
Terlihat raut wajah Roichi khawatir dengan Belva. Tak biasanya wanita muda itu sampai pingsan seperti ini. Apa mungkin kelelahan pikir Roichi. Tapi selama ini meski banyak pekerjaan di butik saat masih berada di Jerman. Roichi tak pernah mendengar Belva sakit hingga pingsan seperti ini.
"Nona, bangun Nona." Suara lembut Roichi berusaha membangunkan kesadaran Belva.
Tapi wanita itu tak kunjung bangun. Wajahnya terlihat pucat, dengan kulit yang dingin dan berkeringat.
"Mamiii... Huuu... Huuu... Huuu. Mami bangun. Mami jangan pergi nanti Kaila sama Kaili sama siapa." Kaila sudah menangis terisak saat Maminya tak kunjung bangun.
"Mami, orang tua kita cuma satu. Kita cuma punya Mami. Nanti kalau Mami pergi kita bagaimana ?" Kini Kaili yang mencurahkan isi hatinya sembari air matanya mengalir. Meski tak seheboh Kaila tapi tetap saja pria kecil itu menangis ketakutan.
"Sstt... Sayang jangan bicara seperti itu. Mami kalian tidak pergi, Mami kalian hanya pingsan saja." Roichi juga berusaha menenangkan Duo Kay yang sudah menangis ketakutan.
"Opmud kita takut Mami pergi. Kita sudah tidak punya Papi, kita tidak mau kehilangan Mami." Ucap Kaili.
"Iya Opmud, di sekolah hanya kami saja yang tidak punya Papi. Setiap malam Kaila berdoa agar Kaila bisa punya Papi sama kaya teman-teman." Gadis kecil itu menimpali ucapan kembarannya.
Roichi terdiam mendengar ungkapan hati kedua bocah kecil yang belum genap berusia lima tahun itu. Ternyata mereka benar-benar mengungkapkan semua perasaan mereka. Selama ini mereka tak pernah mengatakan hal seperti ini. Meski mereka tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah tapi mereka hampir sama sekali tidak pernah menyinggung perihal seorang Ayah.
"Astaga, kasihan sekali kalian. Pasti kalian berusaha sekali menyimpan perasaan seperti ini." Batin Roichi yang mampu merasakan kesedihan kedua bocah seperti itu.
"Sayang, dengar Opmud. Mami kalian tidak akan kenapa-kenapa. Mami kalian baik-baik saja. Kita doakan supaya Mami cepat bangun ya." Masih berusaha menenangkan Duo Kay, Roichi mengusap kepala kedua bocah kecil tersebut.
Mereka sampai di rumah sakit terdekat. Sopir ternyata melajukan mobilnya dengan cepat. Merasa khawatir dengan keadaan majikannya.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap sopir pada Roichi.
"Oke... Saya minta tolong, jaga anak-anak Pak. Saya masuk ke dalam dulu."
"Baik Tuan."
Dengan sigap sopir membukakan pintu mobil untuk Roichi dan juga Belva. Pria bertubuh atletis itu pun juga dengan cepat mengangkat tubuh wanita cantik beranak dua itu masuk ke dalam rumah sakit.
"Suster... Suster... Tolong ini pingsan !" Teriak Roichi membopong tubuh Belva.
"Tuan, letakkan di sini saja. Apa yang terjadi Tuan ?" Tanya suster jaga yang sigap membukakan ruang UGD.
"Dia tiba-tiba pingsan. Tolong diperiksa suster." Pinta Roichi.
"Baik, Tuan tunggu saja di luar biar saya periksa istri anda." Ucap dokter yang juga sudah berada di dalam UGD.
Roichi menunggu di luar, dia tak bisa tenang. Kursi tunggu yang sudah tersedia pun tak bisa menjadi perhatiannya. Dia mondar-mandir memikirkan keadaan Nona nya. Berharap baik-baik saja dan tidak ada yang serius.
"Opmud... Huuuu... Huuuu...!"
