
Di tempat yang selama beberapa bulan ini digunakan Belva dan anak-anaknya untuk singgah dan bersembunyi dari Satya atas perintah Tuan Hector. Ibu dan anak itu kini tengah menikmati waktu bersama dengan berjalan-jalan ke taman. Nyonya Hector dan Roichi menemani mereka.
"Sayang, bukankah beberapa hari lagi sudah waktunya kamu memeriksakan kandungan?" Tanya Nyonya Hector.
Dengan keadaan hamil yang sudah membesar Belva masih menggendong baby As yang kini usianya sudah delapan bulan. Mereka duduk di kursi taman dan mengobrol.
"Biar Mama saja yang pangku baby As."
Belva memberikan baby As pada Nyonya Hector. Duduk memangku bayi gembul itu cukup kesulitan baginya.
"Aku mungkin akan memeriksakan kandungan nanti saja saat kembali ke Paris. Kaila ada pertemuan dengan Nona Christina Diora jadi sekalian saja di sana."
"Ada acara apa kalian?" Tanya Roichi.
Kaila dan Kaili sibuk bermain di sekitar mereka. Para orang dewasa hanya mengawasi mereka saja.
"Ada pertemuan untuk membahas fashion show. Pihak Christina Diora mengajukan kerjasama dengan Kaila, minggu depan acara itu di mulai dan Kaila sendiri juga ikut menjadi model untuk memperagakan gaun rancangannya sendiri nanti."
"Oh ya?" Ucap Roichi tersenyum. Pria itu bangga pada putri angkatnya yang memang sedari kecil sangat berbakat dibidang fashion.
Belva mengangguk tersenyum sembari memainkan jari jemari mungil baby As.
"Cucuku sangat cerdas sekali dia sangat pintar merancang gaun yang cantik meski masih kecil. Mama bangga padanya."
"Itu karena sejak kecil dia sudah melihat Mama dan aku berjibaku di butik." Ujar Belva.
"Iya tapi yang paling berpengaruh itu karena bakat yang dia miliki menurun darimu, sayang. Semasa kamu hamil kamu sudah mulai menekuni bidang fashion desainer." Ujar Nyonya Hector.
"Memang mereka sangat membanggakan, beruntung si kembar hadir dalam kehidupanmu. Bukankah mereka menjadi penghibur dan kekuatan mu yang paling mujarab selama ini?" Ujar Roichi tersenyum.
Pria itu tahu betul jika Duo Kay adalah senjata paling ampuh yang dimiliki Belva. Penyemangat, penghibur, penguat dalam menjalani kehidupan wanita hamil itu.
"Iya aku kuat dan mampu bertahan sampai detik ini semua karena keberadaan mereka. Ditambah sekarang sudah ada baby As dan bayi yang ada di dalam kandunganku sekarang. Mereka semua adalah harta yang paling berharga dan tak bisa tergantikan oleh apapun." Ucap Belva menatap Duo Kay yang sibuk bermain kejar-kejaran, tangan kirinya memegang lembut jemari mungil baby As dan tangan kanannya pun mengelus lembut perut buncitnya.
Beberapa hari berlalu, Belva dan yang lain sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Seperti yang pernah disampaikan oleh ibu hamil itu jika Kaila memiliki urusan penting di Paris yang tidak bisa diwakilkan atau ditunda.
"Semua sudah siap?" Tanya Roichi.
"Sudah, Om." Jawab Belva.
"Sini biar Mama saja yang gendong." Nyonya Hector hendak mengambil alih baby As yang saat ini tengah di gendong oleh Roichi.
"Tidak usah, Ma biar aku saja. Mama dampingi Vanthe saja menuruni tangga biar baby As aku yang gendong. Si kembar sudah turun lebih dulu." Ujar Roichi.
"Ya sudah. Ayo sayang kita turun."
Belva mengangguk, Nyonya Hector dan Belva turun menyusuri tangga. Roichi menggendong baby As mengikuti kedua wanita itu dari belakang. Semua koper sudah masuk ke dalam bagai mobil.
Perjalanan menuju Paris tentu saja Roichi akan menemani mereka. Pria itu tak mungkin membiarkan seorang ibu hamil, lansia serta anak-anak bepergian sendiri dengan jarak yang cukup jauh.
Keberangkatan mereka tentu saja sudah dikabarkan Roichi pada Tuan Hector. Demi kenyamanan keluarganya sebuah jet pribadi disiapkan bagi istri, anak serta cucu Tuan Hector. Meski mereka bisa menggunakan mobil atau kereta api untuk menuju Paris tapi kedua alat transportasi tersebut memalan waktu lebih lama. Menggunakan pesawat akan lebih cepat.
