi dirinya sendiri dengan sikap keras yang selalu terpupuk setiap hari.
"Tapi itu bukan anakku, mana buktinya jika itu anakku." Ucap Jack mempertahankan diri.
Ia tak ingin rumah tangganya dengan Noella hancur begitu saja, mereka belum genap satu tahun menjalankan biduk rumah. Menikah muda adalah pilihan mereka, terutama Jack yang tak ingin Noella pergi dan memilih pria lain.
"Apa yang harus aku lakukan?!! Ini anak kamu dan kamu harus bertanggung jawab." Alya dengan sifat yang keras kepala terus saja ngotot pada kenyataan yang menimpa dirinya.
Emosi Alya membuat kandungannya terasa tegang hingga dirinya menggeram kesakitan. Memegang perut buncitnya dengan wajah meringis. Noella khawatir akan kandungan Alya, sekeras-kerasnya Noella perempuan itu masih punya hati sebagai seorang perempuan.
"Jack, bawa dia ke rumah sakit cepat nyalakan mobilnya." Perintah Noella panik.
Melihat kepanikan sang istri dan melihat ringisan Alya membuat pria itu justru merasa bingung.
"I-iiya... Iya... Rumah sakit mana?" Tanya Jack.
"Rumah sakit terdekat, cepat!!" Titah Noella.
Dengan kecepatan sedikit kencang Jack menancap gasnya keluar dari kawasan pusat perbelanjaan.
"Aaaa... Pelan-pelan bo*doh." Teriak Noella.
"Kamu tadi menyuruhku cepat, mana yang benar." Ucap Jack panik dan kesal.
"Maksudku berhati-hati lah. Kamu mau membunuh kami huh!!"
Jack hampir saja akan menabrak pengendara lain yang sedang melintas.
"Jangan ke rumah sakit, aku tidak apa-apa." Ucap Alya yang masih meringis.
"Tidak apa-apa bagaimana kalau bayi mu kenapa-kenapa apa kamu akan membiarkannya?" Ucap Noella kesal.
"Dia tidak apa-apa selama ini. Aku biasa seperti ini, antarkan saja aku pulang." Ucap Alya dengan suara lirihnya. Rasa ketegangan pada kandungannya masih sedikit terasa.
"Yakin kamu tidak apa-apa?" Tanya Noella.
"Iya antarkan saja aku pulang." Putus Alya.
Pekerjaannya terpaksa ia tinggalkan begitu saja, biarlah nanti dirinya yang akan mengurusnya. Saat ini dirinya tak nyaman jika harus kembali ke butik Miss Vera. Permasalahan nya dengan Jack belum terselesaikan dan itu akan mengganggu pekerjaan nya.
Alya menunjukkan arah jalan menuju rumahnya. Tepatnya rumah kontrakan yang dicarikan Kristal untuk nya waktu lalu. Rumah kontrakan yang sangat kecil dan sangat sederhana. Sangat jauh dari gaya dan keseharian Alya saat masih menjadi bagian dari keluarga Balakosa. Noella tahu jika Alya tak lagi tinggal di kediaman Balakosa lagi, perceraian orang tua Alya pun sudah terdengar oleh Noella dari Kristal.
Alya turun perlahan dari mobil Noella diikuti oleh sang pemilik mobil dan Jack yang sementara menjadi sopir mereka tadi. Jack mengernyitkan keningnya melihat rumah kecil yang sangat jauh dari kata mewah.
"Ini rumah siapa?" Tanya Jack.
"Rumahku." Jawab Alya singkat.
Pasrah dan masa bodoh untuk saat ini, rasa malu yang selalu bergelayut di dalam hatinya itu kini benaro Alya singkirkan. Tak punya pilihan lain lagi karena dirinya butuh beristirahat.
"Yakin kamu tinggal di tempat ini?" Tanya Jack kembali.
"Iya sejak penderitaan ku dimulai aku tinggal di rumah ini dengan bayi yang ku kandung, bayi kita, Jack."
Rahang Noella mengeras dengan tatapan tajam selalu terhunus untuk Jack. Alya tak menyadari itu sedangkan Jack yang memang sedari tadi sudah merasa pertemuannya dengan Alya adalah sebuah masalah menjadi semakin tak nyaman.
