
"Pasien kritis akibat pendarahan yang cukup banyak dan juga kondisi tubuhnya yang tidak dalam keadaan fit." Ucap dokter menjawab pertanyaan Jack.
"Lalu bayinya?" Tanya Jack kembali.
"Bayinya pun sama tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Beberapa organ dalam belum berkembang dengan sempurna, kita akan terus memantau keadaan bayinya. Kita berdoa saja semoga ibu dan bayinya bisa melewati semua ini."
Saat mendengar penjelasan mengenai bayi Alya ada perasaan sakit yang tiba-tiba menyelinap dalam hati Jack. Pria itu terdiam tak tahu lagi harus berkata apa cukup merasakan perasaan yang tak mampu dia mengerti saat ini. Jack masih syok atas pengakuan Alya bahwa wanita itu mengandung anaknya.
"Dokter, lakukan saja apa yang dilakukan untuk mereka. Kami percayakan semuanya pada team medis." Ucap Noella.
Dokter mengangguk, "Kami akan melakukan yang terbaik dan sebisa kami. Tapi tetap saja semua tergantung kehendak dari yang di atas kita hanya bisa berusaha dan berdoa."
Noella mengangguk, "Apa kami sudah bisa melihat bayinya?" Tanya Noella.
"Mohon tunggu sebentar suster akan memindahkan bayinya ke ruangan khusus untuk perawatannya."
"Baik dokter, kami permisi." Pamit Noella.
"Terimakasih dok." Ucap Jack.
"Baik sama-sama, silahkan."
Pasangan suami istri itu kini sudah keluar dari ruangan dokter. Mereka kembali menuju depan ruangan dimana Alya dioperasi. Tak lama para suster memindahkan Alya dan juga bayinya ke ruangan perawatan. Ruangan antara Alya dan juga bayinya terpisah, bayi itu dimasukkan ke ruangan khusus bayi dan harus masuk ke dalam inkubator.
Jack dan Noella lebih memilih untuk mengikuti bayi Alya, memastikan bayi itu sudah ditangani dengan baik oleh para suster. Setelah memastikan mereka baru mengunjungi ruang rawat Alya. Mereka tak masuk hanya menatap Alya dari jendela kaca saja. Wajah yang dulu terlihat bersih dan terawat itu kini berganti dengan wajah pucat tak memiliki gairah hidup. Alya terpejam tak sadarkan diri berbaring di ranjang rumah sakit. Ini adalah kali kedua Alya harus menginap di rumah sakit.
Setelah segala kelakuan yang wanita itu lakukan, wanita itu benar-benar selalu tertimpa kesialan dan kesedihan. Tidak ada lagi kebahagiaan dalam hidup wanita itu seperti dulu yang bebas bermain dan bersenang-senang.
Dering telepon berbunyi saat Noella masih memperhatikan Alya dari luar ruangan. Sang ibu mertua menghubungi dirinya, ia lupa jika sudah ada janji temu dengan sang mertua. Tidak bisa berlama-lama setelah menerima panggilan dari mertuanya maka Noella memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu dan akan kembali nanti.
"Mamamu sudah menghubungi. Ayo." Ajak Noella dengan nada yang sudah berbeda dari biasanya. Tidak ada kehangatan dan kelembutan lagi, hatinya masih merasakan kekecewaan dan entah kapan rasa itu akan tersamarkan.
Jack terdiam hatinya sedih saat sang istri bersikap berbeda padanya. Jack hanya bisa mengikuti langkah kaki istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu. Di dalam mobil mereka tak mengeluarkan suara, Noella masih merasa kecewa pada Jack sedangkan Jack belum berani membuka suaranya saat ini.
