Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 120. Mulai Menderita


__ADS_3

Satya dan Belva sudah berada di dalam mobil, mereka sudah melakukan perjalanan setelah terjadi sedikit drama dari Belva yang mengeluh kelaparan dan butuh waktu istirahat. Mereka menuju kantor polisi karena Satya hanya ingin menunggu di tempat itu saja demi keamanan istrinya.


Belva hanya terdiam rasanya malas untuk banyak bicara karena rasa lapar dan lelah menderanya. Sesekali Satya melirik istrinya, tangan kekarnya menggenggam tangan Belva.


"Kenapa diam hemm?" Suara lembut Satya terdengar dengan usapan lembut jari jempolnya di punggung tangan sang istri.


"Hanya lelah saja, mas."


"Maaf ya sayang, kamu mau makan apa kita mampir dulu beli makan."


"Tidak usah nanti saja setelah semuanya benar-benar selesai. Aku tidak mau nanti makan dengan terburu-buru." Ucap Belva dengan menatap suaminya lalu berpaling kembali melihat jalanan yang ada di depan.


Satya sedikit menghela napas dirinya merasa bersalah, lagi-lagi dirinya membuat istrinya kesusahan seperti ini.


"Sayang mas minta maaf, seharusnya mas..."


"Mas, tidak perlu meminta maaf seperti itu. Wajar kan jika mas ingin melakukannya, aku istrimu tidak berhak menolak. Hanya saja waktunya yang kurang tepat, kita masih banyak urusan jadi tidak bisa beristirahat."


"Terima kasih sayang sudah mengerti mas. Seharusnya memang hari ini kita tidak kemana-mana. Mas janji besok kita bisa beristirahat lebih lama, karena ini masalah yang sangat penting dan mendadak jadi kita tidak bisa menunda nya."


"Iya mas, tapi kan besok kita harus jemput anak-anak. Pasti mereka mencari kita." Ucap Belva mengingat anak-anaknya.


"Untuk hari ini dan dua hari ke depan mas sudah meminta tolong pada ibu dan Bella untuk menjaga mereka sementara waktu. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka, sayang."


"Bella kan harus urus butik, mas. Budhe pasti kerepotan mengurus mereka berdua. Mereka semakin hari sudah semakin lincah dan sulit di atur jika sudah menemukan apa yang ingin mereka lakukan."


"Tidak sayang kamu salah, bukan hanya Bella dan ibu yang mengurus mereka tapi ada Mama, Papa dan yang lain juga. Tidak akan sulit mengurus dua anak kecil dengan banyak pengurus, sayang."


"Selama Mama dan Papa masih berada di Indonesia, Bella dan Budhe akan tinggal di rumah Papa Hector. Mereka sudah sepakat untuk menjaga Kay bersama dan memberi waktu untuk kita." Imbuh Satya.


"Oke baiklah, tapi kita juga akan sering berkunjung ke rumah Papa kan, mas?" Tanya Belva penuh harap.


Sebagai seorang ibu sejujurnya tak bisa ia berjauhan terlalu lama dengan anak-anak nya. Sudah terbiasa bersama sejak dulu, kini harus terpisahkan selama tiga hari. Mulai dari sini Belva pun harus memikirkan bahwa dirinya tidak hanya dikhususkan untuk Duo Kay saja melainkan sudah ada Satya yang membutuhkan dirinya.


"Kamu tenang saja, yank kita masih tetap akan mengunjungi mereka. Mas tidak akan menjadikan mu sebagai tawanan yang tidak bisa kemana-mana. Tapi ketika kamu keluar harus bersama dengan mas tidak boleh sendiri."


"Mas harus kerja bagaimana bisa aku kemana-mana harus bersama mu. Bagaimana dengan pekerjaan mas?"


"Itu gampang sayang, kamu tidak perlu khawatir dimana pun mas masih bisa bekerja."


Perjalanan mereka telah sampai di sebuah bangunan bercat cream dan coklat, warna khas salah satu tempat khusus keamanan negara. Mobil mewah Satya terparkir rapi di jajaran mobil yang terparkir. Terlihat paling mencolok karena mobil sport itu menjadi satu-satunya mobil yang memiliki bentuk berbeda dan pasti harganya pun sangat berbeda dari yang lain.


"Kita turun, sayang. Tapi tunggu sebentar jangan turun."


