Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 38. Anak Pengertian


__ADS_3

Hampir subuh, Bella menjaga Belva. Tak sadar gadis itu tertidur di samping ranjang Belva. Meski bukan keluarga kandung tapi Bella begitu menyayangi Belva dan juga keluarga mereka yang lain. Waktu yang telah dilewatinya tak sedikit bersama Belva kembali menutup matanya, dalam kelemahannya saat ini ia berharap mimpi itu tidak lagi menghampirinya. Bella tak lagi memikirkan mimpi yang dialami Belva, ia pikir itu wajar terjadi karena saat ini kondisi tubuh Belva yang sedang demam tinggi sehingga mempengaruhi alam bawah sadarnya.


Pagi menjelang, Bella terbangun dengan sendirinya. Dilihatnya jam digital milik Belva yang ada di atas nakas. Sudah hampir pukul tujuh, ia terlambat bangun tak seperti hari-hari biasa akibat menjaga Belva.


Diperiksa kembali kening Belva,asih terasa panas meski tak sepanas tadi malam. Maklum belum ada obat yang masuk ke dalam tubuh wanita itu saat demam terjadi. Tapi setidaknya mengompres dengan air tadi malam sudah cukup sedikit menurunkan demam.


"Sebaiknya aku segeralah bersiap." Gumam Bella setelah mengecek suhu tubuh Belva.


Keluar kamar Belva, Bella segera bersiap untuk berangkat ke butik. Banyak sekali pekerjaan yang sudah menumpuk dan harus segera diselesaikan. Ia masuk ke dalam kamarnya, kamar yang selama ini digunakannya jadi satu dengan kamar Duo Kay. Tugas yang sebelumnya sebagai pengasuh Duo Kay membuatnya harus tidur bersama kedua bocah itu. Bella tak keberatan karena bisa sekaligus menjaga bocah kembar itu.


Saat masuk ke dalam kamar, terlihat Kaili dan Kaila sudah asik berdua di atas ranjang mereka. Keduanya sibuk bermain game di gadget mereka masing-masing. Mereka belum mandi rupanya, tentu saja tidak asa yang membantu keduanya untuk mandi. Biasanya ketiga wanita dewasa yang ada di rumah itu yang membantu mempersiapkan Duo Kay. Tapi karena ibu si kembar sedang sakit dan dirinya yang terlambat bangun karena menjaga ibu si kembar membuat si kembar sedikit terabaikan. Budhe Rohimah pasti sibuk karena tak ada yang membantu.


Bella segera membersihkan diri terlebih dahulu baru setelahnya ia akan memandikan Duo Kay dan mempersiapkan segala kebutuhan sekolah Duo Kay.


"Kaili... Kaila.. ayo mandi, ini sudah siang nanti aunty antar kalian ke sekolah."


"Kaila mau mandi sama Mami dari tadi Kaila tunggu Mami." Ucap Kaila. Ternyata sedari tadi menunggu Belva.


"Sayang, Mami sedang istirahat karena tidak enak badan. Pagi ini mandi bersama aunty saja ya." Bujuk Bella.


"Mami sakit ? Sakit apa aunty ?" Tanya Kaili khawatir. Matanya sudah berkaca-kaca mendengar Maminya sakit.


Memang bocah laki-laki itu selalu sedih dan khawatir jika ada anggota keluarganya yang sakit.


"Demam sayang. Tapi kamu tenang saja nanti pasti sembuh mungkin karena Mami hanya kelelahan makanya demam."


"Aku tidak mau ke sekolah. Aku mau temani Mami." Ucap Kaili.


"Iya Kaila juga mau temani Mami."


Duo Kay selalu kompak jika berurusan dengan Belva. Mereka berdua sangat menyayangi orang tua mereka satu-satunya itu. Belva yang selalu ada untuk mereka selama ini. Begitu besar mencurahkan kasih sayang yang begitu tulus, kenyamanan mereka dapatkan dari Mami mereka.