Dulu saat mereka menjalin hubungan memang dari masing-masing membebaskan diri untuk pergi bersama siapapun. Noella membebaskan Jack memiliki kekasih dengan catatan bisa menjaga janji untuk tak menghamili wanita manapun sebelum menikah. Apabila dari mereka masing-masing sudah tak cocok lagi dalam hubungan mereka maka mereka tidak akan saling menuntut untuk tetap bersama. Begitulah hubungan mereka yang tak terikat saat berpacaran. Sebuah resiko memang tapi tetap saja hati Noella kecewa karena Jack melanggar janjinya sendiri.
***
Satya masih mengumpat kesal karena sudah hampri tiga puluh menit dirinya terjebak macet. Pikirannya sudah semakin tak tenang, takut sekali jika Belva dan anak-anaknya pergi hanya karena kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"Siyal... Kenapa dari tadi tidak selesai-selesai ini macet." Satya menggerutu.
Dalam pikirannya hanya tertuju Belva dan kedua anaknya saja, dia tak terpikirkan untuk memikirkan hal lain lagi.
Hingga empat puluh menit berlalu baru Satya bisa terlepas dari jebakan macet yang tidak diinginkan nya dalam keadaan genting seperti saat ini. Satya menancap gas dengan kecepatan tinggi agar sampai ke bandara lebih cepat. Waktu yang dimilikinya sudah sangat mepet sekali, dia tahu ini sudah terlambat tapi Satya tetap berharap akan ada keberuntungan berpihak padanya.
Sampai di bandara Satya langsung memarkirkan mobilnya dan turun dengan tergesa-gesa. Masuk ke area dalam bandara yang masih terlihat ramai dengan para pengunjung bandara. Manik mata Satya sudah jelalatan kemana-mana memindai keberadaan istri dan anak-anaknya. Bahkan sesekali tubuhnya tak sengaja menabrak orang lain hanya ada kata maaf dengan nada datar saja.
Khawatir, takut dan panik Satya terus menengok kanan kiri mencari keberadaan orang-orang tersayang nya. Tepat pandangannya di depan pintu chek in Satya melihat istri dan anak-anaknya berdiri bersama mertuanya. Dengan langkah seribu Satya menghampiri mereka, napasnya terengah-engah sedari tadi berjalan mondar-mandir.
"Sayang." Panggil Satya dengan napas seperti sehabis lari maraton.
Semua menoleh ke arah Satya dengan tatapan bermacam-macam.
"Daddy!!" Panggil Kaila dan Kaili.
Senyum bercampur lelah terlihat dari wajah Satya, hatinya merasa lega masih bisa menemukan istri dan anaknya. Rasa kesal akibat Belva tak meminta ijin untuk pemotretan kedua anaknya yang sempat menghampirinya tadi tiba-tiba menguap begitu saja.
Belva menatap datar pada Satya, rasa kecewa dan emosinya masih saja setia menempel pada hatinya. Tapi dihadapan kedua orang tuanya dan juga Bella, ia tutupi agar mereka tak mengetahui permasalahan rumah tangga mereka.
"Satya, kenapa baru datang?" Tanya Nyonya Hector.
"Ma, Satya orang yang penting di perusahaannya tentu saja dia pasti sibuk." Ucap Tuan Hector yang memahami posisi Satya sebagai pemilik perusahaan besar sama seperti dirinya.
Sedangkan Satya merasa terselamatkan oleh ucapan Papa mertuanya. Pria itu sudah bersiap membuka mulut tapi masih bingung harus menjawab apa.
"Iya Ma, maaf baru datang." Ucap Satya.
Fokus Satya menatap pada istrinya yang hanya diam saja.
"Sayang, mas..."
Tiba-tiba suara pengumuman terdengar, pemberitahuan yang ditujukan kepada seluruh penumpang pesawat dengan tujuan ke Paris. Tuan dan Nyonya Hector otomatis langsung berpamitan sebelum mereka pergi.
