
Pesanan makanan Satya yang datang, satu paper bag besar dibawanya masuk ke dalam. Pria itu duduk di samping Belva dan meletakkan paper bag di sofa sampingnya karena meja sudah penuh dengan beberapa kertas pekerjaan Belva.
"Kita makan dulu." Ujar Satya.
Belva menoleh pada Satya. "Anda duluan saja Tuan."
"Saya bilang kita. Berarti bukan saya atau kamu saja. Meja ini terlalu penuh dengan pekerjaan mu."
Sadar akan apa yang didengarnya Belva lalu membereskan meja yang penuh dengan beberapa barang-barang nya.
"Silahkan anda makan saja duluan Tuan, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya."
"Makan baru bekerja lagi. Kaila belum sembuh jangan sampai putriku menangis gara-gara Maminya sakit."
Belva melirik Satya, pria itu perhatian padanya tapi wajahnya terlihat dingin dan datar. Sangat berbeda sekali dengan Roichi yang saat bersamanya maka akan terlihat wajah yang lembut.
Satya mengeluarkan makanan dari dalam paper bag besar itu. Dia menyiapkan makanan itu di atas meja. Merasa tak enak hati karena Satya yang menyiapkan makanan maka Belva berniat membantu.
"Biar saya saja yang siapkan Tuan." Belva mengambil alih apa yang dikerjakan oleh Satya.
Pria itu terdiam memperhatikan Belva. Memorinya berputar terulang kembali saat dulu Belva masih menjadi asisten rumah tangga nya. Gadis yang masih polos menyiapkan makanan di meja untuk dirinya dan anggota keluarganya.
"Silahkan Tuan." Satu kotak makanan diletakkan Belva ke hadapan Satya.
"Terima kasih." Ucap Satya. Belva mengangguk.
Tapi wanita itu tak ikut makan, justru mengambil tablet PC miliknya. Pikirannya masih penuh dengan tugas dan tanggung jawabnya pada pekerjaan.
Satya mengambil tablet PC milik Belva dan meletakkan di meja. "Tidak bisakah dengarkan saya demi kebaikanmu sendiri ?" Tanya Satya.
"Buka mulutmu." Ucap Satya menyodorkan sedok berisi makanan miliknya.
Belva masih belum membuka mulutnya, ia menatap sendok berisi makanan di hadapannya. Terlihat aneh bagi Belva sikapnya dingin tapi juga perhatian padanya.
"Tangan saya pegal, bisa buka mulutmu ?" Satya kembali bersuara.
Perlahan Belva membuka mulutnya, menerima suapan nasi dari Satya. Bingung dan canggung saat ini yang dirasakan oleh wanita dua anak itu.
Satya kembali menyuapinya makan, pria itu justru tidak jadi makan malah menyuapi Belva. Dihadapan Belva dirinya selalu mengatakan bahwa wanita itu jangan sampai sakit tapi dia tak melihat dirinya sendiri yang sedang tak kurang enak badan.
"Saya bisa makan sendiri Tuan. Anda makan saja." Ujar Belva.
"Ya... Makanlah." Ucap Satya meletakkan sendoknya ke dalam kotak makan tersebut dan menggeser ke hadapan Belva.
Keduanya makan bersama.dalam diam. Menikmati makan siang yang sedikit terasa aneh bagi mereka. Satya dengan perasaan menahan diri agar tak terlihat tertarik pada Belva dengan bersikap dingin. Sedangkan wanita dua anak itu masih merasakan canggung.
Ya memang cukup aneh, berusaha untuk tak terlihat tertarik pada wanita cantik itu tapi sesekali dirinya bersikap perhatian dan berani menyosor lebih dulu.
Selesai mereka makan berdua, keduanya sibuk masing-masing dengan ponsel mereka. Satya mengecek pekerjaan melalui ponselnya demikian juga Belva yang kembali melanjutkan pekerjaannya yang masuk melalui email.
