Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 179. Ajisaka Alexi Balakosa


__ADS_3

"Mas, ngomong-ngomong bayi Alya nanti di persidangan akan mendapatkan status apa dari mu?"


"Maksudnya bagaimana, yank?" Tanya Satya masih tak paham.


"Begini, Alya kan putrimu berarti bayi Alya statusnya pasti akan tertulis cucu dari Aryasatya Balakosa. Jadi, Opa muda dong kamu, Dad." Belva terkekeh kecil saat mengatakannya.


Satya melirik serius pada istrinya yang tengah terkekeh. Dilepaskan pelukannya terhadap sang istri tapi Belva tetap saja terkekeh ditambah membayangkan jika suaminya menjadi seorang kakek bagi bayi Alya maka dirinya otomatis akan menjadi nenek muda bagi bayi itu.


"Kenapa tertawa? Mas tahu mas sudah tua, tertawamu itu menghina sekali, yank." Ujar Satya sebal pada istrinya.


"Hahaha bukan seperti itu, mas. Coba bayangkan kalau kamu jadi kakeknya itu berarti aku jadi nenek-nenek yang masih muda dong."


Kini Satya ikut tertawa mendengar istrinya berbicara seperti itu.


"Iya ya? Masa ada nenek-nenek secantik ini haha."


"Kalau aku sih pasti orang banyak yang tidak percaya kalau aku sudah memiliki cucu tapi kalau mas banyak yang percaya." Ujar Belva terkekeh. Ia berlari menjauhi Satya yang tampak langsung menoleh padanya dengan tatapan sebal.


"Yank, kamu bahagia sekali menghina mas. Awas ya kamu."


Satya mengejar Belva yang sudah berlari naik ke atas ranjang menyelimuti diri dengan selimut tebal mereka. Satya menggelitiki Belva, berniat membalas istrinya yang sedari tadi menggoda dirinya dengan ejekan-ejekan yang menyudutkan usianya. Belva terkekeh bukan main, dirinya yang merasa tak kuat menahan rasa geli akhirnya menyerah.


"Hahaha... Mas ampun. Aduh perutku."


Mendengar Belva membawa kondisi perutnya Satya langsung tersadar bahwa istri nya tengah hamil muda.


"Eh, sayang perut kamu kenapa? Maaf... Maaf mas lupa."


"Hahh... Perutku sedikit keram, mas." Ringis Belva.


"Keram? Sakit ya? Kita ke rumah sakit ya? Kita periksa ke dokter." Ucap Satya panik.


"Tidak... Tidak... Tidak perlu ke dokter, mas. Ini hanya keram biasa karena tertawa."


Satya langsung menyingkap selimut yang masih menutupi perut istrinya. Diusap lembut perut sang istri. Dia khawatir dan takut jika bayinya yang ada di dalam perut Belva terjadi sesuatu.


"Beneran tidak apa-apa? Mas lupa sayang, kita periksa saja ya biar kita tahu dia tidak apa-apa." Satya menatap sang istri dengan tatapan menyesal dan sedih.


"Mas, tidak apa-apa. Jangan berlebihan, kalau aku merasa sakit yang tidak wajar pasti aku bilang padamu, mas." Belva mengusap lembut lengan suaminya yang terulur menyentuh perutnya. Mencoba menenangkan suaminya agar tak terlalu khawatir seperti itu.


"Baby, maafkan Daddy, Nak. Daddy lupa kalau ada kamu, cepat bertumbuh besar sayang agar Daddy bisa mengingatmu di dalam perut Mami." Satya mengusap lembut perut Belva lalu mengecupnya.


Belva tersenyum lembut, rasa syukur selalu dipanjatkannya di dalam hati setiap saat melihat suaminya terlihat begitu menyayangi nya dan anak-anak mereka. Satya sosok pria yang bertanggung jawab dan penyayang.


"Iya Daddy, boleh hentikan tangan Daddy? Perut Mami geli." Ucap Belva dengan nada suara dibuat seperti anak kecil.


Satya terkekeh begitupun Belva, setiap hari hubungan keduanya selalu berkembang lebih baik. Meski ada masalah Satya maupun Belva selalu belajar dari pengalaman mereka sehingga mereka dapat mengantisipasi adanya masalah yang lebih besar. Permasalahan kecil akan mereka usahakan untuk tak menganggap itu sebagai masalah, sedangkan masalah yang besar mereka akan mengupayakan untuk memperkecil nya dan menuntaskannya.


Hari berganti, pihak Satya benar-benar bergerak cepat untuk mengurus hak asuh bayi Alya. Tak perlu dirinya maupun sang istri repot-repot mondar mandir di persidangan semua sudah terwakilkan oleh pengacara Satya yang selalu diandalkannya dapat memenangkan segara perkaranya.


Jordi menyapaikan berita perkembangan Persid hak asuh. Satya tersenyum puas saat mendengarkan hasil persidangan yang menunjukkan bahwa diry dan sang istri sudah secara sah menjadi wali dari bayi Alya.


