Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 28. Tebakan Satya


__ADS_3

Semua saling berpamitan saat terdengar bunyi informasi jika pesawat akan segera terbang. Roichi menghadap Tuan dan Nyonya nya untuk mengingatkan jika mereka harus segera masuk ke dalam pesawat.


Duo Kay mengantar hingga batas pintu masuk. Tapi melihat ada tempat yang bisa melihat dengan lebih jelas akan kepergian Opa Oma nya. Langsung saja Duo Kay Utinya untuk mendekati kaca transparan. Di sana mereka juga bisa menyaksikan pesawat yang akan ditumpangi Tuan Hector.


"Bella, Ayah berangkat dulu. Kamu hati-hati di sini." Ucap Roichi memeluk Bella.


"Hati-hati Ayah." Ucap Bella.


"Iya. Mana Duo Kay ? Cepat susul mereka, sudah tugasmu menjaga mereka." Ucap Roichi memberi perintah pada Bella.


Belva melihat adegan Ayah dan anak itu, matanya berkaca-kaca. Teringat akan pelukan hangat Ayahnya yang telah tiada.


Setelah melihat kepergian Bella menyusul Duo Kay. Roichi menatap Belva sejenak dan berlalu. Buka masuk ke dalam bandara melainkan ke arah parkiran.


Belva mengerutkan kening, mengapa asisten Papanya justru berbeda arah. Ia melihat Roichi berlari dan tak lama pria itu kembali di hadapan Belva. Pria itu tersenyum pada Belva.


"Saya, pamit dulu Nona." Pamit Roichi pada Belva. Tapi Roichi masih melihat mata Belva berkaca-kaca.


"Kenapa mata Nona berkaca-kaca ? Apa Nona sedih karena kami akan kembali ke Jerman ?" Tanya Roichi.


Belva tersenyum manis. "Iya itu cukup membuatku sedih karena terpisah dengan kalian."


"Tenang saja, Tuan dan Nyonya Hector pasti akan kembali lagi ke sini. Nona jangan sedih dan jangan menangis." Roichi tersenyum pada Belva.


"Aku tahu itu. Aku tidak menangis untuk itu. Hanya saja melihat Om berpelukan dengan Bella membuatku teringat pada Ayahku dulu." Kini air mata Belva luruh saat mengatakan dirinya teringat Ayahnya.


Roichi mendekat ke arah Belva, tiba-tiba pria itu memberanikan diri untuk memeluk Belva. "Apa Nona mengijinkan ku untuk memeluk Nona ?" Roichi meminta ijin.


Belva mengangguk, perasaannya terhanyut akan kenangannya bersama Ayahnya. Hingga pelukan dari pria berwajah Asia itu semakin membuatnya hanya dalam kenangan masa lalu. Dengan erat Belva memeluk Roichi. Pria itu tersenyum saat merasakan pelukan erat dari Belva.


Panggilan terakhir menyadarkan Roichi jika dirinya harus segera masuk ke dalam pesawat. Pria itu melepaskan dengan lembut pelukan erat Belva.


"Maaf Nona, saya harus pergi. Jangan menangis. Jaga diri Nona baik-baik." Roichi menghapus air mata pada pipi mulus Belva.


Tanpa sadar Roichi mengecup kening Belva. Dan perempuan itupun tak menolak sama sekali. Perasaannya masih terhanyut pada kenangannya dulu.


Roichi sendiri merasa terkejut dengan aksinya. Hingga pria itu merasa salah tingkah. "Maaf Nona, maaf jika saya lancang."


"Tidak apa-apa Om. Aku senang bisa merasakan sejenak pelukan yang hampir sama seperti pelukan Ayahku."


Belva tersenyum dan menghapus air matanya. Ia tak membahas perihal kecupan yang didapatkannya. Belva tak sadar akan hal itu. Tapi Roichi justru merasa salah tingkah dan bersalah karena sudah lancang.


"Ya sudah Om segera masuk. Pasti Mama dan Papa sudah mencari." Ucap Belva.


"Ah iya Nona. Maaf saya permisi."


Roichi pergi berlalu dari hadapan Belva. Dalam setiap langkahnya yang cepat itu batinnya juga dengan cepat merutuki kelakuannya sendiri.