Nyonya Dimitri menghubungi Belva menanyakan perkembangan gaun pesanan putrinya. Belva merasa tidak enak karena pekerjaan akan gaun tersebut juga dirinya turut ambil bagian dalam hal produksinya. Tapi harus terganggu dengan insiden yang tak dapat diduga dan tak dapat ditolak olehnya. Belva tak mengatakan jika saat ini Kaila sedang berada di rumah sakit. Takut jika nanti Nyonya Dimitri bertemu dengan Mamanya maka akan terjadi drama kepanikan susulan dari kedua orang tuanya nanti.
"Maaf Nyonya terjadi sedikit kendala, tapi saya akan mengusahakan agar dapat selesai tepat waktu."
"Oke saya percaya padamu Nona Vanthe. Bagaimana kabar si cantik Kaila apa saya bisa mengobrol dengannya saat ini ? Aku sangat merindukan gadis cantik itu." Tanya Nyonya Dimitri yang memang terkesan dan menyukai Kaila. Gadis kecil yang sangat berbakat dan juga cantik menuruu Nyonya Dimitri.
"Kaila baik-baik saja Nyonya. Maaf mungkin lain waktu Kaila sedang sekolah saat ini Nyonya." Ucap Belva berbohong.
"Ah baiklah kalau begitu, mungkin bulan depan saya bersama Azura akan datang kembali ke Indonesia untuk membahas gaun itu sekaligus bertemu dengan Kaila."
"Baik Nyonya, saya sangat menunggu kedatangan anda dan Nona."
"Iya terima kasih Nona Vanthe. Kalau begitu saya tutup dulu telepon nya."
"Baik Nyonya."
Panggilan tersebut ditutup.
Baru saja Belva meletakkan ponselnya di atas meja. Suara Satya sudah kembali terdengar.
"Kenapa berbohong ?" Tanya Satya.
"Berbohong ?" Tanya Belva kembali.
"Kaila sakit bukan sekolah. Kenapa harus berbohong."
"Tak apa, agar mereka tak ikut merasa khawatir dan sedih akan kondisi Kaila." Ucap Belva.
"Pekerjaan mu sangat banyak ?" Tanya Satya.
"Ada apa ?" Tanya Belva.
"Beristirahatlah sejak kemarin kamu terus menjaga Kaila dan bekerja. Apa Tuan Roichi tak mempermasalahkan pekerjaanmu ?"
"Tidak, dia baik-baik saja dengan pekerjaan saya."
"Membiarkan mu sibuk bekerja seperti ini ?" Tanya Satya kembali.
"Apa masalahnya Tuan ?" Belva mulai merasa tak nyaman dengan pertanyaan Satya. Ia merasa Satya sedang mengorek kegiatan pribadinya.
"Tidak, lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Satya. Dia tak ingin suasana hati Belva kembali tak nyaman dengan segala macam pertanyaannya.
****
Beberapa hari berlalu, Satya sudah kembali bekerja di kantor. Saat jam mendekati pulang sekolah Kaili dan makan siang dia akan menyempatkan waktunya untuk ke rumah sakit.
Walau masih ada pekerjaan, Satya memilih untuk menghentikan pekerjaannya sejenak. Pria itu keluar dari ruangannya dengan jas yang hanya di sampirkan pada lengannya.
__ADS_1
"Grace saya keluar dulu."
"Hah ? Kemana Tuan ?" Grace bingung. Bos-nya itu tak ada jadwal keluar untuk jam itu.
Wanita cantik dan seksi itu penasaran setiap jam mendekati makan siang, atasannya selalu keluar kantor.
"Saya ada urusan sebentar."
Satya tetap berjalan terus hingga memasuki lift. Dia tak ingi membuang waktunya karena sudah waktunya pulang bagi Kaili. Beberapa hari ini juga Satya memilih untuk menggunakan mobilnya sendiri.
Dengan hati yang bahagia Satya melajukan mobilnya. Inilah hal yang selalu ditunggu-tunggu oleh Satya setelah tahu Duo Kay adalah anak-anaknya. Bisa dekat dan mencurahkan kasih sayang sepenuhnya pada mereka. Untuk kali ini dia berjanji akan berusaha mendidik Duo Kay menjadi anak-anak yang baik dan membanggakan. Dia tak mau gagal untuk kedua kalinya dalam mendidik anaknya.