"Semua sudah selesai, Tuan. Kita hanya tinggal mengurus semua dokumen bayi Nona Alya."


"Segera urus jangan menunda-nunda nya lagi." Titah Alya.


"Tapi kita membutuhkan nama bayi itu, apakah Tuan sudah memberikan nama untuk bayi Nona Alya?"


Satya baru kembali mengingat jika dirinya belum sempat tapi teringat pada istrinya pasti istri cantiknya itu sudah menyiapkan nya untuk bayi mereka yang baru saja sah menjadi anak angkat mereka.


"Tunggu, nanti saya akan memberitahukan padamu. Kembali lah ke ruanganmu."


"Baik, Tuan kalau begitu saya permisi dulu."

__ADS_1


"Ya." Jawab Satya singkat.


Jordi kembali ke ruangannya, menjelang makan siang dirinya bersiap menuju butik Belva. Sudah menjadi kebiasaan setelah menikahi Belva, Satya memiliki hobi ingin selalu menggunakan waktu luangnya untuk berkumpul bersama keluarga kecilnya.


Pria itu keluar dari ruangannya dengan jas kembali terpasang rapi di tubuh atletisnya. Cukup simpel tak membawa tasnya hanya membawa badan dengan berbekal dompet, ponsel dan juga kunci mobil.


"Grace, saya keluar dulu." Pamit Satya.


"Makan siang bersama Nyonya, Tuan?"


"Ya. Hubungi Jordi jika ada gal yang penting."


"Baik, Tuan." Grace sedikit membungkukkan badannya dan mengangguk patuh.


Satya berlalu meninggalkan Grace dan juga kantornya dengan menggunakan mobilnya. Dia tak perlu menjemput kedua anaknya karena untuk kali ini Bella yang telah menjemput anak-anaknya.


Tak perlu lama berkendara Satya sudah sampai di butik istrinya. Butik itu selalu saja ramai dengan pengunjung setiap saat butik itu dibuka. Kualitas produk fashion yang diproduksi Evankay boutique memang tak bisa diragukan lagi, Belva selalu mengutamakan kepuasan para pelanggannya. Selain kepuasan pelanggan butik nya selalu menciptakan produk yang up to date sehingga meski mereka para pelanggan sudah berbelanja mereka akan tetap tertarik untuk mendapatkan koleksi pakaian dari butik Belva.


"Selamat siang, Tuan." Sapa salah satu karyawan butik.


"Hem." Satya merespon dengan deheman dan anggukan kepala saja.


Beberapa pengunjung mengenal Satya dari media sosial bahwa pria itu seorang pebisnis yang berbakat. Tatapan mereka tertuju pada Satya.


"Itu bukannya pemilik Bala Corp ya?"


"Iya. Aslinya tampan sekali, bersih dan kinclong."


"Tapi untuk apa dia ke sini?"


"Entah yang pasti beli baju sih ini kan butik mau apalagi memang."


"Tapi dengar-dengar rumornya dia sudah bercerai."


Beberapa bisikan dari para pengunjung yang sedang menggosipkan Satya si pria matang yang tampan baru saja melintas di hadapan mereka.


Banyak yang belum mengetahui bagaimana kehidupan rumah tangga Satya karena untuk masalah rumah tangga dan hal pribadi Satya menutup rapat. Baginya hal yang bersifat pribadi tak seharusnya diumbar di depan banyak orang.


Ceklek...


"Sayang." Sapa Satya pada istrinya yang duduk di kursi kebanggaannya.


"Mas, kamu datang?"


"Iya, sayang. Mana Kay?" Tanya Satya.


"Mereka sedang keluar bersama Bella untuk membeli makan siang."


"Oh, apakah sudah lama keluar bersama Bella?"


Satya mendekati sang istri lalu mengecup kepala istrinya dengan sayang.


"Baru sepuluh menit yang lalu. Kaila menginginkan mie ayam di perempatan jalan depan sana."


"Oh ya? Kenapa mas tidak melihat mereka tadi."


"Mungkin mereka mengantri di dalam, Bella membawa mereka menggunakan motor milik Mbak Anggi."


"Pantas saja tidak terlihat mobilmu juga masih ada di depan. Oh iya, yank kita duduk dulu di sofa yuk." Ajak Satya.


"Ada apa, mas?" Tanya Belva dengan wajah serius. Ia tahu jika suaminya ingin berbicara serius.


"Ayo duduk dulu di sana." Satya mulai meraih lengan Belva agar mau duduk di sofa mereka.

__ADS_1


Belva hanya menurut saja meski beberapa barangnya masih berantakan di atas meja kerjanya. Mereka kini duduk berdampingan di sofa.


"Sayang, mas ada berita bagus untukmu."


"Berita apa itu, mas?" Belva mulai penasaran.


"Kita sudah sah menjadi wali dan orang tua angkat untuk bayi Alya, sayang."


