Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 167. Ayam Geprek


__ADS_3

Jika beberapa orang akan merasa kerepotan dan mengeluh, berbeda dengan Satya yang justru merasa senang direpotkan oleh sang calon buah hati. Keinginannya setelah tiba di Indonesia semakin aneh-aneh saja, saat berada di Paris dirinya menahan setengah mati apa saja yang diinginkannya.


Baru saja Jordi pergi untuk membeli rujak sesuai keinginannya, Satya langsung masuk ke dalam dengan lamgkah santainya. Semua koper pun sudah masuk ke dalam dengan bantuan para asisten rumah tangganya.


"Tuan, selamat datang kembali." Sapa Mbok Yati.


"Terima kasih, Mbok. Mbok, saya lapar bisa buatkan saya ayam geprek?" Pinta Satya.


Baru saja sampai di rumah dari perjalanan jauh Satya sudah kembali kelaparan meski dirinya sudah sempat makan di dalam pesawat. Mbok Yati juga sedikit heran biasanya Satya tidak akan langsung meminta makan tapi pria itu menghabiskan waktu di dalam kamar tidurnya atau ruang kerjanya.


"Bisa, Tuan. Apa ada lagi, Tuan?"


"Emm... Yang pedas ya Mbok. Dan tolong buatkan saya Jus alpukat di tambah susu coklat yang banyak dan jangan lupa ditambah es batunya juga agak banyak." Pinta Satya kembali.


Kedua alis Mbok Yati terangkat samar, ia semakin heran pada majikannya itu.


"Maaf, Tuan. Anda yakin ingin memakan semua itu?" Tanya Mbok Yati memastikan.


Pasalnya Satya sangat jarang sekali meminta menu yang tergolong berlemak dalam waktu bersamaan, pria itu menghindari makanan yang bisa membuat perutnya membuncit, jika meminta dibuatkan jus biasanya hanya jus jeruk saja itupun tanpa gula secara berlebihan bahkan tanpa ada campuran susu atau sejenisnya. Pria itu lebih banyak minum air putih atau kopi di saat tertentu seperti saat santai atau saat bekerja.


"Yakin, saya lapar. Nanti panggil saya di kamar jika sudah siap. Saya istirahat sebentar." Ucap Satya.


"Baik, Tuan. Saya akan siapkan semuanya. Emm... Maaf, Tuan. Nyonya dan anak-anak apakah sekalian saya buatkan menu yang sama?" Tanya Mbok Yati.


"Biar saya tanyakan ke mereka dulu nanti saya hubungi dari atas."


"Baik, Tuan." Mbok Yati mengangguk.


Satya langsung berjalan memasuki liftnya. Dia ingin segera menemui istri tercintanya. Sampai di kamarnya, Belva tidak ada di dalam kamar. Dia tahu pasti istrinya sedang berada di kamar ke dua anaknya. Maka pria itu langsung menyusul ke kamar Duo Kay.


"Sayang." Panggil Satya pada istri dan anak-anaknya.


Satu panggil hemat untuk ketiganya yang paling dia sayangi dan cintai. Keluarga kecilnya itu adalah harta paling berharga yang benar-benar membuat hati Satya bahagia sepanjang hidupnya selama ini.


"Daddy, sini kita buka koper Kaila, Opa dan Oma membawakan banyak mainan untukku." Ujar Kaila.


Satya tersenyum memandang putrinya saat masih berdiri di pintu kamar Duo Kay. Dia maju menghampiri ranjang Duo Kay dan duduk di atas ranjang.


"Benarkah? Ayo coba kita buka."


"Iya Daddy, kemarin di jalan Oma bilang ke Kaila kalau Oma membawakan banyak mainan untukku dan Kaili."


"Sayang, ganti baju dulu yuk." Ucap Belva yang sudah siap memegang bahu ganti Kaila dan Kaili.


Satya menatap wajah cantik istrinya yang masih sangat muda bila dibandingkan dengan dirinya. Rasanya tak pernah bosan saat memandang wajah Belva. Anugerah dan keberuntungan besar bagi seorang Satya mendapatkan Belva gadis yang dulu polos dari desa dan juga cerdas. Satya tahu jika Belva gadis yang cerdas karena dulu dari uangnya lah Belva sempat bersekolah sebelum peristiwa pilu itu terjadi memutuskan harapan istrinya.


"Mam, duduklah. Biarkan mereka membuka oleh-oleh mereka dari Oma mereka." Ucap Satya pada istrinya. Belva mengangguk dan mengalah memberikan waktu bagi kedua anaknya.


"Oke, tapi setelah bongkar koper langsung ganti baju ya, Mami sudah siapkan. Atau kalian mau langsung mandi?" Tanya Belva pada Duo Kay.


"Oke, Mami." Ucap Kaili.


"Oke, Mami. Nanti habis kita bongkar mainan kita mandi deh." Ucap Kaila.


"Oke, ya sudah Mami cuci muka dulu kalian bersama Daddy dulu ya." Ucap Belva.