Satya turun terlebih dahulu dari mobilnya, pria itu memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk istri tercinta. Tangannya melindungi kepala sang istri agar tidak terbentur atas mobil. Sungguh terlihat romantis dan sangat terlihat perhatian pada wanitanya.


Belva tersenyum, saat keluar dari mobil. Ini pertama kalinya dirinya merasakan perhatian seperti ini setelah menyandang sebagai seorang istri padahal biasanya Satya pun bersikap seperti itu sebelum mereka menikah. Bagi Belva rasanya berbeda kala Satya sudah menjadi suaminya.


Berjalan memasuki bangunan yang di dominasi cat cream dan coklat itupun Satya menggenggam tangan istrinya. Beberapa orang menatap kearah keduanya yang tampak lebih mencolok karena penampilan mereka. Bila diperhatikan memang penampilan orang berada dengan orang yang biasa saja tentu terlihat jelas perbedaan nya. Satya dan Belva terlihat sangat bersih dan rapi meski hanya memakai pakaian yang simple.


Belva mengenakan dress dengan lingkar o-neck berwarna putih dengan tinggi di atas lutut dua centimeter saja. Sedangkan Satya memakai kaos dengan yang juga berwarna putih dengan ditutupi jaket berwarna hitam tanpa di ritsleting dan celana pendek selutut berwarna hitam. Sangat terlihat santai meski mereka tahu tempat tujuan mereka adalah sebuah kantor formal. Tapi Satya tak akan ambil pusing, dirinya sudah memikirkan bahwa mereka tidak akan lama berada di kantor tersebut.


Satya dan Belva sudah sampai tapi tak terlihat Jordi beserta orang-orang nya di tempat itu. Satya memeriksa ponselnya dan Jordi sudah memberikan kabar bahwa mereka berada dalam perjalan yang sebentar lagi akan sampai.


"Kita tunggu saja disini." Ucap Satya pada Belva.


Wanita cantik itu hanya mengangguk dan bergumam untuk menjawab ucapan suaminya.


Mata Belva sedikit terasa berat, jadi ia duduk dengan meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Bersandar sebentar menurutnya tak masalah, bukan mau bersikap berlebihan atau memamerkan kemesraan bersama sang suami hanya saja memang matanya saat ini kurang bisa diajak kompromi.


"Mengantuk?" Tanya Satya lembut.


"Iya, bisa tidur sebentar kah?" Lirih Belva.


"Tidurlah sebentar nanti mas bangunkan jika Jordi sudah datang."


Satya semakin membelit lengan sang istri dan memasukkan jari jemari nya disela-sela jari jemari istrinya. Belva dengan nyaman bersandar di bahu Satya. Matanya terpejam terasa sangat melegakan bisa memejamkan mata saat mata itu terasa berat.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Jordi datang bersama beberapa orang termasuk pengacara Satya. Tak lupa Sonia berada di antara mereka dengan dipegang oleh anak buah Satya.


Sonia melihat Belva yang seakan bergelayut manja pada Satya, hal itu menyulut emosi Sonia. Manik matanya membulat dan ia menatap tak suka pada Belva. Tatapan penuh permusuhan dilayangkan Sonia pada Belva yang tengah terpejam.


Kelalaian dari anak buah Satya hingga Sonia terlepas dan berlari dengan kilat menghampiri Belva. Wanita itu menampar pipi Belva hingga istri Satya itu terkejut bukan main. Bahkan semua orang yang ada di sana juga terkejut akan hal itu. Emosi Satya langsung meningkat drastis saat istrinya ditampar oleh mantan istrinya.


"Sonia, apa-apaan kamu!!" Bentak Satya.


Belva terbangun dengan rasa nyeri pada pipinya, ia masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi hingga Satya membentak Sonia barulah dirinya paham jika rasa sakit itu ditumbuk oleh tingkah Sonia.


Jordi langsung menarik Sonia dengan kasar untuk mundur ke belakang. Anak buah Satya bergerak memegang lengan Sonia. Mereka sudah terlihat pucat dan ketakutan karena Sonia bisa terlepas dan melukai wanita yang sudah menjadi istri bos mereka.


Belva menatap Sonia dengan tatapan tajam, ia tidak suka dengan sikap Sonia yang seenaknya saja pada dirinya. Tangan Belva mengepal kuat, ia sudah melangkah maju untuk membalas apa yang Sonia lakukan padanya, tapi Satya menahan tangan Belva.