"Sayang, Mama dan Papa berangkat dulu, kalian jaga diri baik-baik." Nyonya Hector memeluk Belva dengan erat. Rasanya masih ingin berlama-lama di Indonesia tapi butiknya dan juga perusahaan suaminya masih membutuhkan merek meski diusia tua mereka, keduanya masih aktif dalam bisnis mereka.
"Mama, hati-hati ya, kami pasti merindukan kalian. Mama jangan lupa jaga kesehatan." Belva membalas pelukan Mama angkatnya.
Keduanya berpelukan dengan penuh kasih sayang yang sama-sama tak rela sejujurnya jika harus berpisah kembali.
Satya mengerutkan keningnya melihat istri dan mertuanya yang saling berpelukan.
Beralih dari Nyonya Hector, Belva memeluk Papa nya dengan pesan yang sama agar Papanya itu menjaga kesehatan.
"Papa, akan sering-sering menghubungi kalian. Terutama cucu Papa, Papa pasti merindukan mereka." Ucap Tuan Hector saat memeluk Belva.
"Iya Pa, kami juga pasti merindukan kalian disana nanti. Papa jangan terlalu lelah bekerja, ingat kondisi Papa." Balas Belva.
"Iya sayang terimakasih sudah mengingatkan Papa."
Nyonya Hector kini berganti memeluk Bella. "Mama berangkat, sayang. Jaga diri baik-baik jika terjadi sesuatu pada kakakmu segera beritahu Mama."
__ADS_1
"Beres Ma, nanti Bella akan selalu kasih kabar buat Mama. Mama juga jaga kesehatan." Ucap Bella.
Pelukan diantara orang tua dan anak itu telah usai dengan saling bergantian.
"Satya, jaga anak dan cucu-cucu Papa. Awas jangan sampai lecet atau terluka sedikitpun." Ucap Tuan Hector memberikan perintah sebagaimana Satya yang selalu memerintah karyawannya.
"Jangan buat istri mu menangis. Mama punya mata-mata buat mengawasi kalian. Jangan sakiti anak Mama, Satya." Ucap Nyonya Hector menimpali.
Kedua orang tua paruh baya itu begitu menyayangi putri angkatnya, mereka tak ingin melihat putri mereka yang paling mereka sayangi merasa terluka dan sedih karena mereka tahu bagaimana kehidupan Belva saat mereka temukan dulu yang sangat miris dan menyedihkan.
"Ah iya Ma... Pa... Tentu... tentu saja saya pasti menjaga mereka dangan baik." Ucap Satya sedikit kaku pasalnya mereka tengah bermasalah saat ini.
Nyonya Hector memeluk Satya sebelum pergi, ia tak membedakan antara anak dan menantu. Begitu pula Tuan Hector memeluk Satya sekilas pelukan khas laki-laki.
"Ingat pesan Papa, jaga istri dan anak-anakmu." Pesan Tuan Hector ubthk terakhir kalinya dengan sebuah tepukan di bahu Satya.
Satya menangguk, Tuan dan Nyonya Hector beralih memeluk kedua cucunya dengan erat.
"Oma... Opa... Hati-hati ya, Kaila sayang Oma dan Opa." Ucap gadis kecil nan cantik.
"Iya sayang, jangan nakal, menurut sama Mami dan Daddy serta rajin belajar. Oke." Ucap Nyonya Hector. Kaila mengangguk semangat.
"Hati-hati Opa Oma, Kaili juga sayang kalian." Ucap Kaili.
"Cucuk tanpan Opa, andalan Opa. Jangan nakal ya." Ucap Tuan Hector pada Kaili.
"Siap Opa." Kaili menunjukan jempolnya.
Nyonya Hector mengusap lembut kepala Kaili dan Kaila.
"Kami pergi." Ucap Tuan Hector menggandeng tangan istrinya.
Mereka meski sudah berusia tak muda lagi tapi cinta keduanya masih tetap terjaga. Saling menyayangi dan menerima kekurangan satu sama lain.
Belva dan yang lain melambaikan tangan pada dua paruh baya itu hingga keduanya tak lagi terlihat di pandangan mata mereka.
