
Menjadi bagian dari brand ternama menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Sampai saat ini Belva masih tak percaya jika anak-anaknya menjadi model brand ternama itu.
Saat ini mereka tengah sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke salah satu hotel mewah. Hotel itu digunakan oleh pihak Ivalloth untuk melakukan launching produk baru mereka.
Belva dan juga Bella menemani Duo Kay. Mereka telah tiba di hotel, pihak dari team panitia Ivalloth mengarahkan Belva dan rombongan ke salah satu ruangan yang khusus digunakan oleh model-model dari Ivalloth.
Banyak model papan atas yang juga menjadi model Ivalloth. Beberapa anak kecil yang menjadi model juga ada di sana.
"Hai tampan... Hai cantik... Kita bertemu lagi." Sapa salah satu model cantik. Luna Catherine wanita cantik yang juga pernah menyambangi sekolahan Duo Kay bersama Ivanka Elizabeth.
"Hai aunty... " Sapa Kaila melambaikan tangan mungilnya. Kaili tersenyum pada Luna Catherine.
"Ini Mama dari anak-anak kembar ini ya ?" Tanya Luna Catherine.
"Iya Nona." Jawab Belva.
"Oh ya perkenalkan saya Luna Catherine. Waktu lalu saya bersama Iva datang ke sekolah mereka." Luna melirik Duo Kay.
"Saya Belva Mami dari Kaila dan Kaili. Dan ini aunty mereka Bella." Ucap Belva yang juga memperkenalkan Bella. Gadis itu mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan model cantik itu.
Dilihat dari sikap dan respon model cantik itu. Wanita itu bukanlah orang yang sombong justru terkesan ramah.
"Luna.."
"Bella."
"Oh iya nanti saya juga akan memperagakan busana bersama si kembar juga." Ucap Luna.
"Benarkah ? Itu sangat bagus. Saya masih tak menyangka anak-anak saya bisa bersanding dengan model terkenal seperti anda."
"Hahaha Anda terlalu berlebihan Nona. Seharusnya mereka memperagakan busana itu bersama Anda. Anda sangat cantik dan masih muda tubuh anda juga proposional untuk menjadi seorang model."
"Haahh mengapa Iva juga tak menawari anda pekerjaan ini. Apa dia tak pernah melihat anda Nona ?" Tanya Luna.
Belva tersenyum. "Kami pernah bertemu secara langsung untuk membicarakan kontrak anak-anak."
Luna hanya menggelengkan kepala tak habis pikir kenapa Iva sampai tak melihat Belva yang juga cocok sebagai model.
"Harusnya anda bisa jadi model. Biar nanti saya bilang ke Iva."
"Eh jangan Nona. Jika saya jadi model bagaimana dengan butik saya dan siapa yang akan mengurus anak-anak saya haha."
"Oh jadi benar anda memiliki butik ?" Tanya Luna.
"Iya Nona." Jawab Belva.
"Bagus nanti saya akan mampir. Oh ya sudah dulu ya saya harus bersiap-siap dulu. Sampai jumpa nanti lagi."
Luna berlalu keluar dari ruangan, karena ruangannya tak sama dengan Duo Kay.
"Dia cantik sekali. Sudah jadi model terkenal tapi tidak sombong justru ramah sekali." Ucap Bella.
"Iya Bel kamu benar." Ucap Belva.
Acara di mulai, Belva dan Bella duduk menunggu di samping panggung. Iva sendiri yang meyakinkan Belva jika Duo Kay aman bersama panitia. Bahkan Iva memberikan tugas pada panitia khusus untuk mengurus dan menjaga dua bocah itu.
Dalam acara launching tersebut dihadiri oleh orang-orang dari kalangan menengah ke atas saja. Kursi depan secara khusus diberikan pada tamu undangan. Sedangkan kursi belakang untuk tamu yang lain dimana mereka bisa masuk menggunakan tiket yang mereka beli sendiri. Memang Ivalloth selalu menggunakan sistem seperti itu tak membuka untuk kalangan umum karena banyak dari produknya yang di produksi secara terbatas dengan harga yang cukup mahal.
Suara pembawa acara terdengar untuk pertamakali nya menandakan acara sudah dimulai. Musik yang terdengar riuh pun menghidupkan suasana menjadi lebih ramai. Para model berjalan silih berganti muncul dari backstage melangkah maju dengan kaki-kaki jenjang mereka secara lincah. Pose demi pose para model itu suguhkan pada para tamu. Dandanan yang dipoles secara professional turut mendukung busana yang sedang mereka pamerkan. Terlihat lebih menarik dan yang pasti para tamu pun sudah tertarik untuk mendapatkan produk tersebut..
