Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 108. Mulai Bereaksi


__ADS_3

Pagi pun menyapa, Belva yang sudah terbiasa bangun subuh langsung pergi ke dapur untuk membantu para asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan. Untuk urusan membersihkan rumah sudah di urus oleh asisten rumah tangga yang lain.


Para ART yang ada di rumah besar Tuan Hector merasa senang dengan keberadaan Belva. Wanita yang ramah dan mampu menghargai siapapun termasuk ART. Meski Belva sangat jarang berkunjung di rumah besar itu tapi ART tetap merasa dekat dengan Belva.


"Non ini sudah hampir siap, biar kami saja yang menyiapkan di meja makan. Non bersih-bersih saja dulu." Ucap Bi Marni yang merupakan ART terlama dan sudah kenal dekat dengan Belva.


"Ya sudah, aku tinggal dulu ya Bi. Terima kasih." Ucap Belva.


"Kami yang seharusnya berterima kasih, Non sudah membantu pekerjaan kami."


"Tidak masalah Bi, kita sama-sama untuk mempersiapkan makanan ini juga untuk kita makan bersama. Ya sudah aku ke kamar dulu ya, mau bangunkan anak-anak."


"Iya Non, sekalian sama Tuan ganteng tadi malam. Beliau menginap kan Non jangan lupa dibangunkan." Bi Marni hanya berusaha membantu mengingatkan Belva.


"Oh itu... Nama nya Tuan Satya, Bi." Jawab Belva.


"Oh Tuan Satya. Maaf Non kalau saya lancang. Aden sama Nona kecil kok panggil nya Daddy ? Apa Tuan itu..."


Belva tersenyum. "Daddy nya anak-anak Bi."


"Suaminya Non Vanthe ? Bibi seperti tidak asing dengan wajahnya Non seperti pernah bertemu gitu Non."


Belva kembali tersenyum menanggapi ucapan Bi Marni. "Iya... Mungkin Bibi pernah lihat. Ya sudah aku tinggal ya Bi."


"Eh iya Non..."


Belva berlalu dari dapur, saat wanita cantik itu pergi para asisten rumah tangga mengerubungi Bi Marni.


"Bi, pria yang tadi malam itu suami nya Non Vanthe ? Aku baru lihat." Tanya ART yang lain.


"Iya sepertinya memang begitu. Bibi saja baru lihat." Jawab Bi Marni.


"Loh kan Bi Marni sudah lama bekerja disini masa baru lihat."


"Mereka jarang berada disini. Maklum orang kaya jadi sibuk kerja, mungkin suami Non juga sibuk jadi jarang pulang. Sudah kita lanjutkan kerja nanti kalau Tuan dan Nyonya tahu kita bergosip bukan kerja bisa ditegur." Ucap Bi Marni yang tak ingin membahas lebih jauh meski dirinya sendiri penasaran dengan kehadiran Satya. Takut jika majikannya mendengar maka dirinya sendiri yang pasti merasa tidak enak hati karena ingin tahu masalah pribadi majikannya.


Belva membersihkan diri sebelum kembali mengurus Duo Kay dan juga Satya. Pakaian yang dikenakan Belva terlihat cukup santai dengan menggunakan outfit casual. Hari ini Belva lebih memilih menggunakan jumpsuit berwarna maroon dengan outher panjang hingga sebatas paha serta lengan tiga perempat berwarna senada.


Hal pertama yang dilakukan setelah selesai bersiap-siap adalah membangunkannya Satya lebih dulu baru setelah membangunkan Duo Kay.


Belva mengetuk kamar Satya berkali-kali tapi tidak juga kunjung dibukakan. Dirinya tak sabar karena juga harus membangunkan Duo Kay. Wanita itu berniat masuk ke dalam kamar Satya, pintu kamar ternyata tidak dikunci. Terlihat Satya memang masih tidur bergelung dengan selimut tebalnya.


"Astaga... Dia masih tidur." Gumam Belva.