Duo Kay mengangguk demikian juga Satya. Belva masuk ke dalam kamar mandi Duo Kay untuk membasuh wajahnya yang terasa lengket. Wanita itu sudah biasa setelah bepergian selalu membasuh wajahnya agar kotoran dari polusi atau apa saja yang menempel di wajahnya menghilang dan terasa ringan kembali.

__ADS_1


"Waaah... Boneka Barbie, banyak pakaiannya juga." Gumam Kaila dengan mata berbinar bahagia.


Salah satu mainan yang mencolok dan menarik perhatiannya adalah boneka berparas cantik, bertubuh sempurna dan fashionable. Mainan itu dipesan secara khusu oleh Nyonya Hector hanya untuk cucu perempuan kesayangannya. Tahu jika Kaila sangat menyukai mainan itu dan juga sangat menyukai desain pakaian maka boneka cantik itu dipesan dengan ukuran yang lebih besar dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris serta beberapa pakaian yang bisa Kaila ganti sesuka hatinya.


Mainan itu dipegangnya dan diputar seakan melihat bagaimana detail dari boneka berparas cantik itu. Tak kalah dengan Kaila, putra Satya dan Belva pun mendapatkan satu set Lego dan beberapa miniatur bangunan yang juga di pesan secara khusus hingga menyerupai bentuk asli dari barang-barang bangunan yang sebenarnya. Mainan itu bisa dibongkar pasang sesuai dengan imajinasi Kaili dalam membangun bangunan rumah.


Tuan dan Nyonya Hector memang sangat memahami kedua cuuc mereka itu sebab dari dalam kandungan Belva, merekalah yang menjaga dan melindungi ibu dan anak itu. Bahkan dalam mengembangkan bakat dan minat Duo Kay, kedua pasangan paruh baya itu turut ambil bagian.


"Wah lihat!!! Ini mainan yang aku mau, aku bisa membuat rumah-rumahan dengan mainan ini. Daddy lihat ini!!" Ucap Kaili dengan bangga dan senang.


Satya tersenyum menanggapi reaksi kedua anaknya yang begitu bahagia mendapatkan mainan yang mereka inginkan. Beruntung Satya memiliki mertua yang sangat menyayangi kedua anaknya. Andai saja kedua orang tuanya masih ada mungkin mereka juga akan sangat menyayangi Duo Kay, cucu-cucu yang menggemaskan dan juga cerdas.


"Kalian senang?" Tanya Satya.


"Senang Daddy." Jawab Kaila.


"Iya senang sekali. Daddy nanti kita main bersama ya." Ujar Kaili.


"Tentu, nanti Daddy akan menemani kalian bermain."


"Wah, kalian dapat apa dari Oma dan Opa?" Tanya Belva yang sudah selesai membasuh wajahnya. Wajah cantik itu terlihat lebih segar.


"Mami, aku dapat boneka Barbie tapi bonekanya beda dari yang kita beli di mall."


"Coba Mami lihat." Ucap Belva menghambat ranjang Kaila.


Saat akan duduk di sisi lain ranjang, Satya langsung menarik tangan Belva agar duduk di sampingnya saja. Belva tak menolak, ia hanya mengikuti saja. Belva duduk di depan Satya menerima mainan yang diberikan oleh putrinya.


"Ini bagus sekaki, sayang. Ukurannya lebih besar kamu bisa mengganti pakaian nya juga ini." Ucap Belva.


"Iya, Mami. Oma itu baik sekali, aku sayang Oma, ini pasti Oma yang carikan untukku. Kalau Opa pasti tidak tahu mainan seperti ini." Celetuk Kaila.


"Kakak dapat apa sayang?" Tanya Belva pada Kaili.


"Dapat Lego tapi legonya lebih lengkap ada miniatur nya seperti yang asli. Ini ada atapnya, ini ada tangganya, ada kursinya juga. Banyak Mami, bisa dibongkar pasang juga loh." Ucap Kaili menunjukkan beberapa benda yang melengkapi mainannya dalam mika yang masih tersegel.


"Iya, ini pasti Opa dan Oma kalian pesan secara khusus untuk kalian. Kalian harus berterima kasih pada Opa dan Oma, sayang." Ucap Belva.


"Mami betul, sayang. Kakak Ken dan ila harus berterima kasih pada Opa dan Oma. Nanti kita hubungi mereka untuk berterima kasih." Imbuh Satya menyetujui ucapan sang istri.


"Oke Mami... Oke Daddy." Jawab Duo Kay secara bersamaan.


Mereka masih terus membongkar mainan demi mainan yang mereka dapat dari Tuan dan Nyonya Hector. Hingga selesai dan akhirnya Satya membantu Belva memandikan Duo Kay sebelum mereka beristirahat. Rasa segar sepertinya justru membuat Duo Kay merasa lebih rileks merebahkan diri di ranjang. Keluarga kecil itu bercerita apa saja yang membuat mereka merasa lebih santai hingba akhirnya Duo Kay tertidur dengan sendirinya.


