Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 113. Digrebeg


__ADS_3

Satya dan Belva sudah masuk ke dalam kamar mereka. Untuk kali ini Satya memahami jika wanitanya tengah kelelahan karena harus tidur selarut ini. Pria itu membantu Belva membersihkan wajah yang penuh dengan make up.


"Sini mas bantu."


"Tidak usah aku bisa sendiri mas."


"Biar cepat selesai, kamu ganti baju dulu sayang." Satya sudah memegang pakaian ganti milik Belva yang diambilnya dari dalam lemari.


Kamar tersebut memang kamar yang di tunjukkan untuk Belva. Kamar yang sebelumnya digunakan Nyonya Hector untuk menunjukkan gaun yang akan dipakai Belva sebelumnya.


Satya memberikan pakaian tidur berupa daster berbahan adem dan nyaman untuk Belva. Pakaian itu langsung diterima oleh Belva dan berlalu ke dapur kamar mandi.


"Mau kemana yank ?" Tanya Satya.


"Ini ganti baju lah ke kamar mandi."


"Ganti disini saja." Goda Satya.


"Enak saja." Ucap Belva lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Satya tersenyum melihat Belva yang sedikit cemberut karena godaannya.


Satya melepaskan jas dan juga kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Baju-baju itu di letakkan sembarang oleh Satya di bibir ranjang. Tak lama Belva keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju dengan pakaian tidur nya.


"Ini tidak ada baju yang lain ?" Tanya Belva yang kembali memperhatikan penampilan nya dengan daster yang dipakainya. Panjang daster di atas lutut lima centimeter.


"Kenapa ?" Tanya Satya.


"Pendek dasternya buat tidur."


"Tidak apa-apa biasanya juga kalau di apartemen pakai yang pendek-pendek tidak masalah."


"Iya tapi kan beda. Kalau di apartemen tidur pakai nya celana mas bukan daster."


"Sama saja. Sudah sini mas bersihkan wajah kamu." Satya sudah duduk di kursi rias depan kaca.


"Sebentar... Kebiasaan deh kalau taruh baju suka sembarangan." Belva mengomel pada Satya. Pria itu hanya menggaruk kepalanya saja.


Pakaian bekas pakai oleh Satya di lipat oleh Belva dan langsung mendapatkan protes dari Satya.


"Kok dilipat kan kotor yank."


"Kan kita cuma menginap satu malam disini. Pakaian ini kan besok harus dibawa pulang, mas."


"Ya sudah cepat sini. Sudah jam segini kamu tidak usah mandi yank."


"Iya nanti cuci muka saja." Belva menurut pada Satya.


Satya mulai membersihkan wajah Belva dengan kapas dan juga pembersih wajah yang sudah Belva serahkan pada nya.


"Ish... Pelan-pelan kali mas, sakit lah kalau di tekan-tekan begitu."


"Maaf... Maaf... Tidak kencang ini tekan nya yank."


"Yang rasain aku apa kamu sih mas. Aku yang lebih merasakan nya."


"Iyaaa... Sudah tidak usah marah-marah. Ini pelan-pelan." Ujar Satya yang berubah lebih pelan dalam mengusap wajah Belva dengan menggunakan tisu.


Hingga lima belas menit lamanya Satya membersihkan wajah Belva. Setelah itu Satya menyuruh wanitanya untuk mencuci wajah dan juga menggosok gigi. Sayang sekali karena harus menginap di vill karena kejutan yang diberikan boleh calon suami dan keluarga nya maka dirinya tak sempat membawa perlengkapan perawatan kulitnya.


Satya dan Belva bergantian mencuci muka dan juga menggosok gigi. Mereka telah siap untuk mengistirahatkan tubuh. Mereka seakan lupa jika di villa ini masih ada para orang tua khususnya Nyonya dan Tuan Hector.


"Tidur nya tidak usah jauh-jauh, sini." Ujar Satya.


"Awas ya jangan macam-macam." Malam ini Belva seakan sedikit was-was karena pakaian tidur yang ia gunakan malam ini. Biasanya saat tidur seperti ini bersama Satya, Belva selalu menggunakan celana meski celana itu pendek.


"Kenapa ? Mas macam-macam juga mas tanggung jawab asal kamu saja yang tidak kabur." Ucapan Satya sedikit menyindir Belva.


"Kabur bagaimana maksud mas ?"


"Tidak... Susah ayo tidur. Mas tidak akan macam-macam sama kamu. Masih kuat menahan sampai nanti sah."