Berjalan masuk mendekati ranjang, ia harus segera membangunkan Satya. Pria itu harus ke kantor, sedangkan diri nya harus berangkat ke butik dan Duo Kay juga harus sekolah.


"Mas, bangun." Belva mengguncang lengan Satya.


Pria itu tetap pada kebiasaan nya tidur dengan tanpa menggunakan bajunya. Satya masih tak kunjung bangun meski sudah diguncang lengannya oleh Belva.


"Mas bangun, sudah pagi sudah jam enam ini bangun."


Gemas tak kunjung bangun Belva akhirnya mencubit lengan Satya hingga berhasil membuat pria itu terbangun dan memekik kesakitan.


"Aduh... Ssshh..."


Mata Satya yang masih terasa berat itu terbuka. Masih memerah mata pria itu menatap sekeliling dan mengelus lengannya. Ditemukan nya Belva yang ada disampingnya.


"Sayang..." Panggil Satya pada Belva.


"Bangun mas, sudah jam enam. Lama banget sih bangunnya. Sudah dari tadi juga... Dicubit baru bangun."


"Jadi kamu yang cubit mas, yank ?"


Satya baru tahu rasa sakit di lengannya akibat dari cubitan wanitanya.


"Kamu dibangunin lama mas, ya sudah aku cubit saja biar cepat bangun."


"Kamu sekarang kasar banget sih yank, kalau membangunkan suami itu yang lembut dicium atau apa gitu yank." Ucap Satya sembari mengelus lengannya yang masih terasa pedas.


"Maaf mas, lagian susah dibangunin."


"Mas tidak bisa tidur tadi malam, kamu sih mas sudah bilang tidak bisa tidur kalau tidak peluk kamu."


"Masa sih ? Sebegitu berlebihan nya kamu. Sudah ayo bangun, kamu harus ke kantor kan ? Kata nya mau ada meeting."


Satya masih saja malas-malasan, Belva sudah mengingatkan untuk bangun karena ada meeting di kantor Satya. Pria itu benar-benar masih mengantuk, menjelang subuh pukul tiga Satya baru bisa tidur. Terbiasa tidur bersama Belva, malam tadi membuat Satya menjadi kurang nyaman serasa ada yang kurang.


"Lima menit lagi yank, mas masih mengantuk."


"Mas, aku harus bangunkan anak-anak juga. Kalau aku tinggal nanti kami kebablasan. Ayo bangun."


Belva menarik lengan Satya. Dasarnya tubuh Satya yang tinggi dan besar membuat Belva tak bisa hanya sekali menarik Satya. Justru pria itu berbalik menarik tangan Belva, hingga wanita muda beranak dua itu kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Satya. Dengan cepat Satya langsung memeluk tubuh Belva dengan tersenyum tipis dan masih memejamkan matanya.


"Iiihh mas lepas, jangan iseng deh mas."


"Sebentar sayang. Begini saja dulu, enak nih tadi malam tidak peluk-peluk kamu seperti ini." Ucap Satya dengan santai menikmati dekapannya.


"Mas, nanti kesiangan kita. Aku harus urus anak-anak juga. Lepas dong."


"Ck... Yank, mesra dikit lah sama suami. Mumpung berdua ini."


Belva menghela napas, tak habis pikir dengan sikap Satya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu Satya tak pernah bersikap seperti ini pada dirinya. Siapakah dirinya ? Hanya seorang pembantu yang tak sebanding dengan Satya. Walau ada seorang istri sekalipun Satya tak pernah terlihat mesra pada Sonia kala itu.


"Mas, kamu mau nanti anak-anak terlambat sekolah dan mendapatkan hukuman dari gurunya ? Aku harus bantu mereka siap-siap dulu."


Belva terus berusaha melepaskan diri dari Satya tapi pria itu sangat erat memeluknya. Belva terus saja bergerak menggeliat agar bisa terbebas dari Satya.


"Mas bakalan pecat guru itu kalau berani kasih hukuman untuk anak-anak mas."


"Yank, kamu diam dong. Masih pagi nih, jangan gerak-gerak nanti ada yang berontak." Ucap Satya.

