
Na*psu makan pria beranak dua itu hari ini meningkat drastis seperti orang kelaparan yang tidak pernah menyentuh makanan beberapa hari dan ketika bertemu dengan makanan dia seperti orang kesetanan. Rasa pedas yang menyerang lidahnya pun tak dihiraukan. Beberapa kali Satya mengambil nasi kembali hanya untuk menghabiskan ayam geprek yang masih tersisa.
"Mas, cukup deh nanti perut kamu sakit. Lihat itu wajah kamu berkeringat sampai meler-meler begitu hidungnya."
"Sebentar, yank. Tanggung tinggal sedikit lagi."
Makanan masih tersisa beberapa suap di piring Satya, pria itu fokus pada makanannya sedangkan Belva ikut mencicipi sedikit jus alpukat yang telah diminum setengahnya oleh Satya. Jordi yang sedari tadi pusing berputar-putar mencari penjual rujak kini sudah kembali dengan sekatong plastik kecil berisi makanan pesanan Satya.
"Permisi, Tuan. Ini rujaknya saya sudah dapat." Ucap Jordi.
Dia mengetahui Satya berada di ruang makan dari Janis yang sedang berada di depan mengantar kopi untuk Pak Jajak dan Pak Amin, satpam baru Satya.
Sepasang suami istri itu langsung menoleh ke arah Jordi. Sedangkan Jordi sedikit menganga saat melihat bos-nya tengah makan di meja makan dengan menggunakan tangan kosong tanpa sendok maupun garpu.
"Itu Tuan Satya? Aku tidak salah lihat kan?" Batin Jordi melihat bos-nya.
"Jordi, kamu kenapa?" Tanya Satya membuyarkan lamunan Jordi.
"Eh... Tidak Tuan. Ini rujaknya di taruh di mana Tuan?"
"Letakkan saja di meja." Jawab Satya lalu kembali menghabiskan makanannya.
"Biar aku simpan saja di kulkas, Om." Ucap Belva pada Jordi.
Jordi sedikit mengerutkan keningnya mendengarkan Belva memanggil dirinya Om sebab ini adalah pertama kalinya Belva memanggilnya dengan panggilan itu.
"Biasakan dirimu jangan kaget, saya lebih suka istri saya memanggil mu seperti itu daripada memanggil mu dengan sebutan Tuan. Kami bukan majikan istri saya." Ucap Satya yang sempat melihat ekspresi Jordi yang sedikit aneh saat mendengar Belva memanggil jordir dengan sebutan Om.
"Ah iya... Iya baik, Tuan."
"Ini Nyonya rujak Tuan Satya." Jordi hendak memberikan sekatong plastik itu pada Belva tapi diurungkannya.
"Jangan di masukkan ke dalam kulkas, yank. Mas mau memakannya setelah ini." Ucap Satya.
"Mas, kamu baru saja makan,.apa perutmu masih muat? Kamu sudah makan hampir tiga piring."
Lagi-lagi Jordi melongo, Satya makan begitu banyak. Porsi makan Satya tidak seperti biasanya.
"Tapi mas mau memakannya setelah ini." Kekeuh Satya yang memang menginginkan rujak.
Belva mengalah lagi, paham dengan bagaimana keinginan Satya yang tengah mengalami kehamilan simpatik.
"Ya sudah taruh di sini saja, Om. Oh iya Om Jordi sudah makan?"
"Belum, Nyonya."
"Ikut makan ya sekalian saja. Mau aku ambilkan?" Tanya Belva.
Pertanyaan Belva langsung mendapatkan tatapan tajam dari Satya. Tak rela jika istrinya ikut melayani makan sang asisten.
"Biar Mbok Yati atau yang lain saja, sayang yang mengambilkan nya makan." Ujar Satya pada suapan terakhir nya.
"Tidak usah Tuan... Nyonya... Nanti saya makan di luar saja." Ujar Jordi yang merasa tidak enak pada bos-nya.
"Om, makan di sini saja sama saja kan daripada makan di luar. Duduklah."
