Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 53. Penasaran


__ADS_3

"Om... Sebaiknya memang laporan itu dicabut saja. Aku tak ingin memperpanjang masalah dengan mereka. Malas."


"Ya. Besok akan saya urus. Sudah waktunya si kembar pulang."


"Iya aku akan menjemputnya. Om tak kembali ke kantor ?"


"Setelah makan siang. Ayo kita jemput mereka."


"Oke ku bereskan barang-barang ku dulu."


Roichi bersama Belva pergi untuk menjemput si kembar. Meski sebenarnya masih ada pekerjaan tapi pria itu merasa rindu dengan dua bocah itu.


Awalnya dia hanya ingin mempir sejenak setelah pertemuannya dengan klien. Tak disangka justru bertemu dengan dua wanita urakan yang sayangnya dalam pikiran Roichi mengapa rekan kerjanya bisa memiliki keluarga seperti itu.


Belva memang orang pendiam dan lembut, tapi saat bersama orang-orang terdekatnya ia mampu mencairkan suasana. Obrolan ringan pasti akan selalu ada antara Belva dengan Roichi.


"Oh iya... Nanti sore Kaili dan Kaila sudah mulai pemotretan."


"Benarkah ? Kenapa mendadak ?" Tanya Roichi.


"Tadi malam baru diinformasikan. Mereka kan memang sudah siap mengeluarkan produk baru. Jadi, begitu dapat model langsung jalan."


Pria itu mengangguk. "Apa hari ini anak-anak tidak ada kelas tambahan ?"


"Latihan bela diri tapi aku sudah meminta ijin pada pelatih mereka." Ucap Belva.


"Oke. Jam berapa berangkat ?"


"Jam setengah empat. Jarak rumah dengan tempat pemotretan cukup jauh sih."


"Biar di temani Pak Panut saja." Saran Roichi.


"Tidak usah. Aku bisa mengantar mereka sendiri."


Wanita itu sangat mandiri sejak dulu, didikan dari almarhum orang tuanya hingga kini masih melekat dan mendarah daging. Ia berusahalah untuk tak merepotkan orang lain jika tidak dalam keadaan terdesak.


Hidup dalam keadaan sederhana, membuat Belva di didik agar bisa melakukan apapun secara mandiri. Terlebih dirinya hanyalah anak tunggal, berbeda dengan anak tunggal yang lahir dari keluarga kaya pasti kebanyakan akan bersikap manja. Meski ada beberapa yang memang bisa hidup mandiri tanpa mengandalkan orang lain.


Roichi hanya tersenyum, tangan kekarnya mengacak rambut Belva. Sikap seperti inilah salah satu yang membuatnya suka pada sosok wanita berbuntut dua itu.


Sedikit banyak Roichi tahu bagaimana sikap dan sifat seorang Belva. Meski saat di Jerman tak sedekat saat ini, tapi pria itu selalu memperhatikan ibu muda itu.


Sampai di sekolah hanya Belva saja yang turun. Roichi menunggu di dalam mobil. Bukan tak ingin keluar, tapi karena ada panggilan masuk dari kantor.


Satu tempat yang menjadi tujuan Belva adalah tempat duduk berbahan semen yang kokoh di bawah pohon rindang. Tempat itu selalu digunakan oleh Duo Kay, Farel dan juga Donny.


Bertepatan dengan Belva menjemput anak-anaknya Okta pun sama, baru saja datang untuk menjemput Donny. Senyuman itu selalu ada saat mereka bertemu.


"Kak, baru sampai ?" Sapa Belva.


"Hai Bel... Iya biasa alarm sudah bunyi buat jemput si gendut." Tawa mereka pecah saat Okta menyebut anaknya gendut.


Bukan hanya guyonan saja jika dilihat secara fakta memang Donny memiliki tubuh lebih besar dari teman-temannya. Bahkan ketika mereka bermain lari-larian saja anak itu selalu kalah dari teman-temannya.


"Juara bertahan ya kak hahaha. Kaila belum bisa mengalahkan nya." Sahut Belva.


"Eh jangan dong... Kaila sih sudah bagus badannya gendut begini saja jangan ditambah-tambaj lagi."


