Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 209. Cuek


__ADS_3

Mendengar Tuan Hector ikut disebutkan oleh Satya atas keberadaan Siwi sontak saja Belva dan Nyonya Hector menatap Tuan Hector. Tatapan mata Nyonya Hector terlihat tajam karena selama ini ia tak tahu sama sekali dan Tuan Hector pun tak bercerita apapun padanya.


"Emm... Iya Papa memang tahu jika mereka berencana untuk menemukan siapa pelaku kejatahan di perusahaan Satya tapi Mama dan Vanthe jangan salah paham, Papa hanya sekedar tahu mereka merekrut karyawan baru ya si wanita itu tapi Papa tidak tahu apa-apa kalau menantu kurang ajar ini sampai menghabiskan waktu bersama dengan wanita itu."


Tuan Hector tentu saja tak ingin terlalu jauh terseret dalam permasalahan rumah tangga anak dan menantunya. Keharmonisan rumah tangganya pun akan bermasalah nanti jika sampai istrinya salah paham.


"Tapi kenapa Papa tidak bercerita pada Mama? Kenapa kalian para lelaki tidak mau terbuka pada istri kalian sendiri huh?" Nyonya Hector sedari tadi memang merasa kesal.


Wanita paruh baya itu memegang keningnya, memijitnya karena merasa pusing dengan permasalahan keluarga mereka. Rupanya sang suami juga ikut dalam perencanaan tersebut.


"Huft... Astaga... Kepala Mama pusing. Mama mau pulang, kalian selesaikan masalah rumah tangga kalian sendiri. Ayo Papa pulang." Ajak Nyonya Hector dengan wajah tak ramah pada suaminya.


Belva menatap Mamanya yang tampak kurang baik saat ini. Ia menghembuskan napas saat Mamanya berlalu ke kamar sembari mengelus perut buncitnya. Tak lama Nyonya Hector keluar dengan membawa tasnya.


"Sayang, Mama pulang nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi Mama. Kalau suamimu ini kembali berulah pasport kita masih berlaku untuk beberapa negara." Ucap Nyonya Hector dengan melirik tajam pada Satya.


Satya sedikit terbelalak mendengar ucapan mertuanya. Itu artinya jika dienya macam-macam pasti ibu mertuanya akan lbalo membawa Belva pergi entah ke mana yang pasti dirinya tak diijinkan mengetahui keberadaan sang istri nanti. Satya menelan ludahnya sendiri, ibu mertuanya tak main-main jika dilihat dari tatapan matanya.


Nyonya Hector mencium pipi kanan dan kiri Belva, wanita hamil itupun mencium punggung tangan Mamanya.


"Bye, sayang... Sampaikan salam Mama pada si kembar."


Nyonya Hector juga tak lupa mencium pipi gembul baby As yang tengah dipangku Satya sebelum benar-benar pergi. Wanita paruh baya itu melewati Satya dan Jordi begitu saja meski kedua pria itu telah menggantungkan tangan mereka untuk mengalami Nyonya Hector. Satya dan Jordi melongo uluran tangan mereka tak digubris sama sekali.


"Sayang, Papa pulang dulu." Pamit Tuan Hector.


Belva kembali menyalami Papanya, beruntung Satya dan Jordi kali ini tidak diacuhkan oleh Tuan Hector seperti apa yang dilakukan oleh Nyonya Hector.


"Kamu selesaikan masalah mu jangan bawa-bawa Papa, menantu kurang ajar."


Tuan Hector memikul bahu Satya karena gemas dan kesal dengan tingkah menantunya.


"Seharusnya Papa tidak melakukan kekerasan padaku dihadapan putraku." Keluah Satya memegang pundaknya.


"Pria lemah... ini tak seberapa jika Mama mu marah pada Papa nanti akan Papa berikan lebih dari ini. Anakmu pasti paham jika Daddy nya kurang ajar terhadap Opa nya."