"Tapi saya bisa makan di luar saja, Nyonya."
"Duduklah, Jordi jangan membantah perintah istri saya." Titah Satya.
Mau tak mau Jordi mengikuti perintah Satya dan Belva. Dia duduk di samping Satya dengan sedikit ragu.
"Saya boleh duduk di sini, Tuan?" Tanha Jordi.
"Hem duduklah."
"Sebentar ya, aku tinggal ke belakang dulu." Ucap Belva yang membawa sekantong plastik berisi rujak tadi.
Belva ingin menyiapkan rujak itu untuk sang suami yang tengah mengidam menggantikan dirinya yang tak merasakan apapun saat masa kehamilan kali ini. Sekaligus Belva meminta tolong pada Mbok Yati untuk menyiapkan makanan untuk Jordi mengingat Satya tak mengijinkannya menyiapkan makanan bagi asisten suaminya.
Mbok Yati telah menyiapkan makanan untuk Jordi, sedangkan Satya sudah selesai makan. Satu piring rujak yang telah dipindahkan Belva dari mika ke piring kini menjadi pencuci mulut bagi Satya.
"Mau mencicipi?" Tanya Satya pada Belva. Jangan lupakan saat berbicara pada Belva nada suara Satya selalu terdengar lembut.
Menggunakan sendok garpu kecil Satya menyodorkan potongan buah mangga yang telah dicocolkan ke dalam sambal rujak ke arah bibir Belva. Ketika mencium aroma sambal rujak pun membuat selera makan Belva tergugah, diterimanya suapan potongan mangga itu saat masuk ke dalam mulutnya, mata Belva sedikit menyipit merasakannya.
"Hahh... Mas, ini pedas sekali. Mas yakin? Tadi baru saja makan ayam geprek."
Belva merasa kepedasan, ia mengipasi mulutnya yang terasa panas. Satya segera mengambil air putih miliknya dan diberikan pada sang istri.
"Maaf, sayang mas lupa. Ini minum dulu."
"Mas, nanti kamu sakit perut bagaimana?"
"Tidak, tenang saja. Kamu kalau mau makan buahnya saja, yank tidak usah dengan sambalnya."
Saat makan Jordi harus mengunyah makanan dengan menikmati pemandangan mesra dari bos-nya. Hal yang tak pernah Jordi lihat saat Satya bersama dengan mantan istri Satya dulu yakni Sonia.
"Kalau seperti ini salah set namanya, seharusnya aku tidak makan di meja ini. Susah seperti pajangan saja makan di sini."
__ADS_1
Lagi-lagi Jordi hanya bisa berucap di dalam hatinya saja, jika berani mengeluarkan suara seperti itu sudah pasti bencana baginya.
Setelah merasa kenyang, kini akhirnya Satya dan Jordi sudah berada di dalam ruang kerja Satya. Pria itu meski batu saja datang dari luar negeri tapi mengenai permasalahan perusahaan membuatnya tidka bisa beristirahat dengan tenang.
"Apakah sesulit itu mengungkap masalah yang terjadi dalam pembangunan resort di Bali?" Tanya Satya.
Rupanya meski sudah berada di dalam ruang kerja, Satya masih sempat-sempatnya membawa rujak yang belum selesai dimakannya.
"Ada seseorang yang menjadi dalang tindak penggelapan dana, kemarin pria itu sempat menghubungi saya." Ucap Jordi yang mau tak mau dirinya harus menceritakan apa yang terjadi.
"Lacak orang itu." Titah Satya.
"Sudah tapi pria itu cukup cerdas untuk menghilangkan jejak. Kita tidak bisa melacaknya."
"Kita harus segera melakukan sesuatu, saya yakin jika seperti ini kejadiannya pasti ada tujuan tertentu yang menurut saya sangat serius dia rencanakan untuk perusahaan." Ucap Satya menerawang jauh memikirkan kira-kira motif apa yang digunakan pria misterius itu.
