Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 57. Let's Play


__ADS_3

Para ART langsung membawa Sonia ke rumah sakit terdekat dengan diantar oleh Pak Jajak menggunakan mobil yang biasa dipakai untuk mengantar para ART belanja kebutuhan rumah.


Mereka begitu syok mengetahui apa yang baru saja terjadi. Majikan mereka melakukan aksi kekerasan yang akan berakibat fatal jika saja Mbok Yati dan Jordi tak datang dengan cepat. Dalam keadaan marah, Mbok Yati tak pernah berani mendekati Satya. Kecuali Budhe Rohimah, wanita yang telah memutuskan keluar dari rumah Satya itu lah yang berani mendekati Satya dan menenangkan Satya.


Di klinik, Satya sudah ditangani oleh dokter. Pria itu mendapatkan sedikit jahitan di kepalanya. Sejak tadi Satya hanya diam tak bersuara, wajahnya masih terlihat menakutkan. Dokter pun sebenarnya merasa sungkan dan takut saat menangani luka Satya.


Begitu selesai, Satya tak ingin kembali pulang ke rumahnya. Pria itu ingin menenangkan diri. Apartemen Jordi yang kini menjadi tempat singgah sementara untuk Satya.


"Tuan apa yang terjadi tadi ?" Tanya Jordi memberanikan diri.


"Wanita murahan itu mencoba melukaiku."


Jordi menghela napas. Sonia bukan main wanita itu nekat melakukan segala sesuatu. Jordi tak lagi bertanya, perasaan Satya pasti saat ini sedang tak baik-baik saja. Cari aman Jordi pergi ke dapur membuatkan minuman untuk bos-nya.


"Minumlah dulu Tuan."


"Bagaimana proses perceraian itu selanjutnya ?" Tanya Satya.


"Pengacara yang akan mengurusnya Tuan."


"Pastikan secepat mungkin keputusannya. Lakukan apa saja agar wanita itu resmi bercerai denganku."


"Baik Tuan. Saya ambilkan baju ganti untuk Tuan dulu." Jordi pergi ke kamarnya untuk mengambil pakaian miliknya. Baju Satya sudah kotor bersimbah darah.


"Gantilah baju anda Tuan. Darah banyak menempel pada baju yang anda gunakan."


Diterima Satya pakaian milik Jordi. Dibukanya baju kotor itu dan diganti dengan pakaian milik Jordi.


****


Alya yang tengah berkumpul bersama teman-temannya masih belum mengetahui apa yang terjadi dengan orang tuanya. Para ART tak memberikannya kabar. Mereka enggan berbicara dengan Alya yang ketus meski itu hal yang penting. Biarkan gadis itu tahu dengan sendirinya.


"Ck... Jack susah sekali dihubungi." Gumam Alya.


"Kenapa Al ?" Tanya Kristal.


"Jack susah sekali dihubungi sekarang."


"Punya gandengan baru kali." Ucap Gwen asal.


Gwen dan Alya saat ini tak cukup baik hubungan mereka. Gwen masih kesal dan marah pada Alya. Sedangkan Alya sikapnya memang menyebalkan tak pernah mau meminta maaf dan merasa bersalah atas setiap perilakunya. Meski begitu mereka tetap masih hang out bersama.


"Jangan sembarangan bicara kamu ! Tak mungkin Jack berani seperti itu. Dia mencintai ku." Ucap Alya.


"Cih... Lihat saja nanti. Biasanya jika pria susah dihubungi seperti itu karena alasan tertentu salah satunya adalah dia memiliki pasangan baru." Ucap Gwen dengan santai.


"Tapi apa yang dikatakan Gwen ada benarnya juga sih Al. Tapi kamu tenang saja jika Jack mencintaimu dia tidak akan tega padamu." Ucap Kristal yang menjadi penengah.


Alya terdiam sebenarnya ia merasa kesal atas ucapan Gwen tapi ia mencoba percaya jika Jack tak akan melakukan hal itu.


"Guys... Ada yang bisa bantu aku tidak ?" Tanya Alya.


"Bantu apa Al ?" Tanya Kristal.


Alya membisikan sesuatu pada Gwen dan juga Kristal. Ia tak berani mengatakannya secara langsung karena saat ini sedang berada di tempat umum.


"Tidak bisa !" Jawab Gwen dengan cepat.


"Maaf Al kalau untuk hal itu aku juga tidak bisa." Jawab Kristal.


"Haishh... Ya sudah jika tidak bisa biar aku sendiri saja. Punya teman tidak setia kawan."


"Sudah aku pulang dulu." Ucap Alya.


Gadis itu pergi meninggalkan teman-temannya. Wajahnya ditekuk masam karena mereka tak mau membantunya. Gwen masih menatap tak suka.