Satya tahu tanpa dirinya bersusah payah turun tangan mendidik Duo Kay, memang sudah ada Belva yang sudah mendidik Duo Kay menjadi anak yang baik dan pintar. Tapi sebagai ayah Satya tak ingin menyerahkan sepenuhnya pada Belva, dirinya juga berperan penting dalam pertumbuhan Duo Kay.
Mobil mewah miliknya masuk ke dalam area sekolah Kaili. Tak heran jika mobil-mobil mewah itu masuk ke area sekolah itu karena memang sekolah Kaili adalah sekolah para orang-orang dengan status sosial-ekonomi menengah ke atas.
Satya sudah tahu dimana tempat Kaili selalu menunggu jemputan. Sudah tiga hari dirinya menjemput Kaili. Sampai di sekolah tampaknya masih ada beberapa menit lagi jadwal kepulangan putranya itu. Satya menunggu di dalam mobil. Beberapa panggilan masuk ke dalam ponselnya dari klien ataupun Jordi. Tak masalah tidak ada yang terlalu penting daripada menjemput putranya.
Bel sekolah berbunyi menandakan jam pembelajaran anak-anak TK itu sudah usai. Banyak sekali anak-anak kecil yang berhamburan keluar bersama para orang tua atau pengasuh mereka.
Satya bisa melihat jika putranya juga keluar dari arah kelas nya dan berjalan bersama kedua teman lelakinya. Bocah kecil yang tampan itu berjalan dengan kedua tangan memegangi handel tas yang sudah menempel pada pundaknya. Sesekali bocah itu tersenyum menanggapi perbincangan dengan teman-temannya. Hingga mereka duduk di bawah pohon rindang bersama kedua temannya. Di tempat itu lah mereka sering menunggu jemputan.
Sedikit membiarkan Kaili duduk di tempat itu agar putranya masih bisa mengobrol dengan teman-temannya. Satya tahu jika Kaili harus bersosialisasi dengan banyak teman-temannya untuk perkembangan putranya sendiri.
Sudah cukup, Satya keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah Kaili. Kembali banyak pasang mata menatap Satya, masih banyak ibu-ibu yang mencuri pandang pada Satya yang masih terlihat tampan diusianya.
"Hey boy... Sudah selesai mengobrol nya hemm ?" Sapaan sekaligus pertanyaan Satya menghentikan perbincangan diantara bocah-bocah kecil itu.
"Daddy ? Sudah ayo kita pulang." Ajak Kaili. Anak itu terlalu senang sudah beberapa hari ini dijemput oleh Satya ayahnya sendiri.
"Oke, ayo kita pulang." Ujar Satya.
"Donny... Farel... Aku pulang." Kaili melambaikan tangannya tanda perpisahan.
"Iya..." Ucap Farel.
"Besok main lagi ya." Ucap Donny.
Dua bocah itu membalas lambaian tangan Kaili. Satya menggandeng lengan kecil Kaili, ayah dan anak itu berjalan menuju mobil Satya.
Seperti hari-hari kemarin mereka berdua selalu mampir ke rumah makan terlebih dahulu untuk membeli makanan.
"Daddy, nanti Daddy mau tidak tidur di rumah Mami ?" Tanya Kaili. Dia sangat menginginkan bisa berkumpul bersama Daddy dan Mami nya tidur bersama seperti film-film kartun yang dia lihat.
Satya mengusap kepala Kaili dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Kenapa Kaili tidak tidur di rumah Daddy saja hemm ? Kalian juga punya kamar di rumah Daddy bagus dan luas juga."
"Tapi aku ingin tidur di kamarku sendiri yang ada di rumah Mami."
"Kaili, bagaimana jika besok saja saat Kaila sudah keluar dari rumah sakit. Nanti kita tidur bersama tapi di rumah Daddy." Saran Satya.
Dia tak mungkin tidur di rumah Belva, bagaimana mungkin dia akan tidur dimana nanti. Kamar anak-anaknya saja sudah luas nya tak berapa itupun sudah dihuni oleh tiga orang. Lagi pula ada Bella di rumah itu yang Satya tak terlalu mengenal gadis itu.
"Hey... Jangan bersedih seperti itu Nak. Kenapa Daddy bilang kita menginap di rumah Daddy ? Itu karena kamar kalian lebih luas sayang. Daddy sudah menyiapkan senuanya untuk kalian, apa kalian tidak mau mencoba kamar kalian ?"