Satya memeluk Belva dari belakang lalu memejamkan matanya. Bersama Belva, Satya menjadi merasa nyaman dan mudah untuk tidur. Begitu juga Belva yang merasa nyaman berada dalam pelukan Satya. Keduanya tidur bersama seperti pada kebiasaan mereka akhir-akhir ini.


Jika Satya dan Belva sudah tidur mengistirahatkan tubuh mereka. Berbedanya dengan Jordi dan Bella yang masih sibuk di dapur.


"Stop... Jangan ambil lagi." Ucap Bella.


Tangan Jordi menggantung di udara, terhenti saat Bella mengehentikan aksinya. Bella tak rela jika telur gulung berisi sosis itu diambil lagi oleh Jordi.


"Satu lagi, saya masih lapar."


"Tidak... Enak saja. Tuan Jordi yabg terhormat, anda sudah memakan empat telur gulung."


"Tambah satu lagi biar genap lima. Ayo lah..."


"Enak saja, aku membuatnya susah payah untuk mengisi perutku dan Tuan dengan santai menikmati nya."


"Ini juga masih banyak. Kamu masih bisa memakan sisanya." Ujar Jordi.


"Jadi anda memberikan sisa untuk saya." Ujar Bella kesal.


"Bukan begitu... Ah sudahlah makan saja tidak usah banyak bicara."


Bella mengambil nasi dan mengambil lauknya telur gulur hasil masakannya. Selesai memasak tadi Bella langsung membersihkan wajan dan semua parabot yang digunakan nya tadi. Tujuannya agar selesai makan nanti dia tidak merasa banyak mencuci parabot. Tapi hal itu justru dijadikan kesempatan untuk Jordi mengambil telur gulung hasil masakan Belva.


Plakk...


Tangan Jordi mendapatkan pukulan dari Bella saat masih mencoba mengambil telur gulung nya.


"Aow...sshh... Kamu jadi perempuan kasar sekali." Jordi mengelus tangannya.


"Bukan kasar tapi antisipasi. Jika tidak seperti itu tanganmu tidak akan berhenti."


Bella langsung menarik piring yang berisi terulur gulung itu.


"Ini milik ku." Ujar Bella.


Ia kembali menikmati makanan nya tanpa memperhatikan Jordi yang masih menatap telur gulung miliknya.


Hingga Bella sudah habis setengah piring, Jordi tiba-tiba bersuara.


"Kamu seorang perempuan makan jam segini tidak takut gendut kamu ?"

__ADS_1


Bella yang tengah mengunyah itu langsung berhenti mengunyah. Dilihatnya jam dipergelangan tangan nya menunjukkan pukul dua malam.


"Saya baru makan larut kali ini saja. Jadi tidak akan gendut."


"Oh..." Hanya jawaban singkat saja yang Jordi berikan. Tapi matanya masih terus menatap telur gulung buatan Bella.


Menyadari tatapan Jordi akhir Bella tak tega. Dirinya segera menghabiskan makan malam nya yang larut itu. Satu potong telur gulung terakhir itu diambil oleh Bella dan diletakkan ke dalam piring Jordi.


"Ini untuk mu Tuan, jangan sampai tidur mu tak nyenyak hanya karena telur gulung milikku."


Jordi menatap piring nya dan bergantian menatap Bella. Gadis di depannya itu tersenyum tipis.


"Makanlah, Om. Aku merasa kurang aneh memanggil mu dengan sebutan Tuan."


Bella beranjak dari meja makan dan mencuci piringnya. Ia selesai makan, matanya sudah mulai berat dan mengantuk.


"Jangan lupa piringmu dicuci setelah makan. Aku sudah mengantuk."


Bella meletakkan piring nya di rak piring samping wastafel. Gadis itu berlalu dari dapur, Jordi menatap Bella saat gadis itu beranjak pergi meninggalkan dapur.


"Mengesalkan tapi bukan gadis yang membosankan." Gumam Jordi yang kembali menghabiskan makanannya.


Pagi hari mulai menyapa, kicauan burung mulai terdengar. Hawa dingin masih saja menyentuh setiap kulit yang tak terbungkus kain. Belva yang biasanya terbangun saat subuh, sayang sekali kali ini wanita itu agaknya harus bangun siang karena rasa kantuknya.


Keluarga Hector sudah terbangun termasuk kecuali Satya dan juga Belva. Pasangan itu masih merasa nikmat merasakan tidur yang nyenyak dibawah selimut dengan berpelukan.


Bella dan Jordi yang tidur larut harus terpaksa bangun lebih awal karena merasa tak enak jika bangun kesiangan. Mereka berbeda dengan Satya dan Belva, mereka berada di tempat itu karena di pekerjakan.