"Sudah gila dia ? Sampai segitunya melakukan hal ekstrim begitu." Ucap Gwen.


"Aku juga tak menyangka Alya akan nekat seperti itu. Tapi sudahlah jika kita memberitahukannya pasti tetap akan dilakukannya." Ucap Kristal.


Alya memang gadis nekat sama seperti ibunya. Tidak heran, gen Sonia lebih mengalir kuat dalam diri Alya terlebih mengetahui bagaimana sikap ibunya tak mungkin jika dirinya tak mengikuti jejak ibunya.


Sampai di rumah, Alya memarkirkan mobilnya di garasi. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar. Perasaan kesal dan marahnya saat ini menjadi satu. Banyak hal yang dipikirkannya, tentu hal itu adalah sesuatu yang seharusnya tak menjadi beban pikirannya. Ia menenangkan dirinya di dalam kamar sendirian, mengunci pintu agar tak ada orang lain yang menggangu dirinya.


ART yang tahu Alya pulang tak berani menghentikan langkahnya. Dibiarkan saja gadis itu melangkah ke dalam rumah hingga kamar. Ia akan keluar dengan sendirinya nanti jika lapar atau membutuhkan sesuatu. Sikap yang ketus dan kasar membuat ART yang ada di rumah itu malas.


Hampir seharian Alya tak lagi keluar kamar, entah bahkan rasa lapar pun ditahannya demi merasakan ketenangan di dalam kamarnya. Ia seakan tak perduli dengan keadaan rumahnya.


Satya pun tak kembali sejak kejadian diantara dirinya dan juga Sonia. Lebih memilih tidur di apartemen Jordi. Rumahnya seakan menjadi tempat yang tak lagi menyenangkan. Rumah yang diharapkannya menjadi tempat ternyaman justru hanya meninggalkan kenangan buruk baginya.


****


Dua hari Sonia di rumah sakit dengan ditemani oleh salah satu ART yang menjaganya. Jika saat sakit biasanya keluarga yang menjaga tapi ini Sonia tak ada satupun keluarga yang menjaga. Satya sudah jelas tak akan sudi bertemu dengan Sonia lagi. Putrinya tak tahu sama sekali keadaannya. Bahkan kekasihnya Faris pun boro-boro mengetahui.


Pria itu sedang pergi entah kemana Sonia tak tahu saat setelah mendapatkan file di meja kerja Satya, dirinya langsung berniat mengantarkan nya pada Faris tapi sampai di rumah Faris, asisten rumah tangga mengatakan jika pria itu pergi entah kemana dengan membawa koper kecil.


Sonia kesal sebenarnya karena kekasihnya itu tak mengabari dirinya jika pergi. Tapi, wanita itu berpikir jika kekasihnya sedang ada urusan pekerjaan di luar kota.


Sonia sudah sadar, ia masih terbayang akan kejadian yang menimpanya kemarin. Kesal karena Satya beraninya menceraikan dirinya dan juga takut, Satya tak main-main mencekik lehernya hingga dirinya masuk ke rumah sakit saat ini.


"Pria itu benar-benar seperti monster saat marah." Ucap Sonia dengan memegang lehernya bekas cekikan Satya.


"Nyonya, anda sudah bangun ? Anda ingin sesuatu ?" Tanya ART.


"Mana ponselku ?"


"Maaf Nyonya kami tak membawa ponsel Anda."


"Nanti kamu pulang ambil ponsel saya. Alya tak kesini ?"


"Baik Nyonya. Non Alya tidak kesini Nyonya."


Sonia memilih diam, lehernya masih sakit. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Alya saat dicekik oleh Belva saat berada di mall beberapa waktu lalu.


Entah sebuah karma atau bukan yang jelas seorang yang berperangai buruk akan mendapatkan hal buruk pula yang menimpanya.


Dirinya saat ini berpikir bagaimana bisa Satya pria yang dianggapnya bodoh itu bisa mengetahuinya rahasia dirinya selama ini. Bahkan bisa mendapat foto-foto mesranya bersama Faris.


"Apa Satya sudah mengetahui hal itu sejak dulu ya tapi dia pura-pura tak tahu." Batin Sonia.


Yang sebenarnya, Satya saat itu tak mengetahui. Pria itu lebih cenderung cuek atas apa yang dilakukan Sonia. Percuma memikirkan apa yang Sonia lakukan jika wanita itu tak mau diatur oleh Satya. Jadi, Satya lebih memilih terserah dan membiarkan Sonia.