__ADS_1


Belva bingung dengan kalimat Satya yang terakhir. Otak cerdas milik Belva tidak terkoneksi untuk menafsirkan kalimat Satya.


"Lah kan memang aku yang dari tadi berontak mas gara-gara kamu tidak melepaskan aku." Ucap Belva.


"Selain kamu ada lagi yang bakalan berontak. Nurut sama suami yank, nanti kalau mas tidak bisa mengendalikan nya bisa bahaya." Ucap Satya.


"Siapa ? Disini tidak ada siapa-siapa. Jangan ngawur deh mas. Sudah lepaskan aku mas, jangan egois mas, anak-anak mu butuh Maminya juga."


Satya menghela napas, selalu saja anak-anaknya yang menjadi alasan Belva. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu benar adanya. Dirinya dan Belva bukan lagi pasangan baru yang akan menjadi calon orang tua. Melainkan memang mereka telah memiliki anak dan dua bocah kembar itu masih membutuhkan Maminya untuk segala keperluan mereka. Usia Duo Kay masih belum bisa lepas dari sang Mami.


Cup...


Satya mengecup pipi Belva sebelum melepaskan pelukannya. Sadar dirinya tak bisa menahan Belva lebih lama hanya untuk dirinya sendiri.


"Jangan lupa siapkan berkasmu sayang." Ucap Satya. Dia benar-benar melepaskan Belva. Wanita itu membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Iya nanti aku siapkan." Jawab Belva singkat, masih sibuk dengan pakaiannya.


Satya menatap Belva dengan intens saat Belva merapikan pakaiannya.


"Pantas saja empuk." Gumam Satya lirih menatap aset berharga Belva.


Pikiran Satya yang biasanya lempeng dan datar. Selalu dipenuhi dengan berkas, tender dan segala macam pekerjaan nya kini berubah menjadi sedikit liar saat bersama Belva. Pria itu menjadi orang gila yang haus akan sentuhan, kasih sayang dan kepuasan batin. Harap maklum dengan pria duda yang satu ini, memiliki istri dulu kala bukan berarti segala urusan batinnya terpenuhi.


"Kamu mengatakan sesuatu mas ?" Tanya Belva yang tak jelas mendengar Satya bergumam.


"Tidak, kenapa pakai baju seperti itu. Dada mu terlihat." Ucap Satya.


Meski pada kenyataannya, baju yang dipakai Belva masih terlihat sopan. Tak memperlihatkan belahan dada sedikit pun. Aset wanita itu masih aman terkendali. Bahunya masih tertutup outer yang dikenakannya. Memang hanya bagian tulang dada yang masih terlihat.


"Mana ada, ini masih sopan ya. Masih bisa dipakai buat kerja, apalagi aku di butik, di dunia fashion mas."


Satya bangun dari ranjangnya, dia memegang tangan Belva. "Iya... Iya... Ini masih pantas, tapi awas ya jangan berani-berani pakai pakaian yang lebih terbuka dari ini. Kalau di rumah boleh tapi kalau di luar tidak boleh."


"Iyaaa... Sudah mandilah mas. Aku siapkan pakaian kamu. Eh... Tapi kan kamu tidak ada pakaian disini mas."


"Pakai pakaian tadi malam tidak apa-apa sayang." Ucap Satya.


"Ya sudah cepat siap-siap nanti terlambat, kita harus pulang dulu kan ke apartemen biar kamu bisa ganti baju."


"Tidak usah yank, nanti kita antar Kay lalu mas antar kamu ke butik baru nanti mas langsung ke kantor."


"Loh tidak ganti baju ? Yakin mau ke kantor meeting pakai baju ini ?" Tanya Belva.


"Di kantor mas ada pakaian ganti sayang. Ya sudah mas mandi dulu. Kamu langsung ke kamar Kay saja sayang."


Sejak bertemu dan mengetahui Duo Kay adalah anak kandungnya. Satya memiliki panggilan kesayangan untuk kedua anaknya. Kay adalah sebutan untuk si kembar. Sedangkan ila adalah panggilan kesayangan untuk Kaila Kamala putrinya dan Ken adalah panggilan kesayangan untuk Kaili Kennard putranya.