Duo Kay sudah bangun dan sudah siap karena Budhe Rohimah sudah menyiapkan dua bocah itu dengan rapi dan bersih. Mereka semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Merasa ada yang kurang Duo Kay menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak tampak orang yang tengah mereka cari.


"Mami... Mami kemana ?" Tanya Kaila.


"Mami dan Daddy kok tidak ada ?" Ucap Kaili.


Semua turut melirik kanan kiri, tidak ada dua orang yang di maksud oleh Duo Kay.


"Vanthe dan Satya dimana ?" Tanya Nyonya Hector.


"Haishh... Pasti Tuan masih asik tidur dengan Nona Belva. Bisa-bisa nya jam segini belum bangun." Batin Jordi.


"Mungkin masih tidur, Ma. Coba Bella cek dulu di kamar mereka." Ucap Bella.


"Biarkan saja mungkin Vanthe masih mengantuk. Kita makan saja dulu nanti baru urus mereka berdua." Ucap Tuan Hector.


Mereka semua mengangguk setuju. Mengabaikan sepasang kekasih yang tengah tertidur lelap. Serasa seperti pengantin baru yang dibiarkan dengan bebas bangun jam berapapun.


Mereka tak tahu jika dua orang itu tidur dalam ruangan bahkan ranjang dan selimut yang sama. Sebelum Tuan dan Nyonya Hector sudah memberitahukan bahwa mereka belum bisa tidur bersama karena belum sah menikah.


Selama ini Budhe Rohimah pun tak mengetahui jika Satya dan Belva selalu tidur bersama. Yang wanita paruh baya itu tahu jika Belva tidur bersama Duo Kay saat berada di apartemen Satya.


Tapi meski Satya dan Belva tidur bersama mereka tak pernah melakukan hal-hal yang berada di luar batas. Satya masih bisa menahan diri untuk tidak berbuat lebih pada wanita nya itu. Tapi sebagai pria normal tentu ada sedikit hal-hal kecil yang dilakukan nya hanya sekedar menggoda Belva.


Selesai sarapan mereka semua berkumpul di teras belakang. Menikmati terpaan sinar matahari pagi. Nyonya Hector dan Bella menyiapkan cemilan dan juga teh hangat untuk teman mereka mengobrol.


"Ini Vanthe belum bangun juga ?" Tanya Nyonya Hector.


"Seperti nya belum Ma. Bella bangunkan dulu ya."


"Iya kamu bangunkan dulu sayang. Suruh dia sarapan." Ucap Nyonya Hector.


"Mau kemana ?" Tanya Jordi.


"Mau bangunkan kak Vanthe, Om." Jawab Bella.


"Astaga... Kenapa jadi memanggil ku seperti itu. Apa aku terlalu tua menurut nya ?" Gumam Jordi dalam hati.


Jordi yang tadinya hendak turun kini berbalik membuntuti Bella yang berjalan menuju kamar Belva. Gadis cantik itu mengetuk pintu.


Tok...Tok... Tok...


"Kak...!! Kak Vanthe...!!" Panggil Bella sembari mengetuk pintu.


Sayang sekali tak ada jawaban sedikit pun dari penghuni kamar tersebut. Bella kembali mengetuk dan memanggil hasil nya pun sama.


"Mungkin mereka mengantuk berat." Ucap Jordi.


"Om ? Ada apa ikut kesini ?" Tanya Bella sedikit terkejut dengan kehadiran Jordi.


"Memastikan Tuan Satya apakah sudah bangun atau belum."


"Loh kenapa memastikan nya disini ? Harus nya di kamar Om Satya dong."


"Kamar Tuan yang sedang kamu ketuk ini."


"Hah ? Bukannya ini kamar kak Vanthe ? Apa aku salah kamar ?" Ujar Bella tampak berpikir.


"Kamu polos sekali." Jordi mengacak rambut Bella.


"Ih tidak sopan sekali main pegang kepala orang." Bella kesal, ia merapikan rambutnya.


"Polos bagaimana maksud om ?" Imbuh Bella.


"Dengar... Tuan Satya dan Nona Belva mereka tidur bersama di kamar ini."


Saat kedua orang itu tengah berbicara di depan pintu kamar Belva. Nyonya Hector tiba-tiba saja muncul di belakang mereka.


"Kalian berdua sedang diskusi apa ?" Tanya Nyonya Hector.


"Mama... Nyonya..." Ucap Bella dan Jordi begitu melihat Nyonya Hector.


"Bella, bukankah kamu mau membangunkan kakak mu. Apa dia belum bangun ?"


