Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 70. Tak Bisa Menahan


__ADS_3

Satya meletakkan sekantong plastik besar berisi mainan itu di samping ranjang belakang sofa. Lalu mendekati ranjang Kaila, mencium kening gadis kecil itu dengan sayang.


"Selamat siang putri cantik. Sudah makan hemm ?" Tanya Satya.


"Sudah tadi disuapi Mami." Jawab Kaila.


"Bagus anak pintar, sudah minum obatnya ?"


Kaila menggelengkan kepalanya. Satya menatap Belva. "Kenapa belum minum obat ?" Tanya Satya pada Belva.


"Baru selesai makan, ada teman Kaila yang ingin menjenguk." Ucap Belva melirik dokter Dimas dan Yossy.


Satya baru sadar jika ada dua orang berada di dalam kamar rawat Kaila.


"Oh maaf Tuan." Ucap Satya.


"Tidak apa Tuan, perkenalkan saya Dimas uncle dari Yossy teman Kaila." Dokter Dimas mengulurkan tangannya pada Satya.


"Saya Satya, Daddy nya Kaila." Satya memperkenalkan dirinya sebagai Daddy dari Kaila. Tidak salah memang itulah kenyataannya.


Belva cukup terkejut dengan apa yang Satya lakukan tapi ia tak bisa menyalakan. Apa yang dilakukan Satya tak salah. Ingin protes karena mereka belum membicarakan hal ini lebih lanjut tapi Belva tak berani menyelas saat Satya memperkenalkan dirinya di hadapan dokter Dimas.


"Oh iya... Tuan Satya saya seperti tak asing dengan anda."


"Benarkah ? Mungkin anda pernah melihat saya." Ucap Satya seperti biasa dingin dan datar.


"Kalau tidak salah anda pemilik Bala Corp. Apa itu benar ?" Tanya dokter Dimas.


"Benar. Rupanya anda mengetahuinya." Jawab Satya.


Dokternya Dimas tersenyum. "Tentu saja, anda pebisnis yang cukup diperhitungkan dalam dunia bisnis. Saya merasa senang bisa bertemu dengan anda Tuan."


"Santai saja. Terima kasih sudah mau menjenguk Kaila." Ucap Satya.


Satya duduk dihadapan dokter Dimas dan Yossy. Belva duduk di samping ranjang Kaila karena harus memberikan obat untuk gadis kecil itu. Sedangkan Kaili duduk di atas ranjang Kaila, melihat kembarannya yang sedang dibantu oleh sang Mami meminum obat.


Satya mengobrol dengan dokternya Dimas. Yossy turun dari pangkuan uncle nya untuk mendekati Kaila.


"Aunty aku boleh naik ?" Tanya Yossy.


"Oh tentu saja sayang, sini aunty angkat. Duduk dekat Kaili ya." Ucao Belva.


Yossy mengangguk, gadis kecil itu diletakkan di samping Kaili. Pria kecil itu cuek saja justru kini ketiga bocah kecil itu asik bercerita.


Dokter Dimas sesekali memperhatikan Belva dan hal itu ditangkap oleh manik mata Satya. Sebagai seorang pria, Satya tahu bagaimana cara dokter Dimas menatap Belva. Dia seakan tak rela jika ada pria lain yang menatap Belva dengan tatapan memuja. Padahal dia sendiri setahunya Belva sudah memiliki suami sedangkan dirinya terkadang juga menatap Belva dengan pandangan memuja.


Jika tatapan Satya tak pernah terlihat oleh banyak orang karena pria itu cukup pintar menutupinya. Berbeda dengan dokter Dimas yang terlihat sangat jelas.


"Sialan, ternyata ada pria lain juga yang menginginkan Belva." Batin Satya.


"Sepertinya keponakan anda menjadi teman dekat putri saya." Ucap Satya. Upaya menghentikan tatapan dokter Dimas pada Belva.


"Ah iya Tuan. Yossy bilang hanya Kaila teman satu-satunya di sekolah yang baik padanya. Jadi, ketika Kaila tidak berangkat Yossy merasa kesepian sepertinya."


"Ya untuk beberapa hari kedepan mungkin Kaila masih belum bisa berangkat sekolah." Ucap Satya. Dokter Dimas mengangguk.