"Wahh ya ampun baju nya bagus-bagus sekali." Ucap Gwen. Gadis itu sangat antusias sekali melihat aksi para model terutama baju yang mereka kenakan.
"Iya tidak heran sih sekelas Ivalloth yang selalu memberikan model-model terbaru mereka, desainnya oke oke semua." Sahut kristal.
"Wah pokoknya aku harus punya beberapa baju dari Ivalloth." Jiwa belanja Gwen sudah meronta-ronta. Gadis itu tak akan sadar jika sudah berbelanja, pasti akan kalap yang berujung mendapatkan ceramah dan hukuman dari orang tuanya.
Alya diam memperhatikan, memang baju-baju itu sangat bagus-bagus. Tapi yang ia tunggu-tunggu adalah anak dari Belva yang berperan sebagai model saat ini.
Tak lama apa yang ditunggu Alya muncul juga. Dua bocah tampan dan cantik itu berjalan dengan bergandengan tangan. Terlihat menggemaskan Kaila yang cantik dan menggemaskan dengan tubuh yang terlihat sangat berisi. Kaili bocah lelaki itu sangat tampan tak banyak gaya tapi bisa memikat para tamu yang tengah memperhatikannya.
"Bocah-bocah itu sangat mirip sekali dengan Daddy. Tidak salah perempuan kampung itu berusaha menyembunyikan fakta." Batin Alya.
Gusar dan khawatir perasaannya tak tenang saat ini. Tak bisa Alya diam saja saat ini, pikirkan sudah begitu sibuk mencari cara untuk menyingkirkan Belva dan juga anak-anak itu. Akan sangat berbahaya jika nanti Daddy nya tahu akan kebenaran yang ada.
"Al, kamu kenapa sih ? Kok aneh seperti itu ?" Tanya Kristal. Gwen menatap Alya , gadis itu masih kesal pada Alya hingga sampai detik ini.
"Ah tidak... Aneh bagaimana ?" Alya mengelak.
"Ya aneh saja. Seperti orang yang sedang memikirkan tagihan hutang." Ucap Kristal asal.
Gwen tersenyum mengejek pada Alya.
"Ck... Jangan sembarangan kamu. Aku mana ada hutang ? Belanja saja uangku tak akan pernah habis. Beda sama yang belanja banyak tapi kena omel." Sindir Alya pada Gwen. Tentu Gwen menjadi semakin kesal pada Alya.
Acara selesai, sudah semakin malam Belva dan rombongan langsung saja berpamitan untuk pulang. Bersama Bella yang bergantian dengan Belva menyetir mobil.
Alya pun juga pulang sampai di rumah keadaan sangat sepi. Mommy nya entah kemana, jika seperti itu Alya sudah pasti mengira jika Mommy nya sedang sibuk liburan bersama teman-teman.
Satya ? Entah Alya sangat jarang sekali bertemu dengan Daddy nya itu. Hubungan mereka sejak dulu kurang baik. Satya yang keras sedangkan Alya yang manja selalu dibela oleh Sonia.
"Haduh ini Mommy kemana sih ? Apa sebegitu sibuknya sampai tidak bisa dihubungi ? Aduh tidak penting sekali dia jalan-jalan." Gumam Alya.
Berkali-kali dari kemarin Sonia tak pulang dan tak bisa dihubungi. Alya beralih menghubungi kekasihnya. Rasa rindunya pada Jack sudah sangat menggunung. Sudah hampir dua bulan Jack tak juga kembali. Saat dihubungi pun susah sekali.
"Jack juga kemana lagi dia. Kenapa semua orang susah sekali dihubungi."
Rasa lapar melanda, Alya memilih untuk mengisi perutnya dengan makanan. Sebenarnya jam makan malam sudah lewat tapi tadi ia tak sempat makam sebelum pulang ke rumah. Pikirannya terlalu gelisah dan sibuk mencari cara untuk menyingkirkan Belva dan anak-anaknya.
Di meja makan Alya makan sendiri, tak enak rasanya makan sendiri seperti itu. Rumah yang besar meja makan yang cukup besar dan muat untuk banyak orang hanya diisi oleh dirinya sendiri.
Saat makan, Satya pun baru memasuki dapur. Pria itu haus dan ingin mengambil air minum. Sadar ada Alya di sana, Satya hanya diam saja.
"Dad... Sudah makan ?" Tanya Alya.
"Sudah."
"Mommy belum pulang ?" Tanya Alya kembali.
"Kenapa tanya padaku ? Apa dia tak mengabarimu ?" Tanya Satya datar.
"Tidak. Biasanya jika tak pulang Mommy sedang berlibur bersama teman-temannya. Tapi sejak kemarin tak bisa dihubungi."