"Saya rasa juga seperti itu, Tuan. Bagaimana bisa dia berani menjadi dalang penggelapan dana sebesar itu, berani masuk dan bermain-main dengan perusahaan kita jika tidak ada rencana matang yang telah dia siapkan."
"Setuju, saya sangat setuju dengan apa yang kamu katakan. Tapi saya penasaran siapa orang itu." Ujar Satya sembari kembali menyuapkan rujak ke dam mulutnya.
Suatu kebiasaan yang sangat jarang bahkan tidak pernah Satya lakukan saat sedang membahas pekerjaan bersama Jordi. Asisten Satya itu terus memperhatikan tingkah bos-nya yang tak biasa itu.
"Emm... Maaf, Tuan jika saya lancang tapi sedari tadi sayang melihat Anda melakukan hal-hal yang tidak seperti biasanya. Apa ada yang terjadi pada anda, Tuan?" Tanya Jordi.
Setelah menayangkan hal itu pada Satya, Jordi langsung merutuki kelakuannya yang sangat penasaran sedari tadi. Satya menatap sedikit aneh pada Jordi, dia tahu mungkin Jordi penasaran dengan selera makannya hari ini serta kebiasaan yang tak pernah dilakukannya selama ini.
"Apa maksud mu katakan dengan jelas." Ucap Satya.
"Anda... Anda seperti seseorang wanita yang sedang... Mengi...dam, Tuan." Ucapan Jordi sedikit terbata karena merasa takut dan ragu dalam mengucapkannya.
Satya tersenyum tipis saat mendengar kalimat Jordi.
"Kamu benar saya memang sedang mengidam saat ini. Istri saya sedang hamil, tapi saya yang harus merasakan mengidam seperti orang hamil sedangkan istri saya biasa-biasa saja." Satya terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
Jordi menatap bos-nya yang terkekeh, terlihat jelas jika wajah Satya sangat bahagia saat ini. Jordi ikut tersenyum saat melihat bos-nya bahagia berbeda jauh dengan beberapa bulan lalu yang selalu terlihat serius dan tak pernah terlihat pancaran kebahagiaan yang sangat jelas seperti sekarang.
"Nyonya Belva hamil? Selamat, Tuan. Saya ikut merasa bahagia atas kabar baik ini. Sudah berapa bulan, Tuan?"
"Dua bulan, terima kasih kamu ikut bahagia atas kabar kehamilan istri saya. Ini memang sangat mengejutkan untuk saya, karena kami baru mengetahui nya kemarin saat berada di Paris. Tiga hari saya dirawat di rumah sakit hanya karena mengalami kehamilan simpatik menurut dokter."
Satya bercerita singkat atas kejadian yang menimpanya dengan wajah berseri bahagia. Mengingat hal itu Satya sungguh merasakan kembali kebahagiaan pertama kali mendengar istrinya hamil untum ke dua kalinya.
"Tiga hari? Apa yang terjadi Tuan sampai harus dirawat selama itu?" Tanya Jordi penasaran.
Satya akhirnya bercerita mengenai apa yang dirasakannya saat berada di Paris, Jordi mendengarnya dengan antusias dan serius. Baru kali ini dirinya mendengar secara langsung jika memang benar adanya seorang pria yang mengidam karena istrinya yang sedang hamil.
"Apa itu sangat menyiksa, Tuan?"
Jordi tersenyum tipis, dia paham sekali permasalahan yang terjadi pada Belva. Dia turut merasa prihatin atas kejadian itu.
"Semua sudah berlalu, Tuan. Sekarang anda sudah berada di samping Nyonya untuk mendampingi kehamilannya kali ini."
"Kamu benar, saya tidak akan membiarkannya dalam kesulitan lagi. Apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan istri dan anak-anak saya, Jordi."
Percakapan mereka kini beralih dari masalah kantor mengarah kepada masalah kehidupan mereka. Bagaimana Satya merasa bahagia dan merasa beruntung sampai Satya yang akhirnya mengeluarkan sebuah pertanyaan pada sang asisten.