Tiba di bandara Paris-Charles de Gaulle anak buah Tuan Hector sudah menanti kedatangan mereka dan membantu mengurus seluruh barang yang dibawa oleh anggota keluarga Hector.
"Ma, aku ingin mampir ke apartemenku apa bisa?" Tanya Belva.
"Loh untuk apa, sayang?" Tanya Nyonya Hector.
"Tidak, aku hanya merindukan apartemenku saja. Sejak memutuskan menetap di Indonesia aku belum pernah mengunjungi apartemenku."
"Tapi kalian harus beristirahat dengan nyaman." Ujar Roichi.
"Apartemenku juga nyaman. Bukankah Mama pernah mengatakan jika masih ada yang mengurus apartemenku sejak aku pergi?" Tanya Belva.
"Itu benar, sayang apartemen mu masih terawat karena Mama menyuruh seseorang untuk membersihkan dan berjaga di sana."
"Jadi, bisa kan aku dan anak-anak ke sana?" Tanya Belva memastikan.
"Tapi..." Roichi tak setuju karena khawatir dengan kenyamanan Belva dan anak-anak.
"Tidak apa Roi, kita ke sana saja biar nanti Mama yang menemani mereka." Ujar Roichi.
Roichi pun mengalah jika Nyonya Hector sudah memutuskan. Mereka kini menaiki mobil yang memang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.
Perjalanan dari bandara menuju apartemen Belva hanya memakan waktu tiga puluh menit saja. Duo Kay tertidur pulas sedangkan baby As masih terjaga melihat beberapa kendaraan yang melintas di jalanan.
Apartemen sederhana yang dibeli Belva menggunakan uang hasil keringatnya sendiri. Memasuki apartemen tampak ruangan masih sama seperti satu tahun yang lalu tidak ada yang dirubah mulai dari penataannya.
Senyum menghiasi wajah cantik Belva kala mengamati sudut ruang tamu yang pertama ia temui. Aroma ruangan tersebut masih sama seperti pengharum ruangan yang dulu biasa Belva gunakan.
"Duduklah... Jangan terlalu lama berdiri kamu akan lelah." Ujar Roichi.
"Mami... Ini kan rumah kita dulu." Ujar Kaili.
__ADS_1
Belva menoleh ke arah Kaili dan tersenyum.
"Iya, sayang ini adalah rumah kita. Kalian masih mengingatnya?" Tanya Belva.
"Tentu saja, Mami kita masih mengingatnya. Apa kita akan tidur di sini? Apa mainanku masih ada di sini?" Tanya Kaila penuh rasa penasaran.
"Apa kalian mau menginap di sini?" Tanya Belva mengulang maksud dari kalimat tanya Kaila.
Duo Kay mengangguk, "Mau Mami... Mau..."
Kaili dan Kaila tampak bersemangat saat mendapatkan pertanyaan dari Mami mereka. Sangat menyenangkan jika Mami mereka menyetujui keinginan mereka.
"Baiklah kita akan menginap di sini." Belva memberikan keputusan.
"Horeee!!!" Sorak Duo Kay.
"Hei Nona tempat ini terlalu sempit untuk kalian." Ujar Roichi masib tak setuju dengan keputusan Belva.
"Tidak, Om ini masih cukup untuk kami. Ada dua kamar kosong di sini."
"Tapi siapa yang akan membantumu mengurus anak-anak nanti? Kita kembali ke rumah besar saja di sana banyak pelayan. Aku tidak bisa membantumu karena setelah ini aku harus kembali ke Jerman."
"Roi....sudah lah biar Mama yang membantu Vanthe. Selama sudah berada di Paris semuanya aman. Papa kalian pasti nanti akan ke sini juga." Ujar Nyonya Hector.
Terhadap Nyonya Hector, Roichi tidak bisa mendebat. Semua pasti akan menurut pada wanita paruh baya itu. Wanita tercinta dari Tuan Hector yang bisa melakukan apapun dalam batas wajar kemampuan manusia dan sudah pasti mendapat dukungan dari sang suami yang begitu mencintainya.
Akhirnya Belva dan anak-anak menginap di apartemen itu. Tempat yang sempat menjadi rumah tinggal mereka sebelum kembali ke Indonesia. Mereka di temani oleh Nyonya Hector sedangkan Roichi harus kembaki ke Jerman karena urusan pekerjaan.