"Roi... Apa yang kamu lakukan. Bisa-bisanya lancang sekali mencium kening Nona mu. Untung Tuan dan Nyonya tidak melihat, bisa sukses jadi pengangguran kamu kalau sampai mereka tahu." Gumam Roichi lirih sembari berjalan menuju pesawat.


Akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh Tuan dan Nyonya Hector beserta Roichi sudah lepas landas. Duo Kay melambaikan tangan mengiringi kepergian Oma Opa nya.


Setelah itu mereka pergi dari bandara dan menuju ke rumah mereka sendiri. Hari ini Belva berniat untuk mendaftarkan sekolah bagi kedua anak kembarnya.


Sekalian jalan satu arah Belva meminta pada sopir untuk mengantarkan mereka ke Seven Blue School. Duo Kay sudah memiliki rencana sendiri sepulang dari mengantar ke bandara tadi.


"Mami, habis ini kita ke mall dulu ya jalan-jalan." Ucap Kaila.


"Oke tapi kita daftar sekolah dulu ya." Selalu dengan suara lembut yang menenangkan serta sentuhan pada kepala anaknya selalu Belva lakukan saat berniat untuk berbicara serius.


"Daftar sekolah ?" Tanya Kaili.


"Iya sayang. Kita akan tinggal disini bersama Uti dan aunty Bella. Jadi, kemarin Mami dan Oma mencarikan kalian sekolah yang bagus. Di sana banyak kegiatannya lho sayang."


"Ada kelas modeling juga, ada kelas melukis, kelas renang dan masih banyak lagi sayang." Ucap Belva. Dan apa yang diucapkan itu membuat Duo Kay merasa senang serta antusias.


"Benarkah ? Banyak kelas yang bisa kami ikuti Mam ?" Tanya Kaila antusias.


"Tentu sayang. Kamu nanti bisa memilih untuk mengikuti kelas mana saja. Asalkan tidak membuatmu kelelahan nantinya." Nasehat Belva pada Duo Kay.


"Apakah ada kelas mendesain gaun sama seperti hobiku ?" Tanya Kaila kembali.


"Untuk itu nanti kita tanyakan dulu sayang. Kakak kira-kira mau ikut kelas apa nanti ?" Tanya Belva pada Kaili.


Memang saat bersama Belva selalu memanggil putranya dengan sebutan kakak agar putrinya terbiasa memanggil Kaili dengan sebutan kakak. Tapi gadis itu selalu menjawab jika mereka adalah anak kembar yang lahir bersamaan jadi tidak ada kakak ataupun adik. Seringkali Kaila hanya memanggil nama pada Kaili.


"Kelas renang, karena kami sudah mengikuti latihan bela diri di luar sekolah." Jawab Kaili.


"Baiklah. Ayo turun kita sudah sampai." Belva menyuruh kedua anaknya turun.


Bella langsung menjaga Duo Kay, agar kedua anak tersebut tidak berlari kemana-mana sesuai denga keinginan mereka.


"Ayo Budhe kita turun."


"Budhe di sini saja Nduk. Pasti nanti kalian juga akan berkeliling melihat-lihat sekolah jadi Budhe tunggu di sini saja."


Budhe Rohimah sejak kecelakaan itu menjadikan tubuhnya lebih mudah kelelahan. Maklum untuk seseorang yang jarang sakit terkadang ketika sudah mendapatkan sakit justru kadar ketahanan tubuhnya menjadi sedikit menurun. Terlebih wanita paruh baya itu memang sudah berusia lanjut.


Benar saja Duo Kay sangat antusias masuk ke dalam lingkungan sekolah tersebut. Sangat-sangat menarik, banyak sekali arena bermain dan fasilitas yang dimiliki juga cukup lengkap.


"Selamat datang Mom. Ini Mommy yang kemarin sempat datang berkunjung ke sini itu ya ?" Sapa salah satu guru i sekolah tersebut.


"Ah iya Miss, selamat pagi. Saya kesini membawa anak-anak untuk melihat-lihat sekolah dan ternyata mereka memang sesuai dugaan sangat antusias sekali. Sekaligus hari ini saya berniat untuk mendaftarkan mereka."


