
Pagi hari yang terlihat sangat cerah, Bella kembali pada rutinitasnya untuk menjaga butik. Ia tak pernah mengejar Belva untuk segera masuk ke butik dan bekerja bersamanya. Permasalahan yang semakin hari bukan semakin mereda tapi justru semakin menganga dengan bertambahnya permasalahan baru.
Semalam Bella sudah menceritakan apa yang terjadi pada kedua anaknya di sekolah kemarin. Hati ibu mana yang tidak sakit saat mendengar jika anak-anaknya tetap dirundung masalah. Kekerasan yang didapatkan oleh Duo Kay tentu menbah daftar kesakitan dalam hati Belva.
Ia merasa semakin hari semakin lelah menghadapi permasalahan. Harus menanggung rasa cemas dan ketakutan sepanjang hari. Semakin lama ia merasa mentalnya semakin down. Tak bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya sama seperti orang-orang lain.
Kini pikirannya juga bertambah mengenai kedua anaknya. Semakin takut jika kedua anaknya merasa trauma, mental seorang anak kecil juga rentan jika terus menerus ditekan oleh permasalahan yang sama yang tidak ada habisnya.
Ia sudah memutuskan, untuk hari ini akan mengajak kedua anaknya untuk pergi sementara waktu. Meninggalkan kota Jakarta dengan berbagai tekanan di dalamnya.
"Kak, kamu jadi pergi ?" Tanya Bella.
"Ya aku rasa butuh suasana baru. Anak-anak juga butuh menghilangkan tekanan yang mereka rasakan. Jika terus berada di sini, aku merasa ruang gerakku dan anak-anak menjadi terbatas. Bahaya bisa sewaktu-waktu datang mengancam. Aku tak masalah jika itu terjadi padaku tapi aku lebih takut jika itu terjadi pada anak-anak Bella."
"Ya kamu benar kak. Kalian butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi aku harap setelah itu jangan terus bersembunyi seperti ini. Kamu tidak sendiri... ada aku, Ayah, Tuan dan Nyonya Hector. Teman-temanmu juga sangat mendukungmu."
"Iya Bella. Aku butuh menenangkan diri sampai aku benar-benar siap maka aku akan kembali lagi ke sini."
"Jangan lama-lama. Aku pasti akan kesepian tanpa kalian." Bella memeluk Belva dengan sayang. Mereka berdua sudah seperti saudara kandung.
"Haha kenapa kamu jadi terlihat manja seperti ini ?" Belva memicingkan matanya.
"Kalian pergi, aku di rumah sendiri." Bella cemberut.
"Maafkan aku bila membuatmu susah hati Bella."
"Ishh... Bicara apa sih. Sudah bersiaplah aku akan mengantar kalian." Ucap Bella.
Belva segera berkemas, memasukkan beberapa barang pribadinya yang akan dibawa. Setelah itu masuk ke dalam kamar Duo Kay. Anak-anak itu sudah bangun dan menonton kartun di televisi yang ada di dalam kamar mereka.
Dengan penuh kelembutan Belva menjelaskan pada Duo Kay jika mereka hari ini tidak pergi ke sekolah tapi mereka akan menyusul Budhe Rohimah. Meski sedikit bingung tapi detik selanjutnya mereka tersenyum senang karena akan liburan.
Belva juga segera mengemasi barang-barang ke dalam koper milik Duo Kay. Mereka tak perlu membawa banyak barang karena Belva hanya membutuhkan beberapa hari saja di sana. Hanya sekedar menenangkan diri dari segala tekanan yang ada.
"Ayo kalian mandi dulu. Mami bantu ya. Ayo cepat... Cepat..."
Belva menggiring dua bocah itu ke dalam kamar mandi, mereka mandi bersama untuk saat ini karena waktu sudah sangat mepet Belva harus ke butik. Biasanya mereka mandi secara terpisah. Membiasakan diri karena mereka laki-laki dan perempuan maka sedari dini harus diberikan pengertian-pengertian akan perbedaan yang mereka miliki.