"Makan lah dan segera tidur. Mommy mu pasti pulang besok." Ucap Satya.
Sebenarnya Satya merasa kasihan pada Alya. Sonia memang menyayangi Alya tapi ia lebih sibuk di luar. Alya terdiam dan menghela napas saat Daddy berlalu.
"Dad, aku ingin kembali seperti anak kecil lagi agar bisa dekat dengan Daddy seperti dulu." Gumam Alya lirih.
Satya sebenarnya belum benar-benar pergi. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Alya. Hatinya tersentuh dengan ucapan Alya baru saja.
Dulu saat Alya kecil memang sempat beberapa kali Satya menghabiskan waktu dengan Alya. Rasa sayang dan perhatiannya cukup jelas terlihat. Tapi seiring dengan beranjaknya waktu, Alya tumbuh dewasa dan menjadi anak yang manja. Hingga Sonia selalu membela Alya saat Satya mencoba untuk mengarahkan putrinya jika Alya melakukan kesalahan. Satya seseorang yang tak suka jika dibantah.
Jika saja Alya mau lebih mendengarkan Satya. Tak terlena dengan sikap manjanya pada Sonia maka bisa dipastikan sampai detik ini dirinya masih bisa berada dekat dengan Satya.
Satya melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja. Meski hatinya tersentuh tapi hatinya seakan tak tergerak untuk mendekati putrinya. Sebuah ketenangan di ruang kerja yang lebih menarik hatinya.
Seperti rencana sebelumnya Jordi pagi-pagi sudah datang menjemput Satya. Bahkan sampai detik ini sudah terhitung lima hari Sonia belum juga menampakkan batang hidungnya.
Dua pria gagah itu pergi menggunakan mobil Satya sejak kemarin. Mobil Jordi sedang dalam perbaikan di bengkel langganannya. Begitu mereka keluar area rumah tak lama Sonia pulang dengan diantar oleh kekasihnya Faris.
"Rumah kalian cukup besar juga sayang." Ucap Faris.
"Ya seperti itulah. Mau mampir sayang ?" Tawar Sonia.
"Kamu serius Sonia mau membunuhku sekarang juga ?"
"Bukan seperti itu sayang. Aku masih merindukan mu. Jam seperti ini Satya sudah pergi dan tentu tidak akan terjadi apapun."
"Sebentar kamu dalam mobil dulu." Ucap Sonia.
"Pak Jajak !!" Panggil Sonia.
"Iya Nyonya ? Ada apa yang bisa saya bantu ?"
"Tuan sudah berangkat ?" Tanya Sonia.
"Sudah beberapa menit yang lalu jika Nyonya lebih cepat sampai tadi bisa bertemu dengan Tuan."
"Oke tak apa. Sudah sana lanjutkan kerja mu."
Pak Jajak berlalu, Sonia kembali masuk ke dalam mobil. Wanita itu merayu Faris agar bersedia mampir ke rumahnya. Tak bisa bersanding dan setiap hari bertemu membuat Sonia selalu merindukan kekasihnya. Faris luluh akan rayuan maut yang diberikan oleh Sonia. Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Loh itu siapa ? Kok jalan nya mesra begitu dengan Nyonya bergandengan tangan." Ucap Pak Jajak dari dalam pos satpam.
Saat memasuki rumah Satya, Faris memindai seluruh isi ruangan. Besar dan mewah yang terlihat dari pandangan Faris.
"Pantas saja Sonia mau menerimanya. Rumahku tak ada apa-apanya. Sialan." Batin Faris.
"Ayo sayang duduk." Bisik Sonia agar tak terdengar oleh penghuni rumah yang lain.
Faris duduk di sofa ruang tamu. Sonia sendiri meletakkan tasnya di sofa lalu berlalu ke dapur membuat para ART terkejut.
__ADS_1
"Nyonya ? Anda membutuhkan sesuatu ?" Tanya Mbok Yati.
"Tidak. Saya mau buat kopi." Ucap Sonia.
"Tumben ini mau buat kopi sendiri." Biasanya pada teriak-teriak." Batin Mbok Yati.
"Biar saya saja Nyonya, tunggu saja di depan."
"Tidak usah. Sana... Sana... Lanjutkan pekerjaan mu." Usir Sonia.
Mbok Yati menurut, tapi wanita itu merasa penasaran tak biasanya Nyonya nya itu mau bergerak sendiri. Biasanya selalu main suruh-suruh para ART.
"Nyonya... Maaf itu cangkir Tuan." Ucap Mbok Yati tiba-tiba.
"Memang kenapa kalau ini cangkir Satya ? Tidak boleh saya pakai ?" Sonia kesal.