Tiba-tiba ponsel dokter Dimas berdering, panggilan dari rumah sakit. Sebagai seorang dokter memang terkadang selalu ada panggilan mendadak seperti saat ini.


"Maaf Tuan, saya harus pamit undur diri. Yossy, kita pulang sayang. Uncle harus ke rumah sakit." Ujar dokter Dimas.


Satya tak terlalu perduli dengan urusan dokter Dimas. Yang jelas dia cukup lega saat dokter Dimas pergi dari ruangan Kaila.


"Kaila aku pulang dulu ya. Kamu cepat sembuh nanti kita main lagi." Ucao Yossy.


"Iya nanti kita main lagi ya." Ucap Kaila.


"Yossy, terima kasih ya sudah mau menjenguk Kaila." Ucap Belva mengusap lembut kepala Yossy.


Gadis kecil itu tersenyum, ia merasa senang mendapatkan perlakuan lembut dari Belva. Sangat jarang ia mendapatkan hal seperti itu, sebagai anak yatim-piatu Yossy hampir tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang yang benar-benar menyayanginya. Hanya dokter Dimas yang paling dekat dengan Yossy dan menyayangi gadis kecil itu.


"Aunty, aku pulang. Dadah Kaila... Dadah Kaili." Ucap Yossy dengan melambaikan tangan.


Dokter Dimas menghampiri Yossy yang duduk di ranjang Kaila. Pria itu mengangkat tubuh kecil Yossy sekaligus berpamitan pada Belva.


"Nona, kami pulang dulu, maaf mengganggu waktu istirahat Kaila."


"Tidak apa dokter. Terima kasih sudah menjenguk Kaila."


Dokter Dimas tersenyum manis pada Belva dan mengangguk. Meski dia tahu Belva sudah berkeluarga tapi rasa ketertarikannya pada wanita itu tak serta Merta langsung menghilang begitu saja.


Satya memperhatikan dokter Dimas dan Belva dengan tatapan tak suka. Hingga akhirnya dokter Dimas dan Yossy akan keluar ruangan tersebut, Belva hendak mengantar. Mengikuti dari belakang tapi lengannya ditarik oleh Satya ke belakang lalu pria itulah yang melangkah maju mengantar dokter Dimas dan Yossy.


Belva mengerutkan keningnya, melihat sikap Satya yang aneh. Tapi wanita itu memilih diam saja.


"Kami permisi Tuan." Pamit dokter Dimas sekali lagi.


"Silahkan. Hati-hati." Ucap Satya singkat. Ketika kedua orang itu keluar dari ruangan Kaila, Satya langsung menutup pintu ruangan tersebut.


"Daddy, tadi kita beli mainan kan buat Kaila ? Dia tam percaya jika kita beli mainan untuknya." Ujar Kaili.


"Iya tadi Daddy juga beli mainan untuk Kaila." Ucap Satya tersenyum.


"Tunggu apa ini maksudnya ? Tuan jelaskan padaku." Ucap Belva dengan nada serius.


"Apa harus dibahas sekarang dihadapan anak-anak ? Boleh, bisa langsung kita jelaskan saja pada mereka." Ucap Satya santai.


"Bagaimana bisa Kaili memanggil anda seperti itu. Apa anda telah memberitahu Kaili yang sebenarnya ?" Tanya Belva.


"Bisa kita bicara berdua saja ?" Tanya Satya.


Belva menatap kedua anaknya dan belum juga menjawab pertanyaan Satya.

__ADS_1


"Anak-anak, Daddy pinjam Mami kalian sebentar boleh ? Ada yang ingin Daddy bicarakan dengan Mami kalian." Ucap Satya.


"Boleh Daddy." Jawab Kaili. Kaila masih bingung kenapa kembarannya sedari tadi memanggil Satya dengan sebutan Daddy padahal mereka sudah punya Papi.


Satya menarik tangan Belva ke arah ranjang belakang sofa. Jarak yang cukup jauh untuk mereka berbicara tanpa bisa di dengar oleh di kembar jika dengan suara yang lirih.