Bella membujuk Duo Kay agar mau berangkat ke sekolah. Tapi keduanya tetap kekeuh untuk tak mau berangkat demi menemani Mami mereka. Bahkan mereka menangis memohon untuk diijinkan meliburkan diri.


Tak tega, ada perasaan haru juga yang dirasakan Bella dari sikap Duo Kay. Mereka begitu mengkhawatirkan kondisi ibu mereka. Lagi pula jika terus berdebat untuk membujuk Duo Kay maka waktu akan semakin siang. Pekerjaan di butik akan tertunda dan melenceng dari deadline mereka.


"Ya sudah aunty ijinkan. Tapi kalian harus mandi dulu baru kita sarapan. Ayo segeralah ini sudah siang aunty harus ke butik sayang."


"Terima kasih aunty." Ucap Kaili.


"Oke aunty." Ucap Kaila.


Bella hanya bisa memasang senyum lembutnya. Sifat dan karakter Duo Kay ia sudah paham. Dua bocah itu menurut pada Bella saat gadis itu membantu membersihkan dan mempersiapkan merek. Selesai dengan Duo Kay, Bella menyuruh si kembar untuk datang ke meja makan terlebih dahulu karena dirinya harus berganti baju dan bersiap terlebih dahulu sebelum sarapan.


"Loh cucu-cucunya Uti kok tidak pakai seragam ?" Tanya Budhe Rohimah.


"Kami tidak ke sekolah Uti." Jawab Kaila.


"Loh kenapa ?" Tanya Budhe Rohimah bingung.


Bukankah hari ini bukan tanggal merah dan ia juga tak mendengar jika sekolah Duo Kay sedang ada kegiatan yang meliburkan para muridnya.


"Pagi Budhe..." Sapa Bella yang baru saja menghampiri meja makan.


Gadis itu secepat kilat mempersiapkan diri, bahkan dandan pun tak sempat. Sudah siang tak ada waktu untuknya berpenampilan secara maksimal.


"Pagi Bella." Budhe Rohimah pun mengerutkan keningnya melihat penampilan Bella yang tak seperti biasanya.


"Loh kamu juga kenapa ini Nduk ?" Tanya Budhe Rohimah.


"Biasanya rapi dan segar penampilannya." Imbuh Budhe Rohimah.


"Budhe... Aku terlambat bangun. Maaf tidak membantumu memasak. Tadi malam aku menjaga kak Vanthe, dia sakit." Ucap Bella sembari menarik kursi meja makan.


"Sakit ? Sakit apa ? Bagaimana keadaannya ?" Tanya Budhe Rohimah khawatir.


"Demam... Tapi sudah mendingan meski masih panas. Tadi malam aku sudah mengompresnya."


"Ya ampun. Ya sudah kalian makan saja dulu biar Budhe lihat Belva dulu."


Bella mengangguk, ia mengambil sarapan untuk Duo Kay dan juga untuk dirinya. Saat ia sedang makan, ponselnya berbunyi. Pegawai butik yang sudah berangkat terlebih dahulu menghubungi mengenai masalah pekerjaan yang ada di butik.


"Aku tak bisa sendiri jika seperti itu. Bagaimana ya ?" Gumam Bella salam hati.


Pasalnya, ia harus keluar untuk mengurus kain yang sudah habis. Tapi ia juga ada janji temu dengan customer nanti. Jika sendirian maka pekerjaan hari pasti akan terbengkalai, belum lagi harus mengawasi bagian produksi. Ia melihat Budhe Rohimah datang kembali ke meja makan.


"Emm... Budhe... Aku sedang bingung saat ini." Ucap Bella mengeluarkan keluhannya.


"Bingung kenapa Nduk ?" Tanya Budhe Rohimah.