Selesai membantu menyiapkan Duo Kay, kini gantian Belva yang mempersiapkan diri dengan berpenampilan sederhana tak terlalu mencolok karena mereka hanya akan menggunakan travel saja. Itu Belva lakukan hanya untuk menikmati perjalanan saja.
Sarapan pagi mereka lakukan dengan penuh keceriaan. Duo Kay tak berhenti berbicara terlebih Kaila yang memang tipe anak yang ceriwis. Mereka sibuk membicarakan tentang rencana mereka berlibur hari ini.
"Sudah siap ? Ayo kita berangkat." Ucap Bella.
"Sudah aunty." Jawab Kaila semangat.
Belva dan Bella membawa koper ke dalam mobil. Hari ini Bella akan mengantar Belva ke pool travel. Bella yang mengendarai mobil, ia tak ingin Belva kelelahan nanti karena wanita itu juga harus menjaga Duo Kay saat perjalanan nanti.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit sampai di pool travel. Ternyata bus travel sudah siap dan sebentar lagi akan berangkat. Bella membantu Belva untuk mengangkat koper. Selanjutnya koper diurus oleh pihak travel masuk ke dalam bagasi mobil.
"Sayang-sayangnya aunty selamat menikmati perjalanan liburan kalian. Jangan nakal ya. Jangan buat Mami kerepotan. Oke." Pesan Bella sebelum mereka memasuki bus travel.
"Siap aunty." Jawab Duo Kay.
Masing-masing dari bocah itu mencium pipi Bella dan menyalami tangan Bella sebagai tanda pamitan. Bella tak lupa memeluk mereka.
"Hati-hati kak. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku atau Ayah. Aku pasti akan sangat merindukan kalian." Bella memeluk Belva.
"Iya Bella ku sayang. Hati-hati di rumah, suruh Ayah mu tidur di rumah untuk menemani mu. Dia masih ada di Jakarta bukan ?" Belva juga membalas pelukan Bella
"Tentu kak. Ya sudah sana masuk."
Pelukan mereka terpisah saat Kaili memanggil Belva untuk segera masuk. Roichi memang masih ada di Jakarta tapi pria itu jarang menginap di rumah minimalis Belva. Mungkin saat weekend yang lebih sering karena waktu itu ia khususkan untuk Duo Kay. Tapi jika hari biasa Roichi berada di Jakarta, dia lebih memilik tidur di rumah besar Tuan Hector.
Belva dan Duo Kay sudah masuk ke dalam bus travel. Saat bus itu bergerak melajukan kecepatannya. Bella juga berlalu dengan mobilnya ke butik.
Seperti tujuan Belva, menggunakan travel adalah caranya untuk menikmati perjalanan menuju Surabaya. Duo Kay mereka sangat senang sekali bisa melakukan perjalanan dalam waktu yang lama menggunakan bus kecil itu.
Keceriaan terjadi diantar mereka bertiga dalam perjalanan. Tak jarang celotehan Duo Kay mengundang perhatian beberapa penumpang yang ada di dalam bus travel itu. Mereka merasa senang melihat kelucuan Kaila si gadis kecil yang ceriwis. Terkadang ada juga yang menawari Duo Kay makanan ringan yang mereka bawa. Dengan sopan Duo Kay menerima itu menjadi point positif bagi mereka dihadapan orang lain.
Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih 11 jam, mereka berhenti di alamat yang pernah diberikan oleh Budhe Rohimah. Karena sejak Belva di bawa oleh Budhenya itu, tujuh tahun yang lalu. Belva tak pernah lagi pulang ke kampung halamannya. Sejak peristiwa bencana longsor itu. Dan saat Budhe Rohimah kemarin pulang kampung, alamat rumah yang diberikan adalah alamat rumah keluarga almarhum suami Budhe Rohimah.
Budhe Rohimah saat itu sedang berkumpul bersama keluarga di rumah itu. Mendengar suara mesin mobil yang tengah berhenti di halaman rumah mereka, dengan rasa penasaran mereka keluar rumah.
"Utiiii..." Teriak Duo Kay.
Masih terlihat wajah mereka yang baru bangun tidur karena beberapa saat sebelum sampai mereka yang tengah tertidur dibangunkan oleh Belva.