"Khawatir sih, Kaila semakin hari semakin banyak makan. Kaili saja kalah."


"Tapi gemes sih Kaila ini, cantik lagi. Besok kalau sudah besar pasti tambah cantik. Besanan deh Bel besok." Kelakar Okta.


"Heh siapa yang bakal besanan sama Belva ?" Tiba-tiba Farah datang.


"Aku lah siapa lagi ?" Jawab Okta percayalah diri.


"Jangan deh Bel... Sama aku saja haha." Ucap Farah.


"Astaga... Kaila masih kecil kak." Ucap Belva menepuk jidatnya.


"Mami besanan itu apa ?" Tanya Kaila.


Merasa namanya selalu disebut, anak itu jadi penasaran dengan satu kata yang tak ia mengerti maksudnya. Bahkan baru saja didengarnya.


"Nah loh... Kak oktaaa..." Ucap Belva melirik Okta.


"Hahaha maaf Bel... Sudah ayo pulang." Okta tak mau bertanggung jawab atas pertanyaan dari Kaila.


Farah menepuk lengan Okta yang hanya di balas tawa oleh Okta. Para bocah itu masih saja tak mengerti dengan para orang dewasa itu.


Kaila, gadis kecil itu masih balita tapi sudah menjadi incaran para Mama pencari menantu. Meski itu hanya sebuah guyonan tapi siapa tahu di masa depan guyonan itu bisa menjadi doa tanpa mereka sadari.


"Ayo sayang kita pulang. Kita sudah ditunggu di mobil." Ucap Belva.


"Siapa Mi ?" Tanya Kaili.


"Siapa yaa ?? Rahasia... Coba deh nanti kakak sama adek lihat sendiri." Ucap Belva tersenyum.


Duo kaya yang penasaran langsung menarik tangan Belva agar segera sampai ke mobil mereka. Tapi mereka tak melihat mobil Mami mereka. Yang terlihat mobil lain yang juga mereka kenali.


Mata Duo Kay berbinar ceria saat tahu mobil siapa yang menjemput mereka. Kaili langsung melepaskan gandengan tangannya dengan Belva. Pria kecil itu berlari menuju mobil, tapi sayang tubuh nya masih belum sampai untuk membuka pintu mobil Roichi.


Alhasil dia harus menunggu bsang Mami untuk membukanya. Tak sabar Kaili sudah melompat-lompat kesal pada Mami nya. Belva hanya tersenyum geli melihat tingkah putranya.


"Papiii... Kok bisa Papi ikut jemput ?" Tanya Kaili.


"Hai jagoan. Bisa dong, Papi kan rindu pada kalian." Ucap Roichi.


"Papi... Nanti kita mampir beli es krim dulu ya." Ucap Kaila antusias.


Mereka sangat senang bisa dijemput oleh Roichi. Hal yang sangat jarang sekali bisa mereka dapatkan. Pria yang mereka anggap Papi itu memang begitu sibuk. Banyak hal yang harus diurus.


"Oke cantik." Jawab Roichi dengan mengacungkan jempolnya.


"Boleh, tapi makan dulu baru makan es krim nya." Sahut Belva.


"Yaaahh... Mamiii... Makan es krim dulu ya. Nanti kekenyangan kalau makan dulu." Keluh Kaila dengan nada memelas.


"No, atau tidak makan es krim sama sekali." Ucap Belva tegas.


"Mami please..." Kaila mengiba.


"Sayang, nanti perut kamu sakit. Lagipula nanti sore kita akan bertemu dengan aunty Iva. Kalian ada pemotretan Nak." Belva mencoba memberikan pengertian pada gadis kecilnya.


"Kaila sayang, dengarkan saja Mami mu ya. Ini demi kebaikan kalian. Nanti sore Papi temani kalian pemotretan." Ucap Roichi lembut.


"Hah ? Benarkah Papi akan menemani kami lagi ?" Tanya Kaili yang tiba-tiba menyahut.


Roichi tersenyum dan mengangguk. Belva menatap pria itu, hari ini bukanlah akhir pekan biasanya pria itu selalu sibuk. Tapi kenapa justru mengumumkan jika nanti akan menemani Duo Kay.