"Kak Vanthe sedang sakit. Otomatis aku yang harus menghandle butik. Tapi tadi ada pegawai yang mengatakan jika bahan kain habis jadi aku harus pergi keluar. Sedangkan butik tidak ada yang menjaga jika aku keluar, ada juga beberapa pekerjaan yang tidak bisa ku kerjakan sendiri."


"Coba minta pegawai untuk menggantikanmu saat kamu pergi nanti Nduk." Ucap Budhe Rohimah.


"Jangan." Tiba-tiba Belva sudah ada di belakang mereka tak jauh dari meja makan.


"Loh kak.." Ucap Bella terkejut.


"Nduk.. kamu kenapa keluar kamar ?" Tanya Budhe Rohimah.


Belva mendekati meja makan. Meski ia masih merasa pusing dan tubuhnya masih lemas. Ia berusaha keluar kamar untuk mengikuti sarapan pagi. Sebagai seorang ibu dan single parents ia harus kuat meski dalam keadaan sakit. Bagaimana kedua buah hatinya jika dirinya lemah.


"Aku ingin sarapan bersama kalian." Ucap Belva tersenyum lemah dengan wajah pucat.


"Tapi sepertinya kamu masih sangat lemah. Lebih baik kamu di kamar saja nanti biar Budhe ambilkan makanan." Ucap Budhe Rohimah.


"Tidak apa-apa Budhe." Ucap Belva masih terlihat sekali suara lirih dan lemah itu.


"Oh iya mengenai butik. Lebih baik jangan dulu memberikan pada pegawai. Anak-anak produksi pasti sangat sibuk. Sedangkan yang di depan mereka masih baru. Bukan bagaimana, tapi aku masih belum bisa percaya dengan orang baru."


"Bisakah Budhe membantu Bella di butik. Untuk menjaga dan mengawasi saja." Pinta Belva.


"Tapi kamu sedang sakit. Siapa yang menjaga kamu Nduk."


"Iya kak, siapa yang akan menjagamu." Bella mengimbuhi.


"Kami kan mau menemani Mami." Ucap Kaili yang di angguki oleh Kaila. Kedua bocah itu sedari tadi menyimak pembicaraan orang-orang dewasa itu.


Mereka semua melihat ke arah Kaili. Mana bisa meninggalkan Belva bersama kedua bocah kecil itu. Jika terjadi sesuatu bagaimana nanti, apa yang akan dilakukan oleh mereka nanti.


"Kaili benar, mereka yang menemaniku. Aku sudah tidak apa-apa. Nanti jika terjadi sesuatu aku akan segera menghubungimu atau Budhe." Belva mencoba meyakinkan.


"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Ini sudah siang sebaiknya kalian segera berangkat saja." Ucap Belva.


Apa yang diucapkan Belva benar, ini sudah semakin siang lagipula mereka juga tidak bisa menyerah kepercayaan pada orang lain yang tidak tepat bisa-bisa akan timbul masalah kembali nanti.


Akhirnya Bella berangkat bersama Budhe Rohimah ke butik. Belva di temani oleh Duo Kay, mereka mengunci pintu dari dalam. Semua orang dewasa yang berada di rumah itu memberiku pesan pada Duo Kay agar jika terjadi sesuatu segera menghubungi mereka melalui gadget mereka dan jangan membukakan pintu bagi siapapun jika bukan anggota keluarga.


Belva masuk kembali ke dalam kamarnya karena merasa tubuhnya yang masih tidak nyaman, kepala pusing dan juga lemas. Bella bahkan lupa belum memberikan obat penurun panas padanya. Jadi, ia memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Kaila dan Kaili menjaga Mami mereka di dalam kamar Belva. Mereka bedua duduk di atas ranjang Belva sembari bermain gadget. Kegiatan mereka sedikit terganggu dengan keadaan sang Mami yang tertidur dengan gelisah.


"Mami kenapa ?" Tanya Kaila tapi tak mendapatkan jawaban dari yang bersangkutan.