Mata Belva sedikit terbelalak dengan binar bahagia. Senyum mengembang di bibirnya menambahkan paras cantik itu semakin bersinar.


"Benarkah? Mas serius? Cepat sekali." Belva menggenggam lengan Satya merasa tak percaya jika urusan hak asuh itu secepat itu bisa terselesaikan.


"Serius, sayang buat apa mas bohong. Maka dari itu Jordi dan pengacara kita mulai mengurus dokumen bayi baru kita."


"Sebentar, ini bayi Alya jatuhnya jadi cucumu atau jadi anakmu, mas?"


Belva masih penasaran status apa yang akan disandang oleh bayi Alya meski Satya mengatakan jika bayi itu diangkat anak oleh mereka.


"Tentu saja anak kita, sayang kan mas sudah bilang dia menjadi anak angkat kita. Masa dia jadi cucunya mas kan jadinya aneh nanti, yank. Usia Kay saja masih lima tahun statusnya jadi anak kita belum lagi sekarang kamu sedang mengandung yang bahkan nanti usianya dibawah anak Alya. Tidak lucu jika Kay dan baby kita ini dipanggil om dan tante olehnya."


"Hahaha... Oke... Oke... Berarti dokumennya nanti statusnya menjadi anak kita ya. Wah aku sudah punya empat anak ternyata." Belva terkekeh membayangkan diusianya yang masih sangat muda sudah memiliki empat orang anak.


"Iya itu akan membuatmu mengingat bahwa kamu sudah bersuami dan beranak banyak. Jangan coba-coba bermain-main, kalau kamu khilaf ingat suamimu dan anak-anakmu." Ucap Satya.


"Ish... Memang mas pikir aku berniat berselingkuh begitu?" Ucap Belva kesal.


"Ya bukan tapi kamu itu masih muda, cantik pasti orang-orang di luar sana akan mengira jika dirimu masih gadis dan belum berbuntut."


"Mas, tenang saja. Aku selalu ingat suami dan anak-anak aku kok. Oh iya apa kita sudah bisa membawa pulang baby mungil itu?" Tanya Belva bersemangat.


"Kita akan cari baby sitter untuknya terlebih dahulu dan kita belum memberikannya nama, sayang. Untuk melengkapi dokumen kita harus segera memberikan nama untuknya." Ujar Satya.


"Ah iya, aku sudah menyiapkan nama untuknya, mas tapi entah kamu akan menyukainya atau tidak."


"Memang siapa namanya?" Tanya Satya penasaran.


"Ajisaka Alexi." Ucap Belva.


"Ajisaka Alexi? Kenapa memilih nama itu?"


"Sebenarnya awalnya adalah gabungan nama Alya dan Jack, A dan J. Lalu aku menjadikannya Ajisaka yang artinya raja. Aji, aku berharap dia menjadi anak yang bahagia, tentram, merdeka dan sempurna meski kedua orang tuanya kandungnya tidak mendampinginya. Saka, dia akan menjadi tonggak atau tiang yang kokoh saat tumbuh dewasa nanti. Sedangkan Alexi, dia akan menjadi pejuang untuk kehidupan nanti. Kita tahu sendiri bagaimana kondisinya saya ini yang tengah berjuang untuk bertahan hidup." Tutur Belva menjelaskan arti nama untuk bayi Alya yang telah sah menjadi putra nya dan Satya.


Satya tersenyum mendengar penjelasan istrinya, dia setuju dengan nama itu. Setiap arti nama untuk bayi Alya terselip doa dan harapan Belva dan dirinya terhadap anak baru mereka.


"Mas setuju. Kita akan memberikannya nama Ajisaka Alexi Balakosa." Ucap Satya mengukuhkan nama bagi bayi laki-laki yang kini menjadi urutan anak ketiga mereka setelah Duo Kay.


Belva mengangguk tersenyum, ia bahagia kini memiliki banyak anggota keluarga terlebih Satya yang memang berkeinginan untuk memiliki banyak anak. Tak masalah jika anak ketiga mereka bukan darah daging mereka sendiri, mereka akan tetap menyayangi dan berlaku adil terhadap semua anak-anak mereka.


"Sayang, nanti kita ke dokter ya." Ajak Satya.


"Ke dokter? Untuk menanyakan kondisi baby As?"


"Kita akan memanggil nya baby As?" Tanya Satya.


Belva mengangguk, "Hem baby As, baby Ajisaka."


Satya tersenyum, "Baiklah baby As, tapi sayangnya bukan menanyakan kondisi baby As, sayang."


"Lalu?" Tanya Belva bingung.


****


To Be Continue...

__ADS_1


Hai my dear para readers ku tersayang


Masih dan selalu author ucapkan terima kasih banyak karena kalian masih setia support author 🙏🙏 Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian meski tak sebanyak sebelumnya tapi tetep yaa author tetep semangat karena masih ada yang nungguin kelanjutan cerita receh author 🙏🙏


__ADS_2