"Om... Bukankah harus ke kantor ? Ini bukan weekend loh."


"Pertemuan dengan klien tidak jadi karena mereka ada urusan penting yang lain. Nanti sehabis makan siang saya kembali ke kantor. Sore pulang lebih cepat."

__ADS_1


Belva hanya ber-oh ria saja. Mobil Roichi kendarai menuju tempat yang diinginkan oleh Duo Kay. Mumpung ada waktu untuk bisa jalan bersama dua bocah itu, Roichi tak ingin menyia-nyiakannya.


****


Jalanan yang sedikit macet tak menjadi halangan bagi seorang pria yang kini tengah dilanda kegeraman. Satya yang pulang ke rumah dengan Jordi yang mengendarai mobil seperti biasa.


Dalam perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali. Atmosfer dalam mobil itu seakan mencekam. Seperti suatu daerah yang baru saja terjadi kerusuhan. Jordi sudah pasangan siaga satu jika bos-nya itu nanti akan mengamuk padanya.


Asistennya itu tak berani bertanya ataupun membuka suara. Bahkan di dalam mobil itu tak ada musik yang diputar oleh Jordi. Tangannya fokus dengan setir kemudi, jika tangannya berani memutar musik, ditakutkan justru akan membuat Satya semakin meledak.


Diliriknya kaca spion yang ada di atasnya. Demi melihat raut wajah pemilik Bala Corp. Wajah tampan dan tegas itu tak menciptakan raut wajah ramah sedikitpun. Mendung dan mencekam, tatapan yang biasanya tajam itu kini semakin tajam saja.


Sudah pasti ada gemuruh di hati pria berwajah kebule-bulean itu. Mengingat apa yang telah dilihatnya tadi. Kelakuan Sonia dan Alya yang menyerang wanita, istri dari rekan kerjanya. Terlebih Satya sempat melihat sosok Roichi pun terekam di sana meski tak terlihat jelas tapi Satya mampu mengenali siapa saja orang yang ada di dalam Video tersebut.


Sampai di rumah yang sangat besar itu, Satya turun tanpa berbicara apapun pada Jordi. Langkahnya tergesa-gesa memasuki rumah. Kebetulan pintu rumah tak dikunci sama sekali. Jordi tak mungkin kembali, dia harus tetap berada di dekat bos-nya.


"Hhhaahh... Kalau dia ngamuk bisa gawat ini." Gumam Jordi.


Langkahnya pun dengan cepat mengikuti Satya ke dalam rumah. Benar saja, bos-nya itu memang sedang meradang saat ini. Suara menggelegar memenuhi ruangan tersebut. Satya jarang sekali mengeluarkan suara yang begitu keras jika tidak terjadi sesuatu yang salah.


"Mbok... Mbok Yati !!" Panggil Satya.


Semua para asisten rumah tangga terkejut dengan suara menggelar dari Satya. Sejenak mereka menghentikan pekerjaan. Tengak-tengok ke samping kanan dan kiri, bingung kenapa Tuan nya bisa sampai berteriak seperti itu.


"Mbok di panggil itu oleh Tuan." Ucap ART yang lain.


"Waduh... Ada apa ya ? Kalau suaranya seperti itu biasanya ada yang tidak beres ini." Batin Mbok Yati.


"Kamu lanjutkan masak nya, saya keluar dulu." Ucap Mbok Yati.


Tubuh renta itu tergopoh-gopoh untuk menemui Tuannya. Hatinya sudah tak tenang jika sudah mendengar suara menggelar itu.


"Iya Tuan ada apa ?" Tanya Mbok Yati setenang mungkin.


"Dimana Sonia dan Alya ?" Tanya Satya tanpa basa-basi.


"Nyonya dan Nona belum pulang sedari tadi pagi Tuan."


"Kemana mereka ?"


"Maaf saya tidak tahu Tuan. Mereka tidak pernah bilang jika pergi."


Satya menarik dalam-dalam oksigen gratis ke dalam paru-paru nya. Sunguh istri dan anaknya itu selalu membuatnya meradang.