"Bella, ayo kita pulang." Ajak Belva pada Bella.
Belva menggandeng tangan kedua anaknya. Satya merasa lega saat ini karena pikirannya yang sempat kacau karena berpikiran jika Belva akan pergi darinya. Bukan tanpa alasan Satya merasa ketakutan jika Belva pergi darinya bersama mertuanya. Mengingat bahwa sebelum menikah Tuan Hector sempat memberikan peringatan yang tak main-main pada Satya.
Flashback On
Saat Satya dan Tuan Hector pergi bersama untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk Belva, dalam oerjakan terjadilah perbincangan diantara kedua pria berbeda generasi.
"Kamu yakin akan memperistri putriku?"
Satya menatap Tuan Hector, keyakinan nya sangat tinggi dengan suara yang lantang dan tegas Satya menjawab pertanyaan Tuan Hector.
Senyum tipis tersungging dari bibir pria paruh baya. Manik matanya menatap ke depan menerawang jauh jalanan.
"Baiklah, aku memang mengijinkan mu menikahinya tapi kamu harus ingat dan berjanji bahwa tidak akan menyia-nyiakan putriku."
"Itu tidak akan terjadi." Ucap Satya.
"Bagus. Jika itu terjadi suatu saat nanti Papa melihatnya menangis karena ulahmu maka bersiaplah Papa akan membawa Vanthe dan kedua cucu Papa pergi jauh dari mu. Kamu jangan harap Papa akan mengijinkan mu untuk bertemu dengan mereka walau hanya sebentar saja."
Ucapan Tuan Hector sontak saja membuat Satya langsung menoleh menatap pria paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Meski belum sepenuhnya tahu siapa pria paruh baya itu sebenarnya tapi feeling Satya mengatakan jika lawannya cukup tangguh.
Flashback Off.
Sejak peringatan yang diberikan oleh sang mertua itulah yang membuat Satya merasa khawatir jika sampai hal itu terjadi.
Belva sudah berlalu bersama Bella dan juga Duo Kay saat dirinya melamun. Dengan langkah cepat Satya menyusul mereka yang berjalan menuju tempat parkir.
Sopir keluarga Hector sudah membukakan pintu untuk majikannya. Satya tak ingin kehilangan kesempatan untuk pulang bersama istri dan anaknya.
"Bella, Belva dan anak-anak pulang bersama saya." Ujar Satya.
"Tidak, anak-anak ingin pulang bersama aunty Bella kan sayang?" Ucap Belva mencari dukungan.
Bella mengerutkan keningnya melihat pemandangan yang sedikit aneh pada Belva dan Satya.
"Kak, kalian apakah sedang terjadi sesuatu?" Tanya Bella.
"Hah? Tidak Bella. Sesuatu apa maksud mu?" Belva berkilah.
"Tapi kalian terlihat sedikit aneh." Ucap Bella.
Belva menghela napas, "Tidak terjadi apapun Bella. Ya sudah kamu pulang bersama anak-anak biar aku pulang bersama Daddy mereka."
Demi menghindari pemikiran yang macam-macam dari Bella maka Belva terpaksa pulang bersama Satya. Ia tak ingin permasalahan rumah tangganya menjadi pengetahuan banyak orang. Masalah mereka biarlah mereka yang menghadapi.
Satya cukup bernapa lega kembali saat Belva bersedia iku pulang bersamanya meski tanpa anak-anak mereka. Pria itu tersenyum tipis.
"Sayang, kalian pulang bersama aunty, Mami pulang dengan Daddy." Ujar Belva.
"Oke Mi." Jawab Kaili.
Kedua bocah itu masuk ke dalam mobil bersama Bella.
"Hati-hati jagoan dan princess nya Daddy." Ucap Satya melambaikan tangan pada kedua anaknya.