"Papa tidak pulang? Mama sudah tidak keluar sejak tadi." Ucap Belva mengentikan percakapan suami dan Papanya.


Tuan Hector menengok arah pintu, benar saja istrinya sudah tak lagi berdiri di sana. Segera Tuan Hector berlalu dengan berjalan lebih cepat. Belva hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Suami-suami takut istri." Gumam Satya menatap Papa mertuanya.


Belva mendengar meski Satya bergumam lirih. Wanita hamil itu masih setia mengusap perut buncitnya tapi tatapan matanya menatap tajam pada suaminya.


Ketika tak pintu kembali tertutup, Satya kembali mengalihkan tatapannya pada sang istri. Raut wajah Belva yang serius serta tatapan mata Belva membuat Satya terdiam.


"Sayang..." Panggil Satya.


"Hem..." Jawab Belva dengan ekspresi datar.


"Em... Ekhem... Semua... Mas rasa permasalahan kita sudah selesai bukan? Kamu memaafkan mas kan ?"


"Iya aku maafkan. Sudah selesai ya? Lalu kalian mau apa jika sudah selesai?" Tanya Belva cuek.


Satya dan Jordi mengangguk secara bersamaan. Mata Satya berbinar kala mendengar sang istri memaafkan nya.


"Tuan, masalah sudah selesai lalu bagaimana bonus untuk saya?" Bisik Jordi pada Satya.


Jordi rupanya masih terus mengingat bonus yang seharusnya dia dapatkan. Dalam hatinya sudah berharap dan bahagia ketika masalah dinyatakan sudah selesai dan Belva sudah memaafkan bos-nya.


"Bisakah kita bahas nanti?" Bisik Satya sedikit kesal. Baru saja permasalahannya selesai tapi Jordi sudah membuatnya kembali kesal.


"Jika kamu mau sekarang minta saja pada istri saya." Ujar Satya pada Jordi.


"Minta apa?" Tanya Belva menyahuti pembicaraan Satya dan Jordi yang didengar oleh Belva.


Kedua pria itu langsung menoleh pada Belva.


"Ah ini, sayang... Jordi membahas perihal bonus kerja." Ujar Satya sedikit tersenyum.


Belva tak lagi merespon, baginya jawaban Satya itu adalah urusan suaminya sendiri karena menyangkut pekerjaan.


"Mam, kita bisa kembali segera?"


"Kembali kemana?" Tanya Belva.


"Kita pulang ke Indonesia, sayang. Kasihan anak-anak jika mereka harus ijin dari sekolahnya."


"Tidak bisa." Jawab Belva tegas.


Satya langsung menatap serius pada istrinya.


"Kenapa? Masalah kita sudah selesai, sayang. Ayolah." Rengek Satya.

__ADS_1


"Siapa yang bilang selesai?"


"Bukankah kamu sudah memaafkan saya? Masalah kita sudah selesai kan lalu apa lagi, sayang?"


"Kamu tidak lihat perutku sudah membesar seperti ini ? Lalu aku harus terbang sana sini dengan perut buncit seperti ini ? Aku tidak mau aku lelah." Ucap Belva.


Satya menatap perut istrinya, memang benar perut itu sudah membesar. Dia bahkan dalam beberapa bulan ini tak bisa mengusap dan menyapa anaknya di dalam kandungan sang istri.


"Ya sudah oke kita stay di sini sampai anak kita lahir. Kamu sudah memeriksakannya ? Sudah berapa bulan?" Tanya Satya.


"Delapan bulan, besok baru mau periksa."


Mungkin lama mendengar percakapan orang dewasa membuat Baby As seperti mendengar sebuah dongeng hingga bayi itu tertidur di pangkuan Satya.


"Besok mas temani, Baby As apakah baik-baik saja selama ini?"


"Eh... Dia tertidur rupanya." Gumam Satya.


Kesehatan baby As sejak lahir memang kurang bagus. Sebagai orang tua tentu Satya dan Belva harus rutin memeriksakan keadaan bayi itu. Memantau dan mengantisipasi agar membuat bayi itu tetap berada dalam keadaan baik-baik saja.