Tidak salah jika dia lebih memilih untuk lebih fokus pada pekerjaannya saja. Bukan tidak ingin menjadi suami yang baik tapi Satya sudah mencoba dan berusaha mengarahkan Sonia tapi nihil, percuma dan sia-sia.


Dikantor dirinya lebih bisa merasa dihargai oleh para karyawan nya berbeda sekali dengan Sonia. Jika ditelisik dari segi uang bahkan Sonia mendapatkan uang jauh lebih besar dari karyawannya di kantor. Ribuan orang yang tidak dekat dengannya bisa menghargainya sedangkan Sonia statusnya adalah seorang istri. Justru dengan status itu seharusnya wanita itu bisa lebih mematuhinya dan menghargai Satya.


Satya pergi tanpa kata lagi dari hadapan Mbok Yati. Dia lebih memilih masuk ke dalam ruang kerjanya. Satu-satunya tempat yang membuatnya lebih tenang untuk menyendiri selain ruang gym miliknya.


"Tuan Jordi, itu Tuan Satya ada apa ya ?" Tanya Mbok Yati.


Asisten rumah tangga itu akan lebih berani jika bertanya pada Jordi. Meski Jordi pun hampir sama sifatnya dengan Satya tapi pria itu tak sekaku dan segalak Satya.


"Lagi darurat. Sudah kembali bekerja." Ucap Jordi.


"Baik Tuan. Permisi."


Mbok Yati berlalu ke kembali lagi ke dapur. Jordi menyusul Tuannya ke lantai atas. Dia sangat paham ruangan mana yang disinggahi oleh Tuannya.


Dengan mengetuk pintu terlebih dahulu, Jordi baru berani untuk masuk ruangan tersebut. Dilihatnya bos-nya sedang berdiri di dekat jendela kaca yang besar. Dimana jendela itu bisa melihat taman belakang yang di cukup rapi karena pekerja rumah besar itu yang merawatnya.


"Tuan Roichi tahu akan masalah ini tapi kenapa dia diam saja."


"Apa mengenai video itu ?" Tanya Satya.


"Saya kurang tahu Tuan. Belia tidak mengatakannya."


"Saya takut jika dampak perlaku Sonia dan Alya bisa menggagalkan rencana ku."


"Bagaimana apa belum ada hasil dalam penyelidikan mu terhadap perusahaan Hector ?" Tanya Satya.


"Maaf belum Tuan." Jawab Jordi sedikit ragu.


Belum maksud dari Jordi adalah belum sepenuhnya selesai dengan penyelidikan itu. Terkendala oleh sistem dari perusahaan Hector yang sangat teliti dan juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Jordi, bukan tipe pria yang memberikan informasi penting dengan setengah-setengah.


Ditengah kesibukannya, pria itu tetap terus menjalankan tugasnya dalam penyelidikan atas perintah Satya. Dia tentu akan memberikan informasi penting itu dengan moment yang tepat.


Cukup kesal memang Satya saat selalu mendengar jawaban dari Jordi yang masih lambat dalam melakukan penyelidikan. Biasanya asistennya itu bisa bergerak dengan cepat. Tapi Satya pun memaklumi dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab Jordi yang harus selesai saat dia meminta. Fokus mereka tak bisa pada satu titik saja.


"Untuk FF Group bagaimana ?" Tanya Satya kembali.


"Untuk lebih cepat, kenapa tidak Tuan coba untuk mengecek cctv saja Tuan."


Satya mendesah, posisinya kini menjadi duduk di kursi ternyamannya di ruangan itu.


"Sejak awal pernikahan, saya menyerahkan semua urusan rumah padanya. Termasuk pemasangan cctv. Hanya Sonia yang bisa mengakses cctv di rumah ini."


Pantas saja semua yang terjadi di rumah ini Satya tak pernah tahu sedikitpun. Semua yang Satya tahu adalah keadaan rumah baik-baik saja. Karena jika terjadi masalah tentu Sonia akan mengatakan padanya.


"Jika Tuan ijinkan, biar saya yang mengurus mengenai cctv rumah ini."


