
Di sebuah bangunan tua, Satya dan Jordi serta beberapa orang pria mengendap memasuki area bangunan tua itu. Mobil yang mereka kendarai diparkiran cukup jauh dari bangunan tua itu, setelah beberapa jam memantau benar dugaan mereka sebuah mobil terparkir di depan gerbang bangunan tua.
Salah seorang warga yang melintas mendapatkan pertanyaan dari salah satu anak buah Tuan Hector. Menurut informasi nya sejak kemarin memang mobil tersebut terparkir di depan gerbang tersebut. Mereka mengira bahwa mobil tersebut adalah pemilik dari rumah tua yang telah lama tak berkunjung.
"Sesuai plat nomor kendaraan yang tertera pada data di sini bahwa mobil itu milik Fahmi Farhat." Ujar anak buah Tuan Hector.
"Kalau begitu kita berpencar, kepung seluruh rumah jangan biarkan pria itu lolos dan ingat keselamatan Nona muda nomor satu." Ujar Jordi.
"Siap."
"Beres."
"Baik, Tuan."
Semua anak buah Tuan Hector menyanggupi dan paham dengan arahan Jordi. Mereka semua mengepung dari berbagai sisi yang memungkinkan Fahmi untuk kabur. Satya dan Jordi berada di pintu depan.
Tak butuh basa-basi memanggil nama Fahmi dua orang dari anak buah Tuan Hector mendobrak pintu hingga terbuka lebar. Mendengar suara dobrakan semua anak buah Tuan Hector waspada dan meningkatkan fokus mereka agar tidak lengah dengan target.
Fahmi memang berada di dalam rumah tersebut, pria itupun terkejut dengan suara keras di depan rumah. Kaila yang tertidur akjbat kelelahan menangis tanpa suara pun terbangun dan semakin merasa ketakutan.
"Suara apa itu?" Gumam Fahmi.
Demi memastikan suara yang di dengarnya, Fahmi berjalan menuju arah depan. Dia kembali terkejut saat beberapa orang sudah masuk ke dalam rumah dari arah depan. Matanya membola dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Sosok seseorang yang selalu menjadi pesaing nya selama ini. Seseorang yang selalu dibenci sepanjang hidupnya.
"Satya." Gumam Fahmi.
"Fahmi..." Gumam Satya.
"Fahmi dimana putri saya!!" Ujar Satya.
Fahmi tersenyum sinis pada Satya tak menjawab melainkan menatap intens pada Daddy dari tawanannya.
"Kamu datang mencari putrimu? Mana bayi yang aku minta padamu?"
"Untuk apa kamu menginginkan bayi Alya?" Tanya Satya.
Fahmi tertawa mendengar pertanyaan Satya. Seolah pertanyaan Satya adalah lelucon yang harus di tertawakan.
"Bayi itu seharusnya menjadi hakku karena Alya adalah putri kandungku otomatis bayi itu adalah cucuku."
"Tapi bayi Alya sudah sah menjadi putra saya karena tidak ada yang menginginkan bayi itu."
"Tapi aku menginginkan bayi itu sekarang, berikan bayi itu padaku karena itu hakku."
Fahmi kekeuh menginginkan baby As. Satya tak menggubris keinginan Fahmi. Pria itu mencoba menerobos masuk untuk mencari putrinya tapi di dorong oleh Fahmi.
"Diam di tempatmu atau akan terjadi sesuatu pada putrimu." Gertak Fahmi.
Satya langsung menatap tajam pada Fahmi.
"Jangan berani-berani nya kamu menyentuh putri saya. Selama ini saya tak pernah mengganggu hidupmu tapi kenapa kamu mengusik kehidupan saya."
"Cih... Kamu tak pernah mengganggu kehidupan ku? Lalu perusahaan itu? Mantan istrimu? Semua yang seharusnya menjadi milikku kamu ambil begitu saja. Cuih... Jangan munafik kamu."
Satya memejamkan matanya sejenak, mendengarkan apa yang Fahmi ucapkan membuatnya tak habis pikir bahwa masa lalu itu tampaknya tidak pernah bisa hilang dari pikiran dan bayangan Fahmi. Tapi Satya tak luluh begitu saja dan merasa bersalah, semua yang dijalani nya pun bukan kehendak dari dirinya melainkan paksaan dari orang tuanya.
"Hanya karena wanita itu kamu masih mencoba mengusik kehidupan saya? Bahkan aku tak pernah perduli bagaimana kehidupanmu. Kita berjalan sendiri-sendiri, hidupmu urus saja sendiri begitu juga dengan hidup saya. Kembalikan putri saya, jangan membuatnya semakin rumit, Fahmi." Ucap Satya dingin.
