Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 160. Kedatangan Roichi


__ADS_3

Kehangatan di pagi hari menjadi kebahagiaan tersendiri saat satu keluarga dapat berkumpul bersama menikmati sarapan pagi mereka. Hidangan lezat menambah semangat bagi setiap anggota keluarga yang hendak menikmatinya. Memiliki pasangan yang saling mencintai tak hanya sebagai kewajiban semata dalam melayani pasangannya mengambil setiap makanan demi makanan di atas piring.


Satya begitu berbunga-bunga hatinya memperhatikan sekelilingnya yang tampak sesuai dengan harapannya di masa lalu. Dulu dirinya selalu mendambakan dapat berkumpul bersama kedua orang tuanya dan juga anak serta istrinya secara bersama-sama. Nyatanya takdir hidup menenggelamkan harapan itu dan membiarkan dirinya menikmati kehancuran serta kehampaan yang luar biasa.


Dari luar tampak Satya terlihat sempurna, banyak harta dan keluarga lengkap yang nyatanya terasa menusuk di dalamnya. Tanpa cinta, keterpaksaan dan pengkhianatan sudah Satya rasakan tanpa tersisa bagaimana rasa sakit itu. Entah mungkin karena niat tulusnya berbakti pada sang ibulah yang memberikan karma baik baginya. Setelah kesakitan nya Satya mendapatkan kebahagiaan luar biasa dan berkali lipat.


Orang tua kandungnya telah tiada kini kebahagiaan itu tergantikan oleh adanya sosok mertua yang baik dan support terhadap dirinya. Istri, dulu bertahun-tahun hidup dalam kepasrahan tanpa cinta tak merasakan kehangatan dan keharmonisan kini sang pemberi hidup sangat baik memberikan dirinya pengganti yang luar biasa seperti Belva. Bertahun-tahun menjadi orang bodoh yang tak tahu kenyataan dan fakta bahwa sebenarnya dirinya tak memiliki keturunan secara biologis nyatanya dirinya kini diberikan kesempatan mendapatkan anak kembar meski kehadirannya sejujurnya tak pernah terpikirkan.


Kebahagiaan nya semakin bertambah dan dirinya merasa orang yang sangat beruntung menjadi orang paling bahagia dan paling kaya raya kala mendapatkan cinta tulus dari sang istri dan dari kedua anaknya. Bukan hanya itu saja kini dirinya kembali dipercaya untuk memiliki buah hati. Kebahagiaan itu tak akan pernah Satya sia-siakan, dia akan menjaga sekuat tenaga hingga sampai dirinya menutup usia itulah janji Satya pada dirinya sendiri.


"Mami... Aku mau ayam kuah kuning." Ucap Kaila.


"Iya sabar sebentar ya, Mami ambilkan untuk Daddy dulu."


"Aku juga mau, Mi." Ujar Kaili.


"Mau Oma ambilkan?" Tanya Nyonya Hector.


"Boleh, Oma." Jawab Kaila.


Nyonya Hector mengambilkan ayam kuah kuning yang memang sengaja Belva masak untuk suami dan anaknya.


"Mami, Oma saja yang ambilkan untukku." Ucap Kaili yang juga sudah menyodorkan piringnya ke arah Nyonya Hector.


Belva hanya mengangguk dan tersenyum.


"Mas, mau apa lagi?"


"Sudah, sayang ini saja sudah cukup."


"Papa, mau ayam kuah kuning juga?" Tanya Belva pada Papa nya.


"Boleh. Sepertinya menu ini akan lebih cepat habis dari menu yang lainnya." Ucap Tuan Hector.


"Tentu saja, Pa. Ini menu kesukaan anak-anak dan Daddy nya." Ucap Belva tersenyum.


"Oh ya? Rupanya cucu-cucuku mewarisi makanan favorit dari daddy mereka."


"Awalnya aku tidak tahu, Pa. Dulu saat hamil mereka Papa tahu sendiri aku sering memasak menu ini."