"Oke, tak masalah. Lakukan apapun yang bisa membantu penyelidikan kita." Jawab Jordi.


"Jordi, masukkan mobilmu ke dalam garasi di deretan mobil ku." Perintah Satya.


"Baik Tuan."


Keputusan untuk kembali ke rumah membuat Satya harus bekerja dari rumah. Dia akan menunggu Sonia untuk menanyakan perihal kejadian yang ada di dalam video tersebut.


Grace lah yang kembali ikut kerepotan jika bos-nya itu sudah mulai kambuh dengan ego yang dimiliki Satya. Meski Jordi juga membantu menghandle untuk mengabari beberapa kliennya. Tapi tetap saja Grace yang harus mengatur ulang jadwal pertemuan Satya dengan para klien yang lain.


Semua pekerjaan yang ada di kantor dikirim oleh Grace melalui email. Beberapa berkas yang harus ditandatangani terpaksa harus ditunda untuk esok hari. Itu semakin membuat Grace pusing. Para karyawan dari beberapa divisi pasti akan sibuk menanyakan pada Grace apakah laporan mereka sudah bisa dilanjutkan atau belum, apakah sudah di acc atau masih harus revisi. Dan Grace selalu malas akan pertanyaan itu, karena tak hanya sekali saja pertanyaan itu muncul.


Jordi, dengan laptop miliknya yang selalu ada di mobilnya turut bekerja dari rumah Satya. Tentu kembali lagi pada Grace yang harus sibuk mengirim file-file pekerjaan kantor pada Jordi.


Makan siang pun dilakukan di rumah Satya. Hanya berdua saja mereka sibuk beradu piring dan sendok siang itu tanpa suara pembicaraan apapun. Hingga selesai dan kembali melakukan pekerjaan mereka.


Malam hari pukul sembilan Nyonya dan Nona rumah Balakosa baru saja sampai. Mereka langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Rasa lengket pada tubuh membuat mereka harus membersihkan badan dengan segera dan tak lupa berbagai rangkaian krim perawatan harus siap menempel pada kulit mereka.


Selesai dengan aktivitas masing-masing, Sonia masuk ke dalam kamar Alya. Sedari tadi ternyata rasa kesal dan amarahnya pada Alya belum juga selesai. Tadi siang Alya meminta untuk di turunkan ke rumah temannya dengan alasan ada sesuatu hal yang penting yang harus dilakukannya. Itu cara Alya untuk menghindari ceramah Sonia.


"Tuan, Nyonya dan Non Alya sudah kembali, mereka ada di kamar putri anda." Ucap Jordi.


Sebelum masuk kembali ke dalam ruang kerja Satya. Selesai makan siang Jordi memberikan pesan pada Mbok Yati untuk mengabarinya jika Sonia dan Alya pulang ke rumah. Dan pesan itu benar-benar di kerjakan oleh Mbok Yati bahkan mengawasi dimana kedua majikannya berada.


Masih setia dalam kebungkaman Satya menutup layar laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya. Kembali Jordi mengikuti sang Tuan. Berjaga-jaga jika Tuannya itu nanti lepas kendali maka dirinya bisa mencegah agar tak merugikan Tuannya sendiri.


"Alya cukup ini yang terakhir kebodohan yang kamu lakukan. Mommy pusing dengan dirimu yang tak memikirkan akibatnya seperti apa."


"Mom... Aku sudah minta maaf kenapa Mommy masih marah padaku ?" Gerutu Alya.


"Bagaimana Mommy tak marah padamu huh ? Gara-gara otak mu yang bodoh itu, harga diri Mommy harus jatuh di depan wanita murahan itu."

__ADS_1


Dua kening mengernyit, mendengar sesuatu yang belum bisa mereka paham. Tanpa Sonia dan Alya sadari, Satya dan Jordi telah berada di depan pintu kamar Alya yang tak tertutup rapat. Dua wanita itu tak tahu jika Satya telah kembali ke rumah itu sejak siang tadi.


Satya hendak maju untuk meraih handel pintu. Tapi hal itu diurungkan karena Jordi menahannya. "Jangan Tuan. Kita dengarkan lebih lanjut." Bisik Jordi pada Satya.