"Jangan mengada-ada Alya. Jika memang itu adalah anak ku sudah pasti kamu mengatakannya bukan saat pertama kali kamu mengetahuinya. Kamu tidak mengatakan apapun dan sekarang tiba-tiba kamu mengaku jika itu anakku." Ucap Jack.
Setelah kepergian Jack hingga yang hampir satu bulan saat itu Alya tak mengatakan jika dirinya mengandung. Padahal saat itu mereka masih saja menjalin komunikasi, itu yang membuat Jack tak yakin jika Alya mengandung anaknya.
"Tapi ini anakmu, Jack!!! Sudah berapa kali ku bilang ini anakmu. Aku tidak pernah tidur dengan pria manapun. Kamu harus bertanggung jawab, kamu harus menikahi ku." Pinta Alya.
Jack mendelik dengan permintaan Alya. Menikahi Alya itu jelas tidak mungkin baginya, Noella mau dikemanakan. Kalaupun dirinya bisa menikahi Alya, apa Noella akan menyetujuinya tapi Jack tidak yakin untuk itu.
Kedua manusia berbeda jenis kelamin yang dulu pernah menjalin kasih itu tengah berdebat masalah pertanggungjawaban atas kandungan Alya. Noella lama-lama menjadi geram, dirinya tahu memang jika Alya tak sembarang dekat dengan seorang pria. Ia yakin jika itu memang anak Jack mau memungkiri hal itu demi menyelamatkan hatinya tapi percuma saja hati Noella sudah terlanjur merasa sakit dan kecewa atas tindakan Jack yang kebablasan.
"Cukup!!!" Teriak Noella menghentikan perdebatan.
Noella masih menatap tajam pada Jack, pria itu menelan ludahnya susah payah dengan perasaan khawatir.
"Alya, kamu bilang itu anak Jack kan? Dan kamu Jack, kamu tidak yakin jika itu anakmu?"
Alya dan Jack mengangguk secara bersamaan.
"Tes DNA. Salah satu cara tepat untuk membuktikan nya." Ucap Noella memberikan jalan tengah untuk solusi perdebatan kedua orang tersebut.
"Aku masih mengandung, bagaimana mungkin menjalani tes DNA. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa seorang ayah." Ucap Alya.
"Berapa usai kandungan mu?" Tanya Noella.
"Entah enam bulan atau tujuh bulan aku tak tahu. Aku tak pernah memeriksakan nya, jika Jack tidak mau bertanggung jawab tidak masalah aku bisa mengugurkan nya." Ucap Alya yang sudah frustasi.
"Jangan gila kamu, Alya!! Jack akan bertanggung jawab." Ucap Noella.
Jack langsung menoleh pada istrinya dengan wajah tak percaya.
"Jack mau menikahi ku?" Tanya Alya memastikan pendengarannya.
"Honey apa maksudmu?" Tanya Jack yang sontak membuat Alya terkejut atas panggilan Jack pada Noella.
"Honey? Jack, aku tidak salah dengar kamu memanggil Noella seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Alya. Hatinya semakin tak tenang.
"Jack akan bertanggung jawab padamu. Benar begitu kan, Jack?" Ujar Noella.
"Honey, apa maksudmu. Aku tidak akan menikahinya jangan gila. Bagaimana dengan pernikahan kita jika aku menikah dengannya."
Deg!!!
Syok yang saat ini Alya rasakan mendengar penuturan Jack. Kekasihnya menikah dengan sahabatnya sendiri. Apakah dirinya tidak salah mendengar.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi, apa aku salah mendengarnya?" Ucap Alya syok.
"Tidak Alya kamu tidak salah mendengar. Aku dan Noella memang sudah menikah resmi secara hukum dan agama. Jadi, maaf aku tidak bisa menikah dengan mu. Aku tidak bisa menghianati pernikahan ku dengan Noella." Jelas Jack.
Dada Alya terasa begitu sangat sesak. Kekasihnya yang sangat dicintainya tega mengkhianati dirinya setelah semua yang dirinya berikan untuk Jack. Alya pun tak menduga jika sahabatnya tega menikam dirinya dari belakang.
Plak!!!
Plak!!!
Dua tamparan keras Alya layangkan untuk Noella dan Jack. Dua orang yang tega menyakiti dan mengkhianati dirinya.
"Kalian benar-benar berengsyek!!! Tega kalian menyakitiku, tega kalian menusuk ku dari belakang. Apa salahku huh apa!!!" Alya murka. Meluapkan emosi nya pada kekasih dan sahabatnya.