"Sini biar aku letakkan di kamar." Belva sudah berdiri menghampiri Satya.


"Tidak usah, biar mas saja. Di mana Kay?"


"Di dalam kamar."


Satya menggendong baby As masuk ke dalam kamar bersama Belva dan meninggalkan Jordi sendiri di ruang tamu. Saat memasuki kamar, Duo Kay terkejut melihat kedatangan Daddy mereka.


"Daddyyy!!" Teriak mereka dan berlari ke hadapan Satya.


Seketika itu juga baby As terkejut dengan teriakan kedua kakaknya. Bayi gembul itu tersentak dan terbangun hingga menangis.


"Oeekk hheeaaaa..." (Anggap saja seperti itu tangis baby As)


Satya langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. Pria itu langsung menimang baby As kembali mencoba menenangkan bayi itu dengan menepuk lembut punggung baby As.


"Ssstt... Adek kaget ya." Ucap Satya pada baby As saat menimang bayi itu.


"Sayang, kaget adek nya. Kalian kenapa teriak seperti itu?" Tanya Belva.


Kedua anak kembar itu tadi langsung berhenti tepat di depan Satya saat mengetahui baby As terkejut dan menangis. Mereka pun langsung menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan mereka masing-masing.


"Maaf Mami." Ucap Kaili dengan tangan masih membekap mulutnya.


Duo Kay tampak merasa bersalah, Belva berlalu keluar kamar dan membiarkan Satya mengurus baby As.


Tak digubris oleh Belva, wanita hamil itu tetap keluar. Dilihatnya Jordi masih berada di sofa ruang tamu tapi diabaikan oleh Belva. Ia membuat susu untuk baby As.


Belva menyerahkan semuanya pada sang suami untuk mengurus anak-anak mereka. Duo Kay yang sudah sangat merindukan Daddy mereka pun lebih sibuk menempel pada Daddy nya. Setelah memberikan susu Belva bisa tidur siang dengan nyenyak tanpa harus menjaga anak-anak nya.


Satya yang pasrah saat Belva memutuskan tidur dan menyerahkan semua penjagaan anak-anak mereka pun cukup kewalahan. Duo Kay merasa saat ini adalah waktu yang menyenangkan karena melepas rasa rindu mereka dengan Daddy mereka maka kedua bocah kembar itu memonopoli Satya agar terus mengikuti keinginan mereka bermain. Awalnya masih aman karena mereka bermain bersama begitu kedua bocah itu memiliki keinginan masing-masing yang harus ditemani oleh Satya membuat Satya repot dan menjadi semakin repot saat baby As terbangun dari tidurnya karena suara berisik Duo Kay. Bayi itu menangis dan rewel merasa asing dengan kehadiran Satya yang beberapa bulan tak pernah melihat sosok pria yang menjadi Daddy nya itu.


"Ssst... Ssstt... Jangan nangis, Nak. Mau apa hemm? Mau minum susu? Daddy buatkan susu ya, ayo kita buat susu."


Satya mengayunkan perlahan baby As dalam gendongannya dan menepuk lembut punggung bocah gembul itu.


Duo Kay hanya menyaksikan saja bagaimana Daddy nya kerepotan menenangkan adik mereka. Satya ke dapur bersama baby As untuk membuat susu, dengan bantuan keterangan panduan yang ada di kotak susu pria itu membuatkan susu untuk baby As. Entah pas atau tidak antara takaran air dan susu Satya tetap memberikannya pada baby As.


"Ini susu nya sudah jadi, adek minum dulu ya." Ucap Satya, botol susu itu disodorkan pada bibir baby As tapi bayi itu menolak dan masih saja rewel.


"Kita ke kamar ya kita main sama kakak Kay?" Tawar Satya pada baby As.