Kaili dan Kaila masuk dengan di gandeng oleh sopir. Mereka merengek meminta untuk diantar masuk. Keduanya terlalu takut jika nanti Mami mereka akan pergi meninggalkan mereka.
Roichi yang sedang khawatir dan fokus dengan seseorang yang ada di dalam UGD. Langsung saja menoleh dan menghampiri kedua bocah kembar itu.
Mengarahkan kedua bocah kembar itu ke kursi tunggu. Mendekap erat mereka agar lebih tenang dan tak perlu khawatir.
"Ssstt... Sudah jangan menangis. Mami kalian baik-baik saja. Sekatang Mami sedang diperiksa dokter. Oke."
"Mami tidak akan pergi meninggalkan kami kan Opmud ?" Tanya Kaila yang masih menangis. Mata dan wajah nya sudah memerah akibat menangis.
"Kenapa dokter lama sekali Opmud. Mami nanti cepat bangun kan Opmud ?" Kaili juga tak kalah dalam berharap. Pria kecil itu sama halnya dengan kembarannya yang sudah menangis hingga wajahnya merah.
Walau bagaimanapun mereka masih anak kecil. Masih membutuhkan kedua orang tuanya. Sayang, sejak kecil mereka hanya hidup dengan kasih sayang seorang ibu saja. Tidak ada sosok Ayah bagi mereka. Itu yang membuat mereka begitu mencintai Mami mereka. Takut kehilangan sosok yang selalu memberikan kasih sayang pada mereka.
"Iya. Ssstt... Jangan menangis. Mami baik-baik saja. Sebentar lagi pasti bangun." Roichi terus saja menenangkan dua bocah kembar yang cantik dan tampan itu.
Tak lama pelukan mereka terurai saat pintu ruang UGD terbuka. Dokter yang memeriksa Belva keluar. Roichi berdiri menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaannya dokter ?" Tanya Roichi.
"Pak dokter bagaimana Mami kami ?" Tanya Duo Kay serempak dengan sesenggukan.
Dokter yang tadinya akan menjelaskan pada Roichi setelah pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu. Justru dokter tersenyum gemas dengan dua bocah kembar yang ada di samping pria dewasa itu.
"Mami kalian baik-baik saja anak-anak manis." Jawab dokter pada Duo Kay. Tangannya tak kuasa menahan diri untuk mengusap kepala Duo Kay.
"Istri anda baik-baik saja Tuan. Dia hanya kelelahan saja dan sepertinya pola makannya tidak teratur. Anda bisa masuk menjenguknya. Dia sudah sadar dan bisa langsung dibawa pulang." Ucap dokter.
Roichi tersenyum kaku, sedari tadi banyak orang yang mengatakan Belva adalah istrinya. Untuk menjelaskanpun tidak ada waktu baginya karena kondisi yang mendesak. Dan dia rasa juga tak perlu menjelaskan selagi tidak ada hal yang merugikan. Toh hanya prasangka mereka saja.
"Terima kasih dokter kami masuk dulu."
"Iya silahkan Tuan."
Ketiga orang itu masuk menghampiri Belva yang masih terbaring lemah. Benar kata dokter jika Belva sudah bangun. Wajahnya masih tampak pucat. Belva melihat kedua anaknya menangis, ia begitu sedih dan merasa bersalah.
"Sayang..."
"Mami..."
Ibu dan anak itu saling memanggil. Belva dengan rasa bersalahnya dan Duo Kay dengan rasa khawatir mereka.
"Om, kenapa aku dibawa ke sini ?" Tanya Belva pada Roichi.
"Nona, tadi pingsan jadi saya membawa ke sini. Apa yang Nona rasakan saat ini ? Apa masih ada yang terasa sakit ?"
"Hanya sedikit pusing saja dan masih lemas." Ucap Belva lirih.
"Mami, Mami mana yang sakit ?" Tanya Kaila. Tangannya sudah terulur pada Roichi untuk meminta gendong agar bisa melihat Maminya.
Roichi menggendong Kaila dan meletakkan di samping brangkar Belva. Sedangkan Kaili digendongnya sendiri.
