
Takut dengan apa yang diucapkan oleh Satya, Belva lalu memilih diam. Mengalihkan pandangannya ke arah samping daripada memandang wajah tampan Satya dengan mata yang terus menatapnya.
Wajah wanita itu memerah akibat menahan malu. Bagaimana tidak malu jika dihadapan orang lain yang bukan siapa-siapa nya terlebih lawan jenis, bagian pribadinya yang selama ini ia tutupi kini terbuka lebar tanpa penghalang apapun.
"Kenapa wajahmu merah begitu ?" Ucap Satya dengan suara yang sangat lembut.
Belva diam belum merespon pertanyaan Satya. Rasa malu dan kesal dengan apa yang terjadi pada pagi hari ini berhasil membuat harga dirinya seakan terjun bebas. Ingin sekali Belva menghilang dari tempat itu secara tiba-tiba atau berharap itu hanya lah mimpi belaka.
"Ekhm... Bi-bisakah, k-kamu menyingkir, lenganku sakit." Ucap Belva dengan sedikit gugup dan malu.
"Ah... Maaf. Saya tidak bermaksud menyakiti pergelangan tanganmu."
Satya beralih ke samping Belva, kembali memeluk wanita cantik yang tertidur terlentang itu dari arah samping. Belva buru-buru menarik selimut tebal berwarna hitam itu untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Kenapa ditutup ?" Tanya Satya. Tangannya menahan selimut itu agar tetap terbuka pemandangan indah itu.
Pertanyaan yang bodoh menurut Belva. Tentu saja untuk mengurangi rasa malu wanita itu saat ini.
"Saya sudah melihatnya, memegangnya bahkan sekarang sudah jadi Kaili dan Kaila." Ucap Satya dengan santainya.
"Tidak perlu malu, hemm..." Satya mengecup bahu dan tulang selangka Belva.
Kembali Belva merasa merinding dengan apa yang Satya lakukan. Bersentuhan kulit diantara mereka membuat rasa yang sedikit berbeda Belva rasakan dalam hatinya.
"A-aku kedinginan." Ucap Belva lirih.
Satya sedikit tersenyum tipis, lalu ditariknya selimut tebalnya menutupi tubuh Belva. Jangan lupakan tangan Satya masih saja melikari perut Belva. Perut yang rata dengan kulit yang putih mulus.
"Kamu tahu ? Saat bersama mu saya tidak lagi merasa sepi terlebih adanya anak-anak di samping saya. Hal yang membahagiakan saat bersama kalian."
"Jika boleh berharap dan meminta saya ingin bersama kalian terus seperti ini." Sambung Satya kembali.
Ada tatapan penuh harap saat Belva menolehkan wajahnya ke hadapan Satya. Dan mata mereka saling bertemu. Teringat ucapan Budhe Rohimah akan bagaimana kehidupan Satya dulu, saat sebelum menikah hingga menikah dengan Sonia. Bagaimana rumah tangga pria itu dengan Sonia serta sikap mantan Nyonya nya itu. Saat itulah Budhe Rohimah menceritakan dengan wajah sendu karena merasa kasihan dengan hidup majikannya saat itu.
"Kamu... Kamu tenang saja. Anak-anak pasti akan selalu mencarimu dan bersamamu. Mereka tidak akan pergi meninggalkan mu." Ucap Belva menyakinkan Satya bahwa kebahagiaan pria itu tidak akan pergi.
"Lalu kamu ?" Tanya Satya.
"Aku ? A-aku..." Mata Belva terus bergerak kesana-kemari. Bingung harus menjawab seperti apa. Dirinya belum menyiapkan jawaban atas dirinya sendiri.
"Ya... Tidak hanya bersama anak-anak. Tapi saya juga ingin bersama mu. Kamu dan anak-anak adalah satu paket."
"Apa kamu mau anak-anak memiliki ibu tiri ? Bukan hanya kamu yang akan menjaga mereka, tapi ibu tiri mereka nanti. Kamu tidak takut jika mereka memiliki ibu tiri yang jahat bagi mereka ? atau jika mereka beruntung mereka memiliki ibu tiri yang sangat baik hingga mampu mengalihkan perhatian dan rasa sayang mereka dari mu." Imbuh Satya.
