
"Kay... Mau pulang ke rumah Uti ? Daddy antar kalian dulu kalau mau pulang ke rumah Uti." Tanya Satya pada kedua anaknya yang duduk anteng di kursi belakang. Mereka sudah kekenyangan akibat memakan beberapa menu seafood yang mereka inginkan.
"Ke rumah Uti saja tapi nanti sore di jemput kan ?" Tanya Kaili.
"Pasti nak, mana mungkin Daddy tinggalkan kalian disana."
"Nanti sore sebelum pulang kita jalan-jalan dulu ya tapi." Ucap Kaila.
"Kita lihat nanti ya sayang. Kalau Daddy tidak terlalu sore jemput kalian kita bisa jalan-jalan."
"Sayang, Daddy pasti lelah pulang kerja. Jalan-jalan nya besok weekend saja ya." Belva ikut menimpali pembicaraan ayah dan anak itu.
"Tidak masalah." Jawab Satya singkat.
Selama dalam perjalanan Satya lebih banyak menghabiskan waktunya berbicara dengan kedua anak kembarnya. Dengan Belva, Satya hanya sesekali berbicara dan hanya bersuara seperlunya saja.
Sudah watak Satya jika marah akan lebih memilih meminimalisir interaksi dengan lawannya yang menjadi sumber masalah. Rupanya kekesalan Satya masih berlanjut sampai dengan selesai nya makan siang mereka.
Duo Kay kini sudah diantar ke rumah minimalis Belva. Budhe Rohimah menyambut kedua cucunya dengan senang hati. Hari ini dirinya tidak akan kesepian lagi. Ada Kaili dan Kaila yang akan menemani dirinya sepanjang hari ini sampai mereka dijemput kembali.
Satya dan Belva melanjutkan perjalanan menuju butik setelah mengantar anak-anak mereka. Dalam perjalanan pun tidak ada pembicaraan diantara mereka. Satya masih memilih diam sedangkan Belva ingin membuka percakapan PU rasanya enggan karena pasti pria di sampingnya hanya menjawab dengan deheman atau secara singkat.
Mobil kini sudah terparkir rapi di depan butik Belva. Wanita itu turun di susul oleh Satya, mereka memasuki butik dengan Belva yang berjalan lebih dulu dan Satya berada di belakangnya.
Wajah satya sangat terlihat dingin dan datar sekali. Karyawan Belva melihat ada sesuatu yang berbeda dari pasangan atasan mereka itu. Hanya sebagai karyawan maka mereka hanya memilih diam tanpa berani bertanya.
Tas jinjingnya diletakkan di atas meja dan Belva berjalan menuju dispensasi untuk mengambil air minum. Satya memilih duduk di sofa dengan wajah tertekuk kesal.
"Mau minum ? Aku ambilkan." Ucap Belva memecah keheningan.
"Tidak." Jawab Satya singkat.
"Tidak kembali ke kantor ? Sudah jam satu lebih." Kembali Belva bersuara.
"Kamu mengusir saya ?" Tanya Satya mendelik.
Kening Belva sedikit mengkerut. "Siapa yang mengusir sih. Kan aku hanya bertanya."
"Tapi kalimat kamu seperti mengusir saya." Ucap Satya kesal.
"Mas, kamu kenapa sih ? Sensitif sekali seperti ibu hamil saja."
"Kalau tidak ingat belum sah sudah saya hamilin kamu biar mereka tahu kamu sudah ada yang punya." Celetuk Satya setelah mendengar kata hamil dari mulut Belva.
Belva semakin tidak mengerti dengan Satya. Pria itu terlihat aneh dari sikap dan ucapannya.
"Ngomong apa sih ? Tidak nyambung sama sekali." Gumam Belva mendekat dan menyentuh kening Satya.
"Tidak panas." Gumam Belva kembali setelah menyentuh kening Satya.
"Kamu pikir saya sakit ?" Ucap Satya memegang tangan Belva yang tadi digunakan untuk menyentuh keningnya.
"Habis kamu ngomongnya tidak nyambung. Ku pikir kamu sakit demam."
"Disini sakitnya." Ucap Satya menunjuk dadanya.
"Sini duduk..." Satya menarik Belva agar duduk di sampingnya.
Dengan patuh Belva duduk di sofa empuk bersanding dengan Satya. "Kamu ngobrol apa saja dengannya ?"
Belva melirik Satya, ia berpikir siapa yang dimaksud oleh Daddy dari anaknya itu.