"Bukan begitu Nyonya. Tapi memang seperti itu. Itu cangkir khusus Tuan Satya."
"Ck... Sudah sana ganggu saja kamu. Saya atau Satya itu sama saja. Awas." Ucap Sonia ketus.
Satya memiliki cangkir sendiri. Cangkir itu adalah pemberian mantan kekasihnya dulu yang sangat dicintainya untuk terakhir kalinya mereka berpisah saat Satya memutuskan wanita itu demi menerima perjodohan dengan Sonia. Tidak ada yang boleh menggunakan cangkir itu selain Satya sendiri.
Kopi buatan Sonia sudah mendarat cantik di atas meja kaca yang ada di hadapan Faris. Kopi hitam dengan asap yang masih sedikit mengepul.
"Terima kasih sayang." Ucap Faris.
"Sama-sama. Sebentar aku ke atas dulu."
Sonia pergi ke ke lantai dua untuk meletakkan tasnya. Sekaligus ia berniat untuk masuk ke ruang kerja Satya. Dengan langkah santai Sonia mendekati ruang kerja suaminya. Saat hendak membuka pintu justru pintu itu terkunci tidak seperti biasanya yang selalu dibiarkan tak terkunci.
"Kenapa dikunci ? Tumben sekali."
Sonia kembali turun lagi untuk mencari Mbok Yati. Asisten rumah tangga yang paling dipercaya saat ini adalah Mbok Yati setelah Budhe Rohimah keluar dari rumah itu.
"Mbok, pintu ruangan kerja Tuan kenapa dikunci ?"
"Maaf Nyonya saya tidak tahu."
"Mana kuncinya ? Saya mau masuk, ada barang saya yang tertinggal di sana."
"Kuncinya tidak ada sama saya Nyonya. Tuan sudah meminta kunci ruang kerjanya termasuk kunci cadangannya."
"Ck... Ya sudah sana." Usir Sonia.
Wanita itu kesal tak bisa memasuki ruang kerja suaminya. Misinya untuk mengambil materi presentasi proyek milik Satya tak bisa ia lakukan.
Sonia kembali ke ruang tamu untuk kembali menemani sang kekasih. Mereka berbincang di ruang tamu tersebut.
"Loh Tuan kok kembali lagi ?" Ucap Pak Jajak yang akan membukakan gerbang.
"Ada yang ketinggalan. Itu mobil siapa Pak ?" Tanya Satya.
"Tidak tahu Tuan. Tadi datang bersama Nyonya Sonia. Saya kira mungkin saudaranya soalnya akrab sekali gandengan tangan masuk ke rumah." Ucap Pak Jajak.
"Jordi parkir di luar saja." Titah Satya.
"Tuan sepertinya tadi saat kita berangkat, saya sempat melihat mobil itu." Ucap Jordi.
"Pak Jajak. Apa pria ini yang ada di dalam ?" Tanya Jordi menunjukkan gambar dari dalam ponselnya.
"Seperti iya Tuan wajahnya mirip." Jawab Pak Jajak.
Rahang Satya mengeras. Pria itu lebih memilih turun dari mobil dan berjalan masuk ke area rumahnya diikuti oleh Jordi. Satya memilih masuk melewati pintu samping arah garasi mobil.
"Brengsek beraninya Sonia membawa pria pecundang itu ke rumahku." Umpat Satya.
Jordi tak habis pikir dengan Sonia beraninya membawa orang lain yang sudah jelas jika Satya tahu akan menimbulkan kekacauan.
"Sayang, ruang kerja Satya dikunci. Entah tumben sekali dia menguncinya." Sonia bergelayut manja menempel pada Faris.
"Lalu bagaimana ? Rapat proyek itu sudah minggu depan. Kali ini aku tak boleh gagal, lumayan besar keuntungan yang di dapatkan sayang."
"Kamu sabar dulu ya... Nanti akan aku usahakan. Jika tak bisa masuk menggunakan kunci aku bisa masuk menggunakan aset ku."
"Apa maksud mu ?" Tanya Faris tak suka.
"Ini demi materi presentasi proyek itu sayang. Sudah lah jangan marah seperti itu. Toh bukankah tetap kamu yang menang banyak atas diriku."
Percakapan sepasang kekasih itu didengar jelas oleh Satya dan Jordi. Jordi bergidik ngeri dengan apa yang baru saja didengarnya. Bahkan kedua orang itu berani membahas hal tak senonoh. Satya jangan ditanya pria itu sudah menaham amarahnya. Pengkhianatan di depan mata Satya sendiri, dua orang itu saling berpagut.