"Ah iya, Papa baru ingat dulu kamu beberapa kali tidak bosan dalam satu hari makan hanya dengan lauk ayam kuah kuning saja."


"Benarkah?" Tanya Satya yang sedari tadi mendengar perbincangan istri dan mertuanya.


"Iya, kamu tahu Satya. Bahkan para asisten rumah tangga sampai menyetok bumbu kuah kuning instan dan ayam beberapa kilo untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu Vanthe menginginkannya." Ucap Nyonya Hector.


Satya menatap istrinya dengan tatapan haru, meski dulu mereka tak pernah bersama tapi kedua anaknya menampakan bahwa mereka memang benar-benar anak Satya.


"Dulu saya suka sekali memakan ayam kuah kuning buatan Belva sebelum dia pergi menghilang. Setelah itu saya tidak lagi bisa merasakan menu lezat itu meski ada yang memasaknya tapi tak selezat buatan Belva. Masakan Belva sama seperti masakan Mama saya dulu." Ucap Satya melirik istrinya yang hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka.


"Ah pantas saja, anak-anakmu menyukai menu itu selain karena memang mewarisi darimu masakan Vanthe memang seenak itu." Ucap Tuan Hector.


"Papa bisa saja, masakan Mama juga tidak kalah lezat." Ucap Belva.


"Iya masakan Mamamu memang lezat, jika tidak mana mungkin Papa menikahi Mamamu sampai Papa tidak mau membiarkan Mamamu pergi sedikitpun. Papa selalu bersemangat bekerja karena setiap pagi selalu mendapatkan sarapan lezat, saat siang hari selalu diantarkan makanan lezat saat makan malam setelah sehari lelah bekerja masih bisa mendapatkan makanan lezat juga." Ujar Tuan Hector tersenyum memuji istrinya.


Cinta pria paruh baya itu mamang tak pernah pudar sejak pertama kali jatuh cinta pada istrinya. Banyak halangan dan rintangan dalam hubungan mereka tapi keyakinan dan keteguhan perasaan mereka mampu melewati semuanya. Sudah banyak asam garam yang mereka rasakan disepanjang hidup mereka. Belva dan Satya yang melihat betapa kedua orang tua mereka saling mencintai satu sama lain dalam kebahagiaan maupun dalam kesulitan, dalam kelebihan maupun dalam kekurangan sama seperti janji pernikahan pasangan paruh baya itu, dapat menjadi motivasi bagi mereka agar mereka juga dapat menjalankan biduk rumah tangga yaang harmonis dan langgeng seperti Tuan dan Nyonya Hector.


Saat mereka asik menikmati sarapan pagi mereka tanpa sengaja Satya dan Belva melihat satu pandangan yang cukup aneh mereka rasakan dan membuat merek tediam sejenak.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya. Apakah saya mengganggu kegiatan kalian pagi ini?" Sapa orang tersebut.


Tuan dan Nyonya Hector yang awalnya fokus pada percakapan dan makanan mereka kini beralih menatap ke arah sumber suara. Begitu pula dengan Duo Kay yang juga langsung dengan spontan melihat suara siapakah itu. Mata Duo Kay terbelalak melihat kedatangan seseorang yang tak pernah lagi mereka lihat beberapa bulan terakhir.


"Papiiii!!!" Teriak Duo Kay saat memanggil orang tersebut.


"Selamat pagi Roi, kamu sudah datang rupanya." Ucap Nyonya Hector.


"Kemarilah, Roi. Kita sarapan bersama." Ucap Tuan Hector.


Seseorang tersebut memanglah Roichi, asisten kepercayaan Tuan Hector yang sejak dulu mendampingi pria paruh baya itu. Tatapan Roichi tertuju pada Belva lalu berakhir pada Satya yang juga berada di meja makan duduk di samping Belva. Ada tatapan yang tak bisa diartikan dari Roichi untuk Satya.


"Papi pulang? Apa pekerjaan Papi sudah selesai?" Tanya Kaila.


