
Selesai mandi Belva membuka paper bag yang diberikan Satya padanya. Satu set pakaian lengkap berserta pakaian dalam sebagai ganti untuk Belva. Wanita itu membulatkan matanya syok.
"Pakaian dalam ? Diam memberikanku pakaian dalam ?" Gumam Belva menatap kain berbentuk khas itu.
Tok...Tok...Tok... !!
"Mamiii... Jangan lama-lama mandinya !!" Teriak Kaila dari luar kamar mandi.
"Iya sayang, tunggu sebentar."
Belva langsung dengan gerak cepat memakai pakaian itu. Lagi-lagi Belva terkejut menatap cerminan yang ada di hadapannya.
"Kenapa bisa pas seperti ini ?" Gumam Belva kembali.
Pikiran Belva saat ini bertanya-tanya, bagaimana bisa Satya memberikan pakaian yang begitu pas di tubuhnya. Jika itu pakaian luar saja masih bisa Belva maklumi. Mungkin saja Satya bisa mengira-ngira ukiran baju yang pas baginya. Tapi ini pakaian dalam yang Belva yakin Satya tak akan tahu ukuran apa yang biasa dipakainya. Justru dirinya saat ini dibuat terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Satya mengetahui ukurannya.
Kembali ketukkan pintu terdengar dari arah luar. Satya memanggil dirinya karena Kaila sudah sedari tadi menggerutu menunggu Belva.
"Belva, masih lama kah ? Kaila sudah menunggumu sedari tadi."
"Sebentar." Teriak Belva dari dalam kamar mandi.
Mendapati dirinya sudah diburu-buru oleh putrinya sendiri. Pikirannya yang terfokus pada bagaimana bisa Satya dengan pas memberikan ukuran pakaiannya kini dikaburkan oleh Belva. Ia kemba bergerak cepat menyelesaikan aktivitasnya sendiri.
Belva keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar dan wangi. Satu handuk masih tergulung di atas kepalanya. Sehabis memasak Belva memutuskan untuk mencuci rambutnya yang sudah terpapar aroma berbagai macam masakan.
Satya yang masih berada di dalam kamar Kaila mengalihkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang sudah terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik pemikat hatinya. Manik mata pria itu tak melepaskam pandangannya pada objek yang begitu indah untuk dipandanginya.
"Kenapa bisa cantik sekali." Batin Satya menatap Belva.
Leher putih dan jenjang milik Belva dengan gulungan handuk putih di kepala wanita itu membuat Satya semakin merasa tertarik akan apa yang dilihatnya.
Mami dari Duo Kay itu saat ini kembali terdiam saat mendapati Satya terus menatap dirinya sedari tadi. Pandangan Satya terlihat berbeda saat ini, tatapan memuja yang berbalut dengan sikap cuek Satya. Yaa... Jika orang lain yang melihat maka terlihat jika Satya menyukai Belva namun masih terlihat sedikit cuek. Tapi sesungguhnya pria itu terlalu menyukai Belva.
"Kenapa Tuan Satya menatapku seperti itu." Batin Belva.
"Mami, kan disini tidak ada mesin pengering rambut milikmu kenapa Mami mencuci rambut ?" Tanya Kaili.
Tidak lupa bukan jika pria kecil itu adalah anak yang protek dan perhatian pada keluarganya meski di luar menjadi bocah yang cuek.
Perkataan Kaili menyadarkannya jika memang ini bukanlah rumahnya. Bagaimana bisa dirinya lupa memikirkan pasti tak akan ada hairdryer untuk mengeringkan rambut panjang miliknya.
"Ah iya, Mami lupa sayang. Mami bisa mengeringkan menggunakan handuk ini tapi sabar ya... Harus menunggu."
Belva duduk di atas ranjang Kaila. Jarak yang cukup jauh dengan tempat duduk Satya saat ini. Wanita itu mulai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang digunakannya untuk menggulung rambutnya tadi.
Kaila yang bermain boneka Barbie langsung menghampiri Maminya. Bocah itu sudah sangat merasa kelaparan jadi ia berniat untuk membantu Belva mengeringkan rambut Maminya.
"Mami, aku bantu ya." Kaila mengambil handuk miliknya yang masih tergeletak di atas ranjang miliknya.
Satya tak tuntas membereskan barang-barang milik kedua anaknya. Tangan kecil Kaila meraih handuk tersebut dan mengusap-usap kan pada rambut Belva.