"Iya Ma, ini dari tadi Bella ketuk tapi kak Vanthe belum juga bangun." Ucap Bella.


"Sini biar Mama yabg bangunkan." Nyonya Hector mengambil alih.


Wanita paruh baya itu buka lagi mengetuk tapi menggedor pintu kamar Belva. Bella dan Jordi membulatkan mata mereka melihat aksi Nyonya Hector.


Rupanya gedoran pintu itu mengganggu kenyamanan tidur Belva dan juga Satya. Nyonya Hector mencoba untuk membuka pintu kamar Belva.


"Vanthe mengunci pintu kamarnya." Gumam Nyonya Hector.

__ADS_1


Tak lama pintu terbuka, wajah seorang manusia yang baru saja bangun tidur masih terlihat sangat jelas. Diluar dugaan hingga membuat Nyonya Hector mendelik tak percaya.


"Loh Satya ?" Ucao Nyonya Hector terkejut.


Satya tampak bingung, ia masih belum sepenuhnya sadar jika dirinya saat ini tengah berada di villa.


"Apa-apaan ini ? Apa yang kalian lakukan ?" Ucap Nyonya Hector.


Ia melihat Satya yang tengah bertelanjang dada dan masih melihat Belva tertidur di atas ranjang. Belva mengernyitkan kelompok matanya. Merasa semakin tak nyaman dalam tidurnya Belva lalu terbangun.


"Mama..." Ucap velva terkejut.


"Vanthe... Apa-apaan ini ? Kalian tidur bersama ? Apa yang kalian lakukan ? Kenapa pintu sampai kalian kunci begitu ?"


"Ma... Kami tidak melakukan apapun." Ucap Belva yang masih terduduk di atas ranjang dengan selimut masih menutupi pinggangnya ke bawah.


Nyonya Hector, Bella dan Jordi sudah menerjang masuk ke dalam kamar tersebut. Bela dan Jordi hanya terdiam saat Nyonya Hector terlihat seperti orang yang kesal.


"Tidak melakukan apapun tapi kenapa Satya tak memakai baju seperti ini ?"


"Ma... Benar kata Belva kami tidak melakukan apapun." Ucap Satya membuka suara. Dia kini sudah sadar penuh dengan apa yang terjadi pagi hari ini.


"Mama tisak percaya. Apalagi dengan mu Satya. Kamu pria dewasa pasti pemikiran kamu sudah lebih jauh dari Vanthe."


"Apa yang kamu lakukan pada putri ku ? Kamu mau menghamili nya lagi hah ?"


"Ma, ini tidak sama seperti yang Mama lihat dan pikirkanlah. Kami hanya tidur saja, saya tahu kami belum sah menikah jadi saya tidak mungkin berbuat hal yang lebih jauh dengan Belva." Ujar Satya.


"Kalau tahu belum sah menikah kenapa kamu tidur bersama Vanthe ?" Tabya Nyonya Hector.


Satya terdiam, dia tak bisa menjawab apapun. Memang seharusnya Satya tak melakukan hal itu jika dirinya dan Belva belum sah menikah.


Tuan Hector, budhe Rohimah dan Duo Kay naik ke lantai dua karena mendengar suara ribut.


"Ada apa ini ?" Tanya Tuan Hector.


Bella langsung dengan cepat tanggap membawa Duo Kay untuk turun kembali ke lantai satu karena dirinya tak ingin kedua anak itu mendengar perdebatan orang dewasa yang belum pantas mereka dengar.


"Entahlah Mama pusing." Ucap Nyonya Hector.


"Satya ?" Tanya Tuan Hector.


"Pa... Maaf. Saya sudah mengurus semua berkas-berkas pernikahan kami. Saya akan segera menikahi Belva. Kalau perlu hari ini juga." Ucap Satya dengan tegas.


"Apa yang terjadi ? Kenapa tiba-tiba membahas pernikahan ?" Tuan Hector masih belum paham.


Nyonya Hector lantas menceritakan apa yang dilihatnya pagi ini hingga membuat hatinya merasa kesal. Tak seharusnya Satya dan Belva tidur bersama seperti itu jika belum benar-benar sah. Tuan Hector menghela nafasnya mendengar cerita tersebut.


"Memang sebaiknya dipercepat saja. Itu lebih baik karena sepertinya kamu sudha tidak bisa menahan diri lagi." Ucap Tuan Hector.


Satya merasa malu pagi ini dihadapan calon mertua nya yang juga rekan kerjanya. Dirinya merasa seperti sepasang kekasih yang tengah digrebek masa karena berselingkuh.