Dua anak kecil itu sudah turun dari kursi hanya demi menyambut kedatangan Roichi. Pria yang sudah menganggap dua anak kecil itu seperti anaknya sendiri pun menekuk lututnya hanya demi menyamakan tinggi mereka. Roichi langsung memeluk Duo Kay secara bersamaan.


"Iya sayang, Papi pulang. Pekerjaan Papi sudah hampir selesai makanya Papi pulang karena mendengar kalian datang ke sini." Ucap Roichi dengan lembut dan penuh sayang.


"Papi sangat sibuk sekali, aku merindukanmu." Ujar Kaili.


"Papi juga merindukanmu, boy. Bagaimana kabar kalian? Papi senang bertemu dengan kalian."


"Kita baik, Papi. Kita sudah ulang tahun ke lima loh. Papi belum kasih kado untukku dan Kaili."


"Ah iya, maaf sayang Papi terlalu sibuk. Nanti kita jalan-jalan cari kado untuk kalian bagaimana?"


"Oke, setelah ini ya kita jalan-jalan." Ujar Kaila dengan penuh semangat.


Walau bagaimanapun Roichi masih mereka anggap sebagai papi mereka. Pria yang selalu ada untuk mereka saat Satya belum pernah mereka temukan. Rasa sayang kedua anak itu masih selalu menetap di hati mereka untuk Roichi.


Satya yang melihat interaksi diantara kedua anaknya dan Roichi harus jujur bahwa dirinya merasa cemburu. Ternyata bukan hanya pada dirinya saja kedua anak kembarnya memberikan kasih sayang, melainkan untuk pria lain yang mereka anggap ayah mereka.


Belva pun yang melihat interaksi antara Roichi dan kedua anaknya silih berganti menatap emke arah suaminya. Belva langsung menggenggam tangan Satya, meski hanya diam tapi dirinya tahu jika Satya pasti merasa kurang nyaman dengan pemandangan pagi hari ini. Satya langsung menatap istrinya lalu tersenyum lembut meski masih terlihat sedikit kecut.


"Tidak apa Satya, dirinya ada dan menjaga anak-anak mu selama kamu tidak ada. Jangan membenci hal ini." Ucap Satya dalam hatinya mencoba untuk mengatakan dan mempengaruhi dirinya sendiri agar tetap bersikap biasa saja.

__ADS_1


Setelah berpelukan dengan putra putri Belva yang dianggapnya sebagai anaknya sendiri kini Roichi kembali berdiri dan hendak mendekati meja makan. Lagi-lagi arah pandangnya tertuju pada Belva yang tengah menggenggam tangan Satya di atas meja. Satya memperhatikan apa yang dilihat oleh Roichi, dia tahu dulu Roichi lah yang dekta dekta Belva bahkan mengaku sebagai suami dari wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Satya membalas menggenggam tangan Belva dengan erat seakan menunjukkan bahwa Belva hanya miliknya seorang, tidak ada yang boleh memiliki dan mendekati wanitanya.


"Tuan Satya, anda di sini?" Sapa Roichi dengan wajah datar.


Dalam benak Roichi bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Belva dan Satya. Roichi memang tahu jika Satya adalah ayah kandung dari Duo Kay sejak beberapa bulan lalu tapi dirinya belum mengetahui perhila hubungan Belva dengan Satya yang sudah berkembang dengan sangat baik.


"Iya Tuan Roi. Bagaimana kabarmu, akhirnya kita berjumpa kembali." Satya berdiri dari duduknya hingga kedua pria itu secara bersamaan mengulurkan tangan berjabat tangan.


"Seperti yang anda lihat saya baik-baik saja. Saya rasa hal itu juga berlaku untuk anda juga bukan." Ujar Roichi.


Pria itu setelah berjabat tangan dengan Satya lalu membantu Duo Kay duduk kembali di kursi mereka. Hal itu tentu dengan jelas bisa diperhatikan oleh Satya dan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kita mulai sarapannya, kita sudah melewatkan beberapa menit untuk sarapan kali ini." Ujar Tuan Hector.