__ADS_1
"Pak, hati-hati setir mobilnya." Pesan Satya pada sopir keluarga Hector. Sopir itu mengangguk patuh.
Satya dan Belva menunggu mobil yang ditumpangi Bella dan anak-anak nya melaju lebih dulu.
Satya meraih tangan sang istri, "Ayo sayang."
"Lepas. Tidak usah pegang-pegang." Gandengan Satya dihempaskan begitu saja oleh Belva.
Dengan setengah hati Belva berjalan menuju mobil Satya dan membuka pintu mobil suaminya dan duduk di depan samping kemudi. Satya hanya bisa menghela napas pasrah akan kemarahan sang istri.
Satya menyusul Belva yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Dia mulai menyalakan mobilnya dan mulai bergerak meninggalkan bandara.
"Sayang, mas kira kamu akan pergi bersama anak-anak ikut dengan Papa dan Mama."
"Kenapa? Kalau aku pergi kamu bisa bebaskan mesra-mesraan dengan wanita itu." Ucap Belva sinis.
Salah paham kembali terjadi, bukan itu yang Satya maksud tapi Belva sudah berburuk sangka terlebih dahulu karena fakta yang sudah dilihatnya secara langsung.
"Bukan begitu, sayang. Mas justru khawatir dan takut jika kamu benar-benar pergi. Mas tidak bisa jika kamu dan anak-anak pergi meninggalkan mas."
"Heleh... Sudahlah tidak usah bermulut manis. Aku muak dengan laki-laki yang bermulut manis." Ucapan Belva begitu menusuk hati Satya. Pria itu merasa sakit saat istrinya berbicara seperti itu.
Satya tak lagi berbicara, dia lebih memilih diam karena jujur saja hati dan pikirannya kacau. Istrinya terlihat sangat marah padanya meski tak meluapkannya dengan cara yang berkobar-kobar marah-marah tak karuan dan mencak-mencak dihadapannya. Justru Belva terkesan menjaga jarak dan berbicara seperlunya saja.
Sadara bahwa saat ini sedang berada dalam perjalan dan jika diriny terus berbicara maka yang ada akan menimbulkan pertengkaran di dalam mobil dan itu sangat berbahaya bagi mereka. Satya pun tipe pria yang tidak suka ribut berdebat dengan istrinya, sejak dulu saat bersama mantan istrinya Satya akan lebih memilih diam atau pergi daripada berdebat adu mulut untuk membahas permasalahan mereka.
"Aku tidak mau pulang ke rumah mu. Aku mau tidur di rumah Mama." Ucap Belva setelah beberapa menit mereka saling diam.
Satya hanya mengangguk meski Belva tak melihatnya. Niat awal membawa Belva pulang ke rumah mereka tapi demi meminimalisir permasalahan mereka maka Satya mengalah. Dia tahu dirinyalah yang salah saat ini atas kesalah pahaman dikantor siang tadi.
Sampai di rumah Tuan Hector, Belva langsu masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Satya. Bella sudah pulang ke rumah minimalis Belva karena Budhe Rohimah pasti sudah menunggu sendiri di rumah.
"Mbak, tolong urus anak-anak dulu. Saya dan istri ada keperluan sebentar." Ucap Satya meminta pada asisten rumah tangga Tuan Hector.
"Baik Tuan." Ucap asisten rumah tangga itu dengan patuh.
Satya naik ke lantai dua menyusul sang istri, dibukanya pintu kamar Belva yang tidak terkunci. Terlihat Belva sedang berjalan memasuki kamar mandi dan menutup pintu dengan sedikit keras karena merasa kesal pada suaminya. Satya menunggu hingga istrinya keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kita harus bicara." Ucap Satya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, aku mengantuk." Tolak Belva.
"Ayolah Mam, please. Kita tidak bisa membiarkan kesalah pahaman ini berlarut-larut."