"Ya sudah, aku keluar dulu mas. Nanti selesai langsung turun saja ke meja makan."


"Iya sayang." Satya telah berdiri dan mengusap kepala Belva dengan lembut penuh kasih sayang.


Belva keluar dari kamar Satya dan menuju kamar Duo Kay. Segera Belva membangunkan anak-anak nya.


Suara lembut itu berusaha membangunkan Duo Kay. Sedikit usapan di wajah Duo Kay serta tepukan lembut di pan*tat bocah kecil itu menjadi pendukung Belva untuk membangunkan mereka.


Kaili perlahan terbangun, Kaila menggeliat. Tidur mereka sudah cukup, sehingga tidak ada drama rengekan dari mereka berdua untuk malas bangun.


"Mami, sudah pagi ya ?" Tanya Kaila.


"Iya sayang, ayo bangun. Kita harus siap-siap, kalian harus sekolah. Mami bantu mandi yuk."


"Daddy mana Mami ?" Tanya Kaili.


"Daddy juga sedang mandi sayang. Ayo kalian juga mandi nanti kita sarapan bersama dengan Opa dan Oma juga."


Duo Kay menurut, Belva melepaskan outernya demi memandikan kedua anak kembarnya. Membantu mereka berpakaian dengan rapi. Bella ternyata sudah menyiapkan seragam Duo Kay karena sebelumnya Nyonya Hector telah berpesan jika kedua cucunya itu harus menginap di rumah besar keluarga Hector.


Selesai Duo Kay, mereka berdua menggunakan handuk kimono kecil. Terlihat imut dengan wajah ceria mereka. Bersamaan dengan itu Satya juga sudah selesai, dengan menggunakan pakaian semalam Satya masih terlihat tampan dan akan selalu tampan. Satya selesai mempersiapkan diri bukan memilih untuk turun ke ruang makan tapi justru menghampiri kamar dua anaknya.


"Daddy... Daddy sudah mandi ? Kita baru selesai mandi." Ujar Kaila.


Satya tersenyum dan berjalan menghampiri kedua anaknya yang sudah berdiri di atas ranjang mereka.


"Sudah sayang, sini cium dulu."


Satya mencium Kaila dan Kaili. Harum aroma khas anak-anak dengan aroma buah-buahan.


"Hemm... Sudah wangi anak-anak Daddy."


"Mam, baju mu basah." Ucap Satya kala melihat baju bagian bawah Belva yakni bagian celananya sedikit basah.


"Sedikit, nanti juga kering. Tadi bantuin anak-anak mandi."


Saat akan memandikan Duo Kay, Belva mengucur rambutnya agar tidak menggangu kegiatan nya. Satya terus menatap bahu dan leher jenjang Belva yang putih mulus.


Wanitanya itu tampak terlihat seksi meski pakaian yang digunakan tak terlalu menonjolkan asetnya dengan terbuka. Namun, tubuh sintal Belva dengan bagian tubuh tertentu yang berisi sangat mendukung wanita itu terlihat seksi.


"****... Si jarum pentul kenapa mulai bereaksi." Umpat Satya dalam hati.


"Biar Daddy bantu." Ucap Satya saat Belva membawa pakaian seragam Duo Kay. Berusaha mengalihkan pikiran liarnya.


Belva memberikan pakaian seragam milik Kaili pada Satya. Satya dan Belva saling berhadapan sedangkan Kaila dan Kaili saling membelakangi. Kedua orang tua itu membantu anak mereka menggunakan seragam.


Sesekali Satya mencuri pandang pada Belva. Wajah cantik dan tubuh seksi Belva pagi ini begitu menggoda iman Satya. Tak perlu Belva berlaku seperti seorang wanita gatal pun Satya sudah mulai kegatalan tidak bisa diam dan tenang. Terlebih bagian dari anggota tubuhnya sudah ada yang mulai bereaksi.