__ADS_1


"Sayang." Panggil Satya dengan menggelengkan kepalanya, tangannya menahan tangan Belva.


Dipeluknya dengan erat tubuh istrinya, Belva yang dalam keadaan kurang baik ditambah dengan perlakuan kasar Sonia membuat Satya merasa geram dan marah. Pria itu sedih dan kasihan pada istrinya yang selalu mendapatkan perlakuan tak baik dari Sonia.


"Lepas mas!! Biar ku cakar wajah palsunya itu!!" Bentak Belva.


Belva tahu jika Sonia sering sekali melakukan perawatan wajah hingga beberapa anggota tubuh mantan majikannya itu adalah hasil dari operasi plastik.


"Tidak, biar mas yang atasi semuanya. Kamu sedang lelah jangan buang-buang tenaga mu." Ucap Satya lembut pada Belva tapi lirikan matanya mengarah tajam pada Sonia.


Sonia terkejut bukan karena tatapan tajam Satya, melainkan karena Belva memanggil Satya dengan sebutan 'mas'.


"Sialan, wanita itu benar-benar menjerat Satya. Alya tidak salah selama ini, dia memiliki feeling kuat pada wanita kampung ini." Gumam Sonia dalam hati, ia merasa kesal mantan suaminya yang masih diharapkan nya ternyata lebih memilih peremajaan yang dulu pernah menjadi pembantu nya.


"Jordi, urus semuanya hari ini juga. Saya tidak akan berlama-lama di tempat ini." Titah Satya dengan tegas.


"Baik, Tuan."


Jordi mengkode anak buahnya untuk berjalan mengikuti dirinya. Kini tinggal Satya, Belva dan pengacara Satya.


"Tuan, katakan apa yang harus saya lakukan. Melihat sikap Nyonya Sonia yang menurut saya sangat berbahaya, saya khawatir jika dia bisa dengan cepat lolos dari penjara."


"Maka dari itu lakukan sesuatu agar wanita gila itu tidak cepat keluar dari penjara atau bahkan mendekam di dalam sana seumur hidupnya." Ujar Satya dingin.


Jika bersama orang lain sikap Satya tidak menunjukkan sebuah keramahan. Terkesan tegas dan bagi sebagian orang yang berhadapan dengannya akan merasa canggung, grogi dan mungkin saja takut. Hanya mereka yang bermental kuat yang sanggup berbicara secara tatap muka dengan Satya. Selebihnya terkhusus perempuan hanya berani berhadapan dengan Satya ketika pria itu diam karena mereka hanya sibuk memperhatikan wajah tampan Satya.


"Saya paham, Tuan. Serahkan semuanya pada saya. Saya dan Tuan Jordi akan mengurus semuanya sesuai dengan keinginan anda. Untuk membuat laporan, kita membutuhkan saksi dua orang sudah cukup. Istri anda dan karyawan istri anda." Ujar pengacara Satya.


Satya mengangguk sekilas, napas Belva naik turun menahan emosinya karena ulah Sonia. Pengacara Satya pamit terlebih dahulu, dia tahu jika Satya harus menenangkan sang istri.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit?"


Satya melihat wajah Belva, diusapnya pipi Belva dengan lembut. Satya merasa bersalah lagi-lagi Sonia melukai istrinya dengan gerakan yang begitu cepat. Dia merasa telah membawa seorang iblis ke dalam kehidupannya hingga melukai orang yang ada disekitarnya.


Pria itu berjanji dalam hati akan membuat Sonia membayar apa yang sudah dilakukannya pada Belva dan juga anak-anak nya. Selama ini Satya memaklumi sikap dan perilaku Sonia karena wanita itu masih menjadi istrinya. Namun, kini tidak ada lagi alasan untuk memaklumi perbuatan Sonia justru alasan terkuatnya adalah melindungi anak dan istrinya hingga di dalam pikiran Satya bagaimana caranya agar Sonia tak lagi bisa muncul di kehidupan nya.


"Kenapa mas harus menahanku!! Aku bisa mencakar wajah mantan istrimu itu." Ucap Belva kesal.


"Sayang, kenapa mas menahanmu. Pertama, kamu sedang lelah sayang, jangan menghabiskan tenagamu untuk wanita gila itu. Kedua, Sonia justru menambah bukti yang memberatkan dirinya sendiri untuk mendekam di penjara."