"Oh baiklah Mom. Mari ikut dengan saya kita bicarakan di dalam."


Dengan langkah beriringan mereka memasuki sebuah ruangan yang memang kebetulan guru tersebut juga sebagai kepala sekolah di TK tersebut.


Pendaftaran sudah selesai dilakukan oleh Belva. Kini mereka berkeliling melihat area sekolah. Setelah selesai mereka akhirnya pergi ke sebuah Mall terbesar di kota Jakarta.


Sesuai keinginan Duo Kay yang ingin berjalan-jalan dan bermain di Mall tersebut. Sudah beberapa hari mereka tak bisa jalan-jalan bersama.


"Oke, kalian boleh bermain. Tapi jangan jauh-jauh ya. Aunty Bella akan menemani kalian. Mami harus menemani Uti di sini."

__ADS_1


"Oke Mami." Ucap Duo Kay serempak.


"Nona, saya menemani mereka dulu." Pamit Bella.


"Iya Bella. Minta tolong jaga mereka ya." Ucap Belva dengan sopan. Meski Bella adalah pengasuh anak-anaknya tapi Belva selalu bersikap sopan pada mereka yang telah membantunya.


Bella dan Duo Kay pergi menuju arena bermain. Sedangkan Belva dan Budhe Rohimah duduk menunggu di bangku yang sudah disediakan pihak Mall.


"Nduk, budhe senang sekali seperti ini. Bisa berkumpul bersama kalian. Hal seperti inilah yang budhe harapkan sedari dulu. Di masa tua budhe bisa menikmati masa tua bersama anak dan cucu-cucu."


Budhe Rohimah menghela nafasnya yang terasa berat.


"Tapi sayang, budhe tidak dikaruniai seorang anak. Sejak kecelakaan itu terpaksa rahim budhe harus diangkat. Hingga pakdhe mu meninggalkan budhe tanpa seorang anak." Mata Budhe Rohimah berkaca-kaca mengingat nasib hidupnya.


"Budhe, sudahlah. Toh sekarang sudah ada Belva dan anak-anak. Kita bisa saling melengkapi. Bukankah Belva juga anak budhe dan si kembar juga cucu budhe."


Belva mencoba mengurai kesedihan budhenya. Menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu dan memeluknya dari samping.


"Terima kasih Nduk. Budhe bersyukur ada kalian. Sehingga budhe tidak lagi kesepian. Terlebih keluarga barumu menambah hidup budhe semakin ramai."


"Iya Budhe. Sudah hangan bersedih. Kita akan hidup bersama-sama. Berjuang untuk bahagia bersama."


Tak bisa dipungkiri bahwa kesepian juga pernah Belva rasakan saat kematian kedua orang tuanya. Ditambah berbagai macam kejadian yang menimpa dirinya. Tapi semua itu justru Belva mendapatkan hikmah dan rasa syukur yang semakin meningkat. Semua kejadian yang menimpa dirinya mampu mengubah seluruh kehidupannya yang tak pernah diduganya.


****


Hari ini adalah hari pertama di mana Belva dan keluarganya memulai kehidupan yang baru. Belva mulai bekerja di butik yang baru saja akan dirintisnya. Sedangkan Duo Kay hari ini pun mulai mengikuti kegiatan belajar di sekolahnya.


"Sayang, hari ini kalian sudah mulai belajar di sekolah. Mami dan aunty akan mengantar kalian sekaligus berangkat menuju butik."


"Iya Mami. Uti tidak ikut ?" Tanya Kaila.


"Tidak sayang. Uti jaga rumah dulu besok baru menemani kalian." Jawab Budhe Rohimah.


"Selesaikan sarapan kalian sayang. Jangan sampai nanti kalian terlambat di hari pertama kalian." Belva memberikan nasehat pada kedua anaknya.


"Oke Mami." Si kembar memang selalu kompak dan menurut pada Maminya.


Selesai sarapan pagi bersama mereka berempat bersiap akan pergi. Satu persatu dari mereka berpamitan pada Budhe Rohimah. Untuk memulai hari-harinya memang Belva tidak mau diantar oleh sopir keluarga Hector.