Jordi yang sudah lama curiga dan diam-diam tanpa sepengetahuan Satya menyelidiki apa yang Sonia lakukan. Hingga dirinya bertemu dengan pemilik FF Group di pertemuan rapat mereka di Surabaya. Jordi semakin keras mencurigai jika memang terjadi permainan oleh orang dalam antara pemilik FF Group dan juga Sonia.


****


Alya masih mengira jika Mommy nya sedang berkumpul bersama teman-teman nya. Ia pun sibuk dengan aktivitas dirinya sendiri. Saat Alya sedang berkendara menuju tempat dimana dirinya harus bertemu teman-temannya. Tak sengaja di tengah jalan dirinya justru melihat pemandangan yang mampu membakar pikiran dan hatinya.


Jauh di depan sana, manik matanya mampu melihat dengan jelas siapa seseorang yang ada di depan sana.


Satya, pria pemilik perusahaan besar itu berada di pinggir jalan bersama seorang wanita dan dua orang anak kecil. Siapa lagi jika bukan Belva dan juga Duo Kay.


"Daddy ? Daddy bertemu dengan perempuan kampung itu ? Apa Daddy sudah tahu jika anak-anak itu adalah anaknya ?" Alya bermonolog di dalam mobilnya.


Rasa gelisah dan khawatir, hal yang selama ini dirinya dan Sonia tutupi apakah sudah terbongkar dengan sendirinya oleh Satya ? Alya kesal, jangan sampai kedua bocah itu mengalihkan perhatian sang Daddy. Selama ini dirinya sangat berharap bisa dekat dengan sang Daddy lagi. Jika ada dua bocah itu Alya takut Daddy nya lebih memilih anak-anak itu.


"Tidak usah Tuan. Sudah saya katakan kami bisa mencari taksi." Ucap Belva dengan wajah tak suka.


"Taksi disini sangat sulit sekali Nona." Ujar Satya.


Banyak orang yang lebih memilih memanggil Belva dengan sebutan Nona karena wanita itu yang masih terlihat sangat muda meski sudah memiliki dua orang anak.


"Anak-anak manis kalian ikut dengan uncle saja ya ?" Bujuk Satya pada Duo Kay.


"Mami ikut saja dengan Opmud." Ujar Kaila.


"Opmud ? Maksudnya apa itu ?" Tanya Satya bingung.


"Opmud itu Opa muda." Jawab Kaili.


Jedag jedug degup jantung Satya saat melihat dengan jelas wajah Kaili. Pria kecil itu begitu terlihat mirip dengannya.


"Bocah lelaki ini... Kenapa ucapan Jordi sangat sesuai. Anak ini mirip sekali dengan ku." Batin Satya.


"Ayo sayang kita jalan lagi." Ucap Belva menghentikan aksi Satya yang menatap lekat wajah Kaili.


Belva menggandeng dua lengan anak-anaknya. Satya tersadar lalu menghentikan langkah Belva dengan memegang bahu wanita itu.


"Maaf Nona. Apa anda tak kasihan pada anak-anak manis ini ? Mereka akan kelelahan berjalan."


Satya meski tahu itu mantan pembantunya tapi dirinya mencoba menghargai dan menghormati Belva sebagai istri dari rekan kerjanya.


"Mereka sudah biasa berjalan. Anda tak perlu khawatir." Ucap Belva ketus.


"Mami... Kakiku sakit, aku lelah." Ujar Kaila.


"Aduh Kailaaa... Anak ini kenapa tak bisa diajak kerjasama sih." Batin Belva menjerit gemas dan kesal.

__ADS_1


Satya menarik tipis ujung bibirnya. Perkataan Belva tak sesuai dengan ucapan anaknya yang sudah mengeluh kelelahan dan kesakitan.


"Lihatlah Nona."


"Kenapa anda memaksa sekali. Anda bisa abaikan kami."


"Saya tak mungkin mengabaikan istri dari rekan kerjaku."


Belva yang kesal tetap diam di tempat. Wajahnya sudah tertekuk masam. Selalu berharap bisa terhindar dari orang-orang di masa lalunya tapi justru kenapa jadi sebaliknya. Belva hanya tak ingin Sonia dan Alya mengganggu kehidupannya lagi.


Belva pun berpikir bagaimana nanti jika suatu saat Satya tahu kebenarannya. Apakah pria itu juga turut membencinya sama seperti yang dikatakan Sonia jika Satya tak akan menyukai anak yang dikandungnya. Wanita itu tak mau membayangkan terlalu jauh lagi. Sudah cukup keputusannya untuk merawat dan membesarkan Duo Kay sendiri. Ia pun tak ingin kedua anaknya terluka perasaannya hanya karena sebuah penolakan dari ayah kandung mereka.


"Apa anda akan tetap diam meski hujan mulai turun ?"