Satu malam menginap di rumah besar sang mertua, akhirnya Satya dan Jordi berpamitan kembali ke apartemen yang di sewa oleh Satya beberapa bulan ini. Beberapa hari mereka bolak-balik antara rumah Tuan Hector dan apartemen sewaan itu.
"Tuan, untuk makan apa anda memasak sendiri?" Tanya Jordi saat mereka berada di dalam apartemen Satya.
"Saya beli di luar tidak ada waktu untuk memasak." Jawab Satya.
"Apa anda jarang makan? Tapi buah anda terlihat sedikit lebih kurus."
"Waktuku habis untuk mencari keberadaan Belva dan anak-anak. Pria tua itu benar-benar menyembunyikan mereka seperti sebuah paket yang terbungkus rapi."
"Pria tua itu mertua Anda, Tuan jika Tuan Hector mendengar tamatlah riwayat anda, Tuan."
"Ck... Kamu akhir-akhir ini berisik sekali. Sudah saya mau keluar beli kopi kamu tunggu di sini."
Satya berlalu begitu saja tanpa mendengarkan kalimat balasan dari Jordi sedangkan sang asisten hanya bisa melongo menatap kepergian bos-nya.
Minimarket seberang apartemennya itu lah yang selalu Satya kunjungi saat membeli kopi. Tak perlu mengantri lama pria tampan yang masih tertutup penampilan semrawut itu telah mendapatkan segelas cup kopi. Kasir minimarket itu bahkan mulai hafal dengan Satya karena hampir setiap hari pria itu selalu mampir membeli kopi.
"Terima kasih." Ujar Satya.
"Sama-sama, Tuan. Ah iya ini roti untuk anda sebagai teman minum kopi." Ujar kasir wanita paruh baya.
Satya tersenyum tipis, wanita kasir itu sangat baik padanya bahkan pernah mengingatkan untuk menjaga penampilan dan makan teratur. Satya keluar setelah menerima roti dan satu cup kopi tersebut.
Saat hendak menyebarangi jalan, langkah kaki Satya terhenti pria itu menatap pada satu titik yang membuat jantungnya berdebar kencang.
"Belva..." Gumam Satya.
Seorang wanita yang paling dicintainya, istrinya, belahan jiwanya. Sosok Belva tertangkap oleh manik mata hazel Satya. Tentu saja Satya langsung berlari menghampiri wanita itu dan memeluk Belva dengan begitu erat.
"Aaaa!!! Lepaskan!!" Teriak Belva terkejut tiba-tiba mendapatkan serangan dengan sebuah pelukan.
Ibu hamil itu merinta dan berusaha keras melepaskan diri dari pria yang tiba-tiba memeluk dirinya. Tapi gerakan itu tiba-tiba melemah, aroma yang sangat familiar baginya tercium oleh hidung mancung Belva.
'wanginya seperti...' batin Belva.
"Sayang... Sayang benar kan ini kamu?"
Satya melerai pelukannya tapi masih memegang erat kedua bahu Belva. Ibu hamil itu mengernyitkan dahinya suaranya, cukup asing dengan wajah pria itu tapi suara dan aromanya sangat dikenal oleh Belva.
"Sayang, ini mas ini suami kamu Belva." Ujar Satya saat menyadari raut wajah sang istri yang menunjukkan rasa bingung.
"Mas Satya? Benarkah? Tapi kenapa seperti ini? Suamiku tidak seperti ini."
"Belva ini saya Satya suami kamu, Daddy nya Kay dan baby As."
Belva sedikit linglung, ia pun bertanya-tanya bagaimana bisa penampilan Satya sangat berbeda jauh dari biasanya dan mengapa Satya berada di tempat yang sama seperti dirinya. .
"M-mas Satya? Benarkah kamu? Apa yang kamu lakukan di sini."
"Sayang." Satya kembali memeluk Belva dengan erat.
"Mas sangat merindukanmu dan anak-anak. Kemana saja kalian, mas mencari kalian di sini sejak tiga bulan yang lalu."
Belva tercengang mendengarkan penjelasan dari suaminya tapi ia pun merasa kurang nyaman saat ini.
__ADS_1
"Shh... Mas lepaskan aku."
"Tidak... Mas tidak akan melepaskan kamu."
Pelukan Satya semakin erat pada istrinya. Pria itu benar-benar takut jika Belva akan melarikan diri.
"Ih mas aku engap, sesak... Kamu tidak ingat aku sedang hamil."