Belva lebih memilih untuk berangkat menggunakan taksi online hingga nanti jika usahanya sudah mulai berjalan baru ia akan membeli kendaraan sendiri.


Mereka sudah sampai di TK Seven Blue School. Di hari pertama Belva mengantarkan Duo Kay hingga masuk ke dalam kelas mereka.


"Sayang, kalian satu kelas. Kalian harus saling menjaga satu sama lain ya. Tidak boleh nakal dan belajar yang rajin." Belva kembali mengingatkan.


"Iya Mami. Apa Mami akan menunggu kami hingga sampai sekolah usai ?" Tanya Kaila.


"Kaila, kita harus berani sekolah sendiri." Jawab Kaili.


"Iya... Aku hanya bertanya pada Mami saja tidak meminta untuk ditunggui hingga selesai sekolah nanti."


"Kakak dan Adek berani sekolah sendiri di hari pertama ?" Tanya Belva memastikan ucapan kedua bocah itu.


"Kaila juga." Gadis kecil itu tak mau kalah.


"Yakin kalian berdua berani sendiri tanpa ditunggu ?" Kali ini Bella yang memastikan.


"Yakin." Ucap Duo Kay serempak dengan tegas dan mantap. Tidak ada sorot keraguan dan takut dari mata kedua bocah kecil itu.


Bella menatap ke arah Belva, ibu mudah itu tahu sorot mata yang ditujukan padanya kemudian mengangguk.


"Baiklah. Jika terjadi sesuatu bilang pad Miss kalian biar Miss menghubungi Mami. Aunty dan Mami apa sudah boleh pulang ?" Tanya Belva.


"Iya Mami dan aunty pulang saja tidak apa-apa. Nanti jangan lupa jemput kami." Ucap Kaila yang di angguki oleh Kaili.


Belva dan Bella yang mihat kemantapan bocah kembar itu mereka memutuskan pulang setelah bel masuk sekolah berbunyi. Mereka tak benar-benar pulang ke rumah melainkan menuju butik baru Belva.


Satu papan nama yang terlihat indah tercetak cukup besar dengan nama Evankay Butik. Dengan dorongan motivasi dari kedua orang tua angkatnya serta seluruh keluarganya. Belva optimis akan usaha yang akan dirintisnya sendiri kali ini. Bermodalkan keberanian dan keyakinan akan kemampuannya. Ia yakin jika nanti butiknya akan berkembang sama seperti de'La Hector butik milik Mamanya.


Baru saja masuk ke dalam ruangannya yang disiapkan secara khusus untuknya. Satu panggilan masuk dalam ponselnya. Panggilan itu dari Maria, seorang klien yang kini sudah menjadi temannya.


Maria Calling ...


"Hallo Maria ?"


"Vanthe... Bagaimana kabarmu ? Apa kamu sudah kembali ke Jerman. Aku dengar keluargamu sudah kembali." Tanya Maria.


"Kabarku baik Maria. Aku masih di sini, ada apa ?" Tanya Belva.


"Serius kamu masih di sini ? Aku ingin memesan gaun untuk acara pernikahan sepupuku. Apa jadwalmu masih ada yang kosong ?"


Maria harus menanyakan jadwal Belva karena perempuan itu tahu jika kemampuan Belva tidak bisa dianggap remeh. Perempuan beranak kembar itu memiliki jadwal order yang terkadang harus membuat beberapa customer mengantri.


"Untuk tanggal berapa ? Kamu datang saja ke butikku. Kita bicarakan secara langsung di sini." Ucap Belva agar bisa leluasa jika berbicara secara langsung.


"Butik ? Kamu memiliki butik di sini ?" Tanya Maria tak percaya jadi ia berusaha memastikan.


"Iya aku baru saja memulainya hari ini. Datanglah ke jalan xx. Aku tunggu sekarang."


"Oke baiklah. Tunggu aku ke sana sebentar lagi. Aku tutup dulu telepon nya."


Panggilan terputus, butik barunya memang belum memiliki pelanggan tapi pekerjaannya untum butik de'La Hector masih mengantri. Jadi, bagi Belva tidak ada kata menganggur sampai saat ini.