Roichi yang ingin mengeluarkan pertanyaan pun mau tak mau harus menahan diri. Kali ini Belva tak melayani Roichi seperti dulu lagi karena wanita cantik itu harus menjaga perasaan sang suami. Nyonya Hector lah yang mengambilkan makanan untum Roichi.


"Nyonya, maaf biar saya ambil sendiri saja." Roichi merasa tidak enak dengan istri Tuan nya.


"Hentikan Roi, kamu sedang tidak berada di kantor. Mama sudah bilang berapa kali bedakan kantor dengan rumah. Kenapa kamu dan Bella sama saja." Ucap Nyonya Hector merasa sedikit kesal.


Roichi hanya mengangguk pelipisnya sekilas karena merasa majikannya itu terlalu baik padanya. Memang sedari dulu mereka menggap Roichi sebagai anak mereka sehingga Roichi pun merasa nyaman bekerja dengan Tuan Hector.


"Maaf, Ma. Terima kasih sudah membantu mengambilkan makanan untukku."


"Kamu juga anak Mama jadi tidak masalah bagi Mama. Sudah ayo kita makan."


Mereka kini makan bersama dalam diam hanya beberapa kali saja percakapan terjadi karena celotehan Kaila dan Kaili saja. Roichi juga beberapa kali memperhatikan Belva yang semakin bertambah cantik saja. Tatapan Roichi pada Belva ternyata ditangkap oleh Satya. Ada rasa tak senang saat Roichi diam-diam mencuri pandang pada istrinya tapi Satya berusaha keras untuk bersikpa biasa saja di meja makan agar kegiatan sarapan mereka tak terganggu.


Ketika selesai sarapan hari ini ketiga pria itu masih berkumpul bersama di taman belakang. Hari pertama Satya bisa berkumpul bersama dalam keadaan yang sehat dan segar tak seperti kemarin yang lemas tak bertenaga.


"Bagaimana keadaan perusahaan di Jerman, Roi?" Tanya Tuan Hector.


"Permasalahan sudah hampir selesai, beberapa staf harus terpaksa diberhentikan. Oh iya Tuan Satya, aku dengar ada sedikit masalah juga dalam proyek kerjasama kita. Ucap Roichi.


"Iya anda benar, ada penggelapan dana dam proyek pembangunan." Jawab Satya.


Roichi mengangguk samar. "Lalu bagaimana anda bisa ada di sini? Maksud saya apakah bukankah Anda harus mengurus permasalahan di kantor?"


Roichi memulai rasa penasarannya dengan sebuah pertanyaan basa-basi tepat di saat pertanyaannya muncul Nyonya Hector datang membawa minuman dan Belva datang dengan membawa beberapa cemilan seperti kue kering dan pisang goreng. Kedua wanita beda generasi itu meletakkan apa yang mereka bawa di atas meja.


"Nah, ini minuman dan makanan untuk teman kalian mengobrol." Ucap Nyonya Hector.


"Terima kasih, Ma." Ucap ketiga pria paruh baya itu dengan kompak.


Roichi yang mendengar sekilas bahwa Satya memanggil Nyonya Hector dengan sebutan Mama pun mengerutkan keningnya.


"Tuan Satya, anda belum menjawab pertanyaan saya tadi." Ujar Roichi yang tidak sabar ingin segera mengembangkan pertanyaannya.


"Saya... Um-huek..."


"Dia kenapa?" Tanya Roichi pada Tuan dan Nyonya Hector.


"Mungkin perutnya mual lagi." Jawab Tuan Hector.


"Apa dia sakit?" Tanya Roichi kembali.


"Kemarin baru saja keluar dari rumah sakit." Jawab Nyonya Hector bergantian dengan suaminya.


"Tapi kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Roichi kembali.


Tapi sepasang paruh baya itu tak langsung menjawab.