"Belva, saya Daddy mereka. Ayah kandung mereka. Apa salah jika mereka memanggilku dengan sebutan itu ? Kamu tahu bahkan aku harus berbohong pada Kaili agar dia mau memanggilku Daddy. Tolong Belva, saya tahu ini memang terlalu cepat. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk memposisikan diri seakan saya bukan siapa-siapa bagi mereka."


"Tapi saya belum bisa Tuan. Saya belum siap. Saya takut terjadi sesuatu dengan mereka."


"Bagaimana kalau Nyonya Sonia tahu ? Bagaimana kalau Alya tahu ? Mereka tidak akan tinggal diam untuk mencelakai anak-anak saya Tuan." Ucap Belva dengan cepat.


"Anak-anak mu ? Tapi mereka juga anak-anak saya Belva. Kamu tidak bisa mengakui mereka sendiri. Saya ayah kandung mereka, harus berapa kali saya tekankan itu padamu."


"Oke... Mereka juga anak-anak anda. Tapi bertahun-tahun saya yang bersama mereka, saya yang mengurus mereka. Bahkan saya yang berusaha susah payah melindungi mereka dari istri dan putri anda yang ingin mencelakhmmp..."


Srreeekk !!! Gorden pembatas yang digunakan untuk menutup ranjang tambahan itu ditutup oleh Satya.


Tanpa aba-aba Satya menarik tengkuk Belva dan menutup mulut Belva dengan bibirnya. Pria itu tak tahan jika Belva terus membicarakan Sonia dan Alya. Bahkan mengatakan mereka masih sebagai istri dan anaknya.


Dia tak ingin menggunakan bentakan atau suara yang tinggi untuk menutup mulut Belva yang akan membuat si kembar terkejut dengan suara keras Satya. Sebuah ciuman yang kemudian menjadi *******.


Mata Belva terbelalak lebar dengan apa yang Satya lakukan. Tengkuknya di tekan oleh Satya bahkan tangan pria itu melilit punggungnya agar Belva tak menghindar. Tangan wanita itu hanya bisa menahan pada dada bidang Satya.


Satya menyesap bibir Belva merasakan manisnya bibir wanita yang sudah menjadi ibu dari anak-anaknya. Berbeda dengan lima tahun yang lalu cara Satya saat ini lebih lembut dan lebih menikmati ciuman itu. Belva bahkan bisa merasakan sikap Satya yang lembut padanya saat kedua bibir mereka menyatu. Jatung Belva berdegup dengan sangat kencang saat ini. Hingga napasnya mulai menipis akibat kekurangan oksigen.


Sedikit mendorong dan memukul kecil dada Satya. Pria itulah tahu jika Belva merasa sesak akibat kekurangan oksigen. Perlahan bibir itu menjauh namun sebelum benar-benar menjauh Satya menyesap sebentar bibir Belva baru benar-benar mengusaikan pagutan itu.


Tak hanya Belva, degup jantung Satya pun bertalu-talu dengan hebatnya. Bahkan napas mereka sedikit tersengal berlomba mengirup kembali oksigen. Satya tak benar-benar menjauhkan wajahnya, keningnya ditempelkan pada kening Belva. Wanita itu masih diam membeku mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Maaf... Maaf saya tidak bisa menahannya. Jangan pikirkan lagi Sonia dan Alya, saya jamin mereka tidak akan menyakiti Kaila dan Kaili. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak saya, bukan hanya anak saya tapi anak mu, anak kita Belva."


Kalimat itu terdengar sangat lembut di telinga Belva. Tatapan mereka bertemu Belva melihat ketulusan atas apa yang Satya ucapkan.


"Kamu percaya padaku ?" Tanya Satya pada Belva. Bagai terhipnotis oleh kelembutan Satya yang jarang sekali muncul itu Belva menganggukkan kepalanya.


Kini Satya tersenyum dihadapan Belva, senyum yang jarang sekali Belva lihat. Dijauhkan wajah pria itu dari hadapan Belva.


"Dengarkan saya baik-baik." Satya memegang bahu Belva erat.


"Saya harap mulai sekarang kita bisa jelaskan secara perlahan kepada anak-anak apa yang sebenarnya terjadi. Paling tidak mereka mengerti jika saya adalah ayah kandung mereka. Tolong mengerti posisi saya, saya juga ingin diakui oleh anak-anak kandung saya. Bisakah ?" Kalimat panjang yang diakhiri dengan kata tanya untuk Belva.