"Kaila... Kaili..." Gumam Budhe Rohimah.
"Siapa itu mbak." Tanya saudara Budhe Rohimah.
Belva berdiri dengan dua koper yang ada disebelahnya, setelah bus travel itu berlalu ia mulai berjualan mendekat. Duo Kay sudah memeluk Budhe Rohimah.
"Belva."
"Itu Belva anak Merry dan Abraham." Ucap Budhe Rohimah.
"Ohh astaga... Sudah besar dia. Dulu masih SD waktu aku bertemu saat itu."
"Lalu dua anak ini ? Anak Belva ?" Tanya saudara Budhe Rohimah.
Belum terjawab pertanyaan itu, Belva sudah menyapa Budhe Rohimah. Pelukan hangat Belva berikan pada budhe Rohimah.
"Nduk... Kamu kok tiba-tiba ada disini ? Tidak bilang-bilang kalau mau datang."
"Kejutan buat Budhe." Ucap Belva tersenyum.
"Budhe terkejut loh nduk. Oh iya ini masih ingat tidak kamu sama Bulek Janti."
"Bulek... Belva masih ingat." Belva menyalami Bulek Janti.
"Ini anak-anak mu Belva ?" Tanya Bulek Janti.
"Iya Bulek."
"Ya sudah ayo masuk. Di luar dingin kasihan anak-anakmu pasti mereka kelelahan." Ajak Bulek Janti.
Kebetulan makan malam belum mereka lakukan. Jadi setelah membersihkan diri mereka semua makan malam bersama. Di tengah kegiatan makan malam seseorang datang. Seorang pria yang jarak usianya tak jauh dari Belva.
"Nak, kamu sudah pulang ? Cuci tangan dulu lalu sini bergabung dengan kami." Ucap Bulek Janti.
Pria itu mengangguk menurut, tapi tatapan matanya mengarah pada Belva dan dua bocah kecil yang belum ia kenal.
"Kenalkan Nak, ini Belva dan itu dua anaknya yang laki-laki namanya Kaili dan yang perempuan namanya Kaila."
"Belva, kenalkan ini Virgo anak Bulek Janti."
Belva mengangguk tersenyum, Virgo pun membalas senyuman dari Belva. Duo Kay sibuk dengan makanan mereka. Setelah makan malam selesai, Belva langsung mengantar Duo Kay ke kamar mandi untuk menggosok gigi sebelum tidur demikian juga Belva. Mereka sangat kelelahan jadi lebih memilih tidur terlebih dahulu.
"Nduk... Kamu sementar waktu tidur di kamar Virgo dulu ya. Biar besok kamar sebelah Budhe bersihkan dulu. Kamu mendadak kesini jadi belum ada persiapan."
"Maaf ya Budhe, merepotkan kalian." Ucap Belva merasa bersalah.
__ADS_1
"Tapi apa tidak apa-apa kalau kamarnya Belva dan anak-anak pakai ? Kami bisa kok tidur di depan televisi tidak masalah." Ucap Belva.
"Tidak apa-apa Mbak. Pakai saja biar aku yang di depan televisi." Ucap Virgo.
Tak mungkin kan dia seorang pria tega membiarkan wanita dan anak kecil tidur di luar kamar. Hawa dingin bisa saja membuat mereka sakit terlebih mereka dalam keadaan lelah.
"Maaf mas kamarnya kupakai. Terima kasih sudah diijinkan." Ucap Belva dan Virgo hanya tersenyum mengangguk.
Sebenarnya kedua orang itu hanya terpaut jarak tiga tahun dengan Virgo lebih tua dari Belva. Hanya Virgo menghargai Belva seseorang yang baru saja di kenalnya.
Belva tidur di kamar Virgo, layaknya kamar seorang pria. Kamar itu terlihat maskulin, tapi terlihat rapi. Ranjang berukuran sedang itu untungnya cukup digunakan oleh Belva dan kedua anaku meski harus berdempetan.
Malam semakin larut merek semua tertidur dengan lelapnya. Malam hari begitu dingin, Virgo cukup merasa kedinginan tidur di depan televisi. Tapi itu sudah terbiasa baginya yang sering ketiduran di depan televisi akibat bergadang menonton bola atau film action.