Belva mengomel, suaminya itu terlalu erat dan membuatnya susah bernapas bahkan perutnya terasa sesak tergencet pelukan Satya.
Begitu Belva mengomel dan menyadarkan dirinya akan keadaan sang istri, Satya langsung melepaskan pelukannya dan merasa bersalah.
"Maaf sayang... Maaf... Kamu tidak apa-apa?" Tanya Satya khawatir, dia mengelus perut Belva yang sudah membesar.
"Sesak kamu terlalu erat memelukku."
"Maaf... Maaf baby, Daddy tidak sengaja. Daddy sangat merindukan Mami dan kalian." Ujar Satya masih mengelus perut besar Belva.
"Di mana anak-anak, yank? Mas ingin bertemu dengan mereka mas sangat merindukan mereka." Tanya Satya.
"Ada di dalam. Mas sendiri kenapa bisa berada di sini?"
"Mas membeli kopi. Eh kopinya ke mana?" Gumam Satya.
"Mas menjatuhkan kopi dan rotinya." Ujar Belva.
Satya langsung memungut roti yang masih utuh dan bersih itu tapi untuk kopi hanya tempatnya saja yang dipungutnya dan akan dibuang di tempat sampah.
Pria itu bahkan tidak melepaskan tangan sang istri saat membuang sampah. Benar-benar tak diijinkan terlepas lagi. Sudah cukup baginya merasa frustasi hampir seperti orang gila akibat kehilangan istri dan anak-anaknya.
"Aku lelah berdiri, aku mau pulang." Ujar Belva.
"Pulang? Ayo mas antar, kenapa kamu hanya sendiri apa Papa membiarkanmu pergi sendiri? Kemarin mas ke rumah Papa tapi kamu tidak ada."
"Sudah ayo ikut aku." Ajak Belva.
Satya hanya menurut saja saat Belva menggandeng tangannya. Mereka berjalan menuju sebuah gedung yang tak lain adalah apartemen Belva. Menggunakan lift mereka tiba di lantai tepat kamar apartemen Belva berada.
Saat memasuki apartemen Satya menatap setiap sudut apartemen yang sederhana jauh dari kata mewah seperti apartemen yang disewanya.
Duo Kay yang berada di depan televisi langsung menatap ke satu titik di mana Maminya dan seorang pria asing bagi mereka.
"Mami, siapa itu?" Tanya Kaila.
Tatapan penuh rasa penasaran dan tanya terlihat dari Duo Kay. Belva menatap Satya seketika saat pertanya muncul dari Kaila.
"Sayang, ini Daddy." Ujar Satya.
"Daddy? Tapi Daddy Kaila tidak menakutkan dan jelek seperti ini." Ujar Kaila dengan jujur.
Belva terkejut dan menahan tawa saat mendengar jawaban jujur Kaila. Satya melongo atas jawaban dari putrinya.
Nyonya Hector yang berada di dapur bersama baby As pun keluar saat mendengar suara sedikit ramai di depan. Wanita paruh baya itupun sempat mengernyitkan dahinya memperhatikan Satya.
"Vanthe?" Panggil Nyonya Hector.
"Ma... Ah... Mama, ini mas Satya." Ucap Belva lebih dulu karena tahu tatapan mata Nyonya Hector.
"Mas, sebaiknya kamu bersih-bersih dulu rapikan penampilanmu." Titah Belva.
Satya mengangguk, tapi sekilas ia melihat tatapan tajam dari Mama mertuanya.
"Untuk apa dia ke sini?" Tanya Nyonya Hector.
"Ma..." Panggil Belva.
"Sayang, nanti mas jelaskan saat selesai bersih-bersih." Ujar Satya.
Melihat tatapan sang mertua, Satya merasa merinding. Tatapan itu terasa horor baginya, Mama mertuanya selama ini selalu bersikap hangat dan ramah padanya tapi kini berubah seratus delapan puluh deraja padanya.
'Jordi, aku harus menghubungi si jomblo berformalin itu. Gara-gara ide konyolnya semua jadi kacau. Mama seram sekali menatapku seperti itu.' Batin Satya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Sabar dulu yess 😅 perjuangan Satya dan Jordi akan dimulai kembali. Bagaimana reaksi Belva nanti ?? Sekarang sih masih kalem ya guys tapi kita tunggu nanti hihi 🤭🤭
Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author yang masih bersedia menunggu kelanjutan cerita author ❤️🙏
Terimakasih atas Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏
__ADS_1
Sehat selalu, bahagia selalu dan lancar jaya rejekinya 😇