Kaili mengulurkan tangan kecilnya pada kening Belva. "Kening Mami panas Kaila."


"Kita kasih obat Mami, tapi obat apa ?" Tanya Kaila.


Dua bocah itu tampak berpikir, obat apa yang harus mereka berikan pada Belva. Mereka masih kecil jadi tidak paham berbagai macam obat.


"Kita kasih obat kita yang rasa jeruk itu saja Kaili. Kita cari di kotak obat." Ucap Kaila.

__ADS_1


"Jangan. Itu obat untuk anak kecil. Bagaimana kalau kita ke depan. Ayo ikut."


Kaili berjalan ke kamarnya, membuka laci meja belajarnya. Ia ingat di dalam laci itu masih menyimpan beberapa uang jajannya yang belum sempat dimasukkan ke dalam celengannya.


"Uang itu untuk apa ?" Tanya Kaila.


"Ayo ikut saja, kita ke toko depan itu Kaila yang banyak obat-obat."


"Oh papotik. Ayo." Ucap Kaila.


Mereka berdua keluar dengan sepeda kecil mereka yang terpasang dua roda samping di bagian belakangnya. Tak lupa mereka menggunakan helm kecil milik mereka. Mereka bahkan mengabaikan pesan para orang dewasa tadi pagi untuk tetap berada di rumah dan tak membuka pintu untuk orang lain. Setelah menutup pintu Kaila berdiri dibelakang dan berpegangan pada pundak Kaili. Bocah lelaki itu mengayuh sepedanya dengan susah payah karena membawa beban yang menurutnya cukup berat. Membonceng Kaila dibelakang rupanya cukup berat bagi Kaili terlebih kembarannya itu bobot tubuhnya lebih besar dari dirinya.


"Kaila kamu turun aku berat ini." Keluh Kaili.


Kaila turun dari pijakannya di atas sepeda kecil itu. Gadis kecil itu mendorong sepeda yang ditumpangi Kaili. Merasa ikut lelah karena harus mendorong Kaili, gadis kecil itu mulai menggerutu dan cemberut.


"Kaili aku capek." Keluh Kaila dengan bibir cemberut. Melihat kembarannya cemberut Kaili justru tertawa yamg semakin membuat Kaila lebih cemberut.


Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju apotek yang tak jauh dari rumah mereka. Keduanya menaiki sepeda menyusuri trotoar agar lebih aman pikir mereka.


Sampai di apotek mereka turun dari sepedanya. Tukang parkir apotek yang mengenal mereka pun menyapa dan bertanya kenapa bisa bermain-main sampai di apotek tanpa pengawasan. Duo Kay menceritakan jika mereka ingin membeli obat untuk Mami mereka. Beruntung tukang parkir itu adalah orang baik sehingga mendampingi mereka untuk membeli obat di dalam apotek.


"Ini obat kalian, nenek kalian mana ?" Tanya tukang parkir itu. Pria itu sering melihat keduanya bersama Budhe Rohimah bermain di taman bermain.


"Uti ? Uti jaga butik." Ucap Kaila jujur.


"Ya sudah kalian pulamg hati-hati. Lain kali jangan keluar sendiri seperti ini bahaya. Ayo Om antar sampai depan gang."


Tukang parkir itu memutuskan untuk mengantar mereka sampai depan gang jalan rumah mereka. Tak tega jika dua bocah itu berjalan sendiri di jalan yang cukup ramai ini. Dia membayangkan jika itu terjadi pada anak atau keponakannya tentu dia akan merasa khawatir.


"Terima kasih Om." Ucap Kaili sampai di gang mereka.


"Iya hati-hati. Om lihat dari sini, cepat jalan."


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan sepeda kecil mereka. Tukang parkir itu memperhatikan keduanya sembari menggelengkan kepala.


"Seharusnya anak sekecil itu jangan sampai keluar rumah sendirian bisa bahaya." Gumam tukang parkir dalam hati.