"Mereka datang menghadiri acara pernikahan anak Tuan Martin dan Tuan Darrell." Jawab Tuan Hector kembali.


Roichi berfikir jika Satya memamh memiliki hubungan kerjasama dengan kedua pria yang disebutkan oleh Tuan Hector. Tapi yang dia pikirkan kembali adalah hubungan Belva dan Satya yang terlihat lebih dekat bila dibandingkan saat dirinya masih berada di Indonesia waktu lalu.


"Huekk... Huek..."


Satya terus memuntahkan semua isi perutnya, sayang seribu sayang perutnya yang tadi sudah terasa kenyang harus kembali terkuras karena rasa mualnya yang kembali datang. Berulangkali Satya memuntahkan isi perutnya dan berulangkali pula dirinya mencuci mulutnya. Belva masih setia memijit tengkuk suaminya mencoba membantu agar Satya lebih merasa nyaman.


"Sayang, kenapa kamu ke sini."


"Memang ada apa? Aku mengkhawatirkan mu mas."


"Tapi ini menjijikan, sayang. Mas bisa sendiri, nanti kalau kamu menjadi ikut-ikutan mual bagaimana."


Satya masih memikirkan istrinya, takut jika apa yang terjadi padanya membuat istrinya jijik dan justru ikut menjadi mual. Istrinya tak boleh kelelahan karena nyatanya memuntahkan makanan seperti itu pun cukup melelahkan karena otot perut yang terus terasa tertarik.


"Mas bilang apa sih, aku tidak merasa jijik sama sekali. Sudah jangan dipikirkan, apa sudah merasa lebih baik?" Tanya Belva.


Satya mengangguk, kembali dirinya mencuci wajah dan mulutnya. Rasanya setelah mengeluarkan semuanya tampak sedikit kelegaan tapi dirinya merasa sedikit lemas. Keduanya kembali lagi duduk di taman belakang bersama-sama.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" Tanya Tuan Hector.


"Sudah, Pa." Jawab Satya sedikit lemas.


"Aku buatkan teh jahe dulu ya, tunggu di sini." Ucap Belva pada Satya dan Satya hanya tersenyum lembut serta mengangguk pada istrinya.


Pemandangan di depan mata yang terlihat dengan jelas serta pendengaran yang terdengar jelas itu semakin membuat Roichi kembali penasaran. Tuan dan Nyonya Hector berbincang berdua sedangkan Satya dan Roichi hanya menjadi pendengar. Satya masih berusaha menormalkan kembali kondisinya sedangkan Roichi sibuk dengan segala pemikirannya mengenai Belva dan Satya. Tak lama Belva datang dengan membawa secangkir teh jahe hangat.


"Ini mas minum dulu" Belva memberikan teh hangat itu pada Satya.


"Terima kasih, sayang."


Deg...

__ADS_1


Roichi langsung menatap Satya dan Belva saat mendengar percakapan kedua manusia yang ada dihadapannya. Ponselnya yang sedari tadi hanya di scroll ke atas dan kebawah kini terabaikan oleh Roichi.


"Teh jahe cukup meredakan rasa mual. Minumlah itu." Ucap Nyonya Hector.


"Iya, Ma." Jawab Satya.


"Pagi ini apa yang membuatmu mual kembali?" Tanya Tuan Hector.


"Aroma pisang goreng ini tiba-tiba membuatku mual." Jawab Satya.


Roichi melirik sekilas pada pisang goreng yang ada di atas meja lalu kembali menatap Satya.


"Mual dengan pisang goreng? Tunggu... Apa ada sesuatu yang terlewatkan? Sedari tadi aku merasa ada keanehan di sini." Ucap Roichi dengan pandangan menelisik.


Tuan Hector tertawa kecil saat mendengar kalimat panjang dari Roichi.


"Iya memang cukup aneh, Roi. Biasanya yang mengalami morning sickness adalah wanita hamil tapi di sini justru Satya yang mengalaminya. Kalau tidak salah itu namanya kehamilan simpatik yang dialami oleh beberapa suami yang beruntung saja hahaha." Tawa kecil Tuan Hector mengakhiri kalimatnya karena merasa lucu dan senang saat putrinya hamil tapi tetap terlihat baik-baik saja justru Satya yang mabuk setengah mati.