Melihat kembarannya membantu sang Mami Kaili pun tak kalah ikut membantu. Dia berbagi handuk dengan Kaila mengusap rambut Belva. Wanita yang masih sangat cantik karena usianya yang masih muda itu tersenyum kala melihat dua buah hatinya saling bekerjasama untuk membantu dirinya.
Hal kecil yang selalu membuat Belva merasa bahagia akan kehadiran Kaili dan Kaila dalam hidupnya. Menggantikan kepahitan hidupnya dulu dengan rasa manis dan hangat dalam hidupnya.
"Terima kasih sayang." Ucap Belva tersenyum manis.
Semua itu tak luput dari pandangan mata Satya. Pria itu tersenyum, terlihat pemandangan di depannya sangat bahagia. Memicu dirinya juga turut merasakan sebuah kebahagiaan.
Satya keluar dari kamar Duo Kay tanpa Belva dan Duo Kay sadari. Tak lama dia kembali masuk dengan membawa handuk kering memiliknya. Berjalan mendekat ke arah Belva dan Duo Kay. Dari arah belakang Satya mengusap kepala Belva dengan handuk kering miliknya.
"Daddy ?" Panggil Kaila.
Belva menengok ke belakang, terlihat Satya sudah berdiri di belakangnya. "Tuan ? Anda mau apa ?" Anya Belva.
"Daddy... Daddy ikut membantu mengeringkan rambut Mami ?" Tanya Kaili memastikan apa yang dilihat di dipahaminya.
"Iya... Daddy juga mau bantu kalian. Ayo kita keringkan rambut Maminya bersama-sama." Ajak Satya pada kedua buah hatinya.
Satya kembali mengusap dengan lembut handuk itu pada kepala dan rambut Belva. Demikian juga Duo Kay tak kalah semangat. Dua anak kecil itu justru kini tertawa gembira, mereka bekerjasama mengeringkan rambut Belva.
"Tuan, tidak usah saya bisa sendiri." Tolak Belva. Ia merasa tak enak dan sungkan pada Satya.
__ADS_1
"Biar cepat kering." Jawab Satya.
"Auu....jangan di tarik rambut Mami sayang." Keluh Belva saat Kaila dan Kaili terlalu bersemangat mengeringkan rambutnya.
Duo Kay terkikik saat Belva sedang mengeluh kesakitan. Satya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya.
"Sudah... Sudah... Kalian menyakiti Mami kalian. Lebih baik kalian teruskan bermainnya." Ujar Satya menghentikan kegiatan mereka.
"Tapi kami ingin membantu Mami biar cepat selesai." Ujar Kaila.
"Kalau seperti ini tidak akan selesai. Biar Daddy saja ya yang lebih cepat. Jadi, kita bisa segera makan."
Duo Kay mengangguk, mereka berhenti membantu Belva dan kembali melanjutkan kegiatan bermain mereka. Belva menoleh ke arah Satya, tidak ingin jika pria itu yang membantunya mengeringkan rambut.
"Tidak usah Tuan." Tolak Belva.
"Sudah tak apa, biar lebih cepat. Kaila sudah lapar dan menggerutu sejak tadi. Sini." Ucap Satya lembut.
Kembalk handuk yang ada di tangannnya itu digunakan untuk mengeringkan rambut Belva. Merasa waktu memang sudah sangat lama hingga membuat putrinya mengeluh lapar. Belva menurut saja tapi dia tak tinggal diam. Tangannya juga sibuk ikut mengeringkan rambut menggunakan handuk yang tadi digunakannya.
"Cukup Tuan... Ini sudah cukup." Ujar Belva yang tak ingin terlalu lama hingga putrinya akan merasa sakit perut.
"Tunggu disini." Ujar Satya. Dia melangkah ke meja belajar Kaila dan mengambil sisir milik Kaila.
Satya menyisirkan rambut Belva yang panjang itu. Pria itu begitu menikmati momen kebersamaannya bersama Belva saat ini. Satya sadar jika saat ini bukan waktu yang tepat karena Kaila sudah merengek kelaparan. Dalam hati dan pikiran Satya ingin sekali rasanya berlama-lama seperti itu dengan Belva.
Selesai dengan semua kegiatan menyenangkan bagi Satya. Mereka berempat turun ke lantai bawah untuk menuju ruang makan.