Noella memegang pipinya yang terasa panas demikian juga Jack.
"Honey, kamu tidak apa-apa?" Tanya Jack penuh perhatian pada istrinya.
Noella tak menjawab, ia justru menatap Alya dengan tatapan kesalnya.
"Menyakiti? Menusukmu dari belakang? Kamu akan mengatakan jika aku mengkhianati mu begitu hum?" Ujar Noella dengan emosi yang sudah di ujung tanduk.
"Dengar Alya Rumi. Apa kamu lupa jika aku pernah mengingatkanmu untuk tak terlalu dekat dengan Jack dulu. Aku sudah mengatakan padamu jika Jack sudah memiliki kekasih tapi apa yang kamu katakan padaku hum? Kamu akan menyingkirkan kekasihnya dan akan terus mendapatkan Jack. Kamu tahu siapa kekasih Jack saat itu? Kekasih Jack saat itu adalah aku. Aku Noella Aramesha."
Alya ternganga mendengar penjelasan Noella. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu adalah wanita yang dulu hendak disingkirkan demi mendapatkan Jack.
"Aku memang diam saat itu, Alya. Itu bukan karena aku takut padamu tapi aku hanya tidak ingin membuat kehidupanku rumit dengan permasalahan percintaan yang tidak jelas. Tapi sekarang Jack adalah suami ku, dengan sangat jelas tertulis di catatan sipil status kami adalah suami dan istri sah."
Dada Noella bergerak naik turun setelah meluapkan apa yang sudah di tahanan sedari tadi. Jack mengusap lembut punggung istrinya yang tengah emosi itu. Noella sebisa mungkin tak berbuat kasar untuk membalas tamparan Alya mengingat wanita yang menjadi sahabat nya itu tengah mengandung.
Alya semakin terisak, ia merasa menjadi wanita bodoh. Ia sendiri tak tahu mengapa Jack yang jelas sudah memiliki kekasih masih saja menjalin kasih pada wanita lain. Hati Alya sangat sakit saat ini, ia membenci Jack saat ini.
"Kamu laki-laki berengsyek, Jack!! Aku benci padamu!!! Aaaaa..." Teriak Alya.
Ia memukul-mukul perutnya yang membuncit. Wanita itu sangat frustasi saat ini mendengar kenyataan yang ada. Ia begitu terpuruk, masalah ini terlalu berat untuk nya.
"Stop Alya!!! Jack akan bertanggung jawab pada bayi itu. Tanpa tes DNA aku tahu jika itu bayi Jack. Kami yang akan membesarkannya." Putus Noella.
"Honey..."
"Stop Jack. Alya bukan wanita murahan yang dengan sembarang tidur dengan laki-laki lain. Aku yakin jika itu bayi mu dan kamu harus bertanggung jawab dengan bayi itu." Ujar Noella.
"Aku tidak mau melahirkan anak baji*Ngan ini!!! Dia pantas mati, dia membuatku menderita!!!" Alya berteriak tak karuan dengan memukul perutnya.
"Stop Alya... Jack, lakukan sesuatu dia bisa membunuh anakmu." Ujar Noella khawatir.
Emosi Alya sudah tak tertahankan dengan dirinya yang terus memukul perutnya. Ketegangan terjadi pada kandungan Alya, wanita hamil itu memekik kesakitan. Hingga terjadi pendarahan dan ambruk.
Jack reflek segera mengangkat tubuh Alya dan membawa menuju mobil. Noella berlari keluar mengikuti Jack dan membantu membukakan pintu mobil.
Mereka lalu pergi ke rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan kondisi Alya dan juga bayinya. Jack mengendarai dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Sampai di depan rumah sakit Jack langsung membawa Alya ke dalam. Noella berteriak meminta bantuan pada suster ataupun dokter yang mana ada lebih dulu menolong mereka.
****
Ketegangan juga mulai terjadi di dalam rumah tangga Belva dan Satya saat ini. Cobaan rumah tangga mereka datang dengan cepat di tengah kebahagiaan mereka. Bagaimana tidak Satya adalah pria mapan dan tampan yang sudah jelas sedari awal Belva ketahui pasti banyak wanita yang akan berusaha keras untuk mendapatkan perhatian atau apapun itu dari sang suami.