Selesai mengurus Duo Kay dengan kompak, keluarga kecil yang lengkap terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak itu berjalan menuruni tangga secara bersama-sama. Kaila dengan manja meminta gendong sang Daddy, hal itu tak pernah mendapatkan penolakan dari Satya. Kaili digandeng oleh sang Mami menuruni tangga.


Para asisten rumah tangga yang melihat keluarga kecil itu menuruni tangga, mereka memandang kagum. Keluarga kecil itu terlihat seperti keluarga idaman yang harmonis.


"Suami Nona Vanthe sangat tampan meski tampak lebih tua dibandingkan Nona."

__ADS_1


"Namanya juga wanita cantik, mau suaminya lebih tua atau suaminya tidak tampan sekalipun pasti bisa mendapatkan wanita cantik. Di luar sana banyak yang cantik-cantik tapi suaminya jelek itu sudah wajar."


"Iya... Jadi pingin dapat suami seperti itu."


"Husss... menghayal terus kamu. Susah ayo kerja lagi."


Kedua asisten rumah tangga Tuan Hector saling bergosip. Kekaguman mereka sangat wajar, Satya dan Belva tampak serasi meski berbeda usia. Tampak harmonis saat mereka berjalan bersama-sama dengan kedua anu mereka.


"Pagi semuanya." Sapa Belva dan Satya.


"Pagi Opa... Pagi Oma... Pagi Uti... Pagi aunty." Sapa Duo Kay.


"Pagi sayang." Jawab Nyonya Hector pada Satya, Belva dan Duo Kay.


"Pagi ganteng dan cantiknya aunty. Pagi Kak, Pagi om." Jawab Bella.


"Pagi cucu Uti. Pagi Nduk... Nak Satya." Jawab Budhe Rohimah.


Tuan Hector terkekeh, pria tua itu merasa bahagia pagi ini. Harinya terasa lebih menyenangkan dan ramai saat ini. Selain itu dia juga merasa lucu saat Bella membalas sapaan selamat pagi dari Belva dan Satya.


"Papa kenapa ?" Tanya Belva.


Semua menatap Tuan Hector. Mereka ikut penasaran mengapa pria tua itu terkekeh.


"Tidak sayang, Papa hanya senang saja pagi ini terasa lebih ramai."


"Bella, bagaimana bisa kamu memanggil Vanthe dengan sebutan kakak sedangkan dengan kakak ipar mu kamu memanggil nya Om hahaha."


Nyonya Hector dan Budhe Rohimah merespon dengan kekehan kecil. Belva dan Bella hanya tersenyum. Sedangkan Satya masih dengan sikap dasarnya yang datar.


"Beberapa hari yang lalu kak Vanthe juga seperti itu memanggil Om Satya. Kalau aku panggil mas sama seperti kak Vanthe itu terdengar menggelikannya untuk ku, Pa." Ucap Bella.


Terkadang disaat-saat tertentu Bella memanggil Tuan dan Nyonya Hector dengan panggilan Papa dan Mama. Biasanya itu terjadi setelah Bella mendapatkan tekanan yang menggelikan dari Nyonya Hector yang mengancam akan menjodohkannya dengan sopir mereka yang ada di Perancis. Seorang duda beranak tiga, masih beruntung jika duda nya seperti Satya yang mapan dan tampan. Duda sopir Tuan Hector adalah seorang duda yang ganjen dengan wajah pas-pasan yang membuat Bella bergidik ngeri.


"Biarkan saja Pa, tidak masalah. Jika dia memanggilku dengan sebutan kakak itu juga terdengar aneh di telinga ku." Ujar Satya.


"Sudah ngobrolnya nanti lagi, ini sudah semakin siang. Kalian harus bekerja dan sekolah bukan ?" Ucap Nyonya Hector.


"Ah iya... Kita mulai sarapan saja." Ucap Tuan Hector.


Nyonya Hector melayani sang suami makan, sedangkan Belva melayani Satya mengambilkan makanan untuk pria itu. Bella dan Budhe Rohimah membantu Duo Kay untuk sarapan.