Beruntung Belva tingga di daerah yang masih saling perduli satu sama lain. Sehingga mereka masih dikelilingi orang-orang baik.


Duo Kay sampai di rumah, mereka kembali masuk ke rumah yang pintunya tak terkunci. Sepeda kecil itu digeletakkan di depan halaman mereka secara sembarang. Pintu pagarpun tak tertutup rapat oleh mereka.


"Ambil makanan dulu untuk Mami." Ucap Kaili.


Dua bocah itu bergotong royong menggeret kursi untuk mengambil piring dan gelas yang letaknya cukup tinggi dari tubuh mereka. Mengambil makanan yang masih ada di meja makan serta air minum yang tujuannya akan diberikan untuk Mami mereka.


"Aku bawa makannya kamu bawa airnya saja yang ringan." Ucap Kaili.


Keduanya berjalan dari dapur menuju kamar. Kaila membawa air minum dengan tumpah-tumpah karena ia mengambil cukup penuh. Masuk ke dalam kamar mereka masih melihat Mami mereka terpejam.


"Mami... Mami..." Kaila membangunkan Belva dengan mengguncang lengan Belva.


Merasa terganggu dengan guncangan itu Belva terbangun. Matanya menatap langit-langit tapi sedetik kemudian mengarahkan pandangan pada asal suara yang memanggilnya. Sudah pasti tahu siapa yang memanggilnya saat itu.


"Sayang, ada apa nak ?" Tanya Belva pada Kaila.


"Mami, bangun dulu. Kita bawakan Mami makanan dan obat." Jawab Kaila.


" Obat ? Obat apa sayang ?" Tanya Belva bingung.


"Obat panas. Kening Mami panas sekali jadi aku dan Kaili beli obat di papotik sana." Jawab Kaila dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah luar kamar.


Belva terkejut, matanya melebar. "Hah ? Kalian tadi keluar rumah ?" Tanya Belva.


Duo Kay mengangguk. "Iya Mi, beli obat buat Mami." Kaili ikut menjawab.


"Astaga ya ampun kenapa kalian keluar rumah tanpa Mami nak." Belva merasa bersalah, ingin sekali memarahi kedua anaknya tapi ia tak tega dan juga masih dalam keadaan lemas.


"Ayo Mami bangun makan dan minum obat." Ucap Kaili.


Kaili memberikan sepiring nasi yang cukup banyak untuk Belva. Ibu muda itu menatap isi dalam piring yang telah ada di salam tangannya.


"Astaga apa aku harus makan sebanyak ini." Gumam Belva dalam hati. Ia tersenyum dengan perhatian Duo Kay.


Ia makan perlahan meski lidahnya terasa pahit. Tubuhnya lemas dan kepalanya pusing tapi ia tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Duo Kay. Demi menghargai apa yang dilakukan oleh kedua anaknya yang begitu perhatian.


Bagian hidupnya mana lagi yang tidak ia syukuri saat ini ? Ia memiliki dua anak yang begitu pintar dan juga perhatian. Benar-benar Duo Kay menjadi kebanggaan untuknya. Pantas jika dua bocah itu adalah dunianya, mereka adalah separuh hidup Belva.


Tuhan memang selalu memberikan hal-hal yang tidak pernah kita duga. Kita bisa berencana tapi semua Tuhan yang memutuskan bagaimana jalan kehidupan kita. Rasa sakit, perih dan kesedihan yang pernah dirasakannya dulu kini berganti dengan rasa kebahagiaan yang tak pernah disangkanya.


Bagaimana hadirnya Duo Kay dulu ia memang sempat kecewa dan menyesalkannya. Tapi kini semuanya perlahan ia kubur dalam-dalam perasaan itu. Sudah bukan waktunya lagi mengenang hal menyedihkan itu. Ia sudah bersama orang-orang yang menyayanginya dan yang ia sayangi.