Percuma saja baby As tak merespon Satya, bayi itu hanya merasa kurang nyaman untuk saat ini. Ia mencari dimana Mami dan Oma nya berada yang sering menggendong dirinya saat tak nyaman seperti itu. Meski ia tak menangis kencang tapi ia tetap menangis dan berhenti pun hanya sesaat lalu menangis kembali, Satya sibuk menenangkan bayinya yang rewel itu dengan berbagai cara. Menimang, mengajak bercanda, bermain.


"Kay bisa bantu Daddy? Adek kalian menangis ajak dia bermain." Pinta Satya.


"Letakkan saja di atas ranjang, Daddy. Kaila ambil mainan Adek baby." Ucap Kaili.


Kaila mengangguk, ia berlari mengambil beberapa mainan yang biasa diberikan untuk baby As.


Satya meletakkan baby As di atas ranjang tapi sayang bayi itu tidak mau. Ia kembali menangis membuat Satya urung meletakkannya di atas ranjang. Hampir sepanjang hari Satya mengasuh baby As yang rewel tanpa mau mengganggu Belva yang sedang beristirahat. Hingga makan siang pun mereka lewatkan, Satya terlalu sibuk mengurus anak-anak nya dan Belva terlalu lelap beristirahat.


Menjelang sore hari barulah terasa Duo Kay kelaparan. Mereka asik bermain sepanjang hari tanpa tidur siang tanpa makan siang. Mereka seperti merasa bebas untuk hari ini. Saat sang Daddy menyuruh mereka untuk tidur siang pun mereka dengan keras menolaknya. Satya merasa cukup pusing dan repot mengasuh ketiga anaknya membuat pria itu pasrah saja jika Duo Kay tak mau beristirahat.


"Kira-kira mereka sedang apa ya?" Gumam Belva.


Wanita hamil itu masih berada di atas ranjang merebahkan diri. Sebenarnya ia sudah bangun sejak tadi hanya saja sengaja bersantai di dalam kamar membiarkan sang suami menjaga anak-anak mereka.


"Coba kulihat saja mereka, apa mungkin masih tidur." Gumam Belva.


Belva keluar kamar bermaksud untuk menengok anak-anak dan suaminya tapi terdengar suara bisi di dapur. Ia mengurungkan niat menuju kamar anak-anaknya tapi langsung menuju ke dapur.


Terlihat Satya kerepotan menggendong baby As dan mencoba menyalakay kompor. Duo Kay dududk di kursi mereka masing-masing menghadap ke arah daddh mereka yang sibuk sendiri.

__ADS_1


"Daddy, aku mau makan sosis mie gurita goreng." Pinta Kaila.


"Sosis? Bagaimana cara membuatnya?" Tanya Satya.


"Sosisnya digulung-gulung pakai mie dan digoreng." Jawab Kaili.


"Ekh... Ekh... Hiks..." Baby As mulai rewel kembali.


"Sayang, kenapa? Mau susu? Jangan menangis lagi ya." Ucap Satya menepuk punggung baby As dengan lembut.


Baby As mengulurkan tangannya seperti meminta untuk digendong. Anak kecil itu melihat kedatangan Belva dan menginginkan untuk segera di ambil alih oleh sang Mami.


"Ekh... Aaaeee... Hiks..."


Satya melihat arah pandang baby As, Belva berdiri di belakang kursi baby As.


"Sayang? Kamu sudah bangun?" Tanya Satya.


"Sedang apa kalian?" Tanya Belva.


"Mamiii!!! Kami lapar." Rengek Kaila.


Belva menghampirinya Satya dan memgambil alih baby As yang terlihat wajahnya memerah dengan genangan air mata.


"Biar aku saja yang menggendongnya, aku tak bisa memasak, sayang."


"Anakku pasti menangis sepanjang hari ini saat bersamamu, benar kan?" Tanya Belva.


"Apa adik kalian sedari tadi menangis?" Tanya Belva pada Duo Kay.


"Iya, Mami... Tidak mau minum susu hanya menangis terus." Jawab Kaila.