Satya kembali memeluk istrinya, mencoba menenangkan sang istri hingga membuat pikiran sang istri terbuka dan menerima alasannya mengapa dirinya tak membiarkan sang istri membalas Sonia. Satya pernah melihat bagaimana Belva menggila saat marah, dia mengantisipasi agar istrinya tak terjebak dengan perbuatannya sendiri.


Kecupan dikening Belva dapatkan dari suaminya dan pria itu kembali menggandeng tangan istrinya. Dengan wajah tenang dan dingin Satya menghampiri sebuah ruangan yang dimana di dalam nya ada Sonia dan Jordi serta pengacaranya. Saat memasuki ruangan tersebut anak buah Satya menunduk memberikan hormat padanya dan sang istri.


Semua sudah di urus oleh Jordi dan pengacaranya, saat ini Satya hanya perlu menemani sang istri untuk memberikan keterangan pada pihak berwajib.


Rasanya Belva seperti dejavu, pernah mengalami hal seperti ini. Bila diingat memang benar adanya dulu pernah bva berhadapan dengan Sonia di tempat yang sama untuk melakukan aksi saling tuntut karena keributan yang pernah mereka buat di salah satu pusat perbelanjaan.


"Astaga... Tak kusangka ini kedua kalinya aku berada di permasalahan yang sama." Desah Belva dalam hatinya.


Belva memberikan keterangan sesuai dengan beberapa oertanya yang diajukan oleh pihak berwenang. Tanpa ada yang ditutup-tutupi dan dilebih-lebihkan istri dari Satya itu menceritakan semuanya.


Bukan kejadian yang pertama di dunia ini jika mantan suami atau istri akan bermasalah dengan keluarga baru mantan pasangan mereka. Bahkan ada yang saling menutut agar memastikan diri mereka menang di dalam persidangan. Tapi kali ini Sonia tidak bisa menuntut balik karena dirinya tak memiliki keluarga apapun untuk saat ini. Jika dulu Sonia akan dengan mudah dan angkuh menindas orang lain, berbanding terbalik dengan saat ini dirinya tidak ada yang membela sama sekali. Semua berpihak pada Belva si wanita yang sering dikatakannya sebagai wanita sialan, wanita kampung dan masih banyak lagi.


"Tidak, dia yang justru melukai saya!!" Ucap Sonia dengan keras saat Belva memberikan keterangan.


Sonia sudah bangkit dari duduknya dan hendak menyerang Belva. Emosi menguasai Sonia setiap berhadapan dengan wanita muda yang kini telah sah berstatus sebagai Nyonya Balakosa. Jordi dan satu pria berseragam coklat itu menahan Sonia.


Satya sudah waspada untuk melindungi istrinya agar tidak lagi diserang secara mendadak oleh Sonia. Rupanya mantan istrinya itu terlalu agresif seperti orang gila yang terganggu teritorial nya.


"Pak, saya harap istri saya dipisahkan oleh wanita ini. Saya tidak mau jika istri saya terluka kembali." Ujar Satya dengan tegas.


Kembali Sonia terkejut dengan pengakuan Satya. Belva diakui Satya sebagai istri dari mantan suami. Sonia benar-benar syok dengan apa yang di dengarnya. Rupanya prasangka yang sempat menyapa dirinya itu seperti sebuah kenyataan. Dihadapan beberapa orang Satya mengakui Belva sebagai istrinya.


"Istri? Apa maksudnya kamu Satya? Dia bukan istri mu!!" Teriak Sonia.


Satya tak menggubris ucapan Sonia. Dia hanya menatap tajam pada Sonia. Seorang pria berseragam coklat langsung membawa Sonia atas perintah atasannya. Kondisi akan menjadi tidak kondusif melihat emosi Sonia.


Beberapa pertanyaan sudah Belva terima. Satya memberikan kode pada Jordi dan pengacaranya agar bagaimana caranya pertanya yang beruntun itu bisa diselesaikan dengan cepat. Satya tak tega melihat istrinya dengan wajah lelah seperti itu.


"Maaf Pak, saya rasa jika pertanyaan masih banyak apakah bisa dilanjutkan besok. Klien saya sedang dalam keadaan kurang sehat." Ujar pengacara Satya.