"Lagi pula jika di rumah Daddy juga sudah banyak sekali mainan untuk kalian. Kalian belum pernah ke rumah Daddy. Atau kita mampir sebentar ke rumah Daddy kita lihat-lihat dulu kamar mu dan Kaila, kamu mau ? Imbuh Satya.
Kaili mengangguk. "Oke, kita lihat kamarnya dulu."
"Baiklah, let's go kita ke rumah Daddy." Ucap Satya.
Satya mengemudikan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Mengajak Kaili untuk melihat-lihat bagaimana kamar baru Duo Kay yang telah disiapkannya beberapa sejak dirinya tahu Duo Kay adalah anak-anaknya.
Pak Jajak membukakan pintu gerbang, pria paruh baya itu heran mengapa Tuan nya sudah pulang dari kantor di jam yang masih siang.
Saat mobil sudah terparkir di halaman rumah besarnya, pria itu keluar dari mobil memutari mobil untuk membuka pintu yang lainnya. Kaili keluar dengan digendong oleh Satya.
Dari kejauhan Pak Jajak melihat Satya menggendong anak kecil. Keningnya mengerut dan matanya menyipit sejenak.
"Siapa anak kecil itu ?" Gumam Pak Jajak. Memang Pak Jajak belum pernah bertemu dengan anak-anak Belva.
"Jangan-jangan itu anak Tuan Satya dan neng Belva." Satu tebakan dari Pak Jajak yang mengingat jika majikannya memiliki anak dari Belva. Ditambah ingatannya saat diinterogasi oleh Satya waktu lalu.
Penasaran tapi pria paruh baya itu tak mungkin mengeja Satya untuk melihat bocah kecil itu yang ada dirinya bisa dipecat karena lancang dalam bersikap.
Satya dan Kaili masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat besar bagi Kaili. Manik mata bocah kecil itu memindai seluruh ruangan yang baru saja di masukinya.
"Rumah Daddy sangat besar sama seperti rumah Opa." Ucap Kaili. Bocah itu tak terlalu terkejut pasalnya dirinya sudah sering keluar masuk rumah sang Opa yang hampir sama besarnya dengan rumah Satya dengan segala fasilitas lengkap yang ada.
"Opa ? Opa siapa ?" Tanya Satya yang masih belum paham jika Belva sudah diangkat anak oleh Tuan Hector. Pemilik perusahaan yang sedang diselidiki nya, pria itu masih belum sadar.
"Opa... Opa Gan. Opa nya aku dan Kaila." Jawab Kaili.
Tentu nya yang disebutkan oleh Kaili tak membuat Satya langsung dengan cepat mengetahui siapa orang tersebut yang tak lain adalah Tuan Hector.
"Ayo kita langsung masuk ke kamarmu." Ajak Satya.
Mereka berdua langsung menaiki anak tangga. Mbok Yati melihat sekilas saat Satya menaiki tangga. Sama seperti Pak Jajak, wanita paruh baya itu juga penasaran siapa yang dibawa oleh Tuan nya.
"Siapa anak itu ?" Tanya Mbok Yati lirih.
Lain dengan Pak Jajak, justru Mbok Yati tidak sadar sama sekali dengan bocah kecil itu. Ia seakan lupa dengan cerita yang pernah didengarkannya jika Belva mengandung anak dari Satya. Pun demgan beberapa hari yang lalu beberapa orang sibuk merenovasi salah satu kamar di rumah itu yang dikhususkan untuk anaky Satya.
Baru kedua orang yang dilihatnya menghilang dan dirinya berlalu ke dapur mengerjakan pekerjaannya, baru Mbok Yati sadar.
"Eh ?? Jangan-jangan itu anak Tuan ? Iya benar pasti itu anak Tuan." Ucap Mbok Yati.
"Loh ? Berarti itu anaknya neng Belva."Imbuh Mbok Yati. Wanita itu juga penasaran dengan bocah kecil yang digendong Satya.
__ADS_1
Pintu bercat putih menjadi tujuan Satya saat ini dengan pintu kamar yang tertulis nama Prince Kaili dan Princess Kaila. Tangan kekar Satya membuka pintu itu lalu mereka memasuki kamar itu.