"Mami sudah sembuh sayang. Kenapa kalian menangis heemm ?" Belva mengusap air mata Kaila. Melihat Belva menghapus air mata Kaila reflek Roichi pun berlaku sama pada Kaili yang berada di gendongannya.
__ADS_1
"Kami khawatir Mami." Jawab Kaila.
"Kami takut Mami pergi." Kaili ikut menjawab.
Belva tersenyum dalam wajah pucatnya. "Mami baik-baik saja, Mami tidak akan pergi meninggalkan kalian sayang. Kita akan selalu bersama-sama."
Kaila saling memeluk dengan Maminya. Membuat Kaili merasa iri dan ingin memeluk Maminya juga. "Aku juga mau peluk Mami."
Tidak ada tempat lagi untuk Kaili karena brangkar yang sempit. Roichi bingung harus bagaimana mendekatkan Kaili agar bisa memeluk Maminya.
"Mamiii aku juga mau peluk Mami." Rengek Kaili.
Belva yang masih memeluk Kaila, satu tangannya terulur pada Kaili. "Sini sayang."
Mau tak mau Roichi mendekatkan Kaili tanpa menurunkan Kaili dari gendongannya. Hal itu membuat Roichi dan juga Belva terlihat sangat dekat. Roichi dapat menatap wajah cantik ibu muda itu dari jarak yang begitu dekat.
Saat mata mereka bertemu tanpa sengaja membuat Roichi menjadi kikuk dan sungkan. Dengan cepat Roichi mengangkat tubuh Kaili. "Maaf Nona."
Belva tersenyum melihat tingkah asisten Papanya yang menjadi aneh. Dan itu terlihat lucu bagi Belva. Belva mengangguk mendengar kata maaf dari Roichi.
"Nona, sudah bisa pulang. Apa kita akan pulang sekarang ?" Tanya Roichi.
"Iya kita pulang sekarang saja. Aku ingin istirahat di rumah saja. Kaila, kita pulang, nanti Mami gendong." Kaila mengangguk.
"Nona, sebaiknya jangan dulu. Biar Nona kecil saya yang menggendongnya. Tubuhmu masih lemas." Cegah Roichi.
"Kaila tidak berat, aku masih bisa menggendongnya Om." Belva merasa yakin untuk menggendong Kaila.
Baru saja menggendong Kaila dan melangkah beberapa langkah, Belva sudah hendak jatuh. Roichi tampak khawatir, untung saja dia berdiri di belakang Belva. Lengan kekarnya menangkap tubuh Kaila dan Belva hingga punggung Belva bersandar pada dada bidang Roichi.
"Nona, baik-baik saja ? Lebih baik Nona kembali saja ke ranjang itu. Biar saya membawa si kembar ke dalam mobil terlebih dahulu baru menjemput Nona kembali." Saran Roichi yang merasa khawatir.
"Tidak Om, aku baik-baik saja. Ayo kita cepat pulang." Belva memaksakan diri. Memang wanita muda itu bukan orang yang mau dengan mudah menyerah dan dikasihani oleh orang lain. Pengalaman hidupnya mengajarkannya untuk bisa berusaha menjadi wanit yang kuat dan mandiri.
"Ya sudah, tapi maaf ijinkan saya tetap memegang anda dan Nona Kaila."
Belva mengangguk, mereka berjalan keluar ruang UGD. Merasa kepalanya semakin berdenyut Belva memilih menyandarkan kepalanya pada dada bidang Roichi.
Saat ini mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang begitu harmonis. Saling memeluk satu sama lain. Roichi melirik Nona nya yang telah menyandarkan kepalanya.
"Nona, baik-baik saja ?" Tanya Roichi.
"Kepalaku sakit." Jawab Belva.
"Sabar Nona, sebentar lagi kita sampai mobil."
Hati-hati dan perlahan Roichi menuntut Belva. Kaili masih dalam gendongannya. Sedangkan Kaila sepertinya bocah itu mengantuk, beberapa kali dalam gendongan Maminya kepalanya tak bisa lagi berdiri tegak.