Hujan mulai turun setitik dua titik kecil dan perlahan akan menjadi titik-titik yang besar dan semakin deras.


Menyadari kondisi yang tak memungkinkan untuk kedua anaknya Belva terpaksa mau tak mau masuk ke dalam mobil Satya.


Tak perduli jika Satya adalah rekan kerja Roichi. Wanita itu duduk di belakang bersama dua bocah nya sedangkan Satya di depan seperti sopir. Hari ini Satya membawa mobil sendiri karena mobil Jordi sudah selesai servis.


"Astaga... Perempuan ini sudah berbeda sekali. Berani membuatku seperti sopir baginya." Gumam Satya dalam hati.


Jika status Belva masih menjadi asisten rumah tangga Satya tentu wanita itu tidak akan berani untuk melakukan hal seperti itu pada Satya.


Mau protes pun Satya malas, pasti istri dari Roichi itu akan bersikap ketus padanya. Dalam hati Satya merasa senang Belva mau mengikuti tawaran nya menumpang di dalam mobilnya.


Mobil Belva tiba-tiba saja mogok dan sudah dibawa oleh pihak montir. Rencananya dirinya dan Duo Kay akan memesan taksi online tapi entah kenapa pesanannya selalu ditolak. Di daerah itu pula susah mencari taksi.


"Ini kita mau kemana Nona ?" Tanya Satya.


"Ke butik jalan Kenanga." Ucap Belva.


Satya sudah persis seperti sopir bagi Belva saat ini. Jika Jordi mengetahui hal ini pasti pria itu akan kerepotan menahan tawanya. Seumur-umur Satya tak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Dirinya yang selalu duduk santai di kursi belakang dengan di sopiri oleh orang lain. Hari ini pria itu bisa merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Jordi hampir setiap hari.


Dalam perjalanan mereka tak ada bicara sama sekali kecuali Belva hanya menanggapi celotehan Duo Kay. Satya diam-diam melirik ke arah belakang melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya.


Canda tawa Duo Kay dapa dilihat dan di dengarkan dengan jelas. Senyuman dari seorang Belva membuat kadar kecantikannya bertambah.


"Cantik." Lirih Satya yang tak didengar oleh penumpang nya.


Perhatian Belva teralihkan dengan beberapa kerumunan di beberapa titik jalan. Ternyata para ojek online sedang berdemo. Pantas saja dirinya kesulitan mendapatkan taksi online.


Di sisi lain Alya sudah meradang melihat Daddy nya jalan bersama Belva dan anak-anak kecil itu. Hatinya yang memang sudah menghitam itu semakin terbakar benci dan dendam berkobar. Rencana licik selalu ada di otak kecil Alya.


Diikutinya mobil Satya dari belakang hingga sampai ke butik Belva. "Daddy, mengantar mereka ke butik. Ini tidak bisa dibiarkan."


Alya pergi dari jalanan area butik itu. Memikirkan rencana terbaik untuk menyingkirkan Belva dan anak-anaknya.


"Terima kasih Tuan atas tumpangan Anda." Ucap Belva meski wajahnya tak menunjukkan sikap ramah.


"Terima kasih Opmud." Ucap Kaila.


Kaili hanya diam memperhatikan Satya.


"Sama-sama." Satya tersenyum mengusap lembut kepala Kaila.


Belva memalingkan wajahnya tak ingin melihat adegan itu. Sejujurnya dirinya merasakan ketidak-nyamanan. Dadanya sesak melihat anak-anak diperlakukan dengan lembut tanpa tahu kenyataannya.


Usapan lembut itu beralih pada kepala Kaili. Lalu memperhatikan Belva yang memalingkan muka ke samping entah apa yang dilihat wanita itu.


"Saya permisi." Ucap Satya yang langsung mendapatkan perhatian Belva. Wanita itu hanya mengangguk dengan wajah datar.


****


Sampai kantor Satya memarkirkan mobilnya di tempat khusus untuk dirinya. Lalu melangkah masuk tanpa ditemani oleh Jordi. Asisten nya itu sudah berangkat lebih dulu karena harus menyelesaikan pekerjaannya untuk rapat hari ini.


Seperti biasa sapaan para karyawan tak dibalasnya sepanjang perjalanan. Ada yang kesal dengan sikap Satya tapi apa mau dikata dirinya bekerja dengan Satya, ada juga yang cuek sudah paham dengan sikap bos-nya, ada pula yang memuja Satya dengan sikap dingin Satya yang terkesan lebih maco menurut mereka. Terlebih saat ini Satya tak menggunakan jasnya hanya kemeja yang lengannya digulung hingga siku dan mengenakan topi untuk menutupi luka di kepalanya.