Pagi hari seperti biasa Belva selalu bisa bangun pagi. Seperti sudah tersetting oleh alarm yang menempel di matanya. Begitu sudah pukul tiga atau empat dia sudah bangun.
Begitu juga Budhe Rohimah dan Bulek Janti keduanya juga sudah bangun. Mereka bertiga bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah. Belva membantu membersihkan rumah. Saat menyapu ia melihat Virgo dengan sarungnya tidur meringkuk di depan televisi. Merasa kasihan Belva menyuruh Virgo untuk pindah ke dalam kamarnya sendiri. Meski masih ada Duo Kay disana. Tapi rupanya pria itu menurut saja tanpa menyadari siapa yang menyuruhnya pindah.
Semua pekerjaan rumah telah selesai beriringan dengan waktu yang terus berjalan. Hari ini adalah hari pertama bagi Belva dan Duo Kay menikmati pagi mereka di Surabaya. Rumah Bulek Janti masih terletak di area perkampungan jadi suasana disana masih cukup asri dengan udara yang segar.
"Nduk... Budhe ke rumah Mbah Minto dulu ya. Jaga Mbah Minto nanti sore batu pulang kalau anak-anaknya sudah pulang kerja." Pamit Budhe Rohimah.
"Iya Budhe. Hati-hati." Jawab Belva tak lupa menyalami dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
Tak lama Kaila keluar dengan keadaan menangis, gadis kecil itu berada dalam gendongan Virgo sedangkan Kaili bejalan mengikuti Virgo.
"Mbak, ini anaknya menangis." Ucap Virgo.
"Loh... Kaila kenapa sayang. Turun dulu kasihan om nya keberatan gendong kamu." Ucap Belva.
Virgo menurunkan tubuh Kaila yang lebih gembul dari Kaili. Memang cukup berat saat menggendong Kaila. Tapi bagi Virgo yang seorang pria pasti takkan merasakan hal itu.
"Mamii....ini dimana ?" Rengek Kaila.
Mungkin gadis kecil itu masih asing pada lingkungan barunya. Lucu anak itu tadi malam bahkan sudah mwngikuu kegiatan makan malam tapi masih belum hafal dimana dirinya berada.
Belva tersenyum mendengar pertanyaan Kaila. "Sayang, ini kan kita lagi di rumah Uti, apa kamu lupa hemm ?"
"Mami..." Tunjuk Kaili pada sekelompok anak kecil yang tak jauh di depan rumah. Tampak raut wajah Kaili cukup tegang saat melihat sekelompok anak-anak itu.
"Oh...mereka anak-anak sini kalau pagi suka jalan-jalan di sekita sini setiap sebelum sekolah." Ucap Virgo.
Belva mengangguk. "Tidak apa-apa sayang, mereka hanya jalan-jalan bersama saja. Mereka anak-anak baik. Kaili mau jalan-jalan juga ?" Tanya Belva.
"Tapi tidak sama mereka kan ?" Tanya Kaili.
"Sama Mami dan Kaila. Kita jalan-jalan sekita sini sebentar. Oke." Ucap Belva.
Sepertinya kailia merasa sedikit ketakutan kala melihat segerombolan anak kecil. Belva menyadari itu, mengingat baru saja kemarin terjadi aksi pengeroyokan yang dialami Kaili dan mirisnya justru Kaili yang disalahkan atas aksi itu.
Virgo memperhatikan ibu dan anak itu. Sedikit heran atas tingkah Kaili saat merasa takut berhadapan dengan anak-anak kecil yang lain. Tapi pria itu tak ingin bertanya untuk saat ini.
"Perlu kutemani ? Sekalian aku akan ke sawah untuk memetik daun singkong." Ucap Virgo.
"Boleh." Jawab Belva.
"Ayo sayang kalian cuci muka dulu. Nanti ikut Om jalan-jalan ke sawah."
Saat ini mereka sudah berada di sawah. Melewati jalan setapak yang kanan kirinya hanya ada lumpur. Jika terpeleset maka sudah bisa dipastikan akan jatuh ke sawah ke dalam lumpur itu.