****


Pertemuan demi pertemuan dengan klien kini sedang dilakukan oleh Satya bersama dengan Jordi. Berjalannya waktu semakin banyak perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya. Tentu kerjasama itu selalu diseleksi oleh pemilik perusahaan besar itu dengan selektif.


Tidak ada kesalahan sedikitpun untuk menerima sebuah kerjasama. Salah langkah bisa saja rugi miliaran rupiah, kerjasama yang dilakukan dengan Bala Corp tidak main-main dalam menggelontorkan dana.


"Tuan, hari ini kita harus bertemu dengan Tuan Maxim untuk membahas kerjasama kita."


"Oke Jordi, jam berapa kita bertemu ?"


"Nanti sebelum makan siang, setelahnya kita kembali bertemu dengan Tuan Roichi."


"Baiklah. Atur saja." Ucap Satya yang keluar dari sebuah ruangan VIP dimana mereka baru saja melakukan pertemuan dengan klien.


Mereka berjalan menuju tempat parkir, kini mereka harus kembali ke kantor sebelum melakukan pertemuan selanjutnya dengan klien mereka kembali.


Ponsel Satya bergetar sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Nama Sonia terpampang jelas di layar ponselnya. Pria itu mendesah malas, ia menolak panggilan itu. Hingga beberapa kali panggilan masuk dari nomor yang sama membuatnya memilih mematikan ponselnya.


"Jordi, mampir ke restoran."


"Tuan belum makan tadi pagi ?" Tanya Jordi.


"Hmm... Beli kopi saja."


"Baik Tuan."


Masuk ke dalam mobil Jordi mengarahkan mobil ke restoran sesuai perintah Satya. Sedangkan bos-nya duduk di belakang sembari memegang tablet PC miliknya. Mengecek segala perkembangan perusahaan yang telah dikirim melalui emailnya, ia juga memantau saham perusahaannya yang terus merangkak naik setiap waktu.


"Sudah sampai Tuan."


Satya langsung mendongakkan kepalanya melihat sekeliling dari dalam mobil.


"Turunlah, belikan aku kopi." Ucap Satya.


"Baik Tuan, apa ada lagi ?" Tanya Satya.


"Tidak."


Jordi keluar dari mobil setelah perintah dari Satya tak ada lagi. Penampilannya cukup membuat orang-orang di sekelilingnya menatap kagum pada sosok asisten Satya itu. Tapi pria itu tak menghiraukan tatapan kagum dari mereka, ia sibuk bergumam sendiri.


"Jadi asisten pribadi bos besar ya sama saja jadi babu." Gumam Jordi dalam hati.


Saat melihat pria paruh baya menjual bubur ketan kacang hijau, Jordi membelokkan langkah kakinya menuju gerobak pria paruh baya itu.


"Permisi Pak. Bubur ketan kacang hijau nya masih ?" Tanya Jordi.


"Tuan silahkan masih Tuan. Anda mau beli berapa porsi Tuan ?" Tanya pria itu dengan ramah dan semangat.


Sedari tadi duduk menunggu pembeli, tentu saja bubur jualannya masih cukup banyak karena hanya beberapa pembeli saja yang mampir. Sudah beberapa hari penjualannya menurun setelah berpindah tempat.

__ADS_1


"Beli dua porsi Pak."


"Baik Tuan, ini kuah santannya mau dijadikan satu atau dipisahkan Tuan ?"


"Pisahkan saja."


"Ini bapak dagang sendiri atau menjualkan dagangan orang Pak ?" Tanya Jordi penasaran.


"Dagangan sendiri Tuan, sedari subuh mempersiapkannya baru pagi-pagi jam tujuh baru berangkat keliling."


"Kenapa tidak mangkal di satu tempat saja Pak ?" Tanya Jordi.


"Sebenarnya biasanya mangkal di taman Kenanga Tuan."


"Taman Kenanga ? Lalu kenapa bapak disini ? Ini cukup jauh dari taman Kenanga."