"Selamat pagi menjelang siang Tuan." Sapa Grace.


"Hem... Mana Jordi ?"


"Ada di ruangannya Tuan."


Satya langsung melangkahkan kakinya ke ruangan Jordi hal yang sangat jarang sekali Satya lakukan karena lebih banyak Jordi yang menghampiri ke ruangan Satya.


"Si bos kenapa ? Kemarin tidak masuk, hari ini masuk sesiang ini. Penampilannya berbeda pula." Grace bermonolog memperhatikan Satya. Wanita itu duduk di kursinya tapi tetap terus memperhatikan Satya.


"Jordi."


"Hmm... Bagaimana materi rapat nanti ?"


"Sudah selesai nanti setelah makan siang baru kita akan mengadakan rapat internal."


"Jordi, ada yang ingin saya bicarakan denganmu." Ujar Satya dengan nada serius.


Jordi menatap Satya, terlihat jelas jika bos-nya itu akan membicarakan hal yang serius. Jordi mengalihkan penuh perhatiannya pada Satya.


"Apa yang ingin anda bicarakan Tuan ? Seperti serius sekali."


"Ya bisa dibilang begitu."


Tapi untuk mengatakannya Satya masih merasa ragu, disisi lain rasa penasarannya juga muncul.


"Mengenai percakapan Sonia dan Alya saat itu. Bisakah kamu menyelidiki nya ?"


"Tentu Tuan. Segera hasilnya akan saya berikan dalam minggu ini." Ucap Jordi.


Satya mengangguk. "Materi rapat proyek di kota Bandung sudah siap semua bukan ?"


"Sudah Tuan, baru saja materi itu saya revisi dan saya sempurnakan. Siap untuk besok."


"Bagus." Ucap Satya tersenyum mengejek. Tentu senyum itu tak diberikan pada Jordi. Justru matanya menatap kaca jendela yang cukup lebar di ruangan Jordi.


Paham maksud dari senyuman itu Jordi hanya menggelengkan kepalanya. Salah lawan jika bersama Satya.


****


Perjalanan yang entah dari mana itu membuat Faris kalang kabut. Hari ini adalah jadwalnya untuk mengikuti rapat tender di Bandung. Panik materi yang diinginkannya belum juga didapatkan olehnya sampai saat ini dari Sonia.


Sambil mengemudikan mobilnya Faris mencoba terus menghubungi Sonia. Berkali-kali dihubungi tapi tetap tak juga diangkat oleh kekasihnya itu.


"Ck... Brengsek !! Kemana sih ini Sonia." Faris sudah mengomel.


Dicobanya kembali menghubungi nomor Sonia, terhubung tapi lama sekali diangkat oleh wanita itu.


"Hallo Mas ?"


"Hallo Sonia. Kemana saja sih kamu susah sekali dihubungi." Faris kesal.


"Kenapa marah-marah ? Aku baru saja selesai mandi."


"Hari ini aku ada rapat tender di Bandung. Materi itu kamu sudah dapatkan atau tidak ?"


"Tenang saja sayangku. Sudah aku dapatkan. Lagian kamu kemana saja kemarin ? Pergi tak mengabariku." Kini berbalik Sonia yang mengomel.


"Iya maaf kemarin ada urusan pekerjaan. Mana materinya, aku harus segera berangkat ke Bandung."


"Oke. Tunggu di tempat biasa. Aku akan kesana membawa materi itu." Ucap Sonia.


"Oke sayang cepat aku tunggu lima belas menit." Ucap Faris.


Panggilan ditutup, Sonia segera bersiap untuk pergi menemui Faris di cafe biasa mereka bertemu. Keluar dari rumah sakit Sonia dengan tak tahu dirinya masih saja pulang ke rumah besar milik Satya. Tahu jika pria itu tak pulang sejak kejadian waktu itu membuat Sonia masih bisa tenang berleha-leha di rumah besar itu.


Faris sudah tampak menunggu dengan wajah gelisah. Dirinya diburu oleh waktu, seharusnya jika dirinya sudah mendapatkan materi itu dari kemarin maka saat ini dirinya sudah berada di jalan menuju ke Bandung.


Sekertaris Faris berkali-kali sudah menghubunginya. Tapi pria itu mengabaikan nya dan hanya mengirimkan pesan untuk menunggu tiga puluh menit lagi.


Dari pintu masuk Sonia sudah mencari tempat dimana Faris menunggu. Terlihat wajah tampan Faris yang selalu mengisi pikiran Sonia. Meski ketampanan itu tak bisa mengalahkan ketampanan seorang Satya di usianya yang telah matang.