Mata Kaili berbinar bahagia melihat kamar barunya yang ada di rumah Satya. "Woooww... Ini kamarku Daddy ?" Tanya Kaili antusias.
"Iya boy ini kamarmu dan Kaila nanti." Satya tersenyum melihat ekspresi Kaili yang tampak sangat senang sekali.
"Wah ini bagus sekali Daddy." Puji Kaili pada kamarnya sendiri.
Benar saja kata Satya jika kamar bocah itu sangat luas tiga kali lipat kamarnya yang ada di rumah minimalis Belva. Di dalam kamar tersebut terdapat beberapa pernak-pernik khas anak-anak. Gambar-gambar lucu sesuai karakter anak laki-laki dan perempuan. Ditambah mainan yang lengkap juga sudah ada di pojokan kamar mereka. Ada seluncuran kecil seperti yang ada di halaman sekolah mereka. Ada pula tenda kemah untuk anak-anak di dalam kamar mereka. Serta beberapa mainan yang lain yang melimpah.
Kaili diturunkan dari gendongan Satya, begitu turun bocah itu langsung berlarian di dalam kamar menghampiri beberapa tempat yang ingin dilihatnya. Kaili juga menyentuh mainan mobil-mobilan yang dibelikan Satya untuknya. Mobil-mobilan yang bisa dinaiki dirinya dan juga Kaila nanti.
"Ini nanti boleh aku pakai Daddy ?" Tanya Kaili.
"Boleh sayang. Ini semua untuk mu dan Kaila. Kalian boleh menggunakan semuanya." Jawab Satya.
Kaili tersenyum bahagia, dia sibuk melihat-lihat barang-barang yang ada di kamarnya. Hingga Satya teringat jika mereka harus kembali. Satya pun ingin mengunjungi putrinya di rumah sakit.
"Boy, kita pergi dulu ya, Daddy harus menjenguk Kaila. Mau ikut atau langsung ikut Daddy ke rumah sakit ?" Tawar Satya.
"Ikut Daddy." Jawab Kaili yang matanya masih sibuk melihat-lihat barang di kamar barunya.
Satya tersenyum dan menggelengkan kepala. Kamar itu lebih menarik bila dibandingkan dengan wajahnya saat ini bagi Kaili.
Pria itu langsung mendekati Kaili dan langsung menggendong bocah itu. Satya tahu jika putranya sudah menyukai kamar yang disiapkannya itu.
"Kita berangkat sekarang, jika kamu mau nanti malam bisa tidur disini bersama Daddy."
"Oke Daddy." Jawab Kaili.
"Tapi harus ijin dengan Mami dulu." Ucap Satya yang diangguki oleh Kaili.
Ayah dan anak itu kini kembali turun. Dengan langkah cepat Satya menuju mobilnya. Dikemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan terjadi perbincangan antara Satya dan Kaili. Mereka membahas kamar baru yang tadi dilihat oleh Kaili.
Langkah Satya untuk mengambil hati putranya berjalan dengan baik. Dia ingin anak kembarnya lebih dekat lagi dengannya. Perlahan tapi pasti Satya akan membuat Duo Kay bergantung pada dirinya bukan pada orang lain lagi. Rencana yang cukup egois tapi Satya tak bisa melihat jika anak-anaknya lebih dekat dengan orang lain.
Kembali saat sampai di rumah sakit Satya menggendong Kaili mulai dari parkiran hingga menuju kamar rawat Kaila. Bocah kecil itu tampak lengket dengan Satya.
Satya mendorong pintu kamar rawat Kaila dan masuk ke dalam bersama Kaili. "Mamiii !!" Panggil Kaili.
Belva yang sibuk dengan pekerjaannya langsung menatap putranya yang tengah digendong oleh Daddy nya.
"Daddyyy !!" Panggil Kaila pada Satya. Ia sedang menonton film kartun saat itu.
"Sayang, kenapa baru pulang ?" Tanya Belva karena sudah hampir meleeati jam makan siang tapi Kaili masih memakai seragam sekolahnya.
"Tadi saya membawanya ke rumah sebentar." Jawab Satya. Kaili hanya diam saja.