Entah dikatakan keluarga seperti apa Belva, Satya dan si kembar. Mereka terikat dengan dua orang anak tapi tak memiliki hubungan apapun. Seperti keluarga sungguhan mereka kini sudah duduk di meja makan bersama-sama. Kaila yang sedari tadi sudah mengeluh lapar. Melihat ada menu kasukaannya mata Kaila langsung berbinar bahagia.
"Sini mami ambilkan."
Belva menyiapkan makanan untuk Kaila dan juga Kaili. Dengan lauk ayam kuah kuning kesukaan mereka. Belva melihat piring Satya yang masih kosong. Rasanya tak enak jika dirinya tak membantu Satya mengambilkan nasi. Pria itu pemilik rumah ini, sudah baik sedari tadi membantu dirinya.
"Tuan boleh saya bantu ?" Tanya Belva.
"Boleh jika tak merepotkan." Jawab Satya.
"Ayam kuah kuning." Jawab Satya.
Belva selesai lalu meletakkan piring Satya di hadapan pria itu. Dalam hati Satya tersenyum bahagia, dia seperti merasakan dilayani oleh seorang istri. Makan malam dengan keluarga bersama istri dan anaknya.
"Daddy ? Suka ayam kuah kuning juga ?" Tanya Kaili.
"Iya sayang, ini makanan kesukaan Daddy." Ujar Satya.
"Wah benarkah ?" Tanya Kaila.
Satya mengangguk. "Hem... Sejak kecil Daddy suka dengan makanan ini. Dulu Mama nya Daddy yang memasak untuk Daddy."
"Mamanya Daddy ? Dimana dia sekarang ?" Tanya Kaila.
"Mamanya Daddy sudah di surga sayang." Ujar Satya tersenyum. Mengingat Mama nya membuat Satya sedikit merasa sedih. Seharusnya Mamanya bisa melihat cucuk kandungnya saat ini. Dua bocah kecil yang cantik dan tampan.
"Kita makan sekarang ya." Ucap Satya.
"Iya Daddy..." Jawab Duo Kay.
Belva sedari tadi diam menyimak oembicay mereka. Dirinya baru ingat jika Satya mantan majikannya itu juga suka dengan ayam kuah kuning. Dulu saat dirinya menjadi asisten rumah tangga di rumha besar itu beberapa kali dirinya memasak makanan tersebut. Ingatan masa lalu saat menjadi pembantu, mengingatkan Belva pada kebiasaan Satya yang tak menyukai makan dengan keadaan berisik.
Duo Kay mereka tak mengerti dengan sikap dan kebiasaan Satya. Mereka memang diajarkan untuk tidak banyak bicara saat makan. Tapi ketika makan bersama tetap ada pembicaraan santai di meja makan. Jadi, kebiasaan itu pun melekat dalam kebiasaan Duo Kay. Dua bocah itu bercerita dengan topik pembahasan yang sedang seru bagi mereka mengenai kamar baru mereka.
"Kaili... Kaila... Jangan berbicara saat makan, itu tidak sopan sayang. Tuan Satya tidak nyaman makan sembari berbicara." Ucap Belva mengingatkan Duo Kay.
"Tidak apa-apa Belva. Biarkan saja." Ucap Satya.
Sikap yang biasanya memang pantang bagi Satya makan sembari bersuara kini kebiasaan itu dilanggarnya demi mendengar celotehan Duo Kay.
"Kenapa memangnya Mami ?" Tanya Kaili.
"Kok Mami dari kemarin-kemarin panggil Daddy Tuan... Tuan... Terus. Kalau teman-teman Kaila, Maminya kalau panggil Daddy nya bukan Tuan tapi Daddy." Ucap Kaila.
Pertanyaan Kaili mampu dijawab oleh Belva. Tapi untuk ucapan Kaila, Belva bingung harus menjawab seperti apa.
__ADS_1
"Ah maksud Mami, Daddy kalian tidak suka jika sedang makan kita berbicara sayang." Ujar Belva membenarkan maksudnya.
"Benarkah Daddy ? Kenapa ?" Tanya Kaila dan Kaili.
"Iya itu dulu sayang. Sekarang tidak apa-apa, Daddy suka mendengarkan kalian bercerita." Ujar Satya.
Belva menatap Satya. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada pria itu ketika bersama dengan Duo Kay.