"Sayang, maaf membuatmu menunggu." Sonia mencium pipi kanan dan kiri Faris.


Faris hanya tersenyum singkat lalu melirik jam tangannya. "Tak apa sayang. Tapi maaf aku tak bisa lama-lama. Sekertaris ku sudah menunggu."


"Ah oke... Aku mengerti. Ini materinya lengkap ada di dalam amplop itu."


"Oke terimakasih sayang. Aku langsung berangkat. Oke." Ucap Faris yang sudah berdiri dan mencium kepala Sonia.


"Hem... Hati-hati sayang semoga berhasil." Sonia menyemangati Faris.


"Tentu sayang. Dengan materi ini semua akan berjalan dengan baik."


Faris pergi dengan langkah terburu-buru. Sonia menatap punggung kekar yang perlahan menghilang dari balik pintu.


Perjalanan Faris menuju Bandung sedikit lebih lambat. Dirinya harus menjemput sang sekretaris di kantor lalu berangkat belum lagi macet.


Satya dan Jordi sudah siap lebih dulu. Mereka berdua duduk di dalam ruang rapat dengan tenang. Bila beberapa orang peserta rapat sibuk berbincang sembari menunggu lain hal dengan Satya yang memilih diam duduk tenang dengan pandangan dingin dan datar.

__ADS_1


Rapat akan segera dimulai, Faris dan sang sekertaris baru saja datang memasuki ruangan.


Faris dan sekertaris cantiknya duduk tepat di hadapan Satya. Pria itu tersenyum pada Satya tentu bukan senyum ramah dan tulus tapi lebih kepada seakan dirinya mengatakan bersiaplah kamu akan kalah lagi dalam proyek ini.


Satya membalas dengan tatapan tajam dan bibir yang sedikit terangkat. Sangat tipis sekali senyuman itu hingga tak ada peserta rapat yang tahu hanya Faris yang mengetahui nya.


"Cih percaya diri sekali." Batin Satya


Seperti biasa semua mengeluarkan materi terbaik mereka untuk presentasi di depan. Saat giliran Satya mempresentasikan diri tepuk tangan menggema di dalam ruangan. Tak heran seorang Satya bisa mempresentasikan dengan sangat baik dan dengan materi yang sangat matang.


Tiba giliran Faris, dengan santai dan percaya diri pria itu memulai presentasi. Diawal pembukaan presentasi sungguh memperlihatkan wibawa nya sebagai pemimpin perusahaan. Tapi siapa sangka dibalik pembawaannya yang berwibawa itu sedetik kemudian menjadi pertunjukan yang menunjukkan betapa bodohnya seorang Faris.


"Let's Play Tuan Faris." Gumam Satya lirih.


Materi yang diberikan sungguh diluar ekspektasi, dengan video yang diputar sekertaris Faris sungguh menggelikan. Para peserta rapat tercengang dengan video tersebut. Film kartun anak-anak yang menampilkan tokoh dengan bentuk tubuh ideal dan cantik. Film Barbie terputar di layar proyektor.


Faris ikut melongo dengan video yang diputar sekertarisnya.


"Hah ? Maaf Tuan dan Nyonya sepertinya sekertaris saya salah memutar video materi kami." Ucap Faris.


"Evi..." Tegur Faris.


"Maaf Tuan Faris memang seperti itu isi dalam flashdisk yang anda bawa." Ucap Evi sesuai fakta.


Suara kasak-kusuk terdengar dalam ruang rapat tersebut. Ada yang tertawa meski lirih namun masih bisa di dengar. Jordi menaham senyumnya sekuat-kuatnya. Satya tersenyum mengejek pada Faris.


Merasa tak menghargai perjalanan rapat, moderator yang diperintahkan langsung oleh atasannya langsung menghentikan waktu yang diberikan untuk Faris.


"Mohon maaf... Ini mungkin terjadi diluar dugaan. Tapi saya harap Tuan dan Nyonya kalian bisa mempersiapkan materi dengan baik sebelum mulai mengikuti rapat. Untuk Tuan Faris silahkan anda duduk ke tempat anda kembali. Silahkan dilanjutkan dengan peserta yang lain."


"Maaf Tuan bukan maksud saya untuk bermain-main dalam rapat ini tapi saya juga terkejut dengan materi saya." Ucap Faris.


"Silahkan duduk kembali Tuan Faris." Ucap moderator.


Faris saat itu merasa sangat malu sekali. Jika bisa dirinya ingin sekali tenggelam di dasar lautan saat ini atau menghilang tiba-tiba dengan meninggalkan kepulan asap.


Wajahnya sudah memerah menahan malu. Dia pun tak bisa langsung keluar begitu saja karena rapat masih berlangsung. Tak tahu bagaimana harus bersikap, pria itu hanya diam saja.