Pria berseragam coklat itu memperhatikan wanita yang ada dihadapannya dengan seksama. Memang terlihat tak segar dan kelelahan. Dengan rasa perikemanusiaan pria berseragam coklat pun mengijinkan saran yang diberikan oleh pengacara Satya.


Mereka semua keluar dari ruangan tersebut, saat ini sudah hampir sore. Jordi kembali lagi ke kantor sedangkan pengacara Satya pamit undur diri. Satya mengusap bahu Belva dan menuntun sang istri menuju mobil mereka.


"Kita makan dulu direstoran ya." Ucap Satya lembut.


"Aku mau pulang mas, kita makan di rumah saja. Kepalaku pusing." Ujar Belva menyenderkan kepalanya di sandaran kursi mobil.


"Oke kita pulang. Maaf ya..." Satya masih merasa bersalah pada istrinya untuk saat ini.

__ADS_1


"Maaf kenapa?"


"Membuatmu lelah, membuatmu sampai tidak sempat makan hari ini."


"Sudahlah mas, tidak usah dibahas lagi bukan salahmu juga. Sudah ayo pulang mas, aku mau tidur." Rengek Belva pada kalimat terakhir nya.


Satya tersenyum, dia mengajak rambut Belva dan mengusap pipi Belva. Selanjutnya pria itu menyalakan mobilnya dan mengendarai menuju rumah besar Satya. Dalam perjalanan Satya meraih tangan istrinya, menggenggam dan membawa tangan Belva di pangkuannya. Belva menoleh sekilas dan Satya dengan senyum lesu di bibirnya.


"Tidur lah dulu, sayang. Nanti mas bangunkan jika sudah sampai."


"Tidak apa-apa kah? Nanti mas menyetir sendiri." Ucap Belva.


"Tidak apa-apa, mas sudah biasa. Gunakan waktu sebaik mungkin sayang.


Belva mengangguk, ia memejamkan matanya dengan tangan yang masih digenggam oleh suaminya. Seseorang yang terasa lelah akan merasa tidur adalah suatu hal yang sangat nyaman bagi perasaan dan juga tubuhnya.


Bila Satya dan yang lain kembali ke tempat mereka masing-masing. Kini Sonia harus mendekam di dalam penjara sementara dan sudah bisa dipastikan dirinya akan lebih lama menetap di hotel prodeo. Sonia merasa frustasi, di balik jeruji besi dirinya berteriak-teriak meminta untuk dilepaskan.


"Heh pel**cur!!! Diam!!" Bentak salah satu tahanan yang juga baru beberapa hari masuk ke dalam sel tersebut.


Sonia berbalik pada orang tersebut, dirinya merasa kesal ada orang yang berani membentak dirinya. Selama ini tidak ada yang berani membentaknya dengan kasar dan keras seperti itu.


"Apa kamu bilang?? Huh!!" Sonia berbalik membentak orang itu tanpa rasa takut sama sekali.


"Pel**acur... Kenapa? Tidak terima? Mau apa kamu?" Tantang wanita itu dengan nada santai.


Sonia bergerak maju hendak menghajar wanita yang menurutnya tidak ada apa-apa nya itu. Tapi Sonia salah tangan Sonia justru dipelintir oleh wanita yang kini menjadi teman satu sel baginya. Sonia berteriak kesakitan meminta tolong tapi tak digubris oleh wanita tadi.


"Akh!! Sakit!! Lepaskan bod*oh!!" Pekik Sonia.


Justru tangan itu ditekan lebih kuat karena ucapan Sonia yang mengatakan wanita tadi dengan sebutan bod*oh.


"Bod*oh?? Kamu yang bod*oh. Jangan pernah macam-macam di sini jika tidak ingin nyawa mu melayang. Kamu bukan Nyonya di tempat ini jadi jangan sok paling berkuasa."


Bruk!!!


Sonia terjatuh karena didorong oleh wanita tadi. Mantan Nyonya Balakosa itu meringis kesakitan memegang lengannya. Matanya berkaca-kaca, tak pernah ia menyangka akan seperti ini.


"Semua ini gara-gara wanita kampung itu, beraninya dia melaporkan aku padahal jelas-jelas dia yang melukaiku." Batin Sonia.


Ia tak terima dilaporkan dan dimasukkan penjara seperti itu. Sonia merasa yang menjadi korban adalah dirinya sendiri dan bukan Belva. Begitu egoisnya Sonia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain atas perbuatannya. Padahal pelaporan atas dirinya adalah perbuatan Satya untuk melindungi anak dan istrinya.