Bersamaan dengan kalimat yang diucapkan Satya, Belva berusaha mencernanya dengan baik apa yang Satya katakan. Memang seharusnya Satya berhak mendapatkan pengakuan dari anak-anak mereka.


"Iya... Tapi bisakah lepaskan tangan anda. Bahu saya sakit." Ucap Belva lirih. Setelah sadar atas apa yang terjadi Belva merasa canggung pada Satya.


"Ah, maaf. Bisa kita coba sekarang ?" Tanya Satya dan Belva mengangguk.


"Terima kasih." Satya tiba-tiba memeluk tubuh Belva. Merasa senang akan keputusan Belva yang mau menyetujui keinginannya.


"Kenapa harus memeluk seperti ini. Dadaku kenapa seperti orang sehabis lari begini sih ?" Batin Belva.


Wanita itu tak membalas pelukan Satya, ia lebih fokus pada degup jantungnya yang lagi-lagi bergedup kencang. Entah apa yang dirasakannya apakah takut atau hanya sekedar terkejut atas sikap Satya.


"Ah maaf Tuan." Belva melepaskan pelukan Satya.


"Iya Nak, sebentar sayang." Jawab Belva dengan sedikit berteriak.


"Maaf Kaila memanggil saya. Permisi." Ucap Belva meninggalkan Satya.


Satya masih terdiam di tempatnya saat Belva meninggalkannya. Sedikit ujung bibirnya tersenyum dengan apa yang baru saja terjadi.


****


Orang yang dicari-cari sudah berada di dalam ruangan Kaila. Budhe Rohimah mengelilingi rumah sakit mencari Satya dan juga Kaili. Ia merasa tak enak pada Belva karena mengijinkan Kaili ikut bersama Satya. Tapi nyatanya Kaili belum sampai di rumah sakit padahal mereka lebih dulu pergi tadi.


"Mereka kemana dicari-cari tidak ada. Apa jangan-jangan Tuan Satya tidak membawa Kaili ke rumah sakit. Aduh bagaimana ini ?" Gumam Budhe Rohimah.


Wanita paruh baya itu mulai merasa cemas, berkeliling rumah sakit setiap tempat sudah di singgahi nya untuk mencari Kaili dan Satya. Lelah Budhe Rohimah pasrah saja jika nanti Belva akan marah padanya karena anak lelaki Belva tak juga kembali.


Keringat sudah membasahi beberapa tubuh wanita paruh baya itu. Berjalan keliling rumah sakit yang besar itu tentu saja menguras banyak energinya.


"Sudahlah, jika nanti Belva marah-marah padaku itu memang salahku. Seharusnya aku tak percaya pada Tuan Satya begitu saja."


Melangkah dengan langkah gontai Budhe Rohimah berjalan menuju arah kamar rawat Kaila. Dirinya sudah menyiapkan diri karena tak membawa hasil menemukan Kaili.


Pintu kamar rawat Kaila dibuka oleh Budhe Rohimah. Kaget sekaligus lega yang saat ini Budhe Rohimah rasakan. Orang yang dicarinya ternyata sudah ada di dalam kamar rawat Kaila.


Budhe Rohimah mengelus dadanya sembari menghembuskan napas perlahan. "Syukurlah, Kaili sudah sampai disini." Batin Budhe Rohimah.


Kini terlihat di ranjang Kaila sedang dikerubungi oleh Satya, Belva dan juga Kaili.


****


Keadaan Alya berangsur mulai membaik. Selama beberapa hari ini Sonia sama sekali tak berada di rumah sakit. Wanita itu belum juga berhasil kabur dari sekapan Faris.


Hanya suster yang berbaik hati sejak kemarin memantau keadaan Alya. Sebenarnya ada yang ingin disampaikan oleh dokter Andrew pada keluarga Alya. Tapi tak ada satupun yang terlihat menjaga gadis itu.


Dokter Andrew pun tahu jika Alya adalah anak dari Satya. Namun, Jordi sudah menjelaskan pada Andrew akan kenyataan yang ada jika Alya bukanlah anak kanduy dari Satya. Dan pria pemilik Bala Corp itupun sudah tak bertanggung jawab atas Alya maupun Sonia.