"Maksudnya siapa ?" Tanya Belva.
"Ck... Siapa lagi kalau bukan pria tadi yang ada di sekolah Kay." Jawab Satya kesal.
"Dokter Dimas maksudnya ? Kami hanya bertukar kabar saja karena kebetulan bertemu kembali saat dia menjemput Yossy, teman anak-anak."
"Kamu kenapa sih ekspresi nya kusut begitu sejak tadi. Kamu marah aku ngobrol dengan dokter Dimas ?"
"Saya tidak suka." Jawab Satya.
Belva tahu kini maksud sikap Satya yang tiba-tiba berubah. "Mas, kamu cemburu nih ceritanya ?"
"Intinya saya tidak suka lihat kamu ngobrol sama dia."
"Memang kenapa sih ? Dokter Dimas pernah ada salah sama kamu ?" Tany Belva penasaran.
__ADS_1
"Dia suka sama kamu dan saya tidak rela."
"Suka bagaimana ? Kamu jangan sok tahu deh." Ucap Belva.
"Yank, bukan sok tahu tapi saya laki-laki dan saya tahu cara dia memandang kamu. Atau jangan-jangan kamu juga suka sama dia ?" Ucap Satya kesal karena Belva mengatakan dirinya yang sok tahu terhadap dokter Dimas.
"Senang sekali kamu ngobrol ketawa-ketawa sampai lama sekali sama dokter pendek itu."
"Dia tinggi loh, mas. Mana ada pendek."
Ucapan Belva semakin membuat Satya kesal dan meradang. Ditatapnya Belva dengan tatapan tajam nya. Raut wajah yang tak bersahabat dengan jelas menampakan ketidaksukaan.
Belva terkekeh geli dalam hati melihat tingkah Satya. Jujur saja entah Belva rasanya senang jika Satya menunjukkan kecemburuannya.
Diraihnya lengan Satya, Belva bergelayut manja pada lengan Satya dan menempelkan kepalanya di pundak Satya.
"Siapa yang bilang aku suka sama dokter Dimas. Kalau aku suka masa dia, aku tidak akan menerima keputusanmu untuk menikahi ku, mas."
Satya seketika kekesalannya mulai menghilang saat Belva bergelayut manja di lengannya.
"Pernikahan kita harus dipercepat. Mama sama Papa mu kapan datang sih yank. Kita saja yang menyusul mereka." Ucap Satya.
Belva langsung menegakkan posisi duduknya. "Sabar mas... Bella bilang beberapa hari lagi. Nanti aku telepon mama kapan pulang."
Satya menghela napasnya. Jam yang seharusnya menunjukkan bahwa dirinya harus segera kembali ke kantor diabaikannya. Urusannya bersama Belva saat ini lebih penting.
Dipeluknya Belva yang masih duduk di samping nya. Dihirupnya dalam-dalam aroma Belva dan diciumnya beberapa kali pucuk kepala wanitanya.
"Mas, sudah tidak sabar ingin segera menikah denganmu. Tidak apa-apa kan jika pernikahan kita nanti hanya apa adanya karena mas ingin yang penting kita segera sah di mata hukum dan agama."
"Tidak masalah. Asal keluarga semuanya merestui pernikahan kita."
"Keluarga kamu bagaimana mas ?" Tanya Belva yang memang tak terlalu paham dengan seluk beluk keluarga Satya.
Satya memejamkan matanya dan menghela napas dalam. "Bukankah mas sudah pernah membahasnya jika kamu dan anak-anak adalah keluarga yang mas miliki. Mas sudah tidak punya orang tua dan keluarga yang lain pun mas rasa tidak punya. Selama ini mas hanya sendiri."
Belva merasa tidak enak hati mendengar ternyata calon suaminya itu sudah tak memiliki keluarga lagi.
"Maaf... Aku tidak tahu." Ucap Belva lirih.
"Kamu masih beruntung sayang. Masih ada ibu yang menjadi keluarga satu-satunya yang kamu miliki. Tapi, mulai sekarang kamu atau pun mas sudah tidak sendiri lagi. Kita akan menjadi satu keluarga yang utuh." Satya kembali mengecup pucuk kepala wanitanya.
****
Di rumah Kristal saat ini sedang terjadi sedikit ketegangan antara Kristal dan juga kedua orang tuanya. Pemicu munculnya ketegangan tersebut adalah keberadaan Alya yang sudah beberapa hari menginap di rumahnya.