Nama FF Group tercoreng secara tidak langsung dan tidak sengaja oleh kebodohan Faris. Satya terus menatap Faris, senyum tipisnya diberikan pada Faris. Pria itu meradang mendapatkan tatapan mengejek dari lawannya yang entah sampai kapan akan menjadi musuhnya.


Rapat selesai dengan tender proyek yang dimenangkan oleh Bala Corp. Beberapa ucapan selamat Satya dan Jordi terima.


"Selamat Tuan Satya. Anda memang rajanya dalam memenangkan tender."


"Terima kasih Tuan."


"Selamat Tuan, saya terkesan dengan materi yang anda suguhkan. Sangat matang sekali."


"Terima kasih. Tentu untuk mendapatkan hasil terbaik maka kita harus berpikir sendiri secara matang menggali inovasi-inovasi yang berbeda agar tak menjiplak atau mengambil ide dari kebanyakan orang." Ucap Satya panjang.


Hal itu tentu didengar oleh Faris. Baru kali ini Faris merasa tersinggung atas ucapan Satya. Dia memang merasa jika materi yang akan dibawakan adalah materi yang dicuri milik Satya. Tapi pada akhirnya seperti barang yang terbakar hangus. Tak berbentuk dan memalukan.


Jabatan tangan selalu diterima oleh Satya dan Jordi atas kemenangan mereka. Faris semakin meradang dan kesal. Pria itu dengan langkah cepat dan buru-buru meninggalkan ruangan. Dia malu teramat malu saat ini. Penilaian orang-orang terhadap kredibilitas dirinya pasti sudah dianggap remeh.


Satya dan Jordi langsung kembali ke Jakarta setelah memenangkan proyek tersebut. Di dalam mobil mereka masih saja membahas perihal kejadian yang ada di dalam rapat tadi.


"Apa ini yang Tuan kerjakan saat itu ?"


"Apa kamu tak menyangka ?" Tanya Satya.


"Hahaha sangat. Bagaimana bisa Tuan memiliki film anak perempuan itu." Jordi tertawa terbahak-bahak.


"Kamu mengejekku ? Di YouTube banyak film seperti itu."


"Haha tidak Tuan. Tapi itu sungguh memalukan untuknya. Saya bisa melihat bagaimana wajahnya tadi."


"Ya seperti itulah wajah orang bodoh." Ucap Satya santai.


Satya benar-benar puas bisa memberikan sedikit permainan kecil bagi Faris seorang pecundang yang licik.


"Kamu belum tahu dengan siapa berhadapan dasar pria pecundang bodoh." Batin Satya.


Disisi lain Faris dan sekertarisnya Evi juga berada dalam perjalanan. Evi hanya memilih diam saja, kesalahan itu bukanlah salahnya. Faris sendiri yang memberikan file itu padanya. Dirinya bahkan sudah membantu membuat materi untuk presentasi ini tapi Faris dengan percaya diri menolak. Yang diandalkannya adalah materi yang dibuat oleh Satya.


"Aargghh !!! Sialan !! Brengsek !!"


Faris marah-marah di dalam mobil. Setir kemudi nya dipukul beberapa kali untuk meluapkan kekesalannya.


"Tuan... Maaf kita sedang berada di jalan. Kendalikan diri anda Tuan nanti kita bisa kecelakaan." Evi mengingatkan.


"Ck... Kamu bagaimana bisa memutar video itu. Kenapa tidak kamu cek dulu huh ?!!"


Faris malah memarahi Evi seakan semua itu adalah salah Evi.


"Tuan, cover dari film tersebut adalah cover materi proyek jadi saya tidak tahu jika isinya adalah film kartun anak-anak. Lagipula bukankah Tuan juga mendadak membawa materi itu tanpa diberikan kepada saya untuk mengeceknya terlebih dahulu." Evi tentu tak mau disalahkan atas kejadian memalukan ini.


Wanita itu kesal, bos-nya saja yang bodoh kenapa tidak mengecek sendiri terlebih dahulu karena materi itu pria itu lah yang membawanya.


"Ck... Aaarggghh !! Ini gara-gara Sonia. Bagaimana bisa dia memberikan materi itu padaku." Ucap Faris.


Sampai di Jakarta, Faris menurunkan sekertarisnya di kantor. Dirinya melanjutkan perjalanan untuk menemui Sonia. Kesal dan marah dengan kekasihnya itu yang bisa-bisanya membuat dirinya malu di depan banyak orang.


Sudah pasti penilaian orang-orang terhadapnya sudah buruk dan memalukan. Masih dengan mengendarai mobil pria itu menghubungi Sonia untuk bertemu di tempat biasa mereka bertemu.