Satya keluar dan beralih masuk melalu pintu utama diikuti oleh Jordi. Deheman Satya mengejutkan kedua manusia yang tengah bermesraan itu. Sonia gugup saat melihat kedatangan Satya. Satya dengan cuek melangkahkan kaki masuk ke dalam.
"Dad ? Kenapa pulang ?" Tanya Sonia gugup.
Satya meninggalkan ruangan tersebut tanpa menatap Faris sama sekali. Kekasih sonia itu pun cukup gugup. Keringat dingin pun dirasakan pria tersebut.
"Dad... Aku bisa jelaskan padamu."
"Menjelaskan apa ? Pak Jajak mengatakan jika orang itu adalah saudaramu. Kalian tampak akrab tidak salah bukan ?" Ucap Satya dengan tenang. Dalam hatinya jujur sudah begitu menahan amarah.
"Ah... I-iiya... Dia saudaraku. Apakah kamu tak ingin berkenalan dengan saudara ku ?" Sonia mencoba mengikuti alur kebohongan yang diucapkan Pak Jajak demi menutupi kebusukannya. Tapi sayang wanita itu tak tahu jika Satya sudah mengetahui semuanya dengan sangat jelas.
"Aku buru-buru. File ku tertinggal." Ucap Satya.
Tak Sudi Satya berkenalan dengan pria culas dan pecundang seperti Faris. Satya menyeringai dalam hatinya. Tak akan dibiarkan manusia seperti Faris menjatuhkan dirinya. Mencoba untuk menyainginya dengan cara curang. Satya akan membalas dengan lebih kejam lagi.
Meninggalkan Sonia yang saat ini perasaannya sudah tak tenang. Tapi dia sedikit bernapas lega karena ulah sok tahu Pak Jajak menyelamatkan nya. Bukti jika Satya tak marah padanya. Satya ke ruangannya bersama Jordi. Cukup lama mereka berada dalam ruangan.
"Tuan anda yakin tak ingin menutup rapat ruangan Anda ?"
"Bukankah kamu sudah bisa mengakses kamera di sini ?"
Jordi mengangguk. Mengerti dirinya sudah dikhianati oleh orang terdekatnya sendiri, Satya tak ingin menjadi orang bodoh dengan melakukan kesalahan yang sama.
"Ayo pergi." Ajak Satya.
Sampai di lantai bawah Satya baru menyadari jika cangkir kesayangannya digunakan Sonia menyuguhkan kopi untuk Faris. Emosinya tak bisa ditahannya lagi.
"Dad... Kamu akan berangkat lagi ?"
"Siapa yang menyuruhmu menggunakan cangkir ku huh ?" Rahang Satya mengeras pertanyaan itu dilontarkan dengan penuh penekanan.
"Hah ? Memang kenapa sama saja kan ?" Ucap Sonia bingung.
Prang... !!!
Cangkir itu dibanting oleh Satya hingga hancur dan kopi yang ada di dalamnya tumpah kemana-mana. Lebih baik hancur sekalian daripada memakai kembali bekas orang yang dibencinya.
Sonia dan Faris terkejut dengan ulah Satya. Sonia kesal atas sikap Satya.
"Satya !! Apa yang kamu lakukan ?! Sikap mu tak sopan sama sekali." Ucap Sonia.
"Apa kamu menggunakan cangkir ku dengan seijin ku ?" Sorot mata Satya tajam menyorot Sonia.
"Itu hanya cangkir Satya. Kenapa sikapmu berlebihan ?" Sonia emosi.
Faris yang berada disana merasa tak nyaman. Kopi itu disuguhkan untuk dirinya secara tak langsung dirinya juga terseret dalam masalah tersebut.
"Sonia sudah tak apa tidak usah ribut." Ucap Faris.
"Tapi dia tak sopan pada mu Mas. Kamu tamuku tapi sikapnya keterlaluan."
Satya tak ingin terpancing emosi lebih dalam lagi dihadapan Faris. Pria itu lebih memilih pergi tapi sebuah kalimat membuatnya menghentikan langkahnya.
"Tuan Satya Balakosa. Saya tak menyangka jika sikap anda sangat berbanding terbalik dengan pendidikan tinggi yang anda dapatkan." Ucap Faris dengan beraninya.
Satya berbalik melangkah mendekati Faris yang sedari tadi tak dihiraukannya atas keberadaan pria itu.
"Jangan membawa pendidikan tapi bawalah kaca. Hanya orang gila yang mengamuk dijalan tanpa alasan. Jika pendidikan anda lebih tinggi tentu anda bisa berpikir lebih maju dari saya." Ucap Satya datar.