"Kamu yang memasak. Biar anakku aku yang gendong." Ucap Belva lalu duduk di kursi makan.


"Yang memasak siapa?" Tanya Satya.


"Daddyyy yang memasak!!!" Teriak Duo Kay.


"Tapi Daddy tidak bisa memasak."


"Ambil dan siapkan bahan-bahannya dari kulkas." Ucap Belva.


Belva memang beniat membuat Satya menggantikan tugasnya untuk hari ini. Ia ingin membuat Satya merasakan bagaimana repotnya menjaga dan mengurus kebutuhan anak-anak mereka. Belva memandu Satya sembari menimang baby As, sebelum itu ia memerintahkan Satya untuk membuat susu bagi baby As. Mencuci sayur, memotong sertan merasik bumbu dan semua hal yang akak di masak pada saat ini semua Satya lakukan dengan mendengarkan arahan dari Belva.


"Tunggu minyaknya panas dulu baru goreng sosisnya." Ucap Belva.


"Bagaimana cara mengetahui minyak sudah panas?" Tanya Satya.


"Daddy pegang saja minyaknya." Celetuk Kaila.


Belva menahan tawa karena jawaban putrinya. Satya sedikit melotot dan mengerutkan kening mendengar jawaban Kaila.


Hanya dengan perkiraan saja Belva memerintahkan Satya untuk lekas menggoreng. Sungguh siap bagi Satya tangan yang memegang gagang teflon terkena cipratan minyak goreng karena Satya meletakkan sosis secara kasar.


"Auh!... Ssshh panas... Ffuuhh... Ffuuhh..."


Satya meniup tangannya yang terasa panas, Belva tak menunjukkan rasa panik meski dalam hati merasa khawatir.


"Daddy? Daddy kenapa?" Tanya Kaili.


"Panas... Tangan Daddy terkena minyak."


"Daddy benar-benar memasukkan tangan Daddy ke minyak goreng seperti saran Kaila?" Tanya Kaili dengan polosnya.


Rasa khawatir Belva tiba-tiba menguap mendengar pertanyaan Kaili. Lagi-lagi ia menahan senyum atas pertanyaan konyol Kaili.


"Cuci tanganmu di air mengalir agar tidak terlalu panas." Ucap Belva.


Ia tak menunjukkan sikap perhatian seperti biasanya. Ia justru lebih memilih bermain dengan baby As yang ia dudukkan di atas meja makan. Perut buncitnya tak membuatnya dan baby As nyaman saat memangku bocah itu di kursi yang sempit.


Satya menatap Belva yang tampak berbeda tidak seperti sikap istrinya yang selalu perhatian padanya. Sikap Belva terlihat cuek padanya, membuat Satya merasa ada yang kurang dan berpikir jika Belva masih marah.


"Apa dia masih marah padaku? Kenapa tidak khawatir atau membantu mengobati tanganku atau apa gitu?" Batin Satya.


****


To Be Continue


Hai my dear para readers ku tersayang πŸ™‹


Selamat Hari Raya Idul Fitri ya. Mohon maaf lahir dan batin πŸ™β˜ΊοΈ (Maap telat lebaran udah lewat yak hihi)


Gimana nih kabar kalian? Masih setia kah dengan author hehe. Maaf banget lama sekali egk update biasa sibuk syekali +++ hp author stroke ringan guys alias lemot kali buat update maklum hp butut πŸ˜…

__ADS_1


Btw nih Mami Belva mau kasih pelajaran buat Om Satya, enaknya diapain lagi nih si Om nya wkwkwk tetap ikutin terus yaa kelanjutan ceritanya lama sih tapi diusahakan bakal sampai tamat kok.


Terimakasih banyak buanget buat kalian yang masih menanti kelanjutan ceritanya author, yang udah kasih Like, Komen, Kembang setaman dan Vote sungguh berarti syekali buat author. Semoga kalian sehat selalu, bahagia selalu dan lancar jaya rejekinya πŸ˜‡πŸ™


__ADS_2