Sopir langsung membukakan pintu mobil untuk majikannya. "Pak, tolong angkat Nona kecil dan Tuan kecil." Pinta Roichi.
Kedua bocah itu satu persatu diangkat oleh sopir masuk ke dalam. Kini giliran Roichi yang membantu Belva masuk ke dalam mobil. Dirasa ibu dan anak itu sudah aman, Roichi menutup pintu belakang dan duduk di kursi depan di samping sopir.
Sampai di rumah, Roichi dan sopir membantu dua bocah kecil itu masuk ke dalam. Menggendong mereka karena memang sudah tertidur.
"Ya ampun mereka sampai tertidur. Pasti mereka kelelahan." Ucap Budhe Rohimah.
"Iya Bu, mereka kelelahan sekali." Ucap Roichi yang memilih memanggil Budhe Rohimah dengan sebutan Ibu. Dia merasa lebih nyaman memanggil seperti itu.
"Belva mana kok tidak ikut masuk ?" Tanya Budhe Rohimah yang tak melihat Belva ikut masuk. Biasanya wanita muda itu tak pernah absen untuk mengurus dua bocahnya.
"Masih di dalam mobil, Nona tidak enak badan. Sebentar saya keluar dulu."
Roichi kembali ke mobil, membangunkan Belva dan membantunya masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun Nduk, wajahmu pucat sekali. Apa tidak dibawa ke dokter saja ?" Tanya Budhe Rohimah pada Roichi.
"Sudah tadi Bu. Dokter bilang hanya kelelahan dan makan tidak teratur saja."
Mereka membantu menuntun Belva ke dalam kamar ibu muda itu. Membaringkannya dan Roichi memilih untuk keluar kamar Belva.
Selama beberapa bulan Roichi memang di tugaskan untuk memantau perkembangan pembangunan proyek resort milik Satya yang ada di Bali. Jadi pria itu lebih sering berada di Bali. Hanya setiap weekend saja dia mengunjungi keluarga Belva di Jakarta.
Setiap weekend itulah selalu dimanfaatkan oleh si kembar untuk mengajak Opmud mereka jalan-jalan. Kali ini mereka jalan-jalan tidak hanya ditemani oleh Belva dan Roichi saja tetapi juga di temani oleh Bella.
"Sayang, di sini sebentar sama aunty Bella ya. Mami mau cari tisyu dan air mineral dulu."
"Nona, biar saya saja yang mencarikannya. Nona di sini saja bersama anak-anak dan Bella."
"Tidak usah Om. Sekalian aku mau cari toilet. Bella titip si kembar dulu ya."
Bella dan Roichi mengangguk. Belva melangkahkan kakinya menjauh dari keluarganya. Tujuannya saat ini adalah mencari minimarket dan juga toilet.
Beruntung didekat taman terdapat minimarket. Belva masuk ke dalam tempat itu untuk mencari apa yang dibutuhkannya.
Disatu sisi seorang pria bertubuh tinggi dan atletis keluar dari dalam mobil. Tujuannya pun sama seperti kebanyak orang yaitu berbelanja.
Dalam minimarket tersebut cukup ramai karena hari ini adalah weekend di mana banyak sekali orang berbelanja dan juga karena jaraknya yang dekat dengan taman bermain.
Bruk... !!!
Seorang wanita paruh baya terjatuh karena saling berdesakan dengan pengunjung yang lain. Semua baranga belanjaan wanita paruh baya itu berhamburan keluar dari keranjangnya.
Wanita itu meringis kesakitan dan kesulitan untuk berdiri karena usianya yang sudah lanjut. Belva melihat kejadian itu karena tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak tega dengan apa yang dilihatnya, hati nuraninya yang memang benar-benar lembut itu secara reflek langsung bergerak membantu wanita tua itu.
"Nyonya... Nyonya anda tidak apa-apa ?" Tanya Belva. Ia merasa kasihan dengan wanita tua itu. Membantunya berdiri sementara yang lain masih melihat belum bergerak untuk membantu.