Satu bulan berjalan semuanya baik-baik saja, bahkan kini butik Belva mulai berjalan perlahan. Ia sudah memiliki tiga karyawan termasuk Bella. Setelah mengantar Duo Kay Bella tak memiliki kegiatan jadi ia lebih memilih untuk membantu Belva di butik.


Kerjasama antara Bala Corp dan Hector Group sudah mulai berjalan. Kini Roichi diutus untuk kembali ke Indonesia mengurus kerjasama itu. Desain yang sudah dikerjakan oleh Kaili pun diajukan pada Bala Corp.


Satya tersenyum puas atas desain yang didapatkannya hingga pria itu memutuskan untuk memulai pembangunan. Roichi ditugaskan untuk mengawasi pembangunan tersebut. Pria itu memang datang ke Indonesia tapi tidak ke Jakarta melainkan ke Bali sesuai dengan lokasi pembangunan resort.


Saat weekend tiba, Roichi berniat mengunjungi si kembar. Bukan hal yang sulit bagi Roichi untuk sampia ke Jakarta. Kedatangan pria itu disambut dengan ceria oleh si kembar. Dengan beberapa oleh-oleh yang dibawanya membuat suasana semakin ceria dan antusias.


"Opmud... Kenapa Opa dan Oma tidak ikut ?" Tanya Kaila si gadis cerewet.

__ADS_1


"Iya Opmud kan ada pekerjaan di sini jadi hanya datang sendiri." Jawab Roichi.


"Opmud bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan di arena bermain ?" Ajak Kaili. Jika bersama sesama pria Kaili cukup memiliki minat bicara, mungkin menurutnya jika bersama perempuan akan melelahkan dan tidak ada habisnya dalam berbicara sama seperti berbicara dengan Kaila kembarannya.


"Baiklah, mandilah terlebih dahulu boy." Ucap Roichi mengusap kepala Kaili.


"Horeee... Kita jalan-jalan..." Kaila lah yang tampak sangat antusias dan heboh.


"Mami, nanti kita akan jalan-jalan bersama Opmud." Ucap Kaili pada Maminya.


"Sayang, Om Roi pasti lelah baru saja datang. Biarkan Om Roi istirahat sayang."


"Tidak apa-apa Nona. Mumpung saya berada di sini tidak ada salahnya." Ucap Roichi.


"Ya sudah ayo kita mandi dulu. Biar nanti aunty menemani kalian." Belva menggiring kedu bocah kembarnya untuk mandi. Tapi mereka tak juga bergerak.


"No, aku ingin jalan-jalan bersama Mami." Ucap Kaili menolak ucapan Maminya.


"Iya... Sudah sering kami jalan-jalan bersama aunty. Jadi, kami mau sama Mami saja." Rengek Kaila.


Akhirnya Belva pasrah, karena memang selama mengembangkan usahanya. Belva lebih sibuk dan Bella yang selalu menemani Duo Kay saat mereka menginginkan sesuatu.


Mereka berempat berjalan bersama di sebuah Mall tepatnya di arena bermain sesuai keinginan si kembar. Roichi menemani keduanya bermain berbagai macam permainan. Belva juga tak kalah ikut bermain bersama mereka. Tawa bahagia tercipta diantara mereka.


"Mami, haus." Kaili merengek sudah kehausan.


"Kita beli minum dulu ya sayang. Ayo sudah cukup mainnya. Kalian sudah berkeringat." Ajak Belva. Mereka menghentikan permainan dan berjalan mencari minuman.


"Sebaiknya kita sekalian cari tempat makan saja Nona." Usul Roichi.


"Ide bagus Om. Ya sudah kita cari tempat makan. Kalian mau makan apa sayang ?" Tanya Belva yang sudah menyetujui usul Roichi.


"Pizza saja Ma, aku mau es krim boleh ?" Tanya Kaila.


"Oke sayang." Kaili digandeng oleh Maminya. Sedangkan Kaila digendong oleh Roichi. Gadis kecil itu memang manja terhadap orang-orang terdekatnya.


Mereka berempat makan di restoran cepat saji. Makanan yang berasal dari negara Italia itu menjadi pilihan Duo Kay. Saat makanan itu tiba bersama minumannya, Kaili langsung mengambil minumannya. Terlihat sekali mereka sangat kehausan.