"Kehamilan simpatik?" Gumam Roichi tapi masih bisa di dengar boleh semuanya.


"Iya kehamilan simpatik. Vanthe tengah hamil muda dan Satya lah yang justru mengalami gejala-gejala kehamilan itu, muali dari mual, muntah hingga pusing. Tadi sudah Mama katakan bukan jika Satya baru saja keluar dari rumah sakit. Selama tiga hari berturut-turut dia mengalami hal-hal seperti itu sampai dia lemas dokter Richard bilang jika Satya keracunan tapi ternyata bukan itu hanya kehamilan simpatik saja." Jelas Nyonya Hector.


Jedeerr...


Penjelasan yang membuat Roichi terkejut bukan main. Kenapa bisa Belva hamil kembali dengan pria yang dulu tak bertanggung jawab pada wanita itu. Roichi menatap Belva dengan dalam, rasa hatinya kecewa saat ini. Entah kenapa bisa Roichi merasa kecewa dan sakit saat mengetahui hal itu. Sepertinya pria itu memang memiliki perasaan lebih pada Belva.


"Iya, kemarin saya harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit buka karena keracuna tapi karena istri saya yang tengah hamil muda. Baru kali ini saya merasakan kehamilan simpatik, benar kata Papa jika saya termasuk dalam jajaran suami yang beruntung. Momen ini pasti akan terus tekenang bagi saya sampai nanti Dan akan menjadi pengalaman luar biasa." Ucap Satya tersenyum beberapa kali menatap istrinya seraya menggenggam lembut tangan Belva.


Semuanya terdengar jelas dan terlihat dengan jelas bagi Roichi. Belva hamil dan Satya mengatakan jika istrinya tengah hamil itu berarti memang benar-benar nyata bahwa Belva kini sudah menjadi istri Satya, bukan lagi hamil diluar nikah seperti sebelumnya.


"Istri? Kalian benar-benar sudah menikah?" Tanya Roichi info memastikan sebuah jawaban dari bibir Belva maupun Satya sendiri.


"Iya kami sudah menikah, Om. Beberapa bulan lalu hanya sederhana saja. Aku sempat mengabari Om Roi tapi nomor ponselmu tidak aktif waktu itu." Jawab Belva dengan tenang.


Roichi terlalu sibuk mengurus pekerjaannya di Jerman hingga dirinya sangat jarang menghubungi Belva dan Duo Kay bahkan acara pernikahan yang digelar sederhana antara Satya dan Belva tak terdengar oleh Roichi. Beberapa kali informasi terlewatkan untuknya semua karena beberapa hal yang harus pria itu lalui beberapa bulan ini.


"Nomor ku tidak aktif?" Gumam Roichi dalam hati seraya mengingat kembali.


Benar ingatannya muncul saat ponselnya hancur ketika terjadi pertengkaran antara dirinya dan sang istri. Yaa... Roichi masih memiliki istri saat ini tapi hubungan mereka tak sebaik dan seharmonis pasangan normal lainnya. Terjadi permasalahan rumah tangga yang cukup rumit hingga hubungan keduanya tak baik-baik saja. Lalu bagaimana Roichi bisa memiliki perasaan pada Belva jika dirinya masih berstatus suami orang lain? Perasaan nyaman, jatuh cinta dan sayang tidak bisa disalahkan semua perasaan itu bisa muncul kapan saja dan untuk siapa pun tidak bisa memilih ketika semua perasaan itu datang.


"Oh..." Hanya dua huruf itu saja yang bisa Roichi keluarkan dengan anggukan samar.


Hatinya kembali merasa kecewa, lagi-lagi keberuntungan tak berpihak padanya.


"Em selamat atas pernikahan kalian dan selamat atas kehamilanmu." Ucap Roichi menatap Belva.


