Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 193. Pemeriksaan


__ADS_3

Mendengar sang mertua akan datang Satya kembali diserang kepanikan. Masalahnya dengan sang istri dirasa belum selesai, dia berusaha menutupi semua dari sang istri kini justru berita mengejutkan menyapa dirinya. Tuan Hector dan Nyonya Hector akan datang yang bisa jadi mereka juga akan tahu adanya permasalahan dalam rumah tangga Satya dan Belva.


"Kamu kenapa? Panik begitu?" Tanya Belva melihat reaksi Satya.


"Hah? Eh tidak... Emm... Kapan Papa dan Mama datang?"


"Dalam waktu dekat mungkin minggu depan." Ujar Belva santai meski dirinya tak tahu pasti kapan kedua orang tuanya datang.


'Masih minggu depan, aku harus secepatnya menyelesaikan masalah ini.' Batin Satya.


"Oh, sayang makan dulu."


"Hem." Jawab Belva singkat.


"Sayang, makan dulu kasihan baby di dalam sini." Satya hendak mengulurkan tangan menyentuh perut Belva tapi ditepis oleh Belva.


"Tidak usah pegang-pegang."


"Yank, mas minta maaf mengenai masalah tadi jangan dengarkan dia, percaya sama mas."


'Ya ampun masih saja tidak mau jujur.' Batin Belva kesal.


"Ekhem... Aku tidak mau makan nasi, aku mau batagor."


"Hah? Kamu ngidam sayang?" Tanya Satya.


"Entah tapi aku menginginkan makanan itu." Ujar Belva.


"Oke... Oke mas akan minta Mbok Yati untuk membuatkannya."


"Tidak, aku mau batagor yang ada di depan minimarket perempatan jalan komplek."


"Oh oke... Tunggu ya mas belikan."


Satya beranjak dari ranjang untuk mengambil dompet serta kunci mobilnya yang diletakkan di atas meja sofa.


"Buat apa ambil kunci mobil?" Tanya Belva.


"Beli batagor, yank jadi kan?"


"Jadi, tapi kalau pakai mobil batagornya tidak enak pasti langsung dingin kena AC mobil."


"Lah terus belinya bagaimana, yank? Tidak mungkin kan mas jalan kaki sampai komplek depan. Ini siang bolong, yank panas."


"Mas, kamu itu laki-laki masa takut sama panas matahari sih."


"Laki-laki macam apa kamu. Pantas saja tidak mau mengaku, sama matahari saja takut." Cibir Belva dengan lirih tanpa bisa didengar Satya.


"Bukan begitu, yank tapi mas kan tidak pernah jalan kaki siang bolong begini."


"Pakai sepeda Pak Jajak." Ujar Belva.


Satya melongo, siang hari disaat matahari berdiri tegak di atas ubun-ubun Belva menyuruhnya untuk bersepeda ria.


"Yank, kamu yakin?"


"Mas, masih mending itu daripada jalan kaki."


"Pakai motor Pak Sugeng saja ya." Satya mencoba bernegosiasi.


"Tidak usah beli kalau tidak mau, sana keluar aku mau tidur." Usir Belva.


Rasa kesal itu tidak akan bisa hilang sampai Satya benar-benar mengakui perbuatannya. Belva membaringkan tubuhnya membelakangi Satya.


Pria beranak tiga itu lagi-lagi mengehela napas, tidak menuruti keinginan sang istri yang ada semakin marah dengan sedikit terpaksa akhirnya Satya mau mengikuti kemauan istrinya.


"Ya sudah iya, mas ke depan pakai sepeda." Ujar Satya, dia meletakkan kembali kunci mobilnya di atas meja dan hanya membawa dompetnya saja.


Satya pun berjalan ke dalam walk in closed untuk mengganti kaos lengan pendeknya menjadi kaos lengan panjang.


"Yank, mas berangkat dulu ya." Pamit Satya tapi tak mendapatkan respon dari Belva.


"Yank, jmini batagor nya jadi atau tidak?" Tanya Satya setelah tak mendapatkan respon dari istrinya.


"Hem." Jawab Belva.


Satya menghela napasnya lagi, Belva sama sekali tak menatap dirinya dan masih bersikap sama cuek dan dingin. Tak ingin membuat istrinya lebih merasa marah padanya, diapun langsung keluar untuk membelikan apa yang diinginkan oleh Belva.


"Pak, pinjam sepedanya." Ijin Satya pada Pak Jajak membuat pria paruh baya itu penasaran, tak biasanya Satya memakai sepeda.