Mereka semua memulai sarapan pagi dengan penuh kehangatan. Satya sangat merasa senang, dalam hatinya ia merasakan sebuah keluarga yang utuh. Hal yang selalu diinginkannya selama ini bisa berkumpul bersama keluarga.


Selesai makan mereka semua melanjutkan aktivitas mereka, pergi bekerja, ke sekolah dan melakukan kegiatan rumah tangga. Mereka melaku aktivitas masing-masing.


Satya dan Belva mengantar Duo Kay terlebih dahulu, kemudian Satya mengantar wanitanya ke butik. Dalam perjalanan Satya selalu membahas persiapan pernikahan mereka yang seadanya nanti. Ditengah obrolan mereka ponsel Belva berbunyi.


"Ya halloo Nona Iva."


"Hallo Nona, bagaimana kabar mu dan di kembar ?"


"Kabar kami baik-baik saja Nona, ada apa Nona ?"


"Syukur lah kalau begitu. Saya ikut senang mendengar Kaila dan Kaili sudah membaik. Maaf Nona, apakah anda ada waktu sebentar ? Perihal kontrak kerjasama si kembar sebagai model Ivalloth."


"Baiklah Nona, nanti datang saja ke butik ku."


"Oke, nanti saya hubungi kembali saat akan ke butik. Ya sudah kalau begitu saya tutup Nona. Terimakasih. "


"Sama-sama Nona."


Panggilan terputus, Belva kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Sedari tadi Satya diam menyimak Belva.


"Siapa sayang ? Klien mu ?"


"Bukan, tadi telepon dari Nona Iva. Pemilik Ivalloth yang akan membahas perihal kontrak kerjasama kami. Dia mengontrak anak-anak sebagai modelnya."


"Jadi, anak-anak ku menjadi model ? Bagaimana bisa ?" Tanya Satya penasaran.


"Kapan-kapan aku ceritakan." Ucap Belva.


"Sayang, Kay masih kecil dan mereka sudah menjadi model. Bagaimana dengan jadwal mereka ? Kamu tidak mengeksploitasi mereka kan ?"


"Sembarangan kalau bicara. Aku tidak mengeksploitasi mereka, hanya menjadikan hal ini sebagai jalan bagi mereka mengembangkan bakat dan minat mereka saja. Lagi pula aku sudah memberikan beberapa syarat pada Nona Iva untuk tugas dan kewajiban yang harus anak-anak lakukan."


"Mas, tidak mau mereka nanti kelelahan yank. Maaf mengenai anak-anak mas juga harus tahu."


"Mas, tenang saja. Aku juga pasti tidak akan mengambil keputusan sendiri. Sekarang ada kamu yang jadi Daddy nya sudah pasti aku juga harus meminta pendapat mu."


"Terimakasih sayang." Satya mengusap kepala Belva.


Akhirnya mereka sampai di butik, sudah terlalu siang Satya memutuskan tak ikut masuk ke dalam butik dan hanya mengantar wanitanya sampai depan butik saja.


"Sayang, mas langsung saja ya sudah siang."


"Iya hati-hati mas." Ucap Satya.


Satya mengecup kening Belva. "Iya.. nanti siang mas pasti kesini. Kita makan siang bareng."


"Iya... Ya sudah aku masuk dulu."


Satya menyodorkan tangannya. "Kalau kamu tidak mau mencium suami mu setidaknya cium tangan suami mu sayang."


Belva mencebikkan bibirnya atas kelakuan Satya yang selalu melabeli diri sendiri sebagai suaminya. Tapi Belva tak menolak toh memang sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan suami istri. Belva mencium punggung tangan Satya.


****


To Be Continue....


Hai my dear para readers ku tersayang 🙋

__ADS_1


Masih menanti update nya author ya ?? Thanks banget yaa buat support kalian yang luar biasa. Like, komen, bunga setaman dan Vote satu-satunya yang kalian miliki yang kalian relakan buat author terimakasih buanyaaakk... 🙏🙏🙏


Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki. Amiinn 🙏


__ADS_2