Fahmi mengeluarkan senjata yang sudah dipersiapkan dibalik kemejanya kala Satya berjalan mendekati Fahmi. Satya tak takut dan tak terpengaruh pada senjata yang mulai ditodongkan padanya. Jalannya masih tegas dan kokoh, meski sebagai seorang manusia detak jantung Satya lebih cepat dari detak jantung normal. Satya berhasil menguasai dirinya untuk tetap terlihat tenang dan santai seolah tak takut sama sekali.
"Mundur atau kamu mati hari ini." Ujar Fahmi menodongkan senjatanya tepat di bagian kepala Satya.
"Demi keluarga yang saya cintai, saya tak pernah takut pada apapun. Meski saya harus hancur sendiri sekalipun." Lagi-lagi Satya menampakkan ketegasannya.
"Kamu tahu? Bahkan demi kebahagiaan ibu saya, saya rela hancur melepaskan kebahagiaan saya sendiri. Bukan hanya demi ibu saya tapi demi wanita lain yang dicintai oleh ayah saya sendiri. Kamu pikir saya lelaki pengecut yang kabur hanya dengan gertakan atau siksaan? Pikirkan ulang apa yang ada di isi kepalamu, Fahmi Farhat."
Tatapan tajam Satya ditujukan pada Fahmi saat semua kalimat itu muncul terdengar. Kenyataan dan fakta yang membuat Satya tak gentar menghadapi seorang Fahmi. Justru Fahmi lah yang merasa sedikit bergetar saat Satya terus berjalan mendekati dirinya, rasa cemas tiba-tiba menyerang hati Fahmi.
Satya bahkan rela melepaskan kebahagiaan yang bisa dibilang sudah diraihnya hanya demi kebahagiaan ibunya. Kenyataan perih dan menyakitkan yang seharusnya tak pernah lagi Satya ingat.
Mata Satya mengawasi jari telunjuk Fahmi yang terselip pada pelatuk pistol. Disaat Satya sudah mulai mendekat, langkah kakinya sengaja melangkah dalam jarak yang panjang dan seketika dengan gerak cepat Satya menangkis lengan Fahmi yang terulur menodongkan senjata itu tapi sayang sedikit meleset. Fahmi yang secara refleks menarik pelatuk pistol hingga menyerempet bahu Satya.
Doorr!!!
Suara itu cukup kencang terdengar satu kali tapi setelah itu terdengar kembali suara ledakan dari senjata api itu kembali. Darah segar mengalir kala kulit mulus itu berlubang tertancap peluru.
**
Di rumah besar Satya, Belva dan yang lain harap-harap cemas menunggu dan menanti kabat dari Satya dan Jordi. Belva yang merasa tidak tenang akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar baby As. Kaili ternyata juga ada di dalam kamar baby As.
Seketika rasa cemas dan khawatir itu menjadi saat foto dirinya dan sang suami serta Duo Kay yang terpanjang di kamar baby As tiba-tiba jatuh tersenggol oleh Kaili.
"Kaili? Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Belva.
__ADS_1
"Tidak, Mami tapi merindukan Kaila." Ujar Kaili dengan lirih.
"Jangan!! Biar Mami yang bersihkan." Pekik Belva saat Kaili hendak berjongkok mengambil foto keluy mereka.
Kaili sedikit terkejut dengan pekikan sang Mami membuat pria kecil itu tidak jadi mengulurkan tangannya.
Baby As pun menangis saat Belva hendak menurunkan bayi mungil itu dari gendongannya.
"Usshh... Sayang jangan menangis. Kaili duduklah di atas ranjang jangan mendekati pecahan kaca ya. Nanti Mami bersihkan."
Belva berucap dengan hati yang cemas dan khawatir. Merasa semakin tidak tenang, pikirannya tertuju pada putri dan suaminya.
'Kenapa perasaanku tidak nyaman seperti ini, semoga putri dan suamiku baik-baik saja ya Tuhan.' Batin Belva.
Janis yang baru saja dari dapur untuk mengambil minum saat masuk ke dalam kamar baby As pun terkejut.
"Loh neng kok baby As menangis? Ada apa ? Apa dia haus biar saya buatkan susu."
"Iya mbak coba minta tolong buatkan susu dulu ya ini baby aku turunkan tidak mau. Oh iya sekalian bawakan alat bersih-bersih sapu dan serok sampah."
"Alat bersih-bersih? Bukannya kamar baby As sudah dibersihkan tadi pagi, neng?"
Belva menimang baby As tapi tatapan matanya tertuju pada pigura foto keluarganya yang pecah berserakan di lantai. Janis pun mengikuti arah pandang Belva.
"Astaga! Kenapa bisa pecah begini, Neng? Sebentar-sebentar saya ke dapur dulu."
Belva mengangguk, Janis kembali keluar kamar dan menuju dapur. Baby As masih saja terus menangis dalam gendongan Belva.