Kalimat itu secara tak langsung memberikan penjelasan pada Faris jika pria itu harus berkaca sebelum berbicara, Satya tak akan marah jika tak memiliki alasan yang jelas. Dan sekaligus menyindir Faris atas kecerdasan yang dimiliki pria itu dalam mengelola perusahaannya agar dapat berpikir sendiri tanpa melakukan kecurangan untuk memenangkan proyek. Tapi sayang kalimat itu tak dapat diserap oleh Faris.
Merasa perilakunya belum tertangkap basah maka seseorang tidak akan sadar dengan segala macam sindiran. Berbeda jika sudah tertangkap basah maka sindiran sekecil apapun akan langsung terserap dalam pikirannya.
"Kamu." Tunjuk Satya pada Sonia.
"Alya mencarimu sejak kemarin. Jika tak perduli padanya jangan pulang sekalian." Ucap Satya geram pada Sonia.
Sonia terdiam, memang sejak kemarin dirinya tak menghubungi Alya karena ponsel yang sengaja dimatikannya.
Satya pergi dari rumahnya bersama Jordi yang sedari tadi tak mengeluarkan satu patah katapun melihat pertengkaran rumah tangga bos-nya.
"Sayang, aku pulang saja dulu. Aku tak ingin mati konyol disini." Ucap Faris.
"Iya. Maafkan aku sayang membuatmu tak nyaman. Hati-hatilah." Ucap Sonia.
Kecupan bibir kembali terjadi sebelum Faris pergi dari rumah Satya. Alya gadis pemalas itu baru saja bangun setelah sayup-sayup terdengar suara ribut. Ia menuruni tangga tapi yang terlihat hanya punggung seorang pria keluar dari pintu rumahnya.
"Mom... Apa yang terjadi ? Kenapa berantakan seperti ini ?" Tanya Alya. Melihat lantai yang kotor dengan tumpahan kopi dan juga beling berceceran di lantai.
"Ah tidak. Tadi Mommy tak sengaja menjatuhkannya. Kamu baru bangun ?"
__ADS_1
Alya mengangguk. "Mommy kapan pulang ? Aku mencari Mommy sejak kemarin."
"Maaf sayang kamu tahu kegiatan Mommy bukan ? Mommy akan memanggil Mbok Yati dulu untuk membersihkan ini."
Sonia menyuruh Mbok Yati untuk membersihkan kekacauan yang terjadi tadi. Sonia naik ke lantai dua dengan diikuti oleh Alya.
"Mom, ada yang ingin ku katakan." Ucap Alya yang mengekor pada Sonia.
Ucapan Alya tak direspon dengan baik oleh Sonia karena matanya tertuju pada pintu ruangan kerja Satya yang sedikit terbuka.
"Sebentar sayang. Mommy ada urusan penting sebentar ya."
Sonia melangkah mendekati ruangan tersebut. Ia senang rupanya Satya lupa mengunci pintu itu kembali. Kesempatan bagus, Sonia masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mom, apa yang Mommy lakukan di ruangan Daddy ?" Tanya Alya.
"Alya bisakah kamu diam ? Mommy harus mengantarkan file Daddy mu yang ketinggalan. Sudah sana lakukan kegiatanmu. Mommy akan pergi sebentar."
"Tapi ada yang ingin aku katakan Mom. Kita harus berbicara dulu."
"File ini lebih penting Alya. Kamu mau Daddy mu marah huh ?" Ucap Sonia mulai tak suka dengan sikap Alya yang menggangu misinya.
Tak ingin Daddy nya marah Alya akhirnya mengalah. Gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Sonia, begitu membaca file yang tersimpan di atas meja seketika senyumnya mengembang sempurna.
"Bodoh sekali Satya. File ini yang dibutuhkan mas Faris."
Diambil file itu beserta flashdisk yang tertulis materi presentasi proyek baru Satya. Ia hendak membawa file itu ke rumah Faris.
Rumah yang besar itu selalu terasa sepi dengan penghuni yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Setelah makan siang Satya kembali lagi ke rumah dengan diantar oleh Jordi. Hari ini perkejaan nya cukup santai sehingga bisa kembali ke rumah setelah makan siang.
"Istirahatlah sebentar. Saya harus menyelesaikan urusanku." Ucap Satya.
Jordi memilih duduk di pos satpam bersama Pak Jajak. Dia tahu persis urusan apa yang harus Satya selesaikan. Tak mau mengganggu jika tidak dibutuhkan atau tidak terdesak dia tak akan masuk ke dalam rumah besar itu.
Mengobrol dengan Pak Jajak kelihatannya lebih seru bila dibandingkan dengan mendengarkan pertengkaran Satya dan Sonia.