Kebetulan Sonia tak ada kegiatan bersama dengan teman-temannya. Wanita itu telah sampai lebih dulu ke tempat yang sudah mereka sepakati seperti biasanya.


Langkah tergesa-gesa Faris keluar dari mobil. Mereka saat ini bertemu di hotel Xx tempat yang sering mereka gunakan untuk bertemu selama ini. Dengan kamar yang hampir selalu sama mereka gunakan Sonia sudah berada di dalam kamar tersebut.


Pintu kamar hotel terketuk, sudah pasti itu adalah Faris. Sonia membukanya dengan senang hati. Pakaian wanita itu selalu saja kurang bahan. Hal itu selain menjadi kesukaannya karena bisa menonjolkan lekuk tubuhnya juga merupakan kesukaan bagi Faris kekasihnya.


"Hai sayang." Sonia membuka pintu dan menyambut Faris.


Faris menerobos masuk tanpa menjawab sapaan dari Sonia. Wanita itu mengerutkan keningnya.


"Ada apa ? Kenapa wajahmu jelek sekali ?" Tanya Sonia.


"Ini semua gara-gara kamu Sonia." Tuduh Faris.


"Loh kenapa gara-gara aku ? Kamu datang-datang langsung menuduhku dengan marah-marah seperti ini. Apa maksud mu ?" Sonia kesal. Dirinya sudah berdandan dengan cantik menyambut Faris justru mendapat omelan dari kekasihnya.


"Bagaimana bisa kamu memberikanku materi sampah seperti itu huh ? Gara-gara kamu aku jadi malu di tempat rapat tadi."


"File sampah apa ? Aku mendapat file itu di atas meja kerja Satya."


"Kamu tahu ? File itu berisi film kartun anak-anak Sonia !!" Bentak Faris.


"Mas !!! Kenapa kamu membentak ku !!! Aku tak tahu jika file itu berisi seperti itu."


"Lagian itu juga salah kamu sendiri. Kamu kemana saja kemarin ? Pergi tak mengabari ku sama sekali aku tak tahu kamu dimana. Jika saja kamu tak pergi kamu masih bisa mengecek file itu kan ?? Kenapa jadi kamu menyalahkanku !!" Sonia berbalik marah-marah.


Faris terdiam tak bisa lagi bersuara. Ya ini juga kesalahannya yang pergi tanpa peduli jika dirinya akan mengikuti rapat tender. Melihat Sonia marah, Faris berusaha membujuk wanita itu agar tak lagi marah padanya. Bisa gawat jika Sonia marah padanya.


"Sayang, maaf bukan maksudku seperti itu. Aku hanya sedang tak baik-baik saja. Kamu mengerti maksud ku bukan ? Aku gagal dalam proyek ini." Ucap Faris.


Sonia masih saja mendiamkannya. Segala macam bujuk rayu Faris keluarkan untuk meredakan amarah Sonia.


Hingga akhirnya Sonia luluh dan Faris melampiaskan penatnya seperti biasa dengan berbagi peluh dengan Sonia.


****


Pekerjaan dengan rutinitas yang tak hanya diam di dalam kantor memang tak bisa dihindarkan bagi Satya. Meski tubuhnya terasa sangat letih, pria itu tetap kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya yang sempat ditinggalkan nya sehari kemarin.


"Selamat sore Tuan." Sapa Grace.


"Sore Grace." Satya masuk ke dalam ruangannya.


"Bagaimana ? Lancar ?" Tanya Grace pada Jordi.


"Semua kalah telak." Ucap Jordi.


Grace tersenyum dan mengangguk. Tak heran, wanita itu tahu kemampuan Satya dan juga Jordi. Memenangkan tender sudah seperti makanan sehari-hari bagi mereka.


Jika tidak begitu bagaimana bisa Bala Corp maju sepesat itu di tangan Satya. Perusahaan yang diwariskan dari orang tuanya dulu hampir bangkrut. Hingga Mama Satya down dan sakit-sakitan. Demi Mamanya yang sudah dalam keadaan kritis meminta dirinya menikah dengan Sonia. Anak dari teman dekat Mama Satya.


"Jordi, pantau perusahaan FF Group. Tender waktu itu sebenarnya adalah milik kita. Jadi kesimpulannya adalah ambil kembali apa yang telah dia curi tanpa sisa." Ucap Satya dingin.


"Baik Tuan segera saya laksanakan." Jawab Jordi tegas.


Tak perlu dijelaskan lagi bagaimana maksud dari Satya, Jordi akan melakukannya lebih dari yang Satya inginkan.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. ☺️


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2