"Salah paham apanya? Aku melihat mu melakukan hal menjijikan itu dengan mata kepalaku sendiri. Kamu bilang itu salah paham huh?!" Belva mulai kesal membahas hal itu karena dirinya otomatis mengingat dengan jelas apa yang dilihatnya tadi siang.
"Semua orang yang berselingkuh pasti akan membela diri dengan mengatakan itu salah paham lah, salah lihat lah. Kamu pikir aku buta, kamu pikir aku bodoh huh? Jangan mentang-mentang aku berusia jauh dibawah kamu lalu kamu membodohi aku seperti anak TK." Belva berujar dengan nada yang sedikit meninggi.
"Aku mau tidur, lebih baik kamu keluar." Usir Belva pada Satya.
Mendengar dirinya di usir oleh istrinya tentu membuat Satya tak terima.
"Kamu mengusir saya? Saya suami kamu Belva."
"Suami yang berselingkuh maksud kamu?" Balas Belva.
"Belva, jangan keterlaluan kamu. Saya tidak berselingkuh, kamu salah paham."
"Stop mengatakan itu salah paham jika pada kenyataannya semua itu memang sudah terjadi di depan mata kepala ku."
"Mam..." Panggil Satya.
"Keluar." Usir Belva.
"Aku tidak mau tidur dengan mu. Keluar atau aku yang keluar dari kamar ini." Ancam Belva.
"Mam, tidak bisa begini dong. Daddy tidak bersalah."
"Salah atau tidak yang jelas kamu tetap salah, berciuman dengan wanita lain bermesraan di belakang istri kamu apakah itu benar?"
"Kenapa tidak mau mendengarkan Daddy dulu." Ucap Satya kesal istrinya tak mau mendengar nya.
"Dad, Mami lelah, Mami mengantuk. Daddy keluar atau Mami yang keluar." Ujar Belva.
Belva bersiap untuk keluar kamarnya tapi Satya tidak mengijinkan hal itu terjadi.
"Oke, Daddy keluar." Ujar Satya.
Pria itu memilih keluar dari kamar, dia tidak ingin istrinya tidur di luar kamar. Satya memilih masuk ke dalam kamar anak-anaknya, terlihat Duo Kay sudah tertidur karena lelah melakukan aktivitas yang padat untuk anak seusia mereka.
Hingga tengah malam Satya memilih kembali ke rumahnya dan Belva. Satya meninggalkan anak dan istrinya di kediaman mertuanya. Pria itu membiarkan sang istri untuk menenangkan diri hingga saatnya nanti mereka harus benar-benar membicarakan semuanya dengan baik-baik dan kepala dingin.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih buat kalian yang masih setia support author β€οΈπ
Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan karya author. Jujur ya author masih belajar buat nulis, coba-coba untuk mengungkap kehaluan author karena kadang kalau baca cerita di novel lain suka kurang sesuai sama alur yang author mau jadi author mencoba untuk membuat alur cerita dengan menulis seperti ini. Dan menulis itu ternyata tidak segampang membacanya teman-teman. Maaf jika karya author tergolong tidak bermutu bagi sebagian kalian yang membaca. Mohon maaf banget nih mau dikata baper juga boleh karena ketika baca komen yg sprti itu rasanya kaya jadi agak drop gt sih π. Kalau komennya nylekit ke tokoh nya sih author biasa saja karena author pikir kalian bisa mengikuti alur cerita tp klo ada yg bilang novel aku gk bermutu ya mohon maaf bisa langsung stop baca aja gpp βοΈ dan boleh lah ya bikin karya sendiri yang lebih bermutu menurut kalian. Btw terimakasih kritik dan sarannya teman-teman.
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih banyak buat yang masih setia support dan menghargai karya receh saya. Jujur author bisa berusaha up tiap hari itu karena kalian yang masih setia buat baca meski malamΒ² author up karena sibuk kerja juga sedikit waktu luang buat sambungin cerita. Sehat selalu buat kalian ππ