Memang seorang yang telah terlanjur membenci akan selalu menganggap salah pada apa yang dilakukan oleh orang yang dibencinya. Meski itu bukanlah yang sesungguhnya dilakukan oleh lawannya tapi dia akan selalu melimpahkan kesalahan pada orang yang dibencinya.


Sonia seakan lupa saat ini berhadapan dengan siapa, dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Satya orang yang sesungguhnya dihadapi oleh Sonia tapi wanita itu belum paham juga. Sonia kini memulai penderitaannya di dalam sel penjara. Satya akan benar-benar memastikan mantan istrinya yang seperti iblis itu akan mendekam di dalam penjara dalam waktu yang lama.


Satya dan Belva sudah sampai di halaman rumah. Sepanjang perjalanan Satya selalu menggenggam tangan Belva meski sesekali melepaskan untuk keperluan menyetirnya.


Ditatap wajah cantik istrinya yang terlihat kelelahan dan sedikit pucat. Wanita cantiknya, ibu dari anak-anaknya itu tengah tertidur pulas. Untuk membangunkan Satya tak tega, maka dirinya lebih memilih untuk menggendong Belva keluar dari dalam mobil.


Mbok Yati membukakan pintu utama untuk majikannya itu. Ia melihat Belva yang tengah digendong oleh Satya serta melihat wajah Belva yang sedikit pucat pun menjadi khawatir.


"Tuan, maaf. Nyonya kenapa?"


"Ssst... Dia hanya kelelahan saja, belum makan sejak tadi pagi. Tolong siapakan makanan, Mbok."


"Baik, Tuan. Nanti makanannya saya antarkan ke kamar saja kalau begitu."


"Iya terima kasih, Mbok. Saya naik dulu."


Mbok Yati mengangguk, Satya berlalu menggendong Belva dan memasuki lift. Mbok Yati masih terus menatap dua majikannya.


"Mbok senang akhirnya kamu mendapatkan kebahagiaan, Neng. Tuan tampak menyayangi mu berbeda sekali sikapnya saat bersama Nyonya Sonia dulu. Mungkin karena sikap kalian berdua yang berbeda, kamu perempuannya yang baik pasti akan mendapatkan kebahagiaan, Neng." Batin Mbok Yati.


Sangat terlihat perilaku Satya yang berbeda antara pria itu memperlakukan istrinya yang sekarang dengan mantan istrinya dulu yaitu Sonia. Dulu Satya tak pernah bersikap manis seperti itu, mereka selalu sibuk dengan masing-masing. Sangat jarang asisten rumah tangga melihat sikap manis Satya dengan Sonia bahkan mungkin tidak pernah.


Mbok Yati berlalu ke dapur untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Satya. Tentu dirinya dengan senang hati menyiapkan makanan untuk Belva meski harus menyiapkan makanan dengan tangannya sendiri. Belva sudah dianggap nya sebagai anaknya sendiri, perempuan yang dikenalnya saat teman satu profesinya itu membawa Belva ikut bekerja di rumah besar Satya.


Di dalam kamar, Satya meletakkan tubuh istrinya perlahan agar tidak terbangun. Dia akan membiarkan sang istri untuk beristirahat sejenak sebelum makanan disiapkan oleh Mbok Yati. Wajah Belva terus dipandangi oleh Satya, terasa bahagia dan masih tak menyangka jika dirinya bisa menjadi suami dari seorang perempuan muda yang usianya sangat jauh dari dirinya. Jika dipikir-pikir memang benar bahwa seharusnya usia Belva merupakan usia yang cocok untuk menjadi putrinya. Tapi siapa sangka jika dirinya justru memiliki anak yang masih kecil dengan istri yang sangat muda.


"Tidurlah yang nyenyak sayang. Melihatmu wajahmu seperti ini mas masih tak menyangka bisa memperistri dirimu. Mas bahagia, sayang." Lirih Satya lalu mengecup kening Belva cukup lama tapi tidak menekan agar Belva tidak terbangun.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Gak nyangka sih author bisa dapat kalian yang setia banget sama author sampai detik ini. Benar-benar banyak terimakasih author ucapkan buat kalian yang masih setia support πŸ™β˜ΊοΈ


Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rejeki. Amiinn πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2