Belva menemani dua anaknya bermain di sawah. Mereka sangat senang bisa bermain di aliran sungai kecil yang ada disana guna pengairan sawah.
"Kaila tangkap Kaila !!" Teriak Kaili.
Saat ini mereka sedang sibuk menangkap ikan kecil-kecil yang ada di selokan itu. Meski air itu berada di area persawahan tapi air itu masih terlihat jernih.
Gelak tawa terdengar dari kegita manusia yang pernah hidup di Jerman itu. Dalam sekejap mereka tak memikirkan permasalahan yang tengah merundung mereka.
Virgo tersenyum sembari menggelengkan kepala saat melihat mereka begitu senang bermain di sana. Satu kantong plastik besar telah penuh dengan daun singkong.
"Masih mau main di sini ?" Tanya Virgo.
Belva menoleh ke arah Virgo. "Sudah selesai ?"
"Sudah... Habis ini mau ke warung." Ucap Virgo.
"Kaila... Kaili... Ayo sayang kita pulang. Om nya sudah selesai."
"Sebenatar Mami..." Ucap Kaila.
Rupanya gadis kecil itu masih betah bermain disana. Sumur hidup Kaila batu kali ini merasakan permainan yang berbeda dan seru seperti ini. Begitu juga Kaili mereka asik berendam di aliran kecil itu. Mereka merasakan hal berbeda, tak sama seperti saat berendam di kolam renang.
"Mas, duluan saja. Mereka masih mau disini."
"Tidak apa-apa, kita tunggu saja sebentar lagi." Ucap Virgo.
Hingga hampir tiga puluh menit. "Sayang sudah yuk... Besok laginkita mainnya. Kasihan Om nya harus pergi lagi setelah ini." Bujuk Belva.
Dengan hati tak rela mereka naik dari aliran sungai itu. Baju mereka basah kuyup, Belva pun sama meski tak separah anak-anaknya karena ulah jahil Duo Kay.
Kaila cemberut saat disuruh pulang. Gadis kecil itu merajuk, berjalan cepat di jalan setapak. Belva sudah mengatakan jika mereka harus berhati-hati saat berjalan disana. Tapi Kaila mengabaikan nasehat Maminya.
Bruukk... !!
Sebagian wajah dan tubuh Kaila nyemplung ke dalam lumpur. Mereka semua terkejut saat Kaila terpeleset dan jatuh ke dalam lumpur.
"Kaila..." Pekik Belva khawatir.
Kaili, pria kecil itu tertawa terbahak-bahak saat melihat kembarannya jatuh terperosok ke dalam lumpur.
"Ahahahahah." Tawa Kaili pecah saat melihat sebagian wajah dan tubuh Kaila kotor.
"Hwaa... Mamiii..." Rengek Kaila.
Virgo pun terkejut, ingin tertawa tapi sebisa mungkin dia tahan karena biasanya anak kecil jika ditertawakan akan semakin kencang menangis.
Belva segera menolong Kaila untuk berdiri. Ia meringis melihat wujud Kaila setelah terjatuh dari lumpur itu.
"Iiihh... Mamii... Kenapa Mami mukanya begitu." Kaila semakin merajuk.
"Tidak sayang, ayo jalan lagi. Mami sudah bilang hati-hati tadi."
"Di depan ada selokan irigasi. Kita bersihkan lumpurnya nanti disana." Ucap Virgo.
Sampi di selokan iritasi Virgo membantu Belva membersihkan tubuh Kaila. Kaili, pria kecil itu masih terkikik sejak tadi membuat Kaila semakin kesal.
"Mamiii... Kaili nakal huuuhuuu."
"Kak... Jangan begitu dong kasihan Kaila." Tegus Belva.
"Hahaha habis Kaila lucu Mi. Makanya kalau dibilang itu jangan ngeyel. Iya kan Mi ?" Kaili tetap mencari pembenaran.
Penampilan mereka sudah kacau, sampai di rumah mereka semua bergantian kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu sarapan bersama. Budhe Rohimah dan Bulek Janti sudah sarapan lebih awal. Bulek Janti saat ini berada di pasar. Pekerjaannya sebagai seorang pedagang.