Di dalam rumah Sonia tengah bersantai di sofa ruang keluarga. Memegang majalah fashion yang berisi beberapa model pakaian, serta seluruh yang berkaitan dengan fashion.
Sebuah amplop berwarna coklat mendarat cantik di atas majalah fashion Sonia. Fokus wanita itu menjadi terganggu.
"Apa ini ? Tumben jam segini sudah pulang ?"
"Baca saja." Ucap Satya.
Terlihat di amplop bagian luar terdapat tulisan pengadilan negeri Jakarta. Kening Sonia mengerut, mengapa Satya memberikan amplop tersebut.
"Pengadilan ? Kenapa ada surat dari pengadilan ?" Ucap Sonia tapi tak ditanggapi oleh Satya. Wanita itu membuka isi surat tersebut. Seketika matanya terbuka lebar. Sangat jelas tulisan yang ada di atas kertas putih itu. Jika kertas itu adalah surat cerai.
"Satya !!! Apa maksudnya ini ? Kamu menceraikan ku ? Apa aku tak salah Satya ?"
Pertanyaan beruntun yang Sonia berikan. Terkejut dan tak percaya Satya menceraikan dirinya.
"Mata mu masih berfungsi dengan normal kan ? Jadi, memang kamu tak salah membaca."
"Kita cerai." Ucap Satya.
"Tidak !! Apa karena aku tak mau menuruti apa mau mu jadi kamu menceraikan ku Satya ? Apa hanya karena hal itu kamu menceraikan ku. Aku tidak mau Satya !!"
"Kesalahanmu terlalu fatal." Ucap Satya.
"Jangan kamu kira apa yang kamu tutupi selama ini tak akan pernah ku ketahui Sonia. Bau bangkai mu sudah tercium."
"Apa maksud mu Satya ?!! Aku tak mengerti." Sonia tetap masih berpura-pura. Ia mempertahankan rumah tangganya dengan suatu alasan.
Bruk...!!!
Satu amlop lagi di lempar Satya ke atas pangkuan Sonia. Wanita itu membuka amplop tersebut. Beberapa foto dirinya dan juga Faris yang tengah bermesraan. Serta beberapa salinan bukti-bukti transfer yang Sonia lakukan.
"I-iini..." Sonia susah menelan saliva nya setelah melihat Satya melempar bukti kecurangan nya.
"Satya dari mana kamu dapat semua ini ? Ini tidak benar Satya." Masih saja Sonia mengelak.
"Pria pecundang itu kamu pikir aku tak tahu siapa dia ? Lelaki yang tak memiliki daya saing tapi memaksakan diri untuk membangun perusahaan dengan cara curang. Dia kekasihmu Sonia."
"Saudara ? Cih... Seorang saudara tidak akan menjamah tubuh saudara nya sendiri jika dia masih waras."
"Apa yang kamu lakukan tadi pagi dengan pria itu. Aku melihat nya Sonia Aruni. Bahkan hal yang lebih menjijikan lagi pun sudah kulihat. Apa masih ada alasan bagiku untuk mempertahankan wanita murahan seperti mu ?"
Sonia melebarkan matanya. Satya meski tak mencintainya dan hubungan rumah tangga mereka tak baik-baik saja tapi tak pernah kata-kata pedas itu muncul untuk dirinya.
Mata Sonia sudah berkaca-kaca, digigitnya bibir bawahnya menahan sakit hati dan juga marah. Dirinya direndahkan oleh suaminya. Ralat calon mantan suaminya sendiri. Sakit... Tapi apa yang Sonia lakukan selama ini lebih membuat Satya kecewa mendalam.
Rasa sedih tak lagi pria itu rasakan sejak terakhir kali melepas cintanya demi wanita murahan seperti Sonia. Kecewa sejak awal pernikahan dengan Sonia. Kecewa tak bisa bersatu dengan cinta pertamanya dulu, kecewa memperistri wanita yang tak bisa menghargai dirinya sebagai suami, hingga kecewa dikhianati istrinya sendiri.
"Kemasi barang-barang mu sekarang juga. Aku tak sudi satu atap dengan seorang pengkhianat."
"Satya !! Maafkan aku. Aku..."
"Cukup. Tidak ada maaf bagimu." Ucap Satya datar dan dingin. Berbalik meninggalkan Sonia.
"Satya.... please..." Sonia menarik lengan Satya.
Satya berbalik dan melepaskan cekalan Sonia. "Lepaskan tangan kotor mu. Rumah ini tak lagi menerima mu. Cepat keluar aku tak ingin menggunakan kekerasan padamu Sonia."
Kepalan tangan tergenggam begitu erat. Sonia kesal dan marah, diluapkan kemarahan itu pada vas bunga yang ada di atas meja dan melemparkan pada Satya.