"Mas, tolong itu barang belanjaan Nyonya ini dirapikan." Pinta Belva pada pelayan minimarket yang datang mendekat untuk turut membantu.
__ADS_1
"Ah iya, baik Nona." Pelayan toko membereskan barang belanjaan yang sudah berantakan itu, dimasukkan kembali ke dalam keranjang belanja.
Belva membawa wanita yang telah lanjut usia itu keluar dari minimarket. Mencari kursi yang bisa digunakan untuk duduk. Kursi itu memang disediakan oleh pihak minimarket tepat di depannya persis.
"Duduklah dulu Nyonya."
Keduanya duduk di kursi tersebut. Terlihat wanita tua itu mengurut pinggangnya yang tengah kesakitan. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Terima kasih Nak susah membantuku." Ucap wanita tua itu.
"Sama-sama Nyonya. Sesama manusia memang kita harus saling tolong menolong. Apakah ada yang sakit ? Kita pergi ke rumah sakit jika tubuh Anda ada yang terasa sakit."
"Pinggangku... Pinggangku terasa sakit sekali." Keluh wanita tua itu.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja Nyonya agar dokter bisa memeriksanya."
Wanita tua itu menggelengkan kepala, merasa takut jika harus ke rumah sakit. Pasti akan mengeluarkan biaya yang cukup banyak jika ke sana.
"Tidak perlu Nak. Biaya rumah sakit pasti mahal. Uangku hanya cukup untuk membeli kebutuhan untuk dua minggu ke depan. Bisakah kamu membantuku untuk membayarkan barang belanjaanku Nak. Ini uangnya."
Wanita tua itu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Belva untuk membayarkan barang belanjaannya yang sempat terhambur tadi.
"Baiklah, anda tunggu di sini sebentar."
Belva masuk ke dalam dengan membawa uang tersebut. Mengambil serta membayarkan barang tersebut.
"Nona, apa ini barang belanjaan Nyonya yang tadi terjatuh ?" Tanya seorang pria.
"Iya benar." Jawab Belva.
"Biar saya yang membayarkan semua barang ini, sebagai permintaan maafku karena tak sengaja menyenggolnya tadi."
"Baiklah. Tapi akan lebih baik lagi jika anda juga meminta maaf secara langsung padanya Tuan." Ucap Belva. Pria itu mengangguk.
Setelah selesai membayar dan membawa barang itu keluar. Belva dan pria tersebut menghampiri wanit tua itu. Pria yang tadi tak sengaja menyenggol meminta maaf atas ketidak-sengajaannya. Beruntung wanita tua itu adalah orang yang baik dan tak memanfaatkan kondisinya saat ini. Pria itu lantas pergi saat dirasa semua sudah selesai secara baik-baik.
"Nyonya, bisakah anda ikut bersama saya ? Saya khawatir akan kondisi anda saat ini. Lebih baik kita periksakan saja dulu. Untuk masalah biaya anda tidak usah khawatir akan hal itu. Bagaimana nyonya ? Saya mohon ini untuk kebaikan anda sendiri." Belva berusaha membujuk wanita tua itu. Ia benar-benar merasa khawatir. Melihat wanita tua itu. Ia teringat akan Mama dan juga Budhenya.
Setelah beberapa menit membujuk akhirnya wanita tua itu mau mengikuti saran Belva untuk pemeriksaan. Sedangkan sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan Belva.
"Wanita itu, benar-benar cantik luar dalam. Tapi siapa dia kenapa aku seperti tidak asing dengan wajahnya." Gumam Satya.
Sedari tadi Satya lah yang memperhatikan Belva. Sejak masuk ke dalam minimarket tak sengaja matanya bertemu wajah yang beberapa kali menarik perhatiannya. Kali ini sikap Belva mampu membuat seorang Satya kagum.
Pria itu benar-benar melihat dengan matanya sendiri. Jika masih ada seorang wanita sang sangat cantik tapi juga memiliki hati yang sangat baik. Peduli terhadap sesama yang tidak dikenal bahkan sampai memohon untuk kebaikan seseorang yang sudah ditolongnya.