Jika perceraian itu atas permasalahan yang tak terlalu fatal bisa jadi Satya masih mau bertanggung jawab memberikan nafkah pada Alya tapi kenyataannya berbeda. Sonia sudah sangat keterlaluan begitu juga Alya.


"Nona, apa anda menginginkan sesuatu ?" Tanya suster.


"Apa keluarga ku tidak ada yang datang berkunjung ?" Tanya Alya.


"Maaf, tidak ada Nona. Sejak kemarin anda sendiri dan saya yang memantau keadaan anda atas perintah dokter." Ucap suster.


Alya tampak murung mendengar jawaban suster. Tidak ada salah satupun keluarganya yang mengunjungi dirinya. Miris sekali tidak ada yang peduli padanya saat sakit seperti ini.


"Kenapa aku diabaikan seperti ini ? Mommy terlalu sibuk berkumpul bersama teman-temannya kah ? Daddy ? Sesibuk itu kah di kantor." Batin Alya.

__ADS_1


Air mata gadis itu mulai menetes. Ia dapat merasakan kesepiannya saat ini. Diabaikan dan tak dipedulikan oleh orang-orang terdekatnya.


"Nona, anda baik-baik saja ? Apakah ada yang sakit ?" Tanya suster yang khawatir melihat Alya menangis.


"Tidak suster. Terima kasih sudah menjaga saya." Ucap Alya.


"Sama-sama Nona. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit suster. Alya mengangguk.


Suster itu keluar dari kamar rawat Alya. Masih sama tampak dua orang polisi dengan baju bebas menjada kamar itu. Sudah seperti ******* yang melakukan pengebom di banyak tempat. Seperti itulah mereka menjaga kamar Alya. Semua atas permintaan Satya pada pihak kepolisian agar Alya tak kabur dari tanggung jawabnya.


"Suster, dari kamar Nona Alya ?" Tanya dokter Andrew.


"Iya dokter. Ada apa ya ?"


"Bisa kita bicara sebentar ?" Tanya dokter Andrew.


"Oh bisa dokter." Jawab suster.


"Mari ikut saya ke ruangan saya sus." Ajak dokter Andrew.


Dokter dan suster itu berjalan ke arah ruangan dokter Andrew. Sebagai seorang yang beberapa hari ini menjaga Alya, dokter Andrew membutuhkan saran dari suster tersebut.


"Silahkan duduk sus." Ucap dokter Andrew.


Kini mereka duduk kursi yang bersekat dengan meja kerja dokter Andrew. Sebenarnya hal ini harus dokter Andrew sampaikan pada keluarga Alya tapi karena sejak kemarin pria itu tak melihat keluarga Alya jadi selalu diurungkan niatnya.


"Ada apa dokter ? Sepertinya serius sekali."


"Memang sus. Hal ini serius mengenai Nona Alya yang sejak kemarin suster jaga."


"Ada apa dengannya dok ?" Tanya suster penasaran.


"Apa suster benar-benar tak melihat satu pun keluarga Nona Alya yang berkunjung ? Karena saya harus menyampaikan hal ini dengan pihak keluarga."


"Sama sekali tidak ada yang datang menjaga atau sekedar menjenguknya dokter. Saya pun sebenarnya kasihan pada gadis itu. Sejak belum sadarkan diri tidak ada yang menjaga. Sempat ada yang menjaga tapi entah akhir-akhir ini tidak datang." Ujar suster.


Andrew menceritakan apa yang seharusnya disampaikannya pada keluarga Alya pada suster. Meminta pertimbangan suster, sebaiknya bagaimana. Suster tersebut juga tampak sedikit bingung untuk menanggapi hal tersebut.


"Jika menunggu keluarganya saja bagaimana dokter ?"


"Saya sempat berpikiran seperti itu suster. Tapi jika terlalu lama tidak disampaikan saya hanya takut nanti menyalahi aturan. Mengapa hal serius tidak segera disampaikan." Uvao dokter Andrew.


"Dokter benar. Kita sendiri tidak tahu kapan keluarganya akan datang. Atau jika tak bisa menunggu terlalu lama apa sebaiknya kita sampaikan saja pada Nona Alya secara langsung. Tapi saya takut jika dia mendengar hal ini akan membuat kondisinya menurun kembali." Ujar suster.