Belva terdiam, dia membayangkan jika Kaili dan Kaila memiliki seorang ibu tiri. Akan seperti apa jadinya nanti dirinya tak bisa mengira-ngira. Tak jarang ibu tiri yang jahat tapi begitu juga sebaliknya tak jarang juga seorang ibu tiri yang baik hingga anak sambung jauh lebih lengket pada ibu tiri.
"O-om ngomong apa sih. Awas aku mau ke kamar anak-anak."
"Mereka belum bangun." Satya masih erat memeluk Belva.
"Tolong singkirkan tangan mu." Ucap Belva.
"Tidak. Sebelum kamu menjawab saya."
"Menjawab apa ?"
"Mari kita menikah." Ucap Satya serius.
"Tidak bisa." Jawab Belva tegas.
Nyuutt...
Penolakan yang tegas dari bibir Belva membuat hati Satya terasa nyeri.
"Karena kamu lebih memilih Roichi ?" Tanya Satya yang masih memeluk Belva.
"Tidak ada hubungannya dengan Om Roi."
"Lalu ?" Tanya Satya.
"Aku masih terlalu muda untuk menikah." Jawab Belva secara sembarang.
Yang jelas dirinya belum memiliki jawaban untuk Satya. Ajakan itu tak pernah Belva pikiran selama ini. Dirinya merasa tidak ada perasaan apapun terhadap pria yang ada disampingnya itu. Semalam dirinya juga mendengar Satya membahas soal ajakan itu tapi itu hanya dianggap sebagai angin lalu karena Satya sedang demam tinggi.
Satya tersenyum remeh atas jawaban Belva yang dianggap konyol oleh Satya. Bagaimana bisa wanita itu menjawab seperti itu tanpa berpikir dahulu.
"Terlalu muda untuk menikah tapi kamu sudah punya anak dua. Jawaban mu sunggih menggelikan."
Tak sempat Belva menjawab pintu Satya sudah mendapatkan ketukkan dari arah luar. Sepasang manusia di dalam kamar itu sontak menoleh ke arah pintu.
"Mamiii... !! Mami di dalam sini ?!" Teriak seorang anak kecil dengan suara sayup-sayup terdengar.
Bruk...!! Bruk... !! Bruk...!!
Bukan lagi mengetuk tapi menggedor pintu kamar Satya.
"Kaili ?" Gumam Belva.
"Kaili ? Kenapa dia ?" Tanya Satya.
"Tidak tahu awas minggir." Ucap Belva.
"Biar Daddy saja, pakailah baju mu Mam."
Cup...
Satya mengecup sekilas dengan sedikit ******* bibir milik Belva. Mata Belva membulat kembali menatap Satya.
"Morning kiss, Mam. Jangan terkejut seperti itu." Satya tersenyum tipis tapi bisa dilihat oleh Belva.
__ADS_1
"Pakai baju dan cuci muka dulu sana. Saya akan membuka pintu. Jangan sampai Kaili melihat mu seperti ini." Titah Satya.
Belva beranjak dengan membawa selimut tebal Satya untuk melilitkan tubuhnya yang setengah polos. Wanita itu berjalan dengan kesal karena itu semua juga ulah Satya.
Satya hanya menatap dan menggelengkan kepalanya saja. Pintu kamar dibuka oleh nya karena Kaili terus menggedor dan berteriak-teriak.
"Hei jagoan... Ada apa menggedor pintu kamar Daddy seperti ini hemm...?"
"Daddy ? Mami mana ?" Tanya Kaila berusaha mengintip ke dalam kamar Daddy nya.
Satya menggendong Kaili. "Daddy, kok tidak pakai baju ?"
"Daddy... Panas jadi gerah sayang." Jawab Satya.
"Mami mana kok tidak ada disini ?" Tanya Kaili untuk yang kedua kalinya.
"Mami sedang berada di kamar mandi. Ada apa cari Mami ?"
"Kaila mengompol."
"Mengompol ? Bagaimana bisa ? Ayo kita ke kamar kalian." Ajak Satya sambil menggendong Kaili.
Sampai di kamar Duo Kay, Kaila duduk di atas ranjang dengan keadaan menangis.
"Huuu Mami..."
"Sayang, kenapa menangis ?" Tanya Satya pada Kaila.
Diletakkannya Kaili di atas ranjang mereka dan beralih menenangkan putri cantiknya.
"Sudah jangan menangis. Tidak apa-apa, kita ganti dan bersihkan ya. Ayo Daddy bantu."