Saat tatapan matanya terus memperhatikan Belva. Jordi sang asisten menepuk bahunya, membuat pria tampan itu sedikit terkejut dan mengalihkan perhatian pada Jordi.
"Apa sudah selesai Tuan ? Kita buru-buru harus segera menemui klien. Mereka sudah menunggu." Ucap Jordi.
"Ah iya, ayo kita pergi sekarang." Satya berjalan mendahului Jordi. Hingga sang asisten pun akhirnya ikut berjalan dengan langkah cepat.
Belva tak sengaja melihat kedua pria itu. Ia hanya mengernyitkan dahinya saja. Seperti tak asing dengan dua orang tersebut karena Belva hanya bisa melihat punggu kedua pria tersebut.
Mengabaikan orang yang tak jelas itu. Belva menghubungi Roichi untuk menjemputnya di depan minimarket. Ia akan membawa wanita tua itu memeriksakan diri lalu setelahnya mengantarkannya pulang.
Sedangkan di mobil yang lain Satya masih termenung. Mengingat kejadian yang dilihatnya tadi. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat membayangkan wajah cantik wanita itu.
"****... Wanita itu istri Tuan Roichi. Beruntung sekali pria itu mendapatkan wanita itu." Batin Satya.
Satya mengusap wajahnya secara kasar, hal itu terlihat oleh Jordi sang asisten. Otomatis Jordi merasa jika Tuannya itu sedang memikirkan sesuatu yang cukup berpengaruh bagi diri Tuanya.
"Apa Tuan sedang memikirkan masalah yang cukup berat ?" Tanya Jordi.
"Hah ? Ya begitulah." Jawab Satya secara asal.
"Iya, aku rasa memang cukup berat. Bisa-bisanya aku menganggumi istri orang lain." Batin Satya.
"Apakah ini berhubungan dengan istri anda ?" Tanya Jordi kembali.
Setahu Jordi masalah yang cukup berpengaruh bagi Satya hanya masalah rumah tangganya dan juga pekerjaannya.
"Tidak, aku hanya memikirkan pekerjaan saja. Bagaimana perkembangan resort yang ada di Bali ?" Tanya Satya mengalihkan pembicaraan.
"Resort ? Resort itu selalu dipantau oleh Tuan Roichi. Pembangunan sudah dimulai. Apa anda ingin melihatnya secara langsung ?"
"Atur saja jadwal untuk ke sana. Apa sudah ada informasi mengenai siapa arsitek dari Hector Group ?" Tanya Satya.
Memang tujuan awal kerjasama dalam pembangunan resort itu hanyalah ingin mengetahui siapa arsitek dari Hector Group.
"Maaf sampai saat ini belum ada celah mengenai informasi tersebut Tuan. Sepertinya mereka benar-benar merahasiakan identitas karyawan mereka yang satu itu."
"Apa kamu tak bisa membobol data yang dimiliki Hector Group ?" Tanya Satya datar. Sepertinya Satya sudah tak sabar ingin mengetahui siapa yang bisa mengalahkan karyawan terbaik miliknya.
"Akan saya coba lakukan nanti Tuan. Tapi, sebaiknya kita menggunakan cara halus saja, agar kerjasama ini tidak berhenti di tengah jalan. Hector Group merupakan perusahaan yang memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Dan tidak sembarang perusahaan bisa diterima untuk bekerjasama dengan mereka."
Satya tampak berfikir atas ucapan Jordi, dia tak ingin salah langkah. Akan merugikan dirinya sendiri jika gegabah dalam penyelidikan ini. Meski pria itu selalu berambisi untuk bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Tapi dia tak pernah mau ceroboh.
"Oke, atur saja. Jangan lupa kita juga harus menyelidiki perusahaan FF Group. Luangkan waktu untuk itu. Mengenai Hector Group kita sudah mulai berjalan jadi kita sudah bisa sedikit tenang." Ucap Satya.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
__ADS_1
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π