__ADS_1
"Mbak, saya pamit dulu mau ke warung." Ucap Virgo.
"Oh iya hati-hati." Jawab Belva.
Belva tak paham, kenapa ke warung saja harus serapi itu. Apakah sekalian bekerja pikir Belva.
"Om mau ke warung ?" Tanya Kaila.
"Iya, ada apa ?"
"Boleh ikut ? Aku mau jajan." Pinta Kaila. Dipikirannya selalu saja jajan dan makanan.
Kaili mencebikkan bibirnya. "Boros."
"Tapi om lama di warung. Nanti kamu tidak betah."
"Kamu mau main di warung ? Apa jualan ?" Tanya Belva.
"Jualan Mbak." Jawab Virgo.
"Tidak usah ikut Kaila nanti kamu mengacau disana. Om nya kerja sayang."
Kaila kembali murung, keinginannya untuk jajan banyak cemilan tak bisa terpenuhi. Melihat itu Virgo tak tega.
"Beneran mau ikut ? Tapi di sana om tidak bisa jaga kalian. Pulang nya juga malam."
Akhirnya Duo Kay ikut dengan ditemani Belva. Karena wanita itu juga bingung harus kemana hari ini. Mereka baru saja tiba dan tidak tahu harus kemana. Tidak ada kendaraan yang bisa digunakannya.
Dengan membonceng motor matic milik Virgo ibu dan anak itu melaju menuju warung tempat kerja Virgo. Kaili duduk di depan sedangkan Kaila dan Belva duduk di belakang. Tak lama mereka berhenti di sebuah warung makan.
"Ayo turun." Ajak Virgo dengan membawa sekantong plastik besar berisi daun singkong yang tadi di petiknya.
"Katanya mau ke warung om." Protes Kaila.
"Iya ayo masuk dulu."
Belva dan Duo Kay dengan pasrah mengikuti saja. Sampai di dalam warung makan itu masih sepi karena memang masih pagi.
"Pagi mas Virgo." Sapa wanita paruh baya.
"Pagi Bu. Ini daun singkong nya. Yang lain mana ?"
"Pada di belakang semua mas bantuin masak."
"Oh oke. Saya masuk dulu ya." Pamit Virgo.
"Ayo ikut." Ajak Virgo pada Belva dan Duo Kay.
Ibu paruh baya itu memperhatikan wanita muda yang cantik itu dan juga dua bocah kecil yang tak kalah cantik dan tampan. Ia mengernyitkan dahi, penasaran dengan orang-orang yang dibawa oleh pria itu.
Sebuah ruangan yang berukuran sedang, dengan meja kerja yang juga berukuran sedang dan layar komputer diatasnya. Tak satu mini set sofa juga ada disana.
"Kenapa kita disini ?" Tanya Belva.
"Katanya kalian mau ikut ke warung. Ya disini Mbak. Tunggi disini atau kalian juga bisa jalan-jalan mengelilingi warung ini."
"Oh kamu kerja disini." Gumam Belva yang terdengar oleh Virgo.
"Iya Mbak."
"Terus aku jajan dimana ?" Tanya Kaila.
"Kamu jajan terus." Ucap Kaili.
Virgo hanya tersenyum, lalu pria itu keluar dari ruangan. Belva dan Duo Kay tak menanyakan orang itu akan pergi kemana. Tak lama pria itu kembali dengan kanting kresek berisi banyak makanan. Kaila tentu saja matanya berbinar saat disodorkan sekantong berisi makanan itu.
Hari-hari mereka diisi dengan segala kegiatan yang menyenangkan di kampung itu. Duo Kay tampak begitu akrab dengan Virgo karena pria itu tipe orang yang ramah dan juga supel. Mudah sekali bergaul dengan siapa saja. Bahkan mereka justru lebih sering ikut Virgo ke rumah makan itu hampir setiap hari. Belva ikut membantu Virgo melayani pembeli.