"Kamu kapan menikah, Jordi?"
Jengjeeeng....
Pertanyaan yang selalu Jordi hindari selama ini, dirinya belum memikirkan hal itu karena masa lalu yang masih belum benar-benar pulih.
"Saya masih ingin fokus dengan pekerjaan saya, Tuan."
"Kamu sudah cukup lama menyendiri, apa tak merasa kesepian?"
"Saya merasa biasa saja, Tuan. Pekerjaan cukup membuat saya merasa lebih enjoy."
"Bagaimana dengan Bella?" Tanya Satya dengan tiba-tiba.
"Bella? Maksud Tuan apa?"
"Bella gadis yang baik, dia yang mendampingi istri saya selama ini. Saya yakin jika gadis itu bukanlah perempuan yang suka macam-macam."
"Saya tidak mengerti maksud Tuan."
"Apakah benar kamu tidak mengerti maksud saya? Baiklah itu menjadi PR mu sampai kamu benar-benar mengerti dengan sendirinya. Sudah hampir sore saya mau istirahat, kamu bisa istirahat di sini atau pulang lah terserah padamu."
Satya berdiri dari duduknya dan membawa piringnya yang masih berisi sedikit rujak miliknya. Dia berjalan hendak keluar ruangan tapi sebelum itu Satya berhenti di samping Jordi.
"Jangan sampai waktumu habis, Jordi." Ucap Satya dengan menepuk pundak Jordi lalu pergi keluar ruangan.
Jordi hanya menatap punggung Satya yang menghilang dibalik pintu. Dia memikirkan kalimat terakhir Satya pada dirinya, masih tak mengerti dengan maksud dari Satya. Tapi mengingat satu nama wanita yang Satya sebutkan membuat Jordi berpikir apakah itu ada hubungannya dengan wanita itu atau ini berkaitan dengan permasalahan kantor mereka.
Hari berlalu, saat ini Satya sedang bersantai bersama kedua anaknya. Tapi Satya lebih tertarik untuk mengobrol dengan putranya yang bertopik mengenai sebuany bangunan gedung.
"Apa kamu sangat bercita-cita menjadi seorang arsitek, boy?" Tanya Satya pada putranya.
"Tidak tahu, Dad. Tapi aku suka menggambar rumah-rumah dan gedung-gedung besar."
__ADS_1
"Itu sangat bagus sekali. Daddy setuju jika kamu menjadi seorang arsitek."
Satya mengambil tablet PC milik putranya lalu membuat sebuah file yang tak lain adalah file desain bangunan resort nya yang berada di Bali yang tengah bermasalah saat ini.
"Ini kamu sendiri yang membuatnya, Nak?"
Kaili memperhatikan file desain yang telah terbuka di layar tablet PC nya. Kaili pun mengangguk setuju dan membenarkan pertanyaan sang Daddy.
"Opa meminta bantuanku untuk menggambarnya. Saat itu Opa bilang itu adalah gambar untuk teman kerja Opa Gan."
"Kamu tahu siapa teman kerja Opa mu?" Tanya Satya dan Kaili menggelengkan kepalanya.
"Itu adalah Daddy, sayang. Gambar ini untuk bangunan resort milik Daddy yang berada di Bali."
"Benarkah? Jadi aku menggambar bangunan milik Daddy?"
"Iya, Nak. Benar sekali. Daddy juga tak menyangka jika gambar desain sebagus itu adalah hasil karya anak Daddy yang ganteng ini." Ucap Satya tersenyum mencubit hidung mancung Kaili.
Kaili terkekeh kecil, "Apa bangunannya sudah jadi, Dad?"
"Sayang sekali belum, Nak. Ada masalah dalam proyek pembangunannya. Jadi, terpaksa berhenti dulu."
"Kenapa berhenti? Uang Daddy habis? Kita bisa pinjam uang Mami atau pakai uangku, aku punya." Ucap Kaili dengan polosnya.
Satya terkekeh dengan ucapan polos putranya.