Saat semuanya sudah selesai dinikmati, karena terlalu lelah dan sepertinya Belva juga merasa badannya kurang nyaman. Wanita itu memilih untuk diam sejenak, menetralisir apa yang dirasakannya.


"Sudah selesai semua ?" Tanya Roichi.


"Sudah Opmud." Jawab Duo Kay serempak. Belva hanya mengangguk saja. Sudah terlihat wajahnya pucat saat ini.


"Nona, baik-baik saja ?" Tanya Roichi khawatir.


"Mami kenapa ? Mami sakit ?" Tanya Duo Kay.


"Mami hanya sedikit tidak enak badan sayang." Ucap Belva.


Takut terjadi sesuatu, Roichi menghubungi sopir mereka untuk memegang Duo Kay untuk berjaga-jaga. Saat sopir membawa Duo Kay keluar dari Mall terlebih dahulu.


"Nona tunggu disini, saya ke toilet sebentar." Belva mengangguk.


Tubuhnya semakin terasa tak terkendali, rasanya sungguh tidak nyaman. Kepalanya semakin berputar dan berdenyut. Tapi tetap dicoba untuk ditahannya sembari menunggu Roichi.


"Tuan Roichi. Bukannya anda berada di Bali ?" Tanya Satya yang sedari tadi memperhatikan Roichi dari jarak yang cukup jauh.


"Ah Tuan Satya. Anda di sini juga ? Weekend jadi saya usahakan mengunjungi anak-anak di Jakarta. Apa ini istri Anda ?" Tanya Roichi kembali.


"Ah iya istri saya. Anak-anak ? Maksud anda, anak-anak Anda ada disini ?" Tanya Satya.


Saat Roichi akan menjawab pertanyaan Satya, pelayanan restoran cepat saji itu berlari menuju Roichi.


"Tuan, apakah anak laki-laki dan perempuan yang berbaju merah dan seorang wanita yang ada di meja nomor 9 itu adalah anak dan istri anda ?" Tanya pelayan restoran.


"Meja nomor 9 ? Ada apa Mbak ?" Tanya Roichi.


"Istri anda pingsan Pak. Cepat Pak." Ucap pelayanan tersebut dengan wajah panik.


Roichi langsung berlari menuju, mejanya tadi. Melihat Belva yang sudah tergeletak dilantai, Roichi langsung mengangkatnya.


"Maaf Tuan Satya, saya harus pergi." Roichi masih sempat berpamitan dengan Satya yang mengikutinya dari belakang.


Satya sempat melihat wajah Belva, ia menebak jika memang perempuan muda itu memang istri dari Roichi. Perlakuan Roichi dan penuturan beberapa orang yang melihat mereka dan mengatakan jika mereka adalah sepasang suami istri. Hal itu membuat Satya semakin kuat untuk menembak jika memang Belva adalah istri dari Roichi.


"Silahkan Tuan Roi. Semoga istri anda baik-baik saja." Ucap Satya.


"Ada apa dengan istrinya ?" Tanya Sonia. Wanita itu tak melihat wajah Belva karena tertutup rambut Belva sendiri yang panjang. Sedangkan Satya hanya menghendikan bahu acuh untuk menjawab pertanyaan Sonia.


Roichi mempercepat langkahnya menuju keluar Mall. Melihat majikannya sedang kerepotan langsung saja sopir mendekatkan mobil pada pintu keluar Mall.


Sopir segera membuka pintu untuk Roichi dan Belva. Pria itu juga bingung mengapa majikannya harus digendong seperti itu.


"Ada apa dengan Nona, Tuan ?" Tanya sopir.


"Pingsan, dia tidak enak badan." Jawab Roichi cepat dan masuk ke dalam mobil.


"Mami... Mami kenapa ?" Tanya Kaila panik dan menangis melihat Maminya tak sadarkan diri.


"Opmud Mami kenapa ?" Kini Kaili yang bertanya dengan raut wajah panik dan khawatir. Matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Mami sedang tidak enak badan sayang. Kita bawa Mami ke rumah sakit dulu ya."


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™

__ADS_1


__ADS_2