"Tapi kenapa Kaili tidak ganti baju saja, apa Budhe tidak ada di rumah ?" Tanya Belva. Wanita itu salah mengartikan kata rumah yang diucapkan oleh Satya.
"Maaf di rumah saya belum ada baju ganti Kaili. Besok saya akan menyiapkan untuk mereka."
"Eh ? Maksudnya tadi Kaili ke rumah anda Tuan ?" Tanya Belva yang baru paham.
"Iya saya membawanya ke rumah saya."
"Tuan, bagaimana jika Nyonya Sonia tahu jika anda membawanya ke rumah anda. Jangan membahayakan putraku." Ucap Belva dengan nada sedikit tegas dan khawatir yang terlihat.
"Kamu tenang saja Sonia tidak akan macam-macam." Jawab Satya.
Pria itu belum menjelaskan jika dirinya dan Sonia sudah bercerai bahkan cerita mengenai Alya pun belum diceritakannya pada Belva dan Budhe Rohimah.
Satya meletakkan Kaili di kursi dekat ranjang Kaila. Gadis kecil itu sibuk menonton kartun.
"Kaila... Tadi aku ke rumah Daddy loh." Kaili mulai bercerita pada kembarannya.
"Hah ? Benaran ? Kok tidak ajak aku. Aku juga ingin ke rumah Daddy." Kaila menanggapi.
"Iya benaran. Tadi aku lihat kamar kita loh. Daddy kasih kita mainan banyak sekali banyak mobil-mobilan, robot, boneka kaya punya mu di rumah juga ada. Ada seluncuran kaya di sekolah juga loh di dalam kamar kita. Kamarnya bagus sekali Kaila. Ada tenda kemah juga, mobilannya yang bisa kita naikin kaya di mall-mall itu kaya di rumah opa tapi bagusan yang di rumah Daddy."
Panjang lebar Kaili menjelaskan apa yang dilihatnya pada Kaila. Pria kecil itu antusias sekali menceritakan kamar barunya beserta isi di dalamnya.
"Benaran ? Ada boneka Barbie nya juga ?" Tanya Kaila.
"Iyaaa adaaa... Boneka Barbie nya ada rumah-rumah nya juga. Wuh bagus deh pokoknya. Kata Daddy nanti malam aku boleh tidur di sana."
"Hah ? Aku juga mau tidur di rumah Daddy nanti malam." Ucap Kaila.
"Memang kamu sudah tidak tidur disini lagi ? Memang sudah boleh pulang sama Opa dokternya ?" Tanya Kaili.
"Iya sudah boleh pulang." Ucap Kaila mantap. Padahal gadis kecil itu belum mendapatkan ijin untuk pulang dari dokter. Ia terlalu mantap dan ingin sekali pulang lalu tidur di rumah Daddy nya. Tampaknya cerita Kaili membuat Kaila penasaran dan senang ingin melihatnya secara langsung.
"Ooohh... Oke nanti malam kita lihat. Pasti kamu senang. Pasti kamu akan tidur di rumah boneka itu bersama boneka-boneka yang mukanya penuh dengan pensil warna."
Kaili tak memahami jika yang dimaksud pensil warna pada wajah boneka Barbie itu adalah make up.
"Mamiii !!! Nanti malam Kaila sudah tidak tidur disini lagi ya ?" Tanya Kaili.
Satya dan Belva yang duduk di sofa langsung mengalihkan tatapan mereka pada Kaili.
Belva mengerutkan keningnya. "Siapa yang bilang ?" Tanya Belva.
"Tadi Kaila bilang Opa dokter sudah bolehkan Kaila pulang." Wajah Kaili tampak bingung.
****
To Be Continue...
__ADS_1
Kita bahas usaha Satya untuk mendekati dan mengambil hati Duo Kay dulu ya pada bab ini. Saking antusiasnya Kaila sampai memtuskan sendiri kalau sudah boleh pulang 😂 aku buat perjalanan Satya sedikit mulus sampai disini 🤭
Terima kasih lagi dan lagi author sampaikan buat my dear para readers ku yang masih selalu setia support. Kalian selalu buat author tersenyum dengan like dan komentar dari kalian 🙏🙏🙏