"Bugh !!! Prank !!!
Terkejut dengan apa yang tiba-tiba dirasakannya. Mata Satya terpejam, nyeri dan perih yang Satya rasakan saat ini. Bagian kepala belakangnya diraba, darah segar mengalir. Emosi pria itu tak lagi bisa ditahannya. Sedari tadi susah payah menahan emosinya jangan sampai dirinya menggunakan kekerasan untuk melampiaskan amarahnya. Tapi Sonia justru memancingnya dengan cara yang tak terduga oleh Satya.
Langkah cepat Satya berbalik ke arah Sonia. Matanya tajam menyorot Sonia untuk kesekian kalinya. Ada marah, benci dan kecewa yang saat ini tersorot dalam tatapan mata Satya.
Plak !!!
Tamparan keras langsung Satya berikan pada pipi mulus Sonia.
"Wanita tak tahu diri !! Wanita murahan !! Beraninya kamu melukai kepalaku." Tangan kekar Satya mencengkram kuat kedua pipi Sonia.
"Apa kamu sudah bosan hidup ? Aku bisa membunuhmu sekarang juga."
Tangan Sonia berusaha melepaskan cengkraman itu tapi nihil terlalu kuat cengkraman Satya. Sonia kesakitan tapi pria itu tak perduli. Tangan Satya yang bersimbah darah karena menyentuh kepalanya kini digunakannya untuk mencekik leher Sonia.
"Astaga Tuan... Tuan apa yang anda lakukan ?!" Mbok Yati panik.
Niatnya untuk mengecek barang yang jatuh di lantai dua akibat vas bunga yang pecah dilempar Sonia. Kini wanita itu dibuat panik dengan apa yang terjadi antara kedua majikannya.
Wajah Sonia sudah memerah, mulutnya terbuka oksigen semakin menipis. Matanya sudah berkaca-kaca. Tangan Sonia terulur pada Mbok Yati meminta pertolongan.
Panik, Mbok Yati berteriak turun tangga hingga para asisten rumah tangga berhamburan menghampirinya.
"Pak Jajak... Pak Jajak manaaa ?? Tuan Satya marah sepertinya dan mencekik leher Nyonya."
ART yang lain langsung memanggil Jordi yang sudah mengetahui sejak tadi jika asisten Tuannya berada di pos satpam.
"Tuan Jordi. Tolong !!! Nyonya Sonia bisa mati !!"
"Hah ? Apa yang terjadi ?" Terkejut tapi Jordi juga dengan cepat berlari memasuki rumah.
Pria itu naik tangga menuju lantai dua. Matanya membulat melihat Satya mencekik Sonia.
"Tuan lepaskan !! Tuan !! Sadarlah !!" Jordi dengan kuat menarik tangan dan tubuh Satya.
Jeratan tangan itu terlepas. Sonia langsung ambruk di tempat, tubuhnya sudah lemas bahkan langsung tak sadarkan diri. Semua ikut panik, Mbok Yati langsung berlari menghampiri Sonia. Jiwa perikemanusiaan nya meronta-ronta untuk menolong majikannya yang menyebalkan itu.
"Nyonya !! Bangun !!" Di cek nafas Sonia oleh Mbok Yati masih ada nafas.
"Pingsan... Dia pingsan..." Ucap Mbok Yati.
"Tuan sadarlah !! Anda bisa membunuhnya." Ucap Jordi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Satya. Jordi bergidik ngeri, susah dia menelan saliva nya. Saat ini Satya dalam mode iblis menyerupai manusia.
"Tuan... Kepala anda terluka. Kita ke rumah sakit." Ucap Jordi memberanikan diri.
Tatapan Satya berganti pada Sonia yang sudah tak sadarkan diri. Tapi tak urung dirinya berjalan menuruni tangga dengan diam tak bersuara.
"Bawa Nyonya ke rumah sakit segera." Perintah Jordi pada para ART.
Lalu pria itu mengantarkan Satya ke klinik terdekat. Jika memanggil dokter ke rumah itu terlalu lama. Kepala Satya sedari tadi sudah mengeluarkan darah.
Alya ? Gadis itu tak ada di rumah. Ia sudah pergi entah kemana bersama teman-temannya. Kejadian itu tak disaksikan oleh Alya, jika saja gadis itu menyaksikan apa yang terjadi diantara kedua orang tuanya pasti sudah syok menjerit ketakutan.
****
ππππππππππππππππ
Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. βΊοΈ
Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. βΊοΈπ€²π
______________________________________________
...Kita bongkar dulu Sonia dan Alya ya dear sabar sedikit lagi ππ...
__ADS_1
______________________________________________