"Mau bagaimana lagi Tuan, disana sedang ada perbaikan jadi beberapa pedagang terpaksa pergi. Tapi nanti kalau sudah selesai saya akan balik lagi kesana. Lumayan disana sudah banyak pelanggan saya."


"Ini Tuan buburnya."


"Eh... Maaf Pak saya lupa. Kalau dibungkus bisa Pak ? Maaf kebablasan cerita." Jordi tersenyum kaku, dia merasa bersalah karena harus membuat penjual itu bekerja dua kali.


"Oalah... Iya tidak apa-apa Tuan." Penjual itu membungkus bubur pesanan Jordi.


Dari dalam mobil, Satya tak sengaja melihat Jordi berada di bawah pohon yang cukup rindang.


"Ck... Kenapa dia malah mengobrol disana. Bukannya beli kopi." Gerutu Satya.


"Jordi !!!" Panggil Satya cukup kencang hingga ada beberapa yang menoleh ke arahnya tapi pria itu tak perduli.


"Waduh gawat." Gumam Jordi saat menoleh ke sumber suara.


"Pak, ini uangnya saya tinggal sebentar ke dalam mau beli kopi dulu nanti saya ambil." Jordi memberikan uang satu lembar berwarna biru lalu pergi ke dalam restoran untuk membeli pesanan bos-nya.


"Astaga benar-benar. Bahkan jabatanku dengan bapak tadi lebih besar penjual bubur itu. Dia bahkan bisa menjadi bos meski penjual bubur sedangkan aku sama saja menjadi babu." Gumam Jordi dalam hati sembari melangkah dengan cepat ke dalam restoran.


Menunggu hampir sepuluh menit Jordi keluar dengan membawa dua cup kopi dengan paper bag tak lupa ia mengambil bubur yang telah dibelinya tadi. Buru-buru ia masuk kembali ke dalam mobil sebelum bos-nya kembali memuntahkan umpatan kepadanya.


"Kenapa pakai acara mengobrol tak penting."


"Maaf Tuan, tadi beli bubur dulu. Saya beli dua porsi satu untuk Tuan mengganjal perut sebelum makan siang."


Waktu saat ini memang sangat tanggung sekali untuk makan. Jika dikatakan sarapan waktu sudah melebihi tapi sebentar lagi juga akan tiba waktu makan siang.


"Buatmu saja. Mana kopiku."


Jordi memberikan satu cup kopi milik Satya. Pria bermata tajam itu langsung saja meminum kopi yang telah ditunggu sedari tadi.


"Kita ke kantor sekarang." Perintah Satya yang langsung dituruti oleh Jordi.


Dua puluh menit mereka sampai ke gedung dengan lantai bertingkat tinggi. Kedua pria tampan di usia yang tak lagi muda itu berjalan memasuki kantor dengan sapaan dari beberapa karyawan mereka. Seperti biasa Satya tak pernah membalas sapaan mereka berbeda dengan Jordi yang mengangguk dan sesekali tersenyum tipis.


Mereka memasuki sebuah kotak besar yang akan mengantarkan mereka ke lantai tujuan mereka yakni lantai teratas lantai dua puluh. Saat keluar dari lift Satya dan Jordi mendengar sedikit keributan.


"Ck... Awas saya mau masuk. Kamu kurang ajar sekali melarangku masuk ke ruangan suamiku sendiri."


"Maaf bukan seperti itu Nyonya tapi saya hanya menjalankan perintah saja dari bos."


"Satya dan saya sama saja. Aku istri bos mu !! Awas kamu minggir, saya bisa pecat kamu ya kalau kamu kurang ajar seperti ini."


Sonia sedari tadi ngotot untuk memasuki ruangan Satya. Tapi Grace sebagai sekertaris Satya yang telah mendapatkan mandat untuk melarang siapa saja masuk ke dalam ruangannya selama dirinya tak ada di tempat berusaha untuk melakukan sesuai perintah.