Satya membenarkan saran dari Jordi. Dia tetap diam di samping pintu untuk mendengarkan percakapan istri dan anaknya.


"Kamu ingat kebodohanmu dulu ? Yang akhirnya masih berlanjut hingga saat ini. Jika dulu kamu tak melakukan hal bodoh itu, kita tidak akan berurusan sejauh ini dengan pembantu itu."


"Stop Mom !! Ini juga salah Mommy dan Daddy !! Kenapa kalian selalu membandingkanku dengan Belva si perempuan kampung itu." Ujar Alya kesal.


"Apalagi Mommy. Mommy ingat dulu Mommy selalu saja membanggakan Belva itu. Selalu menyuruhku untuk mencontoh perempuan kampung itu. Aku muak Mom. Jika saja itu tidak terjadi maka aku tidak akan nekat melakukan itu pada Belva hingga perempuan kampung itu hamil."


Sedikit melebar dua pasang bola mata yang berada di luar kamar. Kalimat Alya sungguh membuat dua pria itu menaruh rasa curiga. Bagaimana maksud dari perkataan Alya ?


"Cukup. Anak itu sudah mati Alya, tapi mengingat perempuan itu bisa melakukan hal menjijikan itu masih membuat Mommy kesal dan membencinya."


"Bagaimana Mommy bisa percaya begitu saja ?" Alya tak terima jika Mommy percaya pada Belva.


"Kamu pakai logika mu Alya. Perempuan itu bahkan sudah hanyut di sungai, bagaimana mungkin dengan usia kandungan yang masih sangat muda, janin itu bisa hidup."


"Dan gara-gara mu juga, Mommy yang harus berusaha menutup penyelidikan kematian perempuan itu. Dan nyatanya apa ? Perempuan itu masih hidup. Dan lagi kedua kalinya kamu membuat kebodohan."


"Hhhaahh... Pusing Mommy denganmu. Sudah Mommy mau kembali ke kamar." Sonia masih menampakkan wajah kesalnya.


Jordi langsung panik ketika Sonia hendak keluar kamar. "Lari-lari... Tuan ayo lari." Jordi mendorong tubuh Satya Agra menghindar dari tempat itu.


Dengan bodohnya Satya mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh asistennya. Dia yang fokus mendengarkan percakapan itu seketika seperti borang lingkung karena sikap dan ucapan Jordi yang panik.


Dua pria itu masuk ke dalam ruang kerja Satya kembali. Mereka bernapas lega karena telah berhasil lari dan masuk ke dalam ruang kerja.


"Huufftt... Untung saja." Lirih Jordi sembari mengusap dadanya.


Satya baru sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Berlari menghindar dari kamar putrinya sendiri. Bersikap seperti maling yang takut jika ketahuan bahkan tertangkap oleh pemilik rumah.


"Apa-apaan ini ? Kenapa harus lari-lari, ini rumahku." Gumam Satya. Tatapan tajam dia berikan pada Jordi yang memprovokasi dirinya.


"Eh ? Ada apa Tuan ?" Tanya Satya karena tatapan tajam dari Satya.


"Kenapa kamu menyuruh ku untuk lari ?"


"Nanti kita ketahuan karena sedang menguping Tuan."


"Lalu memang kenapa kalau mereka tahu ? Ini rumahku, saya berhak melakukan apapun di rumah ini." Ucap Satya kesal.


"Lagipula bagus jika mereka tahu. Saya akan bertanya langsung pada mereka." Imbuh Satya.


"Tuan yakin jika mereka mau jujur ? Saya yakin jika mereka akan menutupi hal itu."


"Benar juga kata Jordi." Batin Satya.


"Ck... Sudah kembaki bekerja." Ucap Satya.


Jordi melirik pergelangan tangannya. Saat ini sudah malam dan mereka tanpa sadar sudah bekerja selama itu. Bahkan makan malam pun mereka lewatkan begitu saja.


"Tuan... Maaf apakah saya sudah boleh pulang ? Ini sudah jam sembilan malam."


"Hah ?" Satya melirik jam dinding.