Warung makan itu adalah milik Virgo yang dibangun lima tahun yang lalu. Duo Kay mengapa bisa betah berada di tempat itu ? Itu karena disana juga ada anak kecil sebaya dengan mereka, meski awalnya takut Belva berusaha membujuk dan memberikan pengertian positif bahwa tak semua anak itu nakal. Perlahan Duo Kay terutama Kaili bisa berbaur lagi dengan anak-anak seusianya.
Benar kata Maminya mereka bukan anak-anak yang nakal. Justru mereka mengajak Duo Kay bermain di sekitar warung. Memancing, mengumpulkan keong emas yang ada di pinggiran sawah dekat warung makan Virgo, bermain petak umpet, bermain lompat karet dan beberapa permainan yang sering dimainkan anak-anak di kampung itu.
Bocah kembar itu kini telah lupa dengan masalah yang sempat membuat mereka ketakutan. Belva pun sama ia begitu menikmati aktivitasnya di tempat itu. Di warung itu Belva bisa berinteraksi dengan bebas tanpa takut harus bertemu dengan Sonia ataupun Alya.
Weekend pun tiba, tanpa diketahuinya Roichi datang menyusul Belva dan juga Duo Kay. Pria itu sudah tiba sejak sore tadi, disambut oleh Budhe Rohimah. Mengapa Roichi bisa tahu alamat tempat tinggal Budhe Rohimah ? Itu karena Bella mengetahuinya dan mengatakan pada Roichi jika ibu dan anak itu sedang menenangkan diri di kampung keluarga almarhum suami Budhe Rohimah.
"Papiii...." Teriak Kaili saat masuk ke dalam rumah dan melihat sosok yang selalu berlaku hangat padanya.
Roichi menoleh dan tersenyum. Merentangkan tangan menyambut Kaili dan juga Kaila.
"Papii... Kok Papi ada di sini ?" Tanya Kaila.
Budhe Rohimah mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan Duo Kay pada Roichi. Baru kali ini ia mendengar mereka memanggil pria itu dengan sebutan Papi.
Virgo dan Belva masuk ke dalam rumah. Wanita itu juga terkejut melihat kedatangan Roichi. Virgo hanya diam memperhatikan, ia tak mengenal pria dengan kemeja hitam yang digulung hingga siku itu. Kemeja yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Nduk mereka ?" Seakan tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Budhe nya Belva hanya tersenyum.
"Nanti Belva cerita." Jawab Belva.
"Om kok bisa disini ?" Tanya Belva.
"Bella mengatakan kalian disini, jadi aku susul kalian. Kamu lupa ini weekend ?"
Belva hanya mengangguk. "Sudah dari tadi ?"
"Sejak sore. Kalian dari mana ?" Tanya Roichi.
"Dari warung mas Virgo." Ucap Belva.
"Om kenalin ini Papi kita." Ucap kaila pada Virgo.
Pria itu baru paham jika pria itu adalah ayah dari si kembar dan suami dari Belva. Dia mendekat lalu menjabat tangan Roichi serta saling memperkenalkan diri.
"Aku masuk dulu. Ayo anak-anak." Ajak Belva.
"Nanti, aku mau sama Papi." Tolak Kaili.
"Aku juga." Jawab Kaila.
Belva menghela napas, sudah seperti itu jika pria berwajah Asia itu berada diantara mereka. "Yayaya baiklah. Mami masuk dulu."
Roichi terkekeh melihat respon Belva yang merasa kalah jika sudah ada dirinya. "Jangan marah, mereka terlalu merindukanku."
"Hemm... Budhe ayo ikut." Ajak Belva.
Budhe Rohimah mengikuti Belva, ia ingin menanyakan apa yang terjadi selama dirinya pergi dari rumah. Belva menceritakan semuanya tanpa sedikitpun ia tutupi jika bersama Budhe Rohimah. Wanita paruh baya itu sangat memahami. Belva mengatakan jika tidak ada yang boleh tahu akan hal itu, mengingat apa yang baru saja terjadi pada dua anaknya. Ia ingin menghindari cemoohan orang lain pada kedua buah hatinya.
****
ππππππππππππππππ
Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. βΊοΈ
__ADS_1
Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. βΊοΈπ€²π
...Bonus hari ini buat kalian my dear yang masih selalu setia dan support author...