"Kamu tidak hak memecat karyawanku."


Suara bariton yang datar dan dingin itu terdengar dari arah belakang. Membuat Sonia dan juga Grace menghadap ke arahnya.


"Dad, kenapa tidak bisa ? Dia tidak sopan terhadapku, istrimu sendiri." Ucap Sonia.


"Dia melakukan tugasnya sesuai perintahku." Ucap Satya.


Sikap Satya berubah dingin dan datar seperti biasa tidak ada lagi kelembutan sama seperti tadi malam saat keduanya melepaskan kerinduan akan sebuah sentuhan. Hal itu dipicu oleh sikap Sonia sendiri yang mematahkan sikap lembut Satya.


Flashback On


Setelah pergulatan panas hingga tengah malam yang membuat kedua manusia itu menikmati kepuasan dannjuga keromantisan dalam berumah tangga. Sonia dan Satya berbaring dengan saling memeluk satu sama lain. Sonia bersandar pada dada Satya sedangkan lengan Satya menjadi bantal bagi Sonia. Tak lupa tangan kekar itu mengusap lembut punggung polos istrinya.


Mereka masih terjaga, mengatur napas yang masih berlomba-lomba meraih oksigen. Satya menunggu hingga keringat kembali menyusut sembari menikmati suasana menyenangkan malam ini, barulah dia akan membersihkan tubuhnya kembali. Dalam hati Satya berharap bisa merasakan rumah tangga yang seperti dia rasakan saat ini.


"Sayang." Panggil Sonia manja. Jarinya menyentuh dada Satya yang masih licin dengan keringat.


"Hmm..." Satya merespon.


"Tanganmu menggodaku hmm ?" Tanya Satya dengan nada lembut.


"Kenapa apa kamu merasa seperti itu ?" Tanya Sonia.


"Ya... Aku bisa menyerangmu kembali. Kamu tak lelah ?"


"Untukmu tak masalah sayang."


"Masih kuat ?" Tanya Satya.


"Tentu, asal ada syaratnya."


"Katakan." Ucap Satya.


"Sayang, dua hari lagi aku akan ke Belanda bersama teman-temanku. Kamu tahu kan maksudku." Ucap Sonia merayu Satya.


"Kamu butuh uang ? Berapa harus kutransfer ?"


Satya sudah paham dengan maksud Sonia. Kini perasaannya berubah kesal, baru saja menikmati romantisnya dalam hubungan. Kenapa Sonia merusak segalanya, dia merasa seperti membayar orang lain untuk merasakan apa yang ingin diharapkannya.


"Seperti biasa sayang." Ucap Sonia dengan tersenyum manis.


"Baiklah." Satya melepaskan pelukannya pada Sonia. Perasaannya sudah kembali berantakan.


Pria itu beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menatap Sonia.


"Sayang, mau ke mana. Kita masih akan lanjut ?"


"Tidurlah. Aku lelah." Jawab Satya kembali dengan nada datar dan dinginnya.


Sonia yang memang merasa lelah ia memioih beristirahat saja. Bahkan ia tak melihat perubahan sikap Satya, yang dipikirkannya adalah ia berhasil merayu Satya untuk memberikan uang padanya.


Di dalam kamar mandi Satya dengan perasaan kesal dan emosi memukul dinding. Tangannya terlihat memerah akibat luapan kekesalannya. Guyuran air dingin membuatnya dapat sedikit meredakan emosi.


Selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi tampaknya Sonia sudah tertidur pulas. Satya menatap datar pada istrinya sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil dan digunakannya.


Kini pria itu baru terasa jika perutnya terasa lapar. Turun ke dapur untuk mencari makanan.


"Aku sudah seperti menyewa wanita malam saja." Satya menggerutu kesal sembari membuka kulkas di dapur yang sudah tampak sepi sekali.


Flashback off


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.

__ADS_1


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2