Dapat Belva lihat dari tatapan mata Roichi jika pria yang sering dipanggilnya dengan sebutan Om dan selalu dirinya anggap sebagai sosok ayahnya dalam setiap perlakuan Roichi, pria itu memancarkan kekecewaan.


"Terima kasih, Om." Ucap Belva tersenyum.


"Terima kasih, Tuan Roichi." Ucap Satya.


Helaan napas terdengar dari Nyonya Hector.


"Sedari tadi Mama mendengar kalian berdua berbicara dengan bahasa yang sangat formal sekali. Hei... Kalian itu sudah menjadi keluarga dan ini buka di kantor, kalian sedang tidak bekerja. Usia kalian pun Mama rasa sama kenapa kalian tidak bisa bersikap akrab layaknya keluarga."


"Mama kalian benar, kita ini sudah menjadi satu keluarga. Satya sudah menjadi menantu keluarga Hector, bukan sekedar menantu saja tapi sudah Papa dan Mama anggap sebagai anak sendiri. Bersikaplah layaknya keluarga ketika di luar kantor dan tidak dalam urusan pekerjaan." Ucap Tuan Hector menyetujui keinginan istrinya.


"Ah ya baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu, Ma... Pa... Aku sudah berjanji dengan putra putriku untuk jalan-jalan hari ini." Ucap Roichi.


Satya dengan tak sengaja karena entah secara refleks menunjukkan rasa tidak sukanya saat Roichi mengakui kedua anaknya menjadi anak Roichi.


Roichi menghela napas, sekuat hati dirinya harus tahu diri dan mencoba menerima semuanya.


"Santai saja, mereka tetap anak kandungmu. Aku tidak akan merebut mereka darimu. Aku memang Papi mereka sebelum Daddy mereka datang. Walaupun mereka bukan anak kandung ku tapi aku sudah menganggap mereka sebagai anak-anak ku." Ucap Roichi mengerti dengan tatapan Satya.


"Mas..." Panggil Belva lirih tapi terdengar lembut di telinga Satya.


Satya sadar dirinya tak boleh egois karena nyatanya memang benar jika Roichi lah dulu yang menjaga mereka.


"Maaf, bukan seperti itu maksudku. Baiklah kamu pergilah bersama mereka. Tapi maaf Belva harus tetap di rumah karena dia harus banyak beristirahat." Ucap Satya.


Roichi mengangguk, dia tidak akan memaksa atau apapun itu. Lebih biak dia segera pergi keluar daripada berada di tempat itu menyaksikan wanita yang nyatanya menjadikan hatinya lebih nyaman bersama pria lain.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Roichi.


Tuan dan Nyonya Hector mengangguk.


"Hati-hati, Om." Ujar Belva.


Roichi hanya mengangguk saja. Dia berlalu setelah dirasa cukup untuk berpamitan, memilih menghampiri kamar Duo Kay. Menepati janjinya mengajak dua bocah kembar itu untuk jalan-jalan mencari kado ulang tahun yang belum sempat dia berikan.


Berharap jika kegiatan bersama Duo Kay nanti akan mengalihkan rasa kecewanya pada ibu dari dua bocah kembar itu. Perasaan itu memang terkadang rumit, mengenaskan saat jatuh pada orang yang tidak tepat dan akan menjadi keberuntungan jika jatuh pada orang yang tepat.


Dibelahan dunia negara lain, sepasang manusia tengah berbicara dengan wajah yang tampak serius sekali dalam pertemuan mereka yang mungkin akan terbilang singkat.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Biar pun yang baca sedikit menurun tapi gpp author tetap semangat buat kalian yang masih setia sampai saat ini.


Thank buat kalian yang masih setia support author, terima kasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang membuat author semakin bersemangat. 🙏🙏🙏

__ADS_1


Tetap tunggu terus kejutan kecil author buat kalian yang masuk ke rangking 3 besar kategori readers paling support author ❤️


__ADS_2