"Bukan, sayang. Ada sedikit masalah, karyawan Daddy ada yang membawa uang itu dan tidam dikembalikan."
"Minta saja uangnya kan itu bukan uang dia." Ucap Kaili kembali.
"Tidak semudah itu, Nak. Orang itu kabur dan Daddy belum menemukannya."
"Bagaimana kalau dijebak saja seperti di film-film itu." Ucap Kaili mengemukakan pendapatnya dengan celetukan ala anak kecil.
"Dijebak?" Gumam Satya tapi masih bisa didengar oleh Kaili. Bocah itu mengangguk.
Satya kemudian berpikir dengan ide yang tak sengaja Kaili berikan padanya. Hal itu bisa dia coba untuk memancing pria misterius yang menjadi dalang di perusahaan nya.
"Bagaimana caranya?" Tanya Satya yang sebenarnya tak ada niat menanyakan itu pada putranya.
"Pura-pura saja agar orang itu datang pada Daddy dan mengembalikan uangnya."
"Pura-pura?" Gumam Satya.
Pria itu lalu terdiam beberapa saat memikirkan apa yang harus dirinya lakukan. Ide tak sengaja itu rupanya direspon dengan baik oleh otak Satya. Sekilas dirinya memiliki ide tambahan.
"Emm, Nak bisakah kamu membantu Daddy?" Tanya Satya.
"Bantu apa, Daddy?"
"Bisakah kamu membantu Daddy membuat desain bangunan yang baru?"
"Bangunan seperti rumah Daddy yang di Bali itu?" Tanya Kaili.
"Iya... Iya seperti itu tapi jangan sama ya buatlah bangunan yang berbeda." Ujar Satya.
"Oke, nanti aku gambarkan untuk Daddy. Tapi aku tidak bisa membuatnya dengan cepat."
"Tidak apa-apa, Daddy akan menunggu nya. Daddy sangat membutuhkan bantuan kakak Ken, jadi boleh ya banyu Daddy."
"Oke Daddy... Oke, don't worry." Ucap Kaili mengacungkan jempolnya. Satya terkekeh dengan tingkat lucu Kaili. Diusapnya kepala Kaili dan diciumnya pipi Kaili dengan gemas.
"Daddy, Mami ke mana?" Tanya Kaila sedikit berteriak karena gadis kecil itu duduk di meja kecilnya menggambar desain baju.
"Mami, masih mandi sayang nanti pasti ke sini." Ucap Satya.
"Aku mau minum susu." Ucap Kaila sedikit manja pada Satya.
"Baiklah, biar Daddy buatkan ya."
"Iya, tapi pakai gelasnya yang warna pink gambar unicorn ya jangan yang Hello Kitty."
"Kenapa memangnya?" Tanya Satya iseng.
"Yang Hello Kitty kecil gelasnya, Kaila tidak mau." Ucap Kaila.
"Baiklah Tuan putri Daddy, kakak Ken mau minum susu juga?" Tanya Satya pada Kaili.
"Iya tapi mau yang coklat saja." Jawab Kaili.
"Oke siap bos ganteng. Kalian tunggu di sini ya, Daddy keluar dulu. Sebentar lagi pasti Mami ke sini." Ujar Satya.
Dua Kay mengangguk setuju lalu kembali fokus pada kegiatan mereka. Satya keluar dari kamar Duo Kay untuk turun ke dapur demi membuatkan susu bagi kedua anak kembarnya.
****
To Be Continue...
Maaf guys kemarin enggak bisa up karena lelah buanget mau nulis tuh kek nya gada kataยฒ yang bisa keluar dari otakku hahaha.
__ADS_1
Thanks banget buat kalian yang masih setia support author masih menunggu cerita ini. ๐๐๐
Sehat selalu, bahagia selalu dan semoga cerita author masih tetap bisa menghibur kalian walaupun yang like berkurang wkwkwk tapi author masih bisa semangat karena dari kalian masih ada yg setia โบ๏ธ๐ค