"Mas, mandi dulu pasti kamu lelah kan." Ujar Belva setelah menyelimuti Duo Kay.


"Ya sudah kita kembali ke kamar. Kay sudah tidur, kamu juga pasti lelah beristirahatlah kasihan baby kita, sayang."


"Iya, kita kembali ke kamar. Ayo." Ucap Belva.


Mereka berdua kembali ke kamar mereka. Satya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Belva seperti biasa selalu menyiapkan pakaian untuk suaminya. Hanya celana pendek saja karena ia tahu saat tidur suaminya pasti tidak akan memakai baju.


"Mas, sudah selesai. Ini celanamu." Belva memberikan celana pendek pada suaminya.


"Terima kasih, sayang." Ucap Satya dengan menerima celana pendeknya.


Tok..!! Tok..!! Tok..!!

__ADS_1


Pintu terketuk dari luar, Belva langsung membukakan pintu kamarnya guna melihat siapa yang datang.


"Mbok, ada apa?" Tanya Belva setelah tahu yang mengetuk pintu adalah Mbok Yati.


"Nyonya, Mbok sudah siapkan makanan pesanan Tuan. Semua sudah siap di meja makan."


"Oh, oke Mbok. Terima kasih ya." Ucap Belva tersenyum ramah seperti biasa.


"Sama-sama, Nyonya. Saya permisi dulu."


Belva mengangguk, setelah Mbok Yati pergi barulah ia menutup pintu kamarnya. Jika dihadapan Satya memang semua asisten rumah tangga memanggil Belva dengan sebutan Nyonya. Mereka tidak berani seenaknya lagi memanggil Belva sesuka hati mereka jika di sekitar masih ada Satya.


"Mas, kamu lapar? Mbok Yati tadi bilang sudah siapkan makanan untukmu, kenapa tidak bilang padaku saja."


"Iya, sayang. Mas sedang ingin makan geprek. Kita baru saja sampai mana mungkin mas meminta padamu untuk membuatkannya."


"Tapi aku bisa kok kalau hanya membuat ayam geprek saja."


"Ingat baby yang ada di kandunganmu, mana mungkin Daddy membuatnya kelelahan, jika Maminya lelah pasti anak Daddy yang ada di dalam sini juga lelah, Mam." Ucap Satya yang sudah mendekat pada istrinya. Memeluk Belva dari samping dengan tangan yang setia mengusap lembut perut istrinya.


"Daddy terlalu berlebihan, membuat ayam geprek itu tidak sulit, baby-nya juga pasti senang ikut bantu Mami buatkan makanan untuk Daddy-nya."


"Iya... Iya... Tapi lain kali saja ya. Daddy mau turun, Mami mau ikut?" Tanya Satya.


"Ya sudah, ayo Mami temani."


"Sebentar, mas ambil kaos dulu, yank."


"Biar aku saja yang ambilkan, mas tunggu di sini saja. Nanti mas sembarang tarik berantakan semua."


Satya terkekeh, dia mengacak lembut rambut sang istri. Semua keperluan yang ada di kamar tersebut Belva sendiri yang membereskannya. Satya tak mengijinkan asisten rumah tangga yang membersihkannya karena ruangan itu adalah privasinya.


Kini mereka berdua sudah berada di meja makan, menu makanan yang Satya inginkan sudah terhidang. Aroma sambal yang khas dengan aroma bawang itu begitu terasa menyengat dalam indera penciuman. Sangat menggugah selera makan Satya saat ini.


"Aku ambilkan ya mas."


"Iya, terima kasih sayang."


Ayam geprek sudah berada di dalam piring Satya. Lahap sekali pria itu memakan menu satu itu, rasa pedasnya tak menjadi masalah bagi Satya meski keringat sudah mengucur tapi tetap saja nikmat dan lezat bagi Satya.


"Ssshhh hah ssshh hah... Enak yank, kamu tidak mau coba?" Tanya Satya dengan lidah yang terasa panas.


"Kamu tidak kepedasan, mas?"


"Pedas tapi mas suka, mas yang minta dibuatkan seperti ini oleh Mbok Yati."


"Eh tapi kamu jangan makan, yank. Ini sangat pedas nanti kasihan baby kita."


Satya melanjutkan makannya, Belva hanya menggunakan kepalanya saja, ia tahu pasti saat ini suaminya sangat menginginkan makanan itu terlihat dari na*psu makan Satya yang berlebihan.


"Yank, minum." Ucap Satya menunjukkan satu gelas jus alpukat yang sudah tercampur dengan susu coklat dan es.


"Ini mas, pelan-pelan minumnya nanti keselek."


Satya menerima dan meminumnya dengan ekspresi penuh menikmati setiap makanan dan minuman yang terhidang untuknya.


"Kalau ini kamu boleh coba yank ini manis." Ucap Satya.

__ADS_1


****


To Be Continue...


__ADS_2