"Maaf untuk apa, Tuan?"


"Untuk membeli batagor di depan komplek."


"Loh kenapa tidak pakai mobil? Atau biar saya saja yang beli di depan, Tuan."


"Tidak usah, Pak ini istri saya yang menginginkannya sepertinya dia sedang mengindam."


"Oh, ya sudah kalau begitu saya ambilkan sepedanya dulu di belakang."


Pak Jajak memgambil sepedanya yang terletak di paviliun. Satya menunggu di pos satpam sembari memainkan ponselnya menghubungi Jordi. Hatinya terasa tidak tenang setelah terbongkarnya rahasia besar antara dirinya dengan Siwi. Satya ingin Jordi segera membereskan semua permasalahan demi menyelamatkan masa depan rumah tangganya.

__ADS_1


"Tuan, ini sepedanya." Ujar Pak Jajak.


"Oke, saya pinjam dulu Pak."


Pak Jajak mengangguk, Satya langsung berlalu dari halaman rumahnya. Siang hari ini terasa panas sekali untung saja Satya menggunakan celana panjang, kaos lengan panjang dan topi serta masker.


Belva yang berbaring di ranjang tiba-tiba harus terbangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Kiriman video dari salah satu nomor yang tidak dikenal.


"Video apa ini?" Gumam Belva.


Ia membuka pesan tersebut lalu memencet tombol play pada tengah-tengah gambar video. Kelopak matanya membulat sempurna saat melihat video yang terputar. Hatinya bergemuruh menahan amarah, ia langsung menghubungi nomor ponsel yang tak dikenalnya itu.


Dalam sekali panggilannya langsung terangkat dan terdengar suara seorang wanita yang tak asing baginya. Yakin seratus persen bahwa yang mengirimkan vidoe itu adalah Siwi.


"Hallo, Belva calon mantan istri mas Satya, bagaimana? Sudah lihat video itu hemm?"


Dengan santai dan percaya diri Siwi mengirimkan video panas antara dirinya dan juga seorang pria yang wajahnya mirip sekali dengan Satya, suami Belva.


"Apa maksud kamu mengirimkan video ini padaku huh!?"


"Tidak ada maksud lain, hanya menyakinkan dirimu bahwa aku pernah tidur bersama mas Satya dan saat ini aku yakin seratus persen bahwa aku tengah mengandung anak mas Satya. Kamu tahu Belva? Kami selalu melakukanya tanpa pengaman dan mas Satya selalu menahan miliknya agar benihnya tertanam pada rahimku."


Hati Belva semakin geram dan menahan amarah. Ingin rasanya Belva mencakar dan menampar Siwi berkali-kali.


"Oh ya? Buktikan jika memang kamu tengah mengandung anak dari suamiku." Tantang Belva.


"Sudah pasti, besok akan ku kirimkan hasil tes kehamilanku atau kita sama-sama datang mengecek kandungan saja?" Tantang Siwi dengan tersenyum sinis meski Belva tak melihatnya.


"Baiklah, kita buktikan saja nanti." Ujar Belva.


"Oke tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan untukku sebelum membuktikannya. Kamu harus bercerita dari mas Satya jika terbukti aku hamil anak mas Satya."


"Cih... Tantangan diterima." Ujar Belva dengan mantap.


Tak ingin berlama-lama berbicara dengan wanita tak tahu diri itu akhirnya Belva mengakhiri panggilan telepon.


Belva bukan wanita bodoh yang lugu dan polos seperti dulu yang bisa dijebak atau dibodohi. Ia ingin membuktikan keaslian dari video tersebut. Dikirimkannya video tersebut pada seseorang yang selama ini ia gunakan sebagai mata-mata untuk suaminya.


"Hallo, Nyonya ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya pria dibalik telepon.


"Kamu selidiki video yang saya kirimkan padamu, apakah video itu asli atau hanya rekayasa. Saya membutuhkannya secepat mungkin."


"Baik, Nyonya segera saya laksanakan."


Panggil terputus, Belva kembali memikirkan perhial perbuatan suaminya. Apa yang menjadi alasan suaminya melakukan hal itu dibelakangnya.


Tak lama beberapa menit Satya kembali dengan wajah memerah dan keringat bercucuran akibat panas terik matahari.


"Tidak, aku mau makan salad buah bikinan Mbok Yati saja."


Belva beranjak dari ranjang dan meninggalkan Satya yang melongo bercampur kesal dengan kelakuan Belva. Satya sudah merelakan dirinya berpanas-panasan menggunakan sepeda dan mengantri batagor di pinggir jalan demi sang istri tapi justru hasil kerja kerasnya hati ini disia-siakan oleh Belva.