Belva mengantarkan makanan untuk pertama kalinya di kantor Satya setelah beberapa mingu menyandang status sebagai Nyonya Balakosa tanpa sepengetahuan banyak pihak. Begitu membuka pintu ternyata Satya tengah bermesraan dengan seorang wanita cantik dan seksi. Bahan pakaian yang tipis dan ketak mampu menjiplak secara utuh tanpa buh wanita itu beserta dengan pakaian dalam yang dikenakan wanita itu.
Tak tanggung-tanggung bahkan wanita itu duduk dihadapan Satya dengan posisi kaki mengang*kang dipangkuan Satya. Dada padat dan besar itu bahkan sudah menempel pada Satya. Tangan wanita itu melingkar sempurna pada leher Satya dengan wajah menjorok ke depan hingga bibir mereka saling bersentuhan. Tak luput dari pandangan Belva tangan Satya juga tampak memegang erat paha mulus dan seksi milik wanita itu.
Luma*Tan terjadi diantara pria dan wanita itu, terdengar suara Des*ahan dari si wanita yang begitu menikmati cumbu*an mesra itu. Belva membulatkan matanya secara sempurna. Dadanya terasa sesak dan sakit seketika itu juga. Paper bag yang dibawanya jatuh karena otot-otot di sekujur tubuh Belva seakan melemah.
"Tuan Sat...ya." Panggilan yang tiba-tiba mengejutkan semua orang yang ada di ruangan Satya terutama Satya dan si wanita seksi itu. Panggilan dengan suara bass itu adalah miliknya Jordi yang tidak tahu akan kehadiran si wanita seksi dan juga Nyonya Balakosa. Panggilan yang berawalan mantap itu terputus hingga melemah saat melihat apa yang ada dihadapannya.
Jordi tak kalah terkejut dengan ade*gan yang ada dihadapannya yang lebih mengejutkan lagi adalah Nyonya Balakosa sendiri pun turut menyaksikannya secara langsung.
Belva yang juga mendengar suara bass milik Jordi hanya sekilas menoleh ke belakang. Fokusnya kembali pada suami dan juga wanita seksi yang terlihat sangat dekat dengan suaminya.
Satya begitu terkejut, detak jantungnya berdegup tak normal. Wajahnya terlihat pucat saat melihat sang istri berada di dalam ruangannya.
"Sa-sayang." Panggil Satya dengan wajah pucat dan napas memburu.
Dengan cepat Satya mendorong wanita seksinya itu agar turun dari pangkuannya.
"Maaf saya permisi." Ujar Jordi. Dia merasa ini adalah masalah rumah tangga yang dirinya tak seharusnya ikut campur. Jordi pamit undur diri membiarkan Satya dan Belva menyelesaikan masalah pribadi mereka.
Semakin panik Satya melihat Jordi pergi dari ruangannya. Belva masih diam dengan mata berkaca-kaca. Sekuat tenaga dirinya menahan rasa sakit dan tangis. Belva menarik napas dalam-dalam untuk melegakan rongga dadanya tapi percuma saja masih terasa sesak. Setidaknya menarik napas bisa sedikit membuatnya satu persen merasa lebih nyaman.
"Sayang... Sayang kamu disini?" Tanya Satya. Pertanyaan konyol yang jelas-jelas tadi dirinya sendiri yang meminta Belva datang agar mereka bisa makan siang bersama.
"Aduh mateng sempurna ini, alamat puasa." Batin Satya khawatir.
Tatapan kecewa bisa Satya lihat pada sorot mata istrinya meski wajah Belva terlihat datar dengan mata sedikit memerah. Si wanita seksi terlihat kesal karena kesenangannya terganggu dengan kehadiran seorang perempuan muda yang tak dikenalnya.
"Heh!!! Kamu dasar anak tidak sopan. Harusnya kamu ketuk pintu kalau masuk ke ruangan orang lain." Bentak si wanita seksi itu.
Belva beralih melirik wanita yang menikmati kemesraan bersama suaminya. Satya juga spontan langsung menoleh pada wanita yang tadi asik bercengkrama dengan bibirnya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih banyak masih setia support πβΊοΈ
Terimakasih banyak untuk Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Author bangga punya kalian yang memiliki jiwa kesetiaan yang tinggi. πππ
Sehat selalu ya buat kalian π€π
__ADS_1