"Mami, adik baby kenapa menangis terus? Dia kaget ya Kaili pecahkan fotonya?" Tanya Kaili.
Pria kecil itu juga merasa kasihan pada adiknya yang terus menangis tidak berhenti-henti.
"Tidak, sayang mungkin baby As haus, nanti kita tunggu aunty buatkan susunya."
Belva mencoba bersikap senormal mungkin tidak menunjukkan kecemasannya dihadapan Kaili.
Baby As entah apa yang membuat bayi itu terus menangis secara tiba-tiba. Yang jelas bayi itu sudah terbiasa bersama Belva dan mungkin saja apa yang Belva rasakan bisa dirasakan oleh bayi itu.
Nyonya Hector mendengar suara tangisan baby As saat pintu kamar sedikit terbuka. Wanita paruh baya itu naik ke kamar baby As untuk memastikan.
"Pa, Mama ke kamar baby As dulu kenapa bayi itu menangis."
"Iya coba cek saja, mungkin bangun tidur atau kehausan dan mbak nya lagi keluar." Ujar Tuan Hector.
Nyonya Hector naik ke lantai dua dengan menggunakan lift yang lebih cepat dan muda bagi orang-orang seusianya. Pintu yang tak tertutup rapat itu dibuka oleh Nyonya Hector. Suara tangisan terdengar semakin kencang di indera pendengarannya.
"Sayang, kenapa baby As menangis? Apa dia kehausan?" Tanya Nyonya Hector mendekati Belva.
"Mama, entah Ma... Mungkin kehausan, mbak Janis baru buatkan susunya."
"Loh ini fotonya kenapa berantakan seperti ini?" Tanya Nyonya Hector sedikit terkejut dan penasaran.
"Maaf Oma tadi aku tidak sengaja menyenggolnya lalu jatuh dan pecah. Aku mau bersihkan tapi Mami tidak boleh."
Nyonya Hector menatap cucu laki-lakinya, lalu mendekat dan membelai kepala Kaili dengan lembut.
"Mami kamu benar, jangan mendekati kaca-kaca itu nanti kamu terluka." Ujar Nyonya Hector dengan lembut.
"Neng... Eh Nyonya. Maaf ini susu baby As." Ujar Janis saat memasuki kamar baby As.
Gadis itu keceplosan memanggil Belva dengan santai karena tidak mengetahui keberadaan Nyonya Hector.
"Iya Mbak, coba susunya biar coba saya kasih ke baby As."
Janis memberikan botol susu milik baby As pada Belva. Dengan masih menimang bayi itu Belva duduk di atas ranjang. Ia mencoba memberikan susu itu pada baby As tapi tetap saja bayi itu tidak mau dan terus menangis kencang.
Belva dan yang lain merasa kebingungan mereka berusaha secara bergantian menenangkan baby As. Hingga terakhir Tuan Hector yang merasa penasaran pun ikut menengok keadaan baby As. Tuan Hector ikut membantu menenangkan bayi itu, menggendongnya dan duduk di sofa. Pria paruh baya itu menyanyikan lagu entah lagu apa tapi bayi itu perlahan tangisnya mulai mengecil dan berhenti.
"Dia mulai tertidur, pasti dia kelelahan menangis." Ujar Tuan Hector.
"Bagaimana cara Papa menenangkannya?" Tanya Belva.
"Menepuk halus pantatnya dan bernyanyi kecil sama seperti Papa saat menenangkan Kaili waktu bayi dulu." Jawab Tuan Hector.
"Apa bayi itu terbiasa denganmu atau dengan mbak pengasuh nya?" Tanya Tuan Hector.
"Lebih banyak bersamaku, sama mbak Janis kalau aku sibuk atau pergi keluar."
"Biasanya bayi bisa merasakan apa yang kita rasakan. Saat kita tidak nyaman maka dia juga merasa tidak nyaman." Ujar Tuan Hector.
Belva terdiam, memang sedari tadi dirinya merasa tidak nyaman. Banyak pikiran mengenai Kaila dan Satya yang dia pikirkan saat ini. Sangat mencemaskan kedua anggota keluarganya yang belum ada kabar itu.
"Aku sangat mengkhawatirkan Kaila dan mas Satya."
__ADS_1
"Kita berdoa saja semoga mereka baik-baik saja." Ujar Tuan Hector.
Nyonya Hector membantu menidurkan baby As di atas ranjang sedangkan Janis membersihkan kaca-kaca yang berserakan.
Baru saja baby As tertidur dan tenang kini mereka kembali dibuyarkan oleh Siti yang datang memberitahukan bahwa ada tamu yang menunggu di depan pintu karena Siti belum berani mengijinkan tamu itu masuk.
"Permisi Nyonya... Tuan... Di bawah ada tamu tapi saya belum memberikan nya masuk ke dalam." Ujar Siti.