"Apa ada kontak dari keluarga nya ?" Tanya dokter Andrew.


"Nanti akan saya cek dulu dibagian administrasi dok. Biasanya akan ada kontak dari keluarga pasien atau seseorang yang menjamin pasien."


"Baik sus, kabari saya segera." Ucap dokter Andrew.


"Oke dok. Apa masih ada lagi yang bisa saya bantu dokter ?"


"Tidak ada sus, terima kasih. Maaf menganggu waktu suster."


"Tidak apa dokter. Kalau begitu saya permisi."


Dokter Andrew mengangguk, suster tersebut langsung beranjak ke bagian administrasi. Mencari tahu informasi mengenai keluarga Alya. Gadis malang yang tak mendapatkan dukungan dari keluarganya saat dalam keadaan terpuruk.


Dibagian administrasi, dengan mudah suster mendapatkan informasi mengenai Alya. Saat itu yang menjamin keberadaan Alya di rumah sakit tersebut adalah Jordi. Bukan Sonia karena pada saat kecelakaan Sonia tak mengerti apapun justru wanita itu tahu dari Jordi yang mengabarinya.


Salinan berkas administrasi milik Alya diberikan suster pada dokter Andrew. Lagi-lagi dirinya harus membicarakan hal ini pada Jordi. Dirinya sudah menebak jika nanti temannya itu akan menjawab jika itu bukanlah urusannya ataupun tanggung jawab Satya.


Tapi mau tak mau dokter Andrew tetap menghubungi Jordi untuk datang ke rumah sakit. Nama Jordi sudah terdaftar sebagai penjamin keberadaan Alya untuk dirawat di rumah sakit tersebut.


Hampir datu jam Jordi dengan segala kesibukannya tetap menyisihkan waktu untuk bertemu sahabatnya itu. Tak banyak waktu yang dimiliki, pria itu hanya akan berbicara seperlunya saja.


"Ada apa menghubungiku dan menyuruhku datang kesini ?" Tanya Jordi yang sudah duduk di kursi ruang kerja dokter Andrew.


"Ini masalah Nona Alya."


"Sudah kukatakan bukan ? Jika mengenai gadis itu aku maupun Tuan Satya tak lagi mengurusinya." Ucap Jordi.


Dokter Andrew menghembuskan napasnya seakan lelah harus bagaimana lagi. "Tapi nama mu yang menjadi penjamin baginya Jordi. Keluarga yang lain tidak ada yang datang akhir-akhir ini."


"Sonia tidak datang ? Bagaimana bisa wanita itu tak datang untuk menemani putrinya." Gumam Jordi.


"Semua yang berkaitan dengannya, aku tak mau tahu lagi Ndrew. Kalau untuk masalah biaya rumah sakit, oke lah masih bisa kubiarkan dengan Tuan Satya."


"Kalian ini memang kejam sekali. Setidaknya dengarkan dulu. Habis itu terserah kalian mau bagaimana."


"Ck... Ya ya baiklah. Katakan apa masalahnya ?" Ucap Jordi malas.


Sebenarnya dia tak mau membahas apapun masalah mengenai Sonia maupun Alya. Sudah cukup berurusan dengan dua wanita bermasalah itu. Sudah berpisah pun merrka masih memberikan masalah untuk dirinya dan Satya.


"Kamu tahu kan jika gadis itu saat ini sedang dalam pengawasan pihak kepolisian ? Ucao dokter Andrew.


"Lalu ?" Tanya Jordi tak ada minat.


"Gadi itu positif menggunakan barang haram."


Kalimat dokter Andrew mampu membuat Jordi menatap wajah sahabatnya.


"Lalu apa maksudnya ?" Tanya Jordi.


****


To Be Continue...


Selalu author ucapkan banyak terima kasih buat my dear para readers ku. Support kalian the best banget buat author terus semangat.


Hari ini author up dua kali buat kalian baca dan membayangkan lagi kelanjutan hidup keluarga Duo Kay.

__ADS_1


Sehat selalu lancar rejeki untuk kita semua. Amiin 🙏😇


__ADS_2