Akhirnya makan malam selesai. Duo Kay tampak sudah kenyang dengan makan malam mereka. Demikian dengan Satya karena mereka bertiga sempat menambah makanan. Masakan Belva memang sudah menjadi kesukaan Satya sejak masih menjadi pembantu di rumah itu. Cita rasanya yang sudah cocok dan pas di lidah Satya.
"Sudah kenyang anak-anak Daddy ?" Tanya Satya.
"Susah Daddy." Jawab Kaili. Kaila hanya mengangguk. Gadis kecil itu kekenyangan.
"Sekarang sebelum tidur Kaila minum obat dulu ya sayang." Ujar Belva. Kaila kembali mengangguk.
"Ayo... Daddy gendong."
Duo Kay langsung mengulurkan tangan mereka. Senang sekali jika Satya mau menggendong mereka.
"Biar Kaili saya yang gendong, Tuan." Ujar Belva.
"Ayo sayang sama Mama saja, kasihan Tuan Satya berat nanti."
"Loh kok Mami panggil Tuan... Tuan... Terus." Protes Kaila.
Anak itu merasa aneh jika Maminya memanggil Daddy nya dengan sebutan seperti itu. Tampak berbeda dengan orang tua teman-temannya.
"Ayo ila... Daddy gendong. Kalian harus beristirahat." Ucap Satya.
Mereka berempat berjalan meninggalkan ruang makan. Satya mengendong Kaila dan Belva menggendong Kaili.
Tanpa mereka sadari Inah dan Tuti, pembantu muda di rumah itu sedari tadi memperhatikan majikan mereka bersama satu wanita dan dua orang anak kecil. Tatapn sini dan tak suka sangat terlihat jelas di wajah mereka.
Satya dan Belva masuk ke dalam kamar Duo Kay. Mereka berdua membujuk bocah-bocah itu agar mau beristirahat. Setelah minum obat Kaila sudah mulai mengantuk. Demikian Kaili bersama dengan Satya yang menemani bocah itu di ranjang bergambar mobil-mobilan. Sedangkan Belva menepuk paha Kaila agar tertidur.
Melihat anak-anak mereka tertidur pulas. Satya turun dari ranjang Kaili. Menghampiri Belva yang masih menepuk paham Kaila yang sebenarnya sudah tertidur lelap.
"Kaila sudah tidur ?" Tanya Satya.
"Sudah Tuan." Jawab Belva.
"Kamu sudah mengantuk ?" Tanya Satya kembali.
"Belum Tuan." Jawab Belva.
Belva masih berbaring di ranjang Kaila. Satya duduk di pinggir ranjang tempat nya samping Belva.
"Jangan memanggil ku seperti itu jika dihadapan anak-anak."
"Maksud Tuan ?" Belva bingung.
"Apa kamu lupa apa yang menjadi bahan protes Kaila ? Jangan manggilku Tuan kamu bukan pembantu saya lagi."
"Lalu saya harus memanggil anda apa Tuan. Bukan hanya seorang pembantu yang memanggil seperti itu Tuan." Ujar Belva.
"Saya tahu, tapi perhatikan anak-anak. Kenyamanan dan kebahagiaan mereka."
Satya saat ini sangat paham, dia selalu membawa Duo Kay untuk mengunci Belva.
"Jangan memanggilku seperti itu lagi jika tidak ingin mendapatkan protes keras dari Kaila nanti."
Belva bingung harus memanggil Satya seperti apa. Dirinya sudah terbiasa memanggil Tuan pada Satya. Rasanya masih canggung jika harus memanggil Satya Daddy seperti Duo Kay memanggil Satya. Wanita itu itu kini berpikir keras atau harus membiasakan diri untuk memanggil Satya sama seperti Duo Kay saat berada di hadapan dua bocah itu.
Satya tersenyum lembut pada Belva saat melihat wanita cantik itu sedang berpikir dalam kebingungan saat ini. Perlahan tapi pasti Satya akan melancarkan perjalanannya meluluhkan Belva.
****
To Be Continue...
Hallooo my dear para readers ku, pulang kerja rasanya pingin banget santai. Yang biasanya jam 1 malam baru tidur, setelah mulai aktif kerja jam 7 malam udah ngantuk banget. Tapi tetap buat kalian yang masih setia support, aku tetap usahakan untuk kalian meski part nya cuma sedikit dari sebelumnya dan up nya pasti selalu malam.
Terima kasih banyak sekali 🙏🙏🙏
__ADS_1