"Hah? Apa-apaan ini?" Gumam Satya.


"Yank, ini batagornya masih hangat loh. Masa tidak jadi makan, mas sudah panas-panas naik sepeda loh." Teriak Satya saat Belva sudah berada di luar kamar.


Suasana hati Belva memang sedang tidak baik-baik saja, sengaja memang dirinya membuat Satya pergi panas-panas menggunakan sepeda sebagai hukuman atas kelakuan suaminya yang menyebalkan itu.


Belva tak perduli dengan teriakan Satya, justru dirinya santai sekali menuruni anak tangga untuk menuju dapur.


Hari berganti, Belva bersiap untuk pergi mengunjungi dokter kandungan. Duo Kay sengaja dijemput oleh Bella dan diantar oleh gadis itu atas permintaan Belva karena dirinya hendak pergi ke rumah sakit.


"Yank, kamu mau ke mana?"


"Ke rumah sakit."


"Loh kenapa? Kamu sakit?" Tanya Satya panik.


"Iya sakit hati." Jawab Belva sekenanya.


"Sayang, kita harus bicara. Mengenai masalah kemarin mas bisa menjelaskannya padamu. Kita selesaikan masalah ini, mas minta maaf padamu."


"Mas, dengar ya... Aku tidak akan memaafkan yang namanya pengkhianatan, perselingkuhan dan sejenisnya. Jika sampai itu terbukti kamu melakukan hal itu dibelakangku, tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu. Jangan kamu pikir aku takut hidup tanpa suami seperti wanita-wanita di luar sana." Gertak Belva. Meski kenyataannya dirinya masih mempertimbangkan keputusan untuk berpisah dari Satya demi kebaikan anak-anaknya.


"Kamu tahu kan? Aku pernah hidup sendiri mengurus kedua anakku tanpa suami." Belva mengingatkan kembali suaminya akan keadaannya dulu tanpa keberadaan Satya.


Satya yang mendengar ucapan sang istri langsung terdiam. Memang benar istrinya itu berbeda, tidak manja dan mandiri sebagai seorang wanita. Pria itu jelas saja takut jika ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya.


"Sayang, tolong jangan berbicara seperti itu. Mas tidak akan membuatkanmu pergi dari sisi mas."


"Kita lihat saja nanti. Aku mau periksa kandungan, awas." Ucap Belva.


"Mas, antar." Ujar Satya.


"Terserah." Jawab Belva.


Belva pikir kesempatan bagus saat Satya mengantarkan dirinya. Biar sekalian saja mereke mengetahui hasil dari pemeriksaan Siwi, apakah wanita itu benar hamil anak Satya atau bukan.


Saat mereka hendka keluar rumah, rupanya mereka dikejutkan dengan kedatangan tamu spesial yang tak bisa mereka tolak. Tuan dan Nyonya Hector sudah tiba di Indonesia bahkan saat ini sudah berada di depan rumah Satya.


Satya membulatkan matanya melihat mertuanya sudah tiba di rumahnya. Pikiran dan hatinya yang selama ini sudah tidak tenang kini bertambah berkali lipat.

__ADS_1


'Astaga, Mama dan Papa sudah sampai di sini. Mati aku.' Batin Satya panik. Dia merutuki keadaan yang tak menguntungkan baginya seperti ini.


"Mama... Papa... Kalian, kenapa tidak bilang pada Satya jika ingin berkunjung ke sini?" Tanya Satya berusaha menenangkan dirinya.


Tuan dan Nyonya y tersenyum mendengar pertanyaan menantu mereka. "Bukankah benar hati yang lalu Papa sudah menghubungi istrimu jika kami akan berkunjung." Ujar Tuan Hector.


Satya melupakan hal itu, dirinya terlalu fokus untuk memikirkan masalahnya yang sudah terbongkar dihadapan sang istri.


"Ah iya... Maaf Satya lupa. Kenapa tidak menghubungi kembali jadi saya bisa menjemput kalian." Ujar Satya.


"Tidak perlu, pasti kamu sibuk. Kalian mau ke mana?" Tanya Nyonya Hector.


"Kita mau ke rumah sakit, Ma. Periksa kandungan." Jawba Belva.


"Oh ya? Boleh Mama ikut?"


"Em... Ma... Maaf sebaiknya Mama istirahat sjaa dulu. Mama pasti lelah."