"Sudah bubar, kalian berdua Satya dan Vanthe. Cepat bersihkan diri kalian lalu sarapan. Yang lain ayo turun." Ucap Tuan Hector.


Mereka semua membubarkan diri kecuali Jordi yang sedari tadi mendapatkan tatapan dari Satya. Pria itu langsung mendorong keluar Jordi agar tak semakin lama melihat Belva dengan pakaian yang menurut Satya terlalu minim untuk dilihat orang lain.


"Jordi, siapkan semua nya. Saya mau pernikahan ini secepatnya terjadi." Ucap Satya.


"Baik Tuan. Seharusnya anda bisa menahan diri Tuan."


"Hah sudahlah, jangan berkomentar cepat laksanakan perintah saya."


Satya mendorong tubuh Jordi untuk pergi dari depan kamar Belva. Asisten Satya itu hanya menurut saja. Satya langsung masuk kembali ke dalam kamar.


"Sayang..."


"Ini semua gara-gara kamu mas, kan aku jadi malu lagi di depan Mama dan Papa." Belva menjadi kesal dengan Satya.


"Loh kok gara-gara mas. Sudah lah yank, kita menikah hari ini."


"Mas, kamu gila ? Bagaimana kita menikah secepat ini ? Bagaimana klien mu ? Klien Papa kita belum membuat undangan untuk itu."


"Sayang, kita tidak perlu itu untuk saat ini. Cukup ada keluarga kamu yang menyaksikan pernikahan kita."


Belva menghela napas. "Terserah daripada malu sama Mama dan Papa." Ucap vekva berlalu dari ranjang.


"Hei mau kemana yank ?"


"Mandi." Jawba Belva. Ia ingin segera menyegarkan dirinya. Pagi ini terasa sangat berbeda dari pagi-pagi biasanya. Membuat Belva sedikit pusing.


Satya menghela napa sambil menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka akan terjadi seperti ini dihadapan rekan kerja sekaligus calon mertua nya.


Keduanya selesai membersihkan diri, lalu berjalan menuju ruang makan. Mereka sarapan bersama dalam diam. Belva masih merasa tak nyaman karena merasa seperti dipergoki oleh kedua orang tuanya dalam keadaan yang memalukan.


Meski masih merasa malu atas kejadian tadi tapi mereka mau tak mau tetap harus ikut berkumpul bersama keluarga.


"Mami dan Daddy kok tadi tidak ada kemana ?" Tanya Kaila.


"Emm... Mami baru saja bangun sayang." Jawab Belva. Ia melirik Mama nya sejenak.


"Mami... Mami kan ulang tahun m. Biasanya kita ke panti asuhan. Apa hari ini kita akan kesana ?" Tanya Kaili.


"Hari ini ?" Belva tampak berpikir. Hari ini bukankah Satya mengatakan jika mereka Kana menikah. Ia bingung untuk menjawab.


"Ekhem... Bukan kah hari ini kalian akan menikah ? Apa tidak sebaiknya kalian lakukan pernikahan kalian di panti asuhan sekalian merayakan ulang tahun Vanthe." Ucap Tuan Hector.


"Mama setuju. Sekalian saja merayakan ulang tahun Vanthe dan juga melakukan acara pernikahan sederhana kalian. Jadi tidak perlu mengundang banyak orang cukup keluarga yang ada di panti saja." Ucap Nyonya Hector.


"Saya juga setuju Mbak. Bagaimana nak Satya ? Belva ?" Tanya Budhe Rohimah.


"Saya setuju saja Bu... Pa... Ma... Biar Jordi mempersiapkan semuanya." Ucap Satya.


"Bagus, biar orang-orang Papa juga membantu. Kita laksanakan acaranya nanti sore saja." Ucap Tuan Hector.


Pernikahan yang terkesan mendadak itu rupanya memang sudah mendapatkan persetujuan dari semua pihak. Hal itu memang lebih baik segera dilakukan.


Tuan dan Nyonya Hector tak mungkin membiarkan Belva dan Satya bersama tanpa ikatan pernikahan yang sah. Terlebih mereka sudah memiliki anak bersama. Selain demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan itupun demi kebahagiaan semua pihak terutama Duo Kay.


****


To Be Continue...

__ADS_1


Hai my dear para readers ku tersayang


Selalu author ucapkan terima kasih banyak atas support kalian sampai saat ini. Meski gak banyak yang komen tapi ketika lihat ada dari kalian yang minta author buat update terus itu sudah menjadi semangat luar biasa bagi author. Artinya cerita receh author masih tetap kalian nantikan. 🙏🙏🙏


__ADS_2