"Siapa mbak?" Tanya Belva.
"Masih muda dan cantik tapi dia mencari Tuan Satya." Ujar Siti.
Belva sedikit menegang, firasatnya kembali semakin memburuk. Dihirupnya napas dalam-dalam dengan halus. Pikirannya sudha menebak pada satu orang tapi apakah itu benar atau tidak ia akan tahu saat menemui tamu tersebut.
"Baik kita turun sekarang karena Tuan Satya tidak ada di rumah."
Siti mengangguk, Belva turun dengan ditemani Tuan dan Nyonya Hector karena mereka juga membiarkan baby As untuk beristirahat kembali. Kaili tetap berada di kamar baby As bersama Mbak Janis.
Sampai di ruang tamu, Siti membukakan pintu. Baru saja pintu di buka siti sudah mendapatkan semprotan dari tamu di rumah besar Satya.
"Kamu tidak sopan sekali, membiarkan saya menunggu di luar seperti ini." Ujar wanita tersebut yang tak lain adalah Siwi.
Siwi bahkan menunjuk-nunjuk pada wajah Siti dengan kesal. Tentu saja asisten rumah tangga Satya itu hanya mampu tertunduk.
Belva membulatkan matanya melihat tingkah Siwi yang tidak menggunakan sopan santun saya bertamu.
"Cukup! Siapa kamu marah-marah di rumah orang seperti ini." Ujar Nyonya Hector.
Wanita paruh baya itupun merasa geram dan kesal dengan sikap Siwi. Karyawan batu Satya itupun menoleh pada Nyonya Hector.
"Saya? Ini rumah mas Satya kan? Saya calon istri mas Satya. Kenapa saya marah-marah? Itu karena pembantu bod*oh ini yang tidak tahu bekerja. Membiarkan tamu menunggu di luar tanpa menyuruhnya masuk atau duduk." Ujar Siwi dengan lantang.
Kedua paruh baya itu sontak membulatkan matanya mendengar jawaban dari Siwi yang terkesan berani dan ada perasaan malu atau apapun itu sebagai tamu atau orang luar.
"Calon istri?" Tanya Nyonya Hector.
Tuan dan Nyonya Hector menatap Siwi dan Belva secara bergantian.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu. Satya sudah beristri dan memilik anak. Bersikaplah sopan dalam bertamu, Nona." Ujar Tuan Hector.
"Saya tahu, tapi anda siapa menyuruh saya bersikap sopan dan apa? Saya tamu? Bukan saya bukan tamu, ini rumah mas Satya calon suami saya jadi saya berhak berada di rumah ini."
"Dan kamu Belva... Bukankah kamu sudah berjanji akan bercerai dengan mas Satya setelah mengetahui aku mengandung anak mas Satya. Tepati janjimu." Ujar Siwi.
Kembali Nyonya dan Tuan Hector tercengang dengan penuturan Siwi.
"Vanthe, apa-apaan ini? Jelaskan pada Mama, apa yang terjadi?" Nyonya Hector terlihat syok dan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ma... Mama tenang dulu." Ujar Belva menenangkan Mamanya.
"Siwi, seharusnya kamu bersikap sopan saat bertamu di rumah orang lain. Kamu tidak berhak bersikap seperti ini, ini bukan rumah kamu. Kamu hanya tamu di sini. Sekarang saya minta kamu pergi dari rumah ini." Belva tidak ingin masalahnya semakin rumit dengan kedatangan Siwi.
Putrinya saja belum ada kabar, dirinya masih cemas dan khawatir tapi Siwi justru datang semakin memperkeruh suasana dan ketenangan hati Belva.
"Beraninya kamu mengusirku dari rumah calon suamiku. Aku tetap akan di sini sampai mas Satya kembali." Kekeuh Siwi.
Nyonya Hector semakin merasa tidak nyaman, tubuhnya pun merespon ketidak nyamanan yang ia rasakan. Tubuh renta itu terhuyung membuat Tuan Hector dan Belva panik.
"Ma..." Panggil Belva dan Tuan Hector.
"Nyonya besar." Panggil Siti.
"Pak... Pak Jajak, Pak Amin tolong." Panggil Siti berlari di depan pintu.
Pak Jajak dan Pak Amin berlari masuk ke ruang tamu.
"Ada apa Siti?" Tanya Pak Jajak.
"Pak, tolong ini Nyonya besar mau pingsan." Ujar Siti.
Pak Jajak dan Pak Amin langsung membantu Nyonya Hector memapah majikannya itu masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai bawah.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terima kasih yang masih setia support sampai saat ini yang masih kasih Like, Komen, Kembang setaman dan Vote terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Semoga masih bisa tetap menghibur 🙏
Sehat selalu dan bahagia selalu guys 🔥💪
__ADS_1