"Sayang, Mama rasa temanmu itu sudah tidak bisa tinggal disini lagi."
"Kenapa Ma ? Kasihan dia tidak punya tempat tinggal lagi."
"Sayang, rumah kita itu bukan panti sosial yang harus menampung seorang penyandang tunawisma."
"Ma... Mama tahu kan ? Mama juga kenalkan sama Alya dan Mommy nya. Mama juga selama ini selalu tak pernah keberatan jika Alya menginap di rumah ini."
"Sayang, Alya itu perempuan bermasalah. Mama tidak mau ya kalau nanti keluarga kita terseret dengan permasalahannya." Ucap Mama Kristal.
"Kristal... Dengarkan apa yang Mama mu katakan. Kamu harus tahu Papa bekerjasama dengan perusahaan Bala Corp. Papa tidak ingin jatuh hanya karena terseret permasalahan keluarga Balakosa." Ucap Papa Kristal.
"Kecuali jika kamu sudah siap hidup dengan uang pas-pasan dan tanpa belanja bulanan ataupun jalan-jalan seperti yang selama ini kamu lakukan." Imbuh Papa Kristal.
Seketika perempuan itu terdiam. Apa yang Papa nya katakan memang bukan bertujuan mengancam dirinya tapi memang kenyataan yang otomatis mengancam kesejahteraan dirinya dan keluarga.
Kristal berpikir keras bagaimana caranya menyampaikan pada Alya bahwa temannya itu sudah tisak bisa tinggal lagi di rumahnya. Diantara teman-teman Alya hanya Kristal yang sedikit lebih lunak dan pengertian.
Alya terlihat memasuki rumah Kristal setelah entah pergi dari mana saja perempuan itu pergi. Tinggal di rumah Kristal cukup nyaman dan enak bagi Alya. Ia bisa menikmati fasilitas yang ada di rumah mewah itu.
"Mama mau arisan. Pikirkan apa yang harus kamu lakukan. Ayo Pa..."
"Loh Papa mau ikut arisan ?" Tanya Kristal.
"Antar Mama mu." Jawab Papa Kristal singkat lalu berjalan pergi meninggalkan Kristal.
Kedua orang tua Kristal keluar rumah, mereka bertemu dengan Alya. Sapaan Alya hanya ditanggapi dengan kaku dan terlihat sangat terpaksa oleh Mama Kristal.
Alya menatap aneh karena penasaran pada Mama Alya yang sikapnya berubah. Perempuan itu berjalan menghampiri Kristal yang duduk di sofa.
"Kris, Om dan Tante mau kemana ?"
__ADS_1
"Mama mau arisan, Papa ku antar mama ku."
"Kamu darimana ?" Tanya Kristal.
"Emmhh... Dari... Dari... Cari es buah. Panas sekali sih tadi makanya cari es buah." Jawab Alya beralasan.
"Al... Aku mau bicara sesuatu sama kamu." Ucap Kristal dengan wajah serius dan nada yang juga serius.
"Bicara apa ? Bicara saja, biasanya juga langsung bicara kamu." Ujar Alya.
"Al... Maaf, sepertinya kamu harus cari tempat tinggal sendiri deh."
"Maksud kamu ?" Tanya Alya.
"Emm... Begini... Keluarga besar Mama dan Papa ku bakalan datang dan menginap di rumah ini. Dan tahu lah yaa... Mereka tidak sedikit. Pasti nanti beberapa kamar tidak akan cukup dan kami harus berbagi kamar. Yang paling penting lagi, Oma aku tipe orang yang tidak suka kehadiran orang lain selain keluarga saat kami berkumpul."
"Kamu... Paham kan Al ? Emm... Nanti aku bantu cari tempat tinggal kamu, kamu tahu alamat rumah Mommy mu kan ? Nanti aku antar bagaimana ?" Ucap Kristal beralasan.
Tak tega jika dirinya harus berbicara secara langsung dan terang-terangan bahwa kedua orang tuanya tak mengijinkan lagi Alya tinggal di rumah nya.
"Jadi, kamu mengusir ku ?" Ujar Alya.
"Bu-bukan... Bukan maksudku mengusir mu Alya. Tapi ini karena kami sedang ada urusan keluarga saja sih. Aku juga tidak mau jika nanti akan terjadi permasalahan karena Oma yang keberatan melihat orang selain keluarganya." Kristal berusaha menjelaskan kebohongannya lebih detail lagi agar Alya percaya.