"Ya pulang lah. Jangan lupa besok pagi bekerja."


"Terimakasih Tuan. Saya permisi."


Sebelum benar-benar pergi, pria itu membereskan barang-barang miliknya. Lalu pergi untuk kembali ke rumahnya sendiri.


Satya kembali duduk di kursi ternyamannya. Laptop di depannya itu kini tak lagi menarik baginya. Percakapan Alya dan Sonia rupanya lebih menarik bagi Satya saat ini.


Pembahasan mengenai kebodohan Alya. Pria itu matanya menatap tembok bercat abu-abu terang di ruang kerjanya. Pikirannya melayang mengingat-ingat dan terus memutar apa yang didengarnya tadi.


Sebuah rahasia apa yang sedang ditutupi oleh anak dan istrinya. Oke, kesibukannya membuat dirinya tak mengetahui apa yang terjadi.


"Apa yang sudah mereka lakukan ? Alya, anak itu membuat ulah apa hingga Sonia marah padanya."


"Belva hamil ? Dengan siapa perempuan itu hamil, apa hubungannya dengan Alya yang membuatnya hamil."


"Aku bahkan tak tahu jika perempuan itu hamil. Justru Sonia mengatakan jika Belva dia usir karena telah mencuri."


"Ada apa ini sebenarnya ? Kenapa membuatku penasaran."


Satya bahkan berbicara sendiri seperti orang gila. Berdiskusi dengan dirinya sendiri. Otaknya bekerja sangat keras memikirkan apa yang sedang terjadi antara Sonia, Alya dan juga Belva.


Disisi lain Jordi yang telah sampai apartemennya juga tak bisa langsung tidur begitu saja. Meski tubuhnya terasa lelah tapi pikirannya masih ingin terus bekerja.


"Ini semakin membuatku penasaran dan curiga. Pasti ada sesuatu yang terjadi di dalam keluarga Tuan Satya tapi hal itu tak banyak diketahui oleh orang luar."


Dibukanya berkas-berkas yang ada di meja kerjanya. Berkas itu dibaca oleh Jordi berulang kali. Ada beberapa cabang kemungkinan saat berkas itu dibaca oleh Jordi.


"Apa dia memiliki dua istri ? Tapi wajah anak-anaknya tak mirip dengannya."


Dibuka kembali berkas selanjut, sebuah fakta baru yang diketahui oleh Jordi. Dia semakin ingin untuk menyempurnakan penyelidikannya.


"Hoaamm... Bekerja dengan Tuan Satya memang sangat menguras tenaga dan pikiran. Bahkan jantungku terkadang juga ikut bekerja keras. Untung mentalku sangat kuat."


Jordi meletakkan berkas itu, melangkah ke arah ranjang dan merebahkan diri di atas ranjangnya. Tubuhnya terasa lebih rileks dan nyaman saat bertemu ranjang yang super empuk itu.


Baru saja memejamkan mata selama satu menit, ponselnya berdering nyaring. Membuatnya terganggu dan nama kontak itu mau tak mau harus dijawabnya. Dia masih sayang dengan pekerjaannya, cicilannya masih banyak yang belum lunas. Satya menghubungi Jordi tanpa tahu waktu.


"Ck... Astagaaa... Kapan aku jadi bos ?" Gumam Jordi.


"Ya hallo Tuan, ada yang bisa sayang bantu ? Malam-malam begini menghubungiku."


"Kenapa kamu banyak bicara ?" Tanya Satya ketus.


"Eh... Maaf Tuan. Tidak maksud ku."


"Segera urus video itu agar tidak lagi semakin tersebar kemana-mana."


"Iya Tuan segera saya urus."


"Bagus."


Tuutt...


Satya langsung mematikan sambungan teleponnya. Lagi-lagi membuat Jordi bertambah kesal.


"Enak sekali jadi bos. Sudah seperti bensin main langsung nyamber. Belum juga selesai bicara." Jordi berbicara pada ponselnya yang berlayar hitam.


Untung saja Satya sudah menutup panggilannya jika belum bisa potong gaji lagi dia.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. ☺️

__ADS_1


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2