Belva tidak ingin permasalahan rumah tangganya terdengar oleh kedua orang tuanya. Terlebih mengetahui jika suaminya menghamili wanita lain.


"Ah ya sudah, padahal Mama ingin ikut kalian tapi Mama juga merasa lelah sebaiknya Mama istirahat saja dulu."


"Iya, Ma. Mama istirahat saja dulu." Ujar Satya.


Belva merelakan waktu nya sejenak untuk mengurus kedua orang tuanya yang datang secara tiba-tiba. Hingga selesai mereka melanjutkan rencana mereka ke rumah sakit.


Satya belum mengetahui jika nanti akan ada Siwi yang juga memeriksakan kandungan. Jiak pria itu tahu maka sudah dipastikan dia akan mengmahan Belva dengan berbagai alasan agar tidak bertemu dengan Siwi.


"Selamat pagi, Nyonya dan Tuan." Sapa dokter Raiz dengan ramah.


"Selamat pagi dokter." Sapa Belva tak kalah ramah.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Raiz.


"Saya ingin periksa kandungan dokter."


"Baiklah, langsung saja kita periksa, kalau tidak salah usia kandungan anda sudah empat bulan, benar ya."


"Iya dokter." Jawab Belva.


Mendengar usia kandungan sang istri sudah memasuki empat bulan Satya tersenyum. Ia juga melihat hasil USG dari layar komputer mendengarkan penjelasan dokter Raiz yang mengatakan jika kandungan Belva baik-baik saja dan berkembang secara normal.


"Apa ada keluhan selama ini?"


"Tidak ada dok semua baik-baik saja."


"Dokter, apakah itu artinya kehamilan istri saja sudah tidak rawan lagi untuk melakukan itu?" Tanya Satya yang langsung pada hal yang selama ini membuatnya frustasi.


Belva langsung menatap tajam pada suaminya, Satya terdiam melihat tatapan tajam sang istri. Dia melupakan bahwa permasalahannya dengan Belva belum selesai mana bisa dirinya meminta haknya pada Belva tentu hal itu tidak akan mudah didapatkannya selama permasalahan berkaitan dengan Siwi selesai.


"Sebenarnya rawan atau tidak itu tergantung dari si suami mentreatmen istrinya. Secara usia kandungan memang sudah lebih kuat dari usia trimester pertama. Boleh melakukan hal itu tapi dengan lembut." Jelas dokter Raiz.


Dalam hati Satya tersenyum senang tapi juga merasa sedih karena pasti Belva tak mau memberikannya saat ini.


Tak lama seseorang mengetuk pintu ruangan dokter Raiz. Setelah dipersilahkan masuk oleh asisten dokter Raiz maka orang itu masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Satya melihat Siwi dengan wajah tersenyum bahagia saat akan melakukan tes kehamilan.


"Siwi." Gumam Satya terkejut.


Belva hanya menatap suaminya dan Siwi secara bergantian tapi tetap berusaha mengendalikan diri agar tetap tenang dan santai.


"Nyonya Siwi, silahkan masuk." Ucao dokter Raiz.


"Hai, mas kamu di sini juga." Sapa Siwi dengan ajah cerahnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Satya.


"Periksa kandungan, aku rasa ada yang salah dengan siklus bulanan ku, sepertinya aku mengandung mas, mengandung anak kita." Ucap Siwi tersenyum manis.


Satya terbengong dengan penuturan Siwi, Belva mengeraskan rahangnya menahan diri sekuat tenaga. Dokter Raiz mengerutkan keningnya merasa ada yang salah diantar ketiga tamu nya.


"Maaf, apa anda istri Tuan Satya?" Tanya dokter Raiz.


Siwi tersenyum, Satya langsung menjawab dengan cepat. "Bukan, dia hanya karyawan saya."


Siwi berubah tersenyum sinis, "Kamu yakin, mas? Aku hanya karyawan mu saja?"


'Kita lihat saja nanti, mas. Setelah ini kamu akan menjadi milikku.' Siwi tertawa puas dalam hati.


Pemeriksaan langsung dilakukan oelh dokter Raiz dan Siwi. Belva dan Satya menunggu mereka di dalam ruangan dokter Siwi.


Melihat istrinya yang terdiam dengan wajah tak sedap dipandang membuat Satya kalang kabut.


"Sayang, jika dia mengandung itu bukan anak mas, percayalah."


"Kita lihat saja nanti." Jawab Belva singkat datar dan dingin.


'Brengsyek Siwi, kenapa harus seperti ini sih.' Batin Satya dalam hati.


****


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2