Sesungguhnya Oma yang mana yang Kristal bicarakan ? Kedua neneknya dari pihak Papa dan Mamanya susah tidak ada lagi. Hanya tersisa kakek dari pihak Papanya saja.
Toh Alya tidak akan menyelidiki lebih jauh lagi mengenai anggota keluarganya. Kristal tidak perlu cemas jika harus membawa-bawa neneknya dalam hal pengusiran Alya secara halus tersebut.
"Tapi aku tak tahu dimana alamat tempat tinggal Mommy ku." Ucap Alya lirih.
Kristal mengusap bahu Alya. "Kamu tenang saja, kalau begitu nanti aku bantu carikan kontrakan saja untuk mu tinggal."
"Ayo aku bantu kemasi barang-barang mu." Ajak Kristal.
"Aku harus pergi sekarang juga ?" Tanya Alya.
"Ah... Tidak juga. Hanya saja untuk mempersingkat waktu nanti jika saja keluarga besar kedua orang tuaku tiba-tiba sampai disini."
"Kamu kan baru pulang pasti lelah. Besok baru kita cari kontrakan untukmu." Ujar Kristal.
Mau tak mau sebisa mungkin Kristal harus mencari cara serta meyakinkan Alya agar temannya itu tak lagi tinggal di rumahnya. Secepatnya dirinya harus bergerak agar keluarganya tak mendapatkan masalah.
Bagi kalangan para pebisnis, siapa yang tak tahu Satya. Pebisnis yang cukup mumpuni dan masuk dalam jajaran posisi terpenting dan mendapat nomor urut tiga besar sebagai pengusaha tersukses dan berbakat.
Mengantisipasi adanya masalah yang bisa saja merembet kemana-mana. Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan. Susah payah Papa Kristal merangkak hingga bisa berdiri sendiri, tidak mungkin krostalo akan tega dan egois pada keluarganya sendiri. Bahkan menyangkut kenyamanan hidupnya sendiri.
Berganti hari, saatnya Kristal membawa Alya keluar dari rumahnya. Membantu kawan satu tongkrongannya itu mencari sebuah kontrakan. Tak hanya itu Kristal yang merasa kasihan sebagai seorang teman, dirinya juga membantu Alya menyewaku kontrakan itu selama tiga bulan dengan uangnya sendiri.
Alya hanya tinggal masuk dan menempati kontrakan tersebut. Cukup nyaman dan bersih meski sangat jauh dari kata mewah.
"Kris, yakin ini aku harus tinggal di tepat seperti ini ?" Tanya Alya mengamati satu rumah berukuran kecil yang ada dihadapannya.
"Al, maaf aku hanya bisa membantumu mendapat kontrak yang seperti ini. Kamu tahu sendiri jika menyewa apartemen itu sangat mahal dan aku tidak bisa membantumu."
"Ini nyaman kok Al, bersih juga jadi aku rasa tidak masalah lah untuk menempati nya dalam waktu yang cukup lama." Ujar Kristal.
"Bersih sih tapi apa tidak ada yang lebih luas lagi ?" Ucap Alya.
"Kamu punya uang ?" Tanya Kristal.
"Tidak juga sih, paling cuma untuk makan selama dua minggu saja sisa uang ku. Kamu tahu sendiri Daddy mencabut semua fasilitas yang pernah aku miliki."
"Ya sudah berarti tidak masalah kan tinggal disini. Ini layak Al daripada tidak punya tempat tinggal. Kamu mau nanti tidur di jalan atau emper toko. Menyandang seorang tunawisma."
"Amit-amit. Tentu saja tidak mau. Ini semua gara-gara wanita kampung itu yang membuat hidupku semakin sengsara seperti ini." Gerutu Alya.
Perempuan itu tetap tak menerima bagaimana takdir kehidupannya. Padahal semua itu bukanlah kesalahan Belva. Jika mencari siapa yang salah, tentu saja yang salah disini adalah kelakuan Sonia dan kelakjo dirinya sendiri.
Tak berpikir bahwa perbuatan buruk akan menuai keburukan dan perbuatan baik akan menuai segala kebaikan yang ditanamnya.
****
To Be Continue...
Hallo my dear para readers ku tersayang...
Terimakasih setiap hari author ucapkan buat kalian yang masih setia support. Meski kalian tahu bahwa alurnya memang lambat tapi kalian tetap sabar dan setia. Semoga segala kebaikan juga setia menghampiri kehidupan kalian. Amiinn 🙏🙏🙏
__ADS_1