Belva masuk saat Satya menggendong Kaila. Wajah wanita itu terlihat lebih segar karena sudah mencuci wajahnya.
"Kaila kenapa ?" Tanya Belva.
"Kaila mengompol Mami." Jawab Kaili.
"Astaga... Ya sudah ayo sama Mami."
"Biar Daddy saja, Mami bereskan ranjang Kay saja." Ucap Satya.
Panggilan baru dari Satya untuk kedua anak kembarnya agar lebih simpel dan mudah. Belva mengangguk, ia berjalan mendekati ranjang Duo Kay.
Kedua orang dewasa itu berbari tugas mengurus anak-anak mereka. Satya mengurus Kaila di dalam kamar mandi memandikan putrinya dengan air hangat. Sedangkan Belva membereskan ranjang Duo Kay dengan mengganti seprei baru.
"Sayang, kamu sekalian mandi yuk. Hari ini masih masuk sekolah."
Kaili hanya mengangguk saja tanpa membantah. Selesai membereskan ranjang Duo Kay, Belva menggandeng tangan kecil Kaili. Mereka mengarah ke kamar mandi dimana Satya dan Kaili berada. Bersamaan saat sampai di pintu kamar mandi, Kaila sudah selesai mandi.
"Sayang, sudah selesai ?" Tanya Belva pada Kaila.
"Mami, sudah siapkan pakaian untuk mu di atas ranjang. Tunggu Mami ya, Mami mandikan kakak kamu dulu."
"Sini, Daddy mandikan. Kaila ganti pakaian sama Mami ya." Ucap Satya.
Kedua bocah itu mengangguk, mereka sangat senang pagi ini diurus oleh kedua orang tua mereka.
Satya memberikan Kaila dari gendongannya kepada Belva. Tanpa harus berdebat Belva menerima Kaila dan membawa putri cantiknya ke atas ranjang.
"Hmm... Anak Mami sudah harus sekali." Ucap Belva mencium leher Kaila hingga gadis kecil itu merasa geli.
"Ayo boy... Mandi dulu." Ajak Satya pada Kaili.
Lagi-lagi Belva dan Satya berbagi tugas. Dengan kompak mereka mengurus Duo Kay. Tidak ada rasa keberatan dari Satya maupun Belva. Justru wanita itu merasa terbantu dan ringan dengan adanya Satya.
Hingga Kaili selesai mandi dan bergantian Belva yang memakaikan pakaian untuk Kaili.
"Anak-anak masuk sekolah ?" Tanya Satya.
"Hemm... Jam delapan mereka masuk kelas." Jawab Belva.
"Ini sudah jam tujuh, bagaimana dengan seragam mereka."
"Untung saja hari ini ada kelas modeling jadi menggunakan pakaian bebas." Ucap Belva.
"Ya sudah Daddy mandi dulu, jika Mami sudah selesai mandilah di kamar kita."
Kamar kita ? Dua kata yang membuat Belva menghentikan pergerakannya. Menatap Satya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Biar lebih cepat saja, perlengkapan Mami ada di kamar bukan ?"
Benar saja yang dibutuhkan Belva memang ada di kamar Satya semua. Pria itu tanpa menunggu jawaban Belva lebih memilih mandi di kamar mandi milik Duo Kay. Belva melanjutkan menyisir rambut Duo Kay.
"Nah sudah... Mami mandi dulu kalian tunggu disini saja ya. Jangan kemana-mana."
"Oke Mami." Jawab Duo Kay kompak.
Belva berlalu meninggalkan kamar Duo Kay. Segera mandi karena tak ingin membuang waktu hingga kedua anaknya nanti bisa saja terlambat.
Bersamaan dengan dirinya yang telah selesai mandi dan keluar dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Hanya menutupi bagian dada hingga paha saja. Satya masuk ke dalam kamarnya yang juga sama seperti Belva menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Belva terkejut dengan Satya yang tiba-tiba masuk. Disilangkannya kedua tangannya pada bagian dadanya hingga bahu yang masih terbuka.
Satya dengan percaya diri, santai dan cuek nya berjalan ke arah ranjang tepat nya berdiri berhenti di depan nakas. Meraih ponselnya dan mengecek apakah ada pesan masuk dari Jordi. Tubuhnya masih merasa kurang nyaman. Suhu tubuhnya memang sudah tidak panas lagi masih hangat tapi sebagai seorang pria Satya pantang mengeluh dan menyerah begitu saja.
Dirinya ingin meminta Jordi atau sekertarisnya Grace mengatur ulang jadwalnya hari ini agar tak terlalu padat. Serta minta bantuan Jordi untuk menghandle sebagai pekerjaannya nanti.
Tak ada pesan masuk dari Jordi, jadi dirinya yang harus menghubungi Jordi. Meminta asistennya itu untuk menjemput dirinya berserta keluarga kecilnya. Satya sudah benar-benar percaya diri mengatakan jika Belva dan Duo Kay adalah keluarga kecilnya meski belum ada ikatan pernikahan.
__ADS_1
Belva masih mematung memperhatikan Satya yang berdiri menyamping sebagian wajah dan tubuh Satya terpampang nyata di hadapan wanita itu. Dua kali dirinya melihat penampilan Satya seperti itu di depan matanya secara langsung.
"Pakailah pakaian mu. Kenapa masih berdiri di sana ?"
Satya meletakkan ponselnya dan menghampiri Belva. Sadar Satya mendekat wanita itu memundurkan langkahnya. Tapi dengan gerak cepat Satya menahan pinggang Belva.
"Saya tidak akan macam-macam padamu. Jangan takut, sayang."
Setiap Satya memanggil dirinya dengan sebutan sayang Belva merasa geli dan merinding. Membiasakan diri untuk dipanggil dengan sebutan Mami oleh Satya saja terkadang masih dirinya merasa kurang nyaman apalagi sebutan baru itu.
Cup...
Satya mengecup pelipis Belva cukup lama. Wanita itu lagi-lagi terdiam akan sikap dan perlakuan Satya. Entah semua yang dilakukan pria yang menjadi mantan majikannya itu terasa sangat berbeda dari apa yang Roichi lakukan. Jantungnya sering sekali berdegup kencang saat Satya melakukan kontak fisik dengannya.
"Bersiaplah, sebentar lagi kita sarapan sebentar."
Pelukan itu dilepaskan oleh Satya, sejujurnya Satya sangat tersiksa kala melihat Belva berpenampilan seperti itu. Tapi sekuat tenaga ditahannya agar tak sampai melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.
Saat ini saja Belva belum bisa menerima dirinya secara sempurna. Masih ada ketakutan dan keraguan yang dapat Satya lihat dari Belva. Menjaga dan membuat wanita itu merasa nyaman dengannya adalah cara yang akan Satya lakukan. Meski terkadang dirinya lepas kendali pada wanita itu tapi sebisa mungkin dia tak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Pria itu berjalan menuju lemari baju miliknya yang juga di dalam sana sudah tersedia beberapa baju milik Belva yang sengaja Satya siapkan. Diambilnya sebuah rok berwarna cream dan juga blouse berwarna putih yang tergantung menjadi satu di dalam lemarinya. Satu hanger dengan blouse dan rok tersebut di berikan pada Belva.
"Pakailah, demi menghemat waktu."
Belva mengambilnya dan digunakannya untuk menutupi bagian depannya yang terbuka.
"O-om emm... Mau ganti baju disini atau..."
"Bergantian denganmu di kamar mandi. Cepatlah anak-anak kita sudah menunggu, sayang." Ucap Satya tersenyum mengusap pipi Belva.
Gugup saat Satya bersikap selembut itu padanya terlebih disituasi yang tidak umum dalam artian mereka berada di dalam satu ruangan yang sama dengan penampilan yang bisa dibilang vulgar.
Dengan cepat Belva langsung pergi untuk menghindari kegugupan nya. Satya hanya menatap Belva dengan wajah tersenyum lembut.
Mereka bergantian menggunakan kamar mandi untuk berganti pakaian. Satya menggunakan kemeja berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam. Pria itu keluar dengan mengancingkan manik kancing di pergelangan tangannya.
Ternyata Belva sudah tidak ada di dalam kamar tersebut. Pria itu mengedarkan pandangannya tak mendapati Belva.
"Apa dia sudah berada di kamar anak-anak ?" Gumam Satya.
Dengan cepat pula Satya berkemas diri. Keluar kamar dengan wajah yang sudah segar dan tampan. Jas nya di letakan di lengannya sembari keluar kamar memegang dasi yang belum terpakai.
Terdengar bunyi bel pintu apartemen nya. Jas dan dasi itu diletakkan langsung di sandaran sofa ruang tamu. Membuka pintu yang ternyata adalah seorang pengantar makanan yang sempat dipesannya tadi sebelum menghubungi Jordi.
Dibawa kantong plastik itu ke arah dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Disiapkan makanan itu ke dalam beberapa piring dan diletakkan di atas meja makan. Meski Satya terbiasa dilayani namun untuk hal-hal tertentu dirinya masih bisa menyesuaikan diri.
Selesai memindahkan makanan itu Satya menghampiri kamar anak-anaknya. Manggil mereka untuk sarapan pagi bersama.
"Sayang, kita makan dulu. Daddy sudah siapkan makanan di meja makan."
"Dad, kamu memasak ?" Tanya Belva mengerutkan keningnya.
"Tidak, hanya pesan makanan saja. Ayo kita sarapan sekarang nanti Kay terlambat." Ajak Satya.
Belva dan Duo Kay keluar dari kamar bersama dengan Satya. Mereka menuju ruang makan. Beberapa makanan sudah tersaji di atas meja itu.
"Om... Maaf merepotkanmu, seharusnya aku yang menyiapkan hal seperti ini." Ucap Belva merasa tidak enak dengan Satya.
"Saya tidak repot, untukmu dan Kay sayang bisa melakukannya, sayang. Ayo kita makan." Ajak Satya mengusap punggung Belva dengan lembut.
Belva mengambilkan makanan untuk Duo Kay sesuai porsi mereka dan beralih mengambilnya untuk Satya. Pria itu sibuk dengan ponsel, mengecek pekerjaannya yang menumpuk itu.
"Kalian makanlah sayang, agar tidak terlambat." Ucap Belva.
"Oke Mami, tapi Daddy tidak segera makan itu malah mainan ponsel." Ucap Kaila yang memang ceriwis.
"Dad, makanlah. Anak-anak memperhatikan mu." Ucap Belva menepuk bahu Satya.
"Eh iya... Maaf sayang. Daddy sedang mengecek laporan pekerjaan. Ayo kita makan." Ucap Satya.
"Terima kasih Mam." Ucap Satya pada Belva karena telah mengambilkan makanan untuknya.
Belva hanya tersenyum lalu memulai sarapan pagi mereka. Tak lama saat mereka masih sarapan Jordi datang ke apartemen Satya. Pria itu sudah mengetahui sandi pintu apartemen Satya. Dengan mudah dia bisa masuk ke dalam apartemen.
Mendengar suara gesekan sendok dan piring, Jordi tahu pasti pemilik apartemen sedang melakukan sarapan paginya. Jordi menghampiri dan Belva melihat kedatangan pria itu.
"Tuan Jordi, selamat pagi Tuan." Ucap Belva.
"Ah selamat pagi Nona Belva... Tuan."
"Anda sudah makan Tuan Jordi ? Ayo kita makan bersama." Tanya Belva.
"Em... Saya... Saya sudah sarapan Nona. Terima kasih." Ucap Jordi yang rupanya berbohong. Dirinya sangat jarang bisa sarapan jika harus menjemput Satya.
"Duduk dan makanlah, Jordi. Saya tahu kamu belum sarapan." Ujar Satya dengan nada serius dan dingin.
"Tuan Satya benar, duduklah dan makanlah bersama kami." Ucap Belva.
Jordi ikut duduk makan bersama Satya dan yang lain. Pria itu duduk di samping Belva tanpa sadar. Belva langsung mengambilkan makanan untuk Jordi. Terlihat persis seperti seorang istri melayani makan suaminya. Hal itu mendapatkan perhatian dari Satya.
"Ekhm... Mam, uruslah Kaila, lihatlah makanannya. Jordi bisa mengambil sendiri."
Tatapan tak bersahabat diberikan pada Jordi. Asisten Satya itu tahu jika saat ini Satya dalam suasana hati yang sedikit panas akibat rasa cemburu melihat Belva melayani Jordi makan.
****
To Be Continue...
Terima kasih sekali masih setia support. Menyuntikkan semangat untuk author setiap hari. 🙏🙏
__ADS_1
Sejak udah masuk kerja jam segini rasanya mata udah pedih banget, Nguantuk poooll sebelum ketiduran dan lupa up jadi author kebut sebelum benar-benar kalap lihat kasur dan bantal. Apalagi 2x24 jam ujan